Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (7)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

59. “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (nya), dan ulil amri di antara kamu. Kemudian jika kamu berlainan pendapat tentang sesuatu, Maka kembalikanlah ia kepada Allah (Al Quran) dan Rasul (sunnahnya), jika kamu benar-benar beriman kepada Allah dan hari kemudian. yang demikian itu lebih utama (bagimu) dan lebih baik akibatnya.”
(an-Nisaa’: 59)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari –dengan ringkas- dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 59) berkenaan dengan ‘Abdullah bin Hudzaifah bin Qais ketika diutus oleh Nabi saw. memimpin suatu pasukan.

Keterangan: menurut Imam ad-Dawud, riwayat tersebut menyalahgunakan nama Ibnu ‘Abbas, karena cerita mengenai ‘Abdullah bin Hudzaifah itu adalah sebagai berikut: di saat ‘Abdullah marah-marah kepada pasukannya, ia menyalakan api unggun, lalu memerintahkan pasukannya untuk terjun ke dalamnya. Pada waktu itu sebagian menolak dan sebagian lagi hampir menerjunkan diri ke dalam api.” Sekiranya ayat ini turun sebelum peristiwa ‘Abdullah, mengapa ayat ini dikhususkan untuk menaati ‘Abdullah bin Hudzifah saja, sedang pada waktu lainnya tidak. Dan sekiranya ayat ini turun sesudahnya, maka berdasarkan hadits yang telah mereka ketahui, yang wajib ditaati itu ialah di dalam hal yang makruf (kebaikan). Jadi tidak pantas dikatakan kepada mereka, mengapa mereka tidak taat.
Al-Hafizh Ibnu Hajar berpendapat bahwa maksud kisah ‘Abdullah bin Hudzaifah ini munasabah disangkut pautkan dengan alasan turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 59), karena dalam kisah tersebut disebutkan adanya batasan antara taat kepada perintah (pimpinan) dan menolak perintah untuk terjun ke dalam api. Pada saat itu mereka memerlukan petunjuk berkenaan dengan apa yang harus mereka lakukan. Ayat ini (an-Nisaa’: 59) turun memberikan petunjuk kepada mereka; apakah berbantahan hendaknya kembali kepada Allah dan Rasul-Nya.
Menurut Ibnu Jarir, ayat ini (an-Nisaa’: 59) turun berkenaan dengan ‘Ammaar bin Yasir yang melindungi seorang tawanan tanpa perintah panglimanya (Khalid bin Walid), sehingga merekapun berselisih.

60. “Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya Telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu ? mereka hendak berhakim kepada thaghut[312], padahal mereka Telah diperintah mengingkari thaghut itu. dan syaitan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya.”
(an-Nisaa’: 60)

[312] yang selalu memusuhi nabi dan kaum muslimin dan ada yang mengatakan abu Barzah seorang tukang tenung di masa nabi. termasuk thaghut juga: 1. orang yang menetapkan hukum secara curang menurut hawa nafsu. 2. berhala-berhala.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan ath-Thabarani dengan sanad yang sahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Abu Barzah al-Aslami, seorang pendeta Yahudi, biasa mengadili kaumnya dan menyelesaikan perselisihan di antara mereka. Pada suatu waktu datanglah kaum Muslimin minta bantuan penyelesaian (sengketa) kepadanya. Maka turunlah ayat tersebut di atas sebagai teguran, agar tidak meminta bantuan penyelesaian kepada taghut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ikrimah atau Sa’id, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahw al-Jallas bin ash-Shamit, Mu’tim bin Qusyair, Rafi’ bin Zaid, dan Bisyr yang mengaku beragama Islam, diajak oleh orang Islam untuk meminta bantuan Rasulullah saw. dalam menyelsaikan malasalah di antara mereka. Namun mereka menolak, bahkan mereka mengajak kaum Muslimin untuk meminta bantuan pendeta-pendeta mereka (hakim-hakim jahiliyah). Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 60) sebagai larangan untuk minta diadili oleh hakim-hakim taghut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari asy-Syu’bi bahwa orang Yahudi berselisih dengan orang munafik. Yahudi itu mengusulkan untuk meminta bantuan Nabi dalam menyelesaikan perselisihan itu, karena ia tahu bahwa Nabi tidak akan makan risywah (sogokan). Akan tetapi si munafik tidak menyepakati hal itu. Akhirnya merekapun memutuskan untuk meminta bantuan seorang pendeta di Juhainah. Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 60) sebagai cercaan terhadap perbuatan munafik.

65. “Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, Kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya.”
(an-Nisaa’: 65)

Diriwayatkan oleh imam yang enam, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zubair bahwa Zubair pernah berselisih dengan seorang Anshar tentang pengairan kebun. Bersabdalah Rasulullah saw.: “Hai Zubair, airilah kebunmu dahulu, kemudian salurkan air ke kebun tetanggamu.” Berkatalah orang Anshar itu: “Ya Rasulallah. Karena ia anak bibimu?” Maka merah padamlah muka Rasulullah saw. karena marah dan bersabda: “Siramlah kebunmu, hai Zubair, hingga terendam pematangnya, kemudian berikan air itu kepada tetanggamu.” Zubair pun memanfaatkan air itu sepuas-puasnya sesuai dengan ketentuan yang diberikan Rasulullah kepada keduanya. Berkatalah Zubair: “Saya anggap ayat ini (an-Nisaa’: 65) diturunkan berkenaan dengan peristiwa tersebut.”

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Kabir dan al-Humaidi di dalam musnad-nya, yang bersumber dari Ummu Salamah, bahwa Zubair mengadu kepada Rasulullah saw. tengang pertengkarannya dengan seseorang. Rasulullah memutuskan bahwa Zubair yang menang. Maka berkatalah orang itu: “Ia memutuskan demikian karena Zubair kerabatnya, yaitu anak bibi Rasulullah.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 65) sebagai penegasan bahwa seseorang yang beriman hendaknya tunduk kepada keputusan Allah dan Rasul-Nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin al-Musayyab bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 65) berkenaan dengan az-Zubair bin al-‘Awwam yang bertengkar dengan Hathib bin Abi Balta’ah tentang air untuk mengairi kebun. Rasulullah saw. memutuskan agar kebun yang ada di hulu diairi lebih dahulu, kemudian yang hilirnya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Abul Aswad. Hadits ini mursal dan gharib, dan sanadnya terdapat seorang rawi bernama Ibnu Luhai’ah. Hadits ini dikuatkan oleh riwayat Rahim di dalam Tafsirnya, dari ‘Utbah bin Dlamrah yang bersumber dari bapaknya. Bahwa dua orang telah mengadukan kepada Rasulullah saw. untuk meminta diputuskan perkaranya. Setelah Rasulullah saw. menetapkan keputusannya, seorang diantaranya merasa tidak puas dan akan naik banding kepada ‘Umar bin al-Khaththab. Berangkatlah kedua orang itu kepada ‘Umar, dan berkata kepadanya: “Rasulullah saw. telah memenangkan saya terhadap orang ini, akan tetapi ia naik banding kepada tuan.” Maka ‘Umar berkata: “Apakah memang demikian? Tunggulah kalian berdua sampai aku datang untuk memutuskan hukuman di antara kalian.” Tiada berapa lama kemudian ‘Umar datang membawa pedang terhunus seraya memukul orang yang ingin naik banding kepadanya, lalu membunuhny. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 65) sebagai penegasan bahwa orang yang beriman hendaknya menaati putusan Allah dan Rasul-Nya.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

4 Tanggapan to “Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (7)”

  1. Rahmat 2 September 2014 pada 16.41 #

    Sukron atas ilmunya

  2. untungsugiyarto 24 April 2013 pada 18.48 #

    Thank’s for your atention. God bless you…

Trackbacks/Pingbacks

  1. Webmasters Guide - 26 Februari 2013

    Webmasters Guide…

    I own read your article. It’s truly helpful. We may benefit lots from it all. Fluent writing style and even ivid thoughts make people readers enjoy reading. I could share ones own opinions along with my good friends….

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: