Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (9)

1 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

88. “Maka Mengapa kamu (terpecah) menjadi dua golongan[328] dalam (menghadapi) orang-orang munafik, padahal Allah Telah membalikkan mereka kepada kekafiran, disebabkan usaha mereka sendiri ? apakah kamu bermaksud memberi petunjuk kepada orang-orang yang Telah disesatkan Allah[329]? barangsiapa yang disesatkan Allah, sekali-kali kamu tidak mendapatkan jalan (untuk memberi petunjuk) kepadanya.”
(an-Nisaa’: 88)

[328] Maksudnya: golongan orang-orang mukmin yang membela orang-orang munafik dan golongan orang-orang mukmin yang memusuhi mereka.
[329] disesatkan Allah berarti: bahwa orang itu sesat berhubung keingkarannya dan tidak mau memahami petunjuk-petunjuk Allah. dalam ayat ini, Karena mereka itu ingkar dan tidak mau memahami apa sebabnya Allah menjadikan nyamuk sebagai perumpamaan, Maka mereka itu menjadi sesat.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dan lain-lain, yang bersumber dari Zaid bin Tsabit bahwa ketika Rasulullah saw. berangkat perang Uhud, sebagian dari pasukannya pulang kembali ke Madinah. Di kalangan para shahabat timbul dua pendapat, sebagian mengatakan agar orang yang mengundurkan diri itu dibunuh dan sebagian lagi melarangnya. Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 88) sebagai teguran agar tidak berselisih dalam menghadapi kaum munafik yang jelas kekafirannya.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Sa’d bin Mu’adz bahwa ketika Rasulullah saw. berkhotbah, yang di antara sabdanya: “Siapakah pembelaku terhadap orang-orang yang berbuat jahat dan berkomplot merencanakan kejahatan terhadapku?” Berkatalah Sa’d bin Mu’adz: “Jikalau ia dari golonganku (Aus), kami yang akan membasminya, dan jika ia dari kalangan Khazraj, tuan perintahkan kepada kami, dan kami akan melaksanakannya.” Berdirilah Sa’ad bin ‘Ubadah (Bani Khazraj): “Apa urusanmu menyebut-nyebut taat kepada Rasulullah saw., hai Ibnu Muadz. Padahal engkau tahu bahwa itu bukan urusanmu saja.” Berdirilah Usaid bin Khudlair dan berkata: “Apakah engkau ini seorang munafi dan mencintai orang-orang munafik, hai Ibnu ‘Ubadah?” Berdirilah Muhammad bin Muslimah dan berkata: “Diamlah kalian, di hadapan kita ada Rasulullah saw. yang berhak memberi perintah dan kita melaksanakannya.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 88) sebagai peringatan untuk tidak berselisih dalam menghadapi kaum munafik.

90. “Kecuali orang-orang yang meminta perlindungan kepada sesuatu kaum, yang antara kamu dan kaum itu Telah ada perjanjian (damai)[331] atau orang-orang yang datang kepada kamu sedang hati mereka merasa keberatan untuk memerangi kamu dan memerangi kaumnya[332]. kalau Allah menghendaki, tentu dia memberi kekuasaan kepada mereka terhadap kamu, lalu Pastilah mereka memerangimu. tetapi jika mereka membiarkan kamu, dan tidak memerangi kamu serta mengemukakan perdamaian kepadamu[333] Maka Allah tidak memberi jalan bagimu (untuk menawan dan membunuh) mereka.”
(an-Nisaa’: 90)

[331] ayat Ini menjadi dasar hukum suaka.
[332] tidak memihak dan Telah mengadakan hubungan dengan kaum muslimin.
[333] Maksudnya: menyerah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari al-Hasan bahwa Suraqah bin Malik al-Mud-laji bercerita, ketika Nabi saw. mendapat kemenangan dalam perang Badr dan Uhud, dan orang-orang di sekitar Madinah masuk Islam, ia mendengar berita bahwa Nabi akan mengirim pasukan Khalid bin al-Walid kepada kaumnyua (Bani Mud-laj). Ia menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Saya mohon perlindungan tuan dengan sungguh-sungguh, agar tuan mengadakan perdamaian denga kaumku, karena telah sampai berita kepadaku bahwa tuan akan mengirim pasukan kepada kaumku. Sekiranya kaum Quraisy tunduk, maka kaumku pun akan tunduk dan masuk Islam. Akan tetapi jika kau Quraisy belum tunduk, pasti mereka akan menyerang dan mengalahkan kaumku.” Kemudian Rasulullah saw. memegang tangan Khalid bin al-Walid seraya bersabda: “Berangkatlah dengan orang ini dan kerjakan apa yang dikehendakinya.” Kemudian Khalid membuat perdamaian dengan mereka supaya tidak berkomplot memerangi Rasulullah dan akan tunduk apabila kaum Quraisy telah tunduk. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 90) berkenaan dengan peristiwa tersebut, yang melarang kaum Muslimin memerangi orang-orang yang telah membuat perdamaian.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 90) berkenaan dengan Hilal bin ‘Uwaimir al-Aslami, Suraqah bin Malik al-Mud-laji, dan Bani Judzaimah bin ‘Amir bin ‘Abdi Manaf yang telah mengadakan perdamaian dengan Nabi saw..

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Mujahid bahwa turunnya ayat ini (al-Nisaa’: 90) berkenaan dengan Hilal bin ‘Uwaimir al-Aslami, yang telah mengadakan perjanjian dengan kaum Muslimin. Tetapi kaumnya ingin berperang. ‘Uwaimir tidak menghendaki perang dengan kaum Muslimin, ataupun memerangi kaumnya.

92. “Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang mukmin (yang lain), kecuali Karena tersalah (Tidak sengaja)[334], dan barangsiapa membunuh seorang mukmin Karena tersalah (hendaklah) ia memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat[335] yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka (keluarga terbunuh) bersedekah[336]. jika ia (si terbunuh) dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, Maka (hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. barangsiapa yang tidak memperolehnya[337], Maka hendaklah ia (si pembunuh) berpuasa dua bulan berturut-turut untuk penerimaan Taubat dari pada Allah. dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 92)

[334] seperti: menembak burung terkena seorang mukmin.
[335] Diat ialah pembayaran sejumlah harta Karena sesuatu tindak pidana terhadap sesuatu jiwa atau anggota badan.
[336] Bersedekah di sini Maksudnya: membebaskan si pembunuh dari pembayaran diat.
[337] Maksudnya: tidak mempunyai hamba; tidak memperoleh hamba sahaya yang beriman atau tidak mampu membelinya untuk dimerdekakan. menurut sebagian ahli tafsir, puasa dua bulan berturut-turut itu adalah sebagai ganti dari pembayaran diat dan memerdekakan hamba sahaya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Ibnu Jarir meriwayatkan pula hadits yang semakna, bersumber dari Mujahid dan as-Suddi. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Ishaq, Abu Ya’la, al-Harits bin Abi Usamah, Abu Muslim al-Kaji, yang bersumber dari al-Qasim bin Muhammad. Dan diriwayatkan pula –yang peristiwanya seperti ini- oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id bin Jubair, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa al-Harits bin Yazid dari suku Bani ‘Amr bin Lu-ay beserta Abu Jahl pernah menyiksa ‘Iyasy bin Abi Rabi’ah. Pada suatu hari, al-Harits hijrah kepada Nabi sawa. Dan bertemu dengan ‘Iyasy di kampung al-Harrah. ‘Iyasy seketika mencabut pedangnya dan langsung membunuh al-Harits yang dikira masih bermusuhan juga (dengan Islam). Kemudian ‘Iyasy menceritakannya kepada Nabi saw.. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 92) sebagai ketentuan hukum bagi orang Mukmin yang membunuh seorang Mukmin tanpa disengaja.

Sumber: asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: