Arsip | 06.01

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (16)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

163. “Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu kepadamu sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang kemudiannya, dan kami Telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma’il, Ishak, Ya’qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami berikan Zabur kepada Daud.”
(an-Nisaa’: 163)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Adi bin Zaid berkata: “Kami tidak mendapat keterangan, bahwa Allah menurunkan sesuatu kepada siapapun sesudah Musa.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 163) sebagai peringatan atas pernyataannya.

166. “(mereka tidak mau mengakui yang diturunkan kepadamu itu), tetapi Allah mengakui Al Quran yang diturunkan-Nya kepadamu. Allah menurunkannya dengan ilmu-Nya; dan malaikat-malaikat pun menjadi saksi (pula). cukuplah Allah yang mengakuinya.”
(an-Nisaa’: 166)

Diriwayatkan oleh Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika segolongan kaum Yahudi datang menghadap Rasulullah saw., beliau bersabda: “Demi Allah. Aku yakin bahwa kalian tahu sesungguhnya aku Rasulullah (utusan Allah).” Mereka berkata: “Kami tidak mendapat keterangan tentang hal itu.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 166) sebagai penegasan bahwa kesaksian Allah dan Malaikat-Nya lebih menjamin kebenaran atas kerasulannya.

176. “Mereka meminta fatwa kepadamu (tentang kalalah)[387]. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang kalalah (yaitu): jika seorang meninggal dunia, dan ia tidak mempunyai anak dan mempunyai saudara perempuan, Maka bagi saudaranya yang perempuan itu seperdua dari harta yang ditinggalkannya, dan saudaranya yang laki-laki mempusakai (seluruh harta saudara perempuan), jika ia tidak mempunyai anak; tetapi jika saudara perempuan itu dua orang, Maka bagi keduanya dua pertiga dari harta yang ditinggalkan oleh yang meninggal. dan jika mereka (ahli waris itu terdiri dari) Saudara-saudara laki dan perempuan, Maka bahagian seorang saudara laki-laki sebanyak bahagian dua orang saudara perempuan. Allah menerangkan (hukum ini) kepadamu, supaya kamu tidak sesat. dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu.”
(an-Nisaa’: 176)

[387] kalalah ialah: seseorang mati yang tidak meninggalkan ayah dan anak.

Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dari Abuz Zubair yang bersumber dari Jabir bahwa ketika Rasulullah saw. menengok Jabir yang sedang sakit, berkatalah Jabir: “Ya Rasulallah. Bolehkah saya berwasiat memberikan sepertiga hartaku untuk saudara-saudaraku yang perempuan.” Rasulullah bersabda: “Baik.” Ia berkata lagi: “Kalau setengahnya?” Beliau menjawab: “Baik pula.” Kemudian Rasulullah pulang. Dan tiada lama kemudian, beliau datang lagi ke rumah Jabir seraya bersabda: “Aku kira kamu tidak akan mati karena penyakitmu ini. Dan Allah telah menurunkan ayat kepadaku, yang menjelaskan pembagian waris bagi saudara-saudara perempuan, yaitu sebesar dua pertiga (tsulutsain).”

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, riwayat Jabir ini bukanlah peristiwa yang telah dikemukakan dalam peristiwa turunnya surah an-Nisaa’ ayat 11-12.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari ‘Umar bahwa ‘Umar pernah bertanya kepada Nabi saw. tentang pembagian waris kalaalah. Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 176) sebagai pedoman pembagian waris.

Keterangan: Jika kita perhatikan apa yang telah diterangkan dalam asbabun nuzul ayat-ayat di dalam surah ini, maka terdapat bantahan terhadap orang yang mengatakan bahwa surah ini Makkiyyah (turunnya di Mekah).

Sumber: Al-Qur’an;
asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk.

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (15)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

135. “Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu orang yang benar-benar penegak keadilan, menjadi saksi Karena Allah biarpun terhadap dirimu sendiri atau ibu bapa dan kaum kerabatmu. jika ia[361] Kaya ataupun miskin, Maka Allah lebih tahu kemaslahatannya. Maka janganlah kamu mengikuti hawa nafsu Karena ingin menyimpang dari kebenaran. dan jika kamu memutar balikkan (kata-kata) atau enggan menjadi saksi, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui segala apa yang kamu kerjakan.”
(an-Nisaa’: 135)

[361] Maksudnya: orang yang tergugat atau yang terdakwa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 135) berkenaan dengan pengaduan dua orang yang bersengketa, seorang kaya dan seorang lagi miskin. Rasulullah saw. membela pihak yang fakir karena menganggap bahwa orang fakir tidak akan mendzalimi orang kaya. Akan tetapi Allah tidak membenarkan tindakan Rasulullah dan memerintahkan untuk menegakkan keadilan di antara kedua belah pihak.

148. “Allah tidak menyukai Ucapan buruk[371], (yang diucapkan) dengan terus terang kecuali oleh orang yang dianiaya[372]. Allah adalah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.”
(an-Nisaa’: 148)

[371] Ucapan buruk sebagai mencela orang, memaki, menerangkan keburukan-keburukan orang lain, menyinggung perasaan seseorang, dan sebagainya.
[372] Maksudnya: orang yang teraniaya oleh mengemukakan kepada hakim atau Penguasa keburukan-keburukan orang yang menganiayanya.

Diriwayatkan oleh Hannad bin as-Sirri di dalam kitab az-Zuhd, yang bersumber dari Mujahid bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 148) berkenaan dengan seorang tamu yang berkunjung kepada seseorang di Madinah, dan mendapat perlakuan yang tidak baik, sehingga iapun pindah dari rumah orang itu. Si tamu menceritakan perlakuan terhadap dirinya. Ayat ini (an-Nisaa’: 148) membenarkan tindakan orang yang dizalimi untuk menceritakan perlakuan yang diterimanya kepada orang lain.

153. “Ahli Kitab meminta kepadamu agar kamu menurunkan kepada mereka sebuah Kitab dari langit. Maka Sesungguhnya mereka Telah meminta kepada Musa yang lebih besar dari itu. mereka berkata: “Perlihatkanlah Allah kepada kami dengan nyata”. Maka mereka disambar petir Karena kezalimannya, dan mereka menyembah anak sapi[374], sesudah datang kepada mereka bukti-bukti yang nyata, lalu kami ma’afkan (mereka) dari yang demikian. dan Telah kami berikan kepada Musa keterangan yang nyata.”
(an-Nisaa’: 153)

[374] anak sapi itu dibuat mereka dari emas untuk disembah.

154. “Dan Telah kami angkat ke atas (kepala) mereka bukit Thursina untuk (menerima) perjanjian (yang Telah kami ambil dari) mereka. dan kami perintahkan kepada mereka: “Masuklah pintu gerbang itu sambil bersujud[375]”, dan kami perintahkan (pula) kepada mereka: “Janganlah kamu melanggar peraturan mengenai hari Sabtu[376]”, dan kami Telah mengambil dari mereka perjanjian yang kokoh.”
(an-Nisaa’: 154)

[375] yang dimaksud dengan pintu gerbang itu lihat pada surat Al Baqarah ayat 58 dan bersujud maksudnya menurut sebagian ahli tafsir: menundukkan diri..
[376] hari Sabtu ialah hari Sabbat yang khusus untuk ibadah orang Yahudi.

155. “Maka (Kami lakukan terhadap mereka beberapa tindakan)[377], disebabkan mereka melanggar perjanjian itu, dan Karena kekafiran mereka terhadap keterangan-keterangan Allah dan mereka membunuh nabi-nabi tanpa (alasan) yang benar dan mengatakan: “Hati kami tertutup.” Bahkan, Sebenarnya Allah Telah mengunci mati hati mereka Karena kekafirannya, Karena itu mereka tidak beriman kecuali sebahagian kecil dari mereka.”
(an-Nisaa’: 155)

[377] tindakan-tindakan itu ialah mengutuki mereka, mereka disambar petir, menjelmakan mereka menjadi kera, dan sebagainya.

156. “Dan Karena kekafiran mereka (terhadap Isa) dan tuduhan mereka terhadap Maryam dengan kedustaan besar (zina),”
(an-Nisaa’: 156)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi bahwa orang-orang Yahudi datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Sesungguhnya Musa telah membawa Alwah (sepuluh perjanjian) dari Allah. Sekarang coba tuan datangkan Alwah kepada kami agar kami percaya kepada tuan.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 153-156) yang menegaskan bahwa kaum Yahudi pernah meminta sesuatu kepada Musa lebih daripada apa yang dimintanya sekarang, tetapi mereka tetap ingkar setelah dikabulkannya, sehingga Allah melaknatnya. Setelah mendengar ayat ini (an-Nisaa’: 153-156), berdirilah orang Yahudi dan berkata: “Allah tidak menurunkan apa-apa kepadamu, dan juga tidak menurunkan apa-apa kepada Musa, kepada ‘Isa, atau kepada siapapun.” Maka Allah menurunkan: wa maa qadarullaaha haqqa qadrih…. (dan mereka tidak menghormati Allah dengan penghormatan yang semestinya..) (al-An’am: 91) sebagai teguran terhadap kelancangan mereka.

Sumber: Al-Qur’an
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (14)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

123. “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong[353] dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.”
(an-Nisaa’: 123)

[353] Mu di sini ada yang mengartikan dengan kaum muslimin dan ada pula yang mengartikan kaum musyrikin. maksudnya ialah pahala di akhirat bukanlah menuruti angan-angan dan cita-cita mereka, tetapi sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama.

124. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”
(an-Nisaa’: 124)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Yahudi dan Nasrani berkata: “Tidak akan masuk surga selain dari kami.” Dan kaum Quraisy berkata: “Kami tidak akan dibangkitkan dari kubur.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 123), yang menjelaskan bahwa balasan dari Allah itu sesuai dengan amal masing-masing dan bukan menurut angan-angan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Masruq bahwa kaum Nasrani saling menyombongkan diri dengan kaum Muslimin, dengan berkata: “Kami lebih mulia daripada kalian.” Kaum Muslimin berkata: “Kami lebih mulia daripada kalian.” Lalu Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 123) yang menegaskan bahwa keutamaan itu tidaklah menurut angan-angan mereka, akan tetapi bergantung pada amal masing-masing yang akan dibalas oleh Allah swt.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah, adl-Dlahhak, as-Suddi, dan Abu Shalih bahwa yang saling menyombongkan diri itu (yang disebut dalam hadits di atas) adalah tokoh-tokoh agama. Dan dalam riwayat lainnya lagi, yang menyombongkan diri itu ialah Yahudi, Nasrani dan orang-orang Islam yang sedang duduk-duduk: masing-masing menegaskan lebih mulia daripada yang lainnya. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 123) sebagai teguran kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Masruq bahwa setelah turun ayat ini (an-Nisaa’: 123), ahli kitab (Nasrani dan Yahudi) berkata kepada kaum Muslimin: “Kami dan kalian sama.” Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 124) yang menyangkal persamaan antara Yahudi dan Nasrani dengan kaum Mukminin.

127. “Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran[354] (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa[355] yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka[356] dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahuinya.”
(an-Nisaa’: 127)

[354] lihat surat An Nisaa’ ayat 2 dan 3
[355] maksudnya ialah: pusaka dan maskawin.
[356] menurut adat Arab Jahiliyah seorang wali berkuasa atas wanita yatim yang dalam asuhannya dan berkuasa akan hartanya. jika wanita yatim itu cantik dikawini dan diambil hartanya. jika wanita itu buruk rupanya, dihalanginya kawin dengan laki-laki yang lain supaya dia tetap dapat menguasai hartanya. kebiasaan di atas dilarang melakukannya oleh ayat ini.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ada seorang laki-laki, ahli waris dan wali seorang putri yatim, menggabungkan seluruh harta si yatim itu dengan hartanya, sampai pada barang yang sekecil-kecilnya. Bahkan sampai-sampai ia mau menikahinya dan tidak mau menikahkannya kepada orang lain, karena takut harta bendanya terlepas dari tangannya. Wanita yatim itu dilarang menikah sama sekali. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 127) yang menjelaskan bagaimana seharusnya mengurus anak yatim.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa Jabir mempunyai saudara misan wanita yang rupanya jelek, tapi mempunyai harta warisan dari ayahnya. Jabir sendiri enggan menikahinya dan juga tidak mau menikahkannya kepada orang lain, karena takut harta bendanya lepas dari tangannya, dibawa oleh suaminya. Ia bertanya kepada Rasulullah saw., lalu turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 127) sebagai pedoman bagi mereka yang mengurus anak yatim.

128. “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz[357] atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak Mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya[358], dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir[359]. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(an-Nisaa’: 128)

[357] Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya. nusyuz dari pihak suami ialah bersikap keras terhadap isterinya; tidak mau menggaulinya dan tidak mau memberikan haknya.
[358] seperti isteri bersedia beberapa haknya dikurangi Asal suaminya mau baik kembali.
[359] Maksudnya: tabi’at manusia itu tidak mau melepaskan sebahagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya, kendatipun demikian jika isteri melepaskan sebahagian hak-haknya, Maka boleh suami menerimanya.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Hadits ini diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa ketika Saudah binti Zam’ah sudah tua dan takut diceraikan oleh Rasulullah saw., ia berkata: “Hari giliranku aku hadiahkan kepada ‘Aisyah.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 128) yang membolehkan tindakan seperti itu yang dilakukan oleh Siti Saudah.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Sa’id bin al-Musayyab. Riwayat ini mempunyai syaahid (penguat) yang maushul, yang dikemukakan oleh al-Hakim dari Ibnul Musayyab yang bersumber dari Rafi’ bin Khadij. Bahwa istri Rafi’ bin Khadij, yaitu putri Muhammad bin Muslimah, kurang disayangi oleh suaminya karena tua atau hal lain, sehingga ia khawati akan diceraikan. Berkatalah si istri: “Janganlah engkau menceraikan aku, dan kau boleh datang sekehendak hatimu.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 128) sebagai anjuran kepada kedua belah pihak untuk mengadakan persesuaian dalam berumah tangga.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 128) berkenaan dengan seorang laki-laki yang mempunyai istri dan telah beranak banyak. Ia ingin menceraikan istrinya dan kawin lagi dengan wanita lain. Akan tetapi istrinya merelakan dirinya untuk tidak mendapat giliran asal tidak diceraikan. Ayat ini (an-Nisaa’: 128) membenarkan perdamaian dalam hubungan suami istri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa ketika turun ayat ini (an-Nisaa’: 128), ada seorang wanita berkata kepada suaminya: “Saya rida mendapat nafkah saja darimu, dan tidak mendapat giliran, asal tidak dicerai.” Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut sampai akhir (an-Nisaa’: 128) yang membolehkan perbuatan seperti itu.

Sumber: Al-Qur’an
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (13)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

105. “Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang Telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat[347],”
(an-Nisaa’: 105)

[347] ayat Ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu’mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu’mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. hal Ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu’mah kepada nabi s.a.w. dan mereka meminta agar nabi membela Thu’mah dan menghukum orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu’mah, nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu’mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi.

106. “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 106)

107. “Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,”
(an-Nisaa’: 107)

108. “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan Keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(an-Nisaa’: 108)

109. “Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?”
(aan-Nisaa’: 109)

110. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 110)

111. “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 111)

112. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, Kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, Maka Sesungguhnya ia Telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.”
(an-Nisaa’: 112)

113. “Sekiranya bukan Karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. dan (juga karena) Allah Telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.”
(an-Nisaa’: 113)

114. “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian Karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar.”
(an-Nisaa’: 114)

115. “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang Telah dikuasainya itu[348] dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
(an-Nisaa’: 115)

[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

116. “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya.”
(an-Nisaa’: 116)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Qatadah bin an-Nu’man. Menurut al-Hakim, hadits ini shahih berdasarkan syarat Imam Muslim. Bahwa diantara keluarga serumah Bani Ubairiq, yaitu Bisyr dan Mubasysyir, terdapat seorang munafik yang bernama Busyair, yang hidupnya melarat sejak zaman jahiliyah. Ia pernah menggubah syair untuk mencaci maki para shahabat Rasulullah saw. dan menuduh bahwa syair itu gubahan orang lain.
Pada waktu itu makanan orang melarat ialah kurma dan sya’ir (semacam jewawut; Inggris: barley) yang didatangkan dari Madinah (sedang makanan orang-orang kaya adalah terigu). Suatu ketika Rifa’ah bin Zaid (paman Qatadah) membeli terigu beberapa karung yang kemudian disimpan di dalam gudang tempat penyimpanan alat perang, baju besi, dan pedang. Pada tengah malam gudang itu dibongkara orang yang semua isinya dicuri. Pagi harinya Rifa’ah datang kepada Qatadah dan berkata: “Wahai anak saudaraku, tadi malam gudang kita dibongkar orang, makanan dan senjata dicuri.” Kemudian mereka menyelidikinya dan bertanya-tanya di sekitar kampung itu. Ada orang yang mengatakan bahwa semalam bani Ubairiq menyalakan api dan memasak terigu (makanan orang kaya). Berkatalah Bani Ubairiq: “Kami telah bertanya-tanya di kampung ini. Demi Allah, kami yakin bahwa pencurinya adalah Labid bin Sahl.” Labid bin Sahl terkenal sebagai Muslim yang jujur. Ketika Labid mendengar ucapan Bani Ubairiq, ia naik darah dan mencabut pedangnya sambil berkata dengan marah: “Engkau menuduh aku mencuri? Demi Allah pedang ini akan ikut campur berbicara, sehingga terang dan jelas siapa pencuri itu.” Bani Ubairiq berkata: “Jangan berkata kami yang menuduhmu, sebenarnya buka kamu pencurinya.” Maka berangkatlah Qatadah dan Rifa’ah meneliti dan bertanya-tanya di sekitar kampung itu sehingga yakin bahwa pencurinya adalah Bani Ubairiq. Maka berkatalah Rifa’ah: “Wahai anak saudaraku, bagaimana sekiranya engkau menghadap Rasulullah saw. untuk menerangkan hal ini?” Maka berangkatlah Qatadah menghadap Rasulullah dan menerangkan adanya satu keluarga yang tidak baik di kampung itu, yang mencuri makanan dan senjata kepunyaan pamannya. Pamannya menghendaki agar senjatanya saja yang dikembalikan, dan membiarkan makanan itu untuk mereka. Maka bersabdalah Rasulullah saw.: “Saya akan meneliti hal ini.”
Ketika Bani Ubairiq mendengar hal itu, mereka mendatangi salah seorang keluarganya yang bernama Asir bin ‘Urwah untuk menceritakan peristiwa tersebut. Maka berkumpullah orang-orang sekampungnya seraya menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qatadah bin an-Nu’man dan pamannya telah menuduh seorang yang baik, jujur, dan lurus di antara kami, yaitu menuduh mencuri tanpa bukti apapun.”
Ketika Qatadah berhadapan dengan Rasulullah, iapun ditegur dengan sabdanya: “Kamu telah menuduh mencuri kepada seorang Muslim yang jujur dan lurus tanpa bukti apa pun?” Kemudian Qatadah pulang untuk menceritakan hal itu pada pamannya. Berkatalah Rifa’ah: “Allahul musta’aan (Allah tempat kita berlindung).” Tidak lama kemudian turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 105) sebagai teguran kepada Nabi saw. berkenaan dengan pembelaannya terhadap Bani Ubairiq; dan surah an-Nisaa’ ayat 114 berkenaan dengan ucapan Nabi saw. terhadap Qatadah.
Setelah itu Nabi saw. membawa sendiri senjata yang hilang itu dan menyerahkannya kepada Rifa’ah, sedang Busyair menggabungkan diri dengan kaum musyrikin dan menumpang pada Sullafah binti Sa’d. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 115-116) sebagai teguran kepada orang-orang yang menggabungkan diri dengan musuh setelah jelas petunjuk Allah kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqaat, dengan sanad yang bersumber dari Mahmud bin Labid. Bahwa Busyair bin al-Harits membongkar gudang Rifa’ah bin Zaid (paman Qatadah bin an-Nu’man) dan mencuri makanan serta dua perangkat baju besi. Qatadah mengadu kepada Nabi saw. tentang peristiwa itu, yang kemudian ditanyakan kepada Busyair oleh Nabi saw.. Akan tetapi ia mungkir, dan malah menuduh Labid bin Sahl, seorang bangsawan lagi hartawan. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 105) yang menerangkan bahwa Busyair itu seorang pendusta, sedang Labid seorang yang bersih.
Setelah turun ayat itu (an-Nisaa’: 105) yang menunjukkan kepalsuan Busyair, iapun murtad dan lari ke Mekah menggabungkan diri dengan kaum musyrikin serta menumpang di rumah Sullafah binti Sa’d. Ia mencaci maki Nabi dan kaum Muslimin. Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 115) berkenaan dengan peristiwa Busyair ini. Kemudian Hassan bin Tsabit menggubah syair yang menyindir Busyair, sehingga ia kembali pada bulan Rabi’ tahun keempat Hijrah.

Sumber: Al-Qur’an,
Asbabun Nuzul KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (12)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

101. “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar[343] sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
(an-Nisaa’: 101)

[343] menurut pendapat Jumhur arti qashar di sini ialah: sembahyang yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Mengqashar di sini ada kalanya dengan mengurangi jumlah rakaat dari 4 menjadi 2, yaitu di waktu bepergian dalam keadaan aman dan ada kalanya dengan meringankan rukun-rukun dari yang 2 rakaat itu, yaitu di waktu dalam perjalanan dalam keadaan khauf. dan ada kalanya lagi meringankan rukun-rukun yang 4 rakaat dalam keadaan khauf di waktu hadhar.

102. “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, Kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat)[344], Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu[345]], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan Karena hujan atau Karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah Telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu[346].”
(an-Nisaa’: 102)

[344] menurut Jumhur Mufassirin bila Telah selesai serakaat, Maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri, dan nabi duduk menunggu golongan yang kedua.
[345] yaitu rakaat yang pertama, sedang rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri pula dan mereka mengakhiri sembahyang mereka bersama-sama nabi.
[346] cara sembahyang khauf seperti tersebut pada ayat 102 Ini dilakukan dalam keadaan yang masih mungkin mengerjakannya, bila keadaan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, Maka sembahyang itu dikerjakan sedapat-dapatnya, walaupun dengan mengucapkan tasbih saja.

103. “Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(an-Nisaa’: 103)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ali bahwa kaum Banin Najjar bertanya kepada Rasulullah saw.: “Kami sering bepergian berniaga, bagaimanakah shalat kami?” Maka Allah menurunkan sebagian ayat ini (an-Nisaa’: 101) yang membolehkan shalat dikasar. Wahyu tentang ayat ini kemudian terputus sampai,.. minash shalaah…(…shalat[mu]..). Di dalam suatu peperangan yang terjadi setelah turunnya ayat di atas (an-Nisaa’: 101) , Rasulullah saw. mendirikan shalat dzuhur. Di saat itulah kaum musyrikin berkata: “Muhammad dan teman-temannya memberikan kesempatan pada kita untuk menggempur dari belakang. Tidakkah sebaiknya kita perhebat serbuan terhadap mereka sekarang ini?” Maka berkatalah yang lainnya: “Sebaiknya kita ambil kesempatan lain, karena nantipun mereka akan melakukan hal serupa di tempat yang sama. Maka Allah menurunkan wahyu di antara kedua waktu shalat itu (dzuhur dan asyar) sebagai kelanjutan ayat ini (an-Nisaa’: 101) yaitu,…in khiftum…(…jika kamu takut…) sampai…’adzaabam muhiinaa…(azab yang menghinakan) (an-Nisaa’: 102), dan kemudian ayat shalat khauf (an-Nisaa’: 103).

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Hakim –dishahihkan oleh al-Hakim-, serta al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari Ibnu ‘Iyasy az-Zurqi. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Jabir bin ‘Abdillah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa ketika Rasulullah saw. bersama para shahabatnya di ‘Ashfan, datanglah serbuan dari kaum musyrikin, yang di antaranya terdapat Khalid bin al-Walid. Mereka berada di arah kiblat. Kemudian Nabi saw. mengimami shalat dzuhur. Kaum musyrikin berkata: “Alangkah baiknya kalau kita bisa membunuh pimpinannya dalam keadaan demikian.” Yang lainnya berkata: “Sebentar lagi akan datang waktu shalat, dan mereka lebih mencintai shalat daripada anaknya ataupun dirinya sendiri.” Lalu turunlah Jibril, antara waktu dzuhur dan asyar, membawa ayat ini (an-Nisaa’: 102).

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya ayat.. ing kaana bikum adzam mim matharin au kungtum mardlaa…(..jika kemu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit..) berkenaan dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf pada waktu menderita luka parah. Ayat ini (an-Nisaa’: 102) memperingatkan kepada orang yang sakit/ luka yang tidak mampu menyandang senjata untuk tetap bersiap siaga.

Sumber: al-Qur’an
Asbabun Nuzul, KHQ, Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (11)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

97. “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[342], (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,”
(an-Nisaa’: 97)

[342] yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama nabi sedangkan mereka sanggup. mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.

98. “Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),”
(an-Nisaa’: 98)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa di antara pasukan musyrikin terdapat kaum Muslimin Mekah (yang masih lemah imannya), yang turut berperang menentang Rasulullah saw.. Diantara mereka ada yang terbunuh dengan panah atau pedang pasukan Rasulullah. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 97) sebagai penjelasan hukum bagi kaum Muslimin yang lemah imannya, yang menganiaya dirinya (mampu membela Islam tetapi tidak melakukannya).

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih, bahwa nama orang-orang yang menambah jumlah pasukan musyrikin itu antara lain: Qais bin al-Walid bin al-Mughirah, Abu Qais bin al-Faqih bin al-Mughirah, al-Walid bin Rabi’ah, ‘Amr bin Umayyah bin Sufyan, dan ‘Ali bin Umayyah bin Khalaf. Selanjutnnya dikemukakan bahwa peristiwanya terjadi pada Perang Badr, di saatg mereka melihat jumlah kaum Muslimin sangat sedikit. Timbul rasa ragu-ragu pada mereka dan berkata: “Mereka tertipu oleh agamanya.” Orang-orang tersebut akhirnya mati terbunuh dalam Perang Badr itu.

Keterangan: menurut Ibnu Abi Hatim, di antara orang-orang yang disebut dalam hadits di atas, termasuk juga al-Harits bin Zam’ah bin al-Aswad dan al-‘Ash bin Munabbih bin al-Hajj.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada segolongan orang Mekah masuk Islam. Namun ketika Rasulullah hijrah, mereka enggan ikut dan takut hijrah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 97-98) sebagai ancaman hukuman bagi orang-orang yang enggan memisahkan diri dari kaum yang memusuhi agama, kecuali kalau mereka itu tidak berdaya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari berbagai sumber, bahwa ada segolongan orang Mekah yang telah masuk Islam, tetapi menyembunyikan keislamannya. Pada waktu perang Badr, mereka dipaksa menyertai kaum Quraisy untuk berperang melawan Rasulullah sehingga banyak yang mati terbunuh. Berkatalah kaum kaum Muslimin Madinah: “Mereka itu adalah orang-orang Islam yang dipaksa untuk berperang (melawan Rasulullah). Hendaklah kalian memintakan ampun bagi mereka.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 97). Kemudian mereka menulis surat kepada kaum Muslimin yang masih ada di Mekah dengan ayat tadi, dan (dikatakan kepada mereka bahwa) tidak ada lagi alasan untuk tidak hijrah. Kemudian mereka hijrah ke Madinah, tetapi masih dikejar dan dianiaya oleh kaum musyrikin. Akhirnya mereka terpaksa kembali ke Mekah. Maka turunlah surah al-‘Ankabut ayat 10 berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai teguran terhadap keluhan mereka, yang menganggap siksaan yang dialaminya sebagai azab dari Allah.
Ayat inipun (al-Ankabut: 10) dikirim lagi kepada kaum Muslimin Mekah. Mereka merasa sedih. Maka turunlah surah an-Nahl ayat 110, sebagai janji Allah untuk melindungi orang yang hijrah dan bersabar.
Ayat ini (an-Nahl: 110) dikirim pula pada kaum Muslimin Mekah. Maka merekapun berhijrah ke Madinah dan tidak luput dari kejaran kaum musyrikin, di antaranya ada yang selamat, tapi ada juga yang gugur.

100. “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 100)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la dengan sanad yang jayyid (baik), yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Dlamrah bin Jundab keluar dari rumahnya untuk berhijrah. Dia berkata pada keluarganya:”Gotonglah saya dan hijrahkanlah saya dari tanah musyrikin ini ke tempat Rasulullah saw..” Di tengah perjalanan, sebelum sampai kepada Nabi, ia wafat. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) sebagai janji Allah kepada orang-orang yang gugur di saat melaksanakan tugas agama Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa Abu Dlamrah az-Zurqi termasuk orang yang ada di Mekah (belum berhijrah). Ketika menerima berita tentang turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 98) ia berkata: “Aku cukup berada dan mampu.” Ia pun bersiap-siap untuk hijrah menuju ke tempat Nabi saw. di kampung Tan’im. Di perjalanan ia meninggal dunia. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) yang menjelaskan keduduukan orang yang gugur di saat melaksanakan Panggilan Rabb-nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, seperti hadits di atas, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Qatadah, as-Suddi, adl-Dlahhak, dan lain-lain. Bahwa orang yang wafat dalam hijrah itu, ada yang mengatakan Dlamrah bin al-‘Aish atau al-‘Aish bin Dlamrah; Jundab din Dlamrah; al-Junda’i; adl-Dlammari; seorang laki-laki dari Bani Dlamrah; seorang laki-laki dari suku Khuza’ah; seorang laki-laki dari Bani Laits; seorang laki-laki dari bani Kinanah; dan ada pula yang mengatakan seorang dari bani Bakr.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqaat, yang bersumber dari Yazid bin ‘Abdillah bin Qisth. Bahwa Jundab bin Dlamrah al-Dlamari sedang sakit di Mekah. Ia berkata pada anaknya: “Bawalah aku keluar dari Mekah. Aku bisa mati akibat situasi kalut di tempat ini.” Mereka berkata: “Kemana kami bawa?” Ia memberi isyarat dengan tangannya ke arah Madinah dengan maksud hijrah. Kemudian mereka membawanya ke Madinah. Akan tetapi baru sampai di kampung Bani Ghifar, ia meninggal dunia. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mandah, dan al-Baudi, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari az-Zubair bin al-‘Awwam. Bahwa ketika Khalid bin Haram hijrah ke Habsyah, di perjalanan, ia digigit ular dan wafat. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Umawi dalam kitab Maghaazi-nya, yang bersumber dari ‘Abdulmalik bin ‘Umar. Hadits ini mursal dan sanadnya daif. Bahwa ketika sampai berita tentang kerasulan Nabi saw. kepada Aktsam bin Syaifi, ia bermaksud mengunjungi Nabi, akan tetapi dihalangi oleh kaumnya. Maka ia meminta seseorang untuk diutus menyampaikan maksudnya, minta keterangan tentang Rasulullah. Maka dipilihlah dua orang utusan untuk menghadap Nabi saw.. Kedua utusan itu berkata: “Kami utusan dari Aktsam bin Shaifi yang ingin tahu siapa nama tuan, apakah kedudukan tuan, dan apakah yang tuan bawa?” Nabi saw. menjawab: “Saya Muhammad anak ‘Abdullah, hamba Allah dari Rasul-Nya.” Kemudian Nabi membacakan ayat, innallaaha ya’muru bil ‘ad-li wal ihsaan…(sesungguhnya Allah menyuruh [kamu] berlaku adil dan berbuat kebajikan…) sampai akhir ayat (an-Nahl: 90). Sesampainya utusan itu kepada Aktsam dan menyampaikan apa yang diterangkan Nabi saw., berkatalah Aktsam: “Hai kaumku, ia menyuruh berbudi tinggi dan melarang berakhlak rendah, jadilah kalian pelopor untuk berbudi luhur, dan jangan menjadi pengekor.” Kemudian ia berangkat menuju Madinah, tapi di perjalanan ia meninggal. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitab al-Mu’ammirin, dari dua jalan, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ibnu ‘Abbas ditanya tentang ayat ini (an-Nisaa’: 100), ia menjawab: “Ayat tersebut turun berkenaan dengan peristiwa Aktsam bin Shaifi.” Ketika itu ada yang bertanya lagi: “Bukankah ayat tersebut berkenaan dengan peristiwa al-Laits?” Ia menjawab: “Ini terjadi beberapa masa sebelum peristiwa al-Laits.” Ayat tersebut bisa khusus berkenaan dengan peristiwa Aktsam dan juga peristiwa lain.

Sumber: al-Qur’an
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (10)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

93. “Dan barangsiapa yang membunuh seorang mukmin dengan sengaja Maka balasannya ialah Jahannam, kekal ia di dalamnya dan Allah murka kepadanya, dan mengutukinya serta menyediakan azab yang besar baginya.”
(an-Nisaa’: 93)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Juraij yang bersumber dari ‘Ikrimah, bahwa ayat ini (an-Nisaa’: 93) turun berkenaan dengan seorang Anshar yang membunuh saudara Miqyas bin Shababah. Nabi saw. membayarkan diat (denda) kepada Miqyas. Tetapi setelah dia menerima diatnya, ia menerkam pembunuh adiknya serta membunuhnya. Maka bersabdalah Nabi saw.: “Aku tidak menjamin keselamatan jiwanya, baik di bulan halal maupun di bulan haram.” Maka Miqyas pun terbunuh dalam peristiwa Fathul Makkah. Ayat ini (an-Nisaa’: 93) merupakan dasar hukum kisas.

94. “Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu pergi (berperang) di jalan Allah, Maka telitilah dan janganlah kamu mengatakan kepada orang yang mengucapkan “salam” kepadamu[338]: “Kamu bukan seorang mukmin” (lalu kamu membunuhnya), dengan maksud mencari harta benda kehidupan di dunia, Karena di sisi Allah ada harta yang banyak. begitu jugalah keadaan kamu dahulu[339], lalu Allah menganugerahkan nikmat-Nya atas kamu, Maka telitilah. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(an-Nisaa’: 94)

[338] dimaksud juga dengan orang yang mengucapkan kalimat: Laa ilaaha illallah.
[339] Maksudnya: orang itu belum nyata keislamannya oleh orang ramai kamupun demikian pula dahulu.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki dari Bani Sulaim yang sedang menggiring dombanya bertemu dengan segolongan shahabat Nabi saw.. Ia mengucapkan salam kepada mereka. Mereka berkata: “Dia memberi salam untuk menyelamatkan diri dari kita.” Merekapun mengepung dan membunuhnya, serta membawa dombanya kepada Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 94) sebagai teguran agar berhati-hati dalam melaksanakan suatu hukum.

Diriwayatkan oleh al-Bazzar dari riwayat lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw. mengirim sepasukan tentara di antaranya terdapat al-Miqdad. Ketika sampai di tempat yang dituju, penghuninya telah lari semua, kecuali seorang yang kaya raya. Seketika itu juga ia mengucapkan: asyhadu allaa ilaaha illallaah (aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan kecuali Allah)”. Akan tetapi orang itu tetap dibunuh juga oleh al-Miqdad. Bersabdalah Rasulullah saw. kepada al-Miqdad: “Bagaimana pertanggungjawabanmu kelak di akhirat dengan ucapannya, laa ilaaha illallaah (tidak ada tuhan kecuali Allah)?” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 94) sebagai teguran atas kecerobohan suatu tindakan.

Diriwayatkan oleh Ahmad, ath-Thabarani, dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Hadrad al-Aslami. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Juraij yang bersumber dari Ibnu ‘Umar. Bahwa Rasulullah saw. mengutus suatu pasukan tentara yang diantaranya terdapat Abu Qatadah dan Muhlim bin Jutsamah. Mereka bertemu dengan ‘Amir bin al-Adlbath al-Asyja’i yang langsung memberi salam kepada mereka. Akan tetapi (yang memberi salam itu) langsung diterjang dan dibunuh oleh Muhlim. Kejadian ini disampaikan kepada Nabi saw., dan turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 94) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh ats-Tsa’labi dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari as-Suddi dan ‘Abd, yang bersumber dari Qatadah. Bahwa nama orang yang dibunuh itu adalah Mirdas bin Nahiq, orang Fadak, dan pembunuhnya adalah Usamah bin Zaid, sedang nama pemimpin pasukan adalah Ghalib bin Fudlalah al-Laitsi.
Dalam riwayat tersebut dikemukakan bahwa ketika kaum Mirdas melarikan diri, tinggallah Mirdas seorang diri sedang menggiring kambing-kambingnya ke gunung. Ketika orang-orang menyusulnya ia mengucapkan “laa ilaaha illallaahu muhammadur rasuulullaah. As-salaamu ‘alaikum (tidak ada tuhan kecuali Allah, Muhammad adalah utusan Allah. Semoga keselamatan diberikan kepada kalian).” Tetapi ia dibunuh juga oleh Usamah bin Zaid. Dan ketika mereka pulang, turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 94) sebagai teguran atas tindakannya yang ceroboh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Ibnu Luhai’ah, dari Abuz Zubair, yang bersumber dari Jabir. Hadits ini sebagai syahid (penguat) yang bertingkat hasan. Bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 94) berkenaan dengan peristiwa Mirdas.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dari Juz’in bin al-Hadrajan bahwa Miqdad diutus kepada Nabi saw. dari Yaman. Ia bertemu dengan suatu pasukan Nabi saw., dan ia berkata: “Saya seorang mukmin.” Namun mereka tidak mengakui keimanannya, dan membunuhnya. Peristiwa tersebut sampai pada Juz’in bin al-Hadrajan (Saudara Miqdad) yang langsung menghadap Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 94). Lalu Rasulullah saw. memberikan diat kepada Juz’in bin al-Hadrajan.

95. “Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai ‘uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta mereka dan jiwanya. Allah melebihkan orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk[340] satu derajat. kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang yang duduk[341] dengan pahala yang besar,”
(an-Nisaa’: 95)

[340] Maksudnya: yang tidak berperang Karena uzur.
[341] Maksudnya: yang tidak berperang tanpa alasan. sebagian ahli tafsir mengartikan qaa’idiin di sini sama dengan arti qaa’idiin Maksudnya: yang tidak berperang Karena uzur..

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari al-Barra’. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh al-Bukhari dan yang lainnya, dari Zaid bin Tsabit; ath-Thabarani dari Zaid bin Arqam; dan Ibnu Hibban dari al-Falatan bin ‘Ashim.
At-Tirmidzi-pun meriwayatkan hadits seperti ini, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, dengan tambahwan bahwa yang mengucapkan “saya buta”, adalah ‘Abdullah bin Jahsy dan Ibnu Ummi Maktum. Dipaparkan di dalam kitab Turjumaanul Qur’aan. Dan hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari berbagai sumber, dengan periwayatan mursal. Bahwa ketika turun ayat, laa yastawil qaa-iduuna minal mu’miniin… (tidaklah sama antara Mukmin yang duduk [yang tidak ikut berperang]…) (an-Nisaa’: 95), bersabdalah Nabi saw.: “Panggillah si anu.” Maka datanglah ia membawa tinta dengan alat tulisnya. Bersabdalah Rasulullah saw: “Panggillah si anu.” Maka datanglah ia membawa tinta dengan alat tulisnya. Bersabdalah Rasulullah saw.: “Tulislah. Laa yasytawil qaa’iduuna minal mu’minin…. (tidak sama antara Mukmin yang duduh [yang tidak ikut berperang]…).” Di belakang Rasulullah saw. ada Ibnu Ummi Maktum. Ia berkata: “Ya Rasulallah, saya buta.” Maka turunlah kelanjutannya:…. ghairu ulidl dlarar…(… yang tidak mempunyai uzur…) sampai akhir ayat (an-Nisaa’: 95) sebagai pengecualian bagi orang yang berhalangan (darurat).

Sumber: Al-Qur’an
Asbabun Nuzul, KHQ dkk