Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (11)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

97. “Sesungguhnya orang-orang yang diwafatkan malaikat dalam keadaan menganiaya diri sendiri[342], (kepada mereka) malaikat bertanya : “Dalam keadaan bagaimana kamu ini?”. mereka menjawab: “Adalah kami orang-orang yang tertindas di negeri (Mekah)”. para malaikat berkata: “Bukankah bumi Allah itu luas, sehingga kamu dapat berhijrah di bumi itu?”. orang-orang itu tempatnya neraka Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali,”
(an-Nisaa’: 97)

[342] yang dimaksud dengan orang yang menganiaya diri sendiri di sini, ialah orang-orang muslimin Mekah yang tidak mau hijrah bersama nabi sedangkan mereka sanggup. mereka ditindas dan dipaksa oleh orang-orang kafir ikut bersama mereka pergi ke perang Badar; akhirnya di antara mereka ada yang terbunuh dalam peperangan itu.

98. “Kecuali mereka yang tertindas baik laki-laki atau wanita ataupun anak-anak yang tidak mampu berdaya upaya dan tidak mengetahui jalan (untuk hijrah),”
(an-Nisaa’: 98)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa di antara pasukan musyrikin terdapat kaum Muslimin Mekah (yang masih lemah imannya), yang turut berperang menentang Rasulullah saw.. Diantara mereka ada yang terbunuh dengan panah atau pedang pasukan Rasulullah. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 97) sebagai penjelasan hukum bagi kaum Muslimin yang lemah imannya, yang menganiaya dirinya (mampu membela Islam tetapi tidak melakukannya).

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih, bahwa nama orang-orang yang menambah jumlah pasukan musyrikin itu antara lain: Qais bin al-Walid bin al-Mughirah, Abu Qais bin al-Faqih bin al-Mughirah, al-Walid bin Rabi’ah, ‘Amr bin Umayyah bin Sufyan, dan ‘Ali bin Umayyah bin Khalaf. Selanjutnnya dikemukakan bahwa peristiwanya terjadi pada Perang Badr, di saatg mereka melihat jumlah kaum Muslimin sangat sedikit. Timbul rasa ragu-ragu pada mereka dan berkata: “Mereka tertipu oleh agamanya.” Orang-orang tersebut akhirnya mati terbunuh dalam Perang Badr itu.

Keterangan: menurut Ibnu Abi Hatim, di antara orang-orang yang disebut dalam hadits di atas, termasuk juga al-Harits bin Zam’ah bin al-Aswad dan al-‘Ash bin Munabbih bin al-Hajj.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ada segolongan orang Mekah masuk Islam. Namun ketika Rasulullah hijrah, mereka enggan ikut dan takut hijrah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (an-Nisaa’: 97-98) sebagai ancaman hukuman bagi orang-orang yang enggan memisahkan diri dari kaum yang memusuhi agama, kecuali kalau mereka itu tidak berdaya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari berbagai sumber, bahwa ada segolongan orang Mekah yang telah masuk Islam, tetapi menyembunyikan keislamannya. Pada waktu perang Badr, mereka dipaksa menyertai kaum Quraisy untuk berperang melawan Rasulullah sehingga banyak yang mati terbunuh. Berkatalah kaum kaum Muslimin Madinah: “Mereka itu adalah orang-orang Islam yang dipaksa untuk berperang (melawan Rasulullah). Hendaklah kalian memintakan ampun bagi mereka.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 97). Kemudian mereka menulis surat kepada kaum Muslimin yang masih ada di Mekah dengan ayat tadi, dan (dikatakan kepada mereka bahwa) tidak ada lagi alasan untuk tidak hijrah. Kemudian mereka hijrah ke Madinah, tetapi masih dikejar dan dianiaya oleh kaum musyrikin. Akhirnya mereka terpaksa kembali ke Mekah. Maka turunlah surah al-‘Ankabut ayat 10 berkenaan dengan peristiwa tersebut, sebagai teguran terhadap keluhan mereka, yang menganggap siksaan yang dialaminya sebagai azab dari Allah.
Ayat inipun (al-Ankabut: 10) dikirim lagi kepada kaum Muslimin Mekah. Mereka merasa sedih. Maka turunlah surah an-Nahl ayat 110, sebagai janji Allah untuk melindungi orang yang hijrah dan bersabar.
Ayat ini (an-Nahl: 110) dikirim pula pada kaum Muslimin Mekah. Maka merekapun berhijrah ke Madinah dan tidak luput dari kejaran kaum musyrikin, di antaranya ada yang selamat, tapi ada juga yang gugur.

100. “Barangsiapa berhijrah di jalan Allah, niscaya mereka mendapati di muka bumi Ini tempat hijrah yang luas dan rezki yang banyak. barangsiapa keluar dari rumahnya dengan maksud berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian kematian menimpanya (sebelum sampai ke tempat yang dituju), Maka sungguh Telah tetap pahalanya di sisi Allah. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 100)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la dengan sanad yang jayyid (baik), yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Dlamrah bin Jundab keluar dari rumahnya untuk berhijrah. Dia berkata pada keluarganya:”Gotonglah saya dan hijrahkanlah saya dari tanah musyrikin ini ke tempat Rasulullah saw..” Di tengah perjalanan, sebelum sampai kepada Nabi, ia wafat. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) sebagai janji Allah kepada orang-orang yang gugur di saat melaksanakan tugas agama Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa Abu Dlamrah az-Zurqi termasuk orang yang ada di Mekah (belum berhijrah). Ketika menerima berita tentang turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 98) ia berkata: “Aku cukup berada dan mampu.” Ia pun bersiap-siap untuk hijrah menuju ke tempat Nabi saw. di kampung Tan’im. Di perjalanan ia meninggal dunia. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) yang menjelaskan keduduukan orang yang gugur di saat melaksanakan Panggilan Rabb-nya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, seperti hadits di atas, yang bersumber dari Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Qatadah, as-Suddi, adl-Dlahhak, dan lain-lain. Bahwa orang yang wafat dalam hijrah itu, ada yang mengatakan Dlamrah bin al-‘Aish atau al-‘Aish bin Dlamrah; Jundab din Dlamrah; al-Junda’i; adl-Dlammari; seorang laki-laki dari Bani Dlamrah; seorang laki-laki dari suku Khuza’ah; seorang laki-laki dari Bani Laits; seorang laki-laki dari bani Kinanah; dan ada pula yang mengatakan seorang dari bani Bakr.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqaat, yang bersumber dari Yazid bin ‘Abdillah bin Qisth. Bahwa Jundab bin Dlamrah al-Dlamari sedang sakit di Mekah. Ia berkata pada anaknya: “Bawalah aku keluar dari Mekah. Aku bisa mati akibat situasi kalut di tempat ini.” Mereka berkata: “Kemana kami bawa?” Ia memberi isyarat dengan tangannya ke arah Madinah dengan maksud hijrah. Kemudian mereka membawanya ke Madinah. Akan tetapi baru sampai di kampung Bani Ghifar, ia meninggal dunia. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, Ibnu Mandah, dan al-Baudi, dari Hisyam bin ‘Urwah, dari bapaknya, yang bersumber dari az-Zubair bin al-‘Awwam. Bahwa ketika Khalid bin Haram hijrah ke Habsyah, di perjalanan, ia digigit ular dan wafat. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Umawi dalam kitab Maghaazi-nya, yang bersumber dari ‘Abdulmalik bin ‘Umar. Hadits ini mursal dan sanadnya daif. Bahwa ketika sampai berita tentang kerasulan Nabi saw. kepada Aktsam bin Syaifi, ia bermaksud mengunjungi Nabi, akan tetapi dihalangi oleh kaumnya. Maka ia meminta seseorang untuk diutus menyampaikan maksudnya, minta keterangan tentang Rasulullah. Maka dipilihlah dua orang utusan untuk menghadap Nabi saw.. Kedua utusan itu berkata: “Kami utusan dari Aktsam bin Shaifi yang ingin tahu siapa nama tuan, apakah kedudukan tuan, dan apakah yang tuan bawa?” Nabi saw. menjawab: “Saya Muhammad anak ‘Abdullah, hamba Allah dari Rasul-Nya.” Kemudian Nabi membacakan ayat, innallaaha ya’muru bil ‘ad-li wal ihsaan…(sesungguhnya Allah menyuruh [kamu] berlaku adil dan berbuat kebajikan…) sampai akhir ayat (an-Nahl: 90). Sesampainya utusan itu kepada Aktsam dan menyampaikan apa yang diterangkan Nabi saw., berkatalah Aktsam: “Hai kaumku, ia menyuruh berbudi tinggi dan melarang berakhlak rendah, jadilah kalian pelopor untuk berbudi luhur, dan jangan menjadi pengekor.” Kemudian ia berangkat menuju Madinah, tapi di perjalanan ia meninggal. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 100) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim di dalam kitab al-Mu’ammirin, dari dua jalan, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika Ibnu ‘Abbas ditanya tentang ayat ini (an-Nisaa’: 100), ia menjawab: “Ayat tersebut turun berkenaan dengan peristiwa Aktsam bin Shaifi.” Ketika itu ada yang bertanya lagi: “Bukankah ayat tersebut berkenaan dengan peristiwa al-Laits?” Ia menjawab: “Ini terjadi beberapa masa sebelum peristiwa al-Laits.” Ayat tersebut bisa khusus berkenaan dengan peristiwa Aktsam dan juga peristiwa lain.

Sumber: al-Qur’an
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: