Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (12)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

101. “Dan apabila kamu bepergian di muka bumi, Maka tidaklah Mengapa kamu men-qashar[343] sembahyang(mu), jika kamu takut diserang orang-orang kafir. Sesungguhnya orang-orang kafir itu adalah musuh yang nyata bagimu.”
(an-Nisaa’: 101)

[343] menurut pendapat Jumhur arti qashar di sini ialah: sembahyang yang empat rakaat dijadikan dua rakaat. Mengqashar di sini ada kalanya dengan mengurangi jumlah rakaat dari 4 menjadi 2, yaitu di waktu bepergian dalam keadaan aman dan ada kalanya dengan meringankan rukun-rukun dari yang 2 rakaat itu, yaitu di waktu dalam perjalanan dalam keadaan khauf. dan ada kalanya lagi meringankan rukun-rukun yang 4 rakaat dalam keadaan khauf di waktu hadhar.

102. “Dan apabila kamu berada di tengah-tengah mereka (sahabatmu) lalu kamu hendak mendirikan shalat bersama-sama mereka, Maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (shalat) besertamu dan menyandang senjata, Kemudian apabila mereka (yang shalat besertamu) sujud (telah menyempurnakan serakaat)[344], Maka hendaklah mereka pindah dari belakangmu (untuk menghadapi musuh) dan hendaklah datang golongan yang kedua yang belum bersembahyang, lalu bersembahyanglah mereka denganmu[345]], dan hendaklah mereka bersiap siaga dan menyandang senjata. orang-orang kafir ingin supaya kamu lengah terhadap senjatamu dan harta bendamu, lalu mereka menyerbu kamu dengan sekaligus. dan tidak ada dosa atasmu meletakkan senjata-senjatamu, jika kamu mendapat sesuatu kesusahan Karena hujan atau Karena kamu memang sakit; dan siap siagalah kamu. Sesungguhnya Allah Telah menyediakan azab yang menghinakan bagi orang-orang kafir itu[346].”
(an-Nisaa’: 102)

[344] menurut Jumhur Mufassirin bila Telah selesai serakaat, Maka diselesaikan satu rakaat lagi sendiri, dan nabi duduk menunggu golongan yang kedua.
[345] yaitu rakaat yang pertama, sedang rakaat yang kedua mereka selesaikan sendiri pula dan mereka mengakhiri sembahyang mereka bersama-sama nabi.
[346] cara sembahyang khauf seperti tersebut pada ayat 102 Ini dilakukan dalam keadaan yang masih mungkin mengerjakannya, bila keadaan tidak memungkinkan untuk mengerjakannya, Maka sembahyang itu dikerjakan sedapat-dapatnya, walaupun dengan mengucapkan tasbih saja.

103. “Maka apabila kamu Telah menyelesaikan shalat(mu), ingatlah Allah di waktu berdiri, di waktu duduk dan di waktu berbaring. Kemudian apabila kamu Telah merasa aman, Maka Dirikanlah shalat itu (sebagaimana biasa). Sesungguhnya shalat itu adalah fardhu yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman.”
(an-Nisaa’: 103)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ali bahwa kaum Banin Najjar bertanya kepada Rasulullah saw.: “Kami sering bepergian berniaga, bagaimanakah shalat kami?” Maka Allah menurunkan sebagian ayat ini (an-Nisaa’: 101) yang membolehkan shalat dikasar. Wahyu tentang ayat ini kemudian terputus sampai,.. minash shalaah…(…shalat[mu]..). Di dalam suatu peperangan yang terjadi setelah turunnya ayat di atas (an-Nisaa’: 101) , Rasulullah saw. mendirikan shalat dzuhur. Di saat itulah kaum musyrikin berkata: “Muhammad dan teman-temannya memberikan kesempatan pada kita untuk menggempur dari belakang. Tidakkah sebaiknya kita perhebat serbuan terhadap mereka sekarang ini?” Maka berkatalah yang lainnya: “Sebaiknya kita ambil kesempatan lain, karena nantipun mereka akan melakukan hal serupa di tempat yang sama. Maka Allah menurunkan wahyu di antara kedua waktu shalat itu (dzuhur dan asyar) sebagai kelanjutan ayat ini (an-Nisaa’: 101) yaitu,…in khiftum…(…jika kamu takut…) sampai…’adzaabam muhiinaa…(azab yang menghinakan) (an-Nisaa’: 102), dan kemudian ayat shalat khauf (an-Nisaa’: 103).

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Hakim –dishahihkan oleh al-Hakim-, serta al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari Ibnu ‘Iyasy az-Zurqi. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Abu Hurairah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir dari Jabir bin ‘Abdillah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa ketika Rasulullah saw. bersama para shahabatnya di ‘Ashfan, datanglah serbuan dari kaum musyrikin, yang di antaranya terdapat Khalid bin al-Walid. Mereka berada di arah kiblat. Kemudian Nabi saw. mengimami shalat dzuhur. Kaum musyrikin berkata: “Alangkah baiknya kalau kita bisa membunuh pimpinannya dalam keadaan demikian.” Yang lainnya berkata: “Sebentar lagi akan datang waktu shalat, dan mereka lebih mencintai shalat daripada anaknya ataupun dirinya sendiri.” Lalu turunlah Jibril, antara waktu dzuhur dan asyar, membawa ayat ini (an-Nisaa’: 102).

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya ayat.. ing kaana bikum adzam mim matharin au kungtum mardlaa…(..jika kemu mendapat sesuatu kesusahan karena hujan atau karena kamu memang sakit..) berkenaan dengan ‘Abdurrahman bin ‘Auf pada waktu menderita luka parah. Ayat ini (an-Nisaa’: 102) memperingatkan kepada orang yang sakit/ luka yang tidak mampu menyandang senjata untuk tetap bersiap siaga.

Sumber: al-Qur’an
Asbabun Nuzul, KHQ, Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: