Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (13)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

105. “Sesungguhnya kami Telah menurunkan Kitab kepadamu dengan membawa kebenaran, supaya kamu mengadili antara manusia dengan apa yang Telah Allah wahyukan kepadamu, dan janganlah kamu menjadi penantang (orang yang tidak bersalah), Karena (membela) orang-orang yang khianat[347],”
(an-Nisaa’: 105)

[347] ayat Ini dan beberapa ayat berikutnya diturunkan berhubungan dengan pencurian yang dilakukan Thu’mah dan ia menyembunyikan barang curian itu di rumah seorang Yahudi. Thu’mah tidak mengakui perbuatannya itu malah menuduh bahwa yang mencuri barang itu orang Yahudi. hal Ini diajukan oleh kerabat-kerabat Thu’mah kepada nabi s.a.w. dan mereka meminta agar nabi membela Thu’mah dan menghukum orang-orang Yahudi, kendatipun mereka tahu bahwa yang mencuri barang itu ialah Thu’mah, nabi sendiri hampir-hampir membenarkan tuduhan Thu’mah dan kerabatnya itu terhadap orang Yahudi.

106. “Dan mohonlah ampun kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 106)

107. “Dan janganlah kamu berdebat (untuk membela) orang-orang yang mengkhianati dirinya. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang selalu berkhianat lagi bergelimang dosa,”
(an-Nisaa’: 107)

108. “Mereka bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak bersembunyi dari Allah, padahal Allah beserta mereka, ketika pada suatu malam mereka menetapkan Keputusan rahasia yang Allah tidak redlai. dan adalah Allah Maha meliputi (ilmu-Nya) terhadap apa yang mereka kerjakan.”
(an-Nisaa’: 108)

109. “Beginilah kamu, kamu sekalian adalah orang-orang yang berdebat untuk (membela) mereka dalam kehidupan dunia ini. Maka siapakah yang akan mendebat Allah untuk (membela) mereka pada hari kiamat? atau siapakah yang menjadi pelindung mereka (terhadap siksa Allah)?”
(aan-Nisaa’: 109)

110. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, Kemudian ia mohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(an-Nisaa’: 110)

111. “Barangsiapa yang mengerjakan dosa, Maka Sesungguhnya ia mengerjakannya untuk (kemudharatan) dirinya sendiri. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.”
(an-Nisaa’: 111)

112. “Dan barangsiapa yang mengerjakan kesalahan atau dosa, Kemudian dituduhkannya kepada orang yang tidak bersalah, Maka Sesungguhnya ia Telah berbuat suatu kebohongan dan dosa yang nyata.”
(an-Nisaa’: 112)

113. “Sekiranya bukan Karena karunia Allah dan rahmat-Nya kepadamu, tentulah segolongan dari mereka berkeinginan keras untuk menyesatkanmu. tetapi mereka tidak menyesatkan melainkan dirinya sendiri, dan mereka tidak dapat membahayakanmu sedikitpun kepadamu. dan (juga karena) Allah Telah menurunkan Kitab dan hikmah kepadamu, dan Telah mengajarkan kepadamu apa yang belum kamu ketahui. dan adalah karunia Allah sangat besar atasmu.”
(an-Nisaa’: 113)

114. “Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian di antara manusia. dan barangsiapa yang berbuat demikian Karena mencari keredhaan Allah, Maka kelak kami memberi kepadanya pahala yang besar.”
(an-Nisaa’: 114)

115. “Dan barangsiapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang Telah dikuasainya itu[348] dan kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.”
(an-Nisaa’: 115)

[348] Allah biarkan mereka bergelimang dalam kesesatan.

116. “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan dia mengampuni dosa yang selain syirik bagi siapa yang dikehendaki-Nya. barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah tersesat sejauh-jauhnya.”
(an-Nisaa’: 116)

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Qatadah bin an-Nu’man. Menurut al-Hakim, hadits ini shahih berdasarkan syarat Imam Muslim. Bahwa diantara keluarga serumah Bani Ubairiq, yaitu Bisyr dan Mubasysyir, terdapat seorang munafik yang bernama Busyair, yang hidupnya melarat sejak zaman jahiliyah. Ia pernah menggubah syair untuk mencaci maki para shahabat Rasulullah saw. dan menuduh bahwa syair itu gubahan orang lain.
Pada waktu itu makanan orang melarat ialah kurma dan sya’ir (semacam jewawut; Inggris: barley) yang didatangkan dari Madinah (sedang makanan orang-orang kaya adalah terigu). Suatu ketika Rifa’ah bin Zaid (paman Qatadah) membeli terigu beberapa karung yang kemudian disimpan di dalam gudang tempat penyimpanan alat perang, baju besi, dan pedang. Pada tengah malam gudang itu dibongkara orang yang semua isinya dicuri. Pagi harinya Rifa’ah datang kepada Qatadah dan berkata: “Wahai anak saudaraku, tadi malam gudang kita dibongkar orang, makanan dan senjata dicuri.” Kemudian mereka menyelidikinya dan bertanya-tanya di sekitar kampung itu. Ada orang yang mengatakan bahwa semalam bani Ubairiq menyalakan api dan memasak terigu (makanan orang kaya). Berkatalah Bani Ubairiq: “Kami telah bertanya-tanya di kampung ini. Demi Allah, kami yakin bahwa pencurinya adalah Labid bin Sahl.” Labid bin Sahl terkenal sebagai Muslim yang jujur. Ketika Labid mendengar ucapan Bani Ubairiq, ia naik darah dan mencabut pedangnya sambil berkata dengan marah: “Engkau menuduh aku mencuri? Demi Allah pedang ini akan ikut campur berbicara, sehingga terang dan jelas siapa pencuri itu.” Bani Ubairiq berkata: “Jangan berkata kami yang menuduhmu, sebenarnya buka kamu pencurinya.” Maka berangkatlah Qatadah dan Rifa’ah meneliti dan bertanya-tanya di sekitar kampung itu sehingga yakin bahwa pencurinya adalah Bani Ubairiq. Maka berkatalah Rifa’ah: “Wahai anak saudaraku, bagaimana sekiranya engkau menghadap Rasulullah saw. untuk menerangkan hal ini?” Maka berangkatlah Qatadah menghadap Rasulullah dan menerangkan adanya satu keluarga yang tidak baik di kampung itu, yang mencuri makanan dan senjata kepunyaan pamannya. Pamannya menghendaki agar senjatanya saja yang dikembalikan, dan membiarkan makanan itu untuk mereka. Maka bersabdalah Rasulullah saw.: “Saya akan meneliti hal ini.”
Ketika Bani Ubairiq mendengar hal itu, mereka mendatangi salah seorang keluarganya yang bernama Asir bin ‘Urwah untuk menceritakan peristiwa tersebut. Maka berkumpullah orang-orang sekampungnya seraya menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Qatadah bin an-Nu’man dan pamannya telah menuduh seorang yang baik, jujur, dan lurus di antara kami, yaitu menuduh mencuri tanpa bukti apapun.”
Ketika Qatadah berhadapan dengan Rasulullah, iapun ditegur dengan sabdanya: “Kamu telah menuduh mencuri kepada seorang Muslim yang jujur dan lurus tanpa bukti apa pun?” Kemudian Qatadah pulang untuk menceritakan hal itu pada pamannya. Berkatalah Rifa’ah: “Allahul musta’aan (Allah tempat kita berlindung).” Tidak lama kemudian turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 105) sebagai teguran kepada Nabi saw. berkenaan dengan pembelaannya terhadap Bani Ubairiq; dan surah an-Nisaa’ ayat 114 berkenaan dengan ucapan Nabi saw. terhadap Qatadah.
Setelah itu Nabi saw. membawa sendiri senjata yang hilang itu dan menyerahkannya kepada Rifa’ah, sedang Busyair menggabungkan diri dengan kaum musyrikin dan menumpang pada Sullafah binti Sa’d. Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 115-116) sebagai teguran kepada orang-orang yang menggabungkan diri dengan musuh setelah jelas petunjuk Allah kepadanya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-Thabaqaat, dengan sanad yang bersumber dari Mahmud bin Labid. Bahwa Busyair bin al-Harits membongkar gudang Rifa’ah bin Zaid (paman Qatadah bin an-Nu’man) dan mencuri makanan serta dua perangkat baju besi. Qatadah mengadu kepada Nabi saw. tentang peristiwa itu, yang kemudian ditanyakan kepada Busyair oleh Nabi saw.. Akan tetapi ia mungkir, dan malah menuduh Labid bin Sahl, seorang bangsawan lagi hartawan. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 105) yang menerangkan bahwa Busyair itu seorang pendusta, sedang Labid seorang yang bersih.
Setelah turun ayat itu (an-Nisaa’: 105) yang menunjukkan kepalsuan Busyair, iapun murtad dan lari ke Mekah menggabungkan diri dengan kaum musyrikin serta menumpang di rumah Sullafah binti Sa’d. Ia mencaci maki Nabi dan kaum Muslimin. Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 115) berkenaan dengan peristiwa Busyair ini. Kemudian Hassan bin Tsabit menggubah syair yang menyindir Busyair, sehingga ia kembali pada bulan Rabi’ tahun keempat Hijrah.

Sumber: Al-Qur’an,
Asbabun Nuzul KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: