Asbabun Nuzul Surah An-Nisaa’ (14)

4 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

123. “(Pahala dari Allah) itu bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong[353] dan tidak (pula) menurut angan-angan ahli Kitab. barangsiapa yang mengerjakan kejahatan, niscaya akan diberi pembalasan dengan kejahatan itu dan ia tidak mendapat pelindung dan tidak (pula) penolong baginya selain dari Allah.”
(an-Nisaa’: 123)

[353] Mu di sini ada yang mengartikan dengan kaum muslimin dan ada pula yang mengartikan kaum musyrikin. maksudnya ialah pahala di akhirat bukanlah menuruti angan-angan dan cita-cita mereka, tetapi sesuai dengan ketentuan-ketentuan agama.

124. “Barangsiapa yang mengerjakan amal-amal saleh, baik laki-laki maupun wanita sedang ia orang yang beriman, Maka mereka itu masuk ke dalam surga dan mereka tidak dianiaya walau sedikitpun.”
(an-Nisaa’: 124)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Yahudi dan Nasrani berkata: “Tidak akan masuk surga selain dari kami.” Dan kaum Quraisy berkata: “Kami tidak akan dibangkitkan dari kubur.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 123), yang menjelaskan bahwa balasan dari Allah itu sesuai dengan amal masing-masing dan bukan menurut angan-angan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Masruq bahwa kaum Nasrani saling menyombongkan diri dengan kaum Muslimin, dengan berkata: “Kami lebih mulia daripada kalian.” Kaum Muslimin berkata: “Kami lebih mulia daripada kalian.” Lalu Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 123) yang menegaskan bahwa keutamaan itu tidaklah menurut angan-angan mereka, akan tetapi bergantung pada amal masing-masing yang akan dibalas oleh Allah swt.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah, adl-Dlahhak, as-Suddi, dan Abu Shalih bahwa yang saling menyombongkan diri itu (yang disebut dalam hadits di atas) adalah tokoh-tokoh agama. Dan dalam riwayat lainnya lagi, yang menyombongkan diri itu ialah Yahudi, Nasrani dan orang-orang Islam yang sedang duduk-duduk: masing-masing menegaskan lebih mulia daripada yang lainnya. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 123) sebagai teguran kepada mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Masruq bahwa setelah turun ayat ini (an-Nisaa’: 123), ahli kitab (Nasrani dan Yahudi) berkata kepada kaum Muslimin: “Kami dan kalian sama.” Maka turunlah ayat selanjutnya (an-Nisaa’: 124) yang menyangkal persamaan antara Yahudi dan Nasrani dengan kaum Mukminin.

127. “Dan mereka minta fatwa kepadamu tentang para wanita. Katakanlah: “Allah memberi fatwa kepadamu tentang mereka, dan apa yang dibacakan kepadamu dalam Al Quran[354] (juga memfatwakan) tentang para wanita yatim yang kamu tidak memberikan kepada mereka apa[355] yang ditetapkan untuk mereka, sedang kamu ingin mengawini mereka[356] dan tentang anak-anak yang masih dipandang lemah. dan (Allah menyuruh kamu) supaya kamu mengurus anak-anak yatim secara adil. dan kebajikan apa saja yang kamu kerjakan, Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahuinya.”
(an-Nisaa’: 127)

[354] lihat surat An Nisaa’ ayat 2 dan 3
[355] maksudnya ialah: pusaka dan maskawin.
[356] menurut adat Arab Jahiliyah seorang wali berkuasa atas wanita yatim yang dalam asuhannya dan berkuasa akan hartanya. jika wanita yatim itu cantik dikawini dan diambil hartanya. jika wanita itu buruk rupanya, dihalanginya kawin dengan laki-laki yang lain supaya dia tetap dapat menguasai hartanya. kebiasaan di atas dilarang melakukannya oleh ayat ini.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa ada seorang laki-laki, ahli waris dan wali seorang putri yatim, menggabungkan seluruh harta si yatim itu dengan hartanya, sampai pada barang yang sekecil-kecilnya. Bahkan sampai-sampai ia mau menikahinya dan tidak mau menikahkannya kepada orang lain, karena takut harta bendanya terlepas dari tangannya. Wanita yatim itu dilarang menikah sama sekali. Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 127) yang menjelaskan bagaimana seharusnya mengurus anak yatim.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari as-Suddi bahwa Jabir mempunyai saudara misan wanita yang rupanya jelek, tapi mempunyai harta warisan dari ayahnya. Jabir sendiri enggan menikahinya dan juga tidak mau menikahkannya kepada orang lain, karena takut harta bendanya lepas dari tangannya, dibawa oleh suaminya. Ia bertanya kepada Rasulullah saw., lalu turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 127) sebagai pedoman bagi mereka yang mengurus anak yatim.

128. “Dan jika seorang wanita khawatir akan nusyuz[357] atau sikap tidak acuh dari suaminya, Maka tidak Mengapa bagi keduanya mengadakan perdamaian yang sebenar-benarnya[358], dan perdamaian itu lebih baik (bagi mereka) walaupun manusia itu menurut tabiatnya kikir[359]. dan jika kamu bergaul dengan isterimu secara baik dan memelihara dirimu (dari nusyuz dan sikap tak acuh), Maka Sesungguhnya Allah adalah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.”
(an-Nisaa’: 128)

[357] Nusyuz: yaitu meninggalkan kewajiban bersuami isteri. nusyuz dari pihak isteri seperti meninggalkan rumah tanpa izin suaminya. nusyuz dari pihak suami ialah bersikap keras terhadap isterinya; tidak mau menggaulinya dan tidak mau memberikan haknya.
[358] seperti isteri bersedia beberapa haknya dikurangi Asal suaminya mau baik kembali.
[359] Maksudnya: tabi’at manusia itu tidak mau melepaskan sebahagian haknya kepada orang lain dengan seikhlas hatinya, kendatipun demikian jika isteri melepaskan sebahagian hak-haknya, Maka boleh suami menerimanya.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah. Hadits ini diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa ketika Saudah binti Zam’ah sudah tua dan takut diceraikan oleh Rasulullah saw., ia berkata: “Hari giliranku aku hadiahkan kepada ‘Aisyah.” Maka turunlah ayat ini (an-Nisaa’: 128) yang membolehkan tindakan seperti itu yang dilakukan oleh Siti Saudah.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari Sa’id bin al-Musayyab. Riwayat ini mempunyai syaahid (penguat) yang maushul, yang dikemukakan oleh al-Hakim dari Ibnul Musayyab yang bersumber dari Rafi’ bin Khadij. Bahwa istri Rafi’ bin Khadij, yaitu putri Muhammad bin Muslimah, kurang disayangi oleh suaminya karena tua atau hal lain, sehingga ia khawati akan diceraikan. Berkatalah si istri: “Janganlah engkau menceraikan aku, dan kau boleh datang sekehendak hatimu.” Maka Allah menurunkan ayat ini (an-Nisaa’: 128) sebagai anjuran kepada kedua belah pihak untuk mengadakan persesuaian dalam berumah tangga.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari ‘Aisyah bahwa turunnya ayat ini (an-Nisaa’: 128) berkenaan dengan seorang laki-laki yang mempunyai istri dan telah beranak banyak. Ia ingin menceraikan istrinya dan kawin lagi dengan wanita lain. Akan tetapi istrinya merelakan dirinya untuk tidak mendapat giliran asal tidak diceraikan. Ayat ini (an-Nisaa’: 128) membenarkan perdamaian dalam hubungan suami istri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Sa’id bin Jubair bahwa ketika turun ayat ini (an-Nisaa’: 128), ada seorang wanita berkata kepada suaminya: “Saya rida mendapat nafkah saja darimu, dan tidak mendapat giliran, asal tidak dicerai.” Maka turunlah kelanjutan ayat tersebut sampai akhir (an-Nisaa’: 128) yang membolehkan perbuatan seperti itu.

Sumber: Al-Qur’an
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: