Arsip | 06.54

Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imraan (5)

5 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

99. “Katakanlah: ‘Hai ahli kitab, Mengapa kamu menghalang-halangi dari jalan Allah orang-orang yang Telah beriman, kamu menghendakinya menjadi bengkok, padahal kamu menyaksikan?’. Allah sekali-kali tidak lalai dari apa yang kamu kerjakan.”
(Ali ‘Imraan: 99)

100. “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu mengikuti sebahagian dari orang-orang yang diberi Al kitab, niscaya mereka akan mengembalikan kamu menjadi orang kafir sesudah kamu beriman.”
(Ali ‘Imraan: 100)

101. “Bagaimanakah kamu (sampai) menjadi kafir, padahal ayat-ayat Allah dibacakan kepada kamu, dan rasul-Nya pun berada di tengah-tengah kamu? barangsiapa yang berpegang teguh kepada (agama) Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah diberi petunjuk kepada jalan yang lurus.”
(Ali ‘Imraan: 101)

102. “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah sebenar-benar takwa kepada-Nya; dan janganlah sekali-kali kamu mati melainkan dalam keadaan beragama ‘Islam.”
(Ali ‘Imraan: 102)

103. “Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, Maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu Karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu Telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.”
(Ali ‘Imraan: 103)

Diriwayatkan oleh Al-Faryabi dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketikau kaum Aus dan Khajraj duduk-duduk, berceritalah mereka tentang permusuhannya di jaman jahiliyah, sehingga bangkitlah amarah kedua kaum tersebut. Masing-masing bangkit memgang senjatanya, saling berhadapan. Maka turunlah ayat tersebut (Ali ‘Imraan: 101-103) yang melerai mereka.

Diriwayatkan oleh Ibu Ishaq dan Abusy Syaikh, yang bersumber dari Zaid bin Aslam bahwa seorang Yahudi yang bernama Syas bin Qais lewat di hadapan kaum Aus dan Khajraj yang sedang bercakap-cakap dengan riang gembira. Ia merasa benci dengan keintiman mereka, padahal asalnya bermusuhan. Ia menyuruh seorang anak mudah anak buahnya untuk ikut serta bercakap-cakap dengan mereka. Mulailah kaum Aus dan Khajraj berselisih dan menyombongkan kegagahan masing-masing, sehingga tampillah Aus bin Qaizhi dari golongan Aus dan Jabbar bin Shakhr dari golongan Khajraj saling mencaci sehingga menimbulkan amarah kedua belah pihak. Berloncatanlah kedua kelompok itu untuk berperang. Hal inni sampai kepada Rasulullah saw. sehingga beliau segera datang dan memberi nasehat serta mendamaikan mereka. Mereka pun tunduk dan taat. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 100) berkenaan denga Aus dan Jabbar serta orang-orang yang menjadi pengikutnya, sedangkan (Ali ‘Imraan: 99) berkenaan dengan Syas bin Qais yang mengadu domba kaum Muslimin.

113. “Mereka itu tidak sama; di antara ahli Kitab itu ada golongan yang berlaku lurus[221], mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud (sembahyang).”
(Ali Imraan: 113)

[221] Yakni: golongan ahli Kitab yang Telah memeluk agama Islam.

114. “Mereka beriman kepada Allah dan hari penghabisan, mereka menyuruh kepada yang ma’ruf, dan mencegah dari yang munkar dan bersegera kepada (mengerjakan) pelbagai kebajikan; mereka itu termasuk orang-orang yang saleh.”
(Ali ‘Imraan: 114)

115. “Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, Maka sekali-kali mereka tidak dihalangi (menenerima pahala) nya; dan Allah Maha mengetahui orang-orang yang bertakwa.”
(Ali ‘Imraan: 115)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim, ath-Thabarani, dan Ibnu Mandah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika ‘Abdullah bin Salam, Tsa’labah bin Sa’yah, Usaid bin Sa’yah, As’ad bin ‘Abd, dan beberapa kaum Yahudi masuk Islam, beriman membenarkan Muhammad dan mencintai Islam, berkatalah pendeta-pendeta Yahudi dan orang-orang kufur di antara mereka: “Tiada akan beriman kepada Muhammad dan mengikutinya kecuali orang-orang yang paling jahat di antara kami. Sekiranya mereka itu orang-orang yang paling baik di antara kami, tentulah mereka tidak akan meninggalkan agama nenek moyang mereka dan berpindah ke agama lain.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (ali ‘Imran: 113) yang menegaskan adanya perbedaan antara orang Yahudi yang jujur karena beriman kepada Muhammad dan orang Yahudi yang kufur kepada beliau.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu Mas’ud bahwa ketika Rasulullah saw. mengakhirkan shalat isya, didapatinya di dalam masjid orang-orang sedang menunggu shalat. Maka bersabdalah beliau: “Ketahuilah, selain kalian tak ada seorangpun dari penganut agama lain yang ingat kepada Allah (shalat) di saat malam begini.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali Imraan: 113-115) yang melukiskan sifat-sifat kaum Mukminin.

Sumber: Al-Qur’an;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imraan (4)

5 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

79. “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[208], Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
(Ali ‘Imraan: 79)

[208] Rabbani ialah orang yang Sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah s.w.t.

80. “Dan (Tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan al-Baihaqi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika pendeta-pendeta kaum Yahudi dan kaum Nasrani Najran berkumpul di hadapan Rasulullah saw. dan diajak masuk Islam, berkatalah Abu Rafi’ al-Qurazhi: “Apakah tuan menginginkan agar kami menyembah tuan seperti Nasrani menyembah ‘Isa?” Rasulullah menjawab: “Ma’aadzallaah (aku berlindung kepada Allah dari hal itu).” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 79-80) sebagai sanggahan bahwa tiada seorang nabi pun yang mengajak umatnya untuk menyembah dirinya sendiri.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam Tafsir-nya, yang bersumber dari al-Hasan bahwa seorang laki-laki menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulallah, apakah mengucapkan salam kepada tuan itu sebagaimana memberi salam kepada teman kami? Apakah tidak perlu sujud kepada tuan?” Nabi menjawab: “Jangan, cukup kamu menghormati Nabi-mu, dan beritahukan yang hak kepada yang layak engkau beritahu, karena sesungguhnya tidak dibenarkan seseorang bersujud kepada selain Allah.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 79-80) sebagai penegasan atas ucapan Rasulullah.

85. “ Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(Ali ‘Imraan: 85)

86. “Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka Telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun Telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim.”
(Ali ‘Imraan: 86)

87. “Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la’nat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la’nat para malaikat dan manusia seluruhnya,”
(Ali ‘Imraan: 87)

88. “Mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh,”
(Ali ‘Imraan: 88)

89. “Kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan[211]. Karena Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Ali ‘Imraan: 89)

[211] Mengadakan perbaikan berarti berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Diriwayatkan oleh an-Nasaa-i, Ibnu Hiban, dan al Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar murtad dari Islam. Ia menyesal atas kemurtadannya. Ia minta pada kaumnya agar mengutus seseorang menghadap Rasulullah saw. untuk menanyakan apakah tobatnya diteriman. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 85-89), disampaikan utusan itu kepadanya, sehingga iapun kembali memeluk Islam.

Diriwayatkan oleh Musaddad di dalam Musnad-nya dan ‘Abdurrazzaq, yang bersumber dari Mujahid bahwa al-Harits bin Suwaid menghadap Nabi saw. dan masuk Islam. Kemudian pulang kepada kaumnya dan kufur lagi. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 85-89). Ayat itu dibacakan kepadanya oleh salah seorang kaumnya. Maka al-Harits berkata: “Sesungguhnya engkau benar, dan Rasulullah lebih benar daripada engkau, dan sesungguhnya Allah Yang Paling Benar di antara ketiganya.” Kemudian ia kembali masuk Islam dan menjadi seorang Muslim yang patuh.

97. “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim[215]; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah Dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
(Ali ‘Imraan: 97)

[215] ialah: tempat nabi Ibrahim a.s. berdiri membangun Ka’bah.
[216] yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalananpun aman.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika turun surah Ali ‘Imran ayat 85, berkatalah kaum Yahudi: “Sebenarnya kami ini muslim.” Bersabdalah Nabi saw. kepada mereka: “Allah telah mewajibkan atas kaum Muslimin naik haji ke Baitullah.” Mereka berkata: “(ibadah haji) tidak diwajibkan kepada kami.” Mereka menolak menjalankan ibadah haji. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 97) yang menegaskan kewajiban haji bagi seorang Muslim, sedang yang menolak melaksanakannya adalah kafir.

Sumber: Al-Qur’an;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imran (3)

5 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

65. “Hai ahli kitab, Mengapa kamu bantah membantah[198] tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. apakah kamu tidak berpikir?”
(Ali ‘Imraan: 65)

[198] orang Yahudi dan Nasrani masing-masing menganggap Ibrahim a.s. itu dari golongannya. lalu Allah membantah mereka dengan alasan bahwa Ibrahim a.s. itu datang sebelum mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dengan sanad yang berulang-ulang, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Nasrani Najran dan paderi-paderi kaum Yahudi berkumpul, berselisih, dan bertengkar di hadapan Rasulullah saw.. Berkatalah paderi-paderi Yahudi: “Sesungguhnya Ibrahim itu Yahudi.” Kaum Nasrani berkata: “Ibrahim itu tidak lain adalah Nasrani.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 65) sebagai teguran berkenaan dengan hal yang dipertengkarkan itu.

71. “Hai ahli kitab, Mengapa kamu mencampur adukkan yang Haq dengan yang bathil[203], dan menyembunyikan kebenaran[204], padahal kamu mengetahuinya?”
(Ali ‘Imraan: 71)

[203] yaitu: menutupi firman-firman Allah yang termaktub dalam Taurat dan Injil dengan perkataan-perkataan yang dibuat-buat mereka (ahli Kitab) sendiri.
[204] Maksudnya: kebenaran tentang kenabian Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dan Injil.

72. “Segolongan (lain) dari ahli Kitab Berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).”
(Ali ‘Imraan: 72)

73. “Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu[205]. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”;
(Ali ‘Imraan: 73)

[205] Kepada orang-orang yang mengikuti agamamu Maksudnya: kepada orang yang seagama dengan kamu (Yahudi/Nasrani) agar mereka tak jadi masuk Islam atau kepada orang-orang Islam yang berasal dari agamamu agar goncang iman mereka dan kembali kepada kekafiran.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdullah bin ash-Shaif, ‘Adi bin Zaid, dan al-Harits bin ‘Auf mengadakan pembicaraan untuk beriman pada pagi hari dan kufur pada sore hari, kepada apa yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad dan diikuti shahabat-shahabatnya. Mereka berkata: “Dengan cara itu kita dapat mengaburkan agama mereka, sampai akhirnya merekapun mencontoh perbuatan kita dan keluar dari agama mereka.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 71-73), yang memperingatkan umat Islam agar jangan mengaburkan yang hak dengan yang batil.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari as-Suddi yang bersumber dari Abu Malik, bahwa pendeta-pendeta Yahudi melarang anak buahnya untuk percaya kepada orang yang tidak menuruti agamanya. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 73) yang menegaskan bahwa petunjuk Allah adalah petunjuk yang sebenarnya.

77. “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. bagi mereka azab yang pedih.”
(Ali ‘Imraan: 77)

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dan yang lainnya, yang bersumber dari al-Asy’ats bahwa al-Asy’ats mengadu kepada Rasulullah saw. karena tanah miliknya direbut oleh orang Yahudi. Nabi bersabda kepada al-Asy’ats: “Apakah engkau mempunyai bukti?” Al-Asy’ats menjawab: “Tidak.” Bersabdalah Nabi saw. kepada Yahudi: “Bersumpahlah engkau.” Al-Asy’ats berkata: “Kalau begitu, dia berani bersumpah, dan akan hilang hartaku.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 77) sebagai peringatan kepada orang yang mau bersumpah palsu.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Aufa bahwa ada seseorang yang berdagang di pasar. Ia menjual barang dagangannya, kemudian bersumpah atas nama Allah bahwa barangnya telah diserahkan, padahal ia belum memberikannya. Perbuatan itu dilakukannya kepada orang-orang Islam. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 77) sebagai peringatan kepada orang yang mau bersumpah palsu.

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar dalam syarah al-Bukhari, kedua hadits tersebut tidaklah bertentangan, bahkan bisa jadi turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) berkenaan dengan kedua peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) turun berkenaan dengan kaum Yahudi yang bernama Hayy bin Akhthab, Ka’b bin al-Asyraf, dan lain-lain, yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah di dalam Taurat dan menggantinya, kemudian bersumpah bahwa apa yang mereka kemukakan itu dari Allah.

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) mungkin diturunkan karena beberapa sebab. Akan tetapi yang sebaiknya diikuti, ialah apa yang tercantum di dalam kitab Shahih.

Sumber: Al-Qur’an;
asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imraan (2)

5 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

28. “Janganlah orang-orang mukmin mengambil orang-orang kafir menjadi wali[192] dengan meninggalkan orang-orang mukmin. barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali Karena (siasat) memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri (siksa)-Nya. dan Hanya kepada Allah kembali (mu).”
(Ali ‘Imraan: 28)

[192] Wali jamaknya auliyaa: berarti teman yang akrab, juga berarti pemimpin, pelindung atau penolong.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bresumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Al-Hajjaj bin ‘Amr yang mewakili Ka’b bin al-Asyraf, Ibnu Abil Haqiq, serta Qais bin Zaid (tokoh-tokoh Yahudi) telah memikat segolongan kaum Anshar untuk memalingkan mereka dari agamanya. Rifa’ah bin al-Mundzir, ‘Abdullah bin Jubair serta Sa’d bin Hatsamah memperingatkan orang-orang Anshar tersebut dengan berkata: “Hati-hatilah kalian dari pikatan mereka, dan janganlah terpaling dari agama kalian.” Mereka menolak peringatan tersebut. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 28) sebagai peringatan agar tidak mmenjadikan orang-orang kafir sebagai pelindung kaum Mukminin.

31. Katakanlah: “Jika kamu (benar-benar) mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mengasihi dan mengampuni dosa-dosamu.” Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Ali ‘Imraan: 31)

Diriwayatkan oleh Ibnul Mundzir yang bersumber dari al-Hasan. Bahwa ada suatu kaum di zaman Nabi saw. yang berkata: “Demi Allah, hai Muhammad, sesungguhnya kami benar-benar yakin cinta kepada Rabb kami.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 31) sebagi tuntunan bagaimana seharusnya mencintai Allah.

58. “Demikianlah (kisah ‘Isa), kami membacakannya kepada kamu sebagian dari bukti-bukti (kerasulannya) dan (membacakan) Al Quran yang penuh hikmah.”
(Ali ‘Imraan: 58)

59. “Sesungguhnya misal (penciptaan) Isa di sisi Allah, adalah seperti (penciptaan) Adam. Allah menciptakan Adam dari tanah, Kemudian Allah berfirman kepadanya: “Jadilah” (seorang manusia), Maka jadilah Dia.”
(Ali ‘Imraan: 59)

60. “(apa yang Telah kami ceritakan itu), Itulah yang benar, yang datang dari Tuhanmu, Karena itu janganlah kamu termasuk orang-orang yang ragu-ragu.”
(Ali ‘Imraan: 60)

61. “Siapa yang membantahmu tentang kisah Isa sesudah datang ilmu (yang meyakinkan kamu), Maka Katakanlah (kepadanya): “Marilah kita memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, isteri-isteri kami dan isteri-isteri kamu, diri kami dan diri kamu; Kemudian marilah kita bermubahalah kepada Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang dusta[197].”
(Ali ‘Imraan: 61)

[197] Mubahalah ialah masing-masing pihak diantara orang-orang yang berbeda pendapat mendoa kepada Allah dengan bersungguh-sungguh, agar Allah menjatuhkan la’nat kepada pihak yang berdusta. nabi mengajak utusan Nasrani Najran bermubahalah tetapi mereka tidak berani dan Ini menjadi bukti kebenaran nabi Muhammad s.a.w.

62. “Sesungguhnya Ini adalah kisah yang benar, dan tak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Allah; dan Sesungguhnya Allah, dialah yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(Ali ‘Imraan: 62)

Driiwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari al-Hasan, bahwa ada dua orang rahib (pastur) dari Najran menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Siapa bapak ‘Isa?” Rasulullah tidak cepat-cepat menjawab sebelum mendapat petunjuk Allah. Maka turunlah ayat tersebut (Ali ‘Imraan: 58-60) kepadanya yang menjelaskan tentang siapa ‘Isa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Al-‘Aufi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa segolongan kaum Nasrani Najran yang dipimpin langsung oleh kepala dan wakilnya, menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Mengapa tuan menyebut sahabat kami?” Nabi saw. menjawab: “Siapakah dia ?” Mereka berkat: “’Isa, yang tuan anggap sebagai hamba Allah.” Maka Nabi menjawab: “Benar.” Mereka berkata: “Apakah tuan tahu yang seperti ‘Isa, atau diberitahu tentang dia?” Kemudian mereka keluar dari Rasulullah saw.. Dan tiada lama kemudian datanglah Jibril menyampaikan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imran: 59-60) yang menegaskan adanya orang yang seperti ‘Isa.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il, dari Salamah bin Abi Yasyu’, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya. Bahwa sebelum turun surah an-Naml ayat 31, Rasulullah saw. menulis surat kepada orang Najran seperti berikut: “Dengan Nama Rabb Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub, dari Muhammad, Nabi Allah,” sampai akhir hadits. Selanjutnya dalam hadits itu dikemukakan bahwa kaum Najran mengutus Syurahbil bin Wada’ah al-Hamdani, ‘Abdullah bin Syuhrabil al-Ashbahi, dan Jabbar al-Haritsi untuk menghadap Rasulullah saw.. Kemudian terjadi dialog, akan tetapi masih tertunda satu masalah, yaitu pertanyaan mereka: “Bagaimana pendapat tuan tentang ‘Isa.” Nabi menjawab: “Belum ada isyarat padaku tentang itu. Tapi cobalah kalian bermalam sampai besok, agar aku dapat menerangkan hal itu.” Keesokan harinya turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 59-62) yang menegaskan siapa ‘Isa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam Kitab ath-Thabaqaat, yang bersumber dari al-Azraq bin Qais. Bahwa ketika Uskup Najran dan wakilnya menghadap Rasulullah saw., beliau menjelaskan kepada keduanya tentang Islam. Mereka berkata: “Kami telah lebih dahulu masuk Islam sebelum tuan.” Nabi saw. bersabda: “Kalian berdusta, karena ada tiga hal yang menghalangi kalian masuk Islam, yaitu 1. Kalian mengatakan bahwa Allah mempunyai anak. 2. Kalian memakan daging babi. 3. Kalian bersujud kepada patung.” Kedua orang itu bertanya: ”Kalau begitu siapakah bapak ‘Isa?” Pada waktu itu Rasulullah tidak mengetahui bagaimana harus menjawabnya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali-‘Imraan: 59-62) sebagai tuntunan kepada Rasulullah saw. untuk menjawabnya. Kemudian Rasulullah saw. mengajak mengadakan mulaa’anah*, akan tetapi mereka menolak dan memilih membayar jiyah (upeti), maka pulanglah mereka.

*Mulaa’anah artinya saling bersumpah untuk dilaknat oleh Allah swt, apabila ucapannya tidak benar.

Sumber: Al-Qur’an;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imran (1)

5 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

1. “ Alif laam miim.
2. Allah, tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia. yang hidup kekal lagi terus menerus mengurus makhluk-Nya[181].
3. Dia menurunkan Al Kitab (Al Quran) kepadamu dengan Sebenarnya; membenarkan Kitab yang Telah diturunkan sebelumnya dan menurunkan Taurat dan Injil,”
(Ali ‘Imraan: 1-3)

[181] Maksudnya: Allah mengatur langit dan bumi serta seisinya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ar-Rabi’ bahwa turunnya beberapa ayat dari surah Ali ‘Imran, antara ayat 1 sampai 80-an, sebagai penjelasan yang diberikan kepada Nabi saw. atas kedatangan kaum Nasrani yang mempersoalkan Nabi ‘Isa a.s.*

*kaum Nasrani menganggap Nabi ‘Isa a.s. lebih mulia daripada Nabi Muhammad saw. karenannya mereka tidak mempercayai Nabi Muhammad saw. sebagai rasul.

Keterangan: Menurut Ibnu Ishaq yang bersumber dari Muhammad bin Sahl bin Abi Umamah, yang datang menghadap Rasul saw. itu ialah kaum Nasrani Najran. Demikian juga menurut riwayat al-Baihaqi di dalam kitab ad-Dalaa-il.

12. Katakanlah kepada orang-orang yang kafir: “Kamu pasti akan dikalahkan (di dunia ini) dan akan digiring ke dalam neraka jahannam. dan Itulah tempat yang seburuk-buruknya”.
(Ali ‘Imraan: 12)

13. “Sesungguhnya Telah ada tanda bagi kamu pada dua golongan yang Telah bertemu (bertempur)[185]. segolongan berperang di jalan Allah dan (segolongan) yang lain kafir yang dengan mata kepala melihat (seakan-akan) orang-orang muslimin dua kali jumlah mereka. Allah menguatkan dengan bantuan-Nya siapa yang dikehendaki-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai mata hati.”
(Ali ‘Imraan: 13)

[185] pertemuan dua golongan itu – antara kaum muslimin dengan kaum musyrikin – terjadi dalam perang Badar. Badar nama suatu tempat yang terletak antara Mekah dengan Madinah dimana terdapat mata air.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam Sunan-nya, al-Baihaqi di dalam ad-Dalaa-il, dari Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika kaum Mukminin mengalahkan orang-orang Quraisy pada perang Badr, dan pulang ke Madinah, Rasulullah mengumpulkan orang-orang Yahudi di pasar Bani Qainuqa’ dan bersabda: “Wahai kaum Yahudi. Masuk Islam-lah kalian sebelum Allah menimpakan kepada kalian apa yang dialami kaum Quraisy.” Mereka menjawab: “Hai Muhammad, janganlah engkau tertipu oleh dirimu sendiri atas kemenangan terhadap golongan Quraisy yang bodoh dan tidak mengetahui strategi perang. Demi Allah, sekiranya engkau memerangi kami, engkau akan tahu bahwa kami ini jantan tiada taranya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 12-13) sebagai penegasan atas kemampuan umat Islam mengalahkan mereka atas pertolongan Allah swt.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa orang Yahudi yang bernama Fanhash berkata di waktu perang Badr: “Janganlah Muhammad tertipu oleh kemenangannya atas kaum Quraisy, karena kaum Quraisy memang tidak pandai berperang.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imran: 12-13) sebagai penegasan bahwa umat Islam akan mendapat kemenganan atas pertolongan Allah swt.

23. “Tidakkah kamu memperhatikan orang-orang yang Telah diberi bahagian yaitu Al Kitab (Taurat), mereka diseru kepada Kitab Allah supaya Kitab itu menetapkan hukum diantara mereka; Kemudian sebahagian dari mereka berpaling, dan mereka selalu membelakangi (kebenaran).”
(Ali ‘Imraan: 23)

24. “Hal itu adalah Karena mereka mengaku: “Kami tidak akan disentuh oleh api neraka kecuali beberapa hari yang dapat dihitung”. mereka diperdayakan dalam agama mereka oleh apa yang selalu mereka ada-adakan.”
(Ali ‘Imraan: 24)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Mundzir, dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa Rasulullah saw. datang ke tempat pendidikan Taurat kaum Yahudi untuk mengajak mereka kembali kepada Allah. Berkatalah Nu’aim bin ‘Amr dan al-Harits bin Zaid: “Engkau ini pemeluk agama apa, hai Muhammad?” Beliau menjawab: “Aku pengikut agama Ibrahim.” Mereka berkata: “Ibrahim adalah Yahudi.” Maka Rasulullah saw. menjawab lagi: “ Kalau begitu mari kita kembali ke Taurat, pemersatu kita.” Kedua orang itu menolak kembali ke Taurat. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 23-24) yang menegaskan bahwa mereka tidak akan mau diajak kembali ke Taurat, karena tertipu oleh pemimpin-pemimpin mereka.

26. Katakanlah: “Wahai Tuhan yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. di tangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Ali ‘Imraan: 26)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Qatadah bahwa Rasulullah saw. memohon kepada Allah swt. agar Raja Romawi dan Persia menjadi umatnya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 26) sebagai tuntunan dalam berdoa mengenai hal itu.

Sumber: Al-Qur’an
Asbabun nuzul KHQ Shaleh dkk