Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imraan (4)

5 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

79. “Tidak wajar bagi seseorang manusia yang Allah berikan kepadanya Al kitab, hikmah dan kenabian, lalu dia Berkata kepada manusia: “Hendaklah kamu menjadi penyembah-penyembahku bukan penyembah Allah.” akan tetapi (Dia berkata): “Hendaklah kamu menjadi orang-orang rabbani[208], Karena kamu selalu mengajarkan Al Kitab dan disebabkan kamu tetap mempelajarinya.”
(Ali ‘Imraan: 79)

[208] Rabbani ialah orang yang Sempurna ilmu dan takwanya kepada Allah s.w.t.

80. “Dan (Tidak wajar pula baginya) menyuruhmu menjadikan malaikat dan para nabi sebagai Tuhan. apakah (patut) dia menyuruhmu berbuat kekafiran di waktu kamu sudah (menganut agama) Islam?”

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan al-Baihaqi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika pendeta-pendeta kaum Yahudi dan kaum Nasrani Najran berkumpul di hadapan Rasulullah saw. dan diajak masuk Islam, berkatalah Abu Rafi’ al-Qurazhi: “Apakah tuan menginginkan agar kami menyembah tuan seperti Nasrani menyembah ‘Isa?” Rasulullah menjawab: “Ma’aadzallaah (aku berlindung kepada Allah dari hal itu).” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 79-80) sebagai sanggahan bahwa tiada seorang nabi pun yang mengajak umatnya untuk menyembah dirinya sendiri.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam Tafsir-nya, yang bersumber dari al-Hasan bahwa seorang laki-laki menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulallah, apakah mengucapkan salam kepada tuan itu sebagaimana memberi salam kepada teman kami? Apakah tidak perlu sujud kepada tuan?” Nabi menjawab: “Jangan, cukup kamu menghormati Nabi-mu, dan beritahukan yang hak kepada yang layak engkau beritahu, karena sesungguhnya tidak dibenarkan seseorang bersujud kepada selain Allah.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 79-80) sebagai penegasan atas ucapan Rasulullah.

85. “ Barangsiapa mencari agama selain agama islam, Maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”
(Ali ‘Imraan: 85)

86. “Bagaimana Allah akan menunjuki suatu kaum yang kafir sesudah mereka beriman, serta mereka Telah mengakui bahwa Rasul itu (Muhammad) benar-benar rasul, dan keterangan-keteranganpun Telah datang kepada mereka? Allah tidak menunjuki orang-orang yang zalim.”
(Ali ‘Imraan: 86)

87. “Mereka itu, balasannya ialah: bahwasanya la’nat Allah ditimpakan kepada mereka, (demikian pula) la’nat para malaikat dan manusia seluruhnya,”
(Ali ‘Imraan: 87)

88. “Mereka kekal di dalamnya, tidak diringankan siksa dari mereka, dan tidak (pula) mereka diberi tangguh,”
(Ali ‘Imraan: 88)

89. “Kecuali orang-orang yang taubat, sesudah (kafir) itu dan mengadakan perbaikan[211]. Karena Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(Ali ‘Imraan: 89)

[211] Mengadakan perbaikan berarti berbuat pekerjaan-pekerjaan yang baik untuk menghilangkan akibat-akibat yang jelek dan kesalahan-kesalahan yang dilakukan.

Diriwayatkan oleh an-Nasaa-i, Ibnu Hiban, dan al Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa seorang laki-laki dari kaum Anshar murtad dari Islam. Ia menyesal atas kemurtadannya. Ia minta pada kaumnya agar mengutus seseorang menghadap Rasulullah saw. untuk menanyakan apakah tobatnya diteriman. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 85-89), disampaikan utusan itu kepadanya, sehingga iapun kembali memeluk Islam.

Diriwayatkan oleh Musaddad di dalam Musnad-nya dan ‘Abdurrazzaq, yang bersumber dari Mujahid bahwa al-Harits bin Suwaid menghadap Nabi saw. dan masuk Islam. Kemudian pulang kepada kaumnya dan kufur lagi. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 85-89). Ayat itu dibacakan kepadanya oleh salah seorang kaumnya. Maka al-Harits berkata: “Sesungguhnya engkau benar, dan Rasulullah lebih benar daripada engkau, dan sesungguhnya Allah Yang Paling Benar di antara ketiganya.” Kemudian ia kembali masuk Islam dan menjadi seorang Muslim yang patuh.

97. “Padanya terdapat tanda-tanda yang nyata, (di antaranya) maqam Ibrahim[215]; barangsiapa memasukinya (Baitullah itu) menjadi amanlah Dia; mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, yaitu (bagi) orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah[216]. barangsiapa mengingkari (kewajiban haji), Maka Sesungguhnya Allah Maha Kaya (Tidak memerlukan sesuatu) dari semesta alam.”
(Ali ‘Imraan: 97)

[215] ialah: tempat nabi Ibrahim a.s. berdiri membangun Ka’bah.
[216] yaitu: orang yang sanggup mendapatkan perbekalan dan alat-alat pengangkutan serta sehat jasmani dan perjalananpun aman.

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ketika turun surah Ali ‘Imran ayat 85, berkatalah kaum Yahudi: “Sebenarnya kami ini muslim.” Bersabdalah Nabi saw. kepada mereka: “Allah telah mewajibkan atas kaum Muslimin naik haji ke Baitullah.” Mereka berkata: “(ibadah haji) tidak diwajibkan kepada kami.” Mereka menolak menjalankan ibadah haji. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 97) yang menegaskan kewajiban haji bagi seorang Muslim, sedang yang menolak melaksanakannya adalah kafir.

Sumber: Al-Qur’an;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: