Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imran (3)

5 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

65. “Hai ahli kitab, Mengapa kamu bantah membantah[198] tentang hal Ibrahim, padahal Taurat dan Injil tidak diturunkan melainkan sesudah Ibrahim. apakah kamu tidak berpikir?”
(Ali ‘Imraan: 65)

[198] orang Yahudi dan Nasrani masing-masing menganggap Ibrahim a.s. itu dari golongannya. lalu Allah membantah mereka dengan alasan bahwa Ibrahim a.s. itu datang sebelum mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dengan sanad yang berulang-ulang, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kaum Nasrani Najran dan paderi-paderi kaum Yahudi berkumpul, berselisih, dan bertengkar di hadapan Rasulullah saw.. Berkatalah paderi-paderi Yahudi: “Sesungguhnya Ibrahim itu Yahudi.” Kaum Nasrani berkata: “Ibrahim itu tidak lain adalah Nasrani.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 65) sebagai teguran berkenaan dengan hal yang dipertengkarkan itu.

71. “Hai ahli kitab, Mengapa kamu mencampur adukkan yang Haq dengan yang bathil[203], dan menyembunyikan kebenaran[204], padahal kamu mengetahuinya?”
(Ali ‘Imraan: 71)

[203] yaitu: menutupi firman-firman Allah yang termaktub dalam Taurat dan Injil dengan perkataan-perkataan yang dibuat-buat mereka (ahli Kitab) sendiri.
[204] Maksudnya: kebenaran tentang kenabian Muhammad s.a.w. yang tersebut dalam Taurat dan Injil.

72. “Segolongan (lain) dari ahli Kitab Berkata (kepada sesamanya): “Perlihatkanlah (seolah-olah) kamu beriman kepada apa yang diturunkan kepada orang-orang beriman (sahabat-sahabat rasul) pada permulaan siang dan ingkarilah ia pada akhirnya, supaya mereka (orang-orang mukmin) kembali (kepada kekafiran).”
(Ali ‘Imraan: 72)

73. “Dan janganlah kamu percaya melainkan kepada orang yang mengikuti agamamu[205]. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk (yang harus diikuti) ialah petunjuk Allah, dan (janganlah kamu percaya) bahwa akan diberikan kepada seseorang seperti apa yang diberikan kepadamu, dan (jangan pula kamu percaya) bahwa mereka akan mengalahkan hujjahmu di sisi Tuhanmu”. Katakanlah: “Sesungguhnya karunia itu di tangan Allah, Allah memberikan karunia-Nya kepada siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha luas karunia-Nya) lagi Maha Mengetahui”;
(Ali ‘Imraan: 73)

[205] Kepada orang-orang yang mengikuti agamamu Maksudnya: kepada orang yang seagama dengan kamu (Yahudi/Nasrani) agar mereka tak jadi masuk Islam atau kepada orang-orang Islam yang berasal dari agamamu agar goncang iman mereka dan kembali kepada kekafiran.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ‘Abdullah bin ash-Shaif, ‘Adi bin Zaid, dan al-Harits bin ‘Auf mengadakan pembicaraan untuk beriman pada pagi hari dan kufur pada sore hari, kepada apa yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad dan diikuti shahabat-shahabatnya. Mereka berkata: “Dengan cara itu kita dapat mengaburkan agama mereka, sampai akhirnya merekapun mencontoh perbuatan kita dan keluar dari agama mereka.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 71-73), yang memperingatkan umat Islam agar jangan mengaburkan yang hak dengan yang batil.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari as-Suddi yang bersumber dari Abu Malik, bahwa pendeta-pendeta Yahudi melarang anak buahnya untuk percaya kepada orang yang tidak menuruti agamanya. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 73) yang menegaskan bahwa petunjuk Allah adalah petunjuk yang sebenarnya.

77. “Sesungguhnya orang-orang yang menukar janji (nya dengan) Allah dan sumpah-sumpah mereka dengan harga yang sedikit, mereka itu tidak mendapat bahagian (pahala) di akhirat, dan Allah tidak akan berkata-kata dengan mereka dan tidak akan melihat kepada mereka pada hari kiamat dan tidak (pula) akan mensucikan mereka. bagi mereka azab yang pedih.”
(Ali ‘Imraan: 77)

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dan yang lainnya, yang bersumber dari al-Asy’ats bahwa al-Asy’ats mengadu kepada Rasulullah saw. karena tanah miliknya direbut oleh orang Yahudi. Nabi bersabda kepada al-Asy’ats: “Apakah engkau mempunyai bukti?” Al-Asy’ats menjawab: “Tidak.” Bersabdalah Nabi saw. kepada Yahudi: “Bersumpahlah engkau.” Al-Asy’ats berkata: “Kalau begitu, dia berani bersumpah, dan akan hilang hartaku.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 77) sebagai peringatan kepada orang yang mau bersumpah palsu.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari ‘Abdullah bin Abi Aufa bahwa ada seseorang yang berdagang di pasar. Ia menjual barang dagangannya, kemudian bersumpah atas nama Allah bahwa barangnya telah diserahkan, padahal ia belum memberikannya. Perbuatan itu dilakukannya kepada orang-orang Islam. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 77) sebagai peringatan kepada orang yang mau bersumpah palsu.

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar dalam syarah al-Bukhari, kedua hadits tersebut tidaklah bertentangan, bahkan bisa jadi turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) berkenaan dengan kedua peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah bahwa ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) turun berkenaan dengan kaum Yahudi yang bernama Hayy bin Akhthab, Ka’b bin al-Asyraf, dan lain-lain, yang menyembunyikan apa yang diturunkan Allah di dalam Taurat dan menggantinya, kemudian bersumpah bahwa apa yang mereka kemukakan itu dari Allah.

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, ayat ini (Ali ‘Imraan: 77) mungkin diturunkan karena beberapa sebab. Akan tetapi yang sebaiknya diikuti, ialah apa yang tercantum di dalam kitab Shahih.

Sumber: Al-Qur’an;
asbabun nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: