Arsip | 00.09

Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imran (7)

6 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

130. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda[228]] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
(Ali ‘Imraan: 130)

[228] yang dimaksud riba di sini ialah riba nasi’ah. menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi’ah itu selamanya Haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang dimaksud dalam ayat Ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.

Diriwayatkan oleh al-Faryabi yang bersumber dari Mujahid, bahwa ada orang-orang yang berjual beli dengan kredit (dengan bayaran berjangka waktu). Apabila telah tiba waktu pembayaran, tetapi tidak membayar, bertambahlah bunganya, dan bertambah pula jangka waktu pembayarannya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 130) sebagai larangan atas perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh al-Faryabi yang bersumber dari ‘Atha’. Bahwa di zaman jahiliyah, Tsaqif berhutang kepada bani Nadlir. Ketika tiba waktu membayara, Tsaqif berkata: “Kami bayar bunganya dan undurkan waktu pembayarannya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 130) sebagai larangan atas perbuatan seperti itu.

161. “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”
(Ali ‘Imraan: 161)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Menurut at-Tirmidzi, hadits ini hasan. Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 161) berkenaan dengan hilangnya sehelai permadani merah (ghanimah yang belum dibagikan) di waktu Perang Badr. Berkatalah beberapa orang yang ada: “Barangkali Rasulullah yang mengambilnya.” Ayat ini (Ali ‘Imraan: 161) turun sebagai bantahan terhadap tuduhan tersebut.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Kabiir dengan sanad yang kuat, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. berkali-kali mengutus pasukan ke medan jihad. Pada suatu waktu, ada pasukan yang kembali, dan di antaranya ada yang membawa ghuluul (mengambil bagian ghanimah sebelum dibagikan menurut haknya) berupa kepala uncal dari emas. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 161) sebagai larangan mengambil rampasan perang sebelum dibagikan oleh amir (pemimpin).

165. “Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: ‘Darimana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Ali ‘Imraan: 165)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Umar bin al-Kaththab bahwa ‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Menderitanya orang-orang dalam perang Uhud akibat perbuatan mereka mengambil fida’ (tebusan atas tawanan perang) dalam perang Badr. Pada waktu perang Uhud itu ada tujuh puluh shahabat yang mati syahid, sebagian lari pontang-panting, terdesak, bercerai-berai, bahkan gigi Rasulullah yang keempat patah, topi besinya pecah hingga berlumuran darah di mukanya.” Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 165) sebagai peringatan bahwa penderitaan tersebut akibat perbuatan mereka sendiri.

169. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
(Ali ‘Imraan: 169)

[248] yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Jabir. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah menjadikan arwah saudara-saudaramu yang gugur di perang Uhud sebagai burung-burung hijau yang mengunjungi sungai di syurga dan memakan buah-buahannya, sampai menghampiri lampu emas di bawah naungan Arsy. Ketika mereka mendapatkan makanan yang enak, minuman yang lezat, dan tempat tidur yang empuk, mereka berkata: “Alangkah baiknya jika teman-teman kita mengetahui apa yang Allah jadikan untuk kita, sehingga mereka tidak segan berjihad dan tidak mundur dari peperangan.” Allah berfirman kepada mereka: “Aku akan sampaikan hal kalian kepada mereka.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 169) yang menceritakan keadaan para syuhada.

Sumber: Al-Qur’anul Karim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imran (6)

6 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

118. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu ambil menjadi teman kepercayaanmu orang-orang yang, di luar kalanganmu (karena) mereka tidak henti-hentinya (menimbulkan) kemudharatan bagimu. mereka menyukai apa yang menyusahkan kamu. Telah nyata kebencian dari mulut mereka, dan apa yang disembunyikan oleh hati mereka adalah lebih besar lagi. sungguh Telah kami terangkan kepadamu ayat-ayat (Kami), jika kamu memahaminya.”
(Ali ‘Imraan: 118)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Ishaq, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa sebagian kaum Muslimin ada yang mengadakah hubungan dengan segolongan kaum Yahudi, karena di zaman jahiliyah pernah menjadi tetangga dan bersekutu dalam peperangan. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imran: 118) yang melarang mereka mengadakan hubungan yang intim, untuk menghindari fitnah.

121. “Dan (ingatlah), ketika kamu berangkat pada pagi hari dari (rumah) keluargamu akan menempatkan para mukmin pada beberapa tempat untuk berperang[222]. dan Allah Maha mendengar lagi Maha mengetahui,”
(Ali ‘Imraan: 121)

[222] peristiwa Ini terjadi pada perang Uhud yang menurut ahli sejarah terjadi pada tahun ke 3 H.

122. “Ketika dua golongan dari padamu[223] ingin (mundur) Karena takut, padahal Allah adalah penolong bagi kedua golongan itu. Karena itu hendaklah kepada Allah saja orang-orang mukmin bertawakkal.”
(Ali ‘Imraan: 122)

[223] Yakni: Banu Salamah dari suku Khazraj dan Banu Haritsah dari suku Aus, keduanya dari barisan kaum muslimin.

124. “(ingatlah), ketika kamu mengatakan kepada orang mukmin: “Apakah tidak cukup bagi kamu Allah membantu kamu dengan tiga ribu malaikat yang diturunkan (dari langit)?”
(Ali ‘Imraan: 124)

125. “Ya (cukup), jika kamu bersabar dan bersiap-siaga, dan mereka datang menyerang kamu dengan seketika itu juga, niscaya Allah menolong kamu dengan lima ribu malaikat yang memakai tanda.”
(Ali ‘Imraan: 125)

128. “Tak ada sedikitpun campur tanganmu dalam urusan mereka itu[227] atau Allah menerima Taubat mereka, atau mengazab mereka Karena Sesungguhnya mereka itu orang-orang yang zalim.”
(Ali ‘Imraan: 128)

[227] menurut riwayat Bukhari mengenai Turunnya ayat ini, Karena nabi Muhammad s.a.w. berdoa kepada Allah agar menyelamatkan sebagian pemuka-pemuka musyrikin dan membinasakan sebagian lainnya.

140. “Jika kamu (pada perang Uhud) mendapat luka, Maka Sesungguhnya kaum (kafir) itupun (pada perang Badar) mendapat luka yang serupa. dan masa (kejayaan dan kehancuran) itu kami pergilirkan diantara manusia (agar mereka mendapat pelajaran); dan supaya Allah membedakan orang-orang yang beriman (dengan orang-orang kafir) supaya sebagian kamu dijadikan-Nya (gugur sebagai) syuhada'[231]. dan Allah tidak menyukai orang-orang yang zalim,”
(Ali ‘Imraan: 140)

[231] Syuhada’ di sini ialah orang-orang Islam yang gugur di dalam peperangan untuk menegakkan agama Allah. sebagian ahli tafsir ada yang mengartikannya dengan menjadi saksi atas manusia sebagai tersebut dalam ayat 143 surat Al Baqarah.

143. “Sesungguhnya kamu mengharapkan mati (syahid) sebelum kamu menghadapinya; (sekarang) sungguh kamu Telah melihatnya dan kamu menyaksikannya[233].”
(Ali ‘Imraan: 143)

[233] Maksudnya: sebelum perang Uhud banyak para sahabat terutama yang tidak turut perang Badar menganjurkan agar nabi Muhammad s.a.w. keluar dari kota Madinah memerangi orang-orang kafir.

144. “Muhammad itu tidak lain hanyalah seorang rasul, sungguh Telah berlalu sebelumnya beberapa orang rasul[234]. apakah jika dia wafat atau dibunuh kamu berbalik ke belakang (murtad)? barangsiapa yang berbalik ke belakang, Maka ia tidak dapat mendatangkan mudharat kepada Allah sedikitpun, dan Allah akan memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur.”
(Ali ‘Imraan: 144)

[234] Maksudnya: nabi Muhammad s.a.w. ialah seorang manusia yang diangkat Allah menjadi rasul. rasul-rasul sebelumnya Telah wafat. ada yang wafat Karena terbunuh ada pula yang Karena sakit biasa. Karena itu nabi Muhammad s.a.w. juga akan wafat seperti halnya rasul-rasul yang terdahulu itu. di waktu berkecamuknya perang Uhud tersiarlah berita bahwa nabi Muhammad s.a.w. mati terbunuh. berita Ini mengacaukan kaum muslimin, sehingga ada yang bermaksud meminta perlindungan kepada abu Sufyan (pemimpin kaum Quraisy). sementara itu orang-orang munafik mengatakan bahwa kalau nabi Muhammad itu seorang nabi tentulah dia tidak akan mati terbunuh. Maka Allah menurunkan ayat Ini untuk menenteramkan hati kaum muslimin dan membantah kata-kata orang-orang munafik itu. (Sahih Bukhari bab Jihad). abu bakar r.a. mengemukakan ayat Ini di mana terjadi pula kegelisahan di kalangan para sahabat di hari wafatnya nabi Muhammad s.a.w. untuk menenteramkan Umar Ibnul Khaththab r.a. dan sahabat-sahabat yang tidak percaya tentang kewafatan nabi itu. (Sahih Bukhari bab ketakwaan Sahabat).

154. “Kemudian setelah kamu berdukacita, Allah menurunkan kepada kamu keamanan (berupa) kantuk yang meliputi segolongan dari pada kamu[241], sedang segolongan lagi[242] Telah dicemaskan oleh diri mereka sendiri, mereka menyangka yang tidak benar terhadap Allah seperti sangkaan jahiliyah[243]. mereka berkata: “Apakah ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini?”. Katakanlah: “Sesungguhnya urusan itu seluruhnya di tangan Allah”. mereka menyembunyikan dalam hati mereka apa yang tidak mereka terangkan kepadamu; mereka berkata: “Sekiranya ada bagi kita barang sesuatu (hak campur tangan) dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan dibunuh (dikalahkan) di sini”. Katakanlah: “Sekiranya kamu berada di rumahmu, niscaya orang-orang yang Telah ditakdirkan akan mati terbunuh itu keluar (juga) ke tempat mereka terbunuh”. dan Allah (berbuat demikian) untuk menguji apa yang ada dalam dadamu dan untuk membersihkan apa yang ada dalam hatimu. Allah Maha mengetahui isi hati.”
(Ali ‘Imraan: 154)

[241] yaitu: orang-orang Islam yang Kuat keyakinannya.
[242] yaitu: orang-orang Islam yang masih ragu-ragu.
[243] ialah: sangkaan bahwa kalau Muhammad s.a.w. itu benar-benar nabi dan Rasul Allah, tentu dia tidak akan dapat dikalahkan dalam peperangan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abu Ya’la, yang bersumber dari al-Miswar bin Mikhramah, bahwa al-Miswar bin Mikhramah berkata kepada ‘Abdurrahman bin ‘Auf: “Coba ceritakan kepadaku kisah peperangan Uhud.” Ia menjawab: “Bacalah surah Ali ‘Imraan setelah ayat 120, di sana akan saudara dapatkan kisah kami.” Selanjutnya Abdurrahman menjelaskan yang dimaksud denga,…thaa-ifataan….(…dua golonga…) dalam surah Ali ‘Imran ayat 122 itu ialah mereka yang segan menghadapi musuh, bahkan ingin mengadakan gencatan senjata dengan kaum musyrikin. Selanjutnya ia menjelaskan bahwa surah Ali ‘Imran ayat 143 menerangkan peringatan Allah kepada kaum Mukminin yang ingin bertemu dengan musuh, yang pada waktu itu sudah dihadapinya. Sedangkan surah Ali ‘Imran ayat 144 menerangkan bahwa Allah menentramkan kaum Mukminin, ketika tersiar berita yang bersumber dari teriakan setan bahwa Rasulullah telah terbunuh. ‘Abdurrahman bin Auf selanjutnya menjelaskan bahwa penggalan….amanatan nu’aasaa…(…keamanan [berupa] kantuk…) dalam surah Ali ‘Imran ayat 154 merupakan pertolongan Allah kepada kaum Mukminin dengan menjadikan mereka mengantuk dan tertidur.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari Jabir bin ‘Abdillah bahwa yang dimaksud dengan ….thaa-ifataani mingkum…(…dua golongan daripadamu…) dalam surah Ali ‘Imran ayat 122 adalah bani Salamah dan bani Haritsah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Syaibah di dalam kitab al-Mushannaf dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari asy-Syu’bi bahwa pada perang Badr kaum Muslimin mendengar kabar bahwa Karz bin Jabir al-Muharibi memberikan bantuan kepada kaum musyrikin, sehingga membimbangkan mereka. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imran: 124-125) sebagai penjelasan bahwa Allah memberikan bantuan berupa para malaikat. Ketika Karz mendengar berita kekalahan kaum musyrikin, ia membatalkan bantuannya. Demikian pula Allah membatalkan bantuan dengan lima ribu malaikat.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan Muslim yang bersumber dari Anas bahwa pada perang Uhud gigi Nabi saw. yang keempat patah dan berlumuran darah karena luka di mukanya. Beliau bersabda: “Bagaimana bisa bahagia suatu kaum yang berbuat demikian kepada Nabinya, yang mengajak mereka kepada Rabb-nya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imran: 128).

Diriwayatkan oleh Ahmad dan al-Bukhari, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar. Diriwayatkan pula oleh al-Bukhari yang bersumber dari Abu Hurairah. Bahwa Ibnu ‘Umar mendengar Rasulullah saw. berdoa: “Ya Allah, semoga Engkau melaknat si fulan; ya Allah semoga Engkau melaknat al-Harits bin Hisyam; ya Allah, semoga Engkau melaknat Suhail bin ‘Amr; ya Allah, semoga Engkau melaknat Shafwan bin Umayyah.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 128) sebagai teguran kepada Rasulullah saw. atas doanya itu. Kemudian mereka semua dimaafkan.

Keterangan:
Menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, berdasarkan kedua hadits tersebut, atas dasar thariiqatul jam’i (jalan tengah) dapat disimpulkan bahwa:
1. Nabi saw. mendoakan kecelakaan di dalam shalatnya bagi orang-orang itu setelah peristiwa yang disebut dalam Hadits pertama dalam perang Uhud.
2. Turunnya ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 128) berkenaan dengan peristiwa yang disebut dalam hadits pertama dan yang timbul akibat peristiwa itu (yang disebut dalam hadits kedua).
Akan tetapi setelah meneliti hadits yang diriwayatkan oleh Muslim yang bersumber dari Abu Hurairah, timbullah kesulitan dalam menetapkan sebab turunnya ayat tersebut di atas. Hadits itu mengemukakan, pada suatu waktu Rasulullah saw. berdoa setiap kali shalat shubuh: “Ya Allah, semoga Engkau melaknat kaum Ri’i, Dzakwan, dan ‘Ushayyah”, sampai Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 128).
Adapun kesulitan dalam menetapkan sebab turunnya ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 128) ialah, dua hadits pertama mengemukakan ayat itu (Ali ‘Imraan: 128) turun pada peristiwa perang Uhud. Sedang peristiwa Ri’i dan Dzakwan yang disebut dalam hadits Muslim terjadi sesudahnya.
Selanjutnya Ibnu Hajar mengemukakan bahwa hadits riwayat Muslim ini ma’luul (hadits yang ada cacatnya yang tersembunyi setelah diperiksa dengan teliti), dan dalam pemberitahuannya mudraj (hadits yang diberi sisipan, baik pada matan maupun sanadnya).
Dan kata-kata, “sampai Allah menurunkan ayat” adalah munqathi’, karena dalam hadits Muslim tersebut, rawi yang menyampaikan dari az-Zuhri kepada Muslim, ada yang tidak disebut namanya. Riwayat seperti ini tidak sah. Akan tetapi dapat saja terjadi ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 128) lambat turunnya, sehingga mencakup keseluruhan peristiwa yang disebut dalam ketiga hadits di atas.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari di dalam Tarikh-nya dan Ibnu Ishaq, yang bersumber dari Salim bin ‘Abdillah bin ‘Umar. Hadits ini gharib. Bahwa seorang laki-laki Quraisy datang kepada Nabi saw., dan dengan sinis berkata: “Engkau melarang mencaci-maki?” sambil membalik dan menungging hingga terlihat kemaluannya. Nabi saw. mengutuk dan mendoakan buruk kepadanya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 128) yang menegaskan bahwa orang itu zalim. Beberapa lama kemudian orang itu masuk Islam, dan menjadi shaleh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Ikrimah, bahwa ketika terlambat berita dari medan jihad, wanita-wanita berusaha mencari berita. Tiba-tiba datanlah dua orang laki-laki naik unta. Seorang wanita bertanya kepadanya tentang keadaan Rasulullah. Laki-laki itu menjawab: “Beliau dalam keadaan sehat wal afiat.” Si wanita berkata: “Kami tidak berduka cita kalau Allah menjadi hamba-hamba-Nya sebagai syuhada.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 140) berkenaan dengan wanita tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari al-‘Aufi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa beberapa orang shahabat berkata: “Alangkah baiknya kalau kita mati syahid seperti orang-orang yang berjuang di perang Badr, atau mendapat kesempatan seperti pada perang Badr mengalahkan kaum musyrikin, tabah dalam ujian, mati syahid dengan memperoleh surga, atau hidup mendapat rizky.” Maka Allah memberikan kesempatan kepada mereka untuk mengikuti perang Uhud. Tetapi ternyata mereka tidak tabah dan bertahan dalam peperangan itu, kecuali sebagian kecil di antara mereka yang dikehendaki Allah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 143) sebagai peringatan atas ucapan mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnul Mudzir yang bersumber dari ‘Umar. Bahwa ketika para shahabat terpisah dari Rasulullah saw. pada perang Uhud, ‘Umar naik gunung dan mendengar Yahudi berteriak: “Muhammad telah terbunuh!” ‘Umar berkata: “Tidak akan kubiarkan orang mengatakan Muhammad telah terbunuh. Pasti akan aku penggal lehernya.” Dan pada saat itu ‘Umar melihat Rasulullah saw. dan orang-orang kembali ke posnya masing-masing. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 144) yang menegaskan bahwa kematian seorang nabi adalah hal yang biasa.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ar-Rabi’ bahwa ketika kaum Mukminin mendapat musibah dalam perang Uhud dengan luka-luka parah, ada yang menyebut-nyebut bahwa Nabiyullah telah terbunuh. Yang lain berkata: “Kalau dia benar-benar seorang nabi, tentu tidak akan terbunuh.” Berkatalah yang lainnya: “Berperanglah mengikuti jejak Rasulullah sehingga dapat kemenangan atau mati syahid besertanya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 144) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Baihaqi di dalam Kitab ad-Dalaa-il, yang bersumber dari Abu Najih bahwa salah seorang Muhajirin berpapasan dengan seorang Anshar yang berlumuran darah, dan berkata: “Apakah engkau tahu bahwa Muhammad telah terbunuh?” Ia menjawab: “Jikalau Muhammad terbunuh, ia telah menunaikan tugas dengan sebaik-baiknya. Berjuanglah kamu untuk membela agamamu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 144) yang menegaskan bahwa kematian seorang pemimpin tidaklah berarti pengikutnya boleh meninggalkan perjuangan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Rahawaih di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari az-Zuhri, bahwa pada waktu perang Uhud setan berteriak: “Muhammad telah terbunuh.” Ka’b bin Malik menyatakan bahwa dialah yang paling dahulu mengenal Rasulullah dari balik topi besinya. Iapun berteriak sekuat tenaga: “Ini dia Rasulullah!!” maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 144) yang menegaskan bahwa Nabi Muhammad saw. sama halnya dengan nabi-nabi sebelumnya yang mungkin saja terbunuh.

Diriwayatkan oleh Ibnu Rahawaih yang bersumber dari Zubair. Bahwa Zubair berkata: “Aku yakin benar bahwa pada hari perang Uhud kami merasakan ketakutan yang luar biasa. Kemudian Allah mengirimkan rasa kantuk, sehingga kami semua terlelap (kepala terkulai di dada). Demi Allah, aku mendengar, seakan-akan dalam mimpi, ucapan Mu’tib bin Qusyair: “Sekiranya kita punya hak campur tangan dalam urusan ini, niscaya kita tidak akan terkalahkan di tempat ini.” Aku hafalkan kata-kata itu. Kemudian Allah menurunkan ayat tentang kejadian tersebut (Ali ‘Imraan: 154).
Sumber: Al-Qur’anul Karim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;