Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imran (7)

6 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

130. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda[228]] dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
(Ali ‘Imraan: 130)

[228] yang dimaksud riba di sini ialah riba nasi’ah. menurut sebagian besar ulama bahwa riba nasi’ah itu selamanya Haram, walaupun tidak berlipat ganda. Riba itu ada dua macam: nasiah dan fadhl. riba nasiah ialah pembayaran lebih yang disyaratkan oleh orang yang meminjamkan. riba fadhl ialah penukaran suatu barang dengan barang yang sejenis, tetapi lebih banyak jumlahnya Karena orang yang menukarkan mensyaratkan demikian, seperti penukaran emas dengan emas, padi dengan padi, dan sebagainya. riba yang dimaksud dalam ayat Ini riba nasiah yang berlipat ganda yang umum terjadi dalam masyarakat Arab zaman Jahiliyah.

Diriwayatkan oleh al-Faryabi yang bersumber dari Mujahid, bahwa ada orang-orang yang berjual beli dengan kredit (dengan bayaran berjangka waktu). Apabila telah tiba waktu pembayaran, tetapi tidak membayar, bertambahlah bunganya, dan bertambah pula jangka waktu pembayarannya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 130) sebagai larangan atas perbuatan seperti itu.

Diriwayatkan oleh al-Faryabi yang bersumber dari ‘Atha’. Bahwa di zaman jahiliyah, Tsaqif berhutang kepada bani Nadlir. Ketika tiba waktu membayara, Tsaqif berkata: “Kami bayar bunganya dan undurkan waktu pembayarannya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 130) sebagai larangan atas perbuatan seperti itu.

161. “Tidak mungkin seorang nabi berkhianat dalam urusan harta rampasan perang. barangsiapa yang berkhianat dalam urusan rampasan perang itu, Maka pada hari kiamat ia akan datang membawa apa yang dikhianatkannya itu, Kemudian tiap-tiap diri akan diberi pembalasan tentang apa yang ia kerjakan dengan (pembalasan) setimpal, sedang mereka tidak dianiaya.”
(Ali ‘Imraan: 161)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Menurut at-Tirmidzi, hadits ini hasan. Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 161) berkenaan dengan hilangnya sehelai permadani merah (ghanimah yang belum dibagikan) di waktu Perang Badr. Berkatalah beberapa orang yang ada: “Barangkali Rasulullah yang mengambilnya.” Ayat ini (Ali ‘Imraan: 161) turun sebagai bantahan terhadap tuduhan tersebut.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani di dalam kitab al-Kabiir dengan sanad yang kuat, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. berkali-kali mengutus pasukan ke medan jihad. Pada suatu waktu, ada pasukan yang kembali, dan di antaranya ada yang membawa ghuluul (mengambil bagian ghanimah sebelum dibagikan menurut haknya) berupa kepala uncal dari emas. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 161) sebagai larangan mengambil rampasan perang sebelum dibagikan oleh amir (pemimpin).

165. “Dan Mengapa ketika kamu ditimpa musibah (pada peperangan Uhud), padahal kamu Telah menimpakan kekalahan dua kali lipat kepada musuh-musuhmu (pada peperangan Badar), kamu berkata: ‘Darimana datangnya (kekalahan) ini?’ Katakanlah: ‘Itu dari (kesalahan) dirimu sendiri’. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Ali ‘Imraan: 165)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari ‘Umar bin al-Kaththab bahwa ‘Umar bin al-Khaththab berkata: “Menderitanya orang-orang dalam perang Uhud akibat perbuatan mereka mengambil fida’ (tebusan atas tawanan perang) dalam perang Badr. Pada waktu perang Uhud itu ada tujuh puluh shahabat yang mati syahid, sebagian lari pontang-panting, terdesak, bercerai-berai, bahkan gigi Rasulullah yang keempat patah, topi besinya pecah hingga berlumuran darah di mukanya.” Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 165) sebagai peringatan bahwa penderitaan tersebut akibat perbuatan mereka sendiri.

169. “Janganlah kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; bahkan mereka itu hidup[248] disisi Tuhannya dengan mendapat rezki.”
(Ali ‘Imraan: 169)

[248] yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, dan al Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Diriwayatkan pula oleh at-Tirmidzi yang bersumber dari Jabir. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah menjadikan arwah saudara-saudaramu yang gugur di perang Uhud sebagai burung-burung hijau yang mengunjungi sungai di syurga dan memakan buah-buahannya, sampai menghampiri lampu emas di bawah naungan Arsy. Ketika mereka mendapatkan makanan yang enak, minuman yang lezat, dan tempat tidur yang empuk, mereka berkata: “Alangkah baiknya jika teman-teman kita mengetahui apa yang Allah jadikan untuk kita, sehingga mereka tidak segan berjihad dan tidak mundur dari peperangan.” Allah berfirman kepada mereka: “Aku akan sampaikan hal kalian kepada mereka.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 169) yang menceritakan keadaan para syuhada.

Sumber: Al-Qur’anul Karim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: