Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imraan (8)

7 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

172. “(yaitu) orang-orang yang mentaati perintah Allah dan rasul-Nya sesudah mereka mendapat luka (dalam peperangan Uhud). bagi orang-orang yang berbuat kebaikan diantara mereka dan yang bertakwa ada pahala yang besar.”
(Ali ‘Imraan: 172)

174. “Maka mereka kembali dengan nikmat dan karunia (yang besar) dari Allah, mereka tidak mendapat bencana apa-apa, mereka mengikuti keridhaan Allah. dan Allah mempunyai karunia yang besar[251].”
(Ali ‘Imraan: 174)

[251] ayat 172, 173, dan 174, di atas membicarakan tentang peristiwa perang Badar Shughra (Badar kecil) yang terjadi setahun sesudah perang Uhud. sewaktu meninggalkan perang Uhud itu, abu Sufyan pemimpin orang Quraisy menantang nabi dan sahabat-sahabat beliau bahwa dia bersedia bertemu kembali dengan kaum muslimin pada tahun berikutnya di Badar. tetapi Karena tahun itu (4 H) musim paceklik dan abu Sufyan sendiri waktu itu merasa takut, Maka dia beserta tentaranya tidak jadi meneruskan perjalanan ke Badar, lalu dia menyuruh Nu’aim ibnu Mas’ud dan kawan-kawan pergi ke Madinah untuk menakut-nakuti kaum muslimin dengan menyebarkan kabar bohong, seperti yang disebut dalam ayat 173. namun demikian nabi beserta sahabat-sahabat tetap maju ke Badar. oleh Karena tidak terjadi perang, dan pada waktu itu di Badar kebetulan musim pasar, Maka kaum muslimin melakukan perdagangan dan memperoleh laba yang besar. keuntungan Ini mereka bawa pulang ke Madinah seperti yang tersebut pada ayat 174.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Allah swt. menanamkan rasa takut di hati Abu Sufyan pada perang Uhud, setelah mampu mencerai-beraikan pasukan Islam. Kemudian ia pulang ke Mekah. Bersabdalah Rasulullah saw.: “Abu Sufyan terpukul mentalnya, ia pulang, dan Allah menanamkan rasa takut di dalam hatinya.”
Perang Uhud itu terjadi pada bulan syawal. Sebulan kemudian, yaitu pada bulan Zulkaidah, para pedagang Quraisy menuju ke Madinah dan berhenti di Badr Shugra. Di saat itu kaum Muslimin sedang menderita akibat luka-luka perang Uhud. Rasulullah saw. menyeru para shahabatnya untuk berangkat menuju ke tempat mereka. Maka datanglah setan menakut-nakuti kekasih Allah (para shahabat) dengan berkata: “Sesungguhnya musuh telah siap sedia dengan bala tentara dan bekalnya untuk memerangimu.” Sehingga para shahabat enggan mengikuti Rasul. Rasulullah saw. bersabda: “Aku akan berangkat walau tak ada seorangpun yang ikut denganku.” Maka berdirilah Abu Bakr yang diikuti ‘Umar, ‘Utsman, ‘Ali, Zubair, Sa’d, Thalhah, ‘Abdurrahman bin ‘Auf, ‘Abdullah bin Mas’ud, Hudzaifah bin al-Yaman, dan Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah, sehingga mencapai jumlah tujuh puluh orang. Mereka berangkat mencari Abu Sufyan hingga sampai ke ash-Shafra’. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 172) sebagai pujian terhadap orang yang menyambut seruan Allah dan Rasulullah saw..

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dengan sanad yang shahih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika kaum musyrikin pulang dari perang Uhud, mereka berkata: “Mengapa kalian tidak bunuh Muhammad, dan merampas gadis Madinah? Alangkah buruknya perbuatan itu, pulanglah kalian kembali!” Hal itu terdengar oleh Rasulullah saw., sehingga beliaupun menyiapkan pasukan yang menyambut baik seruannya. Kemudian mereka mengejar kaum musyrikin hingga sampai ke Hamra-ul Asad atau Bi’ru Abi ‘Utbah. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 172) sebagai pujian atas sambutan para shahabat.
Dalam hadits itu pula dikemukakan bahwa Abu Sufyan pernah berkata kepada Nabi saw.: “Hidupmu akan berakhir di musim pasar di Badr, tempat kawan-kawanku dulu terbunuh (pada perang Badr yang lalu).” Di antara para shahabat itu ada yang lesu dan enggan, terus pulang, sedang yang bersemangat bersiap siaga untuk berperang dan berdagang. Ketika Rasul dan shahabat-shahabatnya sampai di Badr (di musim pasar), tak seorangpun pasukan Abu Sufyan yang ada di sana. Merekapun berdaganglah. Maka turunlah ayat di atas (Ali ‘Imraan: 174) yang menceritakan keadaan para shahabat yang mendapat nikmat dan karunia Allah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Abu Rafi’ bahwa Nabi saw. mengutus ‘Ali bin Abi Thalib untuk memimpin pasukan mencari Abu Sufyan. Bertemulah mereka dengan seorang Badui di Khuza’ah, yang berkata: “Sesungguhnya kaum (Quraisy) telah berkumpul dan bersiap siaga menggempur kalian.” Mereka berkata: “Cukuplah Allah yang akan membela kami, dan Dia-lah sebaik-baik Penolong dan Penjaga.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 174) yang memuji kaum Muslimin yang berjuang di jalan Allah.

181. “Sesungguhnya Allah Telah mendengar perkatan orang-orang yang mengatakan: “Sesunguhnya Allah miskin dan kami kaya”. kami akan mencatat perkataan mereka itu dan perbuatan mereka membunuh nabi-nabi tanpa alasan yang benar, dan kami akan mengatakan (kepada mereka): “Rasakanlah olehmu azab yang membakar”.
(Ali ‘Imraan: 181)

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dan Ibnu Abi Hatimm, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa suatu ketika Abu Bakr masuk ke tempat pendidikan Taurat. Didapatinya orang-orang Yahudi sedang mengelilingi Fanhash. Ia berkata kepada Abu Bakr: “Demi Allah, hai Abu Bakr. Kami tidak butuh kepada Allah, tetapi Allah-lah yang butuh kepada kami. Sekiranya Dia kaya, tentu Dia tidak akan meminjam apa-apa dari kami sebagaimana yang dianggap oleh shahabatmu (Muhammad)” (lihat al-Baqarah: 245). Marahlah Abu Bakr kepadanya serta memukul mukanya. Fanhash berangkat menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Hai Muhammad. Lihat apa yang dilakukan shahabatmu terhadapku.” Nabi saw. bersabda: “Apa sebabnya engkau berbuat demikian wahai Abu Bakr?” Abu Bakr menjawab: “Ya Rasulallah. Ia telah berkata dengan perkataan yang sangat besar (dosanya): menganggap Allah itu miskin dan mereka kaya, tidak butuh kepada Allah.” Fanhash memungkiri dan mendustakan ucapan Abu Bakr. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 181) yang menegaskan sifat-sifat Yahudi yang keji.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa orang-orang Yahudi menghadap Nabi saw. ketika turun ayat , mang dzal ladzii yuqridlullaaha qardlan hasanaa…(siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik [menafkahkan hartanya di jalan Allah]…) (Al-Baqarah: 245). Mereka berkata: “Hai Muhammad. Rabb-mu itu miskin. Dia meminta kepada hamba-Nya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 181) sebagai ancaman terhadap ucapan seperti ucapan Yahudi itu.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: