Asbabun Nuzul Surah Ali ‘Imraan (9)

7 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

186. “Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. jika kamu bersabar dan bertakwa, Maka Sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.”
(Ali ‘Imraan: 186)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnul Mundzir dengan sanad yang hasan, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ayat ini (Ali ‘Imraan: 186) turun berkenaan dengan peristiwa Abu Bakr dengan Fanhash, tentang ucapannya: “Allah itu miskin dan kami kaya”.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar, dari az-Zuhri, yang bersumber dari ‘Abdurrahman bin Ka’b bin Malik. Bahwa turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 186) berkenaan dengan Ka’b bin al-Asyraf yang mencaci maki Nabi Saw. dan shahabat-shahabat beliau dengan syair.

188. “Janganlah sekali-kali kamu menyangka, hahwa orang-orang yang gembira dengan apa yang Telah mereka kerjakan dan mereka suka supaya dipuji terhadap perbuatan yang belum mereka kerjakan janganlah kamu menyangka bahwa mereka terlepas dari siksa, dan bagi mereka siksa yang pedih.”
(Ali ‘Imraan: 188)

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan dan lain-lain, yang bersumber dari Hamid bin ‘Abdirrahman bin ‘Auf. Bahwa Marwan berkata kepada juru pintunya: “Hai Rafi’, berangkatlah menemui Ibnu ‘Abbas, dan katakan kepadanya bahwa sekiranya orang akan disiksa karena merasa gembira dengan apa yang telah diperolehnya dan ingin dipuji atas perbuatan yang tidak mereka kerjakan, pasti kita semua akan disiksa.” Maka berkatalah Ibnu ‘Abbas: “Apa yang menjadi masalah kalian tentang ayat ini (Ali ‘Imraan: 188)? Turunnya ayat ini berkenaan dengan ahli kitab. Ketika Nabi saw. bertanya kepada mereka tentang sesuatu, mereka menutupinya dengan memberikan jawaban yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan itu. Kemudian mereka keluar dan memberitahukan kepada teman-temannya dengan gembira bahwa mereka telah dapat menjawab pertanyaan Rasul dengan jawaban yang tidak ada sangkut pautnya dengan pertanyaan beliau. Dengan cara itu mereka berharap mendapat pujian atas perbuatannya.”

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) yang bersumber dari Abu Sa’id al Khudri bahwa apabila Rasulullah saw. pergi berjihad, beberapa orang munafik meninggalkan diri dan bergembira karena bisa tetap melaksanakan kesibukan sehari-hari, tanpa ikut jihad bersama Rasulullah. Akan tetapi apabila Rasulullah saw. telah tiba kembali dari jihad dengan membawa kemenangan, mereka meminta maaf dengan mengemukakan berbagai alasan sambil bersumpah dengan harapan perbuatan itu terpuji tanpa ikut serta berjihad. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 188).

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq di dalam Tafsir-nya, yang bersumber dari Zaid bin Aslam. Hadits seperti ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim dari beberapa tabiin. Bahwa ketika Rafi’ bin Khadij dan Zaid bin Tsabit sedang duduk-duduk bersama Marwan, berkatalah Marwan: “Tentang apakah turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 188)?” Rafi’ menjawab:”Turunnya ayat ini bekenaan dengan sebagian orang-orang munafik. Apabila Rasul saw. akan berangkat berjihad, mereka meminta izin karena berhalangan, dengan mengemukakan bahwa mereka sesungguhnya ingin ikut serta berjihad bersama Rasul, akan tetapi kesibukan sehari-hari tak dapat ditinggalkan. Maka turunlah ayat tersebut berkenaandengan mereka.” Marwan seolah-olah tidak percaya kepada Rafi’ sehingga Rafi’ pun merasa kaget dan gelisah. Maka berkatalah Rafi’ kepada Zaid bin Tsabit: “Demi Allah, saya bertanya kepada engkau, apakah engkau mengetahui kejadian yang aku katakan tadi?” Zaid menjawab: “Ya.”

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibnu Hajar, berdasarkan kedua hadits tersebut di atas, atas dasar tariiqatul jam’i, dapat disimpulkan bahwa turunnya ayat di atas (Ali ‘Imraan: 188) berkenaan dengan kedua peristiwa yang hampir bersamaan kejadiannya.
Selanjutnya Ibnu Hajar mengemukakan bahwa al-Farra’ menceritakan tentang turunnya ayat ini berkenaan dengan kaum Yahudi yang tidak mengakui Muhammad sebagai Rasul, dengan berkata: “Kami ahli kitab yang pertama, bersembahyang dan taat.”
Dijelaskan pula oleh Ibnu Jarir bahwa turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 188) berkenaan dengan semua kejadian tersebut.

190. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan silih bergantinya malam dan siang terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berakal,”
(Ali ‘Imraan: 190)

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa orang Quraisy datang kepada Yahudi untuk bertanya: “Mukjizat apa yang dibawa Musa kepada kalian?” Mereka menjawab: “Tongkat dan tangannya terlihat putih bercahaya.” Kemudian mereka bertanya kepada kaum Nasrani: “Mukjizat apa yang dibawa ‘Isa pada kalian?” Mereka menjawab: “Ia dapat menyembuhkan orang buta sejak lahir hingga dapat melihat, menyembuhkan orang berpenyakit sopak, dan menghidupkan orang mati.” Kemudian mereka menghadap Nabi saw. dan berkata: “Hai Muhammad, coba berdoalah engkau kepada Rabb-mu agar gunung Shafa ini dijadikan emas.” Lalu Rasulullah saw. berdoa. Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 190), sebagai petunjuk untuk memperhatikan apa yang telah ada, yang akan lebih besar manfaatnya bagi orang yang menggunakan akal.

195. “Maka Tuhan mereka memperkenankan permohonannya (dengan berfirman): “Sesungguhnya Aku tidak menyia-nyiakan amal orang-orang yang beramal di antara kamu, baik laki-laki atau perempuan, (karena) sebagian kamu adalah turunan dari sebagian yang lain[259]. Maka orang-orang yang berhijrah, yang diusir dari kampung halamannya, yang disakiti pada jalan-Ku, yang berperang dan yang dibunuh, Pastilah akan Ku-hapuskan kesalahan-kesalahan mereka dan Pastilah Aku masukkan mereka ke dalam surga yang mengalir sungai-sungai di bawahnya, sebagai pahala di sisi Allah. dan Allah pada sisi-Nya pahala yang baik.”
(Ali ‘Imraan: 195)

[259] maksudnya sebagaimana laki-laki berasal dari laki-laki dan perempuan, Maka demikian pula halnya perempuan berasal dari laki-laki dan perempuan. kedua-duanya sama-sama manusia, tak ada kelebihan yang satu dari yang lain tentang penilaian iman dan amalnya.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq, Sa’id bin Manshur, at-Tirmidzi, al-Hakim, dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Ummu Salamah, bahwa Ummu Salamah berkata: “Wahai Rasulallah. Saya tidak mendengar Allah menyebut khusus tentang wanita di dalam al-Qur’an mengenai peristiwa hijrah.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 195) sebagai penegasan atas pertanyaannya.

199. “Dan Sesungguhnya diantara ahli Kitab ada orang yang beriman kepada Allah dan kepada apa yang diturunkan kepada kamu dan yang diturunkan kepada mereka sedang mereka berendah hati kepada Allah dan mereka tidak menukarkan ayat-ayat Allah dengan harga yang sedikit. mereka memperoleh pahala di sisi Tuhannya. Sesungguhnya Allah amat cepat perhitungan-Nya.”
(Ali ‘Imraan: 199)

Diriwayatkan oleh an-Nasa-i yang bersumber dari Anas. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Jabir. Bahwa ketika datang berita kematian an-Najasi (Raja Habasyah), bersabdalah Rasulullah saw.: “Mari kita shalatkan.” Para shahabat bertanya: “Apakah kita menyalatkan hamba Habasyi?” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Ali ‘Imraan: 199), sebagai penegasan bahwa orang yang meninggal itu adalah seorang Mukmin.

Diriwayatkan oleh al-Hakim di dalam kitab al-Mustadrak, yang bersumber dari ‘Abdullah bin Zubair, bahwa turunnya ayat ini (Ali ‘Imraan: 199) berkenaan dengan an-Najasyi.

Sumber: Al-Qur’anul Karim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: