Arsip | 11.22

Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (11)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

163. “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
(al-Baqarah: 163)

164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
(al-Baqarah: 164)

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur di dalam Sunan-nya, al-Faryabi di dalam Tafsir-nya, dan al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul iimaan, yang bersumber dari Abudl Dluha. As Suyuthi berpendapat bahwa hadits ini mu’dlal, tetapi mempunyai syaahid (penguat). Bahwa ketika turun ayat tersebut (al-Baqarah: 163), kaum musyrikin kaget dan bertanya-tanya: “Apakah benar Tuhan itu tunggal? Jika benar demikian, berikanlah kepada kami bukti-buktinya.” Maka turunlah ayat berikutnya (al-Baqarah: 164) yang menegaskan adanya bukti-bukti Kemahaesaan Tuhan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh di dalam kitab al-‘Azhamah, yang bersumber dari ‘Atha’. Bahwa setelah turun ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 163) kepada Nabi saw. di Madinah, orang-orang kafir Quraisy di Mekah bertanya: “Bagaimana Tuhan yang tunggal bisa mendengar manusia yang banyak?” maka turunlah ayat berikutnya (al-Baqarah: 164) sebagai jawabannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Sanadnya baik dan mushul. Bahwa kaum Quraisy berkata kepada Nabi Muhammad saw.: “Berdoalah kepada Allah agar Ia menjadikan bukit Shafa ini emas, sehingga kita dapat memperkuat diri melawan musuh.” Maka Allah menurunkan wahyu kepada beliau (al-Maa-idah: 115) untuk menyanggupi permintaan mereka dengan syarat apabila mereka kufur setelah dipenuhi permintaan mereka, Allah akan memberi siksaan yang belum pernah diberikan kepada yang lain di alam ini. Maka bersabdalah Nabi saw.: “Wahai Rabb-ku, biarkanlah aku dengan kaumku. Aku akan mendakwahi mereka sehari demi sehari.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 164). Dengan turunnya ayat tersebut, Allah menjelaskan mengapa mereka meminta Bukit Shafa dijadikan emas, padahal mereka mengetahui banyak ayat-ayat (tanda-tanda) yang luar biasa.

170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.
(al-Baqarah: 170)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 170) sehubungan dengan ajakan Rasulullah saw. kepada kaum Yahudi untuk masuk Islam, memberikan kabar gembira, dan memperingatkan mereka akan siksaan Allah serta azab-Nya. Rafi’ bin Huraimalah dan Malik bin ‘Auf dari kaum Yahudi menjawab ajakan ini dengan berkata: “Hai Muhammad. Kami akan mengikuti jejak nenek moyang kami, karena mereka lebih pintar dan lebih baik daripada kami.” Ayat ini turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hanya mengikuti jejak nenek moyangnya.

174. “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu Sebenarnya tidak memakan (Tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api[109], dan Allah tidak akan berbicara[110] kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.”
(al-Baqarah: 174)

[109] maksudnya ialah makanan yang dimakannya yang berasal dari hasil menyembunyikan ayat-ayat yang diturunkan Allah, menyebabkan mereka masuk api neraka.
[110] Maksudnya: Allah tidak berbicara kepada mereka dengan kasih sayang, tetapi berbicara dengan kata-kata yang tidak menyenangkan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Bahwa firman Allah tersebut (al-Baqarah: 174) dan surah Ali ‘Imraan ayat 77 diturunkan tentang (kebiasaan) kaum Yahudi (yang suka menyimpang dari ajaran yang sebenarnya).

Diriwayatkan oleh ats-Tsa’labi dari al-Kalbi, dari Abu Shalih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 174) dalam peristiwa sebagai berikut: Pemimpin dan ulama Yahudi biasa mendapat persembahan dan sanjungan rakyat bawahannya. Mereka mengharap agar nabi yang akan diutus itu diangkat dari kalangan mereka. Ketika Nabi Muhammad diutus bukan dari kalangan Yahudi, mereka takut kehilangan sumber keuntungan, kedudukan dan pengaruh. Mereka mengubah sifat-sifat Nabi Muhammad yang ada di dalam kitab Taurat, dan mengumumkan kepada para pengikutnya dengan berkata: “Inilah sifat Nabi yang akan keluar di akhir zaman, dan tidak sama dengan sifat Muhammad ini.”

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Ababun Nuzul Surah Al-Baqarah (10)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

150. “Dan dari mana saja kamu (keluar), Maka palingkanlah wajahmu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu (sekalian) berada, Maka palingkanlah wajahmu ke arahnya, agar tidak ada hujjah bagi manusia atas kamu, kecuali orang-orang yang zalim diantara mereka. Maka janganlah kamu takut kepada mereka dan takutlah kepada-Ku (saja). dan agar Ku-sempurnakan nikmat-Ku atasmu, dan supaya kamu mendapat petunjuk.”
(al-Baqarah: 150)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi melalui sanadnya. Bahwa turunnya ayat tersebut (al-Baqarah: 150) sehubungan dengan peristiwa sebagai berikut: Ketika Nabi saw. memindahkan arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, kaum musyrikin Mekah berkata: “Muhammad dibingungkan oleh agamanya. Ia memindahkan arah kiblatnya ke arah kiblat kita. Ia mengetahui bahwa jalan kita lebih benar daripada jalannya, dan ia sudah hampir masuk agama kita.”

154. “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu ) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup[100], tetapi kamu tidak menyadarinya.”
(al-Baqarah: 154)

[100] yaitu hidup dalam alam yang lain yang bukan alam kita ini, di mana mereka mendapat kenikmatan-kenikmatan di sisi Allah, dan Hanya Allah sajalah yang mengetahui bagaimana keadaan hidup itu.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mandah dari as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 154) sehubungan dengan gugurnya shahabat Nabi saw., yaitu Tamin bin al-Hammam pada perang Badr, dan dalam peristiwa itu gugur pula para shahabat lainnya.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim bahwa para ulama sepakat bahwa yang gugur itu ‘Umair bin al-Hammam, sedangkan as-Suddi tadi keliru menyebutnya.

158. “Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi’ar Allah[102]. Maka barangsiapa yang beribadah haji ke Baitullah atau ber-‘umrah, Maka tidak ada dosa baginya[103] mengerjakan sa’i antara keduanya. dan barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah Maha Mensyukuri[104] kebaikan lagi Maha Mengetahui.”
(al-Baqarah: 158)

[102] Syi’ar-syi’ar Allah: tanda-tanda atau tempat beribadah kepada Allah.
[103] Tuhan mengungkapkan dengan perkataan tidak ada dosa sebab sebahagian sahabat merasa keberatan mengerjakannya sa’i di situ, Karena tempat itu bekas tempat berhala. dan di masa jahiliyahpun tempat itu digunakan sebagai tempat sa’i. untuk menghilangkan rasa keberatan itu Allah menurunkan ayat ini.
[104] Allah mensyukuri hamba-Nya: memberi pahala terhadap amal-amal hamba-Nya, mema’afkan kesalahannya, menambah nikmat-Nya dan sebagainya.

Diriwayatkan oleh asy-Syaikhaan (al-Bukhari dan Muslim) dan lain-lain, dari ‘Urwah, yang bersumber dari ‘Aisyah. Bahwa ‘Urwah bertanya kepada ‘Aisyah: “Bagaimana pendapatmu tentang firman Allah, innash shafaa wal marwah….(..sesungguhnya shafa dan Marwah..) hingga akhir ayat (al-Baqarah: 158)? Menurut pendapatku, ayat ini menegaskan bahwa orang yang tidak tawaf di kedua tempat itu tidak berdosa.” ‘Aisyah menjawab: “Sebenarnya takwilmu (interpretasimu) itu, hai anak saudariku, tidaklah benar. Akan tetapi ayat ini (al-Baqarah: 158) turun mengenai kaum Anshar. Mereka, yang sebelum masuk Islam mengadakan upacara keagamaan kepada Manat (tuhan mereka) yang jahat, menolak bertawaf antara Shafa dan Marwah. Mereka bertanya kepada Rasulullah saw.: “Wahai Rasulullah, di zaman jahiliyah kami berkeberatan untuk tawaf di Shafa dan Marwah?”’

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari ‘Ashim bin Sulaiman. Bahwa ‘Ashim bin Sulaiman bertanya kepada Anas tentang Shafa dan Marwah. Anas berkata: “Kami berpendapat bahwa tawaf antara Shafa dan Marwah adalah upacara di zaman jahiliyah, dan ketika Islam datang, kami tidak melakukannya lagi.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 158) yang mengenai hukum sai dalam Islam.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa Ibnu ‘Abbas menerangkan bahwa setan-setan di zaman jahiliyah berkeliaran pada malam hari antara Shafa dan Marwah, dan di antara kedua tempat itu terletak berhala-berhala mereka. Ketika Islam datang, berkatalah kaum Muslimin kepada Rasulullah saw.: “Ya Rasulallah. Kami tidak akan tawaf antara Shafa dan Marwah, karena upacara itu biasa kami lakukan di zaman jahiliyah.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 158).

159. “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah kami turunkan berupa keterangan-keterangan (yang jelas) dan petunjuk, setelah kami menerangkannya kepada manusia dalam Al kitab, mereka itu dila’nati Allah dan dila’nati (pula) oleh semua (mahluk) yang dapat mela’nati,”
(al-Baqarah: 159)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Mu’adz binn Jabal, Sa’d bin Mu’adz, dan Kharijah bin Zaid bertanya kepada segolongan paderi Yahudi tentang beberapa hal yang terdapat di dalam Taurat. Para paderi menyembunyikan hal tersebut dan enggan memberitahukannya. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 159) yang membeberkan keadaan mereka (paderi-paderi).

Sumber: Al-Qur’anul Karim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (9)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

130. “Dan tidak ada yang benci kepada agama Ibrahim, melainkan orang yang memperbodoh dirinya sendiri, dan sungguh kami Telah memilihnya[90] di dunia dan Sesungguhnya dia di akhirat benar-benar termasuk orang-orang yang saleh.”
(al-Baqarah: 130)

[90] di antaranya menjadi; Imam, rasul, banyak keturunannya yang menjadi nabi, diberi gelar khalilullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Uyainah. Bahwa Abdullah bin Salam mengajak dua anak saudaranya, Salamah dan Muhajir, untuk masuk Islam, dengan berkata: “Kamu berdua telah mengetahui, sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman dalam Taurat bahwa Ia mengutus dari keturunan Isma’il, seorang Nabi bernama Ahmad. Barangsiapa yang beriman kepadanya, ia telah mendapat petunjuk dan bimbingan. Dan barangsiapa yang tidak beriman kepadanya, akan dilaknat. Maka masuk Islamlah Salamah, akan tetapi Muhajir menolak. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 130) yang menegaskan bahw hanya orang-orang yang bodohlah yang tidak beriman kepada agama Ibrahim.

135. Dan mereka berkata: “Hendaklah kamu menjadi penganut agama Yahudi atau Nasrani, niscaya kamu mendapat petunjuk”. Katakanlah : “Tidak, melainkan (Kami mengikuti) agama Ibrahim yang lurus. dan bukanlah dia (Ibrahim) dari golongan orang musyrik”.
(Al-Baqarah: 135)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa Ibnu Shuriya berkata kepada Nabi saw.: “Petunjuk itu tidak lain kecuali apa yang kami anut, maka ikutilah kami hai Muhammad, agar tuan mendapat petunjuk.” Kaum Nasrani pun berkata seperti itu juga. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 135) yang menegaskan bahwa agama Ibrahim adalah agama yang bersih dari perubahan yang menimbulkan syirik.

142. “Orang-orang yang kurang akalnya[93] diantara manusia akan berkata: ‘Apakah yang memalingkan mereka (umat Islam) dari kiblatnya (Baitul Maqdis) yang dahulu mereka Telah berkiblat kepadanya?’ Katakanlah: ‘Kepunyaan Allah-lah timur dan barat; dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya ke jalan yang lurus’[94].
(al-Baqarah: 142)

[93] Maksudnya: ialah orang-orang yang kurang pikirannya sehingga tidak dapat memahami maksud pemindahan kiblat.
[94] di waktu nabi Muhammad s.a.w. berada di Mekah di tengah-tengah kaum musyirikin beliau berkiblat ke Baitul Maqdis. tetapi setelah 16 atau 17 bulan nabi berada di Madinah ditengah-tengah orang Yahudi dan Nasrani beliau disuruh oleh Tuhan untuk mengambil ka’bah menjadi kiblat, terutama sekali untuk memberi pengertian bahwa dalam ibadat shalat itu bukanlah arah Baitul Maqdis dan ka’bah itu menjadi tujuan, tetapi menghadapkan diri kepada Tuhan. untuk persatuan umat islam, Allah menjadikan ka’bah sebagai kiblat.

143. “Dan demikian (pula) kami Telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa amat berat, kecuali bagi orang-orang yang Telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.”
(Al-Baqarah: 143)

[95] umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, Karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.

144. “Sungguh kami (sering) melihat mukamu menengadah ke langit[96], Maka sungguh kami akan memalingkan kamu ke kiblat yang kamu sukai. palingkanlah mukamu ke arah Masjidil Haram. dan dimana saja kamu berada, palingkanlah mukamu ke arahnya. dan Sesungguhnya orang-orang (Yahudi dan Nasrani) yang diberi Al Kitab (Taurat dan Injil) memang mengetahui, bahwa berpaling ke Masjidil Haram itu adalah benar dari Tuhannya; dan Allah sekali-kali tidak lengah dari apa yang mereka kerjakan.”
(Al-Baqarah: 144)

[96] maksudnya ialah nabi Muhammad s.a.w. sering melihat ke langit mendoa dan menunggu-nunggu Turunnya wahyu yang memerintahkan beliau menghadap ke Baitullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Ishaq dari Isma’il bin Abi Khalid, dari Abu Ishaq, yang bersumber dari al-Barra’. Di samping itu, ada sumber lain yang serupa dengan riwayat ini. Bahwa Rasulullah saw. shalat menghadap Baitul Maqdis, dan sering melihat ke langit menunggu Perintah Allah (mengharap kiblaat diarahkan ke Ka’bah atau Masjidil Haram), sehingga turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 144), yang menunjukkan kiblat ke arah Masjidil Haram. Sebagian kaum Muslmin berkata: “Inginlah kami ketahui tentang orang-orang yang telah meninggal sebelum pemindahan kiblat (dari Baitul Maqdis ke Ka’bah), dan bagaimana pula tentang shalat kami sebelum ini, ketika kami menghadap ke Baitul Maqdis?” maka turunlah ayat yang lainnya (al-Baqarah: 143), yang menegaskan bahwa Allah tidak akan menyia-nyiakan iman mereka yang beribadah menurut ketentuan pada waktu itu. Orang-orang yang berfikiran kerdil di masa itu berkata: “Apa pula yang memalingkan mereka (kaum Muslimin) dari kiblat yang mereka hadapi selama ini (dari Baitul Maqdis ke Ka’bah?” Maka turunlah ayat lainnya lagi (al-Baqarah: 142) sebagai penegasan bahwa Allah yang menetapkan arah kiblat itu.

Diriwayatkan di dalam Kitab ash-Shahiihain (Shahihul Bukhari dan Shahihu Muslim) yang bersumber dari al-Barra’. Bahwa di antara kaum Muslimin ada yang ingin mengetahui tentang nasib orang-orang yang telah meninggal atau gugur sebelum berpindah kiblat. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 143)

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (8)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

118. “Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” demikian pula orang-orang yang sebelum mereka Telah mengatakan seperti Ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya kami Telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan kami kepada kaum yang yakin.”
(al-Baqarah: 118)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 118) sehubungan dengan Rafi’ bin Khuzaimah. Ketika itu ia berkata kepada Rasulullah saw.: “Jika tuan seorang Raulullah sebagaimana tuan katakan, mintalah kepada Allah agar Ia berbicara (langsung) kepada kami sehingga kami dapat mendengar Perkataan-Nya.” Ayat ini (al-Baqarah: 118) turun sebagai penjelasan bahwa kalaupun Allah mengabulkan permintaan mereka, mereka tetap akan kufur.

119. “Sesungguhnya kami Telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.”
(al-Baqarah: 119)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari ats-Tsauri, dari Musa bin ‘Ubaidah, yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi. Hadits ini mursal. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Betapa inginnya aku mengetahui nasib ibu-bapakku.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 119). Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut lagi kedua ibu bapaknya hingga beliau wafat. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi bertugas sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Juraij yang bersumber dari Dawud binn Abi ‘Ashim. Hadits ini pun mursal. Bahwa Rasulullah saw. pada suatu hari berdoa: “Dimana ibu bapakku kini berada?” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 119).

120. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
(al-Baqarah: 120)

Diriwayatkan oleh ats-Tsa’labi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa kaum Yahudi Madinah dan kaum Nasrani Najran mengharap agar Nabi saw. shalat menghadap kiblat mereka. Ketika Allah membelokkan kiblat ke arah Ka’bah, mereka merasa keberatan. Mereka berkomplot dan berusaha supaya Nabi saw. menyetujui kiblat sesuai dengan agama mereka. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 120), yang menegaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada Nabi Muhammad walaupun keinginannya dikabulkan.

125. “Dan (ingatlah), ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim[89] tempat shalat. dan Telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
(al-Baqarah: 125)

[89] ialah tempat berdiri nabi Ibrahim a.s. diwaktu membuat Ka’bah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Umar. Bahwa ‘Umar menerangkan bahwa pendapatnya bersesuaian dengan firman Allah di dalam tiga perkara, yaitu 1) ketika ia mengemukakan usul: “Wahai Rasulallah. Tidakkah sebaiknya tuan jadikan maqaam Ibrahim* ini tempat shalat?” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah:125)** 2) ketika ia mengusulkan: “Telah berkunjung kepada istri-istri tuan orang baik dan orang jahat. Bagaimana sekiranya tuan memerintahkan supaya dipasang hijab (penghalang).” Maka turunlah ayat hijab (al-Ahzab: 53); dan 3) ketika Rasulullah saw. diboikot oleh istri-istrinya karena cemburu, maka ‘Umar berkata kepada mereka: “Mudah-mudahan Rabb-nya menceraikan kamu, dan menggantikan kamu dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu.” Maka turunlah ayat lainnya (at-Tahriim: 5) yang membenarkan peringatan ‘Umar terhadap istri-istri Nabi.

*maqaam Ibrahim: bekas telapak Nabi Ibrahim a.s. pada batu ketika membangun Ka’bah yang terdapat dalam Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi.
**sejak itu maqaam Ibrahim dijadikan tempat imam berdiri bagi orang-orang yang shalat di Masjidil Haram, dan disunahkan shalat sunah tawaf di tempat tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Jabir. Bahwa ketika Rasulullah saw. tawaf, berkatalah ‘Umar kepadanya: “Ini adalah maqaam bapak kita, Ibrahim.” Nabi bersabda: “Benar.” ‘Umar berkata lagi: “Apakah tidak sebaiknya kita menjadikannya tempat shalat?” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 125).

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari ‘Amr bin Mainun yang bersumber dari ‘Umar bin al-Khaththab. Bahwa ‘Umar bin al-Khaththab lewat di maqaam Ibrahim bersama Rasulullah. ‘Umar berkata: “Wahai Rasulallah, apakah kita tidak berdiri shalat di maqaam kekasih Allah (Ibrahim a.s.)?” Rasulullah menjawab: “Benar.” Kemudian ‘Umar berkata: “Apakah kita tidak menjadikannya tempat shalat?” Tiada lama kemudian turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 125).

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (7)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

109. “Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Al-Baqarah: 109)

[82] Maksudnya: keizinan memerangi dan mengusir orang Yahudi.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Hayy bin Akhthab dan Abu Jasir bin Akhthab termasuk kaum Yahudi yang paling hasud terhadap orang Arab, dengan alasan Allah telah mengistimewakan orang Arab dengan mengutus Rasul dari kalangan mereka. Kedua orang bersaudara itu bersungguh-sungguh mencegah orang lain masuk Islam. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 109) sehungungan dengan perbuatan kedua orang itu.

113. “Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan’, dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,’ padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti Ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.”
(Al-Baqarah: 113)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika orang-orang Nasrani Najran menghadap Rasulullah saw., datang pulalah paderi-paderi kaum Yahudi. Mereka bertengkar di hadapan Rasulullah saw., berkatalah Rafi’ bin Khuzaimah (Yahudi): “Kamu tidak berada pada jalan yang benar, karena menyatakan kekufuran kepada Nabi ‘Isa dan kitab Injil-nya.” Seorang dari kaum Nasrani Najran membantahnya dengan mengatakan: “Kamu pun tidak berada pada jalan yang benar, karena menentang kenabian Musa dan kufur terhadap Taurat.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 113), sebagai jawaban sehubungan dengan pertengkaran mereka.

114. “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.”
(al-Baqarah: 114)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 114) sehubungan dengan larangan kaum Quraisy kepada Nabi saw. untuk shalat dekat ka’bah, di dalam Masjidil Haram.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Zaid bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 114) tentang kaum musyrikin yang menghalangi Rasulullah dan para shahabatnya datang ke Mekah untuk mengerjakan umrah pada hari Hudaibiyyah (628 M). Ayat ini (al-Baqarah: 114) turun sebagai peringatan kepada orang yang melarang beribadat di mesjid Allah.

115. “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(al-Baqarah: 115)

[83] Disitulah wajah Allah maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, Karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

Diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, yang besumber dari Ibnu ‘Umar bahwa Ibnu ‘Umar membacakan ayat ini (al-Baqarah: 115), kemudian menjelaskan peristiwanya sebagai berikut: ketika Rasulullah saw. dalam perjalanan dari Mekah ke Madinah, beliau shalat di atas kendaraan menghadap sesuai dengan arah kendaraannya.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ibnu ‘Umar. Hadits ini sahih menurut syarat Muslim, terutama isnadnya. Bahwa turunnya ayat,… fa ainamaa tuwalluu…(..maka kemanapun kamu menghadap…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 115) membolehkan kita shalat sunat di atas kendaraan menghadap sesuai dengan arah kendaraan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari ‘Ali bin Abi Thalib, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Isnaad hadits ini kuat, dan maknanya pun membantu menguatkannya, sehingga dapat dijadikan dasar turunnya ayat tersebut. Bahwa ketika Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, Allah swt. memerintahkan beliau untuk menghadap ke Baitul Maqdis di waktu shalat. Maka gembiralah kaum Yahudi. Rasulullah saw. melaksanakan perintah itu beberapa belas bulan lamanya, tetapi dalam hatinya ingin tetap menghadap ke kiblat Nabi Ibrahim a.s. (Mekah). Beliau selalu berdoa kepada Allah sambil menghadapkan muka ke langit, menantikan turunnya wahyu. Maka turunlah ayat, qad naraa taqalluba wajhika fis samaa’…(sungguh kami [sering] melihat mukamu menengadah ke langit..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 144). Kaum Yahudi menjadi bimbang karena turunnya ayat tersebut (al-Baqarah: 144) sehingga mereka berkata: “Apa yang menyebabkan mereka membelok dari kiblat yang mereka hadapi sekarang ini?” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 115) sebagai jawaban atas pertanyaan orang-orang Yahudi.

Hadits ini daif diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Daraquthni, dari Asy’ats as-Samman, dari ‘Ashim bin ‘Abdlillah, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Rabi’ah, yang bersumber dari bapaknya. Menurut at-Tirmidzi, riwayat ini gharib, dan Asy’ats didaifkan di dalam meriwayatkan hadits ini. Bahwa pada suatu malam gelap gulita, dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah saw., mereka (para shahabat) tidak mengetahui arah kiblat. Mereka shalat ke arah hasil ijtihad masing-masing. Keesokan harinya mereka mengemukakan hal itu kepada Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 115).

Diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan Ibnu Marduwaih, dari al-’Arzami, dari ‘Atha’, yang bersumber dari Jabir. Bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus suatu pasukan perang (termasuk di dalamnya Jabir). Pada suatu waktu yang gelap gulita, mereka tidak mengetahui arah kiblat. Berkatalah segolongan dari mereka: “Kami tahu arah kiblat, yaitu arah ini (sambil menunjuk ke arah utara).” Mereka shalat dan membuat garis sesuai dengan arah shalat mereka. Segolongan lain berkata: “Kiblat di sebelah sana (sambil menunjuk ke arah selatan).” Mereka shalat dan membuat garis sesuai dengan arah shalat mereka. Keesokan harinya setelah matahari terbit, garis-garis itu tidak menunjukkan arah kiblat yang sebenarnya. Sesampainya di Madinah, bertanyalah mereka kepada Rasulullah saw. tentang hal itu. Beliau terdiam. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 115) sebagai penjelasan atas peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang menerima dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa Rasulullah saw. mengirimkan suatu pasukan perang. Mereka diliputi kabut yang tebal, sehingga tidak mengetahui arah kiblat. Kemudian mereka shalat. Ternyata setelah terbit matahari, shalatnya tidak menghadap kiblat. Setibanya di hadapan Rasulullah saw., mereka menceritakan hal itu. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 115) yang membenarkan ijtihad mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika turun ayat,…ud’uunii astajiblakum..(..berdoalah kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu…) (al-Mu’min: 60), para shahabat bertanya: “Kemana kami menghadap?” Maka turunlah,….fa ainamaa tuwalluu fa tsamma wajhullaah…(..maka kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah….) (Al-Baqarah: 115) sebagai jawaban terhadap pertanyaan mereka.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (6)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

104. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): ‘Raa’ina’, tetapi Katakanlah: ‘Unzhurna’, dan ‘dengarlah’. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih[80].”
(Al-Baqarah: 104)

[80] Raa ‘ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di kala para sahabat menghadapkan kata Ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata Ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa’ina padahal yang mereka katakan ialah Ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa’ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa’ina.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari as-Suddi. Bahwa dua orang Yahudi, bernama Malik bin ash-Shaif dan Rifa’ah bin Zaid, apabila bertemu dengan Nabi saw. mereka mengucapkan: “Raa’inaa sam’aka wasma’ ghaira musma’iin.. Kaum Muslimin mengira kata-kata itu adalah ucapan ahli kitab untuk menghormati nabi-nabinya. Merekapun mengucapkan kata-kata itu kepada Nabi saw.. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 104) sebagai larangan untuk meniru perbuatan kaum Yahudi.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab ad-Dalaa-il, dari as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kata raa’inaa dalam bahasa Yahudi berarti caci maki yang jelek. Sehubungan dengan itu ada peristiwa sebagai berikut: Ketika kaum Yahudi mendengar shahabat-shahabat Nabi saw. memakai kata (raa’inaa), mereka sengaja mengumumkan agar kata itu biasa digunakan dan ditujukan kepada Nabi saw.. Apabila para shahabat Nabi saw. menggunakan kata-kata itu, mereka menertawakannya. Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 104). Ketika salah seorang shahabat, yaitu Sa’d bin Mu’adz mendengar ayat ini, berkatalah ia kepada Yahudi: “Hai musuh-musuh Allah! Jika aku mendengar perkataan itu diucapkan oleh salah seorang di antaramu sesudah pertemuan ini, akan kupenggal batang lehernya!”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari adl-Dlahhak bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 104) ketika seorang laki-laki berkata: “Ariinii sam’aka.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Athiyyah,bahwa pada waktu itu ada beberapa orang Yahudi mengatakan: “Raa’inaa sam’aka”, yang ditiru oleh beberapa orang Islam. Akan tetapi Allah membencinya dengan menurunkan ayat ini (al-Baqarah: 104).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika kaum Muslimin mengucapkan: “Raa’inaa sam’aka”, datanglah kaum Yahudi dan mengatakan ucapan seperti itu pula. Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 104)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha’ bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 104) sehubungan dengan ucapan “raa’inaa”, yaitu bahasa yang dipakai kaum Anshar di zaman jahiliyah, dan karenanya dilarang oleh ayat ini (al-Baqarah: 104)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa sesungguhnya orang Arab apabila bercakap-cakap dengan salah seorang temannya suka mengatakan: “Ari’nii sam’aka”. Kemudian mereka dilarang menggunakan kata-kata itu dengan turunnya ayat ini (al-Baqarah: 104).

106. “Ayat mana saja[81] yang kami nasakhkan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”
(Al-Baqarah: 106)

[81] para Mufassirin berlainan pendapat tentang arti ayat, ada yang mengartikan ayat Al Quran, dan ada yang mengartikan mukjizat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya wahyu kepada Nabi saw. kadang-kadang pada malam hari, tapi beliau lupa pada siang harinya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Baqarah: 106) sebagai jaminan bahwa wahyu Allah tidak mungkin terlupakan..

108. “Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, Maka sungguh orang itu Telah sesat dari jalan yang lurus.”
(al-Baqarah: 108)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Abbas dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rafi’ bin Huraimalah dan Wahb bi Zaid berkata kepada Rasulullah saw.: “Hai Muhammad, cobalah turunkan kepada kami suatu kitab dari langit yang dapat kami baca, atau buatlah sungai yang mengalir airnya, pasti kami akan percaya dan mengikuti tuan.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 108) sebagai peringatan agar umat Islam tidak meniru bani Israil dalam mengikuti ajaran Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa orang kafir Quraisy meminta kepada Nabi Muhammad saw. supaya gunung Shafa dijadikan emas. Maka Nabi saw. bersabda: “Baiklah, akan tetapi apabila kamu kufur, gunung ini akan berakibat seperti hidangan yang diminta bani Israil.” Kaum Quraisy menolak syarat tersebut, kemudian pulan. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 108) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 108) sehubungan dengan peristiwa ketika orang-orang Arab meminta kepada Nabi Muhammad saw. agar mendatangkan Allah kepada mereka, sehingga dapat terlihat dengan nyata di mata mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw.: “Ya Rasulallah. Bagaimana kalau kifarat (denda tebusan dosa) kami disamakan saja dengan kifarat bani Israil?” Nabi saw. menjawab: “Maha Suci Allah, sungguh aku tidak menghendakinya, karena Allah telah memberikan kepadamu yang lebih baik daripada yang diberikan kepada Bani Israil dahulu. Apabila mereka melakukan kejahata, tertulislah perbuatan itu beserta kifaratnya di atas pintu rumah mereka. Apabila telah ditunaikan kifaratnya, tinggallah kehinaan di dunia, dan apabila tidak ditunaikan mereka akan mendapat kehinaan di akhirat. Bukankah Allah telah memberikan yang lebih baik kepadamu daripada itu, dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia minta ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang (an-Nisaa’: 110).” Dan selanjutnya Nabi bersabda: “Shalat yang lima waktu dan shalat Jum’at sampai shalat Jum’at berikutnya, menjadi kifarat kesalahan yang dikerjakan di antara waktu kesemuanya itu.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 108), sebagai teguran terhadap orang yang ingin mengubah ketentuan Allah.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (5)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

99. “Dan Sesungguhnya kami Telah menurunkan kepadamu ayat-ayat yang jelas; dan tak ada yang ingkar kepadanya, melainkan orang-orang yang fasik.”
(Al-Baqarah: 99)

100. “Patutkah (mereka ingkar kepada ayat-ayat Allah), dan setiap kali mereka mengikat janji, segolongan mereka melemparkannya? bahkan sebagian besar dari mereka tidak beriman.”
(Al-Baqarah: 100)

101. “Dan setelah datang kepada mereka seorang Rasul dari sisi Allah yang membenarkan apa (Kitab) yang ada pada mereka, sebahagian dari orang-orang yang diberi Kitab (Taurat) melemparkan Kitab Allah ke belakang (punggung)nya, seolah-olah mereka tidak mengetahui (bahwa itu adalah Kitab Allah).”
(Al-Baqarah: 101)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id dan ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Ibnu Shuriya berkata kepada Nabi saw.: “Hai Muhammad. Tuan tidak memberitahukan tentang apa-apa yang kami ketahui, dan Allah tidak menurunkan ayat yang jelas kepada tuan.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 99).

Keterangan: Malik bin ash-Shaif menerangkan, ketika Rasulullah saw. diutus dan diingatkan kepada mereka (kaum Yahudi) akan janji mereka (untuk beriman kepada-Nya) dan apa yang dijanjikan Allah kepada mereka (dalam Taurat: tentang akan diutusnya Muhammad sebagai nabi), kaum Yahudi berkata: “Demi Allah, tidak pernah kami dijanjikan sesuatu tentang Muhammad, dan kami tidak pernah berjanji apa-apa.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 100-101).

102. “Dan mereka mengikuti apa[76] yang dibaca oleh syaitan-syaitan[77] pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[78] di negeri Babil yaitu Harut dan Marut, sedang keduanya tidak mengajarkan (sesuatu) kepada seorangpun sebelum mengatakan: “Sesungguhnya kami Hanya cobaan (bagimu), sebab itu janganlah kamu kafir”. Maka mereka mempelajari dari kedua malaikat itu apa yang dengan sihir itu, mereka dapat menceraikan antara seorang (suami) dengan isterinya[79]. dan mereka itu (ahli sihir) tidak memberi mudharat dengan sihirnya kepada seorangpun, kecuali dengan izin Allah. dan mereka mempelajari sesuatu yang tidak memberi mudharat kepadanya dan tidak memberi manfaat. Demi, Sesungguhnya mereka Telah meyakini bahwa barangsiapa yang menukarnya (Kitab Allah) dengan sihir itu, tiadalah baginya keuntungan di akhirat, dan amat jahatlah perbuatan mereka menjual dirinya dengan sihir, kalau mereka Mengetahui.”

[76] Maksudnya: kitab-kitab sihir.
[77] syaitan-syaitan itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).
[78] para Mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu. ada yang berpendapat, mereka betul-betul malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti malaikat.
[79] Berbacam-macam sihir yang dikerjakan orang Yahudi, sampai kepada sihir untuk mencerai-beraikan masyarakat seperti mencerai-beraikan suami isteri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Syar bin Hausyab. Bahwa kaum Yahudi berkata: “Lihatlah Muhammad yang mencampur baurkan antara yang hak dan batil, yaitu menerangkan (Nabi) Sulaiman digolongkan pada kelompok nabi-nabi, padahal ia seorang ahli sihir yang mengendarai angin.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 102) yang menegaskan bahwa kaum Yahudi lebih mempercayai setan daripada iman kepada Allah swt..

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul ‘Aliyah. Bahwa kaum Yahudi bertanya kepada Nabi saw. beberapa kali tentang beberapa hal yang ada di dalam Taurat. Semua isi Taurat dijawab oleh Allah dengan menurunkan ayat. Ketika itu mereka menganggap bahwa ayat tersebut dirasakan sebagai bantahan terhadap mereka. Mereka berkata kepada sesamanya: “Orang ini lebih mengetahui tentang apa yang diturunkan kepada kita daripada kita.”
Di antara masalah yang ditanyakan kepada Nabi saw. ialah tentang sihir. Dan mereka berbantah-bantahan dengan Rasulullah tentang hal itu. Maka Allah menurunkan ayat di atas (Al-Baqarah: 102) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;