Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (11)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

163. “Dan Tuhanmu adalah Tuhan yang Maha Esa; tidak ada Tuhan melainkan dia yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.”
(al-Baqarah: 163)

164. “Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, silih bergantinya malam dan siang, bahtera yang berlayar di laut membawa apa yang berguna bagi manusia, dan apa yang Allah turunkan dari langit berupa air, lalu dengan air itu dia hidupkan bumi sesudah mati (kering)-nya dan dia sebarkan di bumi itu segala jenis hewan, dan pengisaran angin dan awan yang dikendalikan antara langit dan bumi; sungguh (terdapat) tanda-tanda (keesaan dan kebesaran Allah) bagi kaum yang memikirkan.”
(al-Baqarah: 164)

Diriwayatkan oleh Sa’id bin Manshur di dalam Sunan-nya, al-Faryabi di dalam Tafsir-nya, dan al-Baihaqi di dalam kitab Syu’abul iimaan, yang bersumber dari Abudl Dluha. As Suyuthi berpendapat bahwa hadits ini mu’dlal, tetapi mempunyai syaahid (penguat). Bahwa ketika turun ayat tersebut (al-Baqarah: 163), kaum musyrikin kaget dan bertanya-tanya: “Apakah benar Tuhan itu tunggal? Jika benar demikian, berikanlah kepada kami bukti-buktinya.” Maka turunlah ayat berikutnya (al-Baqarah: 164) yang menegaskan adanya bukti-bukti Kemahaesaan Tuhan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Abusy Syaikh di dalam kitab al-‘Azhamah, yang bersumber dari ‘Atha’. Bahwa setelah turun ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 163) kepada Nabi saw. di Madinah, orang-orang kafir Quraisy di Mekah bertanya: “Bagaimana Tuhan yang tunggal bisa mendengar manusia yang banyak?” maka turunlah ayat berikutnya (al-Baqarah: 164) sebagai jawabannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Sanadnya baik dan mushul. Bahwa kaum Quraisy berkata kepada Nabi Muhammad saw.: “Berdoalah kepada Allah agar Ia menjadikan bukit Shafa ini emas, sehingga kita dapat memperkuat diri melawan musuh.” Maka Allah menurunkan wahyu kepada beliau (al-Maa-idah: 115) untuk menyanggupi permintaan mereka dengan syarat apabila mereka kufur setelah dipenuhi permintaan mereka, Allah akan memberi siksaan yang belum pernah diberikan kepada yang lain di alam ini. Maka bersabdalah Nabi saw.: “Wahai Rabb-ku, biarkanlah aku dengan kaumku. Aku akan mendakwahi mereka sehari demi sehari.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 164). Dengan turunnya ayat tersebut, Allah menjelaskan mengapa mereka meminta Bukit Shafa dijadikan emas, padahal mereka mengetahui banyak ayat-ayat (tanda-tanda) yang luar biasa.

170. Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Ikutilah apa yang Telah diturunkan Allah,” mereka menjawab: “(Tidak), tetapi kami Hanya mengikuti apa yang Telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?”.
(al-Baqarah: 170)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 170) sehubungan dengan ajakan Rasulullah saw. kepada kaum Yahudi untuk masuk Islam, memberikan kabar gembira, dan memperingatkan mereka akan siksaan Allah serta azab-Nya. Rafi’ bin Huraimalah dan Malik bin ‘Auf dari kaum Yahudi menjawab ajakan ini dengan berkata: “Hai Muhammad. Kami akan mengikuti jejak nenek moyang kami, karena mereka lebih pintar dan lebih baik daripada kami.” Ayat ini turun sebagai teguran kepada orang-orang yang hanya mengikuti jejak nenek moyangnya.

174. “Sesungguhnya orang-orang yang menyembunyikan apa yang Telah diturunkan Allah, yaitu Al Kitab dan menjualnya dengan harga yang sedikit (murah), mereka itu Sebenarnya tidak memakan (Tidak menelan) ke dalam perutnya melainkan api[109], dan Allah tidak akan berbicara[110] kepada mereka pada hari kiamat dan tidak mensucikan mereka dan bagi mereka siksa yang amat pedih.”
(al-Baqarah: 174)

[109] maksudnya ialah makanan yang dimakannya yang berasal dari hasil menyembunyikan ayat-ayat yang diturunkan Allah, menyebabkan mereka masuk api neraka.
[110] Maksudnya: Allah tidak berbicara kepada mereka dengan kasih sayang, tetapi berbicara dengan kata-kata yang tidak menyenangkan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Ikrimah. Bahwa firman Allah tersebut (al-Baqarah: 174) dan surah Ali ‘Imraan ayat 77 diturunkan tentang (kebiasaan) kaum Yahudi (yang suka menyimpang dari ajaran yang sebenarnya).

Diriwayatkan oleh ats-Tsa’labi dari al-Kalbi, dari Abu Shalih yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 174) dalam peristiwa sebagai berikut: Pemimpin dan ulama Yahudi biasa mendapat persembahan dan sanjungan rakyat bawahannya. Mereka mengharap agar nabi yang akan diutus itu diangkat dari kalangan mereka. Ketika Nabi Muhammad diutus bukan dari kalangan Yahudi, mereka takut kehilangan sumber keuntungan, kedudukan dan pengaruh. Mereka mengubah sifat-sifat Nabi Muhammad yang ada di dalam kitab Taurat, dan mengumumkan kepada para pengikutnya dengan berkata: “Inilah sifat Nabi yang akan keluar di akhir zaman, dan tidak sama dengan sifat Muhammad ini.”

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: