Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (6)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

104. “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu katakan (kepada Muhammad): ‘Raa’ina’, tetapi Katakanlah: ‘Unzhurna’, dan ‘dengarlah’. dan bagi orang-orang yang kafir siksaan yang pedih[80].”
(Al-Baqarah: 104)

[80] Raa ‘ina berarti: sudilah kiranya kamu memperhatikan kami. di kala para sahabat menghadapkan kata Ini kepada Rasulullah, orang Yahudipun memakai kata Ini dengan digumam seakan-akan menyebut Raa’ina padahal yang mereka katakan ialah Ru’uunah yang berarti kebodohan yang sangat, sebagai ejekan kepada Rasulullah. Itulah sebabnya Tuhan menyuruh supaya sahabat-sahabat menukar perkataan Raa’ina dengan Unzhurna yang juga sama artinya dengan Raa’ina.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari as-Suddi. Bahwa dua orang Yahudi, bernama Malik bin ash-Shaif dan Rifa’ah bin Zaid, apabila bertemu dengan Nabi saw. mereka mengucapkan: “Raa’inaa sam’aka wasma’ ghaira musma’iin.. Kaum Muslimin mengira kata-kata itu adalah ucapan ahli kitab untuk menghormati nabi-nabinya. Merekapun mengucapkan kata-kata itu kepada Nabi saw.. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 104) sebagai larangan untuk meniru perbuatan kaum Yahudi.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim di dalam kitab ad-Dalaa-il, dari as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa kata raa’inaa dalam bahasa Yahudi berarti caci maki yang jelek. Sehubungan dengan itu ada peristiwa sebagai berikut: Ketika kaum Yahudi mendengar shahabat-shahabat Nabi saw. memakai kata (raa’inaa), mereka sengaja mengumumkan agar kata itu biasa digunakan dan ditujukan kepada Nabi saw.. Apabila para shahabat Nabi saw. menggunakan kata-kata itu, mereka menertawakannya. Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 104). Ketika salah seorang shahabat, yaitu Sa’d bin Mu’adz mendengar ayat ini, berkatalah ia kepada Yahudi: “Hai musuh-musuh Allah! Jika aku mendengar perkataan itu diucapkan oleh salah seorang di antaramu sesudah pertemuan ini, akan kupenggal batang lehernya!”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari adl-Dlahhak bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 104) ketika seorang laki-laki berkata: “Ariinii sam’aka.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Athiyyah,bahwa pada waktu itu ada beberapa orang Yahudi mengatakan: “Raa’inaa sam’aka”, yang ditiru oleh beberapa orang Islam. Akan tetapi Allah membencinya dengan menurunkan ayat ini (al-Baqarah: 104).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Qatadah bahwa ketika kaum Muslimin mengucapkan: “Raa’inaa sam’aka”, datanglah kaum Yahudi dan mengatakan ucapan seperti itu pula. Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 104)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha’ bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 104) sehubungan dengan ucapan “raa’inaa”, yaitu bahasa yang dipakai kaum Anshar di zaman jahiliyah, dan karenanya dilarang oleh ayat ini (al-Baqarah: 104)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa sesungguhnya orang Arab apabila bercakap-cakap dengan salah seorang temannya suka mengatakan: “Ari’nii sam’aka”. Kemudian mereka dilarang menggunakan kata-kata itu dengan turunnya ayat ini (al-Baqarah: 104).

106. “Ayat mana saja[81] yang kami nasakhkan, atau kami jadikan (manusia) lupa kepadanya, kami datangkan yang lebih baik daripadanya atau yang sebanding dengannya. Tidakkah kamu mengetahui bahwa Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu?”
(Al-Baqarah: 106)

[81] para Mufassirin berlainan pendapat tentang arti ayat, ada yang mengartikan ayat Al Quran, dan ada yang mengartikan mukjizat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya wahyu kepada Nabi saw. kadang-kadang pada malam hari, tapi beliau lupa pada siang harinya. Maka Allah menurunkan ayat ini (al-Baqarah: 106) sebagai jaminan bahwa wahyu Allah tidak mungkin terlupakan..

108. “Apakah kamu menghendaki untuk meminta kepada Rasul kamu seperti Bani Israil meminta kepada Musa pada jaman dahulu? dan barangsiapa yang menukar iman dengan kekafiran, Maka sungguh orang itu Telah sesat dari jalan yang lurus.”
(al-Baqarah: 108)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Abbas dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Rafi’ bin Huraimalah dan Wahb bi Zaid berkata kepada Rasulullah saw.: “Hai Muhammad, cobalah turunkan kepada kami suatu kitab dari langit yang dapat kami baca, atau buatlah sungai yang mengalir airnya, pasti kami akan percaya dan mengikuti tuan.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 108) sebagai peringatan agar umat Islam tidak meniru bani Israil dalam mengikuti ajaran Rasulullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa orang kafir Quraisy meminta kepada Nabi Muhammad saw. supaya gunung Shafa dijadikan emas. Maka Nabi saw. bersabda: “Baiklah, akan tetapi apabila kamu kufur, gunung ini akan berakibat seperti hidangan yang diminta bani Israil.” Kaum Quraisy menolak syarat tersebut, kemudian pulan. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (Al-Baqarah: 108) berkenaan dengan peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 108) sehubungan dengan peristiwa ketika orang-orang Arab meminta kepada Nabi Muhammad saw. agar mendatangkan Allah kepada mereka, sehingga dapat terlihat dengan nyata di mata mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Abul ‘Aliyah bahwa seorang laki-laki berkata kepada Rasulullah saw.: “Ya Rasulallah. Bagaimana kalau kifarat (denda tebusan dosa) kami disamakan saja dengan kifarat bani Israil?” Nabi saw. menjawab: “Maha Suci Allah, sungguh aku tidak menghendakinya, karena Allah telah memberikan kepadamu yang lebih baik daripada yang diberikan kepada Bani Israil dahulu. Apabila mereka melakukan kejahata, tertulislah perbuatan itu beserta kifaratnya di atas pintu rumah mereka. Apabila telah ditunaikan kifaratnya, tinggallah kehinaan di dunia, dan apabila tidak ditunaikan mereka akan mendapat kehinaan di akhirat. Bukankah Allah telah memberikan yang lebih baik kepadamu daripada itu, dengan firman-Nya: “Dan barangsiapa mengerjakan kejahatan dan menganiaya dirinya, kemudian ia minta ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Yang Maha Pengampun dan Maha Penyayang (an-Nisaa’: 110).” Dan selanjutnya Nabi bersabda: “Shalat yang lima waktu dan shalat Jum’at sampai shalat Jum’at berikutnya, menjadi kifarat kesalahan yang dikerjakan di antara waktu kesemuanya itu.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 108), sebagai teguran terhadap orang yang ingin mengubah ketentuan Allah.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: