Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (7)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

109. “Sebahagian besar ahli Kitab menginginkan agar mereka dapat mengembalikan kamu kepada kekafiran setelah kamu beriman, Karena dengki yang (timbul) dari diri mereka sendiri, setelah nyata bagi mereka kebenaran. Maka ma’afkanlah dan biarkanlah mereka, sampai Allah mendatangkan perintah-Nya[82]. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
(Al-Baqarah: 109)

[82] Maksudnya: keizinan memerangi dan mengusir orang Yahudi.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa Hayy bin Akhthab dan Abu Jasir bin Akhthab termasuk kaum Yahudi yang paling hasud terhadap orang Arab, dengan alasan Allah telah mengistimewakan orang Arab dengan mengutus Rasul dari kalangan mereka. Kedua orang bersaudara itu bersungguh-sungguh mencegah orang lain masuk Islam. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 109) sehungungan dengan perbuatan kedua orang itu.

113. “Dan orang-orang Yahudi berkata: ‘Orang-orang Nasrani itu tidak mempunyai suatu pegangan’, dan orang-orang Nasrani berkata: ‘Orang-orang Yahudi tidak mempunyai sesuatu pegangan,’ padahal mereka (sama-sama) membaca Al Kitab. demikian pula orang-orang yang tidak mengetahui, mengatakan seperti Ucapan mereka itu. Maka Allah akan mengadili diantara mereka pada hari kiamat, tentang apa-apa yang mereka berselisih padanya.”
(Al-Baqarah: 113)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika orang-orang Nasrani Najran menghadap Rasulullah saw., datang pulalah paderi-paderi kaum Yahudi. Mereka bertengkar di hadapan Rasulullah saw., berkatalah Rafi’ bin Khuzaimah (Yahudi): “Kamu tidak berada pada jalan yang benar, karena menyatakan kekufuran kepada Nabi ‘Isa dan kitab Injil-nya.” Seorang dari kaum Nasrani Najran membantahnya dengan mengatakan: “Kamu pun tidak berada pada jalan yang benar, karena menentang kenabian Musa dan kufur terhadap Taurat.” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 113), sebagai jawaban sehubungan dengan pertengkaran mereka.

114. “Dan siapakah yang lebih aniaya daripada orang yang menghalanghalangi menyebut nama Allah dalam mesjid-mesjid-Nya, dan berusaha untuk merobohkannya? mereka itu tidak sepatutnya masuk ke dalamnya (mesjid Allah), kecuali dengan rasa takut (kepada Allah). mereka di dunia mendapat kehinaan dan di akhirat mendapat siksa yang berat.”
(al-Baqarah: 114)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 114) sehubungan dengan larangan kaum Quraisy kepada Nabi saw. untuk shalat dekat ka’bah, di dalam Masjidil Haram.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Zaid bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 114) tentang kaum musyrikin yang menghalangi Rasulullah dan para shahabatnya datang ke Mekah untuk mengerjakan umrah pada hari Hudaibiyyah (628 M). Ayat ini (al-Baqarah: 114) turun sebagai peringatan kepada orang yang melarang beribadat di mesjid Allah.

115. “Dan kepunyaan Allah-lah timur dan barat, Maka kemanapun kamu menghadap di situlah wajah Allah[83]. Sesungguhnya Allah Maha luas (rahmat-Nya) lagi Maha Mengetahui.”
(al-Baqarah: 115)

[83] Disitulah wajah Allah maksudnya; kekuasaan Allah meliputi seluruh alam; sebab itu di mana saja manusia berada, Allah mengetahui perbuatannya, Karena ia selalu berhadapan dengan Allah.

Diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, yang besumber dari Ibnu ‘Umar bahwa Ibnu ‘Umar membacakan ayat ini (al-Baqarah: 115), kemudian menjelaskan peristiwanya sebagai berikut: ketika Rasulullah saw. dalam perjalanan dari Mekah ke Madinah, beliau shalat di atas kendaraan menghadap sesuai dengan arah kendaraannya.

Diriwayatkan oleh al-Hakim yang bersumber dari Ibnu ‘Umar. Hadits ini sahih menurut syarat Muslim, terutama isnadnya. Bahwa turunnya ayat,… fa ainamaa tuwalluu…(..maka kemanapun kamu menghadap…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 115) membolehkan kita shalat sunat di atas kendaraan menghadap sesuai dengan arah kendaraan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari ‘Ali bin Abi Thalib, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Isnaad hadits ini kuat, dan maknanya pun membantu menguatkannya, sehingga dapat dijadikan dasar turunnya ayat tersebut. Bahwa ketika Rasulullah saw. hijrah ke Madinah, Allah swt. memerintahkan beliau untuk menghadap ke Baitul Maqdis di waktu shalat. Maka gembiralah kaum Yahudi. Rasulullah saw. melaksanakan perintah itu beberapa belas bulan lamanya, tetapi dalam hatinya ingin tetap menghadap ke kiblat Nabi Ibrahim a.s. (Mekah). Beliau selalu berdoa kepada Allah sambil menghadapkan muka ke langit, menantikan turunnya wahyu. Maka turunlah ayat, qad naraa taqalluba wajhika fis samaa’…(sungguh kami [sering] melihat mukamu menengadah ke langit..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 144). Kaum Yahudi menjadi bimbang karena turunnya ayat tersebut (al-Baqarah: 144) sehingga mereka berkata: “Apa yang menyebabkan mereka membelok dari kiblat yang mereka hadapi sekarang ini?” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 115) sebagai jawaban atas pertanyaan orang-orang Yahudi.

Hadits ini daif diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan ad-Daraquthni, dari Asy’ats as-Samman, dari ‘Ashim bin ‘Abdlillah, dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin Rabi’ah, yang bersumber dari bapaknya. Menurut at-Tirmidzi, riwayat ini gharib, dan Asy’ats didaifkan di dalam meriwayatkan hadits ini. Bahwa pada suatu malam gelap gulita, dalam suatu perjalanan bersama Rasulullah saw., mereka (para shahabat) tidak mengetahui arah kiblat. Mereka shalat ke arah hasil ijtihad masing-masing. Keesokan harinya mereka mengemukakan hal itu kepada Rasulullah saw.. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 115).

Diriwayatkan oleh ad-Daraquthni dan Ibnu Marduwaih, dari al-’Arzami, dari ‘Atha’, yang bersumber dari Jabir. Bahwa Rasulullah saw. pernah mengutus suatu pasukan perang (termasuk di dalamnya Jabir). Pada suatu waktu yang gelap gulita, mereka tidak mengetahui arah kiblat. Berkatalah segolongan dari mereka: “Kami tahu arah kiblat, yaitu arah ini (sambil menunjuk ke arah utara).” Mereka shalat dan membuat garis sesuai dengan arah shalat mereka. Segolongan lain berkata: “Kiblat di sebelah sana (sambil menunjuk ke arah selatan).” Mereka shalat dan membuat garis sesuai dengan arah shalat mereka. Keesokan harinya setelah matahari terbit, garis-garis itu tidak menunjukkan arah kiblat yang sebenarnya. Sesampainya di Madinah, bertanyalah mereka kepada Rasulullah saw. tentang hal itu. Beliau terdiam. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 115) sebagai penjelasan atas peristiwa tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih yang menerima dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa Rasulullah saw. mengirimkan suatu pasukan perang. Mereka diliputi kabut yang tebal, sehingga tidak mengetahui arah kiblat. Kemudian mereka shalat. Ternyata setelah terbit matahari, shalatnya tidak menghadap kiblat. Setibanya di hadapan Rasulullah saw., mereka menceritakan hal itu. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 115) yang membenarkan ijtihad mereka.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid bahwa ketika turun ayat,…ud’uunii astajiblakum..(..berdoalah kepada-Ku niscaya akan Ku-perkenankan bagimu…) (al-Mu’min: 60), para shahabat bertanya: “Kemana kami menghadap?” Maka turunlah,….fa ainamaa tuwalluu fa tsamma wajhullaah…(..maka kemanapun kamu menghadap, di situlah wajah Allah….) (Al-Baqarah: 115) sebagai jawaban terhadap pertanyaan mereka.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: