Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (8)

9 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

118. “Dan orang-orang yang tidak mengetahui berkata: “Mengapa Allah tidak (langsung) berbicara dengan kami atau datang tanda-tanda kekuasaan-Nya kepada kami?” demikian pula orang-orang yang sebelum mereka Telah mengatakan seperti Ucapan mereka itu; hati mereka serupa. Sesungguhnya kami Telah menjelaskan tanda-tanda kekuasaan kami kepada kaum yang yakin.”
(al-Baqarah: 118)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 118) sehubungan dengan Rafi’ bin Khuzaimah. Ketika itu ia berkata kepada Rasulullah saw.: “Jika tuan seorang Raulullah sebagaimana tuan katakan, mintalah kepada Allah agar Ia berbicara (langsung) kepada kami sehingga kami dapat mendengar Perkataan-Nya.” Ayat ini (al-Baqarah: 118) turun sebagai penjelasan bahwa kalaupun Allah mengabulkan permintaan mereka, mereka tetap akan kufur.

119. “Sesungguhnya kami Telah mengutusmu (Muhammad) dengan kebenaran; sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan, dan kamu tidak akan diminta (pertanggungan jawab) tentang penghuni-penghuni neraka.”
(al-Baqarah: 119)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari ats-Tsauri, dari Musa bin ‘Ubaidah, yang bersumber dari Muhammad bin Ka’b al-Qurazhi. Hadits ini mursal. Bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Betapa inginnya aku mengetahui nasib ibu-bapakku.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 119). Rasulullah saw. tidak menyebut-nyebut lagi kedua ibu bapaknya hingga beliau wafat. Ayat tersebut menjelaskan bahwa Nabi bertugas sebagai pembawa berita gembira dan pemberi peringatan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Ibnu Juraij yang bersumber dari Dawud binn Abi ‘Ashim. Hadits ini pun mursal. Bahwa Rasulullah saw. pada suatu hari berdoa: “Dimana ibu bapakku kini berada?” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 119).

120. “Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah Itulah petunjuk (yang benar)”. dan Sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, Maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.”
(al-Baqarah: 120)

Diriwayatkan oleh ats-Tsa’labi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa kaum Yahudi Madinah dan kaum Nasrani Najran mengharap agar Nabi saw. shalat menghadap kiblat mereka. Ketika Allah membelokkan kiblat ke arah Ka’bah, mereka merasa keberatan. Mereka berkomplot dan berusaha supaya Nabi saw. menyetujui kiblat sesuai dengan agama mereka. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 120), yang menegaskan bahwa orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada Nabi Muhammad walaupun keinginannya dikabulkan.

125. “Dan (ingatlah), ketika kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman. dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim[89] tempat shalat. dan Telah kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i’tikaf, yang ruku’ dan yang sujud”.
(al-Baqarah: 125)

[89] ialah tempat berdiri nabi Ibrahim a.s. diwaktu membuat Ka’bah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Umar. Bahwa ‘Umar menerangkan bahwa pendapatnya bersesuaian dengan firman Allah di dalam tiga perkara, yaitu 1) ketika ia mengemukakan usul: “Wahai Rasulallah. Tidakkah sebaiknya tuan jadikan maqaam Ibrahim* ini tempat shalat?” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah:125)** 2) ketika ia mengusulkan: “Telah berkunjung kepada istri-istri tuan orang baik dan orang jahat. Bagaimana sekiranya tuan memerintahkan supaya dipasang hijab (penghalang).” Maka turunlah ayat hijab (al-Ahzab: 53); dan 3) ketika Rasulullah saw. diboikot oleh istri-istrinya karena cemburu, maka ‘Umar berkata kepada mereka: “Mudah-mudahan Rabb-nya menceraikan kamu, dan menggantikan kamu dengan istri-istri yang lebih baik daripada kamu.” Maka turunlah ayat lainnya (at-Tahriim: 5) yang membenarkan peringatan ‘Umar terhadap istri-istri Nabi.

*maqaam Ibrahim: bekas telapak Nabi Ibrahim a.s. pada batu ketika membangun Ka’bah yang terdapat dalam Masjidil Haram di Mekah, Arab Saudi.
**sejak itu maqaam Ibrahim dijadikan tempat imam berdiri bagi orang-orang yang shalat di Masjidil Haram, dan disunahkan shalat sunah tawaf di tempat tersebut.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Jabir. Bahwa ketika Rasulullah saw. tawaf, berkatalah ‘Umar kepadanya: “Ini adalah maqaam bapak kita, Ibrahim.” Nabi bersabda: “Benar.” ‘Umar berkata lagi: “Apakah tidak sebaiknya kita menjadikannya tempat shalat?” Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 125).

Diriwayatkan oleh Ibnu Marduwaih dari ‘Amr bin Mainun yang bersumber dari ‘Umar bin al-Khaththab. Bahwa ‘Umar bin al-Khaththab lewat di maqaam Ibrahim bersama Rasulullah. ‘Umar berkata: “Wahai Rasulallah, apakah kita tidak berdiri shalat di maqaam kekasih Allah (Ibrahim a.s.)?” Rasulullah menjawab: “Benar.” Kemudian ‘Umar berkata: “Apakah kita tidak menjadikannya tempat shalat?” Tiada lama kemudian turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 125).

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: