Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (12)

11 Feb

asbabun nuzul surah al-qur-‘an

177. “Bukanlah menghadapkan wajahmu ke arah timur dan barat itu suatu kebajikan, akan tetapi Sesungguhnya kebajikan itu ialah beriman kepada Allah, hari Kemudian, malaikat-malaikat, kitab-kitab, nabi-nabi dan memberikan harta yang dicintainya kepada kerabatnya, anak-anak yatim, orang-orang miskin, musafir (yang memerlukan pertolongan) dan orang-orang yang meminta-minta; dan (memerdekakan) hamba sahaya, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat; dan orang-orang yang menepati janjinya apabila ia berjanji, dan orang-orang yang sabar dalam kesempitan, penderitaan dan dalam peperangan. mereka Itulah orang-orang yang benar (imannya); dan mereka Itulah orang-orang yang bertakwa.”
(al-Baqarah: 177)

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari Ma’mar yang bersumber dari Qatadah. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul ‘Aliyah. Bahwa Qatadah menerangkan tentang kaum Yahudi, yang menganggap bahwa yang baik itu shalat menghadap ke barat, sedang kaum Nasrani mengarah ke timur, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 177).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnul Mundzir, yang bersumber dari Qatadah. Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 177) sehubungan dengan pertanyaan seorang laki-laki yang ditujukan kepada Rasulullah saw. tentang al-birr (kebaikan). Setelah turun ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 177), Rasulullah memanggil kembali orang itu, dan dibacakannya ayat tersebut kepada orang tadi. Peristiwa itu terjadi sebelum diwajibkan shalat fardlu. Pada waktu itu apabila seseorang telah mengucapkan ‘asy hadu al-laa ilaaha illallaahu wa asy-hadu anna muhammadaran ‘abduhu wa rasuuluh (aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya), kemudian meninggal saat dia tetap beriman, harapan besar ia mendapat kebaikan. Akan tetapi kaum Yahudi menganggap yang baik itu ialah apabila shalat mengarah ke barat, sedang kaum Nasrani menghadap ke timur.

178. “Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh; orang merdeka dengan orang merdeka, hamba dengan hamba, dan wanita dengan wanita. Maka barangsiapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya, hendaklah (yang mema’afkan) mengikuti dengan cara yang baik, dan hendaklah (yang diberi ma’af) membayar (diat) kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik (pula). yang demikian itu adalah suatu keringanan dari Tuhan kamu dan suatu rahmat. barangsiapa yang melampaui batas sesudah itu, Maka baginya siksa yang sangat pedih[111].”
(al-Baqarah: 178)

[111] Qishaash ialah mengambil pembalasan yang sama. qishaash itu tidak dilakukan, bila yang membunuh mendapat kema’afan dari ahli waris yang terbunuh yaitu dengan membayar diat (ganti rugi) yang wajar. pembayaran diat diminta dengan baik, umpamanya dengan tidak mendesak yang membunuh, dan yang membunuh hendaklah membayarnya dengan baik, umpamanya tidak menangguh-nangguhkannya. bila ahli waris si korban sesudah Tuhan menjelaskan hukum-hukum ini, membunuh yang bukan si pembunuh, atau membunuh si pembunuh setelah menerima diat, Maka terhadapnya di dunia diambil qishaash dan di akhirat dia mendapat siksa yang pedih.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Sa’id bin Jubair. Bahwa ketika Islam hampir disyariatkan, pada zaman jahiliyah ada dua suku bangsa Arab yang berperang satu sama lainnya. Di antara mereka ada yang terbunuh dan yang luka-luka, bahkan mereka membunuh hamba sahaya dan wanita. Mereka belum sempat membalas dendam karena mereka masuk Islam. Masing-masing menyombongkan diri dengan jumlah pasukan dan kekayaannya serta bersumpah tidak rida apabila hamba sahaya yang terbunuh tidak diganti dengan orang merdeka, wanita diganti dengan pria. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 178) yang menegaskan hukum kisas.

184. “(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), Maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin. barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114], Maka Itulah yang lebih baik baginya. dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu Mengetahui.”
(al-Baqarah: 184)

[114] maksudnya memberi makan lebih dari seorang miskin untuk satu hari.

Diriwayatkan oleh Ibnu Sa’d di dalam kitab ath-thabaqaat, yang bersumber dari Mujahid. Bahwa ayat ini (al-Baqarah: 184) turun berkenaan dengan maulaa Qais bin as-Sa-ib yang memaksakan diri bershaum, padahal ia sudah tua sekali. Dengan turunnya ayat ini (al-Baqarah: 184), ia berbuka dan membayar fidyah dengan memberi makan seorang miskin selama ia tidak bershaum itu.

186. “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang aku, Maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepada-Ku, Maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) dan hendaklah mereka beriman kepada-Ku, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.”
(al-Baqarah: 186)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Marduwaih, Abusy Syaikh, dan lain-lain dari beberapa jalan, dari Jarir bin ‘Abdilhamid, dari ‘Abdah as-Sajastani, dari ash-Shalt bin Hakim bin Mu’awiyah bin Jayyidah, dari bapaknya, yang bersumber dari datuknya. Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan datangnya seorang Arab Badui kepada Nabi saw. yang bertanya: “Apakah Tuhan itu dekat, sehingga kami dapat munajat/memohon kepada-Nya, atau jauh, sehingga kami harus menyeru-Nya?” Nabi saw. terdiam, sehingga turunlah ayat ini (al-Baqarah: 186) sebagai jawaban atas pertanyaan itu.

Diriwayatkan oleh ‘Abdurrazzaq dari al-Hasan. Hadits ini mursal, tetapi ada beberapa sumber yang memperkuatnya. Bahwa ayat ini (al-Baqarah: 186) turun sebagai jawaban terhaap beberapa sahabat yang bertanya kepada Nabi saw.: “Dimanakah Rabb kita?”

Diriwayatkan oleh Ibnu ‘Asakir yang bersumber dari ‘Ali. Bahwa ayat ini (al-Baqarah: 186) turun berkenaan dengan sabda Rasulullah saw.: “Janganlah kalian berkecil hati dalam berdoa, karena Allah telah berfirman…ud’uunii astajib lakum..(…berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu…) (al-Mu’min: 60).” Berkatalah salah seorang di antara mereka: “Wahai Rasulallah. Apakah Tuhan mendengar doa kita, atau bagaimana?” sebagai jawabannya turunlah ayat ini (al-Baqarah: 186).

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari ‘Atha’ bin Abi Rabah. Bahwa setelah turun ayat, wa qaala rabbukum ud’uunii astajib lakum…(dan Rabb-mu berfirman: “Berdoalah kepada-Ku, niscaya akan Ku-perkenankan bagimu…) (al-Mu’min: 60), para sahabat tidak mengetahui bilamana waktu yang tepat untuk berdoa. Maka turunlah ayat ini (al-Baqarah: 186).

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: