Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (14)

11 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

189. “Mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit. Katakanlah: “Bulan sabit itu adalah tanda-tanda waktu bagi manusia dan (bagi ibadat) haji; dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya[116], akan tetapi kebajikan itu ialah kebajikan orang yang bertakwa. dan masuklah ke rumah-rumah itu dari pintu-pintunya; dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung.”
(al-Baqarah: 189)

[116] pada masa jahiliyah, orang-orang yang berihram di waktu haji, mereka memasuki rumah dari belakang bukan dari depan. hal Ini ditanyakan pula oleh para sahabat kepada Rasulullah s.a.w., Maka diturunkanlah ayat ini.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa yas-aluunaka ‘anil ahillah..(mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit..) sampai…lin naasi wal hajj…(…bagi manusia dan [bagi ibadat] haji…) (Al-Baqarah: 189) diturunkan sebagai jawaban terhadap banyaknya pertanyaan kepada Rasulullah saw. tentang peredaran bulan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Abul ‘Aliyah. Bahwa orang-orang bertanya kepada Rasulullah saw.: “Untuk apa diciptakan bulan sabit?” maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 189) sebagai penjelasan.

Diriwayatkan oleh Abu Nu’aim dan Ibnu ‘Asakir di dalam Kitab Tarikh Dimasyqa, dari as-Suddish Shaghir, dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa…yas-aluunaka ‘anil ahillah…(mereka bertanya kepadamu tentang bulan sabit…) sampai..lin naasi wal hajj..(..bagi manusia dan [bagi ibadat] haji..) (al-Baqarah: 189) ini berkenaan dengan pertanyaan Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah bin Ghunamah kepada Rasulullah saw.: “Ya Rasulallah. Mengapa bulan sabit itu mulai timbul kecil sehalus benang, kemudian bertambah besar hingga bundar dan kembali seperti semula, tiada tetap bentuknya?” sebagai jawabannya turunlah ayat tersebut.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari al-Barra’. Bahwa… wa laisa birru bi angta’tul buyuuta ming zhuhuurihaa…(…dan bukanlah kebajikan memasuki rumah-rumah dari belakangnya…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 189) diturunkan berkenaan dengan kebiasaan orang jahiliyah yang suka memasuki rumah dari pintu belakang sepulangnya menunaikan ihram di Baitullah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dan al-Hakim yang bersumber dari Jabir. Menurut al-Hakim hadits ini shahih. Ibnu Jabir meriwayatkan pula dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa orang-orang Quraisy yang diberi julukan al-hams (kesatria) menganggap baik apabila melakukan ihram, masuk dan keluar melalui pintunya. Akan tetapi kaum Anshar dan orang-orang Arab lainnya masuk dan keluar tidak melalui pintunya. Pada suatu hari orang-orang melihat Quthbah bin ‘Amir (dari kaum Anshar) keluar melalui pintu mengikuti Rasulullah saw.. Serempaklah mereka mengadu atas pelanggaran tersebut, sehingga Rasulullah segera menegurnya. Quthbah menjawab: “Saya hanya mengikuti apa yang tuan lakukan.” Rasulullah bersabda: “Aku ini seorang kesatria.” Quthbah menjawab: “Saya pun menganut agama tuan.” Maka turunlah,…wa laisal birru bi ang ta’tul buyuut… (dan bukan kebajikan memasuki rumah-rumah..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 189)

Diriwayatkan oleh ath-Thalayisi di dalam Musnad-nya, yang bersumber dari al-Barra’. Bahwa ayat ini (al-Baqarah: 189) turun berkenaan dengan kaum Anshar, yang apabila pulang dari perjalanan, tidak masuk rumah melalui pintunya.

Diriwayatkan oleh ‘Abd bin Humaid yang bersumber dari Qais bin Habtar an-Nahsyali. Bahwa peristiwanya sebagai berikut: pada waktu itu apabila orang-orang hendak berihram di Baitullah tidak masuk melalui pintunya, kecuali golongan kesatria (al-hams). Pada suatu hari Rasulullah saw. masuk dan keluar halaman baitullah melalui pintunya, diikuti oleh Rifa’ah bin Tabut, padahal ia bukan kesatria. Maka mengadulah orang-orang yang melihatnya: “Wahai Rasulallah. Rifa’ah melanggar.” Rasulullah bersabda kepada Rifa’ah: “Mengapa engkau berbuat demikian?” Ia berkata: “Saya mengikuti tuan.” Nabi bersabda: “Aku ini kesatria.” Ia menjawab: “Agama kita satu.” Maka turunlah,… wa laisal birru bi angta’tul buyuut..(…dan bukanlah kebajikan memasukki rumah-rumah…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 189).

190. “Dan perangilah di jalan Allah orang-orang yang memerangi kamu, (tetapi) janganlah kamu melampaui batas, Karena Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas.”
(al-Baqarah: 190)

191. “Dan Bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka Telah mengusir kamu (Mekah); dan fitnah[117] itu lebih besar bahayanya dari pembunuhan, dan janganlah kamu memerangi mereka di Masjidil Haram, kecuali jika mereka memerangi kamu di tempat itu. jika mereka memerangi kamu (di tempat itu), Maka Bunuhlah mereka. Demikanlah balasan bagi orang-orang kafir.”
(al-Baqarah: 191)

[117] fitnah (menimbulkan kekacauan), seperti mengusir sahabat dari kampung halamannya, merampas harta mereka dan menyakiti atau mengganggu kebebasan mereka beragama.

192. “Kemudian jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(al-Baqarah: 192)

193. “Dan perangilah mereka itu, sehingga tidak ada fitnah lagi dan (sehingga) ketaatan itu Hanya semata-mata untuk Allah. jika mereka berhenti (dari memusuhi kamu), Maka tidak ada permusuhan (lagi), kecuali terhadap orang-orang yang zalim.”
(al-Baqarah: 193)

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari al-Kalbi, dari Abu Shalih, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa ayat ini turun berkenaan dengan dengan perdamaian di Hudaibiyah, yaitu ketika Rasulullah saw. dicegat oleh kaum Quraisy untuk memasuki Baitullah. Adapun isi perdamaian tersebut antara lain, agar kaum Muslimin menunaikan umrah pada tahun berikutnya. Ketika Rasulullah saw. beserta para shahabatnya mempersiapkan diri untuk melaksanakan umrah sesuai dengan perjanjian, para shahabat khawatir kalau-kalau orang Quraisy tidak menepati janjinya, bahkan memerangi dan menghalangi mereka masuk masjidil Haram, padahal kaum Muslimin enggan berperang pada bulan haram. Turunnya ayat, wa qaatiluu fii sabiilillaahil ladziina…(dan berperanglah di jalan Allah orang-orang yang..) (al-Baqarah: 190) sampai (al-Baqarah: 193), membenarkan berperang untuk membalas serangan musuh.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: