Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (16)

11 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

tulisan arab surat albaqarah ayat 197“(Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi[122], barangsiapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, Maka tidak boleh rafats[123], berbuat fasik dan berbantah-bantahan di dalam masa mengerjakan haji. dan apa yang kamu kerjakan berupa kebaikan, niscaya Allah mengetahuinya. Berbekallah, dan Sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa[124] dan bertakwalah kepada-Ku Hai orang-orang yang berakal.” (al-Baqarah: 197)

[122] ialah bulan Syawal, Zulkaidah dan Zulhijjah.
[123] Rafats artinya mengeluarkan perkataan yang menimbulkan berahi yang tidak senonoh atau bersetubuh.
[124] maksud bekal takwa di sini ialah bekal yang cukup agar dapat memelihara diri dari perbuatan hina atau minta-minta selama perjalanan haji.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan selainnya, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa orang-orang Yaman apabila naik haji tidak membawa bekal apa-apa, dengan alasan tawakal kepada Allah. Maka turunlah…wa tazawwaduu fa inna khairaz zaadit taqwaa..(…berbekallah, dan sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa…), sebagian dari surah al-Baqarah ayat 197.

tulisan arab surat albaqarah ayat 198“Tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia (rezki hasil perniagaan) dari Tuhanmu. Maka apabila kamu Telah bertolak dari ‘Arafat, berdzikirlah kepada Allah di Masy’arilharam[125]. dan berdzikirlah (dengan menyebut) Allah sebagaimana yang ditunjukkan-Nya kepadamu; dan Sesungguhnya kamu sebelum itu benar-benar termasuk orang-orang yang sesat.” (al-Baqarah: 198)

[125] ialah bukit Quzah di Muzdalifah.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa pada zaman jahiliyah terkenal pasar-pasar yang bernama ‘Ukazh, Mijnah, dan Dzul Majaz. Kaum Muslimin merasa berdosa apabila di musim haji berdagang di pasar itu. Mereka bertanya kepada Rasulullah saw. tentang hal itu. Maka turunlah, laisa ‘alaikum junaahun ang tabtaghuu fadl-lam mir rabbikum..(tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia [rizki hasil perniagaan] dari Rabb-mu…) (awal surat al-Baqarah: 198) yang membenarkan mereka berdagang pada musim haji.

Diriwayatkan oleh Ahmad, Ibnu Abi Hatim, Ibnu Jarir, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Abu Umamah at-Taimi. Bahwa Abu Umamah at-Taimi bertanya kepada Ibnu ‘Umar tentang menyewakan kendaraan sambil menunaikan ibadah haji. Ibnu ‘Umar menjawab: “Pernah seorang laki-laki bertanya seperti itu kepada Rasulullah saw. yang seketika itu juga turun, laisa ‘alaikum junaahun ang tabtaghuu fadl-lam mir rabbikum..(tidak ada dosa bagimu untuk mencari karunia [rizki hasil perniagaan] dari Rabb-mu..) (al-Baqarah: 198). Rasulullah saw. memanggil orang itu dan bersabda: “Kamu termasuk orang yang menunaikan ibadah haji.”

tulisan arab surat albaqarah ayat 199“Kemudian bertolaklah kamu dari tempat bertolaknya orang-orang banyak (‘Arafah) dan mohonlah ampun kepada Allah; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (al-Baqarah: 199)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa orang-orang Arab wukuf di ‘Arafah, sedang orang-orang Quraisy wukuf di lembahnya (Muzdalifah). Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 199) yang mengharuskan wukuf di ‘Arafah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Mundzir yang bersumber dari Asma’ binti Abi Bakr. Bahwa orang-orang Quraisy wukuf di dataran rendah Mudzalifah, dan selain orang Quraisy wukuf di dataran tinggi ‘Arafah, kecuali Syaibah bin Rabi’ah. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 199) yang mewajibkan wukuf di ‘Arafah.

tulisan arab surat albaqarah ayat 200-202“Apabila kamu Telah menyelesaikan ibadah hajimu, Maka berdzikirlah dengan menyebut Allah, sebagaimana kamu menyebut-nyebut (membangga-banggakan) nenek moyangmu[126], atau (bahkan) berdzikirlah lebih banyak dari itu. Maka di antara manusia ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami (kebaikan) di dunia”, dan tiadalah baginya bahagian (yang menyenangkan) di akhirat.” (al-Baqarah: 200)

[126] adalah menjadi kebiasaan orang-orang Arab Jahiliyah setelah menunaikan haji lalu Bermegah-megahan tentang kebesaran nenek moyangnya. setelah ayat Ini diturunkan Maka memegah-megahkan nenek moyangnya itu diganti dengan dzikir kepada Allah.

“Dan di antara mereka ada orang yang bendoa: “Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa neraka”[127].” (al-Baqarah: 201)

[127] inilah doa yang sebaik-baiknya bagi seorang muslim.

“Mereka Itulah orang-orang yang mendapat bahagian daripada yang mereka usahakan; dan Allah sangat cepat perhitungan-Nya.”
(al-Baqarah: 202)

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa orang-orang Jahiliyah wukuf di musim pasar. Sebagian dari mereka selalu membangga-banggakan nenek moyangnya yang telah membagi-bagikan makanan, meringankan beban, serta membayarkan diat (denda orang lain). Dengan kata lain, di saat wukuf itu mereka menyebut-nyebut apa yang pernah dilakukan nenek moyangnya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 200) sampai,….asyadda dzikraa…(… berdzikirlah lebih banyak dari itu..), sebagai petunjuk apa yang harus dilakukan di saat wukuf.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid. Bahwa orang-orang di masa itu apabila telah melakukan manasik, berdiri di sisi jumrah menyebut-nyebut jasa nenek moyang di zaman jahiliyah. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 200) sebagai petunjuk apa yang harus dilakukan di sisi jumrah.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa salah satu suku bangsa Arab, sesampainya di tempat wukuf, mereka berdoa: “Ya Allah, semoga Allah menjadikan tahun ini tahun yang banyak hujan, tahun makmur yang membawa kemajuan dan kebaikan.” Mereka tidak menyebut-nyebut urusan akhirat sama sekali. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas sampai akhir ayat (al-Baqarah: 200), sebagai petunjuk bagaimana seharusnya berdoa. Setelah itu kaum Muslimin berdoa sesuai dengan petunjuk dalam al-Qur’an (al-Baqarah: 201), yang kemudian ditegaskan oleh Allah swt. dengan ayat berikutnya (al-Baqarah: 202).

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: