Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (18)

11 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

tulisan arab surat albaqarah ayat 217-218“Mereka bertanya kepadamu tentang berperang pada bulan Haram. Katakanlah: ‘Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar; tetapi menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah, (menghalangi masuk) Masjidilharam dan mengusir penduduknya dari sekitarnya, lebih besar (dosanya) di sisi Allah[134]. dan berbuat fitnah[135] lebih besar (dosanya) daripada membunuh.’ Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup. barangsiapa yang murtad di antara kamu dari agamanya, lalu dia mati dalam kekafiran, Maka mereka Itulah yang sia-sia amalannya di dunia dan di akhirat, dan mereka Itulah penghuni neraka, mereka kekal di dalamnya.” (al-Baqarah: 217)

[134] jika kita ikuti pendapat Ar Razy, Maka terjemah ayat di atas sebagai berikut: Katakanlah: “Berperang dalam bulan itu adalah dosa besar, dan (adalah berarti) menghalangi (manusia) dari jalan Allah, kafir kepada Allah dan (menghalangi manusia dari) Masjidilharam. tetapi mengusir penduduknya dari Masjidilharam (Mekah) lebih besar lagi (dosanya) di sisi Allah.” pendapat Ar Razy Ini mungkin berdasarkan pertimbangan, bahwa mengusir nabi dan sahabat-sahabatnya dari Masjidilharam sama dengan menumpas agama Islam.
[135] fitnah di sini berarti penganiayaan dan segala perbuatan yang dimaksudkan untuk menindas Islam dan muslimin.

“Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
(al-Baqarah: 218)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, ath-Thabarani di dalam Kitab al-Kabiir, al-Baihaqi di dalam Sunan-nya, yang bersumber dari Jundub bin ‘Abdillah. Bahwa Rasulullah saw. mengirimkan pasukan di bawah pimpinan ‘Abdullah bin Jahsy. Mereka berpapasan dan bertempur dengan pasukan musuh yang dipimpin oleh Ibnul Hadlrami, dan terbunuhlah kepala pasukan musuh. Sebenarnya waktu itu tidak jelas bagi pasukan ‘Abdullah bin Jahsy, apakah termasuk bulan Rajab, Jumadilawal, atau Jumadilakhir. Kaum musyrikin menghembus-hembuskan berita bahwa kaum Muslimin berperang di bulan haram. Maka Allah menurunkan ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 217).
Kaum Muslimin yang ada di Madinah berkata: “Perbuatan mereka berperang dengan pasukan Ibnul Hadlarami ini mungkin tidak berdosa, tetapi juga tidak akan mendapat pahala.” Maka Allah menurunkan ayat selanjutnya (al-Baqarah: 218)

tulisan arab surat albaqarah ayat 219-220“Mereka bertanya kepadamu tentang khamar[136] dan judi. Katakanlah: ‘Pada keduanya terdapat dosa yang besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosa keduanya lebih besar dari manfaatnya’. dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: ‘yang lebih dari keperluan.’ Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir,” (al-Baqarah: 219)

[136] segala minuman yang memabukkan.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa segolongan shahabat, ketika diperintah untuk membelanjakan hartanya di jalan Allah, datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Kami tidak mengetahui perintah infak yang bagaimana dan harta yang mana yang harus kami keluarkan itu?” Maka Allah menurunkan ayat,….wa yas-aluunaka maadzaa yungfiquuna qulil ‘afwa…(…dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan, katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”..) (al-Baqarah: 219), yang menegaskan bahwa yang harus dikeluarkan nafkahnya itu ialah selebihnya dari keperluan sehari-hari.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang bersumber dari Yahya. Bahwa Mu’adz bin Jabal dan Tsa’labah menghadap Rasulullah saw. dan bertanya: “Ya Rasulallah, kami mempunyai banyak hamba sahaya (‘abid) dan banyak pula anggota keluarga. Harta mana yang harus kami keluarkan untuk infak?” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 219) yaitu,…wa yas-aluunaka maadzaa yungfiquuna qulil ‘afwa…(…dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: “Yang lebih dari keperluan”…).

“Tentang dunia dan akhirat. dan mereka bertanya kepadamu tentang anak yatim, katakalah: “Mengurus urusan mereka secara patut adalah baik, dan jika kamu bergaul dengan mereka, Maka mereka adalah saudaramu; dan Allah mengetahui siapa yang membuat kerusakan dari yang mengadakan perbaikan. dan Jikalau Allah menghendaki, niscaya dia dapat mendatangkan kesulitan kepadamu. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 220)

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas bahwa ketika turun ayat wa laa taqrabuu maalal yatiimi illaa bil latii hiya ahsan…(dan janganlah kemu dekati harta anak yatim, kecuali dengan cara yang lebih bermanfaat…) (al-an’am: 152) dan ayat, innal ladziina ya’kuluuna amwaalal yataamaa zhulmaa..(sesungguhnya orang-orang yang memakan harta anak yatim secara zalim..) sampai akhir ayat (an-Nisa’: 10), orang yang memelihara anak yatim memisahkan makanan dan minumannya dari makanan dan minuman anak yatim. Begit juga sisanya dibiarkan membusuk kalau tidak dihabiskan oleh anak-anak yatim itu. Hal tersebut memberatkan mereka. Lalu mereka menghadap Rasulullah saw. untuk menceritakan hal itu. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 220) yang membenarkan menggunakan cara lain yang lebih baik.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: