Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (19)

11 Feb

asbabun nuzul surah al-qu’an

tulisan arab surat albaqarah ayat 221“Dan janganlah kamu menikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman. Sesungguhnya wanita budak yang mukmin lebih baik dari wanita musyrik, walaupun dia menarik hatimu. dan janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mukmin) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mukmin lebih baik dari orang musyrik, walaupun dia menarik hatimu. mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. dan Allah menerangkan ayat-ayat-Nya (perintah-perintah-Nya) kepada manusia supaya mereka mengambil pelajaran.” (al-Baqarah: 221)

Diriwayatkan oleh Ibnul Mudzir, Ibnu Abi Hatim, dan al-Wahidi, yang bersumber dari Muqatil. Bahwa turunnya ayat, wa laa tangkihul musyrikaati hattaa yu’minn..(dan janganlah kamu nikahi wanita-wanita musyrik, sebelum mereka beriman..) (al-Baqarah: 221) sebagai petunjuk atas permohonan Ibnu Abi Murtsid al-Ghanawi yang meminta izin kepada Nabi saw. untuk menikah dengan seorang wanita musyrik yang cantik dan terpandang.

Diriwayatkan oleh al-Wahidi dari as-Suddi, dari Abu Malik, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi, hadits ini munqathi’. Bahwa kelanjutan ayat tersebut di atas, mulai dari… wa laa amatum mu’minatun khair…(…sesungguhnya wanita budak yang Mukmin lebih baik…) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 221), berkenaan dengan ‘Abdullah bin Rawahah yang mempunyai hamba sahaya wanita yang hitam. Pada suatu waktu ia marah kepadanya, sampai menamparnya. Ia menyesali kejadian itu, lalu menghadap Nabi saw. ia menceritakan hal itu seraya berkata: “Saya akan memerdekakan dia dan mengawininya.” Kemudian iapun melaksanakannya. Pada waktu itu orang-orang mencela dan mengejeknya atas perbuatannya itu. Ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 221) menegaskan bahwa kawin dengan seorang hamba sahaya Muslimah, lebih baik daripada kawin dengan wanita musyrik.

tulisan arab surat albaqarah ayat 222-223“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: ‘Haidh itu adalah suatu kotoran’. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri[137] dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci[138]. apabila mereka Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.” (Al-Baqarah: 222)

[137] maksudnya menyetubuhi wanita di waktu haidh.
[138] ialah sesudah mandi. Adapula yang menafsirkan sesudah berhenti darah keluar.

Diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari Anas. Dalam hadits yang diriwayatkan oleh al-Barudi yang bersumber dari Ibnu Ishaq, dari Muhammad bin Abi Muhammad, dari ‘Ikrimah atau Sa’id, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, dikatakan bahwa yang bertanya itu ialah Tsabit bin ad-Dahdah. Dan Ibnu Jarir meriwayatkan pula hadits seperti itu, yang bersumber dari as-Suddi. Bahwa orang-orang Yahudi tidak mau makan bersama-sama ataupun mencampuri istrinya yang sedang haid, bahkan mengasingkannya dari rumah. Para shahabat bertanya kepada Nabi saw. tentang hal itu. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 222). Bersabdalah Nabi saw.: “Berbuatlah apa yang pantas dilakukan dalam pergaulan suami-istri, kecuali jimak.”

“Isteri-isterimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, Maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. dan kerjakanlah (amal yang baik) untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan Ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (al-Baqarah: 223)

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari Jabir. Bahwa orang-orang Yahudi beranggapan bahwa apabila menggauli istrinya dari belakang ke farjinya, maka anaknya akan lahir bermata juling. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 223) yang membantah anggapan tersebut.

Diriwayatkan oleh Ahmad dan at-Tirmidzi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ‘Umar datang menghadap Rasulullah saw. dan berkata: “Ya Rasulullah, celakalah saya.” Nabi bertanya: “Apa yang menyebabkan kamu celaka?” Ia menjawab: “Aku pindahkan ‘sudutku’ (berjimak dengan istri dari belakang) tadi malam.” Nabi saw. terdiam, dan turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 223) yang kemudian beliau lanjutkan: “Berbuatlah dari depan atau dari belakang, tetapi hindari dubur (anus) dan bilamana istri sedang haid.”

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, Abu Ya’la, dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Zaid bin Aslam, dari ‘Atha’ bin Yasar, yang bersumber dari Sa’id al-Khudri. Hadits seperti ini diriwayatkan juga oleh al-Bukhari, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar. Bahwa orang-orang pada waktu itu menganggap mungkar orang yang menggauli istrinya dari belakang. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 223) yang menyalahkan sikap dan anggapan tersebut.

Diriwayatkan oleh ath-Thabarani, di dalam kitab al-Ausath dengan sanad yang kuat, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar. Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 223) sebagai pemberian kelonggaran menggauli istrinya dari belakang.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan al-Hakim, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa penghuni kampung di sekitar Yatsrib (Madinah), -tadinya menyembah berhala- tinggal berdampingan dengan kaum Yahudi ahli kitab. Mereka menganggap bahwa kaum Yahudi terhormat dan berilmu, sehingga mereka banyak meniru dan menganggap baik segala perbuatannya. Salah satu perbuatan kaum Yahudi yang dianggap baik oleh mereka ialah tidak menggauli istri dari belakang.
Adapun penduduk kampung sekitar Quraisy (Mekah) menggauli istrinya dengan segala keleluasannya. Ketika kaum Muhajirin (orang Mekah) tiba di Madinah, salah seorang dari mereka kawin dengan seorang wanita Anshar (orang Madinah). Ia berbuat seperti kebiasaannya, tetapi ditolak oleh istrinya dengan berkata: “Kebiasaan orang sini, hanya menggauli istri dari muka.” Kejadian ini akhirnya sampai kepada Nabi saw., sehingga turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 223) yang membolehkan menggauli istri dari depan, belakang, atau telentang, tetapi di tempat yang lazim.

Keterangan: menurut al-Hafizh Ibu Hajar dalam syarah al-Bukhari, sebab turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 223) yang dikemukakan oleh Abu Sa’id, mungkin tidak sampai ke Ibnu ‘Abbas, sehingga ia meragukannya. Sedang yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Umar, sanadnya sampai kepada Ibnu ‘Abbas dan masyur (terkenal sanadnya).

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: