Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (20)

11 Feb

asbabun nuzul surah al-qura’an

tulisan arab surah al baqarah ayat 224“Jangahlah kamu jadikan (nama) Allah dalam sumpahmu sebagai penghalang untuk berbuat kebajikan, bertakwa dan mengadakan ishlah di antara manusia[139]. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 224)

[139] Maksudnya: melarang bersumpah dengan mempergunakan nama Allah untuk tidak mengerjakan yang baik, seperti: demi Allah, saya tidak akan membantu anak Yatim. tetapi apabila sumpah itu Telah terucapkan, haruslah dilanggar dengan membayar kafarat.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij. Bahwa ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 224) diturunkan berkenaan dengan sumpah Abu Bakr untuk tidak memberi belanja lagi kepada Misthah, karena ia ikut memfitnah Siti ‘Aisyah. Ayat tersebut di ata sebagai teguran agar sumpah itu tidak menghalangi seseorang untuk berbuat kebaikan.

tulisan arab surat albaqarah ayat 228“Wanita-wanita yang ditalak handaklah menahan diri (menunggu) tiga kali quru'[142]. tidak boleh mereka menyembunyikan apa yang diciptakan Allah dalam rahimnya, jika mereka beriman kepada Allah dan hari akhirat. dan suami-suaminya berhak merujukinya dalam masa menanti itu, jika mereka (para suami) menghendaki ishlah. dan para wanita mempunyai hak yang seimbang dengan kewajibannya menurut cara yang ma’ruf. akan tetapi para suami, mempunyai satu tingkatan kelebihan daripada isterinya[143]. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” (al-Baqarah: 228)

[142] Quru’ dapat diartikan Suci atau haidh.
[143] hal Ini disebabkan Karena suami bertanggung jawab terhadap keselamatan dan kesejahteraan rumah tangga (lihat surat An Nisaa’ ayat 34).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan Ibnu Abi Hatim, yang bersumber dari Asma’ binti Yazid bin as-Sakan. Bahwa Asma’ binti Yazid bin as-Sakan al-Anshariyyah berkata mengenai turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 228) sebagai berikut: “Pada zaman Rasulullah saw. aku ditalak oleh suamiku di saat belum ada hukum idah bagi wanita yang ditalak. Maka Allah menetapkan hukum idah bagi wanita, yaitu menunggu setelah bersuci dari tiga kali haid.”

Diriwayatkan oleh ats-Tsa’labi dan Hibatullah bin Salamah di dalam kitab an-Nasikh, yang bersumber dari al-Kalbi dan Muqatil. Bahwa Isma’il bin ‘Abdillah al-Ghifari mencerai istrinya, Qathilah, di zaman Rasulullah saw., ia sendiri tidak mengetahui bahwa istrinya itu hamil. Setelah ia mengetahuinya, iapun rujuk kepada istrinya. Istrinya melahirkan dan meninggal, demikian juga bayinya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 228) yang menegaskan betapa pentingnya masa idah bagi wanita, untuk mengetahui hamil tidaknya seorang istri.

tulisan arab surat albaqarah ayat 229-230“Talak (yang dapat dirujuki) dua kali. setelah itu boleh rujuk lagi dengan cara yang ma’ruf atau menceraikan dengan cara yang baik. tidak halal bagi kamu mengambil kembali sesuatu dari yang Telah kamu berikan kepada mereka, kecuali kalau keduanya khawatir tidak akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. jika kamu khawatir bahwa keduanya (suami isteri) tidak dapat menjalankan hukum-hukum Allah, Maka tidak ada dosa atas keduanya tentang bayaran yang diberikan oleh isteri untuk menebus dirinya[144]. Itulah hukum-hukum Allah, Maka janganlah kamu melanggarnya. barangsiapa yang melanggar hukum-hukum Allah mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (al-Baqarah: 229)

[144] ayat inilah yang menjadi dasar hukum khulu’ dan penerimaan ‘iwadh. Kulu’ yaitu permintaan cerai kepada suami dengan pembayaran yang disebut ‘iwadh.

Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, al-Hakim, dan lain-lain, yang bersumber dari ‘Aisyah. Bahwa seorang laki-laki menalak istrinya sekehendak hati. Menurut anggapannya, selama rujuk itu dilakukan dalam masa idah, wanita itu tetap istrinya, walaupun sudah seratus kali ditalak ataupun lebih. Laki-laki itu berkata kepada istrinya: “Demi Allah, aku tidak akan menalakmu, dan kamu tetap berdiri di sampingku sebagai istriku, dan aku tidak akan menggaulimu sama sekali.” Istrinya berkata: “Apa yang akan kamu lakukan?” Suaminya menjawab: “Aku menceraikanmu, kemudian apabila akan habis idahmu, aku akan rujuk lagi.” Maka menghadaplah wanita itu kepada Rasulullah saw. untuk menceritakan hal itu. Rasulullah terdiam, sehingga turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 229) sampai kata…bi ihsaan…(…dengan cara yang baik..).

Diriwayatkan oleh Abu Dawud di dalam kitab an-Naasikh wal Mansuukh, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa seorang laki-laki memakan harta benda istrinya dan maskawin yang ia berikan sewaktu kawin, dan juga harta lainnya. Ia menganggap bahwa perbuatannya itu tidak berdosa. Maka turunlah ayat,….wa laa yahillu lakum ang ta’khudzuu…(… tidak halal bagi kamu mengambil kembali..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 229), yang melarang merampas hak istri.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Juraij. Bahwa turunnya ayat.. wa laa yahillu lakum..(…tidak halal bagi kamu..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 229), berkenaan dengan Habibah yang mengadu kepada Rasulullah saw. tentang suaminya yang bernama Tsabit bin Qais. Rasulullah saw. bersabda: “Apakah engkau sanggup memberikan kembali kebunnya (maskawinnya)?” Ia menjawab: “Ya.” Kemudian Rasulullah saw. memanggil Tsabit bin Qais seraya menerangkan pengaduan istrinya yang akan mengembalikan kebunnya. Maka berkatalah Tsabit bin Qais: “Apakah kebun itu halal bagiku?” Nabi menjawab: “Ya.” Ia berkta: “Saya terima.”
Kejadian ini membenarkan seorang suami menerima kembali maskawin yang dikembalikan istrinya sebagai tanda sahnya si istri memutus hubungan perkawinan.

“Kemudian jika si suami mentalaknya (sesudah Talak yang kedua), Maka perempuan itu tidak lagi halal baginya hingga dia kawin dengan suami yang lain. Kemudian jika suami yang lain itu menceraikannya, Maka tidak ada dosa bagi keduanya (bekas suami pertama dan isteri) untuk kawin kembali jika keduanya berpendapat akan dapat menjalankan hukum-hukum Allah. Itulah hukum-hukum Allah, diterangkan-Nya kepada kaum yang (mau) Mengetahui.” (al-Baqarah: 230)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Muqatil bin Hibban. Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 230) berkenaan dengan pengaduan ‘Aisyah binti ‘Abdirrahman bin ‘Atik kepada Rasulullah saw. bahwa ia telah ditalak oleh suaminya yang kedua (‘Abdurrahman bin Zubair al-Qurazhi) dan akan kembali kepada suaminya yang pertama (Rifa’ah bin Wahb bin ‘Atik) yang telah menalak baa’in (talak yang tidak bisa dirujuk karena sudah 3 kali, kecuali kalau si istri telah kawin dulu dengan yang lain). ‘Aisyah berkata: “Abdurrahman bin Zubair telah menalak saya sebelum menggauli. Apakah saya boleh kembali kepada suami yang pertama?” Nabi menjawab: “Tidak, kecuali kamu sudah digauli oleh suami kedua.”
Kejadian ini membenarkan seorang suami yang telah menalak baa’in istrinya untuk mengawini kembali istrinya, setelah istrinya itu digauli dan diceraikan oleh suaminya yang kedua.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: