Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (21)

11 Feb

asbabun nuzul surah al-qur’an

tulisan arab surat albaqarah ayat 231“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu mereka mendekati akhir iddahnya, Maka rujukilah mereka dengan cara yang ma’ruf, atau ceraikanlah mereka dengan cara yang ma’ruf (pula). janganlah kamu rujuki mereka untuk memberi kemudharatan, Karena dengan demikian kamu menganiaya mereka[145]. barangsiapa berbuat demikian, Maka sungguh ia Telah berbuat zalim terhadap dirinya sendiri. janganlah kamu jadikan hukum-hukum Allah permainan, dan ingatlah nikmat Allah padamu, dan apa yang Telah diturunkan Allah kepadamu yaitu Al Kitab dan Al hikmah (As Sunnah). Allah memberi pengajaran kepadamu dengan apa yang diturunkan-Nya itu. dan bertakwalah kepada Allah serta Ketahuilah bahwasanya Allah Maha mengetahui segala sesuatu.” (al-Baqarah: 231)

[145] Umpamanya: memaksa mereka minta cerai dengan cara khulu’ atau membiarkan mereka hidup terkatung-katung.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari al-‘Aufi yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa ada seorang laki-laki yang menceraikan istrinya, kemudian merujuknya sebelum habis idahnya, terus menceraikannya lagi dengan maksud menyusahkan dan mengikat istrinya agar tidak bisa kawin dengan yang lain. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 231)

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari as-Suddi. Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 231) berkenaan dengan Tsabit bin Yasar al-Anshari yang menalak istrinya. Tetapi setelah hampir habis idahnya, ia merujuknya kembali, lalu menceraikannya lagi, dengan maksud menyakiti istrinya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Abi ‘Umar di dalam Musnad-nya dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Abud Darda’. Diriwayatkan pula oleh Ibnul Mundzir yang besumber dari ‘Ubadah bin ash-Shamit. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari al-Hasan, yang haditsnya mursal. Bahwa seorang laki-laki menalak istrinya, kemudian berkata: “Sebenarnya aku hanya main-main saja.” Kemudian ia memerdekakan hambanya, tetapi tidak lama kemudian ia berkata: “Aku hanya main-main saja.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 231) sebagai teguran atas perbuatan seperti itu.

tulisan arab surat albaqarah ayat 232“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, Maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya[146], apabila Telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang ma’ruf. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.”  (al-Baqarah: 232)

[146] kawin lagi dengan bekas suami atau dengan laki-laki yang lain.

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud, at-Tirmidzi, dan lain-lain, yang bersumber dari Ma’qil bin Yasar. Dan diriwayatkan pula oleh Ibnu Marduwaih dari beberap sumber. Bahwa Ma’qil bin Yasar mengawinkan saudaranya kepada seorang laki-laki Muslim. Beberapa lama kemudian, dicerainya dengan satu talak. Setelah habis idahnya, mereka berdua ingin kembali lagi. Maka datanglah laki-laki tadi bersama ‘Umar bin al-Khaththab untuk meminangnya. Ma’qil menjawab: “Hai orang celaka. Aku memuliakan kamu, dan aku kawinkan kamu dengan saudaraku, tapi kamu ceraikan dia. Demi Allah dia tidak akan aku kembalikan kepadamu.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 232) yang melarang wali menghalangi hasrat perkawinan kedua orang itu.
Ketika Ma’qil mendengar ayat itu, ia berkata: “Aku dengar, dan kutaati Rabb-ku.” Ia memanggil orang itu dan berkata: “Aku kawinkan kamu kepadanya dan aku muliakan kamu.”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi, yang bersumber dari as-Suddi. Riwayat yang bersumber dari Ma’qil lebih shahih dan lebih kuat. Bahwa turunnya ayat ini (al-Baqarah: 232) berkenaan dengan Jabir bin ‘Abdillah al-Anshari yang mempunyai saudara misan, yang telah dicerai oleh suaminya dengan satu talak. Setelah habis idahnya, bekas suaminya datang kembali. Akan tetapi Jabir tidak mau meluluskan pinangannyaa, padahal si wanita itu ingin kembali kepada bekas suaminya. Ayat ini melarang wali menghalangi hasrat perkawinan kedua orang itu.

tulisan arab surah al baqarah ayat 238“Peliharalah semua shalat(mu), dan (peliharalah) shalat wusthaa[152]. Berdirilah untuk Allah (dalam shalatmu) dengan khusyu’.” (al-Baqarah: 238)

[152] Shalat wusthaa ialah shalat yang di tengah-tengah dan yang paling utama. ada yang berpendapat, bahwa yang dimaksud dengan Shalat wusthaa ialah shalat Ashar. menurut kebanyakan ahli hadits, ayat Ini menekankan agar semua shalat itu dikerjakan dengan sebaik-baiknya.

Diriwayatkan oleh Ahmad, al-Bukhari di dalam Tarikh-nya, Abu Dawud, al-Baihaqi, dan Ibnu Jabir, yang bersumber dari Zaid binTsabit. Bahwa Nabi saw. shalat dzuhur di waktu hari sangat panas. Shalat seperti itu sangat berat dirasakan oleh shahabat-shahabatnya. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 238) yang menyuruh melaksanakan shalat bagaimanapun beratnya.

Diriwayatkan oleh Ahmad, an-Nasa-i, dan Ibnu Jarir, yang bersumber dari Zaid bin Tsabit. Bahwa Nabi saw. shalat dzuhur di waktu hari sangat panas. Di belakang Rasulullah tidak lebih dari satu atau dua shaf saja yang mengikutinya. Kebanyakan di antara mereka sedang tidur siang, ada pula yang sedang sibuk berdagang. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 238)

Diriwayatkan oleh Imam yang enam dan yang lainnya, yang bersumber dari Zaid bin Arqam. Bahwa pada zaman Rasulullah saw. ada orang-orang yang suka bercakap-cakap dengan kawan yang ada di sampingnya saat mereka shalat. Maka turunlah ayat,…wa quumuu lillaahi qaanitiin (berdirilah karena Allah [dalam shalatmu] dengan khusuk) (al-Baqarah: 238) yang memerintahkan supaya diam pada waktu sedang shalat, dan melarang bercakap-cakap.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Mujahid. Bahwa ada orang-orang yang bercakap-cakap di waktu shalat, dan ada pula yang menyuruh temannya menyelesaikan dulu keperluannya (di waktu sedang shalat). Maka turunlah ayat, ….wa quumuu lillaahi qaanitiin (berdirilah karena Allah [dalam shalatmu] dengan khusuk) (al-Baqarah: 238), yang memerintahkan supaya khusuk manakala shalat.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: