Asbabun Nuzul Surah Al-Baqarah (22)

11 Feb

asbabun nuzul surah al-Qur’an

tulisan arab surah al baqarah ayat 240“Dan orang-orang yang akan meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan isteri, hendaklah berwasiat untuk isteri-isterinya, (yaitu) diberi nafkah hingga setahun lamanya dan tidak disuruh pindah (dari rumahnya). akan tetapi jika mereka pindah (sendiri), Maka tidak ada dosa bagimu (wali atau waris dari yang meninggal) membiarkan mereka berbuat yang ma’ruf terhadap diri mereka. dan Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.”
(al-Baqarah: 240)

Diriwayatkan oleh Ishaq bin Rahawaih di dalam Tafsir-nya yang bersumber dari Muqatil bin Hibban. Bahwa seorang laki-laki dari Thaif datang ke Madinah bersama anak-istri dan kedua orang tuanya, yang kemudian meninggal dunia di sana. Hal ini disampaikan kepada Nabi saw.. Beliau membagikan harta peninggalannya kepada anak-anak dan ibu-bapaknya, sedang istrinya tidak diberi bagian. Hanya saja mereka yang diberi bagian diperintahkan untuk memberi belanja kepadanya dari tirkah (peninggalan) suaminya itu selam satu tahun. Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 240) yang membenarkan tindakan Rasulullah saw. untuk memberikan nafkah selama setahun kepada istri yang ditinggal mati oleh suaminya.

tulisan arab surah al baqarah ayat 241“Kepada wanita-wanita yang diceraikan (hendaklah diberikan oleh suaminya) mut’ah[153] menurut yang ma’ruf, sebagai suatu kewajiban bagi orang-orang yang bertakwa.” (al-Baqarah: 241)

[153] mut’ah (pemberian) ialah sesuatu yang diberikan oleh suami kepada isteri yang diceraikannya sebagai penghibur, selain nafkah sesuai dengan kemampuannya.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir yang bersumber dari Ibnu Zaid. Bahwa ketika turun ayat,…wa matti’uuhunna ‘alal muusi’i qadaruhuu wa ‘alal muqtiri qadaruh…(…dan hendaklah kamu berikan suatu mut’ah [pemberian] kepada mereka. Orang yang mampu menurut kemampuannya dan orang yang miskin menurut kemampuannya [pula]..) (al-Baqarah: 236), berkatalah seorang laki-laki: “Jika keadaanku sedang baik, akan aku lakukan, tapi jika aku tidak mau, aku tidak akan melakukannya.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 241), yang menegaskan kewajiban suami untuk memberi bekal kepada istrinya yang telah diceraikan.

tulisan arab surah al baqarah ayat 245“Siapakah yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik (menafkahkan hartanya di jalan Allah), Maka Allah akan meperlipat gandakan pembayaran kepadanya dengan lipat ganda yang banyak. dan Allah menyempitkan dan melapangkan (rezki) dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.” (al-Baqarah: 245)

Diriwayatkan oleh Ibnu Hibban di dalam Kitab Shahih-nya, Ibnu Abi Hatim, dan Ibnu Marduwaih, yang bersumber dari Ibnu ‘Umar. Bahwa ketika turun ayat, matsalul ladziina yungfiquuna amwaalahum fi sabiilillaahi ka matsali habbah…(perumpamaan [nafkah yang dikeluarkan oleh] orang-orang yang menafkahkan hartanya di jalan Allah adalah serupa dengan sebutir benih..) sampai akhir ayat (al-Baqarah: 261), berdoalah Rasulullah saw.: “Ya Rabb. Semoga Engkau melipatgandakan untuk umatku.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 245) yang menjanjikan akan melipatgandakan tanpa batas.

tulisan arab surat albaqarah ayat 256“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); Sesungguhnya Telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thaghut[162] dan beriman kepada Allah, Maka Sesungguhnya ia Telah berpegang kepada buhul tali yang amat Kuat yang tidak akan putus. dan Allah Maha mendengar lagi Maha Mengetahui.” (al-Baqarah: 256)

[162] Thaghut ialah syaitan dan apa saja yang disembah selain dari Allah s.w.t.

Diriwayatkan oleh Abu Dawud, an-Nasa-i, dan Ibnu Hibban, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa sebelum Islam datang, ada seorang wanita yang selalu kematian anaknya. Ia berjanji kepada dirinya, apabila mempunyai anak dan hidup, ia akan menjadikannya Yahudi. Ketika Islam datang dan kaum Yahudi Banin Nadlir diusir dari Madinah (karena pengkhianatannya), ternyata anak tersebut dan beberapa anak lainnya yang sudah termasuk keluarga Anshar, terdapat bersama-sama kaum Yahudi. Berkatalah kaum Anshar: “Jangan kita biarkan anak-anak itu bersama mereka.” Maka turunlah ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 256) sebagai teguran bahwa tidak ada paksaan dalam Islam.

Diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari Sa’id atau ‘Ikrimah, yang bersumber dari Ibnu ‘Abbas. Bahwa turunnya ayat tersebut di atas (al-Baqarah: 256) berkenaan dengan al-Hushain dari golongan Anshar, suku Bani Salim bin ‘Auf yang mempunyai dua orang anak yang beragama Nasrani, sedang ia sendiri seorang Muslim. Ia bertanya kepada Nabi saw.: “Bolehkah saya paksa kedua anak itu, karena mereka tidak taat kepadaku, dan tetap ingin beragama Nasrani?” Allah menjelaskan jawabannya dengan ayat tersebut bahwa tidak ada paksaan dalam Islam.

Sumber: Al-Qur’anul Kariim;
Asbabun Nuzul, KHQ Shaleh dkk;

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: