Asbabun Nuzul (3)

19 Feb

Sebab Nuzul Al-Qur’an


Yang Menjadi Pegangan adalah Lafal yang Umum, bukan Sebab yang Khusus

Apabila ayat yang diturunkan sesuai dengan sebab secara umum, atau sesuai dengan sebab secara khusu, maka yang umum (‘amm) diterapkan pada keumumannya dan yang khusus (khass) pada kekhususannya. Contoh yang pertama adalah firman Allah:

“Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. Katakanlah: “Haidh itu adalah suatu kotoran”. oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh; dan janganlah kamu mendekati mereka, sebelum mereka suci. apabila mereka Telah suci, Maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang mensucikan diri.”
(al-Baqarah: 222)

Anas berkata: “Bila istri orang-orang Yahudi haid, mereka dikeluarkan dari rumah, tidak diberi makan dan minum, dan di dalam rumah tidak boleh bersama-sama. Lalu Rasulullah ditanya tentang hal itu, maka Allah menurunkan: Mereka bertanya kepadamu tentang haid… Kemudian kata Rasulullah: jaami’uu hunna fil buyuuti, washna’uu kulla syai-in illan nikaah (bersama-samalah dengan mereka di rumah, dan perbuatlah segala sesuatu kecuali menggaulinya).

Contoh kedua ialah firman-Nya:
“Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka itu, Yang menafkahkan hartanya (di jalan Allah) untuk membersihkannya, Padahal tidak ada seseorangpun memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya, Tetapi (Dia memberikan itu semata-mata) Karena mencari keridhaan Tuhannya yang Maha Tinggi. Dan kelak dia benar-benar mendapat kepuasan.”
(al-Lail: 17-21)

Ayat-ayat di atas diturunkan mengenai Abu Bakr. Kata al-atqa (orang yang paling takwa) menurut tasrif berbentuk af’al untuk menunjukkan arti superlatif, tafdil yang disertai al-‘adiyah (kata sandang yang menunjukkan bahwa kata yang dimasukinya itu telah diketahui maksudnya), sehingga ia dikhususkan bagi orang yang karenanya ayat itu diturunkan. Kata sandang “al” menunjukkan arti umum bila ia berfungsi sebagai kata ganti penghubung (isim mausul) atau mu’arrifah (berfungsi memakrifatkan) bagi kata jamak, menurut pendapat yang kuat. Sedang ‘al’ dalam kata ‘al-atqa’ bukan kata ganti penghubung, sebab kata ganti penghubung tidak dirangkaikan dengan bentuk superlatif; lagipula ‘al-atqa’ bukan kata jamak, melainkan kata tunggal. Al-‘ahdu atau apa yang telah diketahui itu sendiri sudah ada, di samping bentuk superlatif af’al itu khusus menunjukkan yang membedakan. Dengan demikian, hal ini telah cukup untuk membatasi makna ayat pada orang yang karenanya ayat itu diturunkan. Oleh sebab itu, al-Wahidi berkata: “Al-atqa adalah Abu Bakr ash-Shiddiq menurut pendapat para ahli tafsir.”

Menurut ‘Urwah, Abu Bakr telah memerdekakan tujuh orang budak yang disiksa karena membela agama Allah: Bilal, ‘Amir bin Fuhairah, Nahdiyah dan anak permpuannya, Umm ‘Isa dan budak perempuan Bani Mau’il. Untuk itu turunlah ayat “Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa itu dari neraka” sampai dengan akhir surah (hadits riwayat Ibn Abi Hatim).

Hal yang serupa diriwayatkan dari ‘Amr bin Abdullah bin Zubair, yang menambahkan: “Maka berkenaan dengan Abu Bakr tersebut turunlah ayat ini (Adapun orang yang memberikan hartanya di jalan Allah dan bertakwa) sampai dengan (padahal tidak ada seorang pun yang memberikan suatu nikmat kepadanya yang harus dibalasnya; tetapi ia memberikan itu semua semata-mata karena mencari keridlaan Tuhannya Yang Mahatinggi; dan kelak benar-benar ia mendapatkan kepuasannya) (Hadist riwayat al-Hakim dan dishahihkannya pula).”

Jika sebab itu khusu, sedang ayat yang turun berbentuk umum, maka para ahli usuh berselisih pendapat: yang dijadikan pegangan itu lafal yang umum ataukah sebab yang khusus.
1. Jumhur ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah lafal yang umum dan bukan sebab yang khusus. Hukum yang diambil dari lafal yang umum itu melampaui bentuk sebab yang khusu sampai pada hal-hal yang serupa dengan itu. Misalnya ayat “li’aan” yang turun mengenai tuduhan Hilal bin Umayah kepada istrinya.
“Dari Ibnu Abbas, Hilal bin Umayah menuduh istrinya telah berbuat zina dengan Syuraik bin Sahma’ di hadapan Nabi. Maka Nabi berkata: ‘Harus ada bukti, bila tidak maka punggungmu yang didera.’ Hilal berkata: ‘Wahai Rasulallah, apabila salah seorang di antara kami melihat seorang laki-laki mendatangi istrinya; apakah ia harus mencari bukti?’ Rasulullah menjawab: ‘Harus ada bukti, bila tidak maka punggungmu yang didera.’ Hilal berkata: ‘Demi Yang mengutus engkau dengan kebenaran, sesungguhnyalah perkataanku itu benar dan Allah benar-benar akan menurunkan apa yang membebaskan punggungku dari dera.’ Maka turunlah Jibril dan menurunkan kepada Nabi: (Dan orang-orang yang menuduh istrinya) sampai dengan (jika suaminya itu termasuk orang-orang yang benar) (an-Nuur: 6-9).

Hukum yang diambil dari lafal umum ini (Dan orang-orang yang menuduh istrinya) tidak hanya mengenai peristiwa Hilal, tetapi diterapkan pula pada kasus serupa lainnya tanpa memerlukan dalil lain.
Inilah pendapat yang kuat dan paling shahih. Pendapat ini sesuai dengan keumuman (universalitas) hukum-hukum syariat. Dan ini pulalah jalan yang ditempuh para shahabat dan para mujtahid umat ini. Mereka menerapkan hukum ayat-ayat tertentu kepada peristiwa-peristiwa lain yang bukan merupakan sebab turunnya ayat-ayat tersebut. Misalnya ayat zihar dalam kasus Aus bin Samit, atau Salamah bin Sakhr sesuai dengan keumuman redaksi ayat-ayat yang diturunkan untuk sebab-sebab khusus sudah populer di kalangan para ahli. Ibnu Taimiyah berkata: “Hal yang demikian ini sering kali terjadi. Dan termasuk ke dalam bab ini adalah ucapan mereka: Ayat ini diturunkan dalam hal seperti ini; khususnya apabila yang disebutkan itu orang tertentu. Seperti ucapan mereka: ayat zihar itu turun mengenai istri Aus bin Samit; dan ayat kalalah turun mengenai Jabir bin ‘Abdullah; dan firman-Nya (dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka) (al-Maidah: 49) turun mengenai Bani Quraizah dan Bani Nadlir.

Begitu pula mereka menyebutkan bahwa ayat ini turun mengenai kaum musyrikin Mekah, atau kaum Yahudi dan Nasrani, atau kaum yang beriman. Pernyataan ini tidak dimaksudkan bahwa hukum ayat-ayat tersebut hanya berlaku khusus bagi orang-orang itu dan tidak berlaku bagi orang lain. Hal sedemikian sama sekali tidak akan dikatakan oleh seorang Muslim atau orang yang berakal. Sebab, sekalipun mereka (para ulama) berselisih pendapat tentang lafal umum yang turun berdasarkan sesuatu sebab, adakah lafal umum itu hanya berlaku khusus bagi sebab turunnya itu? Tetapi tidak seorangpun di antara mereka yang mengatakan bahwa keumuman kitab dan sunah itu dikhususkan kepada orang-orang tertentu. Yang mereka katakan ialah: Ayat yang umum itu khusus mengenai ‘jenis’ perkara orang tersebut, sehingga berlaku umum bagi khusus yang serupa dengannya. Keumuman ayat tidak hanya didasarkan pada keumuman lafal. Ayat yang mempunyai sebab tertentu, bila berupa perintah atau larangan, berlaku bagi orang (sebab) tertentu, dan orang lain yang kedudukan sama dengannya. Apabila ayat itu berisi pujian atau celaan, maka pujian dan celaan itu ditujukan kepada orang tersebut dan orang lain yang sama kedudukannya.”
2. Segolongan ulama berpendapat bahwa yang menjadi pegangan adalah sebab khusus, bukan lafal umum; karena lafal umum itu menunjukkan bentuk sebab yang khusus. Oleh karena itu untuk dapat diberlakukan kepada kasus selain sebab diperlukan dalil lain seperti kias dan sebagainya, sehingga pemindahan riwayat sebab yang khusus itu mengandung faedah; dan sebab tersebut sesuai dengan musababnya seperti halnya pertanyaan dengan jawabannya.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: