Arsip | 16.30

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nashr

20 Feb

Tafsir Ibnu Katsir; Tafsir Al-Qur’an Surah An-Nashr
Surat Madaniyyah;
Surat ke 110: 3 ayat

An-Nasa-i meriwayatkan dari ‘Ubaidillah bin ‘Abdillah bin ‘Utbah, dia berkata: “Ibnu ‘Abbas pernah berkata kepadaku: ‘Wahai Ibnu ‘Utbah, apakah engkau tahu akhir surat al-Qur’an yang diturunkan?’ ‘Ya, idzaajaa-a nashrullaahi walfath (“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenganngan.” Jawabku. Diapun berkata: ‘Engkau benar.’” Dua orang hafidz, Abu Bakar al-Bazzar dan al-Baihaqi meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, dia berkata: “Surat ini, idzaajaa-a nashrullaahi walfath (“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”) turun kepada Rasulullah saw di pertengahan hari-hari tasyriq, sehingga beliau mengetahui bahwa ia merupakan surat yang terakhir. Kemudian beliau memerintahkan binatang tunggangannya, al-Qushwa’, untuk melakukan perjalanan, maka unta beliau pun berangkat. Selanjutnya beliau berdiri dan berkhutbah kepada orang-orang. Lalu disebutkan khutbah beliau yang sangat terkenal itu.

tulisan arab alquran surat an nashr ayat 1-3

1. Apabila Telah datang pertolongan Allah dan kemenangan,2. Dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, 3. Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya dia adalah Maha Penerima taubat.”
(an-Nashr: 1-3)

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Umar pernah memasukkanku ke dalam deretan para pemuka perang Badr. Ada beberapa orang di antara mereka yang merasa keberatan dan mengatakan: ‘Mengapa orang ini dimasukkan ke dalam deretan kami, padahal kami memiliki anak-anak yang seusia dengannya?’ Maka ‘Umar berkata: ‘Sesungguhnya dia termasuk orang yang sudah kalian kenal.’ Pada suatu hari dia memanggil mereka. Pada hari itu aku tidak mengira kalau dia memanggilku ke tengah-tengah mereka melainkan untuk memberikan pendapat kepada mereka. ‘Umar berkata: ‘Bagaimana pendapat kalian mengenai firman Allah, idzaajaa-a nashrullaahi walfath (“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”) Sebagian mereka mengatakan: ‘Kita diperintahkan untuk memanjatkan pujian kepada Allah dan memohon ampun kepada-Nya, karena Dia telah memberi pertolongan dan kemenangan kepada kita.’ Ada sebagian lagi yang diam tidak melontarkan sepatah katapun. Kemudian ‘Umar bertanya kepadaku: ‘Apa pendapatmu juga demikian wahai Ibnu ‘Abbas?’ Lalu kukatakan: ‘Tidak.’ ‘Lalu bagaimana pendapatmu?’ tanya ‘Umar. Maka akupun menjawab: ‘Itulah ajal Rasulullah saw. yang Dia beritahukan kepada beliau. Allah berfirman idzaajaa-a nashrullaahi walfath (“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”), dan demikianlah tanda ajalmu, fasabbih bihamdi rabbika was taghfirhu innahuu kaana tawwaabaa (“maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Mahapenerima taubat.”)’. Kemudian ‘Umar bin al-Khaththab berkata: ‘Aku tidak mengetahuinya kecuali apa yang kau katakan itu.’” Hadits ini hanya diriwayatkan oleh al-Bukhari.

Dan penafsiran yang diberikan oleh beberapa orang sahabat dari teman-teman ‘Umar secara keseluruhan adalah bahwa kita telah diperintahkan untuk memanjatkan pujian kepada Allah, bersyukur kepada-Nya serta bertasbih dan memohon ampunan kepada-Nya, karena Dia telah memberikan kepada kita atas beberapa kota dan benteng. Dan itu merupakan penafsiran yang benar yang telah ditetapkan satu syahid baginya dari shalat Nabi saw. pada saat berlangsungnya pembebasan kota Mekah pada pagi hari sebanyak delapan rakaat. Ada beberapa orang yang menyatakan bahwa yang demikian itu adalah shalat dhuha. Pernyataan itu dijawab bahwa beliau tidak mengerjakan shalat tersebut secara terus menerus setiap hari, lalu bagaimana mungkin beliau mengerjakan shalat tersebut pada hari itu padahal pada saat itu bermukim di Mekah? Oleh karena itu beliau bermukim di sana sampai akhir bulan Ramadlan, hampir mendekati 19 hari beliau mengqashar shalat dan tidak berpuasa yang juga diikuti oleh seluruh bala tentara yang jumlahnya sekitar 10 ribu orang.

Orang-orang itu mengatakan bahwa shalat tersebut adalah shalat al-Fath (kemenangan). Mereka mengatakan: “Dengan demikian, disunnahkan bagi panglima perang jika mendapat kemenangan atas suatu negeri untuk mengerjakan shalat di sana ketika pertama kali memasuki negeri tersebut sebanyak delapan rakaat.” Dan demikianlah yang dikerjakan oleh Sa’ad bin Abi Waqqash pada hari pembebasan beberapa kota. Kemudian sebagian mereka mengatakan: “Dia mengerjakan delapan rakaat itu dalam satu salam.” Dan yang benar adalah dia mengucapkan salam setiap dua rakaat. Sedangkan penafsiran yang diberikan oleh Ibnu ‘Abbas dan ‘Umar bahwa di dalam surat ini Allah memberitahu Rasulullah saw. tentang ruh beliau yang mulia. Dan Dia memberitahu, jika kamu (Muhammad) telah berhasil membebaskan kota Mekah, yaitu kampungmu sendiri yang dirimu dulu telah diusir darinya, sedang orang-orang berduyun-duyun memeluk agama Allah. Dan kini perhatian Kami kepadamu di dunia sudah berakhir, karenanya bersiap-siaplah untuk menghadap Kami. Sebab, akhirat lebih baik bagimu daripada dunia. Dan kelak, Rabbmu akan memberimu anugerah sehingga kamu menjadi puas. Oleh karena itu Allah berfirman: “fasabbih bihamdi rabbika was taghfirhu innahuu kaana tawwaabaa (“maka bertasbihlah dengan memuji Rabbmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Mahapenerima taubat.”).

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah, dia berkata: “Rasulullah saw. memperbanyak bacaan dalam rukuk dan sujudnya: subhaanaka allaahumma rabbanaa wabihamdika allaahummagh firlii (“Mahasuci Allah, ya Allah, ya Rabb kami, dan dengan memuji-Mu. Ya Allah, berikanlah ampunan kepadaku.”).

Dan diriwayatkan oleh al-Jama’ah kecuali at-Tirmidzi. Dan dia mengatakan: “Ibnu Jarir memberitahu kami. Dan kami telah menulis hadits kaffarat majelis dari semua jalan dan lafazh-lafazhnya yang disampaikan di dalam satu buku tersendiri. Dan kami telah menguraikan tentang perang al fath ini di dalam buku kami, as-Sirah, dan bagi yang berminat silakan merujuk kepadanya.

Taubat 3 (Akhlak Islam)

20 Feb

3. Dosa Kecil yang Menjadi Besar

a. Dilakukan terus menerus. Rasulullah bersabda: “Tidak ada dosa kecil apabila dilakukan dengan terus menerus dan tidak ada dosa besar apabila disertai dengan istighfar.” Allah juga berfirman: “Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingat akan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah? dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang mereka Mengetahui.” (QS 3: 135).
b. Menganggap remeh akan dosa. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Mukmin dalam melihat dosa-dosanya, bagaikan seorang yang berada di puncak gunung, yang selalu khawatir tergelincir jatuh. Adapun orang fasik dalam melihat dosanya bagaikan seseorang yang dihinggapi lalat dihidungnya, maka dia usir begitu saja.” (HR Muslim)
c. Bergembira dengan dosanya. Allah berfirman: “Dan apabila dikatakan kepadanya: “Bertakwalah kepada Allah”, bangkitlah kesombongannya yang menyebabkannya berbuat dosa. Maka cukuplah (balasannya) neraka jahannam. dan sungguh neraka Jahannam itu tempat tinggal yang seburuk-buruknya.” (QS 2: 206)
d. Merasa aman dari makar Allah. Allah berfirman: “Apakah tidak kamu perhatikan orang-orang yang Telah dilarang mengadakan pembicaraan rahasia, Kemudian mereka kembali (mengerjakan) larangan itu dan mereka mengadakan pembicaraan rahasia untuk berbuat dosa, permusuhan dan durhaka kepada rasul. dan apabila mereka datang kepadamu, mereka mengucapkan salam kepadamu dengan memberi salam yang bukan sebagai yang ditentukan Allah untukmu. dan mereka mengatakan kepada diri mereka sendiri: “Mengapa Allah tidak menyiksa kita disebabkan apa yang kita katakan itu?” cukuplah bagi mereka Jahannam yang akan mereka masuki. dan neraka itu adalah seburuk-buruk tempat kembali.” (QS 58: 8)
e. Terang-terangan dalam berbuat maksiat. Rasulullah bersabda: “Semua umatku akan diampuni dosanya kecuali orang yang mujaharah (terang-terangan dalam berbuat dosa) dan yang termasuk mujaharah adalah: seorang yang melakukan perbuatan dosa di malam hari, kemudian hingga pagi hari Allah telah menutupi dosa tersebut, kemudian dia berkata: ‘Wahai fulan, semalam saya berbuat ini dan berbuat itu.’ Padahal Allah telah menutupi dosa tersebut semalaman, tapi di pagi hari dia buka tutup Allah tersebut.” (HR Bukhari-Muslim).
f. Yang melakukan perbuatan dosa itu adalah orang yang menjadi teladan. Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang memberi contoh di dalam Islam dengan contoh yang jelek, dia akan mendapat dosanya dan dosa orang lain yang mengikutinya setelah dia tanpa dikurangi dosa tersebut sedikitpun.” (HR Muslim).

Jalan Menuju Taubat

1. Mengetahui hakekat taubat. Yakni: menyesal, meninggalkan kemaksiatan tersebut dan berazam untuk tidak mengulanginya lagi. Sahal bin Abdillah berkata: “Tanda-tanda orang yang bertaubat adalah: dosanya telah menyibukkan dia dari makan dan minumnya, seperti kisah tiga sahabat yang tertinggal perang.”
2. Merasakan akibat dosa yang dilakukan. Ulama salaf berkata: “Sungguh ketika saya bermaksiat pada Allah, saya bisa melihat akibat dari maksiat saya itu pada kuda dan istri saya.”
3. Menghindar dari lingkungan yang buruk. Seperti dalam kisah seseorang yang membunuh 100 orang. Gurunya berkata: “Pergilah ke negeri sana, sesungguhnya di sana ada orang-orang yang menyembah Allah dengan baik, maka sembahlah Allah di sana bersama mereka dan janganlah kamu kembali ke negerimu, karena negerimu adalah negeri yang buruk.”
4. Membaca Al-Qur’an dan mentaddaburinya.
5. Berdoa. Allah berfirman mengisahkan Nabi Ibrahim: “Ya Tuhan kami, jadikanlah kami berdua orang yang tunduk patuh kepada Engkau dan (jadikanlah) diantara anak cucu kami umat yang tunduk patuh kepada Engkau dan tunjukkanlah kepada kami cara-cara dan tempat-tempat ibadat haji kami, dan terimalah Taubat kami. Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (QS 2: 128). Al-Maraghi berkata: “Yang dimaksud ‘terimalah taubat kami’ adalah: ‘Bantulah kami untuk bertaubat agar kami bisa bertaubat dan kembali kepada-Mu.’”
6. Mengetahui keagungan Allah yang Maha Pencipta. Para ulama salaf berkata: “Janganlah engkau melihat kecilnya maksiat, tapi lihatlah keagungan yang engkau durhakai.”
7. Mengingat mati dan kejadiannya yang tiba-tiba.
8. Mempelajari ayat-ayat dan hadits-hadits yang menakuti orang-orang yang berdosa.
9. Membaca sejarah orang-orang yang bertaubat.

Taubat 2 (Akhlak Islam)

20 Feb

1. Syarat-syarat Taubat

Allah berfirman: “Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubat) mereka, hingga apabila bumi Telah menjadi sempit bagi mereka, padahal bumi itu luas dan jiwa merekapun Telah sempit (pula terasa) oleh mereka, serta mereka Telah mengetahui bahwa tidak ada tempat lari dari (siksa) Allah, melainkan kepada-Nya saja. Kemudian Allah menerima Taubat mereka agar mereka tetap dalam taubatnya. Sesungguhnya Allah-lah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang.” (at-Taubah: 118).
1. Meninggal dosa tersebut. Ibnul Qayyim berkata: “Taubat mustahil terjadi,m sementara dosa tetap dilakukan.”
2. Menyesal atas perbuatannya. Rasulullah bersabda: “Menyesal adalah taubat.”
3. Berazam untuk tidak melakukannya lagi. Ibnu Mas’ud berkata: “Taubat yang benar adalah: Taubat dari kesalahan yang tidak akan diulangi kembali, bagaikan mustahilnya air susu kembali pada kantong susunya lagi.”
4. Mengembalikan hak yang dirampas kepada pemiliknya atau minta dihalalkan. Imam Nawawi berkata: “Diantara syarat taubat adalah mengembalikan kedzoliman kepada pemiliknya, atau meminta untuk dihalalkan.”
5. Ikhlash. Ibnu Hajar berkata: “Taubat tidak sah kecuali dengan ikhlash.” Allah berfirman: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubat yang semurni-murninya.” (QS 66: 8). Yang dimaksud taubat yang murni adalah taubat yang ikhlash.
6. Taubat dilakukan pada masa diterimanya taubat. Masa diterimanya taubat adalah: 1) sebelum saat sakaratul maut. 2) sebelum matahari terbit dari barat. Allah berfirman: “18. Dan tidaklah Taubat itu diterima Allah dari orang-orang yang mengerjakan kejahatan (yang) hingga apabila datang ajal kepada seseorang di antara mereka, (barulah) ia mengatakan : “Sesungguhnya saya bertaubat sekarang”. dan tidak (pula diterima taubat) orang-orang yang mati sedang mereka di dalam kekafiran. bagi orang-orang itu Telah kami sediakan siksa yang pedih.” (QS 4: 18).
Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah menerima taubat seorang hamba, selama belum dalam sakaratul maut.” (HR Tirmidzi). Dalam hadits lain Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah membentangkan tangan-Nya pada malam hari untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan kesalahan di siang hari. Dan Allah membentangkan tangan-Nya pada siang hari untuk menerima taubat orang-orang yang melakukan kesalahan di malam hari.” (HR Muslim). Dalam hadits yang lain Rasulullah bersabda: “Barang siapa yang bertaubat sebelum matahari terbit dari barat, Allah akan menerima taubatnya.” (HR. Muslim).

2. Macam-macam Dosa

a. Dosa besar. Yaitu dosa yang disertai ancaman hukuman di dunia, atau ancaman hukuman di akhirat. Abu Thalib Al-Makki berkata: “Dosa besar itu ada 17 macam yaitu 4 macam di hati (sirik, terus-menerus berbuat kemaksiatan, putus asa, dan merasa aman dari siksa Allah). 4 macam pada lisan (kesaksian palsu, menuduh berbuat zina pada wanita baik-baik, sumpah palsu dan mengalkan sihir). 3 macam di perut (minum khamr, memakan harta anak yatim, memakan riba). 2 macam di kemaluan (zina, homoseksual). 2 macam di tangan (membunuh, mencuri). 1 di kaki (lari dari peperangan), 1 di seluruh badan (durhaka terhadap orang tua).
b. Dosa kecil. Yaitu dosa-dosa selain yang disebutkan di atas.

Taubat 1 (Akhlak Islam)

20 Feb

1. Definisi Taubat

a. Menurut bahasa: Kembali
b. Menurut istilah: Kembali mendekat kepada Allah setelah menjauhi-Nya.
c. Hakekat taubat: menyesal terhadap apa yang telah terjadi, meninggalkan perbuatan tersebut saat itu juga, dan ber-azam yang kuat untuk tidak mengulangi perbuatan tersebut dimasa yang akan datang.

2. Urgensi Taubat

1. Banyak yang tidak tahu akan hakekat taubat, syarat dan adab-adabnya. Oleh karena itu banyak yang bertaubat hanya dengan lisan saja, sedang hati mereka kosong. Para ulama mengatakan: “Taubatnya para pembohong adalah taubat dengan ujung lidah mereka, mereka mengatakan: ‘Saya mohon ampun dan bertaubat kepada Allah.’ Tapi mereka tidak berhenti melakukan maksiat.
2. Allah memerintahkan untuk taubat. Perintah tersebut diulang sebanyak 87 kali, dan Allah juga memerintahkan Rasulullah untuk bertaubat. Allah berfirman: “..dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, Hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (24: 31)
Firman Allah dalam ayat lain: “Hai orang-orang yang beriman, bertaubatlah kepada Allah dengan taubatan nasuhaa (taubat yang semurni-murninya)….” (QS 66: 8).
Rasulullah bersabda: “Wahai manusia, bertaubatlah kepada Allah, sesungguhnya aku bertaubat kepada Allah dalam sehari 100 kali.” (HR Muslim).
3. Barang siapa tidak bertaubat kepada Allah berarti dzolim terhadap diri sendiri. Allah berfirman: “Barang siapa yang tidak bertaubat, maka mereka itulah orang-orang yang dzalim.” (QS 49: 11)
4. Taubat adalah ibadah yang paling utama. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.” (QS 2: 222).

3. Buah-buah Taubat

1. Taubat adalah jalan menuju keberuntungan. Allah berfirman: “Dan bertaubatlah kamu sekalian kepada Allah, hai orang-orang yang beriman supaya kamu beruntung.” (QS 24: 31).
Ibnul Qayyim berkata: “Janganlah mengharapkan keberuntungan kecuali orang-orang yang bertaubat.”
2. Malaikat berdoa untuk orang-orang yang bertaubat. Allah berfirman: ” (Malaikat-malaikat) yang memikul ‘Arsy dan malaikat yang berada di sekelilingnya bertasbih memuji Tuhannya dan mereka beriman kepada-Nya serta memintakan ampun bagi orang-orang yang beriman (seraya mengucapkan): “Ya Tuhan kami, rahmat dan ilmu Engkau meliputi segala sesuatu, Maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertaubat dan mengikuti jalan Engkau dan peliharalah mereka dari siksaan neraka yang menyala-nyala,” (QS 40: 7)
3. Mendapat kemudahan hidup dan rizki yang luas. Allah berfirman: “3. Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepada-Nya. (jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya dia akan memberi kenikmatan yang baik (terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang Telah ditentukan” (QS 11: 3). Dan firman Allah: “Dan (Dia berkata): “Hai kaumku, mohonlah ampun kepada Tuhanmu lalu bertobatlah kepada-Nya, niscaya dia menurunkan hujan yang sangat deras atasmu, dan dia akan menambahkan kekuatan kepada kekuatanmu, dan janganlah kamu berpaling dengan berbuat dosa.” (QS 11: 52). Dan Allah berfirman: “..Maka Aku katakan kepada mereka: ‘Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, -sesungguhnya dia adalah Maha Pengampun-,Niscaya dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, Dan membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10-12).
4. Penghapus kesalahan dan pengampun dosa. Dalam hadits qudsi Rasulullah bersabda, bahwa Allah berfirman: “Wahai anak Adam, sesungguhnya engkau telah berdoa kepada-Ku dan mengharap kepada-Ku. Aku telah ampunkan dosa-dosamu. Dan aku tidak menghiraukan, wahai anak Adam, andaikan dosa-dosamu setinggi langit, kemudian engkau meminta ampun kepada-Ku, aku akan mengampunimu. Dan Aku tidak menghiraukan, wahai anak Adam, andaikan kamu datang kepada-Ku dengan kesalahan sebesar bumi, kemudian engkau tdiak pernah mempersekutukan pada-Ku dengan sesuatu apapun, Aku akan datang kepadamu dengan ampunan sebesar bumi pula.” Dan Rasulullah bersabda: “Orang yang bertaubat dari kesalahan bagaikan orang yang tidak punya dosa.” Dalam hadits lain: “Taubat itu menghapuskan dosa-dosa yang lalu.”
5. Hati menjadi bersih dan bersinar. Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seorang Mukmin jika melakukan perbuatan dosa, maka akan terjadi titik hitam di dalam qalbunya, jika dia bertaubat dan minta ampun pada Allah, kembali cemerlang hatinya, jika dosanya bertambah, bertambah pula titik hitam tersebut, sehingga menutupi hatinya. Itulah ‘ar-ron’ yang disebut oleh Allah dalam firman-Nya: ‘Sekali-sekali tidak (demikian) sebenarnya apa yang selalu mereka usahakan itu menutupi hati mereka.’” (HR. Tirmidzi)
6. Dicintai Allah. Allah berfirman: “Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang taubat dan menyukai orang-orang yang menyucikan diri.”