Tafsir Al-Qur’an Surah Ar-Rahman (6)

22 Feb

Tafsir Ibnu Katsir; Surah Ar-Rahman (Yang Maha Pemurah);
Surah Madaninyyah; Surah ke 55: 78 ayat

Ia tidak mengutamakan kehidupan duniawi serta mengetahui bahwa kehidupan akhirat itu lebih baik dan lebih abadi, sehingga ia menunaikan semua yang telah diwajibkan Allah serta menjauhi semua larangan-Nya. Dan pada hari kiamat kelak, di sisi Rabb-nya, ia mempunyai dua surga. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh al-Bukhari, dari Abu Bakr bin ‘Abdullah bin Qais, dari ayahnya, bahwa Rasulullah telah bersabda:

“Dua surga yang bejana dan semua yang ada di dalamnya terbuat dari perak, dan dua surga yang bejana dan semua yang ada di dalamnya terbuat dari emas. Dan jarak antara suatu kaum dan kesempatan mereka melihat Rabb-nya hanya selapis selendang kebesaran pada wajah-Nya di Surga ‘Adn.” (diriwayatkan oleh al-Bukhari dan para perawi lainnya kecuali Abu Dawud dari hadits ‘Abdul ‘Aziz).

Hammad bin Salamah menceritakan dari Tsabit, dari Abu Bakr bin Abi Musa, dari ayahnya, Hammad mengatakan: “Aku tidak mengetahuinya melainkan telah di “rafa’” dalam firman Allah Ta’ala: wa liman khaafa maqaama rabbihii jannataan (dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua Surga) dan dalam firman-Nya: wa min duunihimaa jannataan (“Dan selain dari dua surga itu ada dua surga lagi”) (ar-Rahman: 62). Dua surga dari emas bagi para Muqarrabuun (orang-orang yang mendekatkan diri kepada-Nya), dan dua surga dari perak bagi Ash-haabul Yamiin (orang-orang yang mendapatkan buku catatannya dengan tangan kanan). Ayat ini berlaku umum, baik bagi kalangan manusia maupun jin. Dan ia merupakan dalil paling kuat yang menunjukkan bahwa jin dapat masuk surga jika mereka beriman dan bertakwa.

Oleh karena itu, Allah Ta’ala mempertanyakan kepada bangsa jin dan manusia dengan balasan tersebut: wa liman khaafa maqaama rabbihii jannataan, fabi ayyi aalaa-i rabbikuma tukadzdzibaan (dan bagi orang yang takut akan saat menghadap Rabbnya ada dua Surga, maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?) Setelah itu Allah Ta’ala mensifati kedua surga tersebut, dimana Dia berfirman: dzawaataa afnaan (“Kedua surga itu mempunyai pohon-pohon dan buah-buahan.”) yakni, dahan-dahan yang subur lagi indah yang memiliki buah-buahan matang yang sangat menyenangkan. Fabi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan (“maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?”).

Begitu pula ‘Atha’ al-Khurasani dan sekelompok ulama mengatakan bahwa kata ‘al-afnaan’ berardi dahan pohon yang sebagian saling bersentuhan dengan sebagian lainnya. Lebih lanjut ‘Atha’ mengemukakan: “Setiap dahan mempunyai beberapa gerombol buah.”

Fiihimaa ‘ainaani tajriyaan (“di dalam kedua surga itu ada dua buah mata air yang mengalir”). Yakni untuk mengairi pohon-pohon dan dahan-dahan, sehingga dapat berbuah dengan aneka warnanya. Fabi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan (“Maka nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?”). al-Hasan al-Basri mengungkapkan: “Salah satu (mata airnya) bernama “Tasnim” dan yang lainya bernama “Salsabila”.” ‘Athiyyah berkata: “Salah satunya dari dari air yang tidak berubah rasa dan baunya, dan yang lainnya dari khamr (arak) yang lezat rasanya bagi para peminumnya. Oleh karena itu setelahnya Dia berfirman: “fiihimaa ming kulli faakihating zaujaan” (“Di dalam kedua surga itu terdapat segala macam buah-buahan yang berpasangan.” Yakni, dari seluruh jenis buah-buahan yang mereka ketahui dan yang lebih baik dari apa yang pernah mereka ketahui, yang tidak pernah dilihat mata, didengar telinga, dan tidak pula terbersit di dalam hati manusia. Fabi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan (“maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?”).

Ibnu ‘Abbas berkata: “Tidak ada yang terbawa dari dunia ke akhirat nanti kecuali nama-namanya saja.” Maksudnya, di antara nama-nama buah-buahan di dunia dan di akhirat itu terdapat perbedaan yang sangat besar dan kelainan yang mencolok.

tulisan arab alquran surat ar rahmaan ayat 54-61“54. Mereka bertelekan di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera. dan buah-buahan di kedua syurga itu dapat (dipetik) dari dekat. 55. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 56. Di dalam syurga itu ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya, tidak pernah disentuh oleh manusia sebelum mereka (penghuni-penghuni syurga yang menjadi suami mereka), dan tidak pula oleh jin. 57. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 58. Seakan-akan bidadari itu permata yakut dan marjan. 59. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan? 60. Tidak ada balasan kebaikan kecuali kebaikan (pula). 61. Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan?” (ar-Rahman: 54-61).

Allah berfirman: “muttaki-iina” (“mereka bertelekan”), yakni para penghuni surga. Dan yang dimaksud dengan “al-ittika’” di sini adalah berbaring. Ada pula yang mengatakan: “Yakni duduk bersila.” ‘alaa furusyim bathaa-inuhaa min istabraq (“di atas permadani yang sebelah dalamnya dari sutera.”) Yakni kain sutera tebal. ‘Ikrimah , adl-Dlahhak, Qatadah, dan Abu Irmran al-Juni berkata: “Yaitu, sutera yang diberi hiasan dengan emas.

Dengan demikian, Allah Ta’ala telah memberitahukan kemuliaan bagian luar dengan kemuliaan bagian dalam. Yang demikian itu merupakan peringatan yang bertingkat, dari bawah ke atas. Abu Ishaq menceritakan dari Hubairah Ibnu Maryam, dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia mengatakan: “Ini adalah bagian dalam, bagaimana jika kalian melihat bagian luar?” Malik bin Dinar mengatakan: “Bagian dalamnya terbuat dari sutera, sedangkan bagian luarnya terbuat dari cahaya.”

Wa janal jannataini daan (“Dan buah-buahan kedua surga itu dapat [dipetik] dari dekat.”) maksudnya buah-buahannya itu ada di dekat mereka. Kapanpun mereka kehendaki , mereka dapat memetiknya dalam keadaan yang mereka bagaimanapun. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: quthuufuhaa daaniyah (“Buah-buahannya dekat”) (al-Haqqah: 23). Yakni tidak menyusahkan orang yang akan memetiknya, bahkan di antara dahannya ada yang sengaja menurunkan diri seraya mendekat kepadanya.

Fabi ayyi aalaa-i rabbikumaa tukadzdzibaan (“maka, nikmat Rabb-mu yang manakah yang kamu dustakan?”). Setelah Allah menyebutkan permadani-permadani dan keagungannya, maka selanjutnya Dia berfirman: fiihinn (“Di dalamnya”), yakni pada permadani-permadani tersebut, qaashiraatuth tharfi (“ada bidadari-bidadari yang sopan menundukkan pandangannya.”) yakni menundukkan pandangan kepada laki-laki selain pasangan mereka. Mereka tidak melihat seorangpun yang lebih tampan dari pasangan mereka sendiri di surga itu. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Qatadah, ‘Atha’ al-Khurasani dan Ibnu Zaid. Dan disebutkan pula dalam sebuah riwayat, bahwa salah seorang dari bidadari-bidadari itu berkata pada suaminya: “Demi Allah, aku tidak melihat di dalam surga ini sesuatu yang lebih baik (tampan) darimu. Tidak ada di surga ini yang lebih aku cintai melebihi kecintaanku kepadamu. Segala puji hanya bagi Allah yang telah menjadikanmu pasangan untukku dan menjadikan diriku pasangan untukmu.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: