Arsip | 13.51

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (6)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

Ibnu Ishaq berkata: “Al-Lata dimiliki oleh Bani Tsaqif, berada di Tha-if yang para penjaganya berasal dari kalangan bani Mu’tab.” Berkenaan dengan hal itu, aku katakan bahwa Rasulullah saw. telah mengutus al-Mughirah bin Syu’bah dan Abu Sufyan Shakhr bin Harb  agar mendatangi patung al-Lata. Kemudian merekapun menghancurkannya dan menjadikan tempat (patung) itu sebagai masjid di Tha-if.”

Ibnu Ishaq mengatakan: “Al-Manat itu adalah milik suku Aus dan Khazraj  serta orang-orang yang sepaham dengan mereka dari penduduk Yatsrib di tepian laut di pinggiran daerah Musyallal  yang terletak di Qadid. Kemudian Rasulullah mengutus Abu Sufyan Shakhr bin Harb ke sana, dan menghancurkannya.” Ada juga yang berpendapat bahwa yang diutus adalah ‘Ali bin Abi Thalib.

Oleh karena itu Allah berfirman: A fa ra-aitumul laata wal ‘uzzaa. Wa manaatats tsaalitatal ukhraa. (“Maka apakah patut kamu [hai orang-orang musyrik] menganggap al-Lata an al-‘Uzza. Dan Manat yang ketiga, yang paling mulia terkemudian [sebagai anak perempuan Allah]?”) setelah itu Allah berfirman: a lakumudz dzakara wa lahul untsaa (“Apakah [patut] untukmu [anak] laki-laki dan untuk Allah [anak] perempuan?”) maksudnya, layakkah kalian membuatkan anak bagi-Nya? Kalian klaim anak-Nya berkelamin perempuan, sedangkan kalian memilih kelamin laki-laki untuk diri kalian. Seandainya  kalian membagi dengan pembagian ini antara kalian dan makhluk seperti yang kalian lakukan, pastilah “qismatung dliizaa” (“Pembagian itu merupakan pembagian yang tidak adil”) yakni aniaya dan bathil. Bagaimana mungkin kalian memberikan pembagian kepada Allah dengan pembagian seperti itu?

Setelah itu Allah Ta’ala berfirman seraya menolak segala bentuk dusta dan hal-hal yang mereka buat-buat serta  kekufuran dalam bentuk penyembahan berhala dan menyebutnya  sebagai ilah. In hiya illaa asmaa-ung sammaitumuuhaa antum wa aabaa-ukum (“Itu tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan bapak-bapakmu mengada-adakannya.”) yakni, berdasarkan selera  kalian sendiri. Maa anzala llaahu  bihaa min sulthaan (“Allah tidak menurunkan suatu keterangan pun.”) yakni hujjah.

Iy yattabi’uuna iladz dzanna wa maa tahwal angfus (“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan dan apa yang diinginkan oleh hawa nafsu mereka.”) maksudnya, mereka tidak mempunyai sandaran selain prasangka baik mereka terhadap orang tua mereka yang telah menempuh jalan yang bathil tersebut sebelum mereka. Wa laqad jaa-ahum mir rabbihimul hudaa (“Dan sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Rabb mereka.”) maksudnya Allah Ta’ala telah mengutus para Rasul kepada mereka dengan membawa kebenaran yang bersinar terang dan hujjah yang qath’i (pasti). Meski telah demikian rupa, namun mereka tetap tidak mau mengikuti apa yang datang kepada mereka dan tidak pula mau tunduk kepadanya.

Kemudian Allah Ta’ala berfirman: am lil insaani maa tamannaa (“Atau apakah manusia akan mendapatkan segala yang dicita-citakannya?”) maksudnya, tidak semua orang yang menginginkan kebaikan itu akan mendapatkannya: Laisa bi-amaaniyyikum wa laa amaaniyi ahlil kitaab (“[Pahala dari Allah itu] bukanlah menurut angan-anganmu yang kosong dan tidak pula menurut Ahlul Kitab.”) (QS an-Nisaa’: 123)

Dan tidak setiap orang yang mengaku dirinya mendapatkan petunjuk menjadi seperti apa yang dikatakannya (berada dalam petunjuk). Dan tidak setiap orang yang mencintai sesuatu akan mendapatkannya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu  Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Jika seorang dari kalian berangan-angan hendaklah dia mempertimbangkannya karena ia tidak tahu  apa yang ditetapkan dari angan-angannya itu.” (HR Ahmad)

Firman-Nya: fa lillaahil aakhiratu wal uulaa (“Maka hanya bagi Allah-lah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia.”) maksudnya, seluruh urusan itu hanya  milik Allah, Raja dunia dan akhirat, Pengendali di dunia dan di akhirat, dan Dia-lah yang jika menghendaki sesuatu pasti akan terwujud, dan apa yang tidak dikehendaki-Nya, maka tidak akan pernah terwujud.

Firman Allah Ta’ala: wa kam mim malaking fis samaawaati laa tughnii syafaa’atuhum syai-an ilaa mim ba’di ay ya’dzanallaahu limay yasyaa-u wa yardlaa (“dan berapa banyaknya Malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).”) sebagaimana firman-Nya  yang lain: man dzal ladzii yasyfa’u ‘indahuu illaa bi-idznih (“Tidak ada yang  dapat memberi syafaat di sisi Allah kecuali dengan izin-Nya.”) (al-Baqarah: 255)

Jika demikian itu berlaku kepada para malaikat yang mendekatkan diri kepada Allah, lalu bagaimana muungkin kalian –wahai orang-orang bodoh- akan mengharapkan syafaat dari berhala-berhala dan sekutu-sekutu  di sisi Allah, padalah Allah  Ta’ala tidak pernah mensyariatkan hal tersebut  dan tidak juga mengizinkannya, bahkan Dia benar-benar melarangnya melalui lisan para Rasul-Nya. Dan Dia turunkan larangan itu melalui seluruh Kitab suci-Nya.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (5)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

tulisan arab alquran surat an najm ayat 19-26 “19. Maka Apakah patut kamu (hai orang-orang musyrik) mengaggap Al Lata dan Al Uzza,20. dan Manah yang ketiga, yang paling terkemudian (sebagai anak perempuan Allah)? 21. Apakah (patut) untuk kamu (anak) laki-laki dan untuk Allah (anak) perempuan? 22. yang demikian itu tentulah suatu pembagian yang tidak adil. 23. itu tidak lain hanyalah Nama-nama yang kamu dan bapak-bapak kamu mengadakannya; Allah tidak menurunkan suatu keteranganpun untuk (menyembah) nya. mereka tidak lain hanyalah mengikuti sangkaan-sangkaan, dan apa yang diingini oleh hawa nafsu mereka dan Sesungguhnya telah datang petunjuk kepada mereka dari Tuhan mereka. 24. atau Apakah manusia akan mendapat segala yang dicita-citakannya? 25. (Tidak), Maka hanya bagi Allah kehidupan akhirat dan kehidupan dunia. 26. dan berapa banyaknya Malaikat di langit, syafaat mereka sedikitpun tidak berguna, kecuali sesudah Allah mengijinkan bagi orang yang dikehendaki dan diridhai (Nya).” (an-Najm: 19-26)

Allah berfirman seraya  mencela orang-orang musyrik atas penyembahan mereka terhadap berhala-berhala dan sekutu-sekutu serta patung-patung, juga tindakan mereka membuatkan rumah-rumah untuk sembahan-sembahan mereka itu sebagai tandingan bagi Ka’bah yang telah dibangun oleh kekasih Allah, Ibrahim a.s.. Afa ra-aitumul laata (“Maka apakah patut kamu [hai orang-orang musyrik] menganggap al-Lata?”) al-Lata adalah batu putih besar yang  diukir, difasilitasi dengan rumah, tirai, para penjaga, dikelilingi oleh halaman, dan sangat diagungkan oleh kalangan penduduk Tha’if, mereka adalah bani Tsaqif dan para pengikutnya. Mereka membanggakan diri dengan al-Lata atas orang lain dari bangsa Arab setelah Quraisy. Ibnu Jarir mengatakan: “Mereka telah mengambil nama al-Lata itu dari Nama Allah seraya mengatakan: ‘Al-Lata,’ yang mereka maksudkan adalah pasangan perempuan dari Allah. Mahatinggi Allah dari apa yang mereka katakan itu setinggi-tingginya.”

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman-Nya: al-laata wal ‘uzzaa (“Al-Lata dan al-‘Uzza”) ia mengatakan: “Al-Lata adalah seorang laki-laki yang menumbuk tepung bagi para jama’ah haji.”

Ibnu Jarir mengungkapkan bahwa demikian halnya dengan al-‘Uzza yang berasal dari kata al-‘Aziiz, yaitu sebuah pohon yang dinaungi bangunan dan tirai dari daerah Nikhlah yang terletak antara Mekah dan Tha-if, dimana orang-orang Quraisy sangat mengagungkannya. Sebagaimana yang dikatakan oleh Abu Sufyan pada saat terjadi perang Uhud: ‘Kami mempunyai al-‘Uzza sedang kalian tidak.” Kemudian Rasulullah saw. bersabda: “Katakanlah: ‘Allah adalah Pelindung kami dan tidak ada pelindung bagi kalian.’”

Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Barangsiapa bersumpah, maka hendaklah ia mengucapkan: laa ilaaha illallaah (“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah”). Dan barangsiapa berkata kepada temannya: ‘Kemarilah, mari kita main undian.’ Maka hendaklah ia bershadaqah.” Hadits tersebut diarahkan kepada orang yang lidahnya terlanjur mengucapkan sumpah tersebut, sebagaimana lidah-lidah mereka sudah terbiasa mengucapkannya di masa jahiliyah.

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh an-Nasa-i, Yunus memberitahu kami dari ayahnya, Mush’ab bin Sa’ad bin Abi Waqqash  memberitahuku dari ayahnya, ia berkata: “Aku pernah bersumpah dengan al-Lata dan al-‘Uzza,” lalu para sahabatku berkata: “Sungguh buruk apa yang engkau katakan itu. Engkau telah mengatakan sesuatu yang  menyimpang.” Kemudian aku mendatangi Rasulullah saw. lalu kuceritakan hal tersebut kepada beliau, maka beliau bersabda: “Ucapkanlah: ‘Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah semata, tiada sekutu bagi-Nya, hanya milik-Nya kerajaan dan pujian, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.’ Kemudian meludahlah tiga kali ke sebelah kirimu dan berlindunglah kepada Allah dari syaitan yang terkutuk, dan kemudian janganlah engkau  mengulangi lagi.”

Adapun Manat terdapat di Musyallal, daerah Qadid yang terletak antara Mekah dan Madinah. Bani Khuza’ah, Aus, dan Khazraj sangat mengagungkannya pada masa jahiliyah dan mereka mengucapkan talbiyah dari sana ketika hendak menunaikan ibadah haji menuju Ka’bah. Hal yang senada juga diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Aisyah. Di jazirah Arab dan yang lainnya terdapat thaghut-thaghut lain selain ketiga thaghut di atas yang senantiasa diagungkan oleh orang-orang Arab layaknya mereka mengagungkan Ka’bah, dimana dalil tentang semua itu telah tercantum di dalam Kitab-Nya yang mulia. Disebutkannya ketiga hal di atas secara khusus karena ketiganya adalah yang paling masyhur.

Di dalam kitab as-Siirah, Ibnu Ishaq mengatakan: “Dahulu masyarakat Arab membuat thaghut-thaghut sebagai rumah selain Ka’bah yang mereka agung-agungkan seperti pengagungan mereka terhadap Ka’bah. Thaghut-thaghut itu mempunyai penjaga dan tirai, juga diberi persembahan sebagaimana persembahan yang diberikan kepada Ka’bah. Serta dijadikan sebagai tempat thawaf sebagaimana halnya thawaf di Ka’bah, juga dijadikan tempat penyembelihan kurban. Namun mereka mengetahui bahwa Ka’bah lebih utama daripada thaghut-thaghut tersebut karena Ka’bah adalah rumah yang dibangun oleh Ibrahim a.s. sekaligus sebagai masjidnya.

Sementara itu kaum Quraisy dan bani Kinanah mempunya al-‘Uzza di Nikhlah, yang menjadi penjaga dan pemberi tirainya adalah Bani Syaiban dari Salim, para sekutu Bani Hasyim. Kemudian kukatakan bahwa Rasulullah saw. mengutus Khalid bin al-Walid, yang menghancurkannya seraya berucap: “Wahai ‘Uzza, kekufuran menyelimutimu dan tidak ada kesucian padamu, sesungguhnya aku melihat Allah telah menghinakanmu.”

An-Nasa-i meriwayatkan dari Abuth Thufail, ia berkata bahwa setelah Rasulullah saw. membebaskan kota Mekah, beliau mengutus Khalid bin al-Walid ke Nikhlah yang disana terdapat al-‘Uzza. Khalid mendatanginya, ketika al-‘Uzza berada di atas tiga pohon Samurah, maka Khalid memotong ketiga pohon itu kemudian menghancurkan rumah yang terdapat di sana. Lalu mendatangi Nabi saw, dan Khalid memberitahukannya. Maka beliau bersabda: “Kembalilah ke tempat itu, sesungguhnya engkau belum berbuat apa-apa.”

Khalid pun kembali, ketika ia dilihat oleh para penjaga thaghut al-‘Uzza, maka mereka berusaha membuat tipu muslihat. Mereka berkata: “Ya ‘Uzza, ya ‘Uzza.” Maka Khalid mendatanginya. Ternyata ada seorang wanita dalam keadaan telanjang dengan rambut terurai dan menaburkan debu di kepalanya. Khalid langsung menebas leher wanita itu dengan pedang hingga azal menjemputnya. Kemudian Khalid kembali kepada Rasulullah saw. dan memberitahukan hal itu kepada beliau, maka beliaupun bersabda: “Itulah al-‘Uzza.”

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (4)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari Masruq, ia berkata: “Aku pernah berada di sisi ‘Aisyah, lalu kutanyakan: ‘Bukankah Allah telah berfirman: wa laqad ra-aahu bil ufuqil mubiin (“Dan sesungguhnya Muhammad itu melihat Jibril di ufuk yang terang.”) wa laqad ra-aahu nazlatan ukhraa (“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu [dalam rupa yang asli] pada waktu yang lain”) ?” maka ‘Aisyah menjawab: ‘Aku adalah orang pertama dari umat ini yang menanyakan hal itu  kepada RAsulullah saw. Beliau menjawab: “Sesungguhnya ia adalah Jibril”.

Dan Rasulullah tidak pernah melihat Jibril dalam bentuk aslinya kecuali hanya dua kali saja. Beliau melihatnya turun dari langit ke bumi. Bentuk ciptaannya yang besar telah menutupi ruang antara langit dan bumi. Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Shahih keduanya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Syuqaq, ia berkata: “Aku pernah berkata kepada Abu Dzarr: ‘Seandainya aku melihat Rasulullah, niscaya aku akan bertanya kepadanya.’ Ia bertanya: ‘Apa yang ingin engkau tanyakan kepada beliau?’ aku menjawab: ‘Aku akan menanyakan kepada beliau: Apakah beliau pernah melihat Rabb-nya.’ Lalu  ia [Abu Dzarr] berkata: ‘Sesungguhnya aku telah menanyakan hal itu kepada beliau, dan beliau menjawab: ‘Aku sudah pernah melihat-Nya, (dalam wujud) cahaya, maka sungguh aku melihat-Nya.”

Demikianlah yang ada dalam riwayat Imam Ahmad. Dan Imam Muslim telah meriwayatkannya dari melalui dua jalan dan dua lafazh. Ia meriwayatkan dari Abu Dzarr, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: ‘Apakah engkau pernah melihat Rabb-mu?’ Beliau menjawab: ‘(Dalam wujud) cahaya, sesungguhnya  aku  telah melihat-Nya.’”

Dan diriwayatkan pula dari ‘Abdullah bin Syaqiq, ia berkata: “Aku pernah katakan kepada Abu  Dzarr: ‘Seandainya aku sempat melihat Rasulullah saw. Niscaya aku akan bertanya  kepada beliau.’ Maka Abu  Dzarr bertanya: ‘Tentang masalah apa yang akan engkau tanyakan?’ ia menjawab: ‘Aku akan menanyakan: Apakah engkau telah melihat Rabb-mu?’ Maka Abu Dzarr berkata: ‘Aku telah tanyakan hal itu pada beliau, maka beliau menjawab: aku  telah melihat cahaya.’” Dalam meng’ilahnya, al-Khallal telah menyebutkan bahwa Imam Ahmad pernah ditanya tentang hadits ini, maka ia menjawab: “Aku telah mengingkarinya dan aku tidak mengetahui sisinya.”

Firman Allah Ta’ala: idz yaghsyas sidrata maa yaghsyaa (“[Muhammad melihat Jibril] ketika sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya.”) telah diuraikan di dalam hadits-hadits tentang Isra’, bahwa Sidratil Muntaha itu diliputi oleh para malaikat seperti burung-burung gagak, dan diliputi pula oleh cahaya Rabb serta aneka warna yang aku sendiri tidak tahu apakah itu.” Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin Mas’ud, ia berkata: “Ketika Rasulullah saw. diisra’kan hingga sampai ke Sidratul Muntaha –yaitu langit ketujuh-, di sanalah batas akhir sesuatu yang yang turun dari tempat yang ada di atas Sidratul Muntaha, kemudian diambillah sesuatu itu dari sana.”

Idz yaghsyas sidrata maa yaghsyaa (“ketika sidratul Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya”) Ibnu Mas’ud meriwayatkan bahwa ia berupa permadani dari emas. Lebih lanjut ia berkata: “Telah diberikan kepada Rasulullah saw. tiga hal: shalat lima waktu, beberapa ayat terakhir surat al-Baqarah, dan ampunan bagi seseorang di antara umatnya yang tidak mempersekutukan Allah dengan selain-Nya atas perbuatan-perbuatan yang dilakukan tanpa berfikir terlebih dahulu.” Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim sendiri.

Firman Allah Ta’ala: maa zaaghal bashara wa maa thaghaa (“Penglihatannya [Muhammad] tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak pula melampauinya.”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Pandangan beliau tidak melihat ke kanan dan ke kiri.” Wa maa thaghaa (“Dan tidak pula melampauinya”) maksudnya ia tidak melampaui  batas yang telah diperintahkan kepada beliau. Ini merupakan sifat agung dari ketepatan hati dan ketaatan kepadanya dan tidak pula meminta lebih dari apa yang telah Allah perintahkan kepadanya dan tidak pula meminta lebih dari apa yang telah Allah perintahkan. Sungguh indah ungkapan  salah seorang penyair: “Ia melihat Surga Ma-wa dan segala yang ada di atasnya. Seandainya  orang lain yang melihat apa yang pernah dilihatnya, niscaya dia tinggi hati.”

Firman Allah Ta’ala: laqad ra-aa min aayaati rabbihil kubraa (“Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Rabbnya yang paling besar.”) sebagaimana firman-Nya: linuriyahuu min aayaatinaa (“Untuk Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari ayat-ayat kami.”) (al-Israa’: 1) yakni tanda-tanda yang menunjukkan pada kekuasaan dan keagungan Kami.

Kedua ayat tersebut dijadikan dalil oleh Ahlus Sunnah yang berpendapat  bahwa “ru’yah” (melihatnya Nabi kepada Rabb) pada malam itu tidaklah terjadi. Karena Allah telah berfirman: laqad ra-aa min aayaati rabbihil kubraa (“Sesungguhnya ia telah melihat sebagian tanda-tanda kekuasaan Rabbnya yang paling besar.”) Seandainya Nabi melihat Rabb-nya, niscaya hal itu akan diberitahukan kepada umat manusia, dan pastilah hal itu akan diperbincangkan banyak orang. Penegasan mengenai hal itu telah diuraikan dalam surat al-Israa’.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (3)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

Firman Allah Ta’ala: fa kaana qaaba qausaini  au adnaa (“Maka jadilah ia dekat [kepada Muhammad sejarak] dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.”) maksudnya Jibril mendekati Muhammad saw. sejarak dua busur panah, yakni seukuran dengan keduanya jika dipanjangkan. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah jarak antara tali busur sampai pada badan busur.

Firman-Nya: Au adnaa (“atau lebih dekat”) telah dijelaskan sebelumnya bahwa shighah (bentuk kalimat) ini digunakan dalam bahasa untuk menetapkan objek yang diberitakan serta menafikan yang lebih dari itu.  Sebagaimana firman Allah Ta’ala: tsumma qasat quluubukum mim ba’di dzaalika fa hiya kal hijaarati au asyaddu qaswah (“Kemudian setelah itu, hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (al-Baqarah: 74). Maksudnya, tidaklah hati itu lebih lunak dari batu, bahkan ia seperti batu atau lebih keras lagi. Yang demikian itu merupakan realisasi objek berita, tidak ada keraguan dan kebimbangan. Sesungguhnya  hal ini dilarang di sini. Demikian juga dengan ayat ini, fa kaana qaaba qausaini  au adnaa (“Maka jadilah ia dekat [kepada Muhammad sejarak] dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.”)

Apa yang kami katakan ini bahwa yang telah mendekat sehingga jarak antara dirinya dengan Muhammad saw. hanya dua anak panah atau lebih dekat lagi adalah Jibril a.s. Dan itu pula yang menjadi pendapat Ummul Mukminin ‘Aisyah, Ibnu Mas’ud, Abu Dzarr, dan Abu  Hurairah.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia pernah berkata: “Muhammad pernah melihat Rabbnya dengan mata hatinya sebanyak dua kali.” Kemudian Ibnu ‘Abbas memasukkan ayat ini sebagai salah satu dari dua penglihatan ini.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari asy-Syaibani, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Zara tentang firman Allah Ta’ala: fa kaana qaaba qausaini  au adnaa. Fa auhaa ilaa ‘abdihii maa auhaa (“Maka jadilah ia dekat [kepada Muhammad sejarak] dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya [Muhammad] apa yang telah Allah wahyukan”) ia berkata: ‘Abdullah memberitahu kami bahwa Muhammad saw. pernah melihat Jibril a.s. yang mempunyai enam ratus sayap.’”

Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, maka firman Allah: fa auhaa ilaa ‘abdihii maa auhaa (“Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya [Muhammad] apa yang telah Allah wahyukan.”) maknanya, Jibril mewahyukan kepada hamba Allah –Muhammad saw.- apa yang seharusnya  ia sampaikan, maka Allah memberikan wahyu kepada hamba-Nya –Muhammad saw.- melalui Jibril a.s. Kedua makna tersebut shahih.

Telah disebutkan dari Sa’id bin Jubair mengenai firman Allah Ta’ala: fa auhaa ilaa ‘abdihii maa auhaa (“Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya [Muhammad] apa yang telah Allah wahyukan.”) ia berkata: “Maka Allah swt. Mewahyukan kepadanya: a lam yajidka yatiimang fa aawaa (“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”) (adl-Dluhaa: 6) wa rafa’naa laka dzikraka (“dan Kami tinggikan bagimu sebutan [nama]mu”) (Asy-Syarh: 4)”

Selainnya berkata: “Allah mewahyukan kepada beliau bahwa surga itu diharamkan bagi para Nabi sehingga engkau memasukinya dan juga bagi semua umat sehingga umatmu memasukinya.”

Dan firman-Nya: Maa kadzabal fu-aadu maa ra-aa. A fa tumaaruunahuu ‘alaa maa yaraa (“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka, apakah kamu [kaum musyrikin Mekah] hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya?”)

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: maa kadzabal fu-aadu maa ra-aa (“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.”) wa laqad ra-aahu nazlatan ukhraa (“dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril [dalam rupanya yang asli] pada waktu yang lain.”) ia mengatakan: “Beliau melihatnya dengan mata hatinya  dua kali.”

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia menceritakan: “Muhammad pernah melihat Rabb-nya.” Aku bertanya: “Bukankah Allah telah berfirman: laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaar (“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu.” (al-An’am: 103). Ia mengatakan: “Celaka engkau. Yang demikian itu jika Dia menampakkan diri dengan cahaya-Nya yang merupakan cahaya-Nya. Dan beliau melihat Rabb-nya sebanyak dua kali.” Lebih lanjut at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut hasan gharib.”

Imam an-Nasa-i meriwayatkan, Ishaq bin Ibrahim memberi tahu kami dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Apakah kalian heran dengan gelar al-khullah (kekasih) yang diberikan kepada Ibrahim dan al-kalam (pembicara langsung) yang diberikan kepada Musa dan ar-ru’yah (penglihatan kepada-Nya) yang diberikan kepada Muhammad saw.”

Dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Dzarr, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: ‘Apakah engkau pernah melihat Rabb-mu?’ Beliau menjawab: ‘(Dalam bentuk) cahaya, sesungguhnya aku telah melihat-Nya.’” Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku pernah melihat cahaya.” Sedang hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Aku melihat Rabb’” hadits tersebut sanadnya atas syarat shahih, tetapi ia merupakan ringkasan dari hadits al-manam, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dan firman Allah Ta’ala: Wa laqad ra aahu nazlatan ukhraa, ‘inda sidratil muntahaa, ‘indaha jannatul ma’waa (“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu [dalam rupa yang asli] pada waktu yang lain. Yaitu Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”) dan itulah kali yang kedua, dimana Rasulullah saw. melihat Jibril dalam bentuknya yang asli seperti yang diciptakan Allah Ta’ala, dan itu terjadi pada malam Isra’. Dan kami telah menyebutkan beberap hadits berkenaan dengan masalah Isra’ ini dengan jalan dan lafazhnya masing-masing di awal surat al-Israa’ sehingga tidak perlu lagi diulangi disini. Dan telah dikemukakan juga bahwa Ibnu ‘Abbas menegaskan ru-yah pada Isra’ dan memperkuatnya dengan ayat ini, lalu diikuti oleh sekelompok ulama Salaf dan Khalaf, namun ditentang juga oleh beberapa kelompok Shahabat, Tabi’in dan lain-lain.

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (2)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

tulisan arab alquran surat an najm ayat 5-18 “5. yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat. 6. yang mempunyai akal yang cerdas; dan (Jibril itu) Menampakkan diri dengan rupa yang asli. 7. sedang Dia berada di ufuk yang tinggi. 8. kemudian Dia mendekat, lalu bertambah dekat lagi. 9. Maka jadilah Dia dekat (pada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat (lagi). 10. lalu Dia menyampaikan kepada hambaNya (Muhammad) apa yang telah Allah wahyukan. 11. hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. 12. Maka Apakah kaum (musyrik Mekah) hendak membantahnya tentang apa yang telah dilihatnya? 13. dan Sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu (dalam rupanya yang asli) pada waktu yang lain, 14. (yaitu) di Sidratil Muntaha. 15. di dekatnya ada syurga tempat tinggal, 16. (Muhammad melihat Jibril) ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya. 17. penglihatannya (Muhammad) tidak berpaling dari yang dilihatnya itu dan tidak (pula) melampauinya. 18. Sesungguhnya Dia telah melihat sebahagian tanda-tanda (kekuasaan) Tuhannya yang paling besar.”(al-Qamar: 5-18)

Allah Swt. berfirman seraya memberitahukan tentang hamba dan Rasul-Nya, Muhammad saw, bahwa beliau telah diberi pelajaran yang ia bawa kepada umat manusia oleh makhluk yang sangat kuat, yaitu Jibril a.s. sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala:

“19. Sesungguhnya Al Qur’aan itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), 20. yang mempunyai kekuatan, yang mempunyai kedudukan Tinggi di sisi Allah yang mempunyai ‘Arsy, 21. yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (at-Takwiir: 19-21)

Disini Allah berfirman: dzuu mirrah (“Yang mempunyai akal yang cerdas”) yakni yang mempunyai kekuatan. Demikian yang dikatakan oleh Mujahid, al-Hasan, dan Ibnu Zaid. Dalam sebuah hadits shahih telah disebutkan, dari riwayat Ibnu ‘Umar dan Abu Hurairah, bahwa Nabi saw. telah bersabda: “Tidak diperbolehkan memberi sedekah kepada orang kaya dan orang yang mempunyai kekuatan normal.”

Dan firman Allah Ta’ala: fas tawaa (“Dan yang menampakkan diri dengan rupa yang asli.”) yakni Jibril a.s. Demikianlah yang dikemukakan oleh al-Hasan, Mujahid, Qatadah, ar-Rabi’ bin Anas. Wa huwa bil ufuqil a’laa (“Sedang dia berada di ufuk yang tinggi”) yakni Jibril bertempat di ufuk yang tinggi. Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah dan beberapa ulama lainnya. ‘Ikrimah mengemukakan: “Ufuk yang tinggi adalah (tempat) yang darinya  shubuh datang.”

Penglihatan Rasulullah saw. terhadap Jibril itu tidak terjadi pada malam isra’, tetapi sebelumnya, ketika itu  beliau tengah berada di muka bumi, lalu Jibril turun dan mendekati beliau sampai benar-benar dekat.  Pada waktu  itu Jibril dalam wujud yang telah diciptakan Allah, dimana ia mempunyai enamratus sayap. Setelah itu beliau melihatnya lagi di Sidratul Muntaha, yaitu pada malam isra’. Penglihatan tersebut adalah pemandangan pertama pada awal-awal masa pengutusan setelah beliau didatangi Jibril a.s. pada kali pertama, dan kepadanya diwahyukan beberapa ayat permulaan surat Iqra’ (al-‘Alaq). Setelah itu wahyu pun terputus dalam beberapa masa, yang pada masa itu pula Rasulullah saw. berkali-kali ke puncak gunung hendak menjatuhkan diri. Setiap kali beliau berniat seperti itu, Jibril a.s. pun memanggilnya dari udara: “Hai Muhammad, engkau benar-benar utusan Allah, dan aku adalah Jibril.” Maka jiwa beliau menjadi tenang dan pandangan mata beliau pun menjadi sejuk.

Kemudian setiap kali kejadian itu berlangsung lama, beliau mengulangi perbuatannya itu sehingga Jibril menampakkan diri kepada beliau yang ketika itu beliau berada di daerah Abthah dalam wujud aslinya yang telah diciptakan Allah. Ia mempunyai enam ratus sayap yang masing-masing sayap besarnya mampu menutupi ufuk. Lalu ia mendekati Nabi dan mewahyukan kepada beliau dari Allah tentang apa yang Dia perintahkan. Pada saat itu Rasulullah mengetahui keagungan Malaikat yang telah datang kepadanya dengan membawa risalah, juga mengetahui kebesaran kekuasaannya serta ketinggian kedudukannya di sisi Penciptanya yang telah mengutusnya kepada beliau. Wallaahu a’lam.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah, bahwasannya ia pernah berkata: “Rasulullah saw. pernah melihat Jibril dalam wujud aslinya yang ia mempunyai enam ratus sayap, yang setiap sayapnya telah menutupi ufuk. Dari sayapnya itu berguguran batu permata, mutiara, dan batu mulia, yang Allah benar-benar mengetahuinya.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan sendiri oleh Ahmad. Dan Ibnu ‘Asakir juga meriwayatkan dalam terjemahan ‘Utbah bin Abi Lahab melalui jalan Muhammad dari Hanad bin al-Aswad, ia berkata: “Abu Lahab dan putra-putranya, ‘Utbah pernah bersiap-siap berangkat ke Syam, maka akupun bersiap-siap berangkat bersama keduanya. Lalu putranya, ‘Utbah berkata: “Demi Allah, aku pasti akan pergi menemui Muhammad dan menyakitinya berkenaan dengan Rabbnya. Lalu  dia berangkat hingga menemui Nabi saw. seraya berkata: ‘Hai Muhammad,’ ia kufur terhadap malaikat yang mendekat, lalu bertambah dekat lagi. Maka jadilah ia dekat (kepada Muhammad sejarak) dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Maka Nabi saw. berucap: ‘Ya Allah, kuasakanlah atasnya seekor anjing dari anjing-anjing-Mu.’ Kemudian dia berpaling dan kembali lagi kepada ayahnya, lalu ayahnya bertanya: ‘Wahai anakku, apa yang telah engkau katakan kepadanya?’ lalu ia menceritakan apa yang terjadi. Maka ayahnya berkata: ‘Apa yang telah diucapkan dari lisannya?’ Anaknya berkata: ‘Ia mengucapkan: Ya Allah, kuasakanlah atasnya seekor anjing dari anjing-anjing-Mu.’ Maka sang ayah berkata: ‘Wahai putraku, demi Allah, aku tidak dapat menahan doanya atas dirimu.’ Kemudian kami terus berjalan sampai kami singgah di suatu tempat, lalu kami singgah di tempat ibadah seorang rahib. Maka rahib itu berkata: ‘Wahai bangsa Arab sekalian, dimanapun tempat kalian singgah, maka akan berkeliaran di dalamnya singa, sebagaimana berkeliarannya kambing.’ Lalu Abu Lahab berkata kepada kami: ‘Sesungguhnya kalian telah mengetahui usiaku yang sudah lanjut, dan sesungguhnya orang ini (Muhammad) telah mendoakan keburukan  kepada putraku. Demi Allah aku tidak dapat mencegah doanya atas putraku ini. Oleh karena itu kumpulkanlah bekal makanan kalian ke tempat ini dan hamparkan hamparan untuk putraku di atasnya. Kemudian hamparkanlah hamparan di sekitar makanan tersebut.’ Maka kamipun melakukannya. Tiba-tiba ada seekor singa, lalu mencium wajah-wajah kami. Ketika singa itu tidak mendapatkan apa yang diinginkannya, iapun menyingkir dan melompat dengan sekali lompat, tiba-tiba ia sudah berada di atas makanan dan kemudian mencium wajahnya (putra Abu Lahab) dan kemudian menerkamnya dengan sekali terkaman sehingga kepalanya pun tercabik-cabik. Kemudian Abu Lahab berkata: ‘Aku sudah tahu bahwa ia tidak akan lepas dari doa Muhammad.’”

Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (1)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Abdullah, ia berkata: “Surat yang pertama kali diturunkan yang di dalamnya terdapat as-Sajdah (ayat yang di dalamnya ada perintah untuk melakukan sujud [baik secara langsung atau tidak] setelah membaca ayat tersebut, di dalam shalat atau di luar shalat) adalah surah an-Najm. Maka Nabi saw. bersujud, lalu orang-orang di belakang beliaupun ikut sujud, kecuali satu orang yang aku lihat mengambil segenggam tanah dan bersujud di atasnya, dan setelah itu aku lihat ia terbunuh dengan sebab kekafirannya, yaitu Umayyah bin Khalaf.”

Dan telah diriwatkan oleh Imam Muslim dan Abu Dawud serta an-Nasa-i, melalui beberapa jalan dari Abu Ishaq. Mengenai ungkapannya (‘Abdullah) dalam al-Mumtani’, baha ia adalah Umayyah bin Khalaf, maka dalam riwayat ini terdapat musykil (persoalan), karena ada juga riwayat  yang diperoleh selain dari jalan ini menyebutkan bahwa ia adalah ‘Utbah bin Rabi’ah.

tulisan arab alquran surat an najm ayat 1-4 “1. demi bintang ketika terbenam. 2. kawanmu (Muhammad) tidak sesat dan tidak pula keliru. 3. dan Tiadalah yang diucapkannya itu (Al-Quran) menurut kemauan hawa nafsunya.4. ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (an-Najm: 1-4)

Asy-Sya’bi dan juga ulama lainnya mengatakan: “Al-Khalik (Allah) itu dapat bersumpah dengan makhluk ciptaan-Nya yang  Dia kehendaki. Sedangkan makhluk-Nya tidak boleh bersumpah kecuali dengan menyebut nama sang Pencipta (Allah) saja.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim.

Para ahli tafsir berbeda pendapat mengenai makna firman-Nya: wan najmi idzaa hawaa (“Demi bintang  ketika terbenam”) dimana Ibnu Abi Najih menceritakan dari Mujahid: “Yang dimaksud dengan an-Najm adalah bintang tujuh (tatasurya) yang hilang/jatuh bersamaan dengan terbitnya fajar.” Demikian yang diriwayatkan  dari Ibnu ‘Abbas dan Sufyan ats-Tsauri serta menjadi pilihan Ibnu Jarir. Mengenai firman-Nya: wan najmi idzaa hawaa (“Demi bintang  ketika terbenam”) adl-Dlahhak mengatakan: “Yakni ketika melempari syaitan-syaitan dengannya.” Dan pendapat ini mempunyai beberapa sudut pandang.

Dan firman Allah Ta’ala: maa dlalla shaahibukum wa maa ghawaa (“Kawanmu tidak sesat dan tidak pula keliru.”) inilah yang menjadi tujuan sumpah Allah Ta’ala, yaitu kesaksian dari-Nya atas Rasul-Nya, Muhammad saw. bahwa beliau adalah seorang yang lurus, mengikuti kebenaran dan bukan orang yang sesat. Yang dimaksud sesat disini adalah orang bodoh yang berjalan tanpa petunjuk dan ilmu pengetahuan. Sedangkan yang dimaksud dengan al-ghawi adalah orang yang mengetahui kebenaran tapi menyimpang darinya kepada selainnya dengan sengaja.

Maka Allah Ta’ala mensucikan Rasul dan syariat-Nya dari keserupaan dengan orang-orang sesat seperti pemeluk-pemeluk Nasrani dan orang-orang Yahudi. Keserupaan itu dalam hal kepemilikan ilmu tentang sesuatu, lalu menyembunyikannya serta mengerjakan hal yang bertolak belakang dengan apa yang diketahuinya tersebut. Sedang Rasulullah saw. dan syariat yang dibawa dari Allah berada di puncak istiqamah, keseimbangan, dan kelurusan. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: wa maa yanthiqu ‘anil hawaa (“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (al-Qur’an) menurut kemauan hawa nafsunya.”) maksudnya, beliau tidak mengucapkan sesuatu yang bersumber dari hawa nafsu.

In huwa illaa wahyuy yuuhaa (“Ucapannya itu tidak lain hanyalah wahyu yang diwahyukan [kepadanya]”) artinya, beliau hanya mengatakan apa yang telah diperintahkan kepada beliau dan menyampaikannya kepada umat manusia secara sempurna tanpa melakukan penambahan dan pengurangan.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata: “Aku senantiasa menulis setiap apa yang aku dengar dari Rasulullah saw. dengan maksud memeliharanya, lalu dilarang oleh kaum Quraisy. Mereka berkata: ‘Sesungguhnya engkau menulis segala sesuatu yang engkau dengar dari Rasulullah saw. padahal ia hanya manusia biasa yang bisa [saja] berbicara dalam keadaan marah.’ Maka aku pun berhenti menulis, selanjutnya aku ceritakan hal tersebut kepada Rasulullah saw. maka beliau bersabda: ‘Tulislah, demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidak ada yang keluar dari diriku melainkan kebenaran.’” (HR Abu Dawud).

Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Apa yang telah aku kabarkan kepada kalian bahwasannya ia berasal dari sisi Allah, maka itulah yang tidak ada keraguan lagi di dalamnya.” Kemudian al-Hafizh mengemukakan: “Kami tidak meriwayatkan kecuali dengan sanad ini.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Aku tidak berkata kecuali kebenaran.” Sebagian shahabat beliau berkata: “Sesungguhnya engkau bergurau dengan kami ya Rasulullah.” Beliau menjawab: “Sesungguhnya aku tidak berkata kecuali kebenaran.”

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qamar (7)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qamar (Bulan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 54: 55 ayat

Dan firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala: wa maa amrunaa illaa waahidatan kalamhim bil bashar (“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan seperti kejapan mata.”) Yang demikian itu merupakan pemberitahuan tentang pemberlakuan kehendak-Nya pada makhluk-Nya, sebagaimana Dia telah memberitahukan tentang kekuasaan-Nya pada mereka, wa maa amrunaa illaa waahidatan (“Dan perintah Kami hanyalah satu perkataan.”) Maksudnya, Kami hanya cukup mengeluarkan sekali perintah saja dan tidak perlu penguatan dengan perintah kedua kalinya, karena perintah itu akan berlaku pada saat itu juga laksana kejapan mata, tidak tertangguhkan meski hanya sekejap mata. Sungguh indah ungkapan sebagian penyair: “Jika Allah menghendaki sesuatu hal, maka dia hanya cukup mengatakan: ‘Jadilah’ maka jadilah ia.”

Dan firman Allah Ta’ala: wa laqad ahlaknaa asy-yaa’akum (“Dan sesungguhnya telah kami binasakan orang yang serupa denganmu.” Yakni mereka yang serupa dengan kalian dan dengan umat-umat terdahulu sebelum kalian yang mendustakan para Rasul. Fa hal mim mudzdzakir (“Maka, adakah orang yang mau mengambil pelajaran?”) maksudnya, adakah orang yang mau mengambil pelajaran dari penghinaan yang telah Allah timpakan kepada mereka dan adzab yang telah ditentukan untuk mereka?

Firman-Nya: wa kullu syai-in  fa’aluuhu fizzubur (“Dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan.”) Maksudnya, tertulis di dalam kitab-kitab yang berada di tangan para Malaikat. Wa kullu shaghiiriw wa kabiirin (“Dan segala urusan yang kecil maupun yang besar.”) dari amal perbuatan mereka, mustathar (“Adalah tertulis”) yakni, tertulis dan tercatat di dalam lembaran-lembaran mereka. Tidak ada satupun yang tertinggal, baik yang kecil maupun yang besar melainkan telah dihitung.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Aisyah, bahwa Rasulullah pernah bersabda: “Wahai ‘Aisyah, jauhilah olehmu dosa-dosa kecil, karena iapun akan mendapat tuntutan dari Allah.” (HR Nasa-i dan Ibnu Majah).

Dan diriwayatkan pula oleh al-Hafizh Ibnu ‘Asakir dalam terjemahan Sa’id bin Muslim dari sisi yang lain. Kemudian Sa’id berkata: “Dan aku telah memberitahukan hadits ini kepada ‘Amir bin Hisyam, maka ia berkata kepadaku: ‘Celakalah engkau hai Sa’id bin Muslim, karena sesungguhnya Sulaiman bin al-Mughirah telah memberitahukan bahwa ia pernah mengerjakan sesuatu perbuatan doa, lalu ia meremehkannya. Kemudian dia didatangi seseorang dalam tidurnya dan berkata kepadanya: ‘Wahai Sulaiman, janganlah engkau meremehkan dosa-dosa kecil, karena yang kecil itu akan menjadi besar. Sesungguhnya yang kecil itu meskipun telah lebih dulu perjanjiannya, maka di sisi Allah ia tertulis secara rinci. Karenanya, jauhkanlah hawa nafsumu dari kebathilan, janganlah kamu susah dikendalikan, dan berusahalah sekuat tenaga. Sesungguhnya orang yang cinta jika mencintai Rabbnya, maka hati dan pemikirannya terasa terbang. Karenanya mohonlah petunjukmu kepada Rabb dengan niat, dan cukuplah Rabbmu menjadi pemberi petunjuk dan pemberi pertolongan.”

Dan firman Allah Ta’ala: innal muttaqiina fii jannaatiw wa nahar (“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai.”) maksudnya, berbeda dengan apa yang dialami oleh orang-orang yang sengsara, dimana mereka tenggelam dalam kesesatan dan kegilaan serta merangkak pada wajah-wajah mereka di atas api neraka dengan penghinaan, celaan, dan ancaman.

Firman Allah Ta’ala: fii maq’adi shidqin (“Di tempat yang disenangi”). Maksudnya, di negeri kemuliaan, keridlaan, karunia, kemurahan, dan kebaikan Allah Ta’ala. ‘Inda maliikim muqtadir (“Di sisi Rabb yang berkuasa”). Maksudnya, di sisi Rabb, Raja yang Mahaagung, Pencipta dan Penentu segala sesuatu. Dan Dia penentu apa yang Dia kehendaki sesuai dengan tuntutan dan keinginan mereka.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, yang disampaikan pada Nabi saw. dimana beliau telah bersabda: “Orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah pada hari kiamat kelak berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari nur (cahaya) di sebelah kanan ‘Arsy, mereka itu adalah orang-orang yang berbuat adil dalam hukum, keluarga, dan segala yang berada di bawah kekuasaan mereka.” Hadits ini diriwayatkan sendiri oleh Muslim dan an-Nasa-i, dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah dengan sanadnya.

Demikianlah akhir dari penafsiran surat al-Qamar. Segala puji bagi Allah dan sanjungan bagi Allah semata, dan dari-Nya taufiq  dan perlindungan berasal.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qamar (6)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qamar (Bulan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 54: 55 ayat

tulisan arab alquran surat al qamar ayat 47-55“47. Sesungguhnya orang-orang yang berdosa berada dalam kesesatan (di dunia) dan dalam neraka. 48. (ingatlah) pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka. (Dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah sentuhan api neraka!” 49. Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran. 50. dan perintah Kami hanyalah satu Perkataan seperti kejapan mata. 51. dan Sesungguhnya telah Kami binasakan orang yang serupa dengan kamu. Maka Adakah orang yang mau mengambil pelajaran? 52. dan segala sesuatu yang telah mereka perbuat tercatat dalam buku-buku catatan 53. dan segala (urusan) yang kecil maupun yang besar adalah tertulis. 54. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa itu di dalam taman-taman dan sungai-sungai, 55. di tempat yang disenangi di sisi Tuhan yang berkuasa.”(al-Qamar: 47-55)

Allah memberitahukan tentang orang-orang yang berbuat dosa, bahwa mereka senantiasa sesat, menyimpang dari kebenaran menuju kegilaan disebabkan oleh keraguan dan kekacauan cara berfikir mereka. Yang demikian itu mencakup setiap orang yang memiliki sifat seperti itu, baik kafir maupun pelaku bid’ah dari  berbagai macam golongan. Selanjutnya Allah berfirman: yauma yushabuuna fin naari ‘alaa wujuuhihim (“Pada hari mereka diseret ke neraka atas muka mereka.”) maksudnya sebagaimana mereka berada dalam kegilaan dan keraguan serta kebimbangan, maka api neraka pun akan menjadi harta pusaka bagi mereka. Dan sebagaimana mereka dulu berada dalam kesesatan, maka di dalam neraka itu mereka akan diseret di atas wajah mereka, sehingga mereka tidak tahu kemana mereka akan dibawa. Dan dikatakan kepada mereka sebagai bentuk penghinaan dan celaan, dzuuquu massasaqar (“Rasakanlah sentuhan api neraka”).

Dan firman Allah Ta’ala: innaa kulla syai-in khalaqnaahu biqadar (“Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.”) sebagaiman firman-Nya: wa khalaqa kulla sai-ing faqaddarahuu taqdiiraa (“Dan Dia menciptakan segala sesuatu, dan Dia menetapkan ukuran-ukurannya dengan serapi-rapinya.”) (al-Furqaan: 2). Maksudnya, Dia menetapkan suatu ukuran dan member petunjuk kepada semua  makhluk kepada ketetapan tersebut. Oleh karena itu, para ulama Sunnah menjadikan ayat yang mulia ini sebagai dalil untuk menetapkan takdir Allah Ta’ala bagi semua makhluk sebelum makhluk itu diciptakan. Dan itu merupakan ilmu Allah terhadap segala sesuatu sebelum adanya dan pencatatan ketentuan masing-masing makhluk sebelum semuanya tercipta. Para ulama memaham paham Qadariyyah yang muncul di penghujung masa Shahabat dengan ayat ini dan nash lain yang senada, baik berupa ayat al-Qur’an maupun hadits-hadits Rasulullah saw. Dan kami telah membahas masalahini secara terinci dan juga hadits-hadits yang berkenaan dengan hal itu dalam kitab al-iiman dalam shahih al-Bukhari. Dan berikut ini beberapa hadits yang berkaitan dengan ayat ini:

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia bercerita: “Telah datang orang-orang musyrik Quraisy kepada Nabi saw. Untuk mendebatkan tentang takdir, lalu turunlah ayat: yauma yushabuuna finnaari ‘alaa wujuuhihim dzuuquu massasaqar. Inna kulla syai-in khalaqnaahu biqadar (“Pada hari mereka diseret ke neraka atas mereka. [Dikatakan kepada mereka]: ‘Rasakan sentuhan api neraka.’ Sesungguhnya Kami menciptakan segala sesuatu menurut ukuran.’”) demikian pula hadits yang diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, dan Ibnu Majah, dari hadits Waki’, dari Sufyan ats-Tsauri.

Imam Ahmad meriwayatkan, Qatadah memberitahu kami dari Ibnu ‘Umar, ia bercerita: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. Bersabda: ‘Akan ada umat ini maskh [wajah yang dirubah menjadi wajah binatang]. Ketahuilah, yang demikian itu terjadi pada orang-orang yang mendustakan takdir dan orang-orang zindiq.’” (HR at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, at-Tirmidzi berkata: “Hasan shahih gharib”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Thawus al-Yamani, ia berkata: “Aku mendengar Ibnu ‘Umar berkata bahwa Rasulullah bersabda: ‘Segala sesuatu itu telah melalui ketetapan [takdir] sampai pada kelemahan dan kepandaian[pun]’” (HR Muslim).

Dalam hadits shahih disebutkan: “Mohonlah pertolongan kepada Allah dan janganlah engkau merasa lemah. Jika engkau tertimpa sesuatu, maka katakanlah: ‘Allah telah menakdirkan, apa yang Dia kehendaki akan Dia kerjakan.’ Dan janganlah engkau berkata: ‘Andai saja aku berbuat seperti ini, niscaya akan seperti ini.’ Karena kata “lau” [andai, kalau, seandainya] akan membuka perbuatan syaitan.

Dalam hadits Ibnu ‘Abbas disebutkan, bahwa Rasulullah saw. Pernah bersabda kepadanya: “Ketahuilah, jika suatu umat berkumpul untuk memberikan manfaat kepadamu yang tidak ditakdirkan Allah padamu, niscaya mereka tidak akan dapat memberikan manfaat kepadamu. Dan jika mereka berkumpul untuk mencelakakanmu dengan sesuatu yang tidak ditakdirkan Allah bagimu, niscaya mereka tidak akan dapat mencelakaimu. Pena telah mongering, dan lembaran-lembaran pun telah dilipat.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ayyub bin Ziyad, ‘Ubadah bin al-Walid bin ‘Ubadah memberitahuku, ayahku memberitahuku, ia bercerita: “Aku pernah menjenguk ‘Ubadah yang ketika itu sedang sakit, aku kira sebentar lagi akan wafat, lalu kukatakan: ‘Wahai ayahku, berwasiatlah kepadaku dan berijtihadlah untukku.’ Maka iapun berkata: ‘Tolong dudukkan aku.’ Setelah mereka mendudukkannya, iapun berkata: ‘Wahai puteraku, sesungguhnya engkau belum merasakan iman dan belum mencapai hakekat pengetahuan tentang Allah sehingga engkau beriman kepada takdir, yang baik maupun yang buruk.’ Kukatakan: “Wahai ayahku, bagaimana aku dapat mengetahui takdir yang baik dan yang buruk?’ beliau menjawab: ‘Ketahuilah bahwa sesuatu yang terhindar darimu tidak akan menimpamu dan apa yang menimpamu tidak akan menghindar darimu. Wahai anakku sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah saw. bersabda: ‘Sesungguhnya makhluk yang pertama kali diciptakan Allah adalah al-Qalam (pena). Kemudian Allah berfirman kepadanya: ‘Tulislah!’ Maka pada saat itu juga berlangsunglah apa yang akan terjadi sampai hari kiamat kelak.’

‘Wahai putraku, jika engkau meninggal dunia tidak dalam keadaan seperti itu, maka engkau akan masuk neraka.’”

Hadits ini diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari al-Walid bin ‘Ubadah, dari ayahnya, dan ia mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih ghaib.

Dalam kitab Shahiih Muslim telah ditegaskan dari riwayat ‘Abdullah bin Wahb dan juga selainnya, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, ia bercerita bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah telah menetapkan takdir-takdir makhluk lima puluh ribu tahun sebelum langit dan bumi diciptakan.” Ibnu Wahb menambahkan: wa kaana ‘arsyuhuu ‘alal maa-i (“dan adalah arsy-Nya berada di atas air.”) demikianlah yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia mengatakan: “Hadits tersebut hasan shahih gharib.”

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qamar (5)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qamar (Bulan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 54: 55 ayat

Wa laqad raawaduuhu ‘an dlaifi (“Dan sesungguhnya mereka telah membujuknya [agar menyerahkan] tamunya[kepada mereka]”) hal itu terjadi pada malam hari ketika malaikat Jibril, Mika-il, dan Israfil mendatangi Luth dalam wujud tiga orang pemuda tampan, sebagai ujian dari Allah bagi mereka. Lalu Luth menjamu mereka. Namun istrinya yang sudah tua renta itu mengirim pesan buruk kepada kaumnya, memberitahukan perihal tamu-tamu tersebut. Maka merekapun mendatangi rumah Luth dari segala penjuru. Luth mengunci rumahnya menahan mereka yang berusaha mendobrak pintu berusaha masuk. Luth berkata kepada mereka, haa-ulaa-i banaatii (“mereka itu adalah anak-anak perempuanku”) (al-Hijr: 71). Maksudnya adalah istri-istri mereka sendiri.

Ing kuntum faa’iluun (“Jika kamu hendak berbuat [secara halal]”) (al-Hijr: 71). Qaaluu laqad ‘alimta maa lanaa fii banaatika min haqq (“Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kamu telah mengetahui bahwa kami tidak mempunyai keinginan terhadap putri-putriny.”) maksudnya, kami tidak mempunyai selera terhadap mereka.

Wa innaka lata’lamu maa nuriid (“Dan sesungguhnya kamu tentu mengetahui apa yang sebenarnya kami kehendaki.”) (Huud: 79). Setelah situasi semakin memuncak dan mereka bersikeras untuk masuk rumah, Jibril a.s. pun keluar menemui mereka lalu memukul mata mereka dengan ujung sayapnya sehingga mata mereka menjadi buta saat itu juga. Merekapun mundur, meraba-raba dengan tongkat, dan mereka mengancam Luth hingga menjelang pagi.

Allah berfirman: laqad shabbahahum bukratan ‘adzaabum mustaqirr (“Dan sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa adzab yang kekal.”) maksudnya, mereka tidak dapat melarikan diri dari adzab itu dan tidak ada tempat bersembunyi bagi mereka dari-Nya. Fadzuuquu ‘adzaabii wa nudzur. Laqad yassarnal qur-aana lidzdzikri fahal mim mudzdzakir (“Maka rasakanlah adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. Dan sesungguhnya telah Kami mudahkan al-Qur’an untuk pelajaran, maka adakah orang yang mengambil pelajaran?”)

tulisan arab alquran surat al qamar ayat 41-46 “41. dan Sesungguhnya telah datang kepada kaum Fir’aun ancaman-ancaman. 42. mereka mendustakan mukjizat Kami semuanya, lalu Kami azab mereka sebagai azab dari yang Maha Perkasa lagi Maha Kuasa 43. Apakah orang-orang kafirmu (hai kaum musyrikin) lebih baik dari mereka itu, atau Apakah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam Kitab-Kitab yang dahulu 44. atau Apakah mereka mengatakan: “Kami adalah satu golongan yang bersatu yang pasti menang.” 45. golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang. 46. sebenarnya hari kiamat Itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit.”(al-Qamar: 41-46)

Alllah Ta’ala berfirman seraya menceritakan tentang Fir’aun dan bala tentaranya, dimana mereka telah didatangi oleh Rasul Allah, Musa dan saudaranya, Harun. Yang membawa kabar gembira jika mereka beriman dan peringatan jika mereka kafir. Dan di tangan keduanya terdapat mukjizat besar dan tanda-tanda kekuasaan yang beraneka ragam. Maka mereka mendustakan semua itu sehingga Allah Ta’ala menjatuhkan hukuman kepada mereka dengan hukuman dari Raja Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Maksudnya, Allah ta’ala membinasakan mereka semua sehingga tidak ada seorangpun yang tersisa, tidak ada diri maupun bekas [jejak] mereka.

Selanjutnya Allah Ta’ala berfirman: akuffaarukum (“Apakah orang-orang kafirmu”) Yakni, hai orang-orang yang meragukan diri dari kalangan kaum kafir Quraisy, khairum min ulaa-ikum (“lebih baik dari mereka itu”) yakni, orang-orang yang telah disebutkan dari orang-orang yang telah dibinasakan karena pendustaan mereka terhadap para Rasul dan kekufuran mereka terhadap Kitab-Kitab, apakah kalian lebih baik dari mereka? Am lakum baraa-atung fizzubur (“Atau apakah kamu telah mempunyai jaminan  kebebasan [dari azab] dalam Kitab-Kitab yang terdahulu?”) maksudnya, ataukah kalian memiliki jaminan kebebasan untuk tidak tertimpa azab dan siksaan?

Setelah itu  Allah Ta’ala berfirman seraya menceritakan tentang mereka: am yaquuluuna nahnu jamii’um mungtashir (“Atau apakah mereka mengatakan: ‘Kami adalah golongan yang bersatu dan pasti menang’”) maksudnya, mereka berkeyakinan bahwa mereka akan saling menolong sebagian dengan lainnya, dan bahwasannya kesatuan mereka sudah memadai untuk menolak pihak yang akan berbuat jahat kepada mereka. Allah Ta’ala berfirman: sayuhzamul jam’u wayuwalluunaddubur (“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.”) maksudnya, kesatuan mereka  akan terpecah-pecah dan merekapun kalah.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas bahwa Nabi saw. bersabda yang ketika itu beliau berada di kemahnya pada peristiwa perang Badr: “Aku menagih sumpah dan janji-Mu ya Allah, jika Engkau berkehendak, niscaya setelah hari ini Engkau tidak akan diibadahi di muka bumi ini untuk selamanya.” Kemudian Abu Bakr memegang tangan beliau dan berkata: “Cukup ya Rasulallah. Engkau telah meminta dengan sangat kepada Rabbmu.” Maka beliaupun keluar sambil melompat dengan baju besi beliau seraya membaca firman-Nya: sayuhzamul jam’u wa yuwalluunaddubur. Balis saa’atu mau’iduhum was saa’atu adhaa wa amarr (“Golongan itu pasti akan dikalahkan  dan mereka akan mundur ke belakang. Sebenarnya hari kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan kiamat itu lebih dasyat dan lebih pahit.”) hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan an-Nasa-i di beberapa tempat dari hadits Khalid Ibnu Mihran al-Hadza’.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qamar (4)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qamar (Bulan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 54: 55 ayat

Ini adalah berita kaum Tsamud, dimana mereka telah mendustakan Rasul mereka, Shalih. Fa qaaluu abasyaram minnaa waahidan nattabi’uhuu innaa idzal lafii dlalaaliw wa su’ur (“Maka mereka berkata: ‘Bagaimana kita akan mengikuti [begitu] saja seorang manusia [biasa] di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu, benar-benar dalam keadaan sesat dan gila.”) mereka mengatakan: “Sesungguhnya kita gagal dan merugii jika menyerahkan kepemimpinan kepada salah seorang di antara kita.” Kemudian mereka merasa heran dengan diturunkannya wahyu [secara] khusus kepadanya tanpa melibatkan mereka. Selanjutnya mereka menuduhnya sebagai pendusta, dimana mereka berkata: bal huwa kadzdzaabun asyir (“Sebenarnya dia adalah seorang yang sangat pendusta lagi sombong.”) Maksudnya, berlebihan sehingga melampaui batas kedustaan. Allah Ta’ala berfirman: Saya’lamuuna ghadam manil kadzdzaabul asyir (“Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya sangat pendusta lagi sombong.”) Yang demikian itu merupakan kecaman yang keras dan ancaman yang teramat sangat.

Setelah itu Allah berfirman: innaa mursaluunan naaqati fitnatallahum (“Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka.”) yakni sebagai ujian bagi mereka. Allah Ta’ala mengeluarkan seekor unta betina yang sangat besar dan  sedang mengandung dari batu tak bercelah, untuk mereka. Sesuai dengan apa yang mereka minta, agar menjadi hujjah Allah atas mereka mengenai kebenaran Shalih a.s. perihal risalah yang ia bawa.

Selanjutnya Allah berfirman seraya memerintahkan hamba dan Rasul-Nya Shalih a.s:  fartaqibhum washthabir (“Maka tunggulah [tindakan] mereka dan bersabarlah”) Maksudnya, tunggulah perkara yang akan menimpa mereka kelak dan bersabarlah terhadap mereka, karena kesudahan yang baik dan pertolongan di dunia dan akhirat hanyalah untukmu. Fa nabbi’hum annal maa-a qismatum bainahum (“Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu telah terbagi antara mereka.”) yakni, satu hari bagi mereka dan satu hari lagi untuk unta.

Firman Allah Ta’ala: kullu syirbim muhtadlar (“Tiap-tiap giliran minum dihadiri [oleh yang punya giliran]”) Muhahid mengatakan: “Jika unta betina itu tidak datang, merekapun  mendatangi air tersebut. Dan bila unta betina itu datang, mereka segera memerah susu.”

Selanjutnya Allah berfirman: fa naadaw shaahibahum fata’aathaa fa’aqar (“Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap [unta itu] dan membunuhnya.”) para ahli tafsir mengemukakan: “Dialah yang membunuh unta tersebut dan dia bernama Qadar bin Salif. Dia adalah orang yang paling celaka di antara kaumnya. Hal itu sebagaimana firman-Nya: idzim ba’atsa asyqaahaa (‘Ketika mengutus orang yang paling celaka di antara mereka’) (asy-Syams: 12)”

Firman-Nya: fa ta’aathaa fa ‘aqara fakaifa kaana ‘adzaabii wanudzur (“Lalu kawannya menangkap [unta itu] dan membunuhnya. Alangkah dasyatnya adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku”) Maksudnya, maka Kami menjatuhkan hukuman kepada mereka. Bagaimana [dahsyatnya] hukuman-Ku kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada-Ku dan tindakan mereka mendustakan Rasul-Ku.

Innaa arsalnaa ‘alaihim shaihataw waahidatang fakaanuu kaHasyiimil muhtadzir (“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering [yang dikumpulkan oleh] yang punya kandang binatang.”) Maksudnya, mereka semua binasa, tidak ada seorangpun dari mereka yang tersisa, mereka menjadi lapuk sebagaimana lapuknya tanaman yang kering. Demikian yang dikatakan oleh banyak ahli tafsir.

Dan kata “al-muhtadzir”, as-Suddi mengatakan bahwa maknanya berarti ladang yang terdapat di padang Sahara ketika mengering, terbakar, dan diterpa angin, dari firman-Nya: kahasyiimil muhtadzir (“Seperti rumput-rumput kering [yang dikumpulkan oleh] yang punya kandang binatang.”) dan pendapat pertamalah yang lebih kuat. Wallaahu a’lam.

tulisan arab alquran surat al qamar ayat 33-40 “33. kaum Luth-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya). 34. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, 35. sebagai nikmat dari kami. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur, 36. dan Sesungguhnya Dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, Maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. 37. dan Sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamnuya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. 38. dan Sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. 39. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.40. dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?”(al-Qamar: 33-40)

Allah Swt. Berfirman seraya menceritakan tentang kaum Luth, bagaimana mereka mendustakan  dan menentang Rasul mereka, serta tindakan mereka melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji berupa homoseksual, yakni berhubungan badan sesama lelaki. Itulah perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum mereka. Oleh karena itu Allah membinasakan mereka secara keseluruhan, yang Dia belum pernah melakukan pembinasaan seperti itu sebelumnya terhadap umat-umat lain. Allah Ta’ala telah memerintahkan Jibril a.s. lalu ia membawa kota-kota mereka sampai ke puncak langit, kemudian dia balikkan  dan membantingnya dan mereka dilempari batu-batu dari tanah yang panas secara bertubi-tubi.

Oleh karena itu disini Dia berfirman: inaa arsalnaa ‘alaihim haashiban illaa aala luutin najjainaahum bisahar (“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu, kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing.”) Maksudnya, mereka keluar pada akhir malam sehingga mereka selamat dari adzab yang menimpa kaum mereka. Dan tidak seorangpun dari kaum Luth  yang beriman kepadanya, bahkan istrinya sendiripun tidak beriman kepadanya dan ikut tertimpa adzab. Nabi Luth bersama beberapa  anak perempuannya keluar dari tengah-tengah kaumnya dengan selamat tanpa tersentuh oleh keburukan sedikitpun.

Oleh karena itu Allah berfirman: kadzaalika najzii mang syakar. Wa laqad andzarahum bathsyatanaa (“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya  dia [Luth] telah memperingatkan mereka akan adzab-adzab Kami.”) Maksudnya, sebelum adzab datang menimpa mereka, Luth telah memperingatkan mereka akan siksa dan adzab Allah. Namun mereka tidak pernah menoleh kepadanya dan tidak juga mau mendengarnya. Justru mereka meragukan dan bersikap sombong kepadanya.