Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qamar (4)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qamar (Bulan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 54: 55 ayat

Ini adalah berita kaum Tsamud, dimana mereka telah mendustakan Rasul mereka, Shalih. Fa qaaluu abasyaram minnaa waahidan nattabi’uhuu innaa idzal lafii dlalaaliw wa su’ur (“Maka mereka berkata: ‘Bagaimana kita akan mengikuti [begitu] saja seorang manusia [biasa] di antara kita? Sesungguhnya kalau kita begitu, benar-benar dalam keadaan sesat dan gila.”) mereka mengatakan: “Sesungguhnya kita gagal dan merugii jika menyerahkan kepemimpinan kepada salah seorang di antara kita.” Kemudian mereka merasa heran dengan diturunkannya wahyu [secara] khusus kepadanya tanpa melibatkan mereka. Selanjutnya mereka menuduhnya sebagai pendusta, dimana mereka berkata: bal huwa kadzdzaabun asyir (“Sebenarnya dia adalah seorang yang sangat pendusta lagi sombong.”) Maksudnya, berlebihan sehingga melampaui batas kedustaan. Allah Ta’ala berfirman: Saya’lamuuna ghadam manil kadzdzaabul asyir (“Kelak mereka akan mengetahui siapakah yang sebenarnya sangat pendusta lagi sombong.”) Yang demikian itu merupakan kecaman yang keras dan ancaman yang teramat sangat.

Setelah itu Allah berfirman: innaa mursaluunan naaqati fitnatallahum (“Sesungguhnya Kami akan mengirimkan unta betina sebagai cobaan bagi mereka.”) yakni sebagai ujian bagi mereka. Allah Ta’ala mengeluarkan seekor unta betina yang sangat besar dan  sedang mengandung dari batu tak bercelah, untuk mereka. Sesuai dengan apa yang mereka minta, agar menjadi hujjah Allah atas mereka mengenai kebenaran Shalih a.s. perihal risalah yang ia bawa.

Selanjutnya Allah berfirman seraya memerintahkan hamba dan Rasul-Nya Shalih a.s:  fartaqibhum washthabir (“Maka tunggulah [tindakan] mereka dan bersabarlah”) Maksudnya, tunggulah perkara yang akan menimpa mereka kelak dan bersabarlah terhadap mereka, karena kesudahan yang baik dan pertolongan di dunia dan akhirat hanyalah untukmu. Fa nabbi’hum annal maa-a qismatum bainahum (“Dan beritakanlah kepada mereka bahwa sesungguhnya air itu telah terbagi antara mereka.”) yakni, satu hari bagi mereka dan satu hari lagi untuk unta.

Firman Allah Ta’ala: kullu syirbim muhtadlar (“Tiap-tiap giliran minum dihadiri [oleh yang punya giliran]”) Muhahid mengatakan: “Jika unta betina itu tidak datang, merekapun  mendatangi air tersebut. Dan bila unta betina itu datang, mereka segera memerah susu.”

Selanjutnya Allah berfirman: fa naadaw shaahibahum fata’aathaa fa’aqar (“Maka mereka memanggil kawannya, lalu kawannya menangkap [unta itu] dan membunuhnya.”) para ahli tafsir mengemukakan: “Dialah yang membunuh unta tersebut dan dia bernama Qadar bin Salif. Dia adalah orang yang paling celaka di antara kaumnya. Hal itu sebagaimana firman-Nya: idzim ba’atsa asyqaahaa (‘Ketika mengutus orang yang paling celaka di antara mereka’) (asy-Syams: 12)”

Firman-Nya: fa ta’aathaa fa ‘aqara fakaifa kaana ‘adzaabii wanudzur (“Lalu kawannya menangkap [unta itu] dan membunuhnya. Alangkah dasyatnya adzab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku”) Maksudnya, maka Kami menjatuhkan hukuman kepada mereka. Bagaimana [dahsyatnya] hukuman-Ku kepada mereka lantaran kekufuran mereka kepada-Ku dan tindakan mereka mendustakan Rasul-Ku.

Innaa arsalnaa ‘alaihim shaihataw waahidatang fakaanuu kaHasyiimil muhtadzir (“Sesungguhnya Kami menimpakan atas mereka satu suara yang keras mengguntur, maka jadilah mereka seperti rumput-rumput kering [yang dikumpulkan oleh] yang punya kandang binatang.”) Maksudnya, mereka semua binasa, tidak ada seorangpun dari mereka yang tersisa, mereka menjadi lapuk sebagaimana lapuknya tanaman yang kering. Demikian yang dikatakan oleh banyak ahli tafsir.

Dan kata “al-muhtadzir”, as-Suddi mengatakan bahwa maknanya berarti ladang yang terdapat di padang Sahara ketika mengering, terbakar, dan diterpa angin, dari firman-Nya: kahasyiimil muhtadzir (“Seperti rumput-rumput kering [yang dikumpulkan oleh] yang punya kandang binatang.”) dan pendapat pertamalah yang lebih kuat. Wallaahu a’lam.

tulisan arab alquran surat al qamar ayat 33-40 “33. kaum Luth-pun telah mendustakan ancaman-ancaman (nabinya). 34. Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu (yang menimpa mereka), kecuali keluarga Luth. mereka Kami selamatkan sebelum fajar menyingsing, 35. sebagai nikmat dari kami. Demikianlah Kami memberi Balasan kepada orang-orang yang bersyukur, 36. dan Sesungguhnya Dia (Luth) telah memperingatkan mereka akan azab-azab Kami, Maka mereka mendustakan ancaman-ancaman itu. 37. dan Sesungguhnya mereka telah membujuknya (agar menyerahkan) tamnuya (kepada mereka), lalu Kami butakan mata mereka, Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku. 38. dan Sesungguhnya pada esok harinya mereka ditimpa azab yang kekal. 39. Maka rasakanlah azab-Ku dan ancaman-ancaman-Ku.40. dan Sesungguhnya telah Kami mudahkan Al Quran untuk pelajaran, Maka Adakah orang yang mengambil pelajaran?”(al-Qamar: 33-40)

Allah Swt. Berfirman seraya menceritakan tentang kaum Luth, bagaimana mereka mendustakan  dan menentang Rasul mereka, serta tindakan mereka melakukan suatu perbuatan yang tidak terpuji berupa homoseksual, yakni berhubungan badan sesama lelaki. Itulah perbuatan keji yang belum pernah dilakukan oleh seorangpun sebelum mereka. Oleh karena itu Allah membinasakan mereka secara keseluruhan, yang Dia belum pernah melakukan pembinasaan seperti itu sebelumnya terhadap umat-umat lain. Allah Ta’ala telah memerintahkan Jibril a.s. lalu ia membawa kota-kota mereka sampai ke puncak langit, kemudian dia balikkan  dan membantingnya dan mereka dilempari batu-batu dari tanah yang panas secara bertubi-tubi.

Oleh karena itu disini Dia berfirman: inaa arsalnaa ‘alaihim haashiban illaa aala luutin najjainaahum bisahar (“Sesungguhnya Kami telah menghembuskan kepada mereka angin yang membawa batu-batu, kecuali keluarga Luth. Mereka Kami selamatkan di waktu sebelum fajar menyingsing.”) Maksudnya, mereka keluar pada akhir malam sehingga mereka selamat dari adzab yang menimpa kaum mereka. Dan tidak seorangpun dari kaum Luth  yang beriman kepadanya, bahkan istrinya sendiripun tidak beriman kepadanya dan ikut tertimpa adzab. Nabi Luth bersama beberapa  anak perempuannya keluar dari tengah-tengah kaumnya dengan selamat tanpa tersentuh oleh keburukan sedikitpun.

Oleh karena itu Allah berfirman: kadzaalika najzii mang syakar. Wa laqad andzarahum bathsyatanaa (“Demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang bersyukur. Dan sesungguhnya  dia [Luth] telah memperingatkan mereka akan adzab-adzab Kami.”) Maksudnya, sebelum adzab datang menimpa mereka, Luth telah memperingatkan mereka akan siksa dan adzab Allah. Namun mereka tidak pernah menoleh kepadanya dan tidak juga mau mendengarnya. Justru mereka meragukan dan bersikap sombong kepadanya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: