Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (3)

4 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 53: 62 ayat

Firman Allah Ta’ala: fa kaana qaaba qausaini  au adnaa (“Maka jadilah ia dekat [kepada Muhammad sejarak] dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.”) maksudnya Jibril mendekati Muhammad saw. sejarak dua busur panah, yakni seukuran dengan keduanya jika dipanjangkan. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Qatadah. Ada juga yang mengatakan bahwa yang dimaksud adalah jarak antara tali busur sampai pada badan busur.

Firman-Nya: Au adnaa (“atau lebih dekat”) telah dijelaskan sebelumnya bahwa shighah (bentuk kalimat) ini digunakan dalam bahasa untuk menetapkan objek yang diberitakan serta menafikan yang lebih dari itu.  Sebagaimana firman Allah Ta’ala: tsumma qasat quluubukum mim ba’di dzaalika fa hiya kal hijaarati au asyaddu qaswah (“Kemudian setelah itu, hati kalian menjadi keras seperti batu, bahkan lebih keras lagi.” (al-Baqarah: 74). Maksudnya, tidaklah hati itu lebih lunak dari batu, bahkan ia seperti batu atau lebih keras lagi. Yang demikian itu merupakan realisasi objek berita, tidak ada keraguan dan kebimbangan. Sesungguhnya  hal ini dilarang di sini. Demikian juga dengan ayat ini, fa kaana qaaba qausaini  au adnaa (“Maka jadilah ia dekat [kepada Muhammad sejarak] dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi.”)

Apa yang kami katakan ini bahwa yang telah mendekat sehingga jarak antara dirinya dengan Muhammad saw. hanya dua anak panah atau lebih dekat lagi adalah Jibril a.s. Dan itu pula yang menjadi pendapat Ummul Mukminin ‘Aisyah, Ibnu Mas’ud, Abu Dzarr, dan Abu  Hurairah.

Imam Muslim meriwayatkan dalam kitab Shahihnya, dari Ibnu ‘Abbas, bahwa ia pernah berkata: “Muhammad pernah melihat Rabbnya dengan mata hatinya sebanyak dua kali.” Kemudian Ibnu ‘Abbas memasukkan ayat ini sebagai salah satu dari dua penglihatan ini.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari asy-Syaibani, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Zara tentang firman Allah Ta’ala: fa kaana qaaba qausaini  au adnaa. Fa auhaa ilaa ‘abdihii maa auhaa (“Maka jadilah ia dekat [kepada Muhammad sejarak] dua ujung busur panah atau lebih dekat lagi. Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya [Muhammad] apa yang telah Allah wahyukan”) ia berkata: ‘Abdullah memberitahu kami bahwa Muhammad saw. pernah melihat Jibril a.s. yang mempunyai enam ratus sayap.’”

Berdasarkan apa yang telah kami sebutkan, maka firman Allah: fa auhaa ilaa ‘abdihii maa auhaa (“Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya [Muhammad] apa yang telah Allah wahyukan.”) maknanya, Jibril mewahyukan kepada hamba Allah –Muhammad saw.- apa yang seharusnya  ia sampaikan, maka Allah memberikan wahyu kepada hamba-Nya –Muhammad saw.- melalui Jibril a.s. Kedua makna tersebut shahih.

Telah disebutkan dari Sa’id bin Jubair mengenai firman Allah Ta’ala: fa auhaa ilaa ‘abdihii maa auhaa (“Lalu ia menyampaikan kepada hamba-Nya [Muhammad] apa yang telah Allah wahyukan.”) ia berkata: “Maka Allah swt. Mewahyukan kepadanya: a lam yajidka yatiimang fa aawaa (“Bukankah Dia mendapatimu sebagai seorang yatim, lalu Dia melindungimu?”) (adl-Dluhaa: 6) wa rafa’naa laka dzikraka (“dan Kami tinggikan bagimu sebutan [nama]mu”) (Asy-Syarh: 4)”

Selainnya berkata: “Allah mewahyukan kepada beliau bahwa surga itu diharamkan bagi para Nabi sehingga engkau memasukinya dan juga bagi semua umat sehingga umatmu memasukinya.”

Dan firman-Nya: Maa kadzabal fu-aadu maa ra-aa. A fa tumaaruunahuu ‘alaa maa yaraa (“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya. Maka, apakah kamu [kaum musyrikin Mekah] hendak membantahnya tentang apa yang dilihatnya?”)

Imam Muslim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: maa kadzabal fu-aadu maa ra-aa (“Hatinya tidak mendustakan apa yang telah dilihatnya.”) wa laqad ra-aahu nazlatan ukhraa (“dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril [dalam rupanya yang asli] pada waktu yang lain.”) ia mengatakan: “Beliau melihatnya dengan mata hatinya  dua kali.”

Imam at-Tirmidzi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia menceritakan: “Muhammad pernah melihat Rabb-nya.” Aku bertanya: “Bukankah Allah telah berfirman: laa tudrikuhul abshaaru wa huwa yudrikul abshaar (“Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala penglihatan itu.” (al-An’am: 103). Ia mengatakan: “Celaka engkau. Yang demikian itu jika Dia menampakkan diri dengan cahaya-Nya yang merupakan cahaya-Nya. Dan beliau melihat Rabb-nya sebanyak dua kali.” Lebih lanjut at-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut hasan gharib.”

Imam an-Nasa-i meriwayatkan, Ishaq bin Ibrahim memberi tahu kami dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Apakah kalian heran dengan gelar al-khullah (kekasih) yang diberikan kepada Ibrahim dan al-kalam (pembicara langsung) yang diberikan kepada Musa dan ar-ru’yah (penglihatan kepada-Nya) yang diberikan kepada Muhammad saw.”

Dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan dari Abu Dzarr, ia berkata: “Aku pernah bertanya kepada Rasulullah saw.: ‘Apakah engkau pernah melihat Rabb-mu?’ Beliau menjawab: ‘(Dalam bentuk) cahaya, sesungguhnya aku telah melihat-Nya.’” Dalam riwayat lain disebutkan: “Aku pernah melihat cahaya.” Sedang hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Rasulullah bersabda: ‘Aku melihat Rabb’” hadits tersebut sanadnya atas syarat shahih, tetapi ia merupakan ringkasan dari hadits al-manam, seperti yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dan firman Allah Ta’ala: Wa laqad ra aahu nazlatan ukhraa, ‘inda sidratil muntahaa, ‘indaha jannatul ma’waa (“Dan sesungguhnya Muhammad telah melihat Jibril itu [dalam rupa yang asli] pada waktu yang lain. Yaitu Sidratul Muntaha. Di dekatnya ada surga tempat tinggal.”) dan itulah kali yang kedua, dimana Rasulullah saw. melihat Jibril dalam bentuknya yang asli seperti yang diciptakan Allah Ta’ala, dan itu terjadi pada malam Isra’. Dan kami telah menyebutkan beberap hadits berkenaan dengan masalah Isra’ ini dengan jalan dan lafazhnya masing-masing di awal surat al-Israa’ sehingga tidak perlu lagi diulangi disini. Dan telah dikemukakan juga bahwa Ibnu ‘Abbas menegaskan ru-yah pada Isra’ dan memperkuatnya dengan ayat ini, lalu diikuti oleh sekelompok ulama Salaf dan Khalaf, namun ditentang juga oleh beberapa kelompok Shahabat, Tabi’in dan lain-lain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: