Arsip | 15.44

Tafsir Al-Qur’an Surah At-Takaatsur

6 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah At-Takaatsur (Bermegah-megah)
Surah Makkiyyah; Surah ke 102: 8 ayat

tulisan arab alquran surat at takaatsur ayat 1-8

“1. Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, 2. sampai kamu masuk ke dalam kubur. 3. janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu), 4. dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. 5. janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, 6. niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, 7. dan Sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin. 8. kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu).”  (at-Takaatsur: 1-8)

Allah Ta’ala berfirman, kalian terlalu disibukkan oleh kecintaan pada dunia, kenikmatan dan berbagai perhiasannya, sehingga lupa untuk mencari dan mengejar kehidupan akhirat. Dan hal tersebut terus menimpa kalian sehingga kematian menjemput kalian, lalu kalian mendatangi kuburan dan menjadi salah satu dari penghuninya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Zaid bin Aslam dari ayahnya, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, dari ketaatan, sampai kamu masuk ke dalam kubur –sampai kematian menjemput kalian.”

Al-Hasan al-Basrhri mengatakan: alhaakumut takaatsur (“Bermegah-megahan  telah melalaikanmu.”) yakni dalam hal harta dan anak. Dan dalam kitab Shahih al-Bukhari mengenai ar-riqaaq (perbudakan), dari Ubay bin Ka’ab, dia berkata: “Kami pernah melihat hal ini dari al-Qur’an sehingga turun: alhaakumut takaatsur (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu.”) yakni seandainya anak Adam memiliki lembah emas.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Mithraf, yakni Ibnu ‘Abdillah bin asy Syikhir dari ayahnya, dia berkata: “Kami pernah sampai kepada Rasulullah saw. yang ketika itu beliau mengatakan: alhaakumut takaatsur (“Bermegah-megahan telah melalaikanmu.”) anak Adam mengatakan: hartaku, hartaku. Tidaklah kamu mendapatkan dari hartamu itu kecuali apa yang kamu makan, lalu habis atau kamu pakai lalu usang, atau kamu sedekahkan sehingga akan terus mengalir?” diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i.

Imam Bukhari meriwayatkan, Rasulullah saw. bersabda: “Ada tiga hal yang mengantarkan jenazah, lalu dua di antaranya masih kembali sedang satu lagi tetap bersamanya; jenazah itu diantar oleh keluarga, harta dan amalnya, lalu keluarga dan hartanya kembali pulang sedangkan amalnya tetap bersamanya.” Diriwayatkan oleh Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, bahwa Nabi saw. bersabda: “Anak Adam itu akan menjadi tua dan ada dua hal yang akan tetap bersamanya; ketamakan dan angan-angan.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab Ash-Shahihain.

Al-Hafizh Ibnu ‘Asakir menyebutkan di dalam biografi al-Ahnaf bin Qais dan namanya adalah adl-Dlahhak, bahwasannya dia pernah melihat uang dirham di tangan seseorang, lalu ia bertanya: “Milik siapa dirham ini?” lalu orang itu berkata kepadaku, dia mengatakan: “Uang itu akan menjadi milikmu jika engkau menginfakkannya, baik untuk memperoleh pahala maupun untuk mendapatkan rasa syukur.” Kemudian al-Ahnaf mengumandangkan ungkapan seorang penyair: “Engkau akan menjadi milik hartamu jika engkau menahannya, dan jika engkau menafkahkannya maka harta itu akan menjadi milikmu.”

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu Buraidah mengenai firman-Nya, alhaakumut takaatsur, dia mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan dengan dua dari beberapa kabilah Anshar pada Bani Haritsah dan Bani al-Harits. Mereka berbangga-bangga dan bermegah-megah. Kemudian salah satu dari kabilah itu berkata: ‘Apakah di antara kalian terdapat seperti si fulan dan fulan bin fulan?’ sedangkan yang lainnya mengatakan hal yang sama. Mereka membanggakan orang-orang yang masih hidup. Kemudian mereka berkata: ‘Mari ikut kami ke kuburan.’ Selanjutnya salah seorang dari kedua kabilah itu berkata: ‘Apakah di antara kalian terdapat orang seperti fulan ?’ dan kabilah yang lain mengatakan hal yang sama. Kemudian Allah menurunkan ayat: alhaakumut takaatsur hattaa zurtumul maqaabir (“Bermegah-megahan  telah melalaikanmu. Sampai kamu masuk ke dalam kubur.”) dan yang dimaksud dengan firman-Nya: hattaa zurtumul maqaabir (“sampai kamu masuk ke dalam kubur.”) yakni kalian akan berangkat menuju ke sana dan dimakamkan di dalamnya. Sebagai mana yang disebutkan dalam sebuah hadits shahih bahwa Rasulullah saw.  pernah masuk menemui seorang Badui untuk menjenguknya, beliau bersabda: “Tidak apa-apa, insya Allah akan menghapuskan  dosa-dosa.” Lalu dia berkata: “Aku katakana: ‘Dia Suci, tetapi ia adalah demam yang cukup parah yang menimpa orang tua yang telah mendekati kubur.” Beliau bersabda: “Benar, kalau begitu.”

Dan firman Allah Ta’ala: Kallaa saufa ta’lamuuna tsumma kallaa saufa ta’lamuun (“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, kemudian janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui.”) Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Ini adalah ancaman  di atas ancaman.” Adl-Dlahhak berkata tentan firman Allah Ta’ala: kallaa saufa ta’lamuun (“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.”) yakni wahai orang-orang kafir. Tsumma kallaa saufa ta’lamuun (“Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui.”) yakni wahai orang-orang yang beriman.

Dan firman Allah: kallaa lau ta’lamuuna ‘ilmal yaqiin (“Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin.”) maksudnya, seandainya kalian mengetahui dengan sebenar-benarnya, niscaya kalian tidak akan dibuat lengah oleh sikap bermegah-megah dari mengejar kehidupan akhirat sampai akhirnya kalian masuk ke dalam kubur.

Lebih lanjut, firman Allah Ta’ala: latarawunnal jahiima tsumma latarawunahaa ‘ainal yaqiin (“Niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka jahim. Dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin”) hal ini merupakan penafsiran ancaman sebelumnya, yakni firman-Nya: Kallaa saufa ta’lamuuna tsumma kallaa saufa ta’lamuun (“Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui, kemudian janganlah begitu kelak kamu akan mengetahui.”)

Allah telah mengancam mereka dengan keadaan seperti itu, yakni para penghuni neraka itu akan melihat saat api neraka bernafas dengan satu kali nafas, maka setiap malaikat Muqarabun (yang mendekatkan diri) dan Nabi yang diutus akan terseungkur di atas kedua lututnya, lantaran kehebatan, kedahsyatan, dan kengerian yang terlihat, seperti yang disebutkan oleh atsar yang diriwayatkan mengenai hal tersebut.

Firman Allah Ta’ala: tsumma latus-alunna yauma-idzin ‘anin na’iim (“Kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan.”) yakni selanjutnya pada hari itu kalian akan ditanya tentang rasa syukur  atas nikmat yang telah dianugerahkan oleh Allah kepada kalian, baik berupa kesehatan, keamanan, rizki, dan lain-lain yang demikian banyak jika kalian menerima nikmat-nikmat Allah dengan rasa syukur atasnya dan beribadah kepada-Nya.

Ibnu Jarir meriwayatkan, al-Husain bin ‘Ali ash-Shuda-I memberitahuku dari Abu Hurairah dia berkata: “Ketika Abu Bakr dan ‘Umar sedang duduk-duduk, tiba-tiba Nabi saw. mendatangi mereka dan bertanya: ‘Mengapa kalian duduk-duduk di sini?’ keduanya menjawab: ‘ Demi Rabb yang telah mengutus dirimu dengan kebenaran, tidak ada yang mengeluarkan diriku kecuali alasan yang sama (lapar).’ Kemudian mereka bertolak sehingga mendatangi rumah salah seorang kaum Anshar. Lalu mereka disambut oleh seorang wanita, maka Nabi saw. bertanya kepadanya: ‘Mana si fulan?’ wanita itu menjwab: ‘Pergi mencari air untuk kami.’ Setelah itu, shahabat itu datang dengan membawa qirbahnya (kendi dari kulit). Dia berkata: ‘Selamat datang. Tidak ada kunjungan seorang hamba yang lebih baik selain kunjungan seorang Nabi kepadaku pada hari ini.’ Kemudian  orang itu menggantungkan kendinya di dahan kurma. Kemudian dia pergi lagi dan datang dengan membawa anggur. Maka Nabi saw. berkata: ‘Mengapa engkau tidak memilahnya?’ orang itu menjawab: ‘Aku lebih suka kalian sendiri yang memilih sesuai dengan selera kalian.’ Kemudian dia mengambil pisau. Lalu Nabi berkata kepadanya: ‘Hindarilah olehmu perahan.’ Pada hari itu , dia juga menyembelihkan kambing untuk mereka. Maka merekapun memakannya. Selanjutnya Nabi saw. bersabda kepadanya: ‘Sesungguhnya engkau benar-benar akan ditanya mengenai hal ini pada hari kiamat kelak. Rasa lapar telah membuat kalian keluar rumah, lalu kalian tidak pulang sehingga kalian mendapatkan ini, dan ini adalah bagian dari kenikmatan.’” Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Ya’la, dan Ibnu Majah. Juga diriwayatkan oleh para penulis kitab as-Sunan.

Mujahid mengatakan (tentang kenikmatan dlam ayat di atas): “Dari setiap kelezatan-kelezatan dunia.” Sedangkan ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, tsumma latus-alunna yauma-idzin ‘anin na’iim (“Kemudian kamu pasti akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.”) dia mengatakan: “Kenikmatan itu adalah kesehatan badan,  pendengaran, dan penglihatan. Allah akan menanyakan kepada semua hamba untuk apa semuanya itu mereka pergunakan. Dan dia lebih mengetahui hal tersebut  daripada mereka. Dan itulah firman-Nya: innas sam’a wal bashara wal fu-aada kullu ulaa-ika kaana ‘anhu mas-uula (“Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungjawabannya.” (QS al-Israa’: 36).

Dan telah ditegaskan pula di dalam Shahih al-Bukhari, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasa-i, dan Sunan Ibnu Majah, dari hadits ‘Abdullah bin Sa’id bin Abi Hindi dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Ada dua nikmat yang membuat banyak orang tertipu olehnya, yaitu nikmat sehat dan waktu luang.” Hal itu berarti bahwa mereka  terlalu sedikit mensyukuri kedua nikmat tersebut, dimana mereka tidak  menunaikan kewajiban yang dituntut keduanya. Dan orang yang tidak menunaikan hak yang telah diwajibkan atasnya berarti dia telah tertipu.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-‘Ashr

6 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-‘Ashr (Masa)
Surah Makkiyyah; Surah ke 103: 3 ayat

Mereka menyebutkan bahwa ‘Amr bin al-‘Ash pernah diutus untuk menemui Musailamah al-Kadzdzab. Hal itu berlangsung setelah pengutusan Rasulullah saw. Dan sebelum dia (‘Amr bin al-‘Ash) masuk Islam. Musailamah al-Kadzab bertanya kepada ‘Amr bin al-‘Ash, “Apa yang telah diturunkan kepada sahabatmu ini (Rasulullah) selama ini?” Dia menjawab, “Telah diturunkan kepadanya satu surat ringkas namun sangat padat.” Dia bertanya, “Surat apa itu?” Dia (‘Amr) menjawab: “Wal ‘ashr….[hingga akhir surah]…(“Demi masa. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Kemudian Musailamah berfikir sejenak, setelah itu ia berkata: “Dan telah diturunkan pula hall serupa kepadaku.” Kemudian ‘Amr bertanya kepadanya, “Apa itu?” Musailamah menjawab: “Yaa wabriyaa wabr. Wa innamaa anta uzduunani wa shadr. Wa saa-iruka hafr naqr (hai kelinci, hai kelinci, sesungguhnya kamu memiliki dia telinga dan satu dada. Dan semua jenismu suka membuat galian dan lubang)”. Kemudian dia bertanya: “Bagaimana menurut pendapatmu hai ‘Amr?” maka ‘Amr berkata kepadanya, “Demi Allah, aku tahu bahwa engkau telah berdusta.”

Wabr adalah binatang sejenis kucing, yang anggota badannya yang paling besar adalah keduua telinga dan dadanya, sedangkan anggota tubuh lainnya kurang bagus. Dengan halusinasi itu, Musailamah al-Kadzdzab bermaksud menyusun kalimat yang bertentangan dengan apa yang disampaikan al-Qur’an. Namun demikian, hal tersebut ditolak mentah-mentah oleh seorang penyembah berhala pada saat itu.

Imam Syafi’I mengatakan: “Seandainya manusia mencermati surat ini (al-‘Ashr) secara seksama, niscaya surat ini akan mencukupi mereka.”

tulisan arab alquran surat al 'ashr ayat 1-3 

“1. demi masa. 2. Sesungguhnya manusia itu benar-benar dalam kerugian, 3. kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran dan nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran.” (al-‘Ashr: 1-3)

Al-‘Ashr berarti masa yang di dalamnya berbagai aktifitas  anak cucu Adam berlangsung, baik dalam wujud kebaikan maupun keburukan. Imam Malik meriwayatkan  dari Zaid bin Aslam: “Kata al-‘Ashr berarti shalat ‘Ashar.” Dan yang populer adalah pendapat pertama.

Dengan demikian, Allah Ta’ala telah bersumpah dengan masa tersebut bahwa manusia itu dalam kerugian, yakni benar-benar merugi dan binasa. Illal ladziina aamanuu wa’amilush shaalihaat (“Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal shalih”). Dengan demikian Allah memberikan pengecualian  dari kerugian itu bagi orang-orang yang beriman dengan hati mereka dan mengerjakan amal shalih   melalui anggota tubuhnya. Wa tawaa shaubil haqqi (“Dan nasehat-menasehati supaya mentaati kebenaran”) yaitu mewujudkan semua bentuk ketaatan  dan meninggalkan semua yang diharamkan. Wa tawaa shaubish shabr (“Dan nasehat-menasehati supaya menetapi kesabaran.”) yakni bersabar atas segala macam cobaan, takdir, serta  gangguan yang dilancarkan kepada orang-orang yang menegakkan amar ma’ruf nahi munkar.