Arsip | 15.47

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-‘Aadiyaat

8 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-‘Aadiyaat (Kuda Perang yang Berlari Kencang)
Surah Makkiyyah; Surah ke 100: 11 ayat
tulisan arab alquran surat al aadiyaat ayat 1-11

“1. demi kuda perang yang berlari kencang dengan terengah-engah, 2. dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan (kuku kakinya), 3. dan kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi, 4. Maka ia menerbangkan debu, 5. dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh, 6. Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar, tidak berterima kasih kepada Tuhannya, 7. dan Sesungguhnya manusia itu menyaksikan (sendiri) keingkarannya, 8. dan Sesungguhnya Dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta. 9. Maka Apakah Dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur, 10. dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada, 11. Sesungguhnya Tuhan mereka pada hari itu Maha mengetahui Keadaan mereka.” (al-‘Aadiyaat: 1-11)

Allah Ta’ala bersumpah dengan kuda yang jika diperjalankan di jalan-Nya maka ia akan berlari dan meringkik. Meringkik adalah suara yang terdengar dari kuda saat berlari. Fal muuriyaati qadhaa (“Dan kuda yang mencetuskan api dengan pukulan [kuku kakinya]”) yakni hentakan kaki sepatu kuda ke bebatuan sehingga mengeluarkan percikan api. Fal mughiiraati shubhaa (“Dan kuda-kuda yang menyerang dengan tiba-tiba di waktu pagi.”) yakni penyerbuan pada waktu pagi hari, sebagaimana Rasulullah pernah melakukan penyerangan pada pagi hari. Jika beliau mendengar azan, beliau tidak melakukan penyerangan dan jika tidak terdengar azan, maka beliau akan melakukan penyerangan.

Firman Allah Ta’ala: fa atsarnabihii naq’aa (“Maka ia menerbangkan debu.”) yaitu debu di tempat berpacunya kuda. Fa wasathnabihii jam’aa (“Dan menyerbu ke tengah-tengah kumpulan musuh.”) maksudnya kuda-kuda itu berkumpul mengambil posisi di tengah-tengah medan.

Firman-Nya lebih lanjut: innal ingsaana lirabbihii lakanuud (“Sesungguhnya manusia itu sangat ingkar tidak beterima kasih kepada Rabbnya”) dan inilah yang menjadi obyek sumpah.  Dengan pengertian bahwa manusia itu kufur dan ingkar akan nikmat-nikmat Allah. Dan firman AllahTa’ala:  wa innahuu ‘alaa  dzaalika lasyahiid (“Dan sesungguhnya manusia itu menyaksikan sendiri  keingkarannya.”) Qatadah dan Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “Sesungguhnya Allah benar-benar menjadi saksi atas semuanya itu. Mungkin juga dhamir itu kembali kepada manusia  [insan]. Demikian yang dikemukakan oleh Muhammad bin Ka’ab al-Qurazhi, sehingga perkiraan maknanya sebagai berikut: “Dan sesungguhnya dengan keingkaran itu manusia akan menjadi saksi, yakni dengan lisan halnya.” Artinya, hal tersebut tampak melalui ucapan dan perbuatannya.

Dan firman Allah Ta’ala: wa innahuu lihubbil khairi lasyadiid (“Dan sesungguhnya dia sangat bakhil karena cintanya kepada harta.”) maksudnya, sesungguhnya kecintaannya pada harta benar-benar tinggi. Dan hal ini terdapat dua pendapat:

  1. Artinya,  dia benar-benar cinta kepada harta
  2. Sesungguhnya dia benar-benar  tamak dan kikir karena cintanya pada harta

Kedua pengertian tersebut benar.

Selanjutnya, dengan memotivasi untuk tidak tergoda oleh dunia dan menganjurkan untuk lebih menyukai akhirat serta memperingatkan  akan keadaan  yang ada setelah keadaan ini dan berbagai hal menyeramkan yang akan dihadapi oleh manusia, maka Allah Tabaaraka wa Ta’ala berfirman: a fa laa ya’lamu idzaa bu’tsira maa fil qubuur (“Maka apakah dia tidak mengetahui apabila dibangkitkan apa yang ada di dalam kubur?) yakni, orang-orang yang sudah meninggal dunia dikeluarkan dari dalam kubur.

Wa hushshilamaa fil fush shuduur (“dan dilahirkan apa yang ada di dalam dada.”) Ibnu ‘Abbas dan juga lainnya mengatakan: “Yakni memperlihatkan dan menampakkan apa yang mereka sembunyikan di dalam diri mereka.” Inna rabbahum bihim yauma-idizil lakhabiir (“Sesungguhnya Rabb mereka pada hari itu Mahamengetahui keadaan mereka.”) maksudnya, Dia Mahamengetahui semua yang mereka perbuat dan kerjakan serta akan memberikan balasan atasnya dengan balasan yang lebih banyak dan tidak akan pernah mendzalimi mereka sekecil apapun.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qaari’ah

8 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qaari’ah
Surat Makkiyyah; Surat ke 101: 11 ayat

tulisan arab alquran surat al qaariah ayat 1-11

“1. hari kiamat, 2. Apakah hari kiamat itu? 3. tahukah kamu Apakah hari kiamat itu? 4. pada hari itu manusia adalah seperti anai-anai yang bertebaran, 5. dan gunung-gunung adalah seperti bulu yang dihambur-hamburkan. 6. dan Adapun orang-orang yang berat timbangan (kebaikan)nya, 7. Maka Dia berada dalam kehidupan yang memuaskan. 8. dan Adapun orang-orang yang ringan timbangan (kebaikan)nya, 9. Maka tempat kembalinya adalah neraka Hawiyah. 10. tahukah kamu Apakah neraka Hawiyah itu? 11. (yaitu) api yang sangat panas.” (Al-Qaari’ah: 1-11)

Al-Qaari’ah adalah salah satu nama hari kiamat, seperti nama lainnya; al-Haaqqah, ath-Thaammah, ash-ShaakhkhaH, al-Ghaasyiyah, dan lain-lain. Kemudian dengan mengagungkan urusan hari kiamat ini serta membesarkan keadaanya, Allah Ta’ala berfirman: wa maa adraaka mal qaari’ah (“Tahukah kamu apakah hari kiamat itu?”) lebih lanjut, Dia menafsirkan melalui firman-Nya: yauma yakuunun naasu kalfaraasyil mabtsuuts (“Pada hari itu manusia seperti anai-anai yang bertebaran.”) yakni dalam hal ketersebaran, perpecahan, kepergian dan kedatangan mereka karena perasaan bingung  atas apa yang mereka alami, seakan-akan mereka itu seperti kapas yang dihamburkan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala dalam ayat yang lain: ka-annaHum jaraadum muntasyir (“Seakan-akan  mereka itu belalang yang bertebaran.”) (al-Qamar: 7).

Dan firman Allah Ta’ala: wa takuunul jibaalu kal’iHnil mangfuusy (“Dan gunung-gunung seperti bulu yang dihambur-hamburkan.”) maksudnya, gunung-gunung itu seperti bulu-bulu yang dihambur-hamburkan yang mudah terbang dan robek.

Kemudian Allah Ta’ala memberitahukan akibat dari apa yang pernah mereka perbuat serta apa yang akan mereka terima selanjutnya, baik kemuliaan  maupun kehinaan, sesuai dengan amal perbuatan mereka. Dimana Dia berfirman: fa ammaa mang tsaqulat  mawaaziinuH (“Dan adapun orang-orang yang berat timbangan [kebaikan]nya.”) yakni kebaikannya lebih unggul daripada keburukannya, fa huwa fii ‘iisyatir raadliyah (“Maka dia berada dalam kehidupan yang memuaskan.”) yakni di dalam syurga. Wa ammaa man khaffat mawaaziinuhu (“Dan adapun orang-orang yang ringan timbangan [kebaikannya]”) yakni amal keburukannya lebih unggul  daripada kebaikannya.

Adapun firman Allah ta’ala: Fa ummuHuu Haawiyah (“Maka tempat kembalinya  adalah neraka hawiyah”) ada yang mengatakan: “Artinya, maka dia akan jatuh ke neraka jahanam dengan kepala di bawah. Dia mengungkapkan dengan menggunakan kata  “ummuhu”  yang berarti “otaknya”. Hal senada diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, Abu Shalih, dan Qatadah. Ada juga yang berpendapat: “Artinya tempat yang menjadi rujukan dan kembalinya pada hari kebangkitan kelak adalah Neraka Hawiyah.” Hawiyah ini adalah salah satu nama neraka. Ibnu Jarir mengatakan: “Hawiyah disebut dengan sebutan ummuhu [induknya], karena tidak ada tempat kembali baginya kecuali neraka  tersebut. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman seraya menafsirkan kata Hawiyah, firman-Nya: Wa maa adraaka maa HiyaH naarun haamiyaH (“Dan tahukah kamu apakah neraka hawiyah itu? yaitu api yang sangat panas.”) firman-Nya: naarun haamiyaH karena api itu benar-benar sangat panas dan mempunyai kobaran dan sengatan yang sangat kuat. Abu  Mush’ab meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi saw. Pernah bersabda: “Api anak cucu  Adam yang biasa  kalian nyalakan itu hanya satu bagian dari tujuh puluh bagian neraka jahanam.”)

Para shahabat bertanya: “Wahai Rasulallah, satu bagian saja sudah sangat cukup?” Beliau menjawab: “Sesungguhnya satu bagian api itu masih ditambah lagi dengan  enampuluh Sembilan bagian.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim.