Arsip | 16.58

Tafsir Al-Qur’an Surah Adz-Dzaariyaat (6)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Adz-Dzaariyaat (Angin yang Menerbangkan)
Surat Makkiyyah; Surat ke 51: 60 ayat

 

Fa ni’mal maaHiduun (“Maka sebaik-baik yang menghamparkan [adalah Kami].”) artinya,  Kami telah menjadikannya terbentang luas bagi para penghuninya. Wa min kulli syai-in khalaqnaa zaujaini (“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan”) yakni seluruh makhluk itu berpasang-pasangan, langit dan bumi, siang dan malam dan lain-lain. Oleh karena itu Allah berfirman: la’allakum tadzakkaruun (“Supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.”) maksudnya supaya kalian mengetahui bahwa sang Pencipta itu hanya satu, tiada sekutu bagi-Nya. Fa firruu ilallaaH (“Maka segeralah kembali kepada [menaati] Allah”) maksudnya, berlindunglah kalian kepada-Nya, dan bersandarlah kepada-Nya dalam menangani semua urusan kalian.

Innii lakum minHu nadziirum mubiin.  Wa laa taj’aluu ma’allaaHi ilaaHan aakhar (“Sesungguhnya aku [adalah]  seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. Dan janganlah kamu mengadakan ilah yang lain disamping Allah.”) maksudnya, janganlah kalian menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun. Innii lakum minHu nadziirum mubiin (“Sesungguhnya aku [adalah]  seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.”)

tulisan arab alquran surat adz dzaariyaat ayat 52-60“52. Demikianlah tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang yang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” 53. Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang dikatakan itu. sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas. 54. Maka berpalinglah kamu dari mereka dan kamu sekali-kali tidak tercela. 55. dan tetaplah memberi peringatan, karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman. 56. dan aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku. 57. aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. 58. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh. 59. Maka Sesungguhnya untuk orang-orang zalim ada bagian (siksa) seperti bahagian teman mereka (dahulu); Maka janganlah mereka meminta kepada-Ku untuk menyegerakannya. 60. Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka.” (adz-Dzaariyaat: 52-60)

Allah berfirman seraya menghibur Nabi-Nya, Muhammad saw.. Dan sebagaimana yang telah dikatakan kepadamu oleh orang-orang musyrik, maka telah dikatakan pula oleh para pendusta terdahulu kepada Rasul-rasul mereka: kadzaalika maa atalladziina ming qabliHim mir rasuulin illaa qaaluu saahirun aw majnuun (“Demikianlah, tidak seorang Rasulpun yang datang kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka mengatakan: ‘Ia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.’”) Allah berfirman: atawaa shaubiH (“Apakah mereka saling berpesan tentang apa yang mereka katakan itu?”) maksudnya, apakah sebagian mereka telah mewasiatkan kepada sebagian yang lain tentang hal tersebut? Bal Hum qaumun thaaghuun (“Sebenarnya mereka adalah kaum yang melampaui batas.”) maksudnya, tetapi mereka adalah kaum yang melampaui batas, hati mereka serupa, dimana mereka yang hidup terakhir mengatakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan oleh para pendahulu mereka.

Lebih lanjut  Allah Ta’ala berfirman: fatawalla ‘anHum (“Maka berpalinglah kamu  dari mereka”) maksudnya, menghindarlah kamu dari mereka, hai Muhammad. Fa maa anta bimaluum (“Dan kamu sekali-sekali tidak tercela.”) yakni Kami tidak akan pernah mencelamu karena hal tersebut. Wadzakkir fa innadzdzikra tanfa’ul mu’miniin (“Dan tetaplah memberi peringatan, karena sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.” Maksudnya, yang dapat mengambil manfaat dari hal itu hanyalah hati yang beriman saja.

Lalu  Allah berfirman: wa maa khalaqtul jinna wal insa illaa liya’buduun (“Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.”) maksudnya Aku ciptakan mereka itu dengan tujuan untuk menyuruh mereka beribadah kepada-Ku, bukan karena Aku membutuhkan mereka. Mengenai firman Allah Ta’ala: illaa liya’buduun (“Melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Artinya melainkan supaya mereka mau tunduk beribadah kepada-Ku, baik secara sukarela maupun terpaksa.” Dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Sedangkan Ibnu Juraij menyebutkan: “Yakni supaya mereka mengenal-Ku.”  Dan masih mengenai firman-Nya: illaa liya’buduun (“Melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”) ar-Rabi’ bin Anas mengemukakan: “Maksudnya  tidak lain kecuali untuk beribadah.” As-Suddi mengemukakan: “Di antara ibadah itu ada yang bermanfaat dan ada pula yang tidak bermanfaat.” Allah berfirman: wa la-in sa-altaHum man khalaqas samaawaati wal ardli layaquulunnallaaH (“Dan sesungguhnya jika engkau  tanyakan kepada mereka: ‘Siapakah yang menciptakan langit dan bumi? Tentu mereka akan menjawab: ‘Allah’.”) (Lukman: 25)

Ibadah mereka yang disertai  dengan kesyirikan itu  sama sekali tidak mendatangkan manfaat bagi mereka. Adl-Dlahhak mengatakan: “Dan yang dimaksud dengan hal itu adalah orang-orang yang beriman.”

Dan firman Allah Ta’ala: maa uriidu minHum mir rizqiw wa maa uriidu ay yuth’imuun. innallaaHa Huwar razzaaqu dzul quwwatil matiin (“aku tidak menghendaki rezki sedikitpun dari mereka dan aku tidak menghendaki supaya mereka memberi-Ku makan. Sesungguhnya Allah Dialah Maha pemberi rezki yang mempunyai kekuatan lagi sangat kokoh.”) makna ayat tersebut, bahwa Allah Tabaaraka wa Ta’ala telah menciptakan hamba-hamba-Nya dengan tujuan agar mereka beribadah kepada-Nya semata, Rabb yang tiada sekutu bagi-Nya. Barangsiapa menaati-Nya, maka ia akan diberikan balasan yang sempurna. Dan barangsiapa yang durhaka kepada-Nya, maka ia akan mendapat adzab yang sangat pedih. Dan Allah Ta’ala juga memberitahukan bahwa Dia sama sekali tidak  membutuhkan mereka, tetapi justru merekalah yang sangat membutuhkan mereka, tetapi justru merekalah yang sangat membutuhkan-Nya dalam segala keadaan. Dengan demikian, Dia adalah Pencipta dan Pemberi rizki mereka.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Allah Ta’ala berfirman: ‘Wahai anak Adam, luangkanlah waktu untuk beribadah kepada-Ku, Aku akan memenuhi hatimu dengan kebahagiaan dan Aku akan menutupi kefakiranmu. Dan jika kamu tidak melakukannya, maka Aku akan mengisi hatimu dengan kesengsaraan dan Aku tidak akan menutupi kefakiranmu.’”

Hadits tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibnu Majah, dari hadits  ‘Imran bin Za-idah. At-Tirmidzi  berkata: “Hadits tersebut hasan gharib.”

Dan firman Allah Ta’ala: fa inna lilladziina dzalamuu dzanuuban (“Maka sesungguhnya untuk orang-orang dzalim ada bagian.”) yakni bagian siksaan. Mitsla dzanuubin ash-haabiHim falaa yasta’jiluun (“Seperti bagian teman-teman mereka [dahulu], maka janganlah mereka meminta kepada-Ku menyegerakannya.”) maksudnya, jangan mereka meminta kepada-Ku menyegerakan hal tersebut. Karena sesungguhnya hal itu sudah pasti akan terjadi, tidak mungkin tidak. Fawailul lilladziina kafaruu miy yaumiHimul ladzii yuu’aduun (“Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang kafir pada hari yang diancamkan kepada mereka.”) yakni pada hari kiamat.

Demikianlah akhir dari penafsiran surat adz-Dzaariyaat. Wa lillaahil hamdu wal minnah.

 

&

Tafsir Al-Qur’an Surah Adz-Dzaariyaat (5)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Adz-Dzaariyaat (Angin yang Menerbangkan)
Surat Makkiyyah; Surat ke 51: 60 ayat

 

Fa akhrajnaa man kaana fiiHaa minal mu’miniin (“Lalu kami keluarkan orang-orang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu.”) dan mereka adalah Luth dan keluarganya, kecuali istrinya. Fa maa wajadnaa fiiHaa ghaira baitim minal muslimuun (“Dan Kami tidak mendapati di negeri itu kecuali sebuah rumah dari orang-orang yang berserah diri.” Ayat ini dijadikan dalil oleh orang yang berpegang pada pendapat Mu’tazilah yang tidak membedakan antara iman dan Islam, karena mereka itu disebut sebagai orang-orang Muslim dan juga orang-orang Mukmin. Dan penggunaan ayat tersebut sebagai dalil adalah  sangat lemah, karena mereka itu adalah kaum yang beriman. Menurut kami, setiap orang Mukmin itu pasti Muslim, tetapi tidak demikian sebaliknya, yaitu tidak setiap orang Muslim itu Mukmin. Dan perpaduan dua nama dalam ayat tersebut karena keadaan yang khusus, sehingga tidak mutlak pada setiap keadaan.

Dan firman Allah Ta’ala: wa taraknaa fiiHaa aayatal lilladziina yakhaafuunal ‘adzaabal aliim (“Dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.”) maksudnya, Kami jadikan negeri itu sebagai pelajaran tentang sesuatu yang Kami turunkan kepada mereka berupa siksaan dan adzab serta batu-batu [berasal] dari tanah yang terbakar. Dan Kami jadikan tempat mereka bagaikan danau yang berbau busuk. Dan pada yang demikian itu terdapat pelajaran bagi orang-orang yang beriman. Lilladziina yakhaafuunal ‘adzaabal aliim (“Yaitu orang-orang yang takut kepada siksa  yang pedih”)

tulisan arab alquran surat adz dzaariyaat ayat 38-46“38. dan juga pada Musa (terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah) ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata. 39. Maka Dia (Fir’aun) berpaling (dari iman) bersama tentaranya dan berkata: “Dia adalah seorang tukang sihir atau seorang gila.” 40. Maka Kami siksa Dia dan tentaranya lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang Dia melakukan pekerjaan yang tercela. 41. dan juga pada (kisah) Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan, 42. angin itu tidak membiarkan satupun yang dilaluinya, melainkan dijadikannya seperti serbuk. 43. dan pada (kisah) kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: “Bersenang-senanglah kalian sampai suatu waktu.” 44. Maka mereka Berlaku angkuh terhadap perintah Tuhannya, lalu mereka disambar petir dan mereka melihatnya. 45. Maka mereka sekali-kali tidak dapat bangun dan tidak pula mendapat pertolongan, 46. dan (kami membinasakan) kaum Nuh sebelum itu. Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.” (adz-Dzaariyaat: 38-46)

Allah berfirman: wa fii muusaa idz arsalnaa ilaa fir’auna bisulthaan (“Dan juga pada Musa [terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah] ketika Kami mengutusnya kepada Fir’aun dengan membawa mukjizat yang nyata.”) yakni, dengan membawa dalil yang jelas dan hujjah yang pasti. Fa tawallaa birukniH (“Maka dia [Fir’aun] berpaling [dari iman] bersama tentaranya.”) maksudnya, Fir’aun berpaling dari kebenaran nyata yang dibawa oleh Musa sebagai bentuk kesombongan dan pembangkangan.

Mengenai firman-Nya: Fa tawallaa birukniH (“Maka dia [Fir’aun] berpaling [dari iman] bersama tentaranya.”) Ibnu Zaid mengatakan: “Yakni, dengan pasukannya yang ada bersamanya.” Kemudian ia membacakan: lau annalii bikum quwwatan aw aawii ilaa ruknin syadiid (“Seandainnya aku ada mempunyai kekuatan [untuk menolak kamu] atau aku dapat berlindung kepada keluarga yang kuat [tentu aku lakukan]”)(Huud: 80) dan makna yang pertama adalah lebih kuat.

Wa qaala saahirun aw majnuun (“Dan berkata: ‘Dia adalah seorang tukang sihir atau orang gila.”) maksudnya, dirimu tidak lepas dari dua sifat, sebagai seorang penyihir atau orang gila. Allah berfirman:  fa akhadznaaHu wa junuudaHu fanabadznaaHum  fil yammi wa Huwa muliim (“Maka kami siksa dia dan tentaranya, lalu Kami lemparkan mereka ke dalam laut, sedang dia melakukan pekerjaan yang tercela.”) yakni,  dalam keadaan hina dina, kafir, ingkar dan membangkang.

Setelah itu Allah berfirman: wa fii ‘aadin idz arsalnaa ‘alaiHimur riihal ‘aqiim (“Dan juga pada kisah ‘Aad ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan.”) yakni angin yang mengakibatkan kerusakan, tidak menghasilkan manfaat sedikitpun. Demikian yang dikatakan adl-Dlahhak, Qatadah, dan ulama lainnya. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: maa tadzaru min syai-in atat ‘alaiHi (“Angin itu  tidak membiarkan sesuatupun yang dilandanya.”) yakni segala sesuatu dirusak oleh angin itu. Illaa ja’alatHu kar ramiim (“Melainkan dijadikannya seperti serbuk”) maksudnya menjadi seperti sesuatu  yang hancur berkeping-keping. Wallahu a’lam.

Mengenai firman Allah Ta’ala: idz arsalnaa ‘alaiHimur riihal ‘aqiim (“ketika Kami kirimkan kepada mereka angin yang membinasakan.”) Sa’id bin al-Musayyab dan ulama lainnya berkata: “Mereka mengatakan: ‘Ia adalah angin selatan.’” Dan ditegaskan dalam hadits shahih yang diriwayatkan dari Ibnu  ‘Abbas, ia bercerita bahwa Rasulullah bersabda: “Aku telah ditolong [oleh Allah] dengan angin timur dan kaum ‘Aad dibinasakan [oleh Allah] dengan angin barat.”

Firman-Nya: wa fii tsamuuda idz qiilalaHum tamatta’uu hattaa hiin (“Dan pada [kisah] kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: ‘Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu.’”) Ibnu Jarir mengatakan: “Yakni sampai batas waktu berakhirnya ajal.” Dengan demikian, disini Dia berfirman: wa fii tsamuuda idz qiilalaHum tamatta’uu hattaa hiin. Fa ‘ataw ‘an amri rabbiHim fa akhadzatHumush shaa’iqatu  waHum yandzuruun (“Dan pada [kisah] kaum Tsamud ketika dikatakan kepada mereka: ‘Bersenang-senanglah kamu sampai suatu waktu.’ Maka mereka berlaku angkuh terhadap perintah Rabb-nya, lalu mereka disambar petir sedang mereka melihatnya”). Hal itu terjadi setelah mereka menunggu adzab selama tiga hari, lalu adzab itu datang kepada mereka pada pagi hari keempat, yaitu pada permulaan siang. Fa mastathaa’uu ming qiyaam (“Maka mereka sekali-sekali tidak dapat bangun,”) untuk menyelamatkan diri dan bangkit, wa maa kaanuu muntashiriin (“Dan tidak pula mereka mendapatkan pertolongan.”) maksudnya, mereka tidak sanggup menyelamatkan diri dari apa yang mereka alami.

Dan firman Allah: wa  qauma nuuhim ming qabl (“Dan [Kami membinasakan] kaum Nuh sebelum itu.”) maksudnya, Kami binasakan kaum Nuh sebelum  mereka. InnaHum kaanuu qauman faasiqiin (“Sesungguhnya mereka adalah kaum yang fasik.”)

tulisan arab alquran surat adz dzaariyaat ayat 47-51“47. dan langit itu Kami bangun dengan kekuasaan (Kami) dan Sesungguhnya Kami benar-benar berkuasa 48. dan bumi itu Kami hamparkan, Maka Sebaik-baik yang menghamparkan (adalah Kami). 49. dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat kebesaran Allah. 50. Maka segeralah kembali kepada (mentaati) Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu. 51. dan janganlah kamu Mengadakan Tuhan yang lain disamping Allah. Sesungguhnya aku seorang pemberi peringatan yang nyata dari Allah untukmu.” (adz-Dzaariyaat: 47-51)

Allah berfirman seraya mengingatkan penciptaan alam uluwwi (bagian atas) dan alam sufli (bagian bawah): was samaa-a banainaaHaa (“Dan langit itu Kami bangun”) maksudnya, Kami jadikan langit itu sebagai atap yang terpelihara, dan tinggi “bi aidin” (“dengan kekuasaan”) maksudnya dengan kekuatan. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, ats-Tsauri dan lain-lain. Wa innaa lamuusi’uun (“Dan sesungguhnya Kami benar-benar meluaskannya”) maksudnya, Kami telah menjadikan seluruh penjurunya luas, kemudian Kami meninggikannya tanpa menggunakan tiang, sehingga ia menggantung sebagaimana adanya. Wal ardla farasynaaHaa (“Dan bumi itu Kami hamparkan.”) yakni Kami jadikan ia sebagai hamparan bagi semua makhluk.

 

&

Tafsir Al-Qur’an Surah Adz-Dzaariyaat (4)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Adz-Dzaariyaat (Angin yang Menerbangkan)
Surat Makkiyyah; Surat ke 51: 60 ayat

 

Firman Allah: qaumum mungkaruun (“Adalah orang-orang yang tidak dikenal”) hal itu karena para malaikat, yaitu  Jibril, Mikail, dan Israfil datang kepada  Ibrahim dalam wujud manusia yang masih muda lagi tampan. Mereka mempunyai kewibawaan yang sangat besar. Oleh karena itu mereka berkata: qaumum mungkaruun (“Adalah orang-orang yang tidak dikenal”).

Dan firman Allah: faragha ilaa aHliHii (“Maka ia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya.”) maksudnya, berangkat secara sembunyi-sembunyi dengan cepat. Fa jaa bi’ijlin samiin (“Kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk [yang dibakar].”) yaitu sesuatu yang termasuk harta benda berharga yang ia miliki. Dan dalam ayat yang lain  difirmankan: fa maa labitsa an jaa-a bi’ijlin haniidz (“Maka tidak lama  kemudian Ibrahim menyuguhkan daging anak sapi yang dipanggang.”) (Huud: 69) kata haniidz berarti dipanggang di atas batu pemanggang. Fa qarrabaHuu ilaiHim (“Lalu dihidangkan kepada mereka”) yakni didekatkan kepada mereka.

Qaala alaa ta’kuluun (“Ibrahim berkata: ‘Silakan kalian makan.’”) Ibrahim sangat ramah dalam mengungkapkan kata-kata dan penawaran yang sangat santun. Ayat ini menunjukkan tatakrama menjamu tamu, dimana Ibrahim telah menghidangkan jamuan dengan cepat pada saat tamu tidak menyadarinya. Dan Ibrahim tidak  menjanjikan kepada tamunya bahwa ia akan menghidangkan sesuatu, ia tidak mengatakan: “Kami akan menghidangkan makanan kepada kalian semua.” Tetapi ia menghidangkan makanan itu dengan cepat dan secara sembunyi-sembunyi. Ia menghidangkan hewan miliknya yang sangat berharga yang ia temukan, yaitu sapi yang masih muda lagi gemuk dan dipanggang. Ibrahim mendekatkan kepada mereka dan ia tidak meletakkannya seraya berkata: “Mendekatlah kalian.” Tetapi justru ia meletakkan sajian itu di hadapan mereka tanpa memerintahkan sesuatu yang memberatkan orang yang mendengarnya, dan ia mengatakan agar mereka menyantapnya, bahkan ia mengatakan: “Silakan makan.” Hal itu disampaikan dalam bentuk penawaran dengan penuh ramah tamah dan kelembutan. Sebagaimana yang biasa diucapkan oleh orang sekarang ini: “Jika anda tidak keberatan  dan bermaksud baik dan bersedekah, maka kerjakanlah.”

Dan firman Allah Ta’ala:  fa awjasa minHum KhiifaH (“[Tetapi mereka tidak mau makan] karena itu Ibrahim merasa takut kepada mereka.”) Dan kisah ini sangat sinkron dengan kisah sebelumnya dalam surat lain, yaitu firman Allah Ta’ala: “Maka tatkala dilihatnya tangan mereka tidak menjamahnya, Ibrahim memandang aneh perbuatan mereka, dan merasa takut kepada mereka. Malaikat itu berkata: ‘Jangan kamu takut, Sesungguhnya Kami adalah (malaikat-ma]aikat) yang diutus kepada kaum Luth.’ dan isterinya berdiri (dibalik tirai) lalu Dia tersenyum,” (Huud: 70-71)

Maksudnya ia gembira dengan kebinasaan mereka karena keangkuhan dan keingkaran mereka kepada Allah Ta’ala. Pada saat itulah para malaikat menyampaikan berita gembira kepadanya [istri Ibrahim] dengan kelahiran Ya’qub setelah Ishaq.

“Isterinya berkata: ‘Sungguh mengherankan, Apakah aku akan melahirkan anak Padahal aku adalah seorang perempuan tua, dan ini suamikupun dalam Keadaan yang sudah tua pula?. Sesungguhnya ini benar-benar suatu yang sangat aneh.’ Para Malaikat itu berkata: ‘Apakah kamu merasa heran tentang ketetapan Allah? (Itu adalah) rahmat Allah dan keberkatan-Nya, dicurahkan atas kamu, Hai ahlulbait! Sesungguhnya Allah Maha Terpuji lagi Maha Pemurah.’” (Huud: 72-73)

Oleh karena itu Allah berfirman: wa basysyiruuHu bighulaamin ‘aliim (“Dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan [kelahiran] seorang anak yang alim [Ishaq].”) Kabar gembira yang diperuntukkan bagi Ibrahim itu juga menjadi milik istrinya, karena anak itu lahir dari hasil pernikahan mereka berdua.

Firman-Nya: fa aqbalatimra-atuHuu fii sharratin (“Kemudian istrinya datang memekik”) yakni menjerit dan berteriak keras. Demikian yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Abu  Shalih, adl-Dlahhak, Zaid bin Aslam, ats-Tsauri, dan as-Suddi. Teriakannya itu adalah pada kata: “Sungguh aneh.”

Firman Allah Ta’ala: fashakkat  wajHaHaa (“Lalu [ia] menepuk mukanya sendiri.”) yakni  memukul wajahnya dengan tangannya sendiri. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan Ibnu Sabith. Dan Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Ia memukul wajahnya  karena keheranan, sebagaimana halnya kaum wanita merasa heran terhadap hal yang aneh.” Wa qaalat ‘ajuuzun ‘aqiim (“Seraya berkata: ‘[aku adalah] seorang perempuan tua yang mandul.’”) maksudnya, bagaimana mungkin aku melahirkan seorang anak sedang aku adalah seorang perempuan yang sudah  tua.  Dan pada masa mudapun aku termasuk seorang yang mandul sehingga tidak dapat hamil?  Qaaluu kadzaalika qaala  rabbuki innaHuu Huwal hakiimul ‘aliim (“Mereka berkata: ‘Demikianlah Rabb-mu berfirman.’ Sesungguhnya Dia-lah Yang Mahabijaksana lagi Mahamengetahui.”) yakni Mahamengetahui kemuliaan  yang berhak mereka dapatkan, dan Mahabijaksana dalam semua perkataan dan perbuatan-Nya.

tulisan arab alquran surat adz dzaariyaat ayat 31-37“31. Ibrahim bertanya: “Apakah urusanmu Hai Para utusan?” 32. mereka menjawab: “Sesungguhnya Kami diutus kepada kaum yang berdosa (kaum Luth), 33. agar Kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah, 34. yang ditandai di sisi Tuhanmu untuk membinasakan orang-orang yang melampaui batas”. 35. lalu Kami keluarkan orang-orang yang beriman yang berada di negeri kaum Luth itu. 36. dan Kami tidak mendapati negeri itu, kecuali sebuah rumah dari orang yang berserah diri. 37. dan Kami tinggalkan pada negeri itu suatu tanda  bagi orang-orang yang takut kepada siksa yang pedih.” (adz-Dzaariyaat: 31-37)

Allah berfirman seraya menceritakan Ibrahim a.s:  qaala famaa khathbukum ayyuhal mursaluun (“Ibrahim bertanya: ‘Apakah urusanmu hai para utusan?’”) maksudnya, apa keperluan kalian dan untuk apa pula kalian datang? Qaaluu innaa ursilnaa ilaa qaumim mujrimiin (“Mereka menjawab: ‘Sesungguhnya kami diutus kepada kaum  yang berdosa.’”) yakni kaum Nabi Luth. Linursila ‘alaiHim hijaaratam min thiin. Musawwamatan (“Agar kami timpakan kepada mereka batu-batu dari tanah yang [keras], yang musawwamah.”) yakni ditandai, ‘inda rabbika lilmusrifiin (“Di sisi Rabb-mu untuk [membinasakan] orang-orang yang melampaui batas.”) yakni orang-orang yang nama-nama mereka telah ditulis di sisi Allah. Pada setiap batu tertulis nama orang yang akan ditimpanya.

 

&

Tafsir Al-Qur’an Surah Adz-Dzaariyaat (3)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Adz-Dzaariyaat (Angin yang Menerbangkan)
Surat Makkiyyah; Surat ke 51: 60 ayat

 

Dan firman Allah Ta’ala: wa fii amwaaliHim haqqal lissaa-ili wal mahruum (“Dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang-orang  miskin yang meminta  dan orang miskin yang tidak mendapat bagian.” Ketika Allah mensifati mereka dengan shalat, maka Dia melanjutkan mensifati mereka dengan patuh membayar zakat, berbuat baik, dan menyambung tali silaturahim, dimana Dia berfirman: wa fii amwaaliHim haqqa (“Dan pada harta-harta mereka ada hak.”) yaitu, bagian yang mereka berikan kepada orang-orang yang meminta-minta dan juga orang-orang yang tidak mendapat bagian. Yang dimaksud dengan “as-saailu” adalah orang yang lengsung mengajukan permintaan sedang ia mempunyai hak. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dari Fathimah binti Husain, dari ayahnya [yaitu] al-Husain bin ‘Ali, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Bagi orang yang meminta itu ada hak meskipun ia datang dengan menunggang kuda.’” Hadits tersebut diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits Sufyan  ats-Tsauri. Kemudian  disandarkan  dari sisi lain dari ‘Ali  bin Abi Thalib.

Sedangkan mengenai kata “al-mahruum” (“orang miskin yang tidak mendapatkan bagian”) Ibnu ‘Abbas  dan Mujahid mengatakan: “Yaitu orang-orang bernasib buruk  yang tidak mendapatkan bagian dalam Islam, yaitu tidak mendapatkan bagian dari baitul maal, tidak mempunyai usaha, dan tidak pula mempunyai keahlian untuk mencari nafkah.” Ummul Mukminin ‘Aisyah mengatakan: “Yaitu orang yang bernasib buruk yang usahanya nyaris tidak mendatangkan kemudahan untuk dirinya.” Sedangkan adl-Dlahhak mengemukakan: “Yaitu orang yang tidak memiliki harta benda melainkan harta benda itu cepa habis. Demikianlah yang ditetapkan Allah Ta’ala baginya.” Ibnu ‘Abbas, Sa’id bin al-Musayyab, Ibrahim an-Nakha-i, Nafi’ budak Ibnu ‘Umar, ‘Atha’ bin Abi Rabah mengatakan: “Yang dimaksud dengan al-mahruum adalah orang yang tidak mempunyai apa-apa.” Qatadah dan az-Zuhri mengatakan: “Al-Mahruum adalah orang yang tidak meminta sesuatu apa pun kepada orang lain.” Sedangkan az-Zuhri mengemukakan: “Rasulullah pernah bersabda: ‘Orang miskin itu bukanlah orang yang berkeliling mendatangi orang-orang, baik ia diberi satu atau dua suap, satu butir atau dua butir kurma, tetapi orang miskin adalah orang yang tidak mendapatkan sesuatu yang menjadikannya merasa cukup dan keadaannya tidak diketahui sehingga ia diberi shadaqah.’” Hadits tersebut telah disandarkan oleh asy-Syaikhaani (al-Bukharii dan Muslim) dalam kitabnya masing-masing dari sisi yang lain.

Ibnu Jarir memilih bahwa al-mahruum adalah orang yang tidak mempunyai harta benda [dengan cara] apapun, sedang harta bendanya telah sirna, baik ia tidak mampu berusaha maupun harta bendanya telah binasa atau rusak, dan lain sebagainya.

Dan firman-Nya: wa fil ardli aayaatul lilmuuqiniin (“Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi orang-orang yang yakin”). Maksudnya di dalam bumi itu terdapat berbagai tanda yang menunjukkan keagungan Penciptanya dan kekuasan-Nya yang sangat jelas berupa berbagai macam tumbuhan, binatang, hamparan bumi, gunung, tanah kosong, sungai, lautan dan berbagai macam bahasa dan warna kulit umat manusia. Serta sesuatu yang telah ditakdirkan untuk mereka berupa keinginan dan kekuatan, dan apa yang terjadi di antara mereka berupa perbedaan tingkat dalam hal pemikiran, pemahaman, dinamika kehidupan, kebahagiaan, kesengsaraan, dan hikmah yang terdapat di dalam anatomi tubuh mereka, yaitu dalam penempatan anggota tubuh dari keseluruhan tubuh mereka pada tempat yang benar-benar mereka perlukan.

Itulah sebabnya Allah Ta’ala berfirman: wa fii anfusikum a falaa tubshiruun (“Dan [juga] pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak memperhatikan?”) Qatadah mengemukakan: “Barangsiapa  bertafakur (memikirkan) penciptaan dirinya sendiri, maka ia akan mengetahui bahwa dirinya itu hanya diciptakan dan persendiannya dilenturkan semata-mata untuk beribadah.”

Selanjutnya Allah berfirman: wa fis samaa-i rizqukum (“dan di langit terdapat [sebab-sebab] rizkimu”) yaitu hujan. Wa maa tuu’aduun (“dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu”) yaitu surga. Demikian yang dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, Mujahid, dan beberapa ulama lainnya. Sufyan ats-Tsauri mengatakan bahwa Washil al-Ahdab pernah membaca ayat ini: wa fis samaa-i rizqukum wamaa tuu’aduun (“dan di langit terdapat [sebab-sebab] rizkimu dan terdapat pula apa yang dijanjikan kepadamu”) lalu ia mengatakan: “Mengapa rizkiku diperlihatkan di langit, padahal aku mencarinya di bumi?” Kemudian ia memasuki lubang dan berdiam diri selama tiga hari, tidak mendapatkan sesuatupun, dan pada hari ketiga tiba-tiba di sisinya  terdapat ruthah (kurma basah setengah matang). Sedang ia mempunyai saudara yang memiliki niat yang lebih baik darinya. Lalu saudaranya itu masuk bersamanya, sehingga kurma itu menjadi dua butir. Kemudian hal itu menjadikan keduanya bekerja keras sehingga mereka dipisahkan oleh kematian.

Dan firman Allah Ta’ala: fawa rabbus samaa-I wal ardli innaHuu lahaqqum mutsla maa annakum tanthiquun (“Maka demi Rabb langit dan bumi, sesungguhnya yang dijanjikan iitu adalah benar-benar [akan terjadi]  seperti perkataan yang kamu ucapkan.”) melalui ayat ini, Allah bersumpah dengan Dzat-Nya  Yang Mahamulia bahwa apa yang Dia janjikan kepada mereka dalam masalah hari kiamat, kebangkitan,  dan pembalasan itu pasti terjadi, tidak mungkin tidak. Dan hal itu merupakan suatu kebenaran yang tidak mengandung keraguan sama sekali. Maka janganlah kalian meragukannya sebagaimana kalian tidak pernah  meragukan ucapan kalian ketika mengucapkannya. Dan Mu’adz jika memberitahukan tentang sesuatu, ia selalu mengatakan kepada lawan bicaranya: “Ini adalah benar, sebagaimana engkau  benar ada di sini.”

tulisan arab alquran surat adz dzaariyaat ayat 24-30“24. Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan? 25. (ingatlah) ketika mereka masuk ke tempatnya lalu mengucapkan: “Salaamun”. Ibrahim menjawab: “Salaamun (kamu) adalah orang-orang yang tidak dikenal.” 26. Maka Dia pergi dengan diam-diam menemui keluarganya, kemudian dibawanya daging anak sapi gemuk. 27. lalu dihidangkannya kepada mereka. Ibrahim lalu berkata: “Silahkan anda makan.” 28. (Tetapi mereka tidak mau makan), karena itu Ibrahim merasa takut terhadap mereka. mereka berkata: “Janganlah kamu takut”, dan mereka memberi kabar gembira kepadanya dengan (kelahiran) seorang anak yang alim (Ishak). 29. kemudian isterinya datang memekik lalu menepuk mukanya sendiri seraya berkata: “(Aku adalah) seorang perempuan tua yang mandul”. 30. mereka berkata: “Demikianlah Tuhanmu memfirmankan” Sesungguhnya Dialah yang Maha Bijaksana lagi Maha mengetahui.” (adz-Dzaariyaat: 24-30)

Kisah ini juga telah diuraikan lebih dahulu di dalam surat Huud dan al-Hijr. Dengan demikian, firman Allah: hal ataaka  hadiitsu dlaifi ibraaHiimal mukramiin (“Sudahkah sampai kepadamu (Muhammad) cerita tentang tamu Ibrahim (Yaitu malaikat-malaikat) yang dimuliakan?”) yakni orang-orang yang telah disediakan bagi mereka penghormatan. Imam Ahmad dan sekelompok ulama berpendapat tentang kewajiban penyambutan bagi orang yang bertamu. Dan sunnah Rasulullah saw. Telah menyebutkan hal itu, sebagaimana lahiriyah ayat di atas. Firman Allah Ta’ala:  qaaluu salaaming salaamaa (“Lalu mengucapkan: ‘Salaman,’ Ibrahim menjawab: ‘Salamun.’”) pemberian harakat dlammah [rafa’] lebih kuat dan lebih permanen daripada nashah [pemberian harakat fathah]. Kemudian salam malaikat tersebut dibalas oleh Ibrahim dengan salam yang lebih baik. Oleh karena itu, Allah berfirman: wa idzaa huyyiitum bitahiyyatin fahayyuu bi ahsana minHaa aw rudduuHaa (“Apabila kalian dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah dengan yang serupa.”)(an-Nisaa’: 86) Oleh karena itu, Ibrahim kekasih Allah memilih balasan penghormatan yang lebih baik.

Tafsir Al-Qur’an Surah Adz-Dzaariyaat (2)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Adz-Dzaariyaat (Angin yang Menerbangkan)
Surat Makkiyyah; Surat ke 51: 60 ayat

 

tulisan arab alquran surat adz dzaariyaat ayat 15-23“15. Sesungguhnya orang-orang yang bertaqwa itu berada dalam taman-taman (syurga) dan mata air-mata air, 16. sambil menerima segala pemberian Rabb mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu di dunia adalah orang-orang yang berbuat kebaikan. 17. di dunia mereka sedikit sekali tidur diwaktu malam. 18. dan selalu memohonkan ampunan diwaktu pagi sebelum fajar. 19. dan pada harta-harta mereka ada hak untuk orang miskin yang meminta dan orang miskin yang tidak mendapat bagian. 20. dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang yakin. 21. dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? 22. dan di langit terdapat (sebab-sebab) rezkimu dan terdapat (pula) apa yang dijanjikan kepadamu. 23. Maka demi Tuhan langit dan bumi, Sesungguhnya yang dijanjikan itu adalah benar-benar (akan terjadi) seperti Perkataan yang kamu ucapkan.” (adz-Dzaariyaat: 15-23)

Allah berfirman seraya mengabarkan tentang orang-orang yang bertakwa kepada Allah, bahwa pada hari kiamat kelak mereka  berada di surge dan di beberapa mata air. Berbeda dengan orang-orang yang berada dalam kesengsaraan, dimana mereka akan mendapatkan adzab, siksaan, pembakaran dan pembelengguan.

Dan firman Allah Ta’ala: aakhidziina maa aataaHum rabbuHum (“Sambil mengambil apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka.”) ini merupakan keterangan yang lebih rinci  bagi firman-Nya: fii jannaatiw wa’uyuun. Dengan demikian, orang-orang yang bertakwa berada di dalam surge dan mata air seraya mengambil segala kenikmatan, kebahagiaan, dan ketenteraman yang diberikan Rabb  kepada mereka.

Firman Allah Ta’ala lebih lanjut: innaHum kaanuu qabla dzaalika (“Sesungguhnya mereka sebelum itu.”) yakni di dunia, muhsiniin (“adalah orang-orang yang berbuat  baik.”) setelah itu Allah Ta’ala menjelaskan bentuk kebaikan dalam amal, dimana Dia berfirman: kaanuu qaliilam minal laili maa yaHja’uun (“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”) para ahli  tafsir  berbeda pendapat mengenai hal tersebut. Dalam hal ini terdapat dua pendapat:

  1. Bahwa “maa” dalam ayat tersebut berfungsi sebagai maa naafiyah. Artinya hanya sedikit sekali mereka tidur pada malam hari. Ibnu ‘Abbas berkata: “Tidak ada malam yang terlewatkan melainkan mereka mengambilnya, meskipun hanya sedikit sekali.” Qatadah menceritakan dari Mutharrif bin ‘Abdillah: “Tidak ada malam yang dating kepada mereka melainkan mereka mengerjakan shalat kepada Allah, baik pada awal atau pertengahannya.” Anas bin Malik dan Abul ‘Aliyah mengatakan: “Mereka mengerjakan shalat di antara waktu Maghrib dan ‘Isya’.” Abu Ja’far al-Baqir mengatakan: “Mereka tidak tidur sehingga mereka mengerjakan shalat malam.”
  2. Pendapat kedua, “maa” dalam ayat tersebut adalah maa mashdariyyah, yang berarti mereka hanya sedikit sekali tidur pada malam hari.

Penafsiran ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Mengenai firman-Nya: kaanuu qaliilam minal laili maa yaHja’uun (“Mereka sedikit sekali tidur di waktu malam.”) Qatadah mengatakan bahwa al-Ahnaf bin Qais mengemukakan: “Mereka tidak tidur melainkan hanya sebentar sekali.” Dan kemudian ia mengatakan: “Dan aku tidak termasuk orang yang disebut dalam ayat ini.”

Al-Hasan al-Bashri mengatakan bahwa al-Ahnaf bin Qais pernah berkata: “Amalku pernah diperlihatkan pada amal para penghuni surga, ternyata ada suatu kaum yang memberi kami jarak sangat jauh, tiba-tiba ada suatu kaum yang kami tidak dapat sampai pada amal perbuatan mereka, dimana mereka hanya  tidur sebentar saja di malam hari. Kemudian amalku diperlihatkan pada amal para penghuni neraka, tiba-tiba ada suatu kaum yang tidak terdapat kebaikan sama sekali dalam diri mereka, mendustakan kitab Allah dan para Rasul-Nya, mendustakan hari kebangkitan setelah kematian. Maka aku  mendapati suatu kaum yang lebih baik kedudukannya di akhirat, dimana mereka selama di dunia  telah mencampuradukkan amalan-amalan yang shalih dengan amalan yang tidak shalih.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya di dalam surga terdapat kamar-kamar yang bagian luarnya terlihat dari bagian dalamnya, dan bagian dalamnya terlihat dari bagian luarnya.” Abu Musa al-Asy’ari berkata: “Untuk siapakah semua itu, yaa Rasulallah?” Beliau menjawab: “Yaitu, bagi orang yang melembutkan ucapan, memberikan makan, dan senantiasa bangun malam karena Allah, di saat orang-orang tengah tertidur nyenyak.”

Dan firman Allah: wa bil ashaariHum yastaghfiruun (“Dan di akhir-akhir malam mereka memohon ampun.”) Mujahid dan beberapa ulama lainnya mengatakan: “Yaitu mengerjakan shalat.” Sedangkan ulama lainnya mengatakan: “Yakni bangun malam dan mengakhirkan permohonan ampunan hingga waktu sahur.” Sebagaimana yang difirmankan Allah Tabaaraka wa Ta’ala: wal mustaghfiriina bil ashaar (“Dan orang-orang  yang memohon ampunan pada waktu sahur.”)(Ali ‘Imraan: 17)

Jika permohonan ampunan itu dilakukan dalam shalat, maka hal itu adalah lebih baik. Telah ditetapkan dalam beberapa hadits shahih dan juga lainnya yang diriwayatkan dari sekelompok sahabat, dari Rasulullah saw, dimana beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala turun pada setiap malam ke langit dunia  pada ketika malam tinggal sepertiga, kemudian berfirman: ‘Adakah orang yang bertaubat, maka Aku akan terima taubatnya? Adakah orang yang memohon ampunan sehingga Aku memberikan ampunan kepadanya? Adakah orang yang mengajukan permintaan, maka Aku berikan kepadanya?’ sehingga terbit fajar.”

Mengenai firman Allah Ta’ala yang menceritakan tentang Ya’qub, dimana ia berkata kepada putranya: saufa astaghfirlakum rabbii (“Aku akan memohonkan ampunan bagimu kepada Rabb-ku.”) (Yusuf: 98). Banyak ahli tafsir yang mengatakan: “Ia mengakhirkan permohonan tersebut sampai waktu sahur.”

Tafsir Al-Qur’an Surah Adz-Dzaariyaat (1)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Adz-Dzaariyaat (Angin yang Menerbangkan)
Surat Makkiyyah; Surat ke 51: 60 ayat

tulisan arab alquran surat adz dzaariyaat ayat 1-14“1. demi (angin) yang menerbangkan debu dengan kuat. 2. dan awan yang mengandung hujan, 3. dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah. 4. dan (malaikat-malaikat) yang membagi-bagi urusan, 5. Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar. 6. dan Sesungguhnya (hari) pembalasan pasti terjadi. 7. demi langit yang mempunyai jalan-jalan, 8. Sesungguhnya kamu benar-benar dalam Keadaan berbeda pendapat, 9. dipalingkan daripadanya (Rasul dan Al-Quran) orang yang dipalingkan. 10. Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta, 11. (yaitu) orang-orang yang terbenam dalam kebodohan yang lalai, 12. mereka bertanya: “Bilakah hari pembalasan itu?” 13. (hari pembalasan itu) ialah pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka. 14. (Dikatakan kepada mereka): “Rasakanlah azabmu itu. Inilah azab yang dulu kamu minta untuk disegerakan.” (adz-Dzaariyaat: 1-14)

Telah ditetapkan lebih dari satu jalan [riwayat] dari Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib, bahwasannya ia pernah naik mimbar di Kufah, lalu berkata: “Tidaklah kalian menanyakan kepadaku tentang ayat dalam kitab Allah Ta’ala dan tidak pula tentang sunnah Rasulullah saw. melainkan aku pasti akan memberitahukan kepada kalian tentang hal yang kalian tanyakan tersebut.” Kemudian Ibnul Kuwa’  berdiri seraya berkata: “Wahai Amirul Mukminin, apa makna firman Allah Ta’ala: wadz dzaariyaati dzarwaa (“Demi yang menerbangkan debu dengan sekuat-kuatnya.”)?” Ali menjawab: “Yaitu angin.” “Lalu apa makna: fal haamilaati wiqraa (“Dan yang mengandung hujan”)?” tanyanya lebih lanjut. ‘Ali menjawab: “Yakni awan.” Lalu ia bertanya lagi: “Kemudian apa makna ayat: Fal jaariyaati yusraa (“dan kapal-kapal yang berlayar dengan mudah”)?” maka ‘Ali menjawab: “Yakni kapal-kapal.” “Lalu apa makna: fal muqash shimaati amraa (“Dan yang membagi-bagikan urusan”)?” tanya Ibnul Kuwa’ lebih lanjut. Dan ‘Ali menjawab: “Yaitu para malaikat.”

Demikian pula yang ditafsirkan oleh Ibnu ‘Abbas dan Ibnu ‘Umar, Mujahid, Sa’id bin Jubair, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi, dan lain-lain. Sedangkan Ibnu  Jarir dan Ibnu Abi Hatim tidak menceritakan selain penafsiran tersebut.

Adapun mengenai “al-jaariyatu yusran” penafsiran yang populer dari kalangan jumhur Ulama adalah kapal-kapal yang berlayar dengan mudah di permukaan air. Dan sebagian mereka ada juga yang mengartikannya  dengan planet-planet yang beredar dengan mudahnya dalam peredarannya, agar hal itu bertingkat dari yang rendah menuju yang lebih tinggi dan kepada yang lebih tinggi lagi. Jadi, di atas angin itu ada awan, dan planet berada di atas awan tersebut, sedangkan para malaikat  yang membagi-bagi urusan itu berada di atasnya  lagi, yang turun membawa perintah-perintah Allah yang bersifat syar’i dan kauni.

Itu merupakan sumpah dari Allah swt. terhadap kepastian terjadinya hari pengembalian semua makhluk. Oleh karena itu Allah Ta’ala berfirman: innamaa tuu’aduuna lashaadiq (“Sesungguhnya apa yang dijanjikan kepadamu pasti benar.”) maksudnya, berita yang benar. Wa innad diina (“Dan sesungguhnya [hari] pembalasan”) yaitu hari penghisaban, lawaaqi’ (“Pasti terjadi”) artinya, sudah pasti akan terjadi, tidak mungkin tidak.

Setelah itu Allah Ta’ala berfirman: was samaa-i dzaatil hubuk (“Demi langit yang mempunyai jalan-jalan.”) Ibnu ‘Abbas berkata: “Yakni [langit] yang mempunyai keelokan, kecantikan, keindahan dan keseimbangan.” Demikian pula yang disampaikan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, Sa’id bin Jubair, Abu Malik, Abu Shalih, as-Suddi, Qatadah, ‘Athiyyah al-‘Aufi, ar-Rabi’ bin Anas, dan lain-lain. Sedangkan adl-Dlahhak, al-Minhal bin ‘Amr, dan lain-lain mengatakan: “Seperti gulungan air, kerikil, dan tanaman jika diterpa angin, sebagian saling bertalian dengan sebagian lainnya sehingga menjadi jalan. Dan itulah  al-habk [jalan]. Wallahu a’lam.

Semua pendapat tersebut merujuk kepada satu hal, yaitu  keindahan dan keelokan. Sebagaimana yang dikatakan Ibnu ‘Abbas: “Di antara letak keindahannnya adalah tinggi, tipis, kokoh, luas, elok, dihiasi dengan planet-planet yang permanen, komet,  diterangi oleh matahari, bulan, dan bintang-bintang yang terang.”

Firman Allah: innakum  lafii qaulim mukhtalif (“Sesungguhnya  kalian benar-benar dalam keadaan berbeda-beda pendapat.”) maksudnya, wahai sekalian orang-orang musyrik, sesungguhnya kalian –yang senantiasa mendustakan para Rasul- benar-benar berada dalam perbedaan pendapat, terguncang, dan tidak pernah bersatu. Qatadah mengemukakan: “Sesungguhnya kalian berada dalam perbedaan pendapat, antara yang membenarkan al-Qur’an dan yang mendustakannya.”

Firman-Nya: yu’faku ‘anHu man  ufik (“Dipalingkan daripadanya [Rasul dan al-Qur’an] orang yang dipalingkan.”) maksudnya, pendapat yang berlainan itu ditujukan kepada orang yang memiliki kesesatan dalam dirinya. Karena, ia merupakan pendapat yang bathil, yang mengikuti dan berpaling padanya hanyalah orang-orang yang sesat dan bodoh yang tidak mempunyai pemahaman sama sekali.  Mengenai firman Allah ini: yu’faku ‘anHu man  ufik (“Dipalingkan daripadanya [Rasul dan al-Qur’an] orang yang dipalingkan.”) Ibnu ‘Abbas dan as-Suddi mengatakan: “Yang berpaling darinya adalah orang-orang yang sesat.” Al-Hasan al-Bashri mengatakan: “Yakni, yang dipalingkan dari al-Qur’an ini adalah orang yang mendustakannya.”

Dan firman Allah Ta’ala selanjutnya: qutilal kharraa shuun (“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta”) Mujahid mengatakan: “Yaitu  orang-orang yang terdapat dalam surat ‘Abasa: qutilal ingsaanu maa akfaraH (“Binasalah manusia, alangkah amat sangat kekafirannya.”) (‘Abasa: 17).

Yang dimaksud dengan kata “al-kharraashuun” adalah orang-orang yang mengatakan: “Kami tidak akan dibangkitkan,” dan mereka tidak meyakininya.

Mengenai firman Allah Ta’ala: qutilal kharraa shuun (“Terkutuklah orang-orang yang banyak berdusta”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Yakni terlaknatlah orang-orang yang ragu.” Demikian pula yang dikatakan oleh Mu’adz dalam khutbahnya: “Binasalah orang-orang yang ragu-ragu.” Sedangkan Qatadah  berkata: “Al-kharraashuun berarti orang-orang yang suka berprasangka dan menduga-duga.”

Firman Allah Tabaaraka wa Ta’ala: alladziina Hum fii ghamratin saaHuun (“Yaitu orang-orang yang terbenam dalam kebodohan lagi lalai.”) Ibnu  ‘Abbas dan beberapa ulama lainnya berkata: “Yaitu yang tenggelam dalam kekufuran dan keraguan, mereka lengah dan lalai.” Yas-aluuna yaumud diin (“Mereka bertanya: ‘Bilakah hari pembalasan itu?’”) mereka mengucapkannya tidak lain hanya untuk mendustakan, mengingkari, meragukan, dan menganggap mustahil. Allah Ta’ala berfirman: yauma Hum ‘alan naari yuftanuun (“[Hari pembalasan itu ialah] pada hari ketika mereka diazab di atas api neraka.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, al-Hasan, dan beberapa ulama lainnya mengatakan: “Kata ‘yuftanuun’ berarti mereka disiksa.” Mujahid berkata: “Sebagaimana dibakarnya emas di atas api.” Sekelompok ulama lainnya; seperti Mujahid, ‘Ikrimah, Ibrahim an-Nakha-I, Zaid bin Aslam, dan Sufyan ats-Tsauri mengatakan: “Yuftanuun berarti dibakar.”

Dzuuquu fitnatakum (“Rasakanlah adzabmu itu.”) Muhahid  berkata: “[Rasakanlah] pembakaran kalian.” Sedangkan ulama lainnya mengatakan: “Yakni, adzab kalian.” Hadzalladzii kuntum biHii  tasta’jiluun. (“Inilah adzab  yang dahulu kamu  minta supaya disegerakan.”) maksdunya, ucapan ini ditujukan kepada mereka sebagai celaan, penghinaan, dan merendahkan mereka. Wallahu a’lam.

 

&

Tafsir Al-Qur’an Surah Ath-Thuur (5)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ath-Thuur (Bukit)
Surat Makkiyyah; Surat ke 52: 49 ayat
tulisan arab alquran surat ath thuur ayat 44-49“44. jika mereka melihat sebagian dari langit gugur, mereka akan mengatakan: “Itu adalah awan yang bertindih-tindih”. 45. Maka biarkanlah mereka hingga mereka menemui hari (yang dijanjikan kepada) mereka yang pada hari itu mereka dibinasakan, 46. (yaitu) hari ketika tidak berguna bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka dan mereka tidak ditolong. 47. dan Sesungguhnya untuk orang-orang yang zalim ada azab selain daripada itu. tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui. 48. dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, Maka Sesungguhnya kamu berada dalam penglihatan Kami, dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika kamu bangun berdiri. 49. dan bertasbihlah kepada-Nya pada beberapa saat di malam hari dan di waktu terbenam bintang-bintang (di waktu fajar).” (ath-Thuur: 44-49)

Allah berfirman seraya menceritakan tentang orang-orang musyrik yang membangkang lagi menolak hal-hal yang nyata: wa iy yarau kisfam minas samaa-i saqithay (“Jika mereka melihat  sebagian dari langit gugur.”) menimpa mereka. Dengannya mereka diadzab karena mereka tidak mempercayai dan tidak meyakininya, bahkan mereka berkata: “Itu adalah awan yang bertindih-tindih.” Yakni awan yang bertumpuk-tumpuk.

Allah Ta’ala berfirman: fadzarHum (“Maka biarkanlah mereka”) maksudnya, biarkan saja mereka, hai Muhammad. Hatta yulaaquu yaumaHumul ladzii fiiHi yush’aquun (“Sehingga mereka menemui hari [yang deijanjikan kepada] mereka yang  pada hari itu mereka dibinasakan.”) yaitu hari kiamat. Yauma laa yughnii ‘anHum kaiduHum  syai-aa (“[Yaitu] hari ketika tidak berguna lagi bagi mereka sedikitpun tipu daya mereka.”) maksdunya, tipu daya dan makar yang telah mereka lancarkan di dunia sama sekali tidak memberikan manfaat kepada mereka, dan tidak pula memberikan keuntungan pada hari kiamat kelak. Wa laa Hum yungsharuun (“Dan mereka tidak ditolong.”)

Setelah itu, Allah  Ta’ala berfirman: wa innal ladziina dzalamuu ‘adzaaban dzuuna dzaalika (“Dan sesungguhnya untuk orang-orang yang dzalim ada adzab selain itu.”) maksdunya, sebelum itu ketika di dunia. Sebagaimana firman-Nya: wa lanudziqannaHum minal ‘adzaabil ‘adnaa duunal ‘adzaabil akbari la’allaHum yarji’uun (“Dan sesungguhnya Kami rasakan kepada mereka sebagian adzab yang dekat [di dunia] sebelum adzab yang lebih besar [di akhirat], mudah-mudahan mereka kembali [ke jalan yang benar].”) (as-Sajdah: 21)

Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: walaa kinna aktsaraHum laa ya’lamuun (“Tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui.”) maksudnya, Kami menyiksa mereka di dunia dan di sana pula Kami menguji mereka dengan berbagai macam musibah, supaya mereka kembali ke jalan yang benar, tatapi mereka tidak memahami apa yang dikehendaki dari mereka itu, bahkan jika tampak  kepada mereka apa yang mereka alami, mereka justru kembali kepada hal yang lebih buruk dari itu. Sebagaimana yang telah dijelaskan dalam beberapa hadits, di antaranya: “Sesungguhnya jika orang munafik itu sakit dan kemudian disembuhkan, maka perumpamaannya adalah seperti seekor unta yang tidak mengetahui untuk apa ia diikat dan untuk apa ia dilepas.”

Dan firman Allah Ta’ala: washbir lihukmi rabbika  fa innaka bi-a’yuninaa (“Dan bersabarlah dalam menunggu  ketetapan Rabb-mu, maka sesungguhnya kamu berada dalam  penglihatan Kami.”) maksudnya, bersabarlah atas gangguan mereka dan janganlah engkau  hiraukan mereka, karena sesungguhnya  engkau berada dalam pengawasan dan perlindungan Kami.  Dan Allah akan melindungimu dari perbuatan jahat manusia.

Firman-Nya lebih lanjut: wa sabbih bihamdi rabbika hiina taquum (“Dan bertashbihlah dengan memuji rabb-mu ketika kamu  bangun berdiri.”) adl-Dlahhak mengatakan: “Maksudnya, berangkat menunaikan shalat, yaitu membaca: subhaanakallaaHumma wabihamdika watabaarakasmuka wa ta’aalaa jadduka wa laa ilaaHa ghairuka (“Mahasuci Engkau ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu, Mahasuci Nama-Mu dan Mahatinggi kemuliaan-Mu, tiada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau.”)

Hal yang sama juga diriwayatkan dari ar-Rabi’ bin Anas dan ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam serta yang lainnya. Dan diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam kitab Shahihnya dari ‘Umar, bahwasannya ia pernah mengucapkan hal tersebut pada permulaan awal shalat. Dan diriwayatkan pula oleh Ahmad dan juga para penulis kitab Sunan dari Abu Sa’id serta yang lainnya, dari Nabi saw. bahwasannya beliau pernah mengucapkan hal tersebut.

Mengenai firman Allah Ta’ala: wa sabbih bihamdi rabbika hiina taquum (“Dan bertashbihlah dengan memuji rabb-mu ketika kamu  bangun berdiri.”) Abul Jauza’ mengatakan: “Yakni, bangun [tidur] dari tempat tidurmu.” Hal itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir. Pendapat tersebut juga diperkuat dengan apa yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, dari Rasulullah saw, beliau bersabda: “Barangsiapa terjaga dari tidur malam, kemudian ia mengucapkan: laa ilaaHa illallaaHu wahdaHu laa syariikalaHu, laHul mulku wa laHul hamdu wa Huwa ‘alaa kulli syai-ing qadiir. subhaanallaaHi wal hamdu lillaaHi wa laa ilaaHa illallaaHu akbaru wa laa haula wa laa quwwata illaa billaaH (“Tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah saja, tidak ada sekutu bagi-Nya. Kepunyaan-Nya kerajaan dan pujian. Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, dan tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Allah. Allah Mahabesar. Tidak ada daya dan upaya melainkan hanya milik Allah.”) Setelah itu membaca: rabbighfirlii (“Ya Rabb-ku, ampunilah aku.”)

Atau Rasulullah bersabda: ‘Kemudian berdoa’ –Maka akan dikabulkan baginya.  Jika berkeinginan, hendaklah ia berwudlu’, lalu mengerjakan shalat, maka shalatnya akan diteriman.” Hadits tersebut  juga diriwayatkan oleh Imam al-Bukhari dalam kitab Shahih-nya dan juga  para penulis kitab as-Sunan.

Mengenai firman-Nya: wa sabbih bihamdi rabbika hiina taquum (“Dan bertashbihlah dengan memuji rabb-mu ketika kamu  bangun berdiri.”) Ibnu Abi Najih menceritakan dari Mujahid, ia berkata: “Yaitu dari setiap duduknya.” Ats-Tsauri menceritakan dari Abu Ishaq dari Abul Ahwash, wa sabbih bihamdi rabbika hiina taquum (“Dan bertashbihlah dengan memuji rabb-mu ketika kamu  bangun berdiri.”) ia berkata: “Jika seorang hendak bangun dari duduknya, ia mengucapkan: subhaanakallaaHumma wa bihamdika (“Mahasuci Engkau ya Allah, segala puji hanya milik-Mu.”)”.

Dan telah banyak hadits yang diriwayatkan dengan sanadnya melalui beberapa jalan yang sebagian memperkuat sebagian lainnya. Di antaranya hadits tersebut adalah hadits Ibnu Juraij dari Suhail bin Abi Shalih, dari ayahnya, dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. dimana beliau bersabda: “Barangsiapa duduk di suatu tempat yang di dalamnya banyak mengandung kegaduhan [kesia-siaan], lalu sebelum ia berdiri dari tempat duduknya ia mengucapkan: ‘SubhaanakallaaHumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (“Mahasuci Engkau, ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”) melainkan Allah akan memberikan ampunan kepadanya selama ia berada di tempat tersebut.”

Demikianlah hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dengan lafazh darinya. Juga diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam “al-Yaum wal Lailah” dari hadits Ibnu Juraij. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut derajatnya hasan shahih.” Juga diriwayatkan oleh al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, dan ia mengatakan bahwa sanad hadits tersebut  atas syarat Muslim, namun al-Bukhari mengatakan bahwa hadits tersebut mempunyai cacat. Saya (Ibnu Katsir) katakan: “Hadits tersebut dikatakan cacat oleh Imam Ahmad, al-Bukhari, Muslim, Abu Hatim, Abu Zur’ah, ad-Daraquthni dan lain-lain.” Dan mereka menisbatkan “wahm” kepada Ibnu Juraij, bahwa Abu Dawud telah meriwayatkan hal yang sama dalam kitab sunan-nya melalui jalan selain Ibnu Juraij yang sampai kepada Abu Hurairah, dari Nabi saw..

Dan juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dengan lafal miliknya, an-Nasa-i, al-Hakim dalam kitab al-Mustadrak, melalui jalan al-Hajjaj bin Dinar, dari Hasyim, dari Abul ‘Aliyah, dari Abu  Barzah al-Aslami, ia berkata: “Rasulullah saw. telah bersabda  pada akhir umurnya, jika hendak berdiri dari majelis [ucapkanlah]: ‘SubhaanakallaaHumma wa bihamdika asyhadu allaa ilaaHa illaa anta astaghfiruka wa atuubu ilaika (“Mahasuci Engkau, ya Allah, segala puji hanya bagi-Mu. Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak diibadahi selain Engkau, aku memohon ampunan kepada-Mu dan bertaubat kepada-Mu.”) Kemudian ada seseorang yang berkata: ‘Ya Rasulallah,  sesungguhnya engkau telah mengucapkan sesuatu yang tidak pernah engkau ucapkan sebelumnya.’ Beliau menjawab: ‘[Ucapkanlah itu] sebagai kaffarat  [penebus] atas apa yang telah terjadi di dalam majelis.’”

Dan firman Allah Ta’ala: Wa idbaaran nujuum (“dan pada waktu terbenam bintang-bintang.”) uraian masalah ini telah disebutkan dalam hadits Ibnu ‘Abbas, yakni dua rakaat  sebelum shalat Shubuh, karena kedua rakaat tersebut disyari’atkan pada saat bintang-bintang terbenam, yaitu ketika bintang-bintang itu menghilang. Dan dalam kitab ash-Shahihain telah ditegaskan dari ‘Aisyah, ia berkata: “Rasulullah saw. tidaklah memelihara suatu amalan yang sunnah  melebihi shalat dua rakaat sebelum shalat shubuh.” Dan menurut lafazh Muslim: “Dua rakaat [sebelum] shalat Shubuh lebih baik daripada dunia dan seisinya.” Walillaahil Hamdu wal minnah.

Tafsir Al-Qur’an Surah Ath-Thuur (4)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ath-Thuur (Bukit)
Surat Makkiyyah; Surat ke 52: 49 ayat

tulisan arab alquran surat ath thuur ayat 29-34“29. Maka tetaplah memberi peringatan, dan kamu disebabkan nikmat Tuhanmu bukanlah seorang tukang tenun dan bukan pula seorang gila. 30. bahkan mereka mengatakan: “Dia adalah seorang penyair yang Kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya”. 31. Katakanlah: “Tunggulah, Maka Sesungguhnya akupun Termasuk orang yang menunggu (pula) bersama kamu”. 32. Apakah mereka diperintah oleh fikiran-fikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? 33. ataukah mereka mengatakan: “Dia (Muhammad) membuat-buatnya”. sebenarnya mereka tidak beriman. 34. Maka hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al Quran itu jika mereka orang-orang yang benar.” (ath-Thuur: 29-34)

Ayat ini berkenaan dengan penetapan tauhid rububiyyah dan tauhid Uluhiyyah, dimana Allah berfirman: am khuliquu min qhairi syai-in am Humul khaaliquun (“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]?”) maksudnya, apakah mereka itu diadakan tanpa ada yang mengadakan? Ataukah mereka mengadakan diri mereka sendiri? Sama sekali tidak demikian, tetapi Allah Ta’ala yang menciptakan dan mengadakan mereka setelah sebelumnya mereka sama sekali tidak disebut.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Muhammad bin Jubair bin Muth’im, dari ayahnya, ia berkata: “Aku pernah mendengar Nabi saw. pernah membaca surat ath-Thuur dalam shalat maghrib, ketika beliau sampai pada ayat ini: am khuliquu min qhairi syai-in am Humul khaaliquuna am khalaqus samaawaati wal ardla ballaa yuuqinuun. Am ‘indaHum khazaa-inu rabbika am Humul mushaithiruun (“Apakah mereka diciptakan tanpa sesuatu pun, ataukah mereka yang menciptakan [diri mereka sendiri]? Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan]. Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu, atau merekakah yang berkuasa?”) maka hampir saja hatiku terbang.”  Hadits tersebut dikeluarkan di dalam kitab ash-Shahihain melalui jalan az-Zuhri. Dan Jubair bin Muth’im itu menjumpai Nabi saw. setelah peristiwa Badar pada saat penebusan tawanan perang. Pada saat itu, ia sebagai seorang musyrik. Penyimakannya terhadap ayat dari surat ini yang mendorongnya masuk Islam.

Setelah itu, Allah berfirman:  am khalaqus samaawaati wal ardla ballaa yuuqinuun.(“ Ataukah mereka telah menciptakan langit dan bumi itu? Sebenarnya mereka tidak meyakini [apa yang mereka katakan].”) maksudnya mereka yang telah menciptakan langit dan bumi? Yang demikian itu merupakan bentuk penolakan terhadap mereka atas kemusyrikan yang telah mereka perbuat terhadap Allah, sedang mereka mengetahui bahwa Dia adalah Pencipta satu-satunya, yang tiada sekutu bagi-Nya, tetapi tidak adanya keyakinan merekalah yang menjadikan mereka berbuat seperti itu. Am ‘indaHum khazaa-inu rabbika am Humul mushaithiruun (“Ataukah di sisi mereka ada perbendaharaan Rabb-mu, atau merekakah yang berkuasa?”) maksudnya, apakah mereka yang telah mengendalikan kekuasaan dan [apakah]  di tangan mereka berbagai kunci perbendaharaan?

Am Humul mushaithiruun (“ataukah mereka yang berkuasa?”) maksudnya apakah mereka yang akan menhisab semua makhluk? Tidakkah demikian adanya, tetapi Allah sajalah Penguasa, Pengendali, sekaligus berbuat apa saja yang Dia kehendaki.

Dan firman Allah Ta’ala: am laHum sullamuy yastam’uuna fiiH (“Ataukah mereka mempunyai tangga [ke langit] untuk mendengarkan pada tangga itu [hal-hal yang ghaib]?”) maksudnya, tangga menuju ke Mala-ul A’la. Fal ya’ti mustami’uHum bisulthaanim mubiin (“Maka, hendaklah orang yang mendengarkan di antara mereka mendatangkan suatu keterangan yang nyata.”) maksudnya, hendaklah orang yang mendengarkan mendatangkan hujjah/dalil yang jelas tentang kebenaran apa yang mereka adakan, baik dalam bentuk perbuatan maupun ucapan. Dengan kata lain, mereka tidak akan  mendapatkan jalan menuju kepadanya. Mereka sama sekali tidak mempunyai bukti dan dalil.

Selanjutnya Allah berfirman seraya mengingkari mereka atas apa yang telah mereka nisbatkan kepada-Nya anak-anak perempuan dari para malaikat yang telah mereka anggap sebagai anak perempuan, dan pemilihan anak laki-laki untuk diri mereka sendiri, bahwa anaknya yang baru lahir adalah perempuan maka wajahnya akan menjadi merah padam sedang dia benar-benar murka. Demikianlah mereka menjadikan para malaikat itu sebagai anak perempuan Allah dan mereka menyembahnya berserta Allah. Dia berfirman: am laHul banaatu walakumul banuun (“Ataukah untuk Allah anak-anak perempuan dan untukmu anak-anak laki-laki?”) firman-Nya ini merupakan kecaman keras sekaligus sebagai ancaman yang sangat serius.

Am tas-aluHum ajran (“Ataukah kamu meminta upah kepada mereka.”) yakni upah atas penyampaian risalah Allah olehmu  kepada mereka. Dengan kata lain, kamu sama sekali tidak meminta hal itu kepada mereka. Fa Hum maghramim mutsqaluun (“Sehingga mereka dibebani dengan hutang?”) maksudnya mereka benar-benar terbebani dan merasa kesusahan. Am ‘indaHumul ghaibu faHum yaktubuun (“apakah ada pada sisi mereka pengetahuan tentang yang ghaib lalu mereka menuliskannya?”) maksudnya kenyataannya tidaklah demikian, karena sesungguhnya tidak ada seorangpun dari penghuni langit dan bumi yang mengetahui hal yang ghaib  melainkan hanya Allah Ta’ala semata.

Am yuriiduuna kaidan falladziina kafaruu Humul makiiduun (“Ataukah mereka berhak melakukan tipu daya? Maka orang-orang kafir itu, merekalah yang kena tipu daya.”) Allah Ta’ala berfirman, apakah dengan ucapan itu mengenai Rasul dan mengenai agama, mereka bermaksud melakukan tipu daya terhadap Rasul dan para sahabatnya. Sesungguhnya akibat buruk  dari itu akan kembali pada diri mereka sendiri. Dengan demikian, orang-orang yang kafir itulah sebenarnya yang tertipu.

Am laHum ilaaHun ghairullaaHi ‘ammaa yusyrikuun (“Ataukah mereka mempunyai ilah selain Allah. Mahasuci Allah dari apa yang mereka persekutukan.”) yang demikian itu merupakah bentuk penolakan keras terhadap orang-orang musyrik atas tindakan mereka menyembah berhala dan ilah-ilah bersama dengan Allah. Kemudian Allah mensucikan diri-Nya dari apa yang mereka katakan, ada-adakan, dan mereka persekutukan, dimana Allah berfirman: subhaanallaaHi ‘ammaa yusyrikuun (“Mahasuci Allah  dari apa yang mereka persekutukan.”)

Tafsir Al-Qur’an Surah Ath-Thuur (3)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ath-Thuur (Bukit)
Surat Makkiyyah; Surat ke 52: 49 ayat
Ats-Tsauri menceritakan dari ‘Amr bin Murrah, dari Sa’id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Bahwa Allah akan meninggikan derajat keturunan orang mukmin pada derajatnya meskipun mereka berada di bawahnya dalam amal perbuatan, hal itu agar ia merasa senang dengan kehadiran mereka. Dan kemudian ia membaca: wal ladziina aamanuu wat taba’uu dzurriyyatuHum bi-iimaanin al-haqnaa biHim durriyyatuHum wa maa alatnaaHum min ‘amaliHim ming syaiii’ (“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.”)

Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dan Ibnu Abi Hatim, dari hadits Sufyan ats-Tsauri. Hal senada diriwayatkan oleh Ibnu Jarir dari hadits Syu’bah, dari ‘Amr bin Murrah. Dan mengenai firman Allah Ta’ala: wal ladziina aamanuu wat taba’uu dzurriyyatuHum bi-iimaanin al-haqnaa biHim durriyyatuHum (“Dan orang-orang yang beriman, dan anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka”) Ibnu Hatim menceritakan dari Ibnu ‘Abbas, dia berkata: “Mereka adalah keturunan orang Mukmin yang meninggal dunia dalam keadaan beriman. Meskipun tempat tinggal orang tua mereka lebih tinggi daripada tempat tinggal mereka, namun mereka dipertemukan dengan orang tua mereka tanpa mengurangi sedikitpun amal perbuatan mereka.” Demikian pula yang dikemukakan oleh asy-Sya’bi, Sa’id bin Jubair, Ibrahim an-Nakha-I, Qatadah, Abu Shalih, ar-Rabi’ bin Anas, adh-Dhahhak dan Ibnu Zaid, dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Demikianlah karunia Allah Ta’ala yang diberikan kepada anak keturunan karena berkah  amal perbuatan orang tua mereka. Sedangkan karunia-Nya yang diberikan kepada para orang tua disebabkan oleh berkah doa  anak keturunan mereka. Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah akan meninggikan derajat bagi seorang hamba yang shalih di surge, lalu ia berkata: ‘Wahai Rabb-ku, dari mana aku  mendapatkan ini?’ Maka Allah menjawab: ‘Dengan istighfar [permohonan ampun] anakmu untukmu.’”(HR. Ahmad)

Sanad hadits ini shahih dan para perawi tidak meriwayatkannya dari sisi ini. Tetapi ia mempunyai syahid [hadits-hadits penguat]  dalam shahih Muslim dari Abu Hurairah, dari Rasulullah, beliau bersabda: “Jika anak Adam meninggal dunia, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga hal, yaitu shadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakannya.”

Dan firman Allah Ta’ala: kullum ri-im bimaa kasaba riHiin (“Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”) Setelah Allah Ta’ala menceritakan tentang kedudukan karunia, yaitu pengangkatan derajat anak keturunan ke derajat orang tua mereka tanpa melalui amal perbuatan yang dapat menghantarkan mereka ke tingkat itu, lalu Dia memberitahukan tentang kedudukan keadilan, dimana Dia tidak akan menimpakan siksaan kepada  seorangpun  atas dosa dan kesalahan orang lain. Dia berfirman: kullum ri-im bimaa kasaba riHiin (“Tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.”) maksudnya, ia bergantung  pada amal perbuatannya, dan tidak akan dibebani oleh dosa orang lain, baik itu bapak maupun anak.

Dan firman-Nya  lebih lanjut: wa amdadnaaHum bifaakihatiw walahmi thairim mimmaa yasytaHuun (“Dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis  yang mereka inginkan.”) maksudnya, Kami berikan pula sebagai tambahan berupa buah-buahan dan daging dari berbagai macam binatang yang mejadikan orang berselera dan menarik hati.

Firman Allah Ta’ala: yatanaaza’uuna fiiHaa ka’san (“Di dalam surge mereka saling memperebutkan gelas.”) di dalam surge itu mereka saling berebut gelas yang berisi khamr. Demikian yang dikatakan oleh adl-Dlahhak,  laa laghwung fiiHaa wa laa ta’tsiim (“Yang isinya tidak [menimbulkan] kata-kata yang tidak berfaedah dan tidak  pula perbuatan dosa.”) maksudnya, di dalam surge itu mereka tidak berkata-kata dengan perkataan orang yang lalai dan tidak pula mengerjakan perbuatan keji, sebagaimana yang dilakukan oleh para peminum khamr di dunia. Ibnu ‘Abbas mengungkapkan: “Kata ‘laghwun’ berarti kebathilan,  sedangkan ‘at-ta’tsiim’ berarti  kedustaan.” Mujahid mengemukakan: “Mereka tidak mencela dan tidak pula berbuat dosa.” Sedangkan Qatadah mengemukakan: “Perbuatan itu dilakukan di dunia bersama syaitan, lalu Allah membersihkan khamr akhirat dari berbagai kotoran dan penyakit khamr  dunia, sebagaimana yang telah diuraikan sebelumnya. Dengan demikian khamr tersebut telah bersih dari zat-zat yang memusingkan  kepala dan menimbulkan sakit perut serta kehilangan  kesadaran akal secara total. Selanjutnya, Allah memberitahukan bahwa Dia tidak akan  membekali mereka dengan ucapan-ucapan yang hampa dari manfaat.”

Dan firman Allah Ta’ala: wa yathuufu ‘alaiHim ghilmaanul laHum ka-annaHum lu’lu’um maknuun (“Dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk [melayani] mereka,  seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan.”) Hal itu dimaksudkan untuk memberitahukan  tentang pelayan-pelayan dan pengiring-pengiring mereka di surge seakan-akan mereka seperti mutiara yang halus dan tersimpan  dalam keindahan, keelokan, serta kebersihan  dan keindahan pakaian mereka.

Firman-Nya lebih lanjut: wa aqbala ba’dluHum ‘alaa ba’diy yatasaa-aluun (“Dan sebagian mereka menghadap kepada sebagian yang lain saling tanya menanya.”) maksudnya, mereka saling berhadap-hadapan seraya berbincang-bincang dan bertanya-tanya tentang amal perbuatan dan keadaan mereka di dunia. Hal tersebut sama dengan yang diperbincangkan oleh para peminum khamr tentang berbagai hal yang dulu pernah mereka kerjakan.  Qaaluu innaa kunnaa fii aHlinaa musyfiqiin (“Mereka berkata: ‘Sesungguhnya kami dahulu sewaktu berada di tengah-tengah  keluarga kami merasa takut [akan azab]”) maksudnya, ketika kami di dunia dan masih berada di tengah-tengah keluarga, kami benar-benar dalam keadaan takut dari Rabb kami dan juga  dari azab dan hukuman-Nya. Faman nallaaHu ‘alainaa wa waqaanaa ‘adzaabas samuum (“Maka Allah memberikan karunia kepada kami dan memelihara kami dari adzab neraka.”) maksudnya, Dia melindungi kami dari apa yang memang kami takuti. Innaa kunnaa ming qablu nad’uuHu (“Sesungguhnya kami dahulu beribadah kepada-Nya”) yakni berdoa kepada-Nya, maka Dia pun mengabulkan doa kami serta memberikan apa yang menjadi permintaan kami. innaHuu Huwal barrur rahiim (“Sesungguhnya Dial ah yang melimpahkan kebaikan lagi Mahapenyayang.”)

Tafsir Al-Qur’an Surah Ath-Thuur (2)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Ath-Thuur (Bukit)
Surat Makkiyyah; Surat ke 52: 49 ayat

Firman Allah Ta’ala: Yauma tamuurus samaa-u mauraa (“Pada hari ketika langit  benar-benar bergoncang.”) Ibnu ‘Abbas dan Qatadah mengatakan: “Bergerak dengan gerakan keras.”  Dan dari ‘Abbas: “Yaitu, goncangan yang membelah.” Sedangkan Mujahid mengemukakan: “Yaitu berputar.” Adl-Dlahhak berkata: “Berputar-putar dan bergerak  atas perintah Allah dan gelombangnya saling bertautan.” Dan itulah yang menjadi pilihan Ibnu Jarir, yaitu berupa gerakan dalam perputarannya. Ia menceritakan, Abu ‘Ubaidah Ma’mar bin al-Mutsanna melantunkan satu bait syair: “Seakan-akan jalannya dari rumahnya seperti jalannya awan yang tidak lambat dan tidak pula tergesa-gesa.”

Firman-Nya: Wa tasiirul jibaalu sairaa (“Dan gunung-gunung benar-benar berjalan.”) maksudnya gunung itu akan pergi dan berubah menjadi debu yang bertebaran dan berhamburan ke mana-mana. Fa wailuy yauma-idzil lilmukadzdzibiin (“Maka, kecelakaan yang besarlah di hari itu bagi orang-orang yang mendustakan.”) maksudnya, kecelakaan [ditimpakan] kepada mereka pada hari itu karena adzab Allah, dan siksa-Nya Dia timpakan kepada mereka. Alladziina Hum fii khaudliy yal’abuun (“[Yaitu] orang-orang yang bermain-main dalam kebathilan.”) yakni di dunia mereka tenggelam dalam kebathilan dan mereka menjadikan agama sebagai permainan dan senda gurau. Yauma yuda’-‘uuna (“Pada hari mereka didorong”) yakni digelincirkan, ilaa naari jaHannama da’-‘aa (“Ke neraka jahanam dengan sekuat-kuatnya”) Mujahid, Asy-Sya’bi, Muhammad bin Ka’ab, adl-Dlahhak, as-Suddi, dan ats-Tsauri berkata: “Mereka didorong ke dalamnya dengan sekali dorong.”

Haadzihin naarul latii kuntum biHaa tukadzdzibuun (“Inilah neraka yang dahulu kamu selalu mendustakanya.”) maksudnya, malaikat Zabaniyah mengatakan hal tersebut kepada mereka sebagai hinaan dan celaan. A fa sihrun Haadzaa am antum laa tubshiruun. ishlauHaa (“Maka apakah ini sihir? Ataukah kamu tidak melihat? Masuklah kamu kedalamnya.”) maksudnya masuklah ke dalamnya seperti masuknya orang-orang  yang diselimuti dari semua arah.

Fashbiruu aw laa tashbiruu sawaa-un ‘alaikum (“Maka baik kamu bersabar atau tidak, sama saja bagimu.”) maksudnya, sama saja, baik kalian bersabar terhadap adzab dan siksaannya  atau kalian tidak bersabar, maka tidak ada tempat berlindung bagi kalian darinya dan tidak pula ada tempat menyelamatkan diri bagi kalian darinya. Innamaa tujzauna maa kuntum ta’maluun (“Kamu diberi balasan terhadap apa yang telah kamu kerjakan.”) maksudnya, Allah tidak akan pernah mendzalimi seorangpun. Bahkan sebaliknya, Dia senantiasa memberikan  balasan kepada setiap orang sesuai dengan amalnya.

tulisan arab alquran surat ath thuur ayat 17-20“17. Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan, 18. mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Tuhan mereka; dan Tuhan mereka memelihara mereka dari azab neraka. 19. (Dikatakan kepada mereka): “Makan dan minumlah dengan enak sebagai Balasan dari apa yang telah kamu kerjakan”, 20. mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan dan Kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.” (ath-Thuur: 17-20)

Allah swt. menceritakan orang-orang yang berbahagia dengan firman-Nya: innal muttaqiina fii jannaatiw wa na’iim (“Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan kenikmatan.”) dan itu jelas bertolak belakang dengan apa yang dialami oleh orang-orang yang mendapatkan adzab dan siksaan. faakiHiina bimaa aataaHum rabbuHum (“Mereka bersuka ria dengan apa yang diberikan kepada mereka oleh Rabb mereka.”) maksudnya mereka bersenang-senang dengan apa yang diberikan Allah kepada mereka, berbagai macam kenikmatan berupa makanan, minuman, pakaian,  tempat tinggal, kendaraan dan lain-lain.

Wa waqaaHum rabbuHum ‘adzaabal jahiim (“Dan Rabb mereka memelihara  mereka dari azab neraka.”) maksudnya Allah Ta’ala telah menyelamatkan mereka dari adzab neraka. Dan itu adalah kenikmatan tersendiri, di samping masuk surga, juga agar mereka merasakan sesuatu yang tidak pernah  dilihat mata, didengar telinga, dan tidak pula terbersit di dalam hati manusia.

Dan firman Allah Ta’ala selanjutnya: kuluu wasyrabuu Hanii-am bimaa kuntum ta’maluun (“Makan dan minumlah dengan enak sebagai balasan dari apa yang telah kamu kerjakan.”) maksudnya, semua itu merupakan karunia dan kebaikan dari-Nya. Dan firman-Nya: muttaqi-iina ‘alaa sururim mashfuufaH (“Mereka bertelekan di atas dipan-dipan berderetan,”) ats-Tsauri menceritakan dari Ibnu ‘Abbas: “Dipan-dipan [itu] dalam keadaan tertata rapi.” Dan firman-Nya: MashfuufaH (“Berderetan”) yang berarti saling bertatapan wajah antara satu dengan yang lainnya. Dan hal itu  sebagaimana firman-Nya: ‘alaa suruurim mutaqaabiliin (“mereka duduk berhadap-hadapan di atas dipan-dipan.”)(al-Hijr: 47)

Firman-Nya: Wazaw wajnaaHum bi huurin ‘iin (“Dan kami kawinkan mereka dengan bidadari-bidadari yang cantik bermata jeli.”) maksudnya, Kami berikan kepada mereka teman-teman wanita yang shalihah dan pasangan-pasangan cantik berupa bidadari-bidadari yang jelita. Mengenai firman-Nya: wa zawwajnaaHum (“Dan Kami kawinkan mereka”) Mujahid berkata: “Maksudnya, Kami nikahkan mereka dengan bidadari.” Dan sifat para bidadari tersebut telah diuraikan sebelumnya.

tulisan arab alquran surat ath thuur ayat 21-28“21. dan orang-oranng yang beriman, dan yang anak cucu mereka mengikuti mereka dalam keimanan, Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tiada mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka. tiap-tiap manusia terikat dengan apa yang dikerjakannya.22. dan Kami beri mereka tambahan dengan buah-buahan dan daging dari segala jenis yang mereka ingini. 23. di dalam surga mereka saling memperebutkan piala (gelas) yang isinya tidak (menimbulkan) kata-kata yang tidak berfaedah dan tiada pula perbuatan dosa. 24. dan berkeliling di sekitar mereka anak-anak muda untuk (melayani) mereka, seakan-akan mereka itu mutiara yang tersimpan. 25. dan sebahagian mereka menghadap kepada sebahagian yang lain saling tanya-menanya. 26. mereka berkata: “Sesungguhnya Kami dahulu, sewaktu berada di tengah-tengah keluarga Kami merasa takut (akan diazab)”. 27. Maka Allah memberikan karunia kepada Kami dan memelihara Kami dari azab neraka. 28. Sesungguhnya Kami dahulu menyembah-Nya. Sesungguhnya Dia-lah yang melimpahkan kebaikan lagi Maha Penyayang.” (ath-Thuur: 21-28)

Allah memberitahukan tentang karunia, kemurahan, anugerah dan kelembutan-Nya kepada semua makhluk-Nya, serta kebaikan-Nya, bahwa jika orang-orang mukmin itu diikuti oleh keturunan mereka, maka mereka akan dipertemukan dengan nenek moyang mereka di suatu tempat, meskipun amal perbuatan mereka tidak sampai pada amal perbuatan nenek moyang mereka, agar nenek moyang mereka merasa senang dengan kehadiran anak-anaknya di sisi mereka, di tempat kediaman mereka. Mereka dikumpulkan dengan cara yang paling baik, yakni orang yang mempunyai amal kurang, akan ditinggikan derajatnya melalui orang yang amalnya sudah sempurna, dan hal itu sama sekali tidak menjadikan amalnya berkurang dan kedudukannya tidaklah menurun sehingga terjadi kesamaan antara orang ini dengan orang yang tinggi derajatnya itu. Oleh karena itu Allah berfirman: alhaqnaa biHim dzurriyyatuHum wa maa alatnaaHum min ‘amaliHim ming syaii’ (“Kami hubungkan anak cucu mereka dengan mereka, dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.”)