Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (11)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surat Makkiyyah; Surat ke 53: 62 ayat
Firman-Nya lebih lanjut: Wa annHuu  Huwa rabbusy syi’raa (“Dan bahwasannya Dia adalah Rabb [yang memiliki] bintang syi’ra.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, Ibnu  Zaid dan lain-lain berkata: “Ia termasuk bintang yang sangat terang yang diberi nama Marzamul Jauza’, yang disembah oleh sekelompok masyarakat Arab.” Wa annaHuu aHlaka ‘aadanil uulaa (“Dan bahwasannya  Dia telah membinasakan kaum ‘Aad yang pertama.”) yakni kaum Hud yang  dikenal dengan ‘Aad bin Iram bin Saam bin Nuh, mereka adalah manusia yang paling kasar, kuat dan paling ingkar kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya, lalu Allahpun membinasakan mereka. Bi riihing sharsharin ‘aathiyah. sakhkharaHaa ‘alaiHim sab’a layaaliw wa tsamaaniyata ayyaamin husuumaa (“Dengan angin yang sangat dingin lagi sangat kencang, yang Allah menimpakan angin itu kepada mereka selama tujuh malam dan delapan hari terus-menerus.”)(al-Haaqqah: 6-7)

Dan firman Allah selanjutnya: Wa tsamuuda famaa abqaa (“Dan kaum Tsamud. Maka tidak seorangpun yang ditinggalkan-Nya.”) maksudnya, Dia membinasakan mereka, sehingga tidak seorangpun dari mereka yang tersisa. Wa qauma nuuhim ming qabl (“Dan kaum Nuh sebelum itu”) yakni sebelum orang-orang itu. InnaHum kaanuuHum adzlama wa athghaa (“Sesungguhnya  mereka adalah orang-orang yang paling dzalim dan paling durhaka.”) maksudnya, yang lebih ingkar dari orang-orang yang hidup setelahnya. Wal mu’tafikata aHwaa (“Dan negeri-negeri kaum Luth yang telah dihancurkan Allah”) yakni kota-kota tempat Luth. Kota-kota itu dibalikkan, sehingga bagian atas berubah menjadi bagian bawah. Dan kepada mereka diturunkan hujan batu dari sijjil [tanah panas] secara bertubi-tubi. Oleh karena itu  Dia berfirman: Fa ghasysyaaHaa maa ghasysyaa (“Lalu Allah menimpakan atas negeri itu adzab besar yang menimpanya.”) yaitu berupa batu-batu  yang telah dikirimkan Allah kepada mereka. Wa amtharnaa ‘alaiHim matharan fasaa-a matharul mundzariin (“Dan Kami hujani mereka dengan hujan batu, maka sangat jelek  hujan yang menimpa orang-orang yang telah diberi peringatan itu.”(asy-Syu’araa’: 173)

Firman-Nya: Fa bi-ayyi aalaa-i rabbika tatamaaraa (“Maka terhadap nikmat Rabb-mu yang manakah kamu ragu-ragu?”) maksudnya, pada nikmat manakah yang  telah dikaruniakan Allah kepadamu, wahai manusia yang kalian ragukan itu? Demikianlah yang dikemukakan oleh Qatadah.

tulisan arab alquran surat an najm ayat 56-62“56. ini (Muhammad) adalah seorang pemberi peringatan di antara pemberi-pemberi peringatan yang terdahulu. 57. telah dekat terjadinya hari kiamat. 58. tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah. 59. Maka Apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini? 60. dan kamu mentertawakan dan tidak menangis? 61. sedang kamu melengahkan(nya)? 62. Maka bersujudlah kepada Allah dan sembahlah (Dia).” (an-Najm: 56-62)

Haadzaa nadziirun (“Ini adalah seorang pemberi peringatan”), yakni Muhammad saw.. Minan nudzuril uulaa (“di antara pemberi-pemberi peringatan yang telah terdahulu.”) yakni dari jenis mereka sendiri. Beliau diutus sebagaimana para Nabi telah diutus. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: Qul maa kuntu bid’am minar rusuli (“Katakanlah: ‘Aku bukan Rasul pertama di antara para Rasul.”) (al-Ahqaf: 9).

Kemudian Allah berfirman: azifatil aazifaH (“Telah dekat terjadinya kiamat”) yakni suatu kejadian yang dekat sudah semakin mendekat, yaitu hari kiamat. Laisa laHaa minduunillaaHi kaasyifaH (“Tidak ada yang akan menyatakan terjadinya hari itu selain Allah.”) maksudnya, tidak ada seorangpun yang dapat menolaknya selain Allah. Dan tidak ada yang mempunyai pengetahuan tentangnya kecuali hanya Dia semata.

Kata “an-nadziir” berarti peringatan terhadap keburukan yang sudah nyata yang dikhawatirkan akan menimpa orang yang diperingatkan. Sebagaimana firman-Nya: in Huwa illaa nadziirul lakum baina yadai ‘adzaabing syadiid (“Dia tidak lain hanyalah pemberi peringatan bagimu sebelum [menghadapi] adzab yang keras.”)(Saba’: 46)

Imam Ahmad meriwayatkan, Anas bin ‘Iyadh memberitahu kami, Abu Hatim memberitahuku, aku tidak mengetahui kecuali dari Sahl bin Sa’ad, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah oleh kalian dosa-dosa kecil, sesungguhnya perumpamaan dosa-dosa kecil itu seperti kaum yang singgah di perut lembah, lalu masing-masing mencari sepotong ranting dan mengumpulkannya. Sehingga ranting-ranting itu dapat mematangkan roti mereka. Dan kapan saja pelakunya disiksa karenanya, maka ia akan membinasakannya.”

Abu Hazim berkata: “Rasulullah bersabda, -Abu Nadlrah berkata, ‘Aku tidak mengetahui kecuali dari Sahl bin Sa’ad-; ‘Perumpamaan diriku dan perumpamaan hari kiamat adalah seperti ini.’ Dan beliau mengumpulkan [merapatkan] antara dua jarinya, jari tengah dan jari telunjuk. Setelah itu beliau bersabda: ‘Perumpamaanku dan perumpamaan hari kiamat adalah seperti seseorang yang diutus kaumnya untuk melakukan pengintaian. Ketika ia khawatir didahului, ia mengisyaratkan dengan bajunya: ‘Kalian telah datang, kalian telah datang.’ Lebih lanjut beliau: ‘Dan itu adalah aku.’” Dan hadits tersebut mempunyai beberapa syahid dari beberapa sisi lain yang termasuk hadits-hadits shahih dan hasan.

Kemudian Allah berfirman seraya menentang orang-orang musyrik mengenai sikap mereka yang mendengar al-Qur’an, namun berpaling darinya: a fa min Haadzal hadiitsi ta’jabuun (“Maka apakah kamu merasa heran terhadap pemberitaan ini.”) karena keadaannya memang benar. Wa tadlhakuuna (“dan kamu menertawakan”) dengan maksud mengolok dan menghina, wa laa tabkuun (“dan tidak menangis”) sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang yakin terhadapnya, seperti yang diberitakan tentang mereka: wa yakhirruuna lil adzqaani yabkuuna wa yaziiduHum khusyuu’aa (“Dan mereka menyungkur di atas muka mereka sambil menangis dan mereka bertambah khusyu’”)(al-Israa’: 109).

Firman Allah Ta’ala: wa antum saamiduun (“Sedang kamu melengahkan[nya]?”) Syufyan ats-Tsauri meriwayatkan dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Lagu [nyanyian] sangat menjadikan kami lengah.” Demikian pula yang dikemukakan oleh ‘Ikrimah. Dan di dalam riwayat lain dari Ibnu ‘Abbas tentang “Saamiduun” ia berkata: “Yakni berpaling.” Begitu pula yang dikemukakan oleh Mujahid dan ‘Ikrimah. Sedangkan al-Hasan berkata: “Yakni orang-orang yang lengah.” Dan itu merupakan riwayat dari Amirul Mukminin ‘Ali bin Abi Thalib. Juga sebuah riwayat dari Ibnu ‘Abbas: “Yaitu orang-orang yang sombong.” Hal yang sama juga dikemukakan oleh as-Suddi.

Lebih lanjut, Allah Ta’ala berfirman seraya memerintahkan hamba-hamba-Nya untuk bersujud kepada-Nya  serta beribadah  sesuai dengan ajaran Rasul-Nya, bertauhid dan ikhlash: fasjuduu lillaaHi wa’buduu (“Maka bersujudlah kepada Allah dan ibadahilah [Dia].” Artinya, tunduklah kalian kepada-Nya, ikhlashkan dan tauhidkanlah Dia.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Nabi saw. melakukan sujud ketika membaca surat an-Najm, dan kaum Muslimin melakukan sujud bersama beliau, dan juga orang-orang musyrik, jin dan manusia.” (HR al-Bukhari).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: