Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (7)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surat Makkiyyah; Surat ke 53: 62 ayat
tulisan arab alquran surat an najm ayat 27-30“27. Sesungguhnya orang-orang yang tiada beriman kepada kehidupan akhirat, mereka benar-benar menamakan Malaikat itu dengan nama perempuan. 28. dan mereka tidak mempunyai sesuatu pengetahuanpun tentang itu. mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan sedang Sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran. 29. Maka berpalinglah (hai Muhammad) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini kecuali kehidupan duniawi. 30. Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka. Sesungguhnya Tuhanmu, Dialah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.” (an-Najm: 27-30)

Allah SWT berfirman seraya mengingkari orang-orang musyrik yang menyebut para malaikat sebagai makhluk berjenis perempuan dan mereka jadikan para malaikat itu sebagai anak perempuan Allah, yang Dia Mahatinggi dari semua itu. Oleh karena itu Dia berfirman: Wa maa lahum bihii min ‘ilm (“Dan mereka tidak mempunyai suatu pengetahuan pun tentang itu.”) maksudnya, mereka tidak mempunyai pengetahuan yang benar untuk mendukung pernyataan itu, bahkan hal itu hanya merupakan kedustaan, tipu daya dan rekayasa, serta kekufuran yang menjijikkan.

Iy yattabi’uuna illadz dzanna wa innadz dzanna laa yughnii minal haqqi syai-aa (“Mereka tidak lain hanyalah mengikuti persangkaan, sedang sesungguhnya persangkaan itu tiada berfaedah sedikitpun terhadap kebenaran.”) maksudnya, tidak akan pernah mendatangkan manfaat sedikitpun dan tidak pula akan dapat menempati posisi kebenaran. Dan di dalam hadits shahih telah ditetapkan, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jauhilah prasangka, karena sesungguhnya prasangka adalah sedusta-dusta ucapan.”

Firman Allah Ta’ala: Fa a’ridl ‘am mantawallaa ‘ang dzikrinaa (“Maka berpalinglah [hai Muhammad] dari orang yang berpaling  dari peringatn Kami.”) maksudnya, berpaling dan menjauh dari orang yang berpaling dari kebenaran serta menyelisihi orang tersebut.

Firman-Nya: Wa lam yurid illal hayaatad dun-yaa (“Dan tidak menginginkan kecuali kehidupan duniawi.”) maksudnya, keinginan dan pengetahuannya didominasi oleh dunia saja, dan itulah yang menjadi tujuan puncak yang di dalamnya tidak mengandung  kebaikan sama sekali. Oleh karena itu  Allah berfirman: Dzaalika mablaghuhum minal ‘ilm (“Itulah sejauh-jauh pengetahuan mereka.”) yakni mencari dan mengejar dunia, dan itulah tujuan akhir yang mereka capai.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ummul Mukminin ‘Aisyah r.a. ia berkata bahwa Rasulullah bersabda: “Dunia ini adalah tempat tinggal orang yang tidak mempunyai rumah, harta bagi orang yang tidak mempunyai harta benda. Dan karenanya [dunia] orang-orang yang tidak berakal berlomba-lomba untuk mengumpulkannya.” Dan dalam doa dari Rasulullah saw. disebutkan: Allaahumma laa taj’alid dun-yaa akbara Hamminaa, wa laa mablagha ‘ilminaa (“Ya Allah, janganlah Engkau jadikan dunia ini sebagai puncak cita-cita dan tujuan akhir pengetahuan kami.”)

Firman Allah Ta’ala: inna rabbaka huwa a’lamu bimang dlalla ‘ang sabiilihii wa huwa a’lamu bimaniHtadaa (“Sesungguhnya Rabb-mu, Dia pula lah yang paling mengetahui siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dia pulalah yang paling mengetahui siapa yang mendapat petunjuk.”) maksudnya, Dia adalah Pencipta bagi seluruh makhluk, Mahatahu  kemashlahatan hamba-hamba-Nya, dan Dia-lah yang memberikan petunjuk kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya, dan menyesatkan siapa saja yang Dia kehendaki pula. Semua itu karena kekuasaan, ilmu, dan hikmah-Nya. Dan Dia Mahaadil, yang tidak akan berbuat aniaya sama sekali, baik dalam syariat maupun kekuasaan-Nya.

tulisan arab alquran surat an najm ayat 31-32“31. dan hanya kepunyaan Allah-lah apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi supaya Dia memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi Balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik (syurga). 32. (yaitu) orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji yang selain dari kesalahan-kesalahan kecil. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Luas ampunanNya. dan Dia lebih mengetahui (tentang keadaan)mu ketika Dia menjadikan kamu dari tanah dan ketika kamu masih janin dalam perut ibumu; Maka janganlah kamu mengatakan dirimu suci. Dialah yang paling mengetahui tentang orang yang bertakwa.” (an-Najm: 31-32)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia adalah Penguasa langit dan bumi, dan Dia sama sekali tidak memerlukan pihak lain. Dia yang mengatur makhluk-Nya dengan penuh keadilan dan menciptakan makhluk dengan benar. Liyajziyal ladziina asaa-uu bimaa ‘amiluu wa yajziyal ladziina ahsanuu bil husnaa (“Supaya dia beri balasan kepada orang-orang yang berbuat jahat terhadap apa yang telah mereka kerjakan dan memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik dengan pahala yang lebih baik [surga].”) maksudnya, dia akan memberi balasan kepada setiap individu sesuai dengan amalnya. Jika amalnya baik maka akan dibalas dengan kebaikan, dan keburukan dibalas dengan keburukan.

Kemudian Allah Swt. menjelaskan orang-orang yang berbuat baik sebagai orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji. Artinya mereka tidak mengerjakan semua itu. Kalaupun ada di antara mereka yang mengerjakan dosa-dosa kecil, maka sesungguhnya Dia akan memberikan ampunan kepada mereka dan menutupinya. Sebagaimana yang difirmankan-Nya dalam ayat lain: In tajtanibuu kabaa-ira maa tunHauna ‘anHu nukaffir ‘ankum sayyi-aatikum wa nudkhilakum mudkhalan kariima (“Jika kamu menjauhi dosa-dosa besar di antara dosa-dosa yang kamu dilarang mengerjakannya, niscaya Kami hapus kesalahan-kesalahanmu [dosa-dosamu yang kecil]  dan Kami masukkan kamu  ke tempat yang mulia [surga].”)(an-Nisaa’: 31)

Sedangkan di sini, Allah  berfirman: Alladziina yajtanibuuna kabaa-iral itsmi wal fawaahisya illal lamam (“Orang-orang yang menjauhi dosa-dosa besar dan perbuatan keji selain dari kesalahan-kesalahan kecil.”) yang demikian itu merupakan istitsna’ munqathi’ [pengecualian terputus], karena al-lamam itu merupakan bagian dari dosa-dosa kecil dan amal-amal yang tidak terpuji.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ibnu Thawus, dari ayahnya, dari Ibnu ‘Abbas r.a. ia berkata: “Aku tidak melihat suatu perkara yang lebih menyerupai al-lamam  selain apa yang dikatakan oleh Abu Hurairah  r.a dari Nabi saw., beliau  bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menetapkan bagi anak Adam bagiannya dari zina yang ia pasti akan mengalaminya, tidak mungkin tidak. Zina mata berupa pandangan, zina lidah berupa perkataan, sedang hati mengangankan dan menginginkan, dan kemaluan(lah) yang membenarkan atau mendustakan hal itu.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: