Tafsir Al-Qur’an Surah An-Najm (9)

11 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah An-Najm (Bintang)
Surat Makkiyyah; Surat ke 53: 62 ayat
tulisan arab alquran surat an najm ayat 33-41“33. Maka Apakah kamu melihat orang yang berpaling (dari Al-Quran)? 34. serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi? 35. Apakah Dia mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib, sehingga Dia mengetahui (apa yang dikatakan)? 36. ataukah belum diberitakan kepadanya apa yang ada dalam lembaran- lembaran Musa? 37. dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji? 38. (yaitu) bahwasanya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain, 39. dan bahwasanya seorang manusia tiada memperoleh selain apa yang telah diusahakannya, 40. dan bahwasanya usaha itu kelak akan diperlihat (kepadanya). 41. kemudian akan diberi Balasan kepadanya dengan Balasan yang paling sempurna,” (an-Najm: 33-41)

Allah swt. berfirman, mencela orang-orang yang berpaling dari ketaatan kepada-Nya, sebagaimana yang difirmankan dalam surat al-Qiyamah: Fa laa shaddaqa wa laa shallaa. Wa laaking kadzdzaba wa tawallaa (“Dan ia tidak mau membenarkan [Rasul dan al-Qur’an] dan tidak mau mengerjakan shalat, tetapi ia mendustakan [Rasul] dan berpaling [dari kebenaran].”) wa a’thaa qaliilaw wa akdaa (“Serta memberi sedikit dan tidak mau memberi lagi?”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Taat sebentar dan kemudian berhenti lagi.”) demikian pula yang dikemukakan oleh  Mujahid, Sa’id bin Jubair, ‘Ikrimah, Qatadah dan lain-lain. ‘Ikrimah dan Sa’id mengemukakan: “Seperti suatu kaum, jika mereka menggali sumur dan ketika melakukan penggalian itu mereka menemukan batu besar yang menghalangi untuk menyelesaikan penggalian tersebut, lalu mereka berkata: ‘Sampai di sini saja.’ Kemudian mereka tidak melanjutkan penggalian.”

Dan firman Allah Ta’ala: a’indahuu ‘ilmul ghaibi fa huwa yaraa (“Apakah dia mempunyai pengetahuan yang ghaib sehingga dia mengetahui  [apa yang dikatakan]?” Maksudnya, apakah orang yang tidak mau mengulurkan tangannya untuk berinfak dan berbuat baik itu mempunyai pengetahuan tentang yang ghaib bahwa yang dimilikinya itu akan habis, sehingga ia menahan diri untuk berbuat kebajikan padahal ia mengetahui  hal itu dengan nyata? Dengan kata lain, persoalannya tidaklah seperti itu. Tetapi keengganan membayar shadaqah, berbuat kebaikan dan kebajikan, serta menyambung silaturahim semata-mata karena kekikiran, kebakhilan, dan kekhawatiran. Dan Allah Ta’ala telah berfirman: wa maa angfaqtum ming syai-ing fa huwa yukhlifuhu wa huwa khairur raaziqiin (“Dan barang apa saja yang engkau nafkahkan, maka Allah akan menggantinya. Dan Dia sebaik-baik Pemberi rizki.”)(Saba’: 39)

Firman-Nya lebih lanjut: am lam  yunabba’ bimaa fii shuhufi muusaa. Wa ibraahiimal ladzii waffaa (“Ataukah belum diberitahukan kepadanya apa yang ada dalam lembaran-lembaran Musa? Dan lembaran-lembaran Ibrahim yang selalu menyempurnakan janji?”) Sa’id bin Jubair dan ats-Tsauri berkata: “Yakni, menyampaikan semua yang diperintahkan kepadanya.” Mengenai firman-Nya: “waffaa” Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Yakni, menyempurnakan janji kepada Allah dengan melaksanakan tugas penyampaian.” Dan mengenai hal yang sama, Qatadah mengatakan: “Yakni, mentaati Allah dan menyampaikan risalah-Nya kepada semua  makhluk-Nya.” Inilah pendapat yang menjadi pilihan Ibnu Jarir, yang ia mencakup pengertian sebelumnya. Dan pendapat tersebut diperkuat oleh firman Allah Ta’ala: wa idzibtalaa ibraahiima rabbahuu bikalimaati fa atammahunna qaala innii jaa’iluka linnaasi imaamaa (“Dan ingatlah ketika Ibrahim diuji Rabb-nya dengan beberapa kalimat [perintah dan larangan], lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: ‘Sesungguhnya Aku akan menjadikanmu sebagai imam bagi seluruh umat manusia.’”)(al-Baqarah: 124).

Lalu ia menunaikan seluruh perintah dan menjauhi semua larangan serta menyampaikan risalah secara lengkap dan sempurna. Dengan demikian, ia berhak menjadi pemimpin umat manusia yang akan menjadi panutan dalam seluruh keadaan, ucapan dan perbuatannya. Allah swt. telah berfirman: tsumma auhainaa ilaika anittabi’ millata ibraahiima haniifaw wamaa kaana minal musyrikiin (“Kemudian Kami wahyukan kepadamu [Muhammad]: ‘Ikutilah agama Ibrahim, seorang yang hanif.’ Dan bukanlah ia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Rabb.”)(an-Nahl: 123)

Di dalam kitab-nya, at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abud Darda’ dan Abu Dzarr, dari Rasulullah saw, dari Allah swt, bahwasannya Dia telah berfirman: “Wahai anak Adam, ruku’lah kepada-Ku empat kali dalam permulaan siang, niscaya engkau akan diberi kecukupan pada akhir siang.”

Kemudian Allah Ta’ala menjelaskan apa yang Dia wahyukan dalam lembaran-lembaran Ibrahim dan Musa, dimana Dia berfirman: al laa taziru waaziratuw wizra ukhraa (“Bahwasannya seorang yang berdosa tidak akan memikul dosa orang lain.”) maksudnya, setiap jiwa yang mendzalimi dirinya sendiri  dengan suatu kekufuran atau suatu perbuatan dosa, maka dosa itu untuk dirinya sendiri, tidak akan ditanggung oleh orang lain, sebagaimana yang Dia firmankan: wa in tad’u mutsqalatun ilaa himliHaa laa yuhmal minHu syai-aw walaw kaana dzaa qurbaa (“Dan jika seseorang yang berat dosanya memanggil [orang lain] untuk memikul dosa itu, tiadalah akan dipikulkan untuknya sedikitpun meskipun [orang yang dipanggilnya itu] kaum kerabatnya.” (Fathir: 18)

Firman-Nya  lebih lanjut: wa al laisa lil insaani ilaa maa sa’aa (“Dan bahwasannya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.”) maksudnya, sebagaimana dosa orang lain tidak akan dibebankan kepadanya, maka demikian pula dia tidak akan mendapatkan  pahala melainkan dari apa yang telah diusahakannya sendiri. Dari ayat ini pula Imam Syafi-i dan para pengikutnya menyimpulkan bahwa pengiriman pahala bacaan al-Qur’an itu tidak akan sampai kepada orang yang sudah meninggal dunia, karena bacaan itu bukan amal dan usaha mereka. Oleh karena itu, Rasulullah saw. tidak pernah mensunahkan atau memerintahkan umatnya untuk melakukan hal tersebut. Selain itu beliau juga tidak pernah membimbing umatnya berbuat demikian, baik dalam bentuk nash maupun melalui isyarat. Dan perbuatan itu juga tidak pernah dinukil dari para shahabat. Sekiranya hal itu merupakan suatu hal yang baik, niscaya mereka akan mendahului kita semua dalam mengamalkannya. Dan cara-cara mendekatkan diri kepada Allah harus didasarkan pada nash-nash, tidak boleh didasarkan pada berbagai qiyas dan pendapat semata. Sedangkan doa  dan amal jariyah  sudah menjadi kesepakatan para ulama dan ketetapan nash syari’at bahwa hal itu akan sampai kepada si mayit.

Adapun hadits yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya, dari Abu Hurairah, ia berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Jika seorang wafat, maka terputuslah semua amalnya kecuali tiga perkara, yaitu: anak shalih yang mendo’akannya, shadaqah jariyah setelahnya, dan ilmu yang bermanfaat.” (HR Muslim). Ketiga perkara tersebut pada hakekatnya  merupakan usaha dan kerja kerasnya semasa hidup, sebagaimana yang disebutkan dalam sebuah hadits: “Sesungguhnya, sebaik-baik  yang dimakan oleh seseorang  adalah [makanan yang berasal]  dari hasil usahanya, dan sesungguhnya anaknya itu termasuk dari hasil usahanya.”

Shadaqah jariyah itu hasilnya bisa berupa wakaf dan lain sebagainya. Yang semua itu merupakan bekas dan peninggalan amal dan wakaf mereka. Dan Allah swt. telah berfirman: innaa nahnu yuhyil mautaa wa naktubu maa qaddamuu wa aatsaarahum (“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan”) dan ayat seterusnya (Yaasiin: 12).

Ilmu yang disebarluaskan dan kemudian  diikuti oleh banyak orang setelahnya juga termasuk amal dan usahanya. Dan dalam hadits shahih telah ditegaskan, Rasulullah saw. bersabda: “Barang siapa mengajak pada petunjuk, maka baginya pahala seperti orang-orang yang mengikutinya tanpa harus mengurangi sedikitpun pahala mereka.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: