Arsip | 15.47

Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zalzalah

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan)
Surat Madaniyyah; Surat ke 99: 8 ayat

 

At-Tirmidzi meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: “Ada seseorang yang dating kepada Rasulullah saw. Seraya berkata: ‘Bacakanlah untukku, wahai Rasulallah.’ Beliau bersabda kepadanya: ‘Bacalah tiga kali dari surat-surat yang memiliki “ar-raa”.’ Kemudian orang itu berkata kepada beliau: ‘Usiaku sudah lanjut, hatikupun semakin mengeras dan lidahku sudah kaku.’ Beliau bersabda: ‘Bacalah dari surat-surat  yang memiliki  haamiim.’ Kemudian orang itu mengungkapkan hal yang sama dengan yang pertama. Beliau bersabda: ‘Bacalah tiga kali dari surat-surat yang memiliki kata tasbih.’ Orang itu tetap mengatakan seperti ungkapannya yang  pertama. Kemudian orang itu berkata: ‘Tetapi bacakanlah untukku wahai Rasulallah, satu surat yang mencakup.’ Kemudian beliau membacakan untuknya: idzaa zulzilatil ardlu zilzaalaHaa (“Apabila bumi digoncangkan  dengan goncangannya.”) sehingga ketika beliau selesai membaca surat itu, orang tersebut berkata: ‘Demi Rabb yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai seorang nabi, aku tidak akan member tambahan padanya untuk selamanya.’ Kemudian orang itupun berbalik, lalu Rasulullah saw. bersabda: ‘Beruntunglah orang itu, beruntunglah orang itu.’”-kemudian ia berkata: “Lalu orang itu mendatangi beliau, maka beliau berkata kepadanya: ‘Aku diperintahkan pada hari raya ‘Idul Adha untuk menjadikannya  sebagai hari raya untuk umat ini.’” Lalu orang itu berkata kepada beliau: “Bagaimana pendapatmu jika aku tidak mendapati kecuali hanya domba betina, apakah aku boleh berkurban dengannya?” Beliau menjawab: “Tetapi hendaklah engkau memotong rambutmu, memotong kukumu, mencukur kumismu, dan mencukur bulu kemaluanmu. Yang demikian itu merupakan kesempurnaan kurbanmu di sisi Allah swt.  dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i.

tulisan arab alquran surat al zalzalah ayat 1-8

“1. apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), 2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, 3. dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?” 4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya, 5. karena Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. 6. pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, 7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. 8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (al-Zalzalah: 1-8)

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “idzaa zulzilati ardlu zilzaalaHaa (“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya.”)  yakni bergerak dari bawahnya. Wa akhrajatil ardlu atsqaalaHaa (“Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya.”) yakni bumi akan melemparkan isi perutnya  yang terdiri dari mayat-mayat. Demikian yang dikatakan oleh lebih dari satu orang ulama salaf. Di dalam kitab shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bumi akan memuntahkan bagian-bagian yang terdapat di dalam perutnya yang besar, seperti tiang-tiang yang terbuat dari emas dan perak. Lalu seorang pembunuh akan datang seraya  mengatakan hal ini, ‘Aku telah membunuh.’ Kemudian seorang pemutus silaturahim datang dan berkata dalam kesempatan ini, ‘Aku telah memutuskan hubungan kekerabatanku.’ Selanjutnya, seorang pencuri datang dan berkata mengenai hal ini, ‘Aku telah memotong tanganku,’ kemudian dia meninggalkannya dan tidak mengambil sesuatu pun darinya.’”

Dan firman Allah: Wa qaalal insaanu maa laHaa (“Dan manusia bertanya: ‘Mengapa bumi menjadi begini?’ yakni dia menolak kejadian  yang dialami bumi setelah sebelumnya dalam keadaan bulat, tenang dan permanen. Dimana bumi ini bergerak tegak di atas punggungnya. Artinya, keadaannya berbalik total, dimana bumi ini menjadi bergerak dan berguncang keras. Sebab, telah datang perintah dari Allah Ta’ala untuk menimpakan goncangan yang telah disiapkan baginya, yang tidak ada tempat berlindung baginya dari goncangan tersebut. Kemudian bumi akan mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya, yang terdiri dari mayat-mayat dari orang-orang terdahulu dan orang-orang yang hidup terakhir. Dan pada saat itulah ada orang-orang yang mengingkari kejadian itu dan menukar bumi selain bumi dan langit yang ada dan merekapun menampakkan diri kepada Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.

Firman Allah Ta’ala: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) masudnya membicarakan apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang berada di atasnya. Imam Ahmad meriwayatkan, Ibrahim memberitahu kami, Ibnul Mubarak memberitahu kami, at –Tirmidzi, Abu ‘Abdirrahman an-Nasa-i dan lafazh ini miliknya dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah membaca ayat ini: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) beliau bertanya: ‘Apakah kalian mengetahui apa berita yang disampaikannya?’ mereka menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya beritanya adalah dia bersaksi bagi setiap hamba, laki-laki maupun perempuan atas apa yang telah mereka lakukan di atasnya.  Dia akan mengatakan: ‘Dia mengerjakan ini dan itu,  pada hari ini dan itu.’ Demikian itulah beritanya.’” Kemudian at-Tirmidzi  mengatakan: “Ini merupakan hadits hasan  shahih gharib.”

Firman Allah: bi anna rabbaka awhaa laHaa (“Karena sesungguhnya Rabb-mu telah memerintahkan [yang demikian itu] kepadanya.” Imam al-Bukhari mengatakan: “Kata auhaa  laHaa, auhaa ilaiHaa, wahaa laHaa, dan wahaa ilaiHaa adalah satu [yaitu mewahyukan kepadanya].” Demikian pula Ibnu ‘Abbas mengatakan, auhaa laHaa adalah sama dengan auhaa ilaHaa.” Secara lahiriah kandungan ini bermakna memberi izin kepada bumi. Syabib bin Bisryr meriwayatkan dari ‘Ikrimah  dari Ibnu ‘Abbas, yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) dia mengatakan: “Rabb-nya berkata kepadanya: ‘Katakanlah,’ maka bumi itupun berkata.” Mujahid mengatakan, ‘Auhaa laHaa maksudnya, Allah memerintahkannya.’ Al-Qurazhi mengatakan: “Allah memerintahkan untuk membelah diri.”

Dan firman Allah Ta’ala: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) maksudnya mereka menentang terhadap keberadaan hisab dalam wujud  yang beragam, yakni macam dan golongan dalam hal mendapatkan kesengsaraan dan kebahagiaan. Ada yang diperintahkan supaya masuk surga. Dan apa pula yang diperintahkkan masuk neraka.

Firman Allah Ta’ala: liyuraw a’maalaHum (“Supaya diperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka.”) maksudnya supaya mereka mengetahui dan diberi balasan atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia, baik dalam  bentuk kebaikan maupun keburukan. Oleh karena itu Dia berfirman: famay ya’mal mitsqaala dzarratin khairay yaraH. Wamay ya’mal mitsqaala dzarrating syarray yaraH (“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun niscaya ia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat balasannya pula.”) imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kuda itu untuk tiga orang. Bagi seseorang kuda itu akan menjadi pahala, bagi seseorang lagi akan menjadi satar [penutup], dan bagi seorang lainnya akan menjadi dosa. Adapun orang yang mendapatkan pahala adalah orang yang mengikat kuda itu di jalan Allah, lalu ia membiarkannya di tempat penggembalaan atau taman dalam waktu yang lama, maka apa yang terjadi selama masa penggembalaannya di tempat penggembalaan dan taman itu, maka ia akan menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia menghentikan masa penggembalaannya lalu kuda itu melangkah satu atau dua langkah, maka jejak kaki dan juga kotorannya akan menjadi kebaikan baginya. Dan jika kuda itu menyeberang sungai lalu ia minum air dari sungai tersebut, maka yang demikian itu  menjadi kebaikan baginya, dan kuda itupun bagi orang tersebut adalah pahala. Dan orang yang mengikat kuda itu karena untuk memperkaya diri dan demi kehormatan diri tetapi dia tidak lupa hak Allah dalam pemeliharaannya, maka kuda itu akan menjadi satar baginya. Serta orang yang mengikatnya karena perasaan bangga dan riya’, maka ia hanya akan menjadi dosa baginya.”

Kemudian Rasulullah saw ditanya tentang keledai, maka beliau bersabda: “Allah tidak menurunkan sedikitpun mengenainya melainkan ayat yang mantap yang mencakup ini: ‘Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun niscaya ia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat balasannya pula.’” (HR Muslim).

Sekian.

Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (8)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf
Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

Firman-Nya: wa minal laili fasabbihHu (“Dan bertasbihlah kamu kepada-Nya pada malam hari.”) maksudnya, kerjakanlah shalat untuk-Nya. Sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Pada  sebagian malam hari kerjakanlah shalat tahajjud sebagai suatu ibadah tambahan bagimu. Rabbmu pasti akan mengangkatmu  ke tempat yang terpuji.” (al-Israa’: 79)

Wa adbaaras sujuud (“Dan setiap selesai shalat.”) Ibnu Abi Najih meriwayatkan dari Mujahid, dari Ibnu ‘Abbas, yaitu tasbih yang dibaca  setiap selesai shalat. Hal itu diperkuat dengan apa yang ditegaskan dalam kitab ash-Shahihain, dari Abu Hurairah, bahwasannya ia bercerita: “Orang-orang miskin dari kalangan kaum Muhajirin datang seraya berkata: ‘Ya Rasulallah, orang-orang kaya telah berjalan dengan derajat yang tinggi dan kenikmatan yang lestari [tetap], mereka mengerjakan shalat sebagaimana kami mengerjakannya, mereka juga berpuasa sebagamana kami mengerjakannya, dan mereka bersedekah sedang kami tidak dapat bersedekah, mereka memerdekakan [budak] sedang kami tidak dapat melakukannya.’ Beliau bersabda: ‘Maukah kalian aku beritahu [tentang] sesuatu yang jika kalian mau mengerjakannya, maka kalian akan dapat menyusul orang yang telah mendahului kalian, dan tidak seorangpun setelah kalian yang dapat menyusul kalian, dan kalian menjadi sebaik-baik orang di tengah-tengah mereka, kecuali orang yang beramal seperti apa yang kalian kerjakan itu, yaitu hendaklah kalian membaca  tasbih, tahmid dan takbir setelah selesai shalat sebanyak tigapuluh tiga kali.’ Kemudian mereka berkata: ‘Ya Rasulallah, saudara-saudara kami memberitahukan apa yang kami kerjakan itu kepada orang-orang kaya, sehingga mereka mengerjakan hal yang sama.’ Maka beliau bersabda: ‘Yang demikian itu adalah karunia Allah  yang diberikan kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya.’”

Pendapat kedua menyatakan bahwa yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: wa adbaaras sujuud (“Dan setiap selesai shalat”)  yaitu shalat dua rakaat setelah magrib. Hal itu telah diriwayatkan dari ‘Umar, ‘Ali serta putranya, Hasan, Ibnu ‘Abbas, Abu Hurairah, dan Abu Umamah. Hal itu juga dikemukakan oleh Mujahid, ‘Ikrimah, asy-Sya’bi, an-Nakha’i, al-Hasan, Qatadah, dan lain-lain. Imam  Ahmad meriwayatkan dari ‘Ali, ia berkata: “Rasulullah saw. senantiasa mengerjakan shalat dua rakaat setiap selesai mengerjakan shalat wajib, selain shubuh dan ‘Ashar.” ‘Abdurrahman mengatakan: “Setiap kali setelah shalat.” Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i, dari hadits Sufyan ats-Tsauri. wallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat qaaf ayat 41-45“41. dan dengarkanlah (seruan) pada hari penyeru (malaikat) menyeru dari tempat yang dekat. 42. (yaitu) pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya Itulah hari ke luar (dari kubur). 43. Sesungguhnya Kami menghidupkan dan mematikan dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali (semua makhluk). 44. (yaitu) pada hari bumi terbelah-belah Menampakkan mereka (lalu mereka ke luar) dengan cepat. yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi kami. 45. Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan, dan kamu sekali- kali bukanlah seorang pemaksa terhadap mereka. Maka beri peringatanlah dengan Al Quran orang yang takut dengan ancaman-Ku.” (Qaaf: 41-45)

Allah Ta’ala berfirman: wastami’ (“dan dengarkanlah”) hai Muhammad, yauma yunaadil munaadi mim makaaning qariib (“Pada hari penyeru [malaikat]  menyeru dari tempat yang dekat.”) Qatadah menceritakan bahwa Ka’ab  al-Ahbar  berkata: “Allah Ta’ala memerintahkan salah satu  malaikat  untuk berseru di atas batu di Baitul Maqdis: ‘Wahai sekalian tulang belulang yang hancur berantakan dan bagian-bagian yang telah terputus-putus, sesungguhnya Allah Ta’ala telah menyuruh kalian berkumpul untuk mengikuti hari perhitungan.’”

Yauma yasma’uunash shaihata bil haqqi (“[Yaitu]  pada hari mereka mendengar teriakan dengan sebenar-benarnya.”) yakni tiupan sangkakala yang benar-benar akan terjadi, yang kebanyakan dari mereka selalu meragukannya, dzaalika yaumul khuruuj (“Itulah hari keluar”) yakni dari kubur. Innaa nahnu nuhyii wa yumiitu wa ilainal mashiir (“Sesungguhnya Kami  menghidupkan dan mematikan  dan hanya kepada Kami-lah tempat kembali [semua makhluk].”) maksudnya, Dialah yang mengawali penciptaan, lalu mengembalikannya. Dan mengulangi penciptaan itu lebih mudah  daripada memulai, dan kepada-Nya seluruh makhluk akan kembali.  Yang masing-masing akan diberi balasan  sesuai dengan amalnya, jika berbuat baik maka ia akan mendapat kebaikan dan jika berbuat buruk  maka ia akan mendapatkan keburukan yang setimpal.

Dan firman Allah Ta’ala: yauma tasyaqqaqul ardlu ‘anHum  siraa’an (“Pada hari  bumi terbelah-belah menampakkan mereka [lalu mereka keluar] dengan cepat.”)  yang demikian bahwa Allah menurunkan hujan dari langit yang menumbuhkan jasad-jasad makhluk secara keseluruhan dalam kuburan mereka, sebagaimana Dia menumbuhkan biji-bijian dalam tanah dengan air. Jika jasad-jasad itu  telah sempurna, maka Allah memerintahkan Israfil agar meniup sangkakala, lalu keluarlah ruh-ruh dari lubang tiupan bertebaran antara langit dan bumi. Kemudian Allah berfirman: “Demi keperkasaan dan kemuliaan-Ku, hendaklah setiap ruh kembali kepada jasad yang dulu pernah dihuninya.” Kemudian setiap ruh itu kembali kepada jasad jasadnya masing-masing, menjalar ke seluruh tubuh seperti menjalarnya bisa di dalam tubuh orang yang dipatuk ular. Dan bumi pun terbelah untuk mengeluarkan mereka, lalu mereka berdiri menuju ke tempat penghisaban dengan cepat dan tergesa-gesa untuk memenuhi perintah Allah. muHthi’iina iladdaa’i yaquulul kaafiruuna Haadzaa yaumun ‘asir (“Mereka datang dengan cepat kepada penyeru itu. Orang-orang kafir berkata: ‘Ini adalah hari yang menyulitkan.’” (al-Qamar: 8).

Dan firman Allah: yauma yad’uukum fatastajibuuna bihamdiHi wa tadzunnuuna il labitstum illaa qaliilan (“Yaitu pada hari Dia memanggilmu, lalu kamu mematuhi-Nya sambil memuji-Nya dan kamu mengira bahwa kamu tidak berdiam [di dalam kubur] kecuali hanya sebentar saja.”) (al-Israa’: 52) dan di dalam kitab Shahih Muslim diriwayatkan dari Anas, bahwa Rasulullah bersabda: “Aku adalah orang yang pertama kali dibukakan oleh bumi.”

Firman Allah Ta’ala: dzaalika hasyrun ‘alainaa yasiir (“Yang demikian itu adalah pengumpulan yang mudah bagi Kami.”) maksudnya, pengembalian itu merupakan suatu hal yang mudah dan ringan bagi Kami. Sedang firman Allah: nahnu a’lamu bimaa yaquuluun (“Kami lebih mengetahui tentang apa yang mereka katakan.”) maksudnya, pengetahuan Kami meliputi segala apa yang dikatakan orang-orang musyrik kepadamu, yaitu berupa kedustaan. Karenanya, jangan sampai hal itu membuatmu merasa takut.

Firman Allah Ta’ala: wa maa anta ‘alaiHim bijabbaar (“Dan kamu sekali-sekali  bukanlah pemaksa terhadap mereka.”) artinya, engkau bukan orang yang memaksa mereka untuk beriman. Engkau tidak lain hanyalah seorang penyampai. Al-Farra’ berkata: “Aku pernah mendengar masyarakat Arab berkata: ‘Jabbara fulaanun fulaanan ‘alaa kadzaa.’ (Si fulan memaksa si fulan untuk melakukan ini).”

Kemudian Allah berfirman: fadzakkir  bil qur-aani may yakhaafu  wa’iid (“Maka, beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.”) maksudnya, sampaikanlah risalah Rabbmu. Sesungguhnya hanya orang yang takut  ancaman dan mengharapkan janji Allah sajalah yang menjadikannya sebagai peringatan: innaka laa taHdii man ahbabta wa lakinnallaaHa yaHdii may yasyaa’ (“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya.”)(al-Qashash: 56)

Oleh karena itu disini Allah berfirman: wa maa anta ‘alaiHim bijabbaar. fadzakkir  bil qur-aani may yakhaafu  wa’iid  (“Dan kamu sekali-sekali  bukanlah pemaksa terhadap mereka. Maka, beri peringatanlah dengan al-Qur’an orang yang takut kepada ancaman-Ku.”) Qatadah berkata: “Ya Allah, jadikanlah kami termasuk orang yang takut kepada ancaman-Mu dan mengharapkan pahala-Mu. Wahai Rabb Yang Mahaberbuat baik, wahai Rabb yang Mahapemurah.”

Sekian.

Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (7)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf
Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Ash-Shidiq an-Naji, dari Abu Sa’id al-Khudri, ia bercerita, bahwa Rasulullah saw. telah bersabda: “Jika seorang Mukmin menghendaki seorang anak di surga, maka hamilnya, melahirkannya dan umurnya hanya dalam satu jam.” Demikian hadits yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan Ibu Majah dari Bundar, dari Mu’adz bin Hisyam. At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan gharib.

Dan firman-Nya: wa ladainaa maziid (“Dan pada sisi Kami ada tambahannya.”) sebagaimana firman Allah: Lilladziina ahsanul husna waziyaadaH (“Bagi orang-orang yang telah berbuat baik itu ada kebaikan dan tambahan.” (Yunus: 26) dan telah diuraikan dalam kitab Shahih Muslim, dari Shuhaib bin Sinan ar-Rumi: ziyaadaH (tambahan itu ialah) melihat wajah Allah Yang Mahamulia.” Al-Bazzar dan Ibnu Abi Hatim juga meriwayatkan dari hadits Syuraik al-Qadhi, dari ‘Usman bin ‘Umair Abul Yaqzhan, dari Anas bin Malik mengenai firman Allah: wa ladainaa maziid (“Dan pada sisi Kami ada tambahannya.”) ia berkata: “Rabb memperlihatkan diri kepada mereka pada setiap hari Jum’at.” Dan telah diriwayatkan oleh Imam Abu ‘Abdillah asy-Syarfi’i secara marfu’.

tulisan arab alquran surat qaaf ayat 36-40“36. dan berapa banyaknya umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum mereka yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka ini, Maka mereka (yang telah dibinasakan itu) telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah (mereka) mendapat tempat lari (dari kebinasaan)? 37. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan bagi orang-orang yang mempunyai akal atau yang menggunakan pendengarannya, sedang Dia menyaksikannya. 38. dan Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.39. Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan dan bertasbihlah sambil memuji Tuhanmu sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam(nya).40. dan bertasbihlah kamu kepada-Nya di malam hari dan Setiap selesai sembahyang.” (Qaaf: 36-40)

Allah berfirman, berapa banyak umat-umat yang telah Kami binasakan sebelum para pendusta itu: ming qarnin Hum asyaddu minHum bathsyan (“Yang mereka itu lebih besar kekuatannya daripada mereka itu.”) maksudnya, jumlah mereka lebih banyak dan lebih kuat daripada mereka. Mereka telah banyak meninggalkan jejak di muka bumi dan mereka pun telah membangunnya lebih dari pembangunan yang dilakukan oleh para pendusta tersebut. Oleh karena itu, di sini Allah Ta’ala berfirman: fanaqqabuu fil bilaadi Hal mim mahiish (“Maka, mereka [yang telah dibinasakan itu] telah pernah menjelajah di beberapa negeri. Adakah [mereka] mendapat tempat lari?”) Ibnu ‘Abbas mengatakan: “Mereka telah membuat peninggalan di dalamnya.”

Dan mengenai firman Allah Ta’ala: fanaqqabuu fil bilaadi (“Maka, mereka [yang telah dibinasakan itu] telah pernah menjelajah di beberapa negeri.”) Mujahid berkata: “Mereka telah melakukan perjalanan di muka bumi.” Qatadah berkata: “Lalu mereka berjalan ke penjuru bumi untuk mencari rizki, berdagang dan berusaha. Dan mereka telah menjelajahi negeri-negeri itu lebih banyak daripada penjelajahan yang pernah kalian lakukan. Dan orang yang mengelilingi negeri disebut naqqah.” Umru-ul Qais pernah berkata: “Aku sudah pernah melakukan perjalanan ke belahan dunia sehingga  aku senang dengan ghanimah pada waktu pulang.”

Dan firman-Nya: Hal mim mahiish (“Adakah [mereka] mendapat tempat lari?”) maksudnya, apakah masih ada tempat berlindung bagi mereka dari ketetapan dan takdir Allah? Apakah yang mereka kumpulkan itu akan bermanfaat bagi mereka dan dapat menghindarkan mereka dari azab Allah jika adzab itu menimpa mereka mengingat mereka telah mendustakan para Rasul? Dan kalian pun tidak mempunyai tempat pelarian, tempat menghindar, dan tidak pula tempat berlindung.

Firman Allah: inna fii dzaalika ladzikraa (“Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat peringatan.”) yakni sebagai pelajaran, limang kaana laHuu qalbun (“Bagi orang-orang yang mempunyai hati.”) yang selalu menyadarinya. Mujahid mengatakan: “Yaitu yang mempunyai akal.”

Aw alqas sam’a wa Huwa syaHiid (“Atau yang menggunakan pendengarannya, sedang ia menyaksikannya.”) yakni mendengarkan ucapan, menyadari, memikirkan dengan pikirannya, dan memahami dengan hatinya. Adl-Dlahhak mengatakan: “Masyarakat Arab biasa mengatakan: alqaa fulaanun sam’aHu (si fulan menggunakan pendengarannya) jika ia mendengarkan langsung dengan kedua telinganya, sedang ia ikut hadir bersama dengan hatinya dan tidak ghaib [tidak lengah].”  Demikianlah yang disampaikan oleh ats-Tsauri dan beberapa ulama lainnya.

Laqad khalaqnas samaawaati wal ardla wa maa bainaHumaa fii sittati ayyaamiw wamaa massanaa mil lughuub (“Dan sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan.”)  di dalam ayat tersebut terkandung penetapan tentang adanya hari kebangkitan, karena Rabb yang mampu menciptakan langit dan bumi serta tidak pernah merasa letih karenanya pasti mampu untuk menghidupkan orang yang sudah mati dengan cara lebih sempurna.  Wa maa massanaa mil lughuub (“Dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan”) yakni tidak pernah merasa payah dan lelah.

Firman-Nya: fashbir  ‘alaa maa yaquuluuna (“Maka bersabarlah kamu terhadap apa yang mereka katakan.”) yakni para pendusta. Bersabarlah atas  tingkah laku dan  perbuatan mereka serta jauhilah mereka dengan cara  yang baik. Wa sabbih bihamdi rabbika qabla thuluu’isy syamsi wa qablal ghuruub (“Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu  sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam[nya].”) sebelum Isra’ mi’raj, shalat fardlu yang diperintahkan adalah dua kali, yaitu sebelum terbit matahari pada waktu fajar dan sebelum matahari tenggelam, yaitu pada waktu asyar. Dan qiyamul lail pun diwajibkan kepada Nabi saw. dan juga kepada semua umatnya. Setelah itu, Allah Ta’ala menghapuskan semua kewajiban tersebut pada malam isra’ dan digantikan dengan shalat lima waktu, namun di antaranya tetap terdapat shalat shubuh dan asyar, yang keduanya dilakukan sebelum matahari  terbit dan sebelum matahari tenggelam.

Imam Ahmad telah meriwayatkan dari Jarir bin ‘Abdillah, ia bercerita: “Kami pernah duduk-duduk bersama Nabi saw., lalu beliau melihat bulan pada malam purnama, maka beliau bersabda: “Sesungguhnya kalian akan melihat Rabb kalian sebagaimana kalian melihat bulan ini. Kalian tidak akan pernah lelah melihat-Nya. Jika kalian sanggup menunaikan shalat  sebelum matahari terbit dan sebelum terbenamnya, maka kerjakanlah.” Kemudian beliau membacakan ayat: Wa sabbih bihamdi rabbika qabla thuluu’isy syamsi wa qablal ghuruub (“Dan bertasbihlah sambil memuji Rabbmu  sebelum terbit matahari dan sebelum terbenam[nya].”) (HR al-Bukhari, Muslim dan sebagian perawi lainnya)

 

&

Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (6)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf
Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

tulisan arab alquran surat qaaf ayat 30-35“30. (dan ingatlah akan) hari (yang pada hari itu) Kami bertanya kepada Jahannam : “Apakah kamu sudah penuh?” Dia Menjawab : “Masih ada tambahan?” 31. dan didekatkanlah syurga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tiada jauh (dari mereka). 32. Inilah yang dijanjikan kepadamu, (yaitu) kepada Setiap hamba yang selalu kembali (kepada Allah) lagi memelihara (semua peraturan-peraturan-Nya) 33. (yaitu) orang yang takut kepada Tuhan yang Maha Pemurah sedang Dia tidak kelihatan (olehnya) dan Dia datang dengan hati yang bertaubat, 34. masukilah syurga itu dengan aman, Itulah hari kekekalan. 35. mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki; dan pada sisi Kami ada tambahannya.” (Qaaf: 30-35)

Allah memberitahukan bahwa Dia akan berfirman kepada neraka jahanam pada hari kiamat kelak: “Apakah engkau  sudah  penuh?” hal itu karena Allah Ta’ala telah berjanji kepadanya bahwa Dia akan memenuhinya dengan jin dan manusia  secara keseluruhan. Dengan demikian, Allah Ta’ala memerintahkan masuk orang-orang yang diperintahkan masuk ke dalamnya. Lalu jahanam menerimanya seraya bertanya: “Apakah  masih ada tambahan?” maksudnya, apakah masih tersisa sesuatu yang akan menjadi tambahan bagiku? Demikian lahiriyah ayat tersebut, dan hal itu diperkuat juga dengan beberapa dalil hadits.

Ketika menafsirkan ayat ini, imam al-Bukhari meriwayatkan dari Anas bin Malik, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Penghuni neraka dilemparkan ke dalam api neraka, dan neraka itu akan mengatakan: ‘Apakah masih ada tambahan?’ sehingga Allah meletakkan telapak kaki-Nya di sana, maka nerakapun berkata: ‘Cukup, cukup.’”

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, ia bercerita: Rasulullah bersabda: “Penghuni neraka akan terus dilemparkan ke dalam  neraka jahanam, dan neraka itu berkata: ‘Masihkah ada tambahan?’ Sehingga Rabb Yang Mahaperkasa meletakkan telapak kaki-Nya di sana, sehingga kedua sisi neraka itupun penuh. Lalu neraka berkata: ‘Cukup. Cukup.’ Demi keperkasaan dan kemuliaan-Mu.’ Dan di dalam surga masih terus terdapat tempat yang kosong, sehingga Allah menciptakan makhluk lain untuknya, lalu Dia menempatkan mereka di beberapa tempat di surga yang belum terisi.’” Kemudian hal yang sama juga diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Qatadah.

Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Surga dan neraka akan berdebat, dimana neraka berkata: ‘Aku dikhususkan bagi orang-orang sombong dan orang-orang angkuh.’ Sedangkan surga berkata: ‘Tidak ada yang memasukiku melainkan orang-orangg lemah dan orang hina.’ Lalu  Allah berfirman kepada surga: ‘Engkau adalah rahmat-Ku, denganmu Aku memberikan rahmat kepada hamba-hamba-Ku yang Aku kehendaki.’ Dan kepada neraka, Dia berfirman: ‘Sesungguhnya engkau adalah adzab-Ku, denganmu Aku menyiksa orang-orang yang Aku kehendaki dari hamba-hamba-Ku.’ Bagi masing-masing dari keduanya [adalah] isinya sendiri-sendiri. Adapun neraka tidak akan merasa penuh sehingga Allah meletakkan kaki-Nya, lalu neraka itu  berkata: ‘Cukup, cukup.’ Di sanalah ia dipenuhi dari sudut yang satu kepada sudut yang lainnya. Dan Allah tidak mendzalimi  seorangpun dari makhluk-Nya. Sedangkan surga, maka sesungguhnya Allah menciptakan makhluk yang lain baginya.” Pendapat tersebut merupakan pilihan Ibnu Jarir.

Mengenai firman Allah Ta’ala: yauma naquulu lijahannama Halimtala’ti wataquulu Hal mim maziid (“Pada hari Kami bertanya kepada jahanam: ‘Apakah kamu sudah penuh?’ Dia menjawab: ‘Masih adakah tambahan?’”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Neraka itu tidak akan  penuh. Justru ia akan mengatakan: hal mim maziid (“Apakah masih ada tambahan untukku?”) demikianlah yang diriwayatkan oleh al-Hakam bin ‘Abbas, dari ‘Ikrimah.  Wa taquulu Hal mim maziid (“Ia menjawab: ‘Masih adakah tambahan?’”) apakah dalam sekali masukan akan menjadi penuh? Al-Wahidi bin Muslim meriwayatkan dari Yazid bin Abi Maryam, bahwasannya ia pernah mendengar Mujahid berkata: “Dia masih akan tetap disana sehingga ia mengatakan: ‘Sudah penuh.’ Kemudian iapun berkata: ‘Apakah masih ada tambahan?’”

Hal yang sama juga diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin Zaid bin Aslam. Menurut mereka, firman Allah Ta’ala: Halimta la’ti (“Apakah kamu sudah penuh?”) Bahwa Allah mengatakannya setelah Dia  meletakkan kaki-Nya  di atasnya memenuhi dari sudut ke sudut. Kemudian neraka berkata: “Apakah masih ada sisa yang menjadi tambahan?” Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas: “Yang demikian terjadi pada saat tidak ada sedikitpun  tempat yang memungkinkan untuk ditempati.” wallaaHu a’lam.

Dan firman-Nya lebih lanjut: wa uzlifatil jannatu lilmuttaqiina ghaira ba’iid (“Dan didekatkanlah surga itu kepada orang-orang yang bertakwa pada tempat yang tidak jauh [dari mereka].”) Qatadah, Abu Malik, dan as-Suddi mengtakan: “Kata uzlifat berarti dekat dari orang-orang yang bertakwa.”

Dan firman Allah Ta’ala selanjutnya: ghaira ba’iid (“Yang tidak jauh dari mereka.”) yaitu hari kiamat. Karena, hal itu sudah pasti terjadi dan tidak mungkin  tidak, dan setiap yang akan datang itu [jaraknya] dekat. Haadzaa maa tuu’aduuna likulli awwaabin (“Inilah yang dijanjikan kepadamu, [yaitu] kepada setiap hamba yang selalu kembali.”) yaitu orang yang kembali dan bertaubat seraya melepaskan diri dari perbuatan dosa. Hafiidz (“lagi memelihara”) yakni yang menjaga perjanjian dan tidak akan melanggar dan merusaknya. ‘Ubaid bin ‘Umair berkata: “Orang yang kembali lagi memelihara itu adalah orang yang tidak duduk di suatu tempat lalu berdiri, sehingga ia beristighfar kepada Allah.”

Man khasyiyar ramaana bil ghaiib (“[yaitu] orang yang takut  kepada Rabb Yang Mahapemurah, sedang Dia tidak terlihat.”) maksudnya, orang yang takut kepada Allah di dalam hatinya, yaitu ketika tidak dilihat oleh seorangpun selain Allah yang tetap melihatnya. Yang demikian itu seperti sabda Rasulullah saw.: “Dan seorang yang mengingat Allah pada saat berdiri, kemudian air matanya berlinang.”

Firman-Nya: wa jaa-a biqalbim muniib (“Dan dia datang dengan hati yang bertaubat.”) maksudnya, ia akan menemui Allah  pada hari kiamat kelak dengan hati yang bertaubat lagi tunduk di hadapan-Nya. UdkhuluuHaa (“Masukilah ia.”) yaitu surga, bisalaam (“dengan aman”) Qatadah berkata: “Mereka selamat dari azab Allah, dan para Malaikat mengucapkan salam kepada mereka.”

Firman Allah: Dzaalika yaumul khuluud (“Itulah hari kekekalan.”) maksudnya mereka akan kekal di dalam surga dan tidak akan pernah mati untuk selamanya, tidak akan pergi, dan tidak akan mencari tempat lain. Lahum maa yasyaa-uuna  fiiHaa (“Mereka di dalamnya memperoleh apa yang mereka kehendaki.”) maksudnya apapun yang mereka inginkan, pasti mereka akan mendapatkannya. Apapun kelezatan dan kenikmatan yang mereka inginkan, pasti mereka akan mendapatkannya. Apapun kelezatan dan kenikmatan yang mereka minta, pasti akan dihadirkan kepada mereka.

 

&

Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (5)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf
Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

tulisan arab alquran surat qaaf ayat 23-29“23. dan yang menyertai Dia berkata : ‘ Inilah (catatan amalnya) yang tersedia pada sisiku’. 24. Allah berfirman : ‘Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka semua orang yang sangat ingkar dan keras kepala, 25. yang sangat menghalangi kebajikan, melanggar batas lagi ragu-ragu, 26. yang menyembah sembahan yang lain beserta Allah Maka lemparkanlah Dia ke dalam siksaan yang sangat ‘. 27. yang menyertai dia berkata (pula): ‘Ya Tuhan Kami, aku tidak menyesatkannya tetapi Dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh’. 28. Allah berfirman : “Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku, Padahal Sesungguhnya aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu”. 29. keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah dan aku sekali-kali tidak Menganiaya hamba-hamba-Ku” (Qaaf: 23-29)

Allah berfirman seraya memberitahukan tentang malaikat yang diberi tugas mengawasi amal perbuatan anak cucu Adam, dimana ia akan memberikan kesaksian atas apa yang pernah mereka kerjakan  pada hari kiamat kelak seraya berkata: Haadzaa maa ladayya ‘atiid (“Inilah [catatan amalnya] yang tersedia di sisiku.”) inilah yang disiapkan dan dihadirkan, tanpa adanya penambahan dan pengurangan.

Mujahid mengatakan: “Demikianlah ungkapan Malaikat penggiring, dimana ia mengatakan: ‘Inilah anak Adam yang Engkau [Allah] telah mengutusku mengawasinya, dan aku telah menghadirkannya.”)  dan penafsiran ini pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir, dimana hal itu mencakup penggiring dan saksi. Dan ia mempunyai beberapa  pandangan dan kekuatan. Pada saat itulah Allah memberikan keputusan terhadap semua makhluk-Nya secara adil, dan Dia berfirman: alqiyaa fii jaHannama kullu kaffarin ‘aniid (“Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka  semua orang yang sangat ingkar lagi keras kepala.”)

Para ahli ilmu nahwu telah berbeda pendapat mengenai firman Allah Ta’ala: alqiyaa (“lemparkanlah olehmu”). Sebagian dari mereka berpendapat: “Ungkapan itu merupakan dialek sebagian masyarakat Arab, dimana mereka sering menyapa satu orang dengan menggunakan kata ganti dua [orang], sebagaimana yang diriwayatkan dari al-Hajjaj, dimana ia berkata: “Wahai penjagaku, penggallah lehernya oleh kalian berdua.” Dan di antara yang disebutkan Ibnu Jarir adalah ungkapan seorang penyair: “Jika kalian berdua melarangku wahai putera ‘Affan, maka aku akan taat, dan jika kalian berdua membiarkanku, niscaya aku akan menjadi pengawal yang tangguh.”

Ada yang menyatakan: “Ungkapan itu (alqiyaa) merupakan nun taqid yang dimudahkan kepada alif.” Namun pendapat terakhir ini terlalu jauh, karena hal itu  berada dalam  waqaf. Secara lahiriyah, kata tersebut ditujukan  kepada penggiring dan saksi, dimana malaikat penggiring telah menghadirkannya  di pelataran hisab. Setelah penggiring dan saksi melaksanakan tugasnya, keduanya diperintahkan Allah untuk melemparkannya ke neraka jahanam, sesungguhnya jahanam itu seburuk-buruk tempat kembali.

Alqiyaa fii jaHannama kullu kaffarin ‘aniid (“Lemparkanlah olehmu berdua ke dalam neraka  semua orang yang sangat ingkar lagi keras kepala.”) maksudnya banyak berbuat kekufuran dan mendustakan kebenaran serta keras kepala terhadap kebenaran dan cenderung kepada kebathilan, padahal ia mengetahui hal tersebut. Mannaa’il lilkhairi (“Yang sangat enggan melakukan kebajikan.”) maksudnya tidak menunaikan hak orang lain, tidak berbuat kebaikan, tidak menyambung tali silaturahim, serta tidak mengeluarkan shadaqah, mu’tadin (“Melanggar batas.”) yakni dalam menggunakan dan membelanjakan harta kekayaan,  ia melampaui batas. Dan Qatadah berkata: “Melanggar batas dalam ucapannya, perjalanannya dan urusannya. Muriib (“lagi ragu-ragu”). Maksudnya, ia ragu dalam urusannya sendiri  dan membuat ragu orang yang melihat urusannya.

Firman-Nya: alladzii ja’ala ma’allaaHi ilaaHan aakhara (“Yang menyembah ilah-ilah yang lain bersama Allah.”) maksdunya, ia menjadikan sekutu lain di samping Allah, dimana ia menyembahnya  bersamaan dengan penyembahan terhadap-Nya. Fal qiyaaHu fil ‘adzaabisy syadiid (“Maka, lemparkanlah dia ke dalam siksaan yang sangat.”) firman-Nya: qaala qariinuHuu  (“Yang menyertainya berkata,”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Qatadah, dan ulama lainnya mengatakan: “Yaitu syaitan yang ditugaskan untuk menyertainya. Rabbanaa maa athghaituHuu (“Yaa Rabb kami, aku tidak menyesatkannya.”) maksudnya, Allah menceritakan tentang orang yang datang pada hari kiamat dalam keadaan kafir, dimana syaiitan akan berkata: rabbanaa maa athghaituHuu walaa king kaana fii  dlalaalim ba’iid (“Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.”) maksudnya, tetapi justru dirinya sendirilah yang sesat, menerima kebathilan dan menentang kebenaran.

Firman Allah Ta’ala: qaala laa takhtashimuu ladayya (“Allah berfirman: ‘Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku.”) artinya Rabb berfirman kepada manusia dan temannya dari kalangan jin, hal itu karena keduanya  bertengkar di hadapan Allah, dimana manusia berkata: “Ya Rabb-ku, syaitan telah menyesatkanku dari peringatan yang telah datang kepadaku.” Lalu syaitan itupun berkata: “Rabbanaa maa athghaituHuu walaa king kaana fii  dlalaalim ba’iid (“Ya Rabb kami, aku tidak menyesatkannya, tetapi dialah yang berada dalam kesesatan yang jauh.”) maksudnya [jauh] dari jalan kebenaran. Maka Rabb berfirman kepada keduanya: qaala laa takhtashimuu ladayya (“Allah berfirman: ‘Janganlah kamu bertengkar di hadapan-Ku.”) yakni di sisi-Ku. Waqad qadamtu ilaikum bil wa’iid (“Padahal sesungguhnya Aku dahulu telah memberikan ancaman kepadamu.”) maksudnya Aku telah menegakkan kitab-kitab  dan hujjah; dalil dan bukti-bukti pun telah ditegakkan.

Maa yubaddalul qaulu ladayya (“Keputusan di sisi-Ku tidak dapat diubah”)  Mujahid mengatakan: “Yakni, telah Aku  tetapkan apa yang menjadi wewenang-Ku.”) wa maa ana bidlalaamil lil’abiid (“Dan Aku sekali-sekali tidak menganiaya  hamba-hamba-Ku”) maksudnya, Aku tidak akan menimpakan siksaan kepada seseorang karena dosa orang lain, tetapi Aku menjatuhkan siksaan kepada seseorang  karena dosanya  sendiri setelah ditegakkannya hujjah kepadanya.

Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (4)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf
Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

Al-Ahnaf bin Qais mengatakan: “Malaikat yang ada di sebelah kanan mencatat kebaikan, yang ia sekaligus menjaga Malaikat yang menempati sebelah kiri. Jika seorang hamba melakukan kesalahan, maka Malaikat sebelah kanan akan berkata kepadanya: ‘Tahan dulu’. Jika ia memohon ampun kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mencegahnya agar  agar tidak mencatatnya dan jika ia tidak mau memohon ampunan kepada-Nya, maka ia akan mencatatnya.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Al-Hasan al-Bashri mengatakan seraya membaca ayat ini:  ‘anil yamiini wa ‘anisy syimaali qa’iid (“Seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.”) “Wahai anak cucu Adam, Aku [Allah] hamparkan kepada kalian lembaran dan dua malaikat mulia ditugaskan kepada kalian, salah satunya berada di sebelah kanan kalian dan yang lainnya berada di sebelah kiri kalian. Malaikat di sebelah kanan akan mencatat kebaikan kalian, sedangkan yang di sebelah kiri akan mencatat keburukan kalian. Oleh karena itu  berbuatlah sesuka hati kalian, sedikit maupun banyak. Sehingga jika kalian mati, maka akan digulung kembali lembaran kalian itu  dan dikalungkan di leher kalian menuju ke kubur  kalian, sehingga kalian keluar lagi pada hari kiamat kelak. Pada saat itu Allah Ta’ala  berfirman yang artinya:

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”. (al-Israa’: 13-14)

Mengenai firman Allah Ta’ala: maa yalfidzu ming qaulin illaa ladaiHi raqiibun ‘atiid (“Tidak ada  suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu  hadir.”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:  “Ia akan menulis setiap kebaikan atau  keburukan yang diucapkannya. Bahkan ia akan mencatat ucapannya.” ‘Aku  makan, minum, pergi, datang dan melihat.’ Sehingga jika hari Kamis tiba, maka ia akan memperlihatkan ucapan dan amalnya, lalu ia akan menetapkan kebaikan atau keburukan yang ada di  dalamnya. Itulah makna firman Allah Ta’ala: yamhullaaHu maa yasyaa-u wa yutsbitu wa ‘indaHuu ummul kitaab (“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan [apa yang Dia kehendaki], dan di sisi-Nya  terdapat Ummul Kitab [Lauhul Mahfuzh].”) (ar-Ra’du: 39).

Dan disebutkan dari Imam Ahmad, bahwasannya beliau pernah merintih ketika sedang sakit, kemudian sampai berita kepada Thawus, dimana ia berkata: “Malaikat akan mencatat segala sesuatu, termasuk rintihan.” Sejak saat itu, Imam Ahmad tidak lagi merintih sampai meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya.

Firman Allah Ta’ala: wa jaa-at sakratul mauti bil haqqi dzaalika maa kunta minHu  tahiid (“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.”) Allah berfirman: “Dan datanglah –wahai manusia- sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Artinya, telah Aku [Allah] perlihatkan kepadamu hal [yang] meyakinkan yang dulu kalian ragukan.” Dzaalika maa kunta minHu  tahiid (“Itulah yang kamu  selalu lari darinya.”)  maksudnya, inilah sesuatu yang dulu kalian lari darinya. Sekarang telah datang  kepadamu,  sehingga tidak ada jalan untuk melarikan diri dan tidak ada pula tempat berlindung dan menyelamatkan diri darinya.

Para ahli tafsir telah berbeda pendapat berkenaan dengan mukhathah [lawan bicara] dalam firman-Nya ini: wa jaa-at sakratul mauti bil haqqi dzaalika maa kunta minHu  tahiid (“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.”) dan yang benar, bahwa mukhathah itu adalah umat manusia. Dan telah ditegaskan dalam hadits shahih dari Nabi saw. dimana ketika beliau dihampiri oleh kematian, maka beliau mengusap keringat dari wajahnya seraya berucap: SubhaanallaaHi inna lilmauti lasakaraat (“Mahasuci Allah, sesungguhnya kematian itu mempunyai beberapa sekarat.”

Dan mengenai firman Allah Ta’ala: Dzaalika maa kunta minHu  tahiid (“Itulah yang kamu  selalu lari darinya.”)   terdapat dua pendapat. Pertama, apa yang engkau menjauh dan melarikan diri, sekarang telah datang kepadamu dan menimpamu. Kedua, kematian yang engkau mampu melarikan diri darinya tetapi tidak mampu menghindarinya.

Dan firman-Nya lebih lanjut: Wa nufikhafish shuuri dzaalika yaumul wa’iid (“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman.”) pembicaraan tentang peniupan sangkakala, dan tentang peristiwa hari kiamat telah dibahas sebelumnya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana mungkin aku akan bersenang-senang, sedang pemegang terompet telah siap untuk meniupnya, dan mendekatkan wajahnya menunggu izin untukk meniupnya.” Para shahabat bertanya: “Ya Rasulallah, apa yang seharusnya kami katakan?” Beliau bersabda: “Qaaluu: hasbunallaaHu wa ni’mal wakiil (Katakan: Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung)” maka mereka berkata: “HasbunallaaHu wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung)” (HR at-Tirmidzi dengan sanad hasan).

Firman-Nya: wa jaa-at kullu nafsim ma’aHaa saa-iquw wa syaHiid (“Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengannya seorang Malaikat penggiring dan seorang Malaikat penyaksi.”) yaitu malaikat yang menggiring ke alam Mahsyar dan malaikat yang memberikan kesaksian amal perbuatannya.  Demikianlah lahiriyah ayat di atas. Dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Firman Allah Ta’ala: laqad kunta fii ghaflatim min Haadzaa fakasyafnaa ‘angka ghithaa-aka fabasharukal yauma hadiid (“Sesungguhnya kamu  berada dalam keadaan lalai dari [hal] ini, maka Kami singkapkan darimu tutup [yang menutupi] matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.”) Khithab ayat ini ditujukan kepada umat manusia itu  sendiri. Dan yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: laqad kunta fii ghaflatim min Haadzaa (“Sesungguhnya  kamu berada dalam keadaan lalai dari [hal] ini.”) yakni dari hari ini: fakasyafnaa ‘angka ghithaa-aka fabasharukal yauma hadiid (“maka Kami singkapkan darimu tutup [yang menutupi] matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.”) yakni sangat kuat, karena pada hari kiamat kelak setiap orang akan mempunyai  pandangan yang kuat, termasuk orang-orang yang kafir ketika di dunia. Pada saat itu pandangan mereka tetap stabil, tetapi  semua itu  tidak mendatangkan manfaat apa-apa bagi mereka.

Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (3)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf
Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

Dan firman Allah Ta’ala: a fa ‘iinaa bil khalqil awwal (“Maka apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama?”) maksudnya, apakah Kami pernah tidak sanggup dalam melakukan penciptaan pertama sehingga mereka meragukan pengulangan penciptaan? Bal Hum fii labsim man khalqin jadiid (“Sebenarnya mereka dalam keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.”) artinya bahwa [sejak] awal penciptaan, tidak pernah Kami merasa lemah, sedangkan mengulangi penciptaan itu lebih mudah darinya, sebagaimana yang difirmankan Allah: Huwal ladzii yabda-ul khalqa tsumma yu’iiduHuu wa Huwa aHwanu ‘alaiHi (“Dan Dialah yang menciptakan manusia dari permulaan, kemudian mengembalikannya  lagi dan itu adalah lebih mudah bagi-Nya.”)(ar-Ruum: 27)

tulisan arab alquran surat qaaf ayat 16-22“16. dan Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya, dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya, 17. (yaitu) ketika dua orang Malaikat mencatat amal perbuatannya, seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri. 18. tiada suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat Pengawas yang selalu hadir. 19. dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari daripadanya. 20. dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman. 21. dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengan Dia seorang Malaikat penggiring dan seorang Malaikat penyaksi. 22. Sesungguhnya kamu berada dalam Keadaan lalai dari (hal) ini, Maka Kami singkapkan daripadamu tutup (yang menutupi) matamu, Maka penglihatanmu pada hari itu Amat tajam.” (Qaaf: 16-22)

Allah menceritakan tentang kekuasaan-Nya atas umat manusia, bahwa Dia adalah pencipta mereka, ilmu pengetahuan-Nya meliputi seluruh persoalan hidupnya, bahkan Dia mengetahui apa yang dibisikkan oleh hati anak cucu Adam, baik berupa kebaikan maupun keburukan. Dalam sebuah hadits shahih Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala memaafkan apa yang dibisikkan oleh hati umatku selama ia tidak mengatakan atau mengerjakannya.”

Dan firman Allah: wa nahnu aqrabu iliHi min hablil wariid (“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”) maksudnya, para Malaikat-Nya lebih dekat kepada manusia daripada urat lehernya sendiri. Orang yang menafsirkan dengan menta’wil bahwa yang lebih dekat itu adalah ilmu Allah, maka ia berusaha agar tidak mesti adanya hulul atau ittihad (keyakinan bahwa Allah menempati jasad seseorang). Dan hulul atau ittihad ini ditolak oleh ijma’ ulama. Mahasuci dan Mahatinggi Allah. Tetapi kalimat itu tidak memutuskannya demikian, karena Dia tidak mengatakan: “Aku lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.” Namun Dia berfirman: wa nahnu aqrabu iliHi min hablil wariid (“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya.”) hal itu sebagaimana firman-Nya berkenaan dengan orang yang sedang mengalami sakaratul maut:  wa nahnu aqrabu ilaiHi mingkum walaakil laa tubshiruun (“Dan Kami lebih dekat kepadanya daripadamu, namun kamu tidak melihat.”)(al-Waqi’ah: 85)

Yang dimaksud dengan kata “Kami” dalam ayat tersebut  adalah para Malaikat-Nya. Dan juga sebagaimana firman-Nya  dalam surat yang lain: innaa nahnu nazzalnadz dzikra wa innaa laHuu lahaafidzuun (“Sesungguhnya Kamilah yang telah menurunkan al-Qur’an, dan sesungguhnya Kami benar-benar  memeliharanya.”)(al-Hijr: 9)

Dengan demikian, para Malaikat itulah yang telah turun dengan membawa al-Qur’an dengan izin Allah. Demikian pula para Malaikat lebih dekat  kepada manusia daripada urat lehernya dengan ketetapan Allah Tabaaraka wa Ta’ala. Dengan demikian para Malaikat mempunyai kedekatan dengan umat manusia seperti halnya syaitan juga mempunyai hal yang sama. Dan syaitan mengalir dalam diri anak Adam dalam aliran darah, sebagaimana telah dikabarkan oleh Rasulullah saw.. Oleh karena itu, di sini Allah Ta’ala berfirman: idz yatalaqqal mutalaqqiyaani (“Ketika dua malaikat mencatat amal perbuatannya.”) yaitu dua  malaikat yang senantiasa mencatat amal perbuatan manusia. ‘anil yamiini wa ‘anisy syimaali qa’iid (“Seorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.”) maa yalfidzu (“Tidak ada yang diucapkannya.”)  oleh anak cucu Adam, ming qaulin (“Suatu ucapan pun.”) maksudnya, ia tidak berkata sepatah katapun, illaa ladaiHi raqiibun ‘atiid (“Melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu hadir.”) maksudnya, tidak ada sesuatupun melainkan senantiasa di bawah pengawasan Malaikat yang mencatatnya, tidak ada sepatah kata dan satu gerakanpun yang ditinggalkan. Sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala berikut ini: wa inna ‘alaikum lahaafidziin. Kiraamang kaatibiin. Ya’lamuuna maa  taf’aluun (“Padahal sesungguhnya  bagimu ada [Malaikat-malaikat] yang mengawasi [perbuatanmu], yang mulia di sisi  Allah dan yang mencatat [perbuatan-perbuatanmu itu], mereka mengetahui apa  yang kamu kerjakan.”)(al-Infithaar: 10-12).

Para ulama  telah berbeda pendapat, apakah para malaikat itu menulis setiap ucapan, seperti yang menjadi pendapat Hasan dan Qatadah, ataukah  para Malaikat itu  mencatat pahala maupun siksaan yang dihasilkan dari perbuatan tersebut,  seperti yang menjadi pendapat Ibnu ‘Abbas? Mengenai hal tersebut terdapat dua pendapat. Menurut lahiriyahnya ayat, yang tepat adalah pendapat pertama, hal itu didasarkan pada  keumuman firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: maa yalfidzu ming qaulin illaa ladaiHi raqiibun ‘atiid (“Tidak ada  suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu  hadir.”)

Imam Ahmad meriwayatkan dari Bilal bin al-Harits al-Muzani, ia bercerita: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya seseorang akan berbicara dengan kata-kata yang diridlai Allah Ta’ala, ia tidak mengira bahwa kata itu akan sampai pada tingkat dimana  Allah menulis kan bagi orang tersebut keridlaan-Nya  sampai pada hari dimana ia bertemu dengan-Nya. Dan sesungguhnya seseorang akan mengucapkan kata-kata yang dimurkai Allah, yang ia tidak mengira bahwa kata-kata itu  akan sampai pada tingkat dimana Allah mencatat dengannya kemurkaan-Nya sampai pada hari ia bertemu dengan-Nya.” Dan ‘Alqamah pernah mengatakan: “Berapa banyak ucapan yang tidak jadi aku ucapkan karena hadits Bilal bin al-Harits tersebut.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, an-Nasa-i dan Ibnu Majah. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut hasan shahih. Dan ia mempunyai syahid dalam kitab ash-Shahih.”

 

&

Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (2)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf
Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

tulisan arab alquran surat qaaf ayat 6-11“6. Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun ? 7. dan Kami hamparkan bumi itu dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata, 8. untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali (mengingat Allah).9. dan Kami turunkan dari langit air yang banyak manfaatnya lalu Kami tumbuhkan dengan air itu pohon-pohon dan biji-biji tanaman yang diketam, 10. dan pohon kurma yang tinggi-tinggi yang mempunyai mayang yang bersusun- susun, 11. untuk menjadi rezki bagi hamba-hamba (Kami), dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati (kering). seperti Itulah terjadinya kebangkitan.” (Qaaf: 6-11)

Allah berfirman seraya mengingatkan hamba-hamba-Nya tentang kekuasaan-Nya yang agung, lebih besar dari apa yang mereka herankan itu, yang mereka nyatakan sebagai peristiwa yang mustahil terjadi: a falam yandzuruu ilas samaa-i fauqaHum kaifa banainaaHaa wa zayyannaaHaa (“Maka Apakah mereka tidak melihat akan langit yang ada di atas mereka, bagaimana Kami meninggikannya dan menghiasinya”) yakni dengan bintang-bintang, wa maa laHaa min furuuj (“Dan langit itu tidak mempunyai retak-retak sedikitpun”) Mujahid mengemukakan: “Yakni pecah.”

Firman Allah Ta’ala: wal ardla madadnaaHaa (“Dan Kami hamparkan bumi itu.”) maksudnya Kami luaskan dan kami bentangkan. Wa alqainaa fiiHaa rawaasiya (“Dan Kami letakkan padanya gunung-gunung yang kokoh.”) hal itu agar bumi beserta penduduknya tidak miring dan tidak terguncang. Gunung-gunung itu berdiri tegak di atas bumi dengan semua sisinya dikelilingi air. Wa ambatnaa fiiHaa ming kulli zaujim baHiij (“Dan Kami tumbuhkan padanya segala macam tanaman yang indah dipandang mata.”) yakni segala  macam tanam-tanaman, buah-buahan dan lain sebagainya. Wa ming kulli syai-in  khalaqnaa zaujaini la’allakum tadzakkaruun (“Dan segala sesuatu Kami ciptakan berpasang-pasangan supaya kamu mengingat akan kebesaran Allah.”) (adz-Dzaariyaat: 49) kata “baHiij” berarti pemandangan yang indah.

Tabshirataw  wadzikraa likulli ‘abdim muniib (“Untuk menjadi pelajaran dan peringatan bagi tiap-tiap hamba yang kembali [mengingat Allah]”) maksudnya, dengan menyaksikan penciptaan langit dan bumi serta tanda-tanda  kekuasan-Nya yang sangat menakjubkan yang telah Dia ciptakan di antara keduanya, sebagai saksi, bukti dan peringatan bagi setiap orang yang tunduk, takut dan kembali kepada Allah.

Dan firman Allah Ta’ala: wa nazzalnaa minas samaa-i maa-am mubaarakan (“Dan Kami turunkan dari langit  air yang banyak berkahnya.”) yakni manfaatnya, fa ambatnaa biHii jannaat (“Lalu  Kami tumbuhkan  dengan air itu pohon-pohon”)  yakni kebun, taman, dan lain sebagainya, wa habbal  hashiid (“Dan biji-biji tanaman yang diketam.”) yaitu tanaman yang diambil bijinya  untuk kemudian disimpan. Wa nakhla baasiqaat (“Dan pohon kurma yang tinggi-tinggi,”) yakni yang panjang lagi tinggi. Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi, dan lain-lain mengatakan: “Kata  al-baasiqaat berarti  tinggi.”

LaHaa thal’un nadliid (“Yang mempunyai mayang yang bersusun-susun”) yakni sebagian di atas sebagian lainnya. Rizqal lil’ibaad (“Untuk menjadi rizki bagi hamba-hamba [Kami]”) yakni bagi semua makhluk-Nya. Wa ahyainaa biHii baldatam maitaa (“Dan Kami hidupkan dengan air itu tanah yang mati.”) yaitu tanah  yang kering kerontang lagi tandus. Dan ketika air turun membasahinya, maka tanah itu kembali hidup, subur dan tumbuhlah berbagai macam tumbuh-tumbuhan yang indah, setelah sebelumnya tanah itu tidak ditumbuhi pepohonan (tumbuhan), maka berubahlah menjadi hijau. Ini adalah suatu contoh bagi (perumpamaan) kebangkitan setelah kematian dan kehancuran  (yang telah mereka ingkari dan mereka anggap mustahil itu). Demikian pula Allah akan menghidupkan kembali orang-orang  yang sudah mati. Pemandangan seperti itu  merupakan kebesaran kekuasaan-Nya dalam kenyataan, yang mana hal itu lebih agung dari apa yang diingkari oleh orang-orang yang ingkar terhadap hari kebangkitan.

tulisan arab alquran surat qaaf ayat 12-15“12. sebelum mereka telah mendustakan (pula) kaum Nuh dan penduduk Rass dan Tsamud, 13. dan kaum Aad, kaum Fir’aun dan kaum Luth, 14. dan penduduk Aikah serta kaum Tubba’ semuanya telah mendustakan Rasul- Rasul Maka sudah semestinyalah mereka mendapat hukuman yang sudah diancamkan. 15. Maka Apakah Kami letih dengan penciptaan yang pertama? sebenarnya mereka dalam Keadaan ragu-ragu tentang penciptaan yang baru.” (Qaaf: 12-15)

Allah berfirman seraya mengancam orang-orang kafir Quraisy dengan sesuatu yang telah Allah timpakan kepada orang-orang yang serupa dan sebanding dengan mereka  dari kalangan para pendusta terdahulu, serta siksaan dan adzab yang pedih di dunia, seperti kisah kaum Nabi Nuh a.s. yang telah ditimpakan kepada mereka  adzab berupa tenggelamnya mereka secara keseluruhan bagi penduduk bumi. Dan penduduk Rass, kisahnya ini telah dikemukakan dalam surat al-Furqaan.

Wa ‘aaduw wa fir’aunuw wa ikhwaanu luuth (“Dan kaum ‘Aad, kaum Fir’aun dan kaum Luth”) mereka adalah umat Luth dan penduduk Sadum, yang ia diutus oleh Allah Ta’ala kepada mereka. Bagaimana Allah menenggelamkan mereka ke dalam bumi dan Allah rubah tanah mereka menjadi danau besar [laut mati] yang  berbau  busuk dan tengik menyelimuti mereka sebagai akibat  dari kekufuran, kesewenangan, dan keingkaran mereka terhadap kebenaran. Wa ash-haabul aikah (“dan penduduk Aikah”)  yaitu kaum Nabi Syu’aib a.s. wa qaumu tubba’ (“serta kaum Tubba’”) yaitu bangsa Yaman, sebagaimana keadaan mereka telah kami sebutkan dalam surat ad-Dukhaan.

Kullung kadzdzabar rusula (“Semuanya telah mendustakan Rasul-Rasul”) maksudnya, masing-masing dari umat itu telah mendustakan para Rasul mereka. Dan barangsiapa yang mendustakan seorang Rasul, maka seolah-olah ia telah mendustakan semua Rasul. Hal itu seperti firman Allah Ta’ala: kadzdzabal qaumu nuuhinil mursaliin (“Kaum Nuh telah mendustakan para Rasul”)(Asy-Syu’araa: 105)

Mereka didatangi seorang Rasul, sedang mereka dalam keadaan yang sama, dan seandainya mereka didatangi seluruh Rasul, niscaya mereka akan mendustakan para Rasul tersebut. Fa haqqa wa’iid (“Maka, sudah semestinyalah mereka mendapatkan hukuman yang sudah diancamkan.”)  yakni mereka berhak mendapatkan siksaan yang diancamkan oleh Allah berupa siksaan dan adzab. Oleh karena itu, hendaklah orang-orang menjadi khithah (yang diserukan oleh) ayat al-Qur’an untuk waspada agar jangan sampai ditimpa dengan apa yang telah menimpa mereka, karena sesungguhnya mereka telah mendustakan para Rasul mereka, sebagaimana orang-orang itu telah mendustakannya.

 

&

Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (1)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf
Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

Surat ini merupakan surat pertama dari kelompok surat mufashshal (terpotong-potong/ terperinci). Ada juga yang berpendapat bahwa surat  tersebut termasuk surat  al-Hujuraat. Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Abdillah, bahwa ‘Umar bin al-Khaththab pernah bertanya kepada Abu Waqid  al-Laitsi mengenai apa yang dibaca Rasulullah saw. pada shalat ‘Ied. Ia menjawab: “Yaitu  surat Qaaf dan surat Iqtarabatissaa’ah.” Demikian yang diriwayatkan oleh Muslim dan para penulis kitab as-Sunan yang empat (Abu Dawud, at-Tirmidzi, an-Nasa-i, Ibnu Majah) dari hadits Malik.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Ummu  Hisyam  binti Hatitsah, ia bercerita: “Sesungguhnya kami dan Nabi saw. telah mendapat cahaya  dari satu  surat selama dua tahun, atau satu tahun setengah. Dan aku tidak mendapatkan surat ‘Qaaf wal qur-aanil majiid’ melainkan dari lisan Rasulullah saw.. Beliau senantiasa membacanya setiap hari Jum’at di atas mimbar jika menyampaikan khutbah kepada orang-orang.” Demikian yang diriwayatkan oleh  Muslim dari hadits Ibnu Ishaq; an-Nasa-i, dan Ibnu Majah dari hadits Syu’bah.

Maksudnya, Rasulullah saw. senantiasa  membacakan surat ini dalam pertemuan-pertemuan besar, misalnya  pada  hari Raya dan hari Jum’at. Karena surat ini mencakup tentang penciptaan pertama, kebangkitan, pengumpulan, pengembalian, kiamat, hisab, surga, neraka, siksaan, targhib, dan tarhib. WallaaHu a’lam.

tulisan arab alquran surat qaaf ayat 1-5“1. Qaaf[1] demi Al Quran yang sangat mulia. 2. (mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, Maka berkatalah orang-orang kafir :”Ini adalah suatu yang Amat ajaib”. 3. Apakah Kami setelah mati dan setelah menjadi tanah (kami akan kembali lagi) ?, itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin. 4. Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang dihancurkan oleh bumi dari (tubuh-tubuh) mereka, dan pada sisi Kamipun ada kitab yang memelihara (mencatat). 5. sebenarnya, mereka telah mendustakan kebenaran tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, Maka mereka berada dalam Keadaan kacau balau.” (Qaaf: 1-5)

 [1] Ialah huruf-huruf abjad yang terletak pada permulaan sebagian dari surat-surat Al Quran seperti: Alif laam miim, Alif laam raa, Alif laam miim shaad dan sebagainya. diantara Ahli-ahli tafsir ada yang menyerahkan pengertiannya kepada Allah karena dipandang Termasuk ayat-ayat mutasyaabihaat, dan ada pula yang menafsirkannya. golongan yang menafsirkannya ada yang memandangnya sebagai nama surat, dan ada pula yang berpendapat bahwa huruf-huruf abjad itu gunanya untuk menarik perhatian Para Pendengar supaya memperhatikan Al Quran itu, dan untuk mengisyaratkan bahwa Al Quran itu diturunkan dari Allah dalam bahasa Arab yang tersusun dari huruf-huruf abjad. kalau mereka tidak percaya bahwa Al Quran diturunkan dari Allah dan hanya buatan Muhammad s.a.w. semata-mata, Maka cobalah mereka buat semacam Al Quran itu.

“Qaaf” termasuk salah satu huruf Hijaiyyah yang disebutkan pada permulaan beberapa surat,  seperti firman Allah Ta’ala:  Thaa siin, haa miim, alif laam miim, nuun, shaad, dan lain sebagainya. Demikian yang dikemukakan oleh Mujahid dan ulama lainnya.

Firman-Nya:  wal qur-aanil majiid (“Demi Al-Qur’an yang sangat mulia”)  yakni yang sangat terhormat lagi agung. Yang menjadi jawaban adalah kandungan firman yang tercantum setelah sumpah, yaitu penetapan tentang kenabian, hari kiamat, pengukuhan dan penegasannya. Meskipun sumpah di dalam ayat ini tidak memiliki jawaban yang tegas, namun  hal ini banyak terdapat di dalam sumpah-sumpah yang terdapat di dalam al-Qur’an. Sebagaimana yang telah disebutkan sebelumnya dalam firman Allah Ta’ala: Shaad, wal qur-aani dzidzikr. Balil ladziina kafaruu fii ‘izzatiw wa syiqaaq (“Shaad. Demi Al-Qur’an yang mempunyai keagungan. Sebenarnya orang-orang kafir itu berada dalam kesombongan dan permusuhan yang sengit.”) (Shaad: 1-2)

Demikian pula Allah berfirman disini yang artinya: “Qaaf, demi Al Quran yang sangat mulia. (mereka tidak menerimanya) bahkan mereka tercengang karena telah datang kepada mereka seorang pemberi peringatan dari (kalangan) mereka sendiri, Maka berkatalah orang-orang kafir :”Ini adalah suatu yang Amat ajaib”. Maksudnya mereka benar-benar merasa heran atas diutusnya seorang Rasul kepada mereka dari kalangan manusia.  Padahal yang demikian itu sesungguhnya bukan suatu hal  yang mengherankan. Karena Allah telah memilih utusan dari kalangan malaikat dan juga dari kalangan manusia.

Selanjutnya Allah berfirman seraya memberitahukan pula tentang keheranan mereka terhadap hari pengembalian dan keingkaran mereka terhadap kejadiannya: a idzaa mitnaa wa kunnaa turaaban dzaalika raj’um ba’iid (“Apakah kami setelah mati dan setelah menjadi tanah [akan kembali lagi]? Yang demikian itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.”) artinya, mereka berkata: “Apakah jika kami sudah mati, hancur luluh, terputus-putus, dan menjadi tanah, [bagaimana mungkin] kami ini akan dikembalikan lagi setelah itu seperti keadaan  yang ada sesuai dengan susunannya?” dzaalika raj’um ba’iid (“Yang demikian itu adalah suatu pengembalian yang tidak mungkin.”) maksudnya, sesuatu  yang tidak mungkin terjadi.

Dan sebagai bantahan terhadap mereka, Allah Ta’ala berfirman: qad ‘alimnaa maa tangqushul ardlu minHum (“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang telah dihancurkan oleh bumi dari [tubuh-tubuh] mereka.”) maksudnya, tubuh-tubuh mereka yang  telah dihancurkan oleh bumi, Kami [Allah] mengetahuinya. Tidak ada sedikitpun yang tersembunyi dari Kami, dimana bagian tubuh-tubuh mereka itu berceceran, kemana dan dimana  semuanya itu berada. Wa ‘indanaa kitaabun hafiidz (“Dan pada sisi Kami pun ada kitab yang memelihara [mencatat].”) yakni, yang menjaga hal tersebut. Jadi, ilmu dan kitab-Nya itu  sangat sempurna mencakup segala sesuatu  secara terperinci.

Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas mengenai firman Allah Ta’ala: qad ‘alimnaa maa tangqushul ardlu minHum (“Sesungguhnya Kami telah mengetahui apa yang telah dihancurkan oleh bumi dari [tubuh-tubuh] mereka.”) yakni daging, kulit, tulang dan rambut mereka yang telah dihancurkan oleh bumi. Hal yang  sama juga disampaikan oleh Mujahid, Qatadah, adl-Dlahhak, dan lain-lain.

Selanjutnya Allah menjelaskan sebab kekufuran, keingkaran, dan penolakan mereka terhadap apa yang sesungguhnya bukan sesuatu yang mustahil, dimana Dia berfirman:  bal kadzdzabuu bil haqqi lammaa jaa-aHum  fa Hum fii amrim mariij (“Sebenarnya mereka telah mendustakan kebenaran, tatkala kebenaran itu datang kepada mereka, maka mereka berada dalam keadaan kacau balau.”) demikianlah keadaan setiap orang yang keluar dari kebenaran. Apa pun yang ia katakan setelah itu, maka semuanya adalah kebathilan.