Tafsir Al-Qur’an Surah Az-Zalzalah

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Az-Zalzalah (Kegoncangan)
Surat Madaniyyah; Surat ke 99: 8 ayat

 

At-Tirmidzi meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dia berkata: “Ada seseorang yang dating kepada Rasulullah saw. Seraya berkata: ‘Bacakanlah untukku, wahai Rasulallah.’ Beliau bersabda kepadanya: ‘Bacalah tiga kali dari surat-surat yang memiliki “ar-raa”.’ Kemudian orang itu berkata kepada beliau: ‘Usiaku sudah lanjut, hatikupun semakin mengeras dan lidahku sudah kaku.’ Beliau bersabda: ‘Bacalah dari surat-surat  yang memiliki  haamiim.’ Kemudian orang itu mengungkapkan hal yang sama dengan yang pertama. Beliau bersabda: ‘Bacalah tiga kali dari surat-surat yang memiliki kata tasbih.’ Orang itu tetap mengatakan seperti ungkapannya yang  pertama. Kemudian orang itu berkata: ‘Tetapi bacakanlah untukku wahai Rasulallah, satu surat yang mencakup.’ Kemudian beliau membacakan untuknya: idzaa zulzilatil ardlu zilzaalaHaa (“Apabila bumi digoncangkan  dengan goncangannya.”) sehingga ketika beliau selesai membaca surat itu, orang tersebut berkata: ‘Demi Rabb yang mengutusmu dengan kebenaran sebagai seorang nabi, aku tidak akan member tambahan padanya untuk selamanya.’ Kemudian orang itupun berbalik, lalu Rasulullah saw. bersabda: ‘Beruntunglah orang itu, beruntunglah orang itu.’”-kemudian ia berkata: “Lalu orang itu mendatangi beliau, maka beliau berkata kepadanya: ‘Aku diperintahkan pada hari raya ‘Idul Adha untuk menjadikannya  sebagai hari raya untuk umat ini.’” Lalu orang itu berkata kepada beliau: “Bagaimana pendapatmu jika aku tidak mendapati kecuali hanya domba betina, apakah aku boleh berkurban dengannya?” Beliau menjawab: “Tetapi hendaklah engkau memotong rambutmu, memotong kukumu, mencukur kumismu, dan mencukur bulu kemaluanmu. Yang demikian itu merupakan kesempurnaan kurbanmu di sisi Allah swt.  dan diriwayatkan oleh Abu Dawud dan an-Nasa-i.

tulisan arab alquran surat al zalzalah ayat 1-8

“1. apabila bumi digoncangkan dengan goncangan (yang dahsyat), 2. dan bumi telah mengeluarkan beban-beban berat (yang dikandung)nya, 3. dan manusia bertanya: “Mengapa bumi (menjadi begini)?” 4. pada hari itu bumi menceritakan beritanya, 5. karena Sesungguhnya Tuhanmu telah memerintahkan (yang sedemikian itu) kepadanya. 6. pada hari itu manusia ke luar dari kuburnya dalam Keadaan bermacam-macam, supaya diperlihatkan kepada mereka (balasan) pekerjaan mereka, 7. Barangsiapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya. 8. dan Barangsiapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarrahpun, niscaya Dia akan melihat (balasan)nya pula.” (al-Zalzalah: 1-8)

Ibnu ‘Abbas mengatakan: “idzaa zulzilati ardlu zilzaalaHaa (“Apabila bumi digoncangkan dengan goncangannya.”)  yakni bergerak dari bawahnya. Wa akhrajatil ardlu atsqaalaHaa (“Dan bumi telah mengeluarkan beban-beban beratnya.”) yakni bumi akan melemparkan isi perutnya  yang terdiri dari mayat-mayat. Demikian yang dikatakan oleh lebih dari satu orang ulama salaf. Di dalam kitab shahihnya, Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah bersabda: “Bumi akan memuntahkan bagian-bagian yang terdapat di dalam perutnya yang besar, seperti tiang-tiang yang terbuat dari emas dan perak. Lalu seorang pembunuh akan datang seraya  mengatakan hal ini, ‘Aku telah membunuh.’ Kemudian seorang pemutus silaturahim datang dan berkata dalam kesempatan ini, ‘Aku telah memutuskan hubungan kekerabatanku.’ Selanjutnya, seorang pencuri datang dan berkata mengenai hal ini, ‘Aku telah memotong tanganku,’ kemudian dia meninggalkannya dan tidak mengambil sesuatu pun darinya.’”

Dan firman Allah: Wa qaalal insaanu maa laHaa (“Dan manusia bertanya: ‘Mengapa bumi menjadi begini?’ yakni dia menolak kejadian  yang dialami bumi setelah sebelumnya dalam keadaan bulat, tenang dan permanen. Dimana bumi ini bergerak tegak di atas punggungnya. Artinya, keadaannya berbalik total, dimana bumi ini menjadi bergerak dan berguncang keras. Sebab, telah datang perintah dari Allah Ta’ala untuk menimpakan goncangan yang telah disiapkan baginya, yang tidak ada tempat berlindung baginya dari goncangan tersebut. Kemudian bumi akan mengeluarkan semua yang ada di dalam perutnya, yang terdiri dari mayat-mayat dari orang-orang terdahulu dan orang-orang yang hidup terakhir. Dan pada saat itulah ada orang-orang yang mengingkari kejadian itu dan menukar bumi selain bumi dan langit yang ada dan merekapun menampakkan diri kepada Allah Yang Mahaesa lagi Mahaperkasa.

Firman Allah Ta’ala: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) masudnya membicarakan apa yang telah dikerjakan oleh orang-orang yang berada di atasnya. Imam Ahmad meriwayatkan, Ibrahim memberitahu kami, Ibnul Mubarak memberitahu kami, at –Tirmidzi, Abu ‘Abdirrahman an-Nasa-i dan lafazh ini miliknya dari Abu Hurairah, dia berkata: Rasulullah membaca ayat ini: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) beliau bertanya: ‘Apakah kalian mengetahui apa berita yang disampaikannya?’ mereka menjawab: ‘Allah dan Rasul-Nya yang lebih mengetahui.’ Beliau bersabda: ‘Sesungguhnya beritanya adalah dia bersaksi bagi setiap hamba, laki-laki maupun perempuan atas apa yang telah mereka lakukan di atasnya.  Dia akan mengatakan: ‘Dia mengerjakan ini dan itu,  pada hari ini dan itu.’ Demikian itulah beritanya.’” Kemudian at-Tirmidzi  mengatakan: “Ini merupakan hadits hasan  shahih gharib.”

Firman Allah: bi anna rabbaka awhaa laHaa (“Karena sesungguhnya Rabb-mu telah memerintahkan [yang demikian itu] kepadanya.” Imam al-Bukhari mengatakan: “Kata auhaa  laHaa, auhaa ilaiHaa, wahaa laHaa, dan wahaa ilaiHaa adalah satu [yaitu mewahyukan kepadanya].” Demikian pula Ibnu ‘Abbas mengatakan, auhaa laHaa adalah sama dengan auhaa ilaHaa.” Secara lahiriah kandungan ini bermakna memberi izin kepada bumi. Syabib bin Bisryr meriwayatkan dari ‘Ikrimah  dari Ibnu ‘Abbas, yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) dia mengatakan: “Rabb-nya berkata kepadanya: ‘Katakanlah,’ maka bumi itupun berkata.” Mujahid mengatakan, ‘Auhaa laHaa maksudnya, Allah memerintahkannya.’ Al-Qurazhi mengatakan: “Allah memerintahkan untuk membelah diri.”

Dan firman Allah Ta’ala: yauma idzin tuhadditsu akhbaaraHaa (“Pada hari itu bumi menceritakan beritanya.”) maksudnya mereka menentang terhadap keberadaan hisab dalam wujud  yang beragam, yakni macam dan golongan dalam hal mendapatkan kesengsaraan dan kebahagiaan. Ada yang diperintahkan supaya masuk surga. Dan apa pula yang diperintahkkan masuk neraka.

Firman Allah Ta’ala: liyuraw a’maalaHum (“Supaya diperlihatkan kepada mereka pekerjaan mereka.”) maksudnya supaya mereka mengetahui dan diberi balasan atas apa yang telah mereka kerjakan di dunia, baik dalam  bentuk kebaikan maupun keburukan. Oleh karena itu Dia berfirman: famay ya’mal mitsqaala dzarratin khairay yaraH. Wamay ya’mal mitsqaala dzarrating syarray yaraH (“Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun niscaya ia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat balasannya pula.”) imam Al-Bukhari meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Kuda itu untuk tiga orang. Bagi seseorang kuda itu akan menjadi pahala, bagi seseorang lagi akan menjadi satar [penutup], dan bagi seorang lainnya akan menjadi dosa. Adapun orang yang mendapatkan pahala adalah orang yang mengikat kuda itu di jalan Allah, lalu ia membiarkannya di tempat penggembalaan atau taman dalam waktu yang lama, maka apa yang terjadi selama masa penggembalaannya di tempat penggembalaan dan taman itu, maka ia akan menjadi kebaikan baginya. Dan jika ia menghentikan masa penggembalaannya lalu kuda itu melangkah satu atau dua langkah, maka jejak kaki dan juga kotorannya akan menjadi kebaikan baginya. Dan jika kuda itu menyeberang sungai lalu ia minum air dari sungai tersebut, maka yang demikian itu  menjadi kebaikan baginya, dan kuda itupun bagi orang tersebut adalah pahala. Dan orang yang mengikat kuda itu karena untuk memperkaya diri dan demi kehormatan diri tetapi dia tidak lupa hak Allah dalam pemeliharaannya, maka kuda itu akan menjadi satar baginya. Serta orang yang mengikatnya karena perasaan bangga dan riya’, maka ia hanya akan menjadi dosa baginya.”

Kemudian Rasulullah saw ditanya tentang keledai, maka beliau bersabda: “Allah tidak menurunkan sedikitpun mengenainya melainkan ayat yang mantap yang mencakup ini: ‘Barang siapa yang mengerjakan kebaikan seberat dzarrahpun niscaya ia akan melihat [balasan]nya. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan seberat dzarrahpun, niscaya ia akan melihat balasannya pula.’” (HR Muslim).

Sekian.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: