Tafsir Al-Qur’an Surah Qaaf (4)

13 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Qaaf
Surat Makkiyyah; Surat ke 50: 45 ayat

 

Al-Ahnaf bin Qais mengatakan: “Malaikat yang ada di sebelah kanan mencatat kebaikan, yang ia sekaligus menjaga Malaikat yang menempati sebelah kiri. Jika seorang hamba melakukan kesalahan, maka Malaikat sebelah kanan akan berkata kepadanya: ‘Tahan dulu’. Jika ia memohon ampun kepada Allah Ta’ala, maka ia akan mencegahnya agar  agar tidak mencatatnya dan jika ia tidak mau memohon ampunan kepada-Nya, maka ia akan mencatatnya.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Al-Hasan al-Bashri mengatakan seraya membaca ayat ini:  ‘anil yamiini wa ‘anisy syimaali qa’iid (“Seseorang duduk di sebelah kanan dan yang lain duduk di sebelah kiri.”) “Wahai anak cucu Adam, Aku [Allah] hamparkan kepada kalian lembaran dan dua malaikat mulia ditugaskan kepada kalian, salah satunya berada di sebelah kanan kalian dan yang lainnya berada di sebelah kiri kalian. Malaikat di sebelah kanan akan mencatat kebaikan kalian, sedangkan yang di sebelah kiri akan mencatat keburukan kalian. Oleh karena itu  berbuatlah sesuka hati kalian, sedikit maupun banyak. Sehingga jika kalian mati, maka akan digulung kembali lembaran kalian itu  dan dikalungkan di leher kalian menuju ke kubur  kalian, sehingga kalian keluar lagi pada hari kiamat kelak. Pada saat itu Allah Ta’ala  berfirman yang artinya:

“Dan tiap-tiap manusia itu telah Kami tetapkan amal perbuatannya (sebagaimana tetapnya kalung) pada lehernya. dan Kami keluarkan baginya pada hari kiamat sebuah kitab yang dijumpainya terbuka. “Bacalah kitabmu, cukuplah dirimu sendiri pada waktu ini sebagai penghisab terhadapmu”. (al-Israa’: 13-14)

Mengenai firman Allah Ta’ala: maa yalfidzu ming qaulin illaa ladaiHi raqiibun ‘atiid (“Tidak ada  suatu ucapanpun yang diucapkannya melainkan ada di dekatnya Malaikat pengawas yang selalu  hadir.”) ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:  “Ia akan menulis setiap kebaikan atau  keburukan yang diucapkannya. Bahkan ia akan mencatat ucapannya.” ‘Aku  makan, minum, pergi, datang dan melihat.’ Sehingga jika hari Kamis tiba, maka ia akan memperlihatkan ucapan dan amalnya, lalu ia akan menetapkan kebaikan atau keburukan yang ada di  dalamnya. Itulah makna firman Allah Ta’ala: yamhullaaHu maa yasyaa-u wa yutsbitu wa ‘indaHuu ummul kitaab (“Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan [apa yang Dia kehendaki], dan di sisi-Nya  terdapat Ummul Kitab [Lauhul Mahfuzh].”) (ar-Ra’du: 39).

Dan disebutkan dari Imam Ahmad, bahwasannya beliau pernah merintih ketika sedang sakit, kemudian sampai berita kepada Thawus, dimana ia berkata: “Malaikat akan mencatat segala sesuatu, termasuk rintihan.” Sejak saat itu, Imam Ahmad tidak lagi merintih sampai meninggal dunia, semoga Allah merahmatinya.

Firman Allah Ta’ala: wa jaa-at sakratul mauti bil haqqi dzaalika maa kunta minHu  tahiid (“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.”) Allah berfirman: “Dan datanglah –wahai manusia- sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Artinya, telah Aku [Allah] perlihatkan kepadamu hal [yang] meyakinkan yang dulu kalian ragukan.” Dzaalika maa kunta minHu  tahiid (“Itulah yang kamu  selalu lari darinya.”)  maksudnya, inilah sesuatu yang dulu kalian lari darinya. Sekarang telah datang  kepadamu,  sehingga tidak ada jalan untuk melarikan diri dan tidak ada pula tempat berlindung dan menyelamatkan diri darinya.

Para ahli tafsir telah berbeda pendapat berkenaan dengan mukhathah [lawan bicara] dalam firman-Nya ini: wa jaa-at sakratul mauti bil haqqi dzaalika maa kunta minHu  tahiid (“Dan datanglah sakaratul maut dengan sebenar-benarnya. Itulah yang kamu selalu lari darinya.”) dan yang benar, bahwa mukhathah itu adalah umat manusia. Dan telah ditegaskan dalam hadits shahih dari Nabi saw. dimana ketika beliau dihampiri oleh kematian, maka beliau mengusap keringat dari wajahnya seraya berucap: SubhaanallaaHi inna lilmauti lasakaraat (“Mahasuci Allah, sesungguhnya kematian itu mempunyai beberapa sekarat.”

Dan mengenai firman Allah Ta’ala: Dzaalika maa kunta minHu  tahiid (“Itulah yang kamu  selalu lari darinya.”)   terdapat dua pendapat. Pertama, apa yang engkau menjauh dan melarikan diri, sekarang telah datang kepadamu dan menimpamu. Kedua, kematian yang engkau mampu melarikan diri darinya tetapi tidak mampu menghindarinya.

Dan firman-Nya lebih lanjut: Wa nufikhafish shuuri dzaalika yaumul wa’iid (“Dan ditiuplah sangkakala. Itulah hari terlaksananya ancaman.”) pembicaraan tentang peniupan sangkakala, dan tentang peristiwa hari kiamat telah dibahas sebelumnya. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Bagaimana mungkin aku akan bersenang-senang, sedang pemegang terompet telah siap untuk meniupnya, dan mendekatkan wajahnya menunggu izin untukk meniupnya.” Para shahabat bertanya: “Ya Rasulallah, apa yang seharusnya kami katakan?” Beliau bersabda: “Qaaluu: hasbunallaaHu wa ni’mal wakiil (Katakan: Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung)” maka mereka berkata: “HasbunallaaHu wa ni’mal wakiil (Cukuplah Allah sebagai pelindung kami, dan Dia adalah sebaik-baik pelindung)” (HR at-Tirmidzi dengan sanad hasan).

Firman-Nya: wa jaa-at kullu nafsim ma’aHaa saa-iquw wa syaHiid (“Dan datanglah tiap-tiap diri, bersama dengannya seorang Malaikat penggiring dan seorang Malaikat penyaksi.”) yaitu malaikat yang menggiring ke alam Mahsyar dan malaikat yang memberikan kesaksian amal perbuatannya.  Demikianlah lahiriyah ayat di atas. Dan itu pula yang menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Firman Allah Ta’ala: laqad kunta fii ghaflatim min Haadzaa fakasyafnaa ‘angka ghithaa-aka fabasharukal yauma hadiid (“Sesungguhnya kamu  berada dalam keadaan lalai dari [hal] ini, maka Kami singkapkan darimu tutup [yang menutupi] matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.”) Khithab ayat ini ditujukan kepada umat manusia itu  sendiri. Dan yang dimaksud dengan firman Allah Ta’ala: laqad kunta fii ghaflatim min Haadzaa (“Sesungguhnya  kamu berada dalam keadaan lalai dari [hal] ini.”) yakni dari hari ini: fakasyafnaa ‘angka ghithaa-aka fabasharukal yauma hadiid (“maka Kami singkapkan darimu tutup [yang menutupi] matamu, maka penglihatanmu pada hari itu sangat tajam.”) yakni sangat kuat, karena pada hari kiamat kelak setiap orang akan mempunyai  pandangan yang kuat, termasuk orang-orang yang kafir ketika di dunia. Pada saat itu pandangan mereka tetap stabil, tetapi  semua itu  tidak mendatangkan manfaat apa-apa bagi mereka.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: