Arsip | 13.36

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Qadr

14 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Qadr (Kemuliaan)
Surat Makkiyyah; Surat ke 97: 5 ayat

 

tulisan arab alquran surat al qadar ayat 1-5

“1. Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al Quran) pada malam kemuliaan. 2. dan tahukah kamu Apakah malam kemuliaan itu? 3. malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. 4. pada malam itu turun malaikat-malaikat dan Malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. 5. malam itu (penuh) Kesejahteraan sampai terbit fajar.” (al-Qadr: 1-5)

Allah Ta’ala memberitahukan bahwa Dia menurunkan al-Qur’an pada waktu Lailatul Qadar, yaitu satu malam yang penuh berkah, yang oleh Allah difirmankan: innaa anzalnaaHu fii  lailatim mubaarakatin (“Sesungguhnya Kami telah menurunkan al-Qur’an pada malam yang penuh berkah.”) (ad-Dukhaan: 3) dan itulah malam al-Qadr, yang ada pada bulan Ramadhan, sebagaimana difirmankan Allah: syaHru ramadlaanal ladzii unzila fiiHil qur-aan (“Bulan Ramadlan, bulan yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an.” (al-Baqarah: 185) Ibnu ‘Abbas dan juga yang lainnya mengatakan: “Allah menurunkan al-Qur’an itu sekaligus [30 juz], dari Lauhul Mahfuzh ke Baitul ‘Izzah di langit dunia. Kemudian diturunkan secara bertahab, sesuai konteks  realitasnya dalam kurun waktu  dua puluh tiga tahun, kepada Rasulullah saw.

Selanjutnya dengan mengagungkan keberadaan lailatul Qadr yang Dia khususkan dengan penurunan al-Qur’an al-‘Adziim padanya, Allah berfirman: wa maa adraaka maa lailatul qadri lailatul qadri khairum min alfi syaHrin (“Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.”) ketika malam kemuliaan itu menyerupai ibadah selama seribu bulan, maka ditegaskan di dalam ash-Shahihain dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. Bersabda: “Barang siapa yang bangun untuk mendirikan shalat pada malam lailatul qadr dengan penuh keimanan dan pengharapan akan pahala, maka akan diberikan ampunan kepadanya atas dosa-dosanya yang telah lalu.”

Dan firman Allah Ta’ala: tanazzalul malaa-ikatu warruuhu fiiHaa bi-idzni rabbiHim ming kulli amrin (“Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Rabb-nya  untuk mengatur segala urusan.”) yakni banyak turunnya malaikat pada malam ini karena banyaknya  berkah yang terdapat padanya. Dan para malaikat itu  turun bersamaan dengan turunnya berkah, sebagaimana mereka senang untuk turun saat al-Qur’an dibaca. Selain itu, para malaikat ini akan mengelilingi halaqah-halaqah dzikir [majelis ilmu] dan meletakkan sayap mereka bagi pencari ilmu dengan penuh kejujuran, sebagai bentuk penghormatan terhadapnya. Sedangkan mengenai ruh, telah dijelaskan sebelumnya di surat an-Naba’ ayat 38. wallaaHu a’lam.

Firman Allah: ming kulli amrin (“Untuk mengatur segala urusan.”) Mujahid mengatakan: “Malam kesejahteraan untuk mengatur semua urusan.” Sedangkan Sa’id bin Manshur berkata: “Isa bin Yunus memberitahu kami, al-A’masy memberitahu kami, dari Mujahid, mengenai firman-Nya: salaamun Hiya (“Malam itu penuh kesejahteraan”) dia mengatakan: ‘Ia aman, dimana waktu itu  syaitan tidak dapat melakukan kejahatan atau melancarkan gangguan.’” Sedangkan Qatadah dan lain-lain mengatakan: “Pada waktu itu semua urusan diputuskan, berbagai ajal dan rizki juga ditetapkan, sebagaimana yang difirmankan Allah Ta’ala: fiiHaa yufraqu kullu amrin hakiim (“Pada malam itu dijelaskan segala urusan yang penuh hikmah.”)(ad-Dukhaan: 4)

Para ulama berbeda pendapat, apakah Lailatul Qadr itu terdapat pada umat-umat terdahulu ataukah ia merupakan keistimewaan bagi umat ini. Dalam hal ini ada dua pendapat: Abu Mush’ab Ahmad bin Abi Bakar az-Zuhri mengatakan, Malik memberitahu kami bahwasannya pernah disampaikan kepadanya bahwa Rasulullah saw. pernah diperlihatkan kepada beliau umur-umur manusia sebelumnya atau apa saja yang dikehendaki  Allah mengenai hal tersebut, seakan-akan umur umat beliau ini terlalu pendek untuk bisa mencapai amal  yang telah dicapai oleh umat lainnya dalam hal panjang umur. Kemudian Allah memberinya Lailatul Qadr yang nilainya lebih baik dari seribu bulan. Dan telah disandarkan pula dari sisi lain. Dan apa yang dikemukakan oleh  Malik ini masih memerlukan pengkhususan umat ini pada Lailatul qadr tersebut. Dan telah dinukil oleh salah seorang imam penganut faham asy-Syafi’i dari jumhur ulama. wallaaHu a’lam. Dan al-Khuthabi meriwayatkan ijma’ padanya dan dinukil oleh ar-Radhi secara tegas dari pendapat tersebut. Dan yang ditunjukkan oleh hadits, bahwa Lailatul Qadr itu juga terdapat pada umat-umat terdahulu seperti umat sekarang ini.

Ada juga yang berpendapat bahwa lailatul qadr itu terdapat pada malam keduapuluh satu. Yang demikian itu didasarkan pada hadits Abu Sa’id al-Khudri, dia berkata: “Rasulullah saw. beriktikaf pada sepuluh pertama dari bulan Ramadhan. Dan kami juga pernah beriktikaf bersama beliau, lalu Jibril mendatangi beliau seraya berkata: ‘Sesungguhnya apa yang engkau minta sudah ada di depanmu.’ Kemudian Nabi saw. berdiri untuk menyampaikan khutbah pada pagi hari ke duapuluh dari bulan Ramadlan seraya berucap: ‘Barangsiapa yang beriktikaf bersamaku maka hendaklah dia pulang kembali, karena sesungguhnya aku telah melihat Lailatul Qadr. Dan sesungguhnya aku melupakannya, dan sesungguhnya ia ada pada sepuluh terakhir pada malam ganjil. Dan aku melihat seakan-akan aku bersujud di tanah dan air.’ Dan pada waktu itu atap masjid  masih berupa  pelepah kurma  dan kami tidak bisa melihat sesuatu di langit. Lalu Lailatul Qadr itu datang secara tiba-tiba sehingga hujan turun menyiram kami. Selanjutnya, Nabi saw. mengerjakan shalat bersama kami sehingga aku melihat bekas  tanah dan air pada dahi Rasulullah saw. sebagai bentuk pembenaran mimpi beliau.

Dan dalam sebuah lafazh disebutkan; yaitu pada pagi hari keduapuluh satu. Diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim di dalam kitab ash-Shahihain. Asy-Syafi’i mengatakan: “Dan hadits ini merupakan riwayat yang paling shahih dari riwayat-riwayat mengenai hal ini.” Dan ada juga yang mengatakan: “Malam keduapuluh tiga.” Yang demikian itu didasarkan pada hadits ‘Abdullah bin Unais di dalam kitab Shahih Muslim, yang siyaq [redaksi]nya berdekatan dengan riwayat Abu Sa’id. wallaHu a’lam. Dan ada juga yang mengatakan: “Malam keduapuluh lima.” Hal ini didasarkan pada hadits yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dari ‘Abdullah bin ‘Abbas bahwa Rasulullah saw. pernah bersabda: “Carilah Lailatul Qadr pada sepuluh terakhir di bulan Ramadlan, pada sembilan hari yang tersisa, pada tujuh hari yang tersisa dan pada lima hari yang tersisa.” Banyak orang yang menafsirkannya sebagai malam-malam ganjil. Dan yang ini lebih jelas dan lebih populer. Ulama lain membawanya kepada malam-malam genap, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Muslim dari Abu Sa’id di dalam kitab shahihnya bahwa dia membawanya pada hal tersebut. wallaaHu a’lam.

Dan ada juga yang berpendapat bahwa lailatul qadr itu jatuh pada malam keduapuluh tujuh. Hal tersebut didasarkan pada hadits Muslim di dalam shahihnya dari Ubay bin Ka’ab, dari Rasulullah saw. bahwasannya ia adalah malam keduapuluh tujuh. Selain itu, ada juga yang menyatakan bahwa lailatul qadr itu ada pada malam keduapuluh sembilan. Imam Ahmad bin Hanbal meriwayatkan dari ‘Ubadah bin ash-Shamit bahwa dia pernah bertanya kepada Rasulullah saw. mengenai Lailatul Qadr, lalu Rasulullah saw. bersabda: “Pada bulan Ramadlan, carilah ia [lailatul qadr] pada malam sepuluh terakhir, karena ia adalah malam ganjil; malam keduapuluh satu, atau keduapuluh tiga, atau keduapuluh lima, atau keduapuluh tujuh, atau keduapuluh sembilan, atau pada malam terakhir.”

Imam Syafi’i –mengenai riwayat-riwayat ini- mengatakan: “Pernah terlontar jawaban dari Nabi saw. bagi seorang penanya ketika ditanya kepada beliau: ‘Apakah kami harus mencari malam qadr itu pada malam tertentu?’ beliau menjawab: ‘Benar.’ Sesungguhnya lailatul qadr itu merupakan malam tertentu yang tidak akan berpindah.’” Dinukil oleh at-Tirmidzi darinya sekaligus pengertiannya. Dan diriwayatkan dari Abu Qilabah bahwasannya  dia pernah berkata: “Lailatul Qadr itu berpindah-pindah pada sepuluh malam terakhir.” Dan inilah yang diriwayatkan dari Abu  Qilabah yang dinash-kan padanya oleh Malik, ats-Tsauri, Ahmad bin Hanbal, Ishaq bin Rahwaih, Abu Tsaur, al-Muzani, Abu Bakar bin Khuzaimah, dan lain-lain. Dan juga diriwayatkan dari asy-Syafi’i yang dinukil oleh al-Qadhi. Dan inilah yang mirip. wallaaHu a’lam.

Pendapat ini disandarkan pada hadits di dalam kitab ash-Shahihain dari ‘Abdullah bin ‘Umar bahwasannya ada beberapa orang dari sahabat Nabi diperlihatkan Lailatul Qadr melalui mimpi pada malam keduapuluh  tujuh dari bulan Ramadlan. Lalu Nabi saw. bersabda: “Aku melihat mimpi kalian itu telah terjadi pada malam tujuh terakhir. Oleh karena itu, barangsiapa yang ingin memperolehnya maka hendaklah dia mengejarnya pada tujuh malam terakhir.”

Dan disunahkan untuk memperbanyak doa di sepanjang waktu dan di bulan Ramadlan, perbanyaklah pada sepuluh malam terakhir di bulan yang sama, kemudian pada malam-malam ganjil. Dan yang disunahkan dalam doa ini adalah membaca doa berikut: allaaHumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwaa fa’fu ‘annii (“Ya Allah sesungguhnya Engkau Mahapemaaf yang menyukai maaf, karenanya berikanlah maaf kepdaku.”)

Dan diriwayat pula oleh at-Tirmidzi, an-Nasa-i, dan Ibnu Majah serta al-Hakim di dalam Mustadraknya, dan dia mengatakan: “Hadits ini shahih dengan syarat Syaikhani [al-Bukhari dan Muslim] dan juga diriwayatkan oleh an-Nasa-i.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Bayyinah

14 Mar

Tafsir Ibnu Katsir  Surah Al-Bayyinah (Bukti)
Surat Madaniyyah, Surat ke 98: 8 ayat

 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah saw. Bersabda kepada Ubay bin Ka’ab: “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu, “lam yakunilladziina kafaruu min aHlil kitaabi”. Ubay bertanya: ‘Dia menyebut namaku kepdamu?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Maka Ubay pun menangis.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i.

tulisan arab alquran surat al bayyinah ayat 1-5

“1. orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, 2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), 3. di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus. 4. dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. 5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 1-5)

Ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan yang dimaksud dengan orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala dan api, baik dari masyarakat Arab maupun non Arab. Mujahid mengatakan bahwa mereka “mungfakkiina” (“tidak akan meninggalkan”) artinya, mereka tidak akan berhenti sehingga kebenaran tampak jelas di hadapan mereka. Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Qatadah.

Hattaa ta’tiyaHumul bayyinaH (“Sehingga dating kepada mereka bukti yang nyata.”) yaitu al-Qur’an ini. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: lam yakunilladziina kafaruu min aHlil kitaabi wal musyrikiina mungfakkiina hatta ta’tiyaHumul bayyinaH (“Orang-orang kafir, yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik [mengatakan bahwa mereka] tidak akan meninggalkan [agamanya] sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”) kemudian Allah Ta’ala menafsirkan bukti tersebut melalui firman-Nya: rasuulum minallaaHi yatluu shuhufam muthaHHaraH (“Yaitu seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran yang disucikan [al-Qur’an].”) yakni Muhammad saw. Dan al-Qur’an al-Adziim yang beliau bacakan, yang sudah tertulis di Mala-ul A’la di dalam lembaran-lembaran yang disucikan.

Dan firman Allah Ta’ala: fiHaa kutubung qayyimaH (“Di dalamnya terdapat [isi] Kitab-kitab yang lurus.”) Ibnu Jarir mengatakan: “Yakni di dalam lembaran-lembaran yang disucikan itu terdapat kandungan Kitab-kitab dari Allah yang sangat tegak, adil, dan lurus, tanpa adanya kesalahan sedikitpun, karena ia berasal dari Allah.

Wa maa tafarraqal ladziina uutul kitaaba illaa mim ba’di maa jaa-atHumul bayyinaH (“Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab [kepada mereka] melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.”) yang demikian itu  seperti firman Allah yang lainnya: wa laa takuunuu kalladziina tafarraquu mim ba’di maa jaa-aHumul bayyinaatu wa ulaa-ika laHum ‘adzaabun ‘adziim  (“Dan janganlah kamu  menyerupai  orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang  keterangan yang jelas  kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imraan: 105). Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah orang-orang yang menerima  kitab-kitab yang diturunkan kepada umat-umat sebelum kita, dimana setelah Allah memberikan hujjah  dan bukti kepada mereka, mereka malah berpecah-belah dan berselisih mengenai apa yang dikehendaki Allah dari kitab-kitab mereka. Mereka mengalami banyak perselisihan.

Wa maa umiruu illaa liya’budullaaHa mukhlishiina laHuddiina (“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan  kepada-Nya dalam [menjalankan] agama.”) hunafaa-a (“Yang lurus”) yakni yang melepaskan kemusyrikan menuju pada tauhid. Dan pembahasan tentang kata hanif ini telah diberikan sebelumnya  dalam surat al-An’am. Wa yuqiimuunash shalaaH (“Dan supaya mereka mendirikan shalat.”) yang merupakan ibadah jasmani yang paling mulia. Wa yu’tuzzakaa (“Dan menunaikan zakat.”) yaitu berbuat baik kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Wa dzaalika diinul qayyimah (“Dan yang demikian itulah  agama yang lurus.”) yakni agama yang berdiri tegak lagi adil, atau umat yang lurus dan tidak menyimpang. Dan banyak imam, seperti az-Zuhri dan asy-Syafi’i yang menggunakan ayat mulia ini sebagai dalil bahwa amal perbuatan itu termasuk dalam keimanan.

tulisan arab alquran surat al bayyinah ayat 6-8“6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. 7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. 8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (al-Bayyinah: 6-8)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang tempat kembali orang-orang jahad dari orang-orang kafir Ahul Kitab dan juga orang-orang musyrik yang menolak kitab-kitab Allah yang diturunkan serta menentang Nabi-nabi Allah yang diutus, bahwa pada hari kiamat kelak tempat mereka adalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, yakni tidak akan pindah dari neraka itu untuk selamanya. Ulaa-ika Hum syarrul bariyyah (“Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”) yakni seburuk-buruk makhluk yang diciptakan dan diadakan oleh Allah. Kemudian Allah Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbuat baik, yaitu yang beriman dengan sepenuh hati dan mengerjakan amal shalih dengan badan mereka bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk. Abu Hurairah dan sejumlah ulama telah menjadikan ayat ini sebagai dalil  pengutamaan orang-orang mukmin atas para malaikat.  Hal ini didasarkan pada firman-Nya: ulaa-ika khairul bariyyah (“Mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”) kemudian Allah Ta’ala berfirman: jaza-uHum ‘inda rabbiHim (“Balasan mereka di sisi Rabb mereka.”) yakni pada hari kiamat kelak: jannaatu ‘adning tajrii min tahtiHal anHaaru khaalidiina fiiHaa abadan (“Adalah surga ‘Adn yang mengalir di bahwahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”) yakni tidak akan pernah terputus dan tidak juga berakhir. radliyallaaHu ‘anHum wa radluu’anHu (“Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridla kepada-Nya.”) dan posisi keridlaan-Nya atas mereka lebih tinggi daripada berbagai kenikmatan yang diberikan kepada mereka. Wa radluu ‘anHu (“Dan merekapun ridla kepada-Nya.”) dari apa yang telah Dia berikan kepada mereka berupa anugerah yang sangat luas.

Dzaalika liman khasyiya rabbaH (“Yang demikian itu adalah [balasan] bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.”) yakni balasan ini akan diberikan kepada orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa serta beribadah kepada-Nya seakan-akan dia melihat-Nya, dian Dia juga mengetahui kalau memang dia tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatnya.