Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Bayyinah

14 Mar

Tafsir Ibnu Katsir  Surah Al-Bayyinah (Bukti)
Surat Madaniyyah, Surat ke 98: 8 ayat

 

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas bin Malik, dia berkata: “Rasulullah saw. Bersabda kepada Ubay bin Ka’ab: “Sesungguhnya Allah menyuruhku untuk membacakan kepadamu, “lam yakunilladziina kafaruu min aHlil kitaabi”. Ubay bertanya: ‘Dia menyebut namaku kepdamu?’ Beliau menjawab: ‘Ya.’ Maka Ubay pun menangis.” Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, at-Tirmidzi dan an-Nasa-i.

tulisan arab alquran surat al bayyinah ayat 1-5

“1. orang-orang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang musyrik (mengatakan bahwa mereka) tidak akan meninggalkan (agamanya) sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata, 2. (yaitu) seorang Rasul dari Allah (Muhammad) yang membacakan lembaran-lembaran yang disucikan (Al Quran), 3. di dalamnya terdapat (isi) Kitab-Kitab yang lurus. 4. dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan Al kitab (kepada mereka) melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata. 5. Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.” (al-Bayyinah: 1-5)

Ahli kitab adalah orang-orang Yahudi dan Nasrani. Dan yang dimaksud dengan orang-orang musyrik adalah para penyembah berhala dan api, baik dari masyarakat Arab maupun non Arab. Mujahid mengatakan bahwa mereka “mungfakkiina” (“tidak akan meninggalkan”) artinya, mereka tidak akan berhenti sehingga kebenaran tampak jelas di hadapan mereka. Demikian itu pula yang dikemukakan oleh Qatadah.

Hattaa ta’tiyaHumul bayyinaH (“Sehingga dating kepada mereka bukti yang nyata.”) yaitu al-Qur’an ini. Oleh karena itu, Allah Ta’ala berfirman: lam yakunilladziina kafaruu min aHlil kitaabi wal musyrikiina mungfakkiina hatta ta’tiyaHumul bayyinaH (“Orang-orang kafir, yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik [mengatakan bahwa mereka] tidak akan meninggalkan [agamanya] sebelum datang kepada mereka bukti yang nyata”) kemudian Allah Ta’ala menafsirkan bukti tersebut melalui firman-Nya: rasuulum minallaaHi yatluu shuhufam muthaHHaraH (“Yaitu seorang Rasul dari Allah yang membacakan lembaran yang disucikan [al-Qur’an].”) yakni Muhammad saw. Dan al-Qur’an al-Adziim yang beliau bacakan, yang sudah tertulis di Mala-ul A’la di dalam lembaran-lembaran yang disucikan.

Dan firman Allah Ta’ala: fiHaa kutubung qayyimaH (“Di dalamnya terdapat [isi] Kitab-kitab yang lurus.”) Ibnu Jarir mengatakan: “Yakni di dalam lembaran-lembaran yang disucikan itu terdapat kandungan Kitab-kitab dari Allah yang sangat tegak, adil, dan lurus, tanpa adanya kesalahan sedikitpun, karena ia berasal dari Allah.

Wa maa tafarraqal ladziina uutul kitaaba illaa mim ba’di maa jaa-atHumul bayyinaH (“Dan tidaklah berpecah belah orang-orang yang didatangkan al-Kitab [kepada mereka] melainkan sesudah datang kepada mereka bukti yang nyata.”) yang demikian itu  seperti firman Allah yang lainnya: wa laa takuunuu kalladziina tafarraquu mim ba’di maa jaa-aHumul bayyinaatu wa ulaa-ika laHum ‘adzaabun ‘adziim  (“Dan janganlah kamu  menyerupai  orang-orang yang bercerai berai dan berselisih sesudah datang  keterangan yang jelas  kepada mereka. Mereka itulah orang-orang yang mendapat siksa yang berat.” (Ali ‘Imraan: 105). Yang dimaksud dengan hal tersebut adalah orang-orang yang menerima  kitab-kitab yang diturunkan kepada umat-umat sebelum kita, dimana setelah Allah memberikan hujjah  dan bukti kepada mereka, mereka malah berpecah-belah dan berselisih mengenai apa yang dikehendaki Allah dari kitab-kitab mereka. Mereka mengalami banyak perselisihan.

Wa maa umiruu illaa liya’budullaaHa mukhlishiina laHuddiina (“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya beribadah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan  kepada-Nya dalam [menjalankan] agama.”) hunafaa-a (“Yang lurus”) yakni yang melepaskan kemusyrikan menuju pada tauhid. Dan pembahasan tentang kata hanif ini telah diberikan sebelumnya  dalam surat al-An’am. Wa yuqiimuunash shalaaH (“Dan supaya mereka mendirikan shalat.”) yang merupakan ibadah jasmani yang paling mulia. Wa yu’tuzzakaa (“Dan menunaikan zakat.”) yaitu berbuat baik kepada fakir miskin dan orang-orang yang membutuhkan. Wa dzaalika diinul qayyimah (“Dan yang demikian itulah  agama yang lurus.”) yakni agama yang berdiri tegak lagi adil, atau umat yang lurus dan tidak menyimpang. Dan banyak imam, seperti az-Zuhri dan asy-Syafi’i yang menggunakan ayat mulia ini sebagai dalil bahwa amal perbuatan itu termasuk dalam keimanan.

tulisan arab alquran surat al bayyinah ayat 6-8“6. Sesungguhnya orang-orang yang kafir Yakni ahli kitab dan orang-orang yang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahannam; mereka kekal di dalamnya. mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk. 7. Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, mereka itu adalah Sebaik-baik makhluk. 8. Balasan mereka di sisi Tuhan mereka ialah syurga ‘Adn yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha terhadap mereka dan merekapun ridha kepadanya. yang demikian itu adalah (balasan) bagi orang yang takut kepada Tuhannya.” (al-Bayyinah: 6-8)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang tempat kembali orang-orang jahad dari orang-orang kafir Ahul Kitab dan juga orang-orang musyrik yang menolak kitab-kitab Allah yang diturunkan serta menentang Nabi-nabi Allah yang diutus, bahwa pada hari kiamat kelak tempat mereka adalah neraka jahannam, mereka kekal di dalamnya, yakni tidak akan pindah dari neraka itu untuk selamanya. Ulaa-ika Hum syarrul bariyyah (“Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.”) yakni seburuk-buruk makhluk yang diciptakan dan diadakan oleh Allah. Kemudian Allah Ta’ala menceritakan tentang keadaan orang-orang yang berbuat baik, yaitu yang beriman dengan sepenuh hati dan mengerjakan amal shalih dengan badan mereka bahwa mereka adalah sebaik-baik makhluk. Abu Hurairah dan sejumlah ulama telah menjadikan ayat ini sebagai dalil  pengutamaan orang-orang mukmin atas para malaikat.  Hal ini didasarkan pada firman-Nya: ulaa-ika khairul bariyyah (“Mereka itu adalah sebaik-baik makhluk.”) kemudian Allah Ta’ala berfirman: jaza-uHum ‘inda rabbiHim (“Balasan mereka di sisi Rabb mereka.”) yakni pada hari kiamat kelak: jannaatu ‘adning tajrii min tahtiHal anHaaru khaalidiina fiiHaa abadan (“Adalah surga ‘Adn yang mengalir di bahwahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya.”) yakni tidak akan pernah terputus dan tidak juga berakhir. radliyallaaHu ‘anHum wa radluu’anHu (“Allah ridla terhadap mereka dan merekapun ridla kepada-Nya.”) dan posisi keridlaan-Nya atas mereka lebih tinggi daripada berbagai kenikmatan yang diberikan kepada mereka. Wa radluu ‘anHu (“Dan merekapun ridla kepada-Nya.”) dari apa yang telah Dia berikan kepada mereka berupa anugerah yang sangat luas.

Dzaalika liman khasyiya rabbaH (“Yang demikian itu adalah [balasan] bagi orang yang takut kepada Rabb-nya.”) yakni balasan ini akan diberikan kepada orang-orang yang takut dan bertakwa kepada Allah dengan sebenar-benar takwa serta beribadah kepada-Nya seakan-akan dia melihat-Nya, dian Dia juga mengetahui kalau memang dia tidak melihat-Nya, maka sesungguhnya Dia melihatnya.

8 Tanggapan ke “Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Bayyinah”

  1. anDa 6 Mei 2014 pada 19.31 #

    assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuhu, izin copas untuk setiap yang ingin saya copas, jazakumullahu khairan

    • untungsugiyarto 7 Mei 2014 pada 06.01 #

      Wa’alaikumus salaam warahmatullaaHi wa barakaatahuH. Silakan untuk setiap keinginan dan niat baik anda, disebar luaskan untuk kebaikan, tanpa izin, juga dipersilakan…..

  2. zip brandthingking jogja 3 Februari 2015 pada 15.04 #

    alhamdulillah nemu artikel yg pas buat nanti malam….syukron katsiiran

    • untungsugiyarto 4 Februari 2015 pada 08.57 #

      Terimakasih juga atas kunjungannya, Semoga bermanfaat,

  3. ratna maruti 7 September 2015 pada 12.38 #

    syukron, jadi paham tentang tafsir surah al bayyinah. 🙂

  4. ferry 11 September 2015 pada 10.36 #

    Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Bayyinah. Membuat saya tau, makna dari pesan yang di sampaikan ALLAH SWT, terima kasih

    • untungsugiyarto 11 September 2015 pada 16.38 #

      sama-sama, semoga bermanfaat dan menambah keimanan kita. Aamiin.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: