Arsip | 13.36

Aqidah Islam

18 Mar

Definisi Aqidah

  1. Secara etimologi (bahasa) aqidah berarti:

– simpul atau ikatan

– sumpah atau perjanjian

– kehendak yang kuat

  1. Secara terminologi (istilah):
    1. Aqidah adalah hal-hal yang diyakini kebenarannya oleh jiwa, mendatangkan ketenteraman hati, menjadi keyakinan yang kokoh yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan; atau
    2. Aqidah adalah sejumlah persoalan (kebenaran) yang dapat diterima secara umum (aksioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan di dalam hati serta diyakini kesahihan dan keberadaannya (secara pasti) dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

Catatan:

  1. Aksioma (badihiyah) adalah segala sesuatu yang kebenarannya perlu dalil pembuktian, tetapi karena sudah sangat umum dan mendarah daging maka kebenaran itu tidak lagi perlu pembuktian. Misalnya seperempat lebih sedikit dari setengah.
  2. Setiap manusia memiliki fitrah untuk mengakui kebenaran (bertuhan), indra untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukan wahyu untuk menjadi pedoman menentukan mana yang benar dan mana yang tidak.
  3. Aqidah merupakan keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keraguan.

Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (al Hujurat: 15)

  1. Aqidah mendatangkan ketenteraman jiwa. Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’du: 28)
  2. Bila seseorang telah meyakini suatu kebenaran, dia harus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu
  3. Tingkat keyakinan (aqidah) seseorang sangat tergantung kepada tingkat pemahaman terhadap dalil atau bukti yang dia peroleh.

Sumber Aqidah Islam

Sumber aqidah Islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Apa saja yang disampaikan oleh Allah swt. dalam al-Qur’an dan oleh Rasulullah saw. dalam sunnahnya wajib diimani (diyakini dan diamalkan). Dalam hadits disebutkan: “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selamanya. Yaitu Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.”

Akal fikiran tidaklah menjadi sumber aqidah, tetapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba –kalau diperlukan- membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh al-Qur’an dan Sunnah, itupun harus didasari oleh kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluq Allah. Akal tidak akan mampu menjangkau masalah-masalah ghaib, bahkan tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Oleh sebab itu akal tidak boleh dipaksa memahami hal-hal ghaib tersebut dan menjawab pertanyaan segala sesuatu tentang hal-hal ghaib itu. Akal hanya perlu membuktikan jujurkah atau bisakah kejujuran si pembawa berita tentang hal-hal ghaib tersebut dibuktikan secara ilmiah oleh akal fikiran.

Catatan:

  1. Apa yang saya dapatkan dengan indera saya, saya yakini adanya. Kecuali jika akal saya mengatakan “tidak” berdasarkan pengalaman masa lalu.
  2. Keyakinan disamping diperoleh dengan menyaksikan langsung juga bisa melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita.
  3. Anda tidak berhak memungkiri wujudnya sesuatu hanya  karena anda tidak bisa menjangkaunya dengan indera mata.
  4. Seseorang hanya bisa menghayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh inderanya.
  5. Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan waktu dan ruang.

Urgensi Aqidah Islam

  1. Membebaskan manusia dari tunduk dan penghambaan kepada selain Allah.

Seseorang yang beraqidah Islam hanya menyembah dan tunduk kepada Allah Swt. dan menjauhi segala bentuk ketundukan dan penghambaan kepada selain Allah Swt. Karena yang berhak disembah dan diberi ketundukan mutlak hanyalah Allah Swt.

Seseorang yang beraqidah Islam meyakini bahwa Yang Mahakuasa hanyalah Allah Swt, Yang Berkuasa untuk mendatangkan kebaikan dan yang berkuasa untuk menghilangkan keburukan. Allah berfirman: “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan dia sendiri. dan jika dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (al-An’am: 17)

Oleh karena itu Rasulullah saw. menyuruh kita untuk hanya memohon pertolongan kepada Allah Swt. saja sebagaimana sabda beliau: “…dan jika kamu minta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah Swt.” (HR Tirmidzi).

Dengan demikian maka seorang Muslim tidak tergantung dan berserah diri kepada siapapun kecuali kepada Allah Swt. sebagaimana firman Allah: “…jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim (yang berserah diri kepada Allah)’” (QS 3: 64).

  1. Membangkitkan jiwa berani dan cinta demi kebenaran.

Aqidah Islam akan melahirkan manusia-manusia pemberani dan cinta membela kebenaran. Karena Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini sudah Allah tentukan dan sudah Allah takdirkan. Tidak ada kematian kecuali atas izin Allah  yang telah tertulis di lauhul mahfudz. Allah berfirman: “Sesuatu yang bernyata tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…”  (QS 3: 145).

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.” (Nuh: 4)

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A’raaf: 34)

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (Ali ‘Imraan: 185)

  1. Aqidah sumber ketentraman jiwa dan keamanan manusia.

Aqidah Islam akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki ketentraman jiwa dan sekaligus mendatangkan rasa aman pada manusia baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’du: 28)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)

“Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang Telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1394] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (al-Fath: 4)

  1. Aqidah membangun kepribadian yang seimbang

Pribadi yang seimbang diawali dengan keyakinan akan keesaan Tuhannya (Allah Swt.) berbeda dengan orang-orang yang meyakini tuhan mereka lebih dari satu maka orang itu akan mengalami keraguan dan kebimbangan. Dan inilah yang diungkapkan oleh Nabi Yusuf yang diabadikan dalam al-Qur’an: “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu  ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (Yusuf: 39).

Seluruh ajaran Islam juga mengajak kita untuk hidup secara tawazun/ seimbang. Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-Qashash: 77)

  1. Aqidah sumber kehidupan yang baik untuk pribadi dan masyarakat di dunia dan di akhirat. Allah berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raaf: 96)

  1. Aqidah adalah dasar persaudaraan, persamaan dan keadilan. Aqidah Islam adalah asas persaudaraan, kesetaraan dan keadilan,  karena Islam memandang seluruh manusia adalah keturunan Adam a.s. Berarti seluruh manusia adalah saudara. Allah berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (an-Nisaa’: 1)

Islam memandang bahwa antara sesama Muslim adalah bersaudara. Bahkan ikatan aqidah jauh lebih kuat daripada ikatan nasab. Firman Allah: “..orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 10).

Khutbah Rasulullah saw.: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu (esa) dan sesungguhnya bapakmu satu, kalian semua dari Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia dari kalian adalah yang paling bertaqwa.” ()

Ilmu-ilmu Al-Qur’an (2)

18 Mar

Pengertian, Pertumbuhan dan Perkembangannya

Pada abad kedua Hijri tiba masa pembukuan [tadwin] yang dimulai dengan pembukuan hadits dengan segala bab-nya yang bermacam-macam; dan itu juga menyangkut hal yang berhubungan dengan tafsir. Maka sebagian ulama membukukan tafsir Qur’an yang diriwayatkan dari Rasulullah saw. dari para shahabat atau dari para tabi’in.

Di antara mereka itu, yang terkenal adalah Yazin bin Harun as Sulami [wafat 117 H], Syu’bah bin Hajjaj [wafat 160], Waki’ bin Jarrah [wafat 197], Sufyan bin ‘Uyainah [wafat 198] dan ‘Abdurrazzaq bin Hammam [wafat 112]. Mereka semua adalah para ahli hadits. Sedang tafsir yang mereka susun merupakan salah satu bagiannya. Namun tafsir mereka yang tertulis tidak ada yang sampai ke tangan kita.

Kemudian langkah mereka diikuti oleh segolongan ulama. Mereka menyusun tafsir Qur’an yang lebih sempurna berdasarkan susunan ayat. Dan yang paling terkenal di antara mereka adalah Ibn Jarir at-Tabari [wafat 310].

Demikianlah, tafsir pada mulanya dinukil [dipindahkan] melalui penerimaan [dari mulut ke mulut]  dari riwayat; kemudian dibukukan sebagai salah satu bagian hadits; selanjutnya ditulis secara bebas dan mandiri. Maka berlangsunglah proses kelahiran at-tafsir bil ma’tsur [berdasarkan riwayat], lalu diikuti oleh at-tafsir bir ra’yi [berdasarkan penalaran].

Di samping ilmu tafsir lahir pula karangan yang berdiri sendiri mengenai pokok-pokok pembahasan tertentu yang berhubungan dengan Qur’an, dan hal ini sangat diperlukan oleh seorang mufasir.

Ali bin al-Madini (wafat 234 H) guru Bukhari menyusun karangannya mengenai asbabun nuzul. Abu  ‘Ubaid al-Qasim bin Salam (wafat 224) menulis tentang Nasikh-Mansukh dan qira’at.

Ibn Qutaibah (wafat 276 H) menyusun tentang problematika Qur’an (musykilatul Qur’an). Mereka semua termasuk ulama abad ketiga Hijri.

Muhammad bin Khalaf bin Marzaban (wafat 309 H) menyusun al-Haawii faa ‘Ulumil Qur’an.

Abu Muhammad bin Qasim al-Anbari (wafat 751 H) juga menulis tentang ilmu-ilmu Qur’an tetap berlangsung sesudah  itu.

Abu Bakar al-Baqalani (wafat 403 H) menyusun I’jaazul Qur’aan dan Ali bin Ibrahim bin Sa’id al Hufi (wafat 430) menulis mengenai I’rabul Qur’an. Al-Mawardi (wafat 450 H) mengenai tamsil-tamsil dalam al-Qur’an (amtsalul qur’an). Al-‘Izz bin ‘Abdus Salam (wafat 660 H) tentang majaz dalam Qur’an. ‘Alamuddin as-Sakhawi (wafat 643 H) menulis mengenai ilmu qiraat [cara membaca al-Qur’an], dan Aqsaamul Qur’an. Setiap penulis dalam karangannya  itu menulis bidang dan pembahasan tertentu yang berhubungan dengan ilmu-ilmu Qur’an.

Sedang pengumpulan hasil pembahasan dan bidang-bidang tersebut  mengenai ilmu-ilmu Qur’an, semuanya atau  sebagian besarnya  dalam satu karangan, maka Syaikh Muhammad ‘Abdul ‘Aziim az-Zarqani menyebutkan di dalam kitabnya Manaahilul ‘Irfaan fii ‘Ulumil Qur-aan bahwa ia telah menemukan di dalam perpustakaan Mesir sebuah kitab yang ditulis oleh Ali bin Ibrahim bin Sa’id yang terkenal dengan al-Hufi, judulnya al-Burhaan fi ‘Ulumil Qur-aan yang terdiri atas tigapuluh jilid. Dari ketiga puluh jilid itu terdapat limabelas jilid yang tidak tersusun dan tidak berurutan. Pengarang membicarakan ayat-ayat al-Qur’an menurut tertib Mushaf. Dia membicarakan ilmu-ilmu al-Qur’an yang dikandung ayat itu secara tersendiri, masing-masing diberi judul sendiri pula. Dan judul yang umum disebutkan dalam ayat, dengan menuliskan al-Qaul fi Qaulihi ‘Azza wa Jalla (pendapat mengenai firman Allah ‘azza wa jalla), lalu disebutkan ayat itu. Kemudian di bawah judul ini dicantumkan al-Qauli fil I’raab (pendapat mengenai morfologi). Di bagian ini ia membicarakan mengenai ayat itu dari segi nahwu dan bahasa. Selanjutnya al-Quli fil Ma’na wat tafsiir (pendapat mengenai makna dan tafsirannya); di sini ia jelaskan ayat itu berdasarkan riwayat [hadits] dan penalaran. Setelah itu al-Qaul fil Waqfi wat Tamaam (pendapat mengenai tanda berhenti dan tidak); disini ia menjelaskan mengenai waqaf (berhenti) yang diperbolehkan dan yang tidak diperbolehkan. Terkadang qiraat diletakkan dalam judul tersendiri,  yang disebutnya dengan al-Qaul fil Qira’at (pendapat mengenai qiraat). Kadang ia berbicara tentang hukum-hukum yang diambil dari ayat ketika ayat itu dibacakan.

Dengan metode seperti ini, al-Hufi dianggap sebagai orang pertama yang membukukan ‘Ulumul Qur’an, ilmu-ilmu a-Qur’an, meskipun pembukuannya menggunakan cara tertentu seperti yang disebutkan tadi. Ia wafat pada tahun 330 Hijri.

Kemudian Ibnul Jauzi (wafat 597 H) mengikutinya dengan menulis sebuah kitab berjudul Funuunul Afnaan fii ‘Ajaa’ibi ‘Ulumil Qur-aan. Lalu tampil Badruddin az-Zarkasyi (wafat 794) menulis sebuah kitab lengkap dengan judul al-Burhaan fii ‘Ulumil Qur-aan. Jalaluddin al-Balqini (wafat 824 H) memberikan beberapa tambahan atas al-Burhan di dalam kitabnya Mawaaqi’ul ‘Uluum min Mawaaqi’in Nujuum. Jalaluddin as-Suyuti (wafat 911 H) juga kemudian menyusun sebuah kitab yang terkenal dengan al-Itqaan fii ‘Uluumil Qur-aan.

Kepustakaan ilmu-ilmu Qur’an pada masa kebangkitan modern tidaklah lebih kecil daripada nasib ilmu-ilmu yang lain. Orang-orang yang menghubungkan diri dengan gerakan pemikiran Islam telah mengambil langkah yang positif dalam membahas kandungan Qur’an dengan metode baru pula, seperti kitab I’jaazul Qur’an yang ditulis oleh Mustafa Sadiq ar-Rafi’i, kitab at-Taswiirul Fanni fil Qur’aan dan Masyaahidul Qiyaamah fil Qur’aan oleh Sayid Qutb, Tarjamatul Qur’aan oleh Syaikh Muhammad Mustafa al-Maraghi yang salah satu pembahasannya ditulis oleh Muhibbuddin al-Khatib, Mas’alatul Tarjamatil Qur’aan oleh Mustafa Sabri, an-Naba’ul ‘Adziim oleh Dr. Muhammad ‘Abdullah Daraz dan mukaddimah tafsir Mahaasinut Ta’wil oleh Jamaluddin al-Qasimi.

Syaikh Tahir al-Jazaa’iri menyusun sebuah kitab dalam judul at-Tibyaan fii ‘Uluumil Qur’aan. Syaikh Muhammad ‘Ali Salamah menulis pula Manhajul Furqaan fii ‘Uluumil Qur’aan; yang berisi pembahasan yang sudah ditentukan untuk Fakultas Ushuluddin di Mesir dengan spesialisasi dakwah dan bimbingan masyarakat. Kemudian hal itu juga diikuti oleh muridnya, Muhammad ‘Abdul ‘Adziim az-Zarqani yang menyusun Manaahilul ‘Irfaan fii ‘Uluumil Qur’aan. Kemudian syaikh Ahmad ‘Ali menulis Muzakkiraat ‘Uluumil Qur’aan yang disampaikan kepada para mahasiswanya di Fakultas Ushuluddin jurusan dakwah dan bimbingan masyarakat.

Akhirnya muncul Mabaahisu fii ‘Uluumil Qur’aan oleh Dr. Subhi as-Salih. Juga Ustadz Ahmad Muhammad Jamal menulis beberapa studi sekitar masalah “Maa-idah” dalam Qur’an.

Pembahasan-pembahasan tersebut dikenal dengan sebutan ‘Uluumul Qur’aan, dan kata ini kini telah menjadi istilah atau nama khusus bagi ilmu-ilmu tersebut.

Kata ‘Uluum ‘jamak dari kata ‘ilmu. ‘ilmu berarti al-fahmu wal idraak (paham dan menguasai). Kemudian arti kata ini berubah menjadi masalah-masalah yang beraneka ragam yang disusun secara ilmiah. Jadi yang dimaksud dengan ‘Ulumul Qur’an adalah ilmu yang membahas masalah-masalah yang berhubungan dengan Qur’an dari segi asbabun nuzul (sebab-sebab turunnya al-Qur’an) pengumpulan dan penertiban Qur’an, pengetahuan tentang surah-surah Mekah dan Madinah, an-naasikh wal mansuukh, al muhkam wal mutasyaabih dan lain sebagainya yang berhubungan dengan al-Qur’an. Terkadang ilmu ini dinamakan juga Usuulut Tafsiir (dasar-dasar tafsir), karena yang dibahas berkaitan dengan beberapa masalah yang harus diketahui oleh seorang mufasir sebagai sandaran  dalam menafsirkan al-Qur’an.

Sumber: Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Ilmu-ilmu Al-Qur’an (1)

18 Mar

Pengertian, Pertumbuhan dan Perkembangannya

Al-Qur’anul Karim adalah mukjizat Islam yang kekal dan mukjizatnya selalu diperkuat oleh kemajuan ilmu pengetahuan. Ia diturunkan oleh Allah kepada Rasulullah, Muhammad saw. Untuk mengeluarkan manusia dari suasana yang gelap menuju yang terang, serta membimbing mereka ke jalan yang lurus. Rasulullah saw. Menyampaikan al-Qur’an itu kepada para shahabatnya –orang-orang Arab asli- sehingga mereka dapat memahami berdasarkan naluri mereka. Apabila mereka mengalami ketidakjelasan dalam memahami suatu ayat, mereka menanyakan langsung kepada Rasulullah saw.. Bukhari dan Muslim serta yang lainnya meriwayatkan, dari Ibn Mas’ud dengan mengatakan: “Ketika ayat ini diturunkan: ‘Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman’ (al-An’am: 82) banyak orang yang merasa resah. Lalu mereka bertanya kepada Rasulullah saw.:  ‘Ya Rasulallah, siapakah di antara kita yang tidak berbuat dzalim terhadap dirinya?’ Nabi menjawab: ‘Kedzaliman di sini bukan seperti yang kamu pahami. Tidakkah kamu pernah mendengar apa yang telah dikatakan oleh seorang hamba Allah yang shalih: “Sesungguhnya kemusyrikan adalah benar-benar kedzaliman yang besar” (Luqman: 13) jadi yang dimaksud dengan kedzaliman disini ialah kemusyrikan.”

Rasulullah saw. Menafsirkan kepada mereka beberapa ayat. Seperti dinyatakan oleh Muslim dan yang lain, yang bersumber dari ‘Uqbah bin ‘Amir; ia berkata: “Aku pernah mendengar Rasulullah saw. berkata di atas mimbar: ‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan yang kamu sanggupi (al-Anfal: 60). Ingatlah bahwa kekuatan disini adalah memanah.”

Para shahabat sangat antusias untuk menerima al-Qur’an dari Rasulullah saw. menghafalnya dan memahaminya. Hal itu  merupakan suatu kehormatan bagi mereka. Dikatakan oleh Anas ra.: “Seseorang di antara kami bila telah membaca surah al-Baqarah dan Ali ‘Imran, orang itu menjadi besar menurut pandangan kami.” Begitu pula mereka selalu berusaha mengamalkan al-Qur’an dan memahami hukum-hukumnya.

Diriwayatkan oleh Abu Abdurrahman as-Sulami, ia mengatakan: “Mereka yang membaca al-Qur’an kepada kami, seperti Utsman bin ‘Affan dan Abdullah bin Mas’ud serta yang lain menceritakan, bahwa mereka bila belajar dari Nabi saw. sepuluh ayat, mereka tidak melanjutkannya sebelum mengamalkan ilmu dan amal yang ada di dalamnya. Mereka berkata: ‘Kami mempelajari al-Qur’an berikut ilmu dan amalnya sekaligus.’”

Rasulullah saw. tidak mengizinkan mereka menuliskan sesuatu dari dia selain al-Qur’an, karena ia khawatir al-Qur’an akan tercampur dengan yang lainnya. Muslim meriwayatkan dari Abu Sa’id al-Khudri, bahwa Rasulullah saw.  berkata: ‘Jangan kamu tulis dari aku; barangsiapa menuliskan dari aku selain al-Qur’an, hendaklah dihapus. Dan ceritakan apa yang dariku; dan itu tiada halangan baginya. Dan barangsiapa sengaja berdusta atas namaku, ia akan menempati tempatnya di api neraka.”

Sekalipun setelah itu Rasulullah saw. mengizinkan kepada sebagian shahabat untuk menulis hadits, tetapi hal yang berhubungan dengan al-Qur’an tetap didasarkan kepada riwayat yang melalui petunjuk di zaman Rasulullah saw. di masa khalifah  Abu Bakar dan Umar ra.

Kemudian datang masa kekhalifahan Utsman ra. dan keadaan menghendaki untuk menyatukan kaum Muslimin pada satu mushaf. Dan hal itu pun terlaksana. Mushaf tersebut disebut Mushaf Imam. Salinan-salinan mushaf itu juga dikirimkan ke beberapa propinsi. Penulisan mushaf tersebut dinamakan ar-Rasmul ‘Usmani  yaitu dinisbatkan kepada Utsman. Dan ini dianggap sebagai permulaan dari ‘Ilmu Rasmil Qur’an.

Pada masa kekhalifahan ‘Ali ra. dan atas perintahnya, Abul Aswad ad-Du’ali meletakkan kaidah-kaidah Nahwu, cara pengucapan yang tepat dan baku dan memberikan ketentuan harakat pada al-Qur’an. Ini juga dianggap sebagai permulaan ‘Ilmu I’rabil Qur’an.

Para shahabat senantiasa melanjutkan usaha mereka dalam menyampaikan makna-makna al-Qur’an dan penafsiran ayat-ayatnya yang berbeda-beda di antara mereka, sesuai dengan kemampuan mereka yang berbeda-beda dalam memahami dan karena adanya perbedaan  lama dan tidaknya mereka hidup bersama Rasulullah saw. Hal yang demikian diteruskan oleh murid-murid mereka, yaitu para tabi’in.

Di antara para mufasir yang termashur dari para shahabat adalah empat orang khalifah, kemudian Ibnu Mas’ud, Ibn ‘Abbas, Ubai bin Ka’b, Zaid bin Tsabit, Abu  Musa al-Asy’ari dan Abdullah bin Zubair.

Banyak riwayat mengenai tafsir yang diambil dari Abdullah bin ‘Abbas, Abdullah bin Mas’ud dan Ubai bin Ka’b. Dan apa yang diriwayatkan dari mereka tidak berarti sudah merupakan tafsir al-Qur’an yang sempurna; tetapi terbatas hanya  pada makna beberapa ayat dengan penafsiran tentang apa yang masih samar dan penjelasan apa yang masih global. Mengenai para tabi’in, di antara mereka ada satu  kelompok terkenal yang mengambil ilmu ini dari para shahabat di samping mereka sendiri bersungguh-sungguh atau melakukan ijtihad dalam menafsirkan ayat.

Di antara murid-murid Ibnu ‘Abbas di Mekah yang terkenal ialah Sa’id bin Jubair, Mujahid, ‘Ikrimah bekas sahaya [maula] Ibn Abbas, Tawus bin Kisan al-Yamani dan ‘Atha’ bin abi Rabah.

Dan terkenal pula di antara murid-murid Ubai bin Ka’b di Madinah: Zaid bin Aslam, Abul ‘Aliyah dan Muhammad bin Ka’b al-Qurazi.

Dari murid-murid Abdullah bin Mas’ud di Irak yang terkenal ‘Alqamah bin Qais, Masruq, al-Aswad bin Yazid, ‘Amir asy-Sya’bi, Hasan al-Basri dan Qatadah bin Di’amah as-Sadusi.

Ibn Taimiyah berkata: “Adapun mengenai ilmu tafsir, orang yang paling tahu adalah penduduk Mekah, karena mereka shahabat Ibn Abbas, seperti Mujahid, ‘Atha’ bin Abi Rabah, ‘Ikrimah maula Ibn Abbas dan shahabat-shahabat Ibnu Abbas lainnya seperti Thawus, Abusy Sya’sa’, Sa’id bin Jubair dan lain-lainnya. Begitu juga penduduk Kufah dari shahabat-shahabat Ibnu Mas’ud; dan mereka itu mempunyai kelebihan dari ahli tafsir yang lainnya. Ulama penduduk Madinah dalam ilmu tafsir di antaranya adalah Zubair bin Aslam; Malik dan anaknya Abdurrahman serta Abdullah bin Wahb, mereka berguru kepadanya.

Dan diriwayatkan dari mereka itu semua meliputi ilmu Tafsir, ilmu Gharibil Qur’an, ilmu asbabun nuzul, ilmu Makki wal Madani dan Ilmu Nasikh dan Mansukh. Tetapi semua itu tetap didasarkan pada riwayat dengan cara didiktekan. (bersambung)

Sumber: Studi Ilmu-ilmu Qur’an, Mannaa’ Khalil al-Qattaan

Tafsir Al-Qur’an Surah Yaasiin (13)

18 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah; Surah ke 36: 83 ayat

 

Alladzii ja’ala lakum minasy syajaril akhdlari naaran fa idzaa antum minHu tuuqiduun (“Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan [api] dari kayu itu.”) yaitu Rabb yang memulai penciptaan pohon ini dari air, hingga menjadi hijau indah, berbuah dan berbunga, kemudian Dia mengulanginya hingga menjadi kayu-kayu kering untuk menyalakan api. Seperti itu pula Dia melakukan apa saja yang dikehendaki-Nya dan Mahakuasa atas apa saja yang dikehendaki-Nya, tidak ada satupun yang mampu mencegah-Nya.

Qatadah berkata tentang firman-Nya: Alladzii ja’ala lakum minasy syajaril akhdlari naaran fa idzaa antum minHu tuuqiduun (“Yaitu Rabb yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, maka tiba-tiba kamu nyalakan [api] dari kayu itu.”) Rabb yang menjadikan api ini dari pohon tersebut tentu Mahakuasa untuk membangkitkannya.”

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  81-83“81. dan tidaklah Tuhan yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan yang serupa dengan itu? benar, Dia berkuasa. dan Dialah Maha Pencipta lagi Maha mengetahui. 82. Sesungguhnya keadaan-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” Maka terjadilah ia. 83. Maka Maha suci (Allah) yang di tangan-Nya kekuasaaan atas segala sesuatu dan kepada-Nyalah kamu dikembalikan.” (Yaasiiin:81-83)

Allah berfirman mengabarkan dan mengingatkan tentang kekuasaan-Nya yang agung dalam menciptakan tujuh lapis langit dan yang terkandung di dalamnya berupa bintang-bintang yang beredar dan tetap, serta menciptakan tujuh lapis bumi dan apa yang terkandung di dalamnya berupa gunung-gunung, batu-batuan, lautan, hutan dan isinya. Diapun mengarahkan untuk mengambil dalil tentang dikembalikannya jasad-jasad dengan penciptaan  sesuatu yang agung inii, seperti firman Allah: lakhalqus samaawaati wal ardli akbaru min khalqin naasi (“Sesungguhnya penciptaan langit dan bumi lebih besar daripada penciptaan manusia.”)(al-Mu’min: 57)

A wa laisal ladzii khalaqas samaawaati wal ardla biqaadirin ‘alaa ay yakhluqa mitslaHum (“Dan tidakkah Rabb yang menciptakan langit dan bumi itu berkuasa menciptakan kembali jasad-jasad mereka yang sudah hancur itu?”) yaitu seperti manusia. Lalu Dia mengulanginya mereka seperti Dia memulai penciptaan mereka. Hal itu dikatakan oleh Ibnu Jarir.

Balaa wa Huwal khallaaqul ‘aliim. Innamaa amruHuu idzaa araada syai-an ay yaquula laHuu kung fayakuun (“Benar, Dia berkuasa. Dan Dia-lah Mahapencipta lagi Mahamengetahui. Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: ‘Jadilah maka terjadilah ia.’”) yaitu Dia memerintahkan kepada sesuatu hanya dengan satu perintah, tidak butuh pengulangan dan penguat.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Dzarr berkata: Rasulullah bersabda: “Sesungguhnya Allah Ta’ala berfirman: ‘Hai hamba-hamba-Ku, seluruh kalian adalah berdosa kecuali orang yang Aku beri ‘afiat. Maka minta ampunlah kalian kepada-Ku, niscaya Aku mengampuni kalian. Seluruh kalian adalah fakir kecuali orang yang Aku cukupi. Sesungguhnya Aku Mahapemurah, dimana tidak ada orang yang pemurah  yang memberikan kemurahannya. Aku melakukan apa yang Aku kehendaki. Pemberian-Ku adalah al-Kalam dan siksa-Ku adalah al-Kalam. Jika Aku menghendaki sesuatu, Aku hanya mengatakan: ‘Jadi’, maka jadilah.’”

Dan firman Allah Ta’ala: fa subhaanalladzii biyadiHii malakuutu kulli syai-iw wa ilaiHi turja’uun (“Maka, Mahasuci [Allah] yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu, dan kepada-Nya-lah kamu dikembalikan.”) yaitu pensucian, pengkultusan dan pembebasan dari keburukan bagi Rabb Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri Yang di Tangan-Nya kekuasaan langit dan bumi. Dan hanya kepada-Nya kembali seluruh urusan. Hanya hak-Nya menciptakan dan memerintah dan hanya kepada-Nya dikembalikan seluruh hamba. Lalu Dia membalas setiap pelaku sesuai amalnya. Dia Mahaadil, Mahapemberi nikmat lagi Mahamemiliki karunia.

Dan makna firman: Dan firman Allah Ta’ala: fa subhaanalladzii biyadiHii malakuutu kulli syai-iw (“Maka, Mahasuci [Allah] yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu,”) seperti firman Allah: qul mam biyadiHii malakuutu kulli syai-in (“Katakanlah: ‘Siapakah yang di tangan-Nya kekuasaan atas segala sesuatu?’”)(al-Mu’minun: 88)

Al-mulku dan al-malakuutu memiliki satu makna seperti kata rahmatun dan rahamuutun, raHbatun dan raHabuutun, khabarun dan khabaruutun. Di antara manusia ada orang yang mengira bahwa al-mulku adalah alam jasad [fisik] dan al-malukuutu adalah alam ruh. Pendapat yang shahih adalah pendapat yang pertama, dan itulah yang dipegang oleh jumhur mufassirin dan lain-lain.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Hudaifah –yaitu Ibnul Yaman- berkata: “Suatu malam aku melaksanakan shalat malam bersama Rasulullah saw.. Lalu beliau membaca tujuh ayat panjang dalam beberapa rakaat. Jika Rasulullah saw. mengangkat kepalanya dari ruku’ beliau mengucapkan “sami’allaaHuliman hamidah” kemudian beliau mengucapkan: “Segala puji bagi Rabb Yang memiliki Malakuut, Jabaruut, kesombongan dan keagungan.” Ruku’ beliau sama dengan berdirinya dan sujudnya seperti ruku’nya. Lalu beliau selesai dan hampir-hampir kedua kakiku terluka.”

Abu Dawud, at-Tirmidzi dalam asy-Syamaa-il dan an-Nasa-i, dari Hudzaifah, bahwa dia melihat Rasulullah saw. melakukan shalat malam dan berdoa: “AllaHu akbar [3x] Rabb Yang memiliki Malakuut, Jabaruut, kesombongan dan keagungan.” Kemudian beliau membaca doa iftitah, lalu membaca surat al-Baqarah, kemudian beliau rukuk dan rukuknya hampir sama dengan berdirinya. Dan beliau berdoa dalam rukuknya: “Subhaana rabiyal adziim [Mahasuci Rabb-ku yang Mahabesar].” Kemudian beliau mengangkat kepalanya dari rukuk dan berdirinya hampir sama dengan rukuknya.  Dan beliau berdoa dalam berdirinya itu: “Lirabbiyal hamdu [untuk Rabbku puji-pujian]” kemudian beliau sujud dan sujudnya itu hampir sama dengan berdirinya. Beliau berdoa dalam sujudnya: :”Subhaana rabbiyal a’laa [Mahasuci Rabbku Yang Mahatinggi]” kemudian beliau mengangkat kepalanya dari sujud dan beliau duduk di antara dua sujud yang hampir sama dengan sujudnya. Beliau berdoa dalam duduknya: “Rabbighfirlii [Rabbku, ampunilah aku]” lalu beliau shalat empat rakaat dan membaca surat al-Baqarah, Ali ‘Imran, an-Nisaa’, al-Maa-idah atau al-An’am –Syu’bah ragu-ragu- ini adalah lafazh Abu Dawud.

Sekian.

Tafsir Al-Qur’an Surah Yaasiin (12)

18 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah; Surah ke 36: 83 ayat

 

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  74-76“74. mereka mengambil sembahan-sembahan selain Allah, agar mereka mendapat pertolongan. 75. berhala-berhala itu tiada dapat menolong mereka; Padahal berhala- berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka. 76. Maka janganlah Ucapan mereka menyedihkan kamu. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.” (Yaasiin: 74-76)

Allah Ta’ala berfirman mengingkari orang-orang musyrik yang menjadikan berhala-berhala sebagai ilah-ilahnya lain bersama Allah. Mereka berharap dengan semua itu semoga ilah-ilahnya itu dapat menolong, memberi rizki dan mendekatkan diri mereka kepada Allah sebagai perantara. Allah Ta’ala berfirman: laa yastathii’uuna nashraHum (“Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka.”) yaitu ilah-ilah itu tidak kuasa menolong para penyembahnya, bahkan dia lebih lemah, lebih minim, lebih hina dan lebih jelek dibandingkan mereka. Bahkan dia tidak kuasa menolong diri sendiri serta tidak kuasa pula menolak orang yang hendak berbuat jahat kepadanya. Karena, dia adalah benda mati yang tidak dapat mendengar lagi tidak dapat berfirkir.

Firman Allah: wa Hum laHum jundum muhdlaruun (“Padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.”) Mujahid berkata: “Yaitu, ketika hisab [masa perhitungan]. Yang dimaksud adalah, berhala-berhala ini dikumpulkan dan dihimpun pada hari kiamat menghadiri perhitungan para penyembahnya, agar hal itu lebih hebat membuat duka cita mereka serta lebih menunjukkan pada mereka tentang tegaknya hujjah bagi mereka.

Qatadah berkata: laa yastathii’uuna nashraHum (“Berhala-berhala itu tidak dapat menolong mereka.”) yaitu ilah-ilah itu. wa Hum laHum jundum muhdlaruun (“Padahal berhala-berhala itu menjadi tentara yang disiapkan untuk menjaga mereka.”) orang-orang musyrik itu marah kepada ilah-ilah yang mereka sembah di dunia. Dia tidak memberikan kebaikan kepada mereka dan tidak dapat menolak keburukan, karena mereka hanyalah berhala-berhala.” Demikian yang dikatakan oleh al-Hasan al-Bashri. Pendapat ini baik dan menjadi pilihan Ibnu Jarir.

Fa laa yahzungka qauluHum (“Maka janganlah ucapan mereka menyedihkanmu.”) yaitu upaya mereka yang mendustakanmu dan mengkufuri Allah. Innaa na’lamu maa yusirruuna wa maa yu’linuun (“Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.”) yaitu Kami mengetahui seluruh kondisi mereka dan Kami akan membalas mereka serta akan memperlakukan mereka atas semua itu pada hari dimana amal-amal  mereka tidak ada yang luput, baik yang agung, yang hina, yang kecil atau yang besar. Bahkan, seluruh amal yang mereka kerjakan akan diperlihatkan, baik yang telah berlalu maupun yang baru.

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  77-80“77. dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata! 78. dan ia membuat perumpamaan bagi kami; dan Dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: “Siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang, yang telah hancur luluh?” 79. Katakanlah: “Ia akan dihidupkan oleh Tuhan yang menciptakannya kali yang pertama. dan Dia Maha mengetahui tentang segala makhluk. 80. Yaitu Tuhan yang menjadikan untukmu api dari kayu yang hijau, Maka tiba-tiba kamu nyalakan (api) dari kayu itu.” (Yaasiin: 77-80)

Mujahid, ‘Ikrimah, ‘Urwah bin az-Zubair, as-Suddi dan Qatadah berkata: “Ubay bin Khalaf –semoga Allah melaknatnya- datang kepada Nabi saw.  sedangkan ia membawa tulang yang hancur di tangannya. Dia membuang dan menaburkannya ke udara sambil berkata: “Hai Muhammad, apakah engkau mengira bahwa Allah akan membangkitkan ini kembali?” Rasulullah bersabda: “Ya. Allah Ta’ala akan mematikanmu, kemudian Dia membangkitkanmu, lalu Dia kumpulkan kamu ke dalam api neraka.” Maka turunlah akhir surat Yaasiin ini: a wa lam yaral ingsaanu annaa khalaqnaaHu min nuthfating fa idzaa Huwa khashiimum mubiin (“dan Apakah manusia tidak memperhatikan bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”)

Ibnu Abi Hatim berkata: “Atas dasar apapun, makna ayat ini adalah umum untuk semua orang yang mengingkari hari kebangkitan.  Sedangkan alif dan lam yang terdapat dalam firman Allah: a wa lam yaral ingsaanu, adalah untuk jenis yang mencakup setiap orang yang mengingkari hari kebangkitan.”

Annaa khalaqnaaHu min nuthfating fa idzaa Huwa khashiimum mubiin (“bahwa Kami menciptakannya dari setitik air (mani), Maka tiba-tiba ia menjadi penantang yang nyata!”) yaitu apakah orang yang mengingkari hari kebangkitan tidak mengambil petunjuk dari awal penciptaan sebagai dalil  adanya pengembalian? Sesungguhnya Allah telah memulai penciptaan manusia dari setetes air yang hina, lalu Dia menciptakannya dari sesuatu yang rendah, lemah dan hina. Sebagaimana firman Allah: a lam nakhluqkum mim maa-im maHiin. Faja’alnaaHu fii qaraarim makiin. Ilaa qadarim ma’luum (“Bukankah Kami menciptakanmu dari air yang hina, kemudian Kami letakkan dia dalam tempat yang kokoh [rahim] sampai waktu yang ditentukan?”)(al-Mursalaat: 20-22). Bukankah Rabb Yang telah menciptakannya dari air yang hina yang lemah ini , Mahakuasa pula untuk mengembalikannya setelah kematian?

Wa dlarabalanaa matsalaw wanasiya khalqaHu qaala may yuhyil ‘idzaama wa Hiya ramiim (“Dan dia membuat perumpamaan bagi Kami; dan dia lupa kepada kejadiannya; ia berkata: ‘siapakah yang dapat menghidupkan tulang belulang yang telah hancur luluh?’”) yaitu dia menganggap mustahil dikembalikannya  jasad-jasad dan tulang-tulang yang telah hancur luluh ini oleh Allah. Yang memiliki kekuasaan besar Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan dia melupakan dirinya sendiri. Sesungguhnya Allah Ta’ala telah menciptakannya dari tidak ada menjadi ada. Maka dia mengetahui pada dirinya sesuatu yang lebih besar dari apa yang mereka anggap mustahil, mereka ingkari dan mereka bantah. Untuk itu Allah berfirman: qul yuhyiiHal ladzii angsya-aHaa aw wala marratin wa Huwa bikulli khalqin ‘aliim (“Katakanlah: ‘Ia akan dihidupkan oleh Rabb yang menciptakannya kali yang pertama. Dan Dia Mahamengetahui tentang segala makhluk.’”) yaitu Mahamengetahui tulang-tulang di seluruh pelosok dan sudut bumi, kemana hilangnya dan dimana hancur luluhnya.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ar-Rib’i, ia berkata: ‘Uqbah bin ‘Amr berkata kepada Hudzaifah: Maukah engkau menceritakan kepada kami apa yang telah engkau dengar dari Rasulullah saw. lalu ia berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya kematian mendatangi seseorang. Ketika ia telah putus asa dari kehidupannya, dia memberikan wasiat kepada keluarganya: ‘Jika aku mati, himpunlah kayu bakar yang banyak untukku. Kemudian bakarlah kayu-kayu itu dengan api, hingga ketika api telah menelan dagingku dan menghanguskan tulang-belulangku, lalu aku menjadi tengkorak, maka ambillah dan gilinglah oleh kalian  dan tebarlah di lautan.’ Lalu mereka melakukannya. Maka Allah Ta’ala menghimpunnya dan dikatakan kepadanya: ‘Kenapa engkau melakukan demikian?’ dia berkata: ‘Karena takutku kepada-Mu.’ lalu Allah mengampuninya.

‘Uqbah bin ‘Amr berkata: “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda tentang hal itu dan orang itu adalah pencuri kafan kuburan.” Keduanya mentakhrij dalam ash-Shahihain, dari hadits ‘Abdul Malik bin ‘Umair dengan lafazh yang banyak.

Tafsir Al-Qur’an Surah Yaasiin (11)

18 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah; Surah ke 36: 83 ayat

 

Tercantum dalam hadits shahih, bahwa Rasulullah saw pada hari penggalian parit beliau meniru bait-bait ‘Abdullah bin Rawahah, akan tetapi mengikuti perkataan para sahabatnya. Mereka membuat bahar rajaz saat menggali dengan bersenandung: “Ya Allah. Seandainya tidak ada Engkau, niscaya kami tidak akan mendapatkan hidayah, tidak bershadaqah dan tidak shalat. Turunkanlah ketentraman kepada kami, dan kokohkanlah kaki-kaki kami jika kami menghadapi musuh. Sesungguhnya orang-orang lama berbuat dzalim kepada kami. Jika mereka menghendaki fitnah, kami menolakknya.” Rasulullah meninggikan dan memanjangkan suaranya, “Kami menolaknya.”

Begitu pula tercantum bahwa Rasulullah saw berkata pada hari perang Hunain saat mengendarai unta menghadapi musuh berkata: “Aku adalah Nabi dan bukan kedustaan. Aku adalah anak ‘Abdul Muththalib.” Akan tetapi mereka mengatakan ini hanya kebetulan, tanpa sengaja membuat bait syi’ir. Bahkan lisan beliau bergerak sendiri tanpa memiliki maksud membuatnya. Itu pulalah yang tercantum dalam ash-Shahihain, bahwa Jundub bin ‘Abdullah berkata: “Dahulu kami berada bersama Rasulullah saw. di sebuah gua. Lalu terlukalah jarinya, maka Rasulullah bersabda: ‘Engkau tidak lain melainkan satu jari yang terluka dan apa yang engkau temui di jalan Allah.’

Semua itu tidak berarti meniadakan bahwa Rasulullah saw. tidak mengetahui syi’ir dan tidak layak baginya. Karena Allah swt. hanya mengajarkan al-Qur’an al-‘Adzim. Laa ya’tiiHil baathilu mim baini yadaiHi wa laa min khalfiHi tanziilum min hakiimin hamiid (“Yang tidak datang kepadanya [al-Qur’an] kebathilan, baik dari depan maupun dari belakangnya, yang diturunkan dari [Rabb] Yang Mahabijaksana Lagi Mahaterpuji.” (Fushilat: 42)

Al-Qur’an bukanlah syi’ir, sebagaimana yang diduga oleh sekelompok  orang kafir Quraisy yang bodoh, bukan tenung, bukan buatan dan bukan sihir, seperti dijenis-jeniskan oleh pendapat-pendapat pakar sesat dan bodoh. Sesungguhnya Rasulullah saw. enggan membuat syair, baik secara tabiat maupun secara syar’i. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Dawud, bahwa ‘Abdurrahman bin Rafi’ at-Tanukhi berkata, aku mendengar ‘Abdullah bin ‘Amr berkata: Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda: “Aku tidak peduli apakah aku meminum obat penawar racun, menggantungkan tamimah atau mengucapkan sya’ir dari diriku sendiri.” (Abu Dawud meriwayatkannya sendiri)

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa Abu Naufal berkata, aku bertanya kepada ‘Aisyah: “Apalah Rasulullah saw. menguasai sya’ir?” maka beliau menjawab: “Sya’ir adalah kalimat yang paling dibencinya.”

Abu Dawud meriwayatkan dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya, penuhnya mulut salah seorang kalian dengan nanah lebih baik baginya daripada dipenuhi dengan sya’ir.” (Beliau meriwayatkannya sendiri dari jalur ini. Dan isnadnya menurut syarat ash-Shahihain, akan tetapi keduanya tidak mentakhrij hadits ini).

Akan tetapi, ada sya’ir yang diisyaratkan, yakni sindiran-sindiran terhadap orang-orang musyrik yang dilantunkan oleh para ahli sya’ir Islam, seperti Hassan bin Tsabit, Ka’ab bin Malik, ‘Abdullah bin Rawahah dan orang-orang semisal mereka –semoga Allah meridlai mereka-. Di antara syair mereka terdapat pula sya’ir yang mengandung pelbagai hikmah, nasehat dan adab sebagaimana yang terdapat di dalam sebagian kelompok ahli sya’ir Jahiliyyah. Di antara mereka adalah Umayyah bin Abi ash-Shalt yang disabdakan oleh Rasulullah saw.: “Syairnya beriman, hatinya kufur.”

Sebagian sahabat menyenandungkan seratus bait kepada nabi saw. dimana Rasulullah menyambut akhir setiap bait dengan kalimat Hayyah. Yaitu merasakannya dan menambahkannya.

Abu Dawud meriwayatkan dari hadits Ubay bin Ka’ab, Buraidah bin al-Kashib dan ‘Abdullah bin ‘Abbas, bahwa Rasulullah saw. bersabda: “Sesungguhnya, di antara bayan adalah sihir dan di antara sya’ir ada yang mengandung hukum.”

Untuk itu Allah berfirman: wa maa ‘allamnaaHusy syi’ra (“Dan Kami tidak mengajarkan sya’ir kepadanya,”) yaitu, Muhammad saw. tidak diajarkan syair oleh Allah. Wa maa yambaghiilaH (“Dan bersyair itu tidaklah layak baginya.”) yaitu tidak patut baginya. In Huwa illaa dzikruw waqur-aanuum mubiin (“Al-Qur’an itu tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan.”) tidak ada yang Kami ajarkan kepadanya.

Illaa dzikruw wa qur-aanum mubiin (“Tidak lain hanyalah pelajaran dan Kitab yang memberi penerangan.”) yaitu yang jelas dan tegas serta indah bagi yang merenungkan dan mentadabburkannya. Untuk itu Allah berfirman: liyundzira mang kaana hayyaa (“Supaya dia [Muhammad] memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup.”) yaitu agar al-Qur’an yang jelas ini memberi peringatan kepada setiap makhluk hidup di muka bumi. Sedangkan  yang  dapat mengambil manfaat dari peringatannya itu hanyalah orang hidup dan mata hatinya bersinar. Sebagaimana Qatadah berkata: “Yang hidup qalbunya  dan hidup mata hatinya.” Adl-Dlahhak berkata: “Yaitu orang yang berakal.”

Wa yahiqqal qaulu ‘alal kaafiriin (“Dan supaya pastilah [ketetapan adzab] terhadap orang-orang kafir.”) yaitu, al-Qur’an adalah rahmat bagi orang-orang  yang beriman dan hujjah bagi orang-orang yang kafir.

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  71-73“71. dan Apakah mereka tidak melihat bahwa Sesungguhnya Kami telah menciptakan binatang ternak untuk mereka Yaitu sebahagian dari apa yang telah Kami ciptakan dengan kekuasaan Kami sendiri, lalu mereka menguasainya? 72. dan Kami tundukkan binatang-binatang itu untuk mereka; Maka sebahagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebahagiannya mereka makan. 73. dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat dan minuman. Maka Mengapakah mereka tidak bersyukur?” (Yaasiin: 71-73)

Allah Ta’ala menyebutkan nikmat-nikmat yang diberikan-Nya kepada para makhluk-Nya berupa binatang-binatang ternak yang ditundukkan untuk mereka. faHum laHaa maalikuun (“Lalu mereka menguasainya.”) Qatadah berkata: “Menguasainya yaitu menjadikan mereka memiliki kemampuan memaksanya. Bahkan seandainya anak kecil datang kepada mereka, niscaya  dia mampu menjinakkannya dan seandainya dia mau dia dapat menaiki dan mengendarainya. Itulah ketundukan dan kepatuhan binatang kepada manusia. Begitu juga seandainya terdapat kendaraan seratus unta atau lebih, niscaya seluruhnya dapat dikendalikan oleh seorang anak kecil.”

Fa minHaa raquubuHum wa minHaa ya’kuluun (“Maka sebagiannya menjadi tunggangan mereka dan sebagiannya mereka makan.”) yaitu diantaranya ada  yang ditunggangi dalam perjalanan serta untuk membawa berbagai barang yang berat menuju berbagai arah dan daerah. Wa minHaa ya’kuluun (“Dan sebagiannya mereka makan.”) jika mereka mau, mereka dapat memotong dan menyembelihnya. Wa laHum fiiHaa manaafi’u (“Dan mereka memperoleh padanya manfaat-manfaat.”) yaitu pada bulu-bulu tebalnya, bulu-bulu tipisnya dan rambutnya  sebagai barang-barang rumah tangga atau barang-barang dagangan hingga batas waktu tertentu. Wa masyaarib (“Dan minuman.”) dari susunya dan air seninya untuk berobat dan lain-lain. Afalaa yasykuruun (“Maka mengapakah mereka tidak bersyukur?”) mengapakah mereka  tidak juga mengesakan Pencipta dan Pengatur semua itu serta menyekutukan-Nya dengan yang lain-Nya?

Tafsir Al-Qur’an Surah Yaasiin (10)

18 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah; Surah ke 36: 83 ayat

 

Firman Allah: a falam takuunuu ta’qiluun (“Maka apakah kamu tidak memikirkannya?”) yaitu apakah kalian tidak memiliki akal fikiran saat kalian menyelisihi apa yang diperintahkan oleh Rabb kalian berupa beribadah hanya kepada-Nya  Yang tidak ada sekutu bagi-Nya, serta musuh kalian adalah syaitan.

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  63-67“63. Inilah Jahannam yang dahulu kamu diancam (dengannya). 64. masuklah ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya. 65. pada hari ini Kami tutup mulut mereka; dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.66. dan Jikalau Kami menghendaki pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba (mencari) jalan, Maka betapakah mereka dapat melihat(nya). 67. dan Jikalau Kami menghendaki pastilah Kami ubah mereka di tempat mereka berada; Maka mereka tidak sanggup berjalan lagi dan tidak (pula) sanggup kembali.” (Yaasiin: 63-67)

Dikatakan kepada orang-orang kafir di kalangan Bani Adam pada hari kiamat, neraka jahim dipamerkan kepada mereka  sebagai celaan dan hinaan, HaadziHii jaHannamulatii kuntum tuu’aduun (“Inilah jahanam yang dahulu kamu diancam [dengannya].”) yaitu, inilah dahulu yang diperingatkan oleh para Rasul, lalu kalian mendustakan mereka.  ishlauHal yauma bimaa kuntum takfuruun (“Masuklah kamu ke dalamnya pada hari ini disebabkan kamu dahulu mengingkarinya.”)

Al yauma nakhtimu ‘alaa afwaaHiHim wa tukallimunaa aidiiHim wa tasyHadu arjuluHum bimaa kaanuu yaksibuun (“Pada hari ini Kami tutup mulut mereka;  dan berkatalah kepada Kami tangan mereka dan memberi kesaksianlah kaki mereka terhadap apa yang dahulu mereka usahakan.” Ini adalah kondisi orang-orang kafir dan orang-orang munafik pada hari kiamat ketika mereka mengingkari perilaku buruk yang mereka lakukan di dunia serta bersumpah dengan apa yang telah mereka lakukan. Lalu Allah menutup lisan-lisan mereka, sedangkan anggota tubuh mereka  berbicara tentang apa yang sudah mereka perbuat.

Sufyan bin ‘Uyainah  berkata dari Abu Hurairah, bahwa di dalam hadits panjang tentang hari kiamat, Rasulullah saw. bersabda: “Kemudian orang ketiga dihadapkan. Dia bertanya: ‘Siapa engkau?’ orang itu menjawab: ‘Hamba-Mu. Aku  beriman kepada-Mu, kepada Nabi-Mu dan kepada kitab-kitab-Mu. Aku berpuasa, aku shalat dan aku bershadaqah.’ Dan ia menceritakan berbagai kebaikan yang ia mampu. Lalu dikatakan kepadanya: ‘Bukankah telah Kami utus kepadamu saksi Kami?’ orang itu sesaat berfikir: ‘Siapakah yang menjadi saksi baginya, padahal mulutnya dikunci.’ Dikatakan kepada pahanya: ‘Berbicaralah!’ lalu paha, daging dan tulangnya berbicara tentang apa yang dikerjakannya. Itulah dia orang munafik yang memberi alasan pada dirinya sendiri dan itulah orang yang dimurkai Allah Ta’ala.” (HR Muslim dan Abu Dawud dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah secara panjang)

Dan firman Allah: walau nasyaa-u lathamasnaa ‘alaa a’yuniHim fastabaqush shiraatha fa annaa yubshiruun (“Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami hapuskan penglihatan mata mereka; lalu mereka berlomba-lomba [mencari] jalan. Maka betapakah mereka dapat melihat[nya].”) Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas dalam menafsirkannya; Dia berfirman, Jikalau Kami menghendaki, niscaya Kami menyesatkan mereka dari petunjuk, maka bagaimana mereka akan mendapat petunjuk.” Murrah berkata: “Kami butakan mereka.” Al-Hasan al-Bashri berkata: “Jikalau Allah menghendaki, niscaya Dia akan menghapuskan mata mereka, sehingga menjadikan mereka buta dan bingung.” As-Suddi berkata: “Dia berkata, jikalau Kami menghendaki, niscaya Kami butakan penglihatan mereka.” Mujahid, Abu Shalih, Qatadah dan as-Suddi berkata: “Berlomba-lombalah kalian berjalan di shirath, yaitu jalan.” Ibnu Zaid berkata: “Yang dimaksud shirath disini adalah kebenaran, mengapakah mereka tidak melihatnya? Sesungguhnya Kami telah melenyapkan mata mereka.” Al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: fa annaa yubshiruun, yaitu mereka tidak dapat melihat kebenaran.”

Firman Allah: walau nasyaa-u lamasakhnaaHum ‘alaa makaanatiHim (“Dan jikalau Kami menghendaki, pastilah Kami rubah mereka di tempat mereka berada.”) al-‘Aufi meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Kami binasakan mereka.” As-Suddi berkata: “Sungguh Kami akan merubah ciptaan mereka.” Fa mastathaa’uu mudliyyan (“Maka mereka tidak sanggup berjalan lagi”) ke depan. Wa laa yarji’uun (“Dan tidak [pula] sanggup kembali.”) ke belakang. Bahkan mereka tetap berada di satu tempat tersebut, tidak dapat maju dan tidak  mundur.

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  68-70“68. dan Barangsiapa yang Kami panjangkan umurnya niscaya Kami kembalikan Dia kepada kejadian(nya). Maka Apakah mereka tidak memikirkan? 69. dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya (Muhammad) dan bersyair itu tidaklah layak baginya. Al Quran itu tidak lain hanyalah pelajaran dan kitab yang memberi penerangan. 70. supaya Dia (Muhammad) memberi peringatan kepada orang-orang yang hidup (hatinya) dan supaya pastilah (ketetapan azab) terhadap orang-orang kafir.” (Yaasiin: 68-70)

Allah mengabarkan tentang Bani Adam, setiap kali umurnya panjang, dia akan kembali kepada kelemahan setelah berada dalam kekuatan  dan kembali kepada kelelahan setelah berada dalam semangat. Yang dimaksud ayat ini –wallaaHu a’lam- adalah sebuah kabar tentang dunia ini, bahwa dia adalah tempat yang akan lenyap dan akan berpindah, bukan tempat kekal dan tempat tinggal. Untuk itu Allah berfirman: a falaa ya’qiluun (“Maka apakah mereka tidak memikirkan?”) yaitu memikirkan dengan akal fikiran mereka tentang permulaan penciptaan mereka. Kemudian, Dia menjadikan mereka sampai pada beruban, kemudian masa tua agar mereka mengetahui bahwa mereka diciptakan untuk satu tempat lain yang tidak akan lenyap dan tidak akan berpindah serta tidak akan lolos darinya, itulah negeri akhirat.

Dan firman Allah: wa maa ‘allamnaaHusy syi’ra wa maa yambaghii laHu (“Dan Kami tidak mengajarkan syair kepadanya [Muhammad], dan bersyair itu tidaklah layak baginya.”) Allah berfirman mengabarkan tentang Nabi-Nya, Muhammad saw. bahwa Dia tidak mengajarkannya syi’ir, wa maa yambaghiilaHu (“Dan bersyair itu tidak layak baginya”)  yaitu bukan merupakan tabiatnya, tidak menguasainya dan tidakk menyenanginya serta tidak menjadi tuntutan tabiatnya. Datang satu berita bahwa Rasulullah saw. tidak pernah menghafal satu bait yang bersusun. Bahkan, jika beliau menyenandungkannya, beliau akan lari dan tidak menyempurnakannya.

Abu Zur’ah ar-Razi berkata, Isma’il bin Mujalid bercerita kepada kami, dari ayahnya bahwa asy-Sya’bi berkata: “Abdul Muththalib tidak pernah mendapatkan anak laki-laki dan perempuan melainkan pasti mengucapkan sya’ir, kecuali Rasulullah saw.” hal itu disebutkan oleh Ibnu ‘Asakir dalam biografi ‘Uthbah bin Abi Lahab.

Imam Ahmad meriwayatkan bahwa ‘Aisyah berkata: “Jika terdapat satu berita yang meragukan, Rasulullah menyenandungkan satu bait syair: wa ya’tiika bil akhbaari  mal lam tuzawwid (“Dan akan datang membawa berita kepadamu orang yang belum kamu siapkan.”) demikian yang diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan an-Nasa-i, dari hadits al-Miqdam bin Syuraih bin Hani, dari ayahnya, dari ‘Aisyah. Kemudian at-Tirmidzi berkata: “Hadits ini hasan shahih.”

Tafsir Al-Qur’an Surah Yaasiin (9)

18 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah; Surah ke 36: 83 ayat

 

Ubay bin Ka’ab, Mujahid, al-Hasan dan Qatadah berkata: “Mereka tidur seperti tidur sebelum kebangkitan.” Qatadah berkata: “Hal itu terjadi di antara dua tiupan. Untuk itu mereka berkata: ‘Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?’” Di saat mereka menanyakan demikian, maka orang-orang yang beriman memberikan jawabannya. Itulah yang dikatakan oleh banyak ulama salaf: Haadzaa maa wa’adar  rahmaana wa shadaqal mursaluun (“Inilah yang dijanjikan [Rabb] Yang Mahapemurah dan benarlah Rasul-rasul[-Nya]”) hal itu seperti firman Allah: wa qaaluu yaa wailanaa Haadzaa yaumuddiin. Haadzaa yaumul fashlil ladzii kuntum biHii tukadzdzibuun (“Dan mereka berkata: ‘Aduhai celakalah kita!’ inilah hari pembalasan, inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.”)(ash-Shaaffaat: 20-21)

Ing kaanat illaa shaihataw waahidatang fa-idzaaHum jami’ul ladainaa muhdlaruun (“Tidak ada teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.”)  seperti firman Allah: fa innamaa Hiya zajratuw waahidaH. Fa idzaaHum bis-saaHirah (“Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.” (an-Naazi’aat: 13-14). Yaitu, Kami hanya memerintahkan mereka dengan satu perintah, maka dengan serta merta mereka hadir kembali. Fal yauma laa tudzlamu nafsung syai-aa (“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun.”) yaitu amalnya. Wa laa tujzauna illaa maa kuntum ta’maluun (“Dan kamu tidak dibalas, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.”)

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  55-58“55. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). 56. mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. 57. di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. 58. (kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai Ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.” (Yaasiin: 55-58)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang penghuni surga, dimana pada hari kiamat, ketika mereka telah berangkat dari perkumpulan, mereka turun di taman-taman surga dalam keadaan tidak peduli  dengan orang lain, karena mereka berada dalam kenikmatan yang langgeng dan keberuntungan yang agung.

Al-Hasan al-Bashri dan Ismail bin Abi Khalid berkata: “Yaitu tidak peduli dengan adzab yang dialami oleh penghuni neraka. Mujahid berkata: “Syughuling faakiHuun (“Bersenang-senang dalam kesibukan [mereka],”) yaitu, dalam kenikmatan yang mengherankan mereka.” Demikian yang dikatakan oleh Qatadah.

Dan firman Allah: Hum wa azwaajuHum (“Mereka dan istri-istri mereka”) Mujahid berkata: “Yaitu bidadari-bidadari mereka. Fii dzilaalin (“Berada dalam tempat teduh”) yaitu diteduhi pohon-pohon, ‘alal araa-iki muttaki-uun (“Bertelekan di atas dipan-dipan.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Muhammad bin Ka’ab, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi dan Khushaif berkata: al-araa-iki yaitu dipan-dipan yang berada di bawah tirai pengantin. [Aku berkata]  bandingannya di dalam dunia adalah singgasana yang berada di bawah. wallaaHu a’lam.”

Dan firman Allah:  laHum fiiHaa faakiHaH (“Di surge itu mereka memperoleh buah-buahan.”)  dengan seluruh jenisnya, wa laHum maa yadda’uun (“Dan memperoleh apa yang mereka minta.”) yaitu kapan saja mereka minta, niscaya mereka akan mendapat seluruh bentuk kelezatan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sulaiman bin Musa, bahwasannya Kuraib bercerita kepada kami, dia mendengar Usamah bin Zaid berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ketahuilah. Apakah ada orang yang bersegera menuju surga? Sesungguhnya surga itu tidak pernah terlintas. Demi Rabb pemilik Ka’bah, dia semuanya cahaya yang bersinar, wangi yang semerbak, istana yang megah, sungai yang gemericik, buah-buahan yang renyah, pasangan-pasangan yang baik, cantik dan para bidadari yang banyak, tempat kekal di daerah keselamatan, buah-buahan yang menghijau, baik dan nikmat serta tempat-tempat yang tinggi dan menyenangkan.” Mereka menjawab: “Ya Rasulallah, kami adalah orang-orang yang bersegera.” Rasulullah bersabda: “Katakanlah: ‘Insyaa AllaaH [jika Allah menghendaki]”). Lalu orang-orang mengucapkan: “insyaa AllaaH.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah di kitab az-Zuhud dalam sunannya.

Dan firman Allah: salaamung qaulam mir rabbiHim (“Salam, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Mahapenyayang.”) Ibnu Juraij berkata, Ibnu ‘Abbas berkata tentang firman Allah Ta’ala: salaamung qaulam mir rabbiHim (“Salam, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Mahapenyayang.”) sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan kesejahteraan kepada penghuni surga.” Apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ini seperti firman Allah Ta’ala: tahiyyatuHum yauma yalqaunaHuu salaamun (“Salam penghormatan kepada mereka [orang-orang Mukmin itu] pada hari mereka menemui-Nya ialah: ‘Salam’” (al-Ahzab: 44)

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  59-62“59. dan (Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, Hai orang-orang yang berbuat jahat. 60. Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, 61. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. 62. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka Apakah kamu tidak memikirkan ?.” (Yaasiin: 59-62)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang kondisi orang kafir yang kembali kepada-Nya pada hari kiamat dimana Dia memerintahkan mereka untuk memisahkan diri, tempat berdiri mereka  berbeda dengan orang-orang yang beriman. Seperti firman Allah: wa yauma taquumus saa’atu yauma-idziy yatafarraquun (“Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka [manusia] bergolong-golongan.”)(ar-Ruum: 14)

A lam a’Had ilaikum yaa banii aadama al-laa ta’budusy syaithaana innaHuu lakum ‘aduwwum mubiin (“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai bani Adam, supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”) ini merupakan ejekan dari Allah Ta’ala kepada orang-orang kafir dari golongan Bani Adam yang mentaati syaitan. Padahal syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi mereka, serta bermaksiat kepada Allah Yang Mahapemurah. Padahal Dia-lah Yang menciptakan mereka dan memberikan rizki kepada mereka. Firman Allah: wa an a’buduunii Haadzaa shiraathum mustaqiim (“Dan hendaklah kamu beribadah kepada-Ku. Inilah jalan yang lurus.”) ini jalan yang lurus, akan tetapi kalian mengikuti jalan yang lain dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh syaitan kepada kalian.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: wa laqad adlal-la mingkum jibillang katsiiran (“Sesunguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu.”) dikatakan: jibillan, adalah dengan kasrah jim dan tasydid lam.” Ada pula yang mengatakan: “Jubulan adalah dengan mendlamahkan jim dan ba’ serta meringankan lam.” Di antara mereka ada pula yang mensukunkan ba, dan yang dimaksud adalah banyak makhluk. Itulah yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Suddi dan Sufyan bin ‘Uyainah.

Tafsir Al-Qur’an Surah Yaasiin (8)

18 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah; Surah ke 36: 83 ayat

 

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  45-47“45. dan apabila dikatakan kepada mereka: “Takutlah kamu akan siksa yang dihadapanmu dan siksa yang akan datang supaya kamu mendapat rahmat”, (niscaya mereka berpaling). 46. dan sekali-kali tiada datang kepada mereka suatu tanda dari tanda tanda kekuasaan Tuhan mereka, melainkan mereka selalu berpaling daripadanya. 47. dan apabila dikatakakan kepada mereka: “Nafkahkanlah sebahagian dari reski yang diberikan Allah kepadamu”, Maka orang-orang yang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman: “Apakah Kami akan memberi Makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan, Tiadalah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata”. (Yaasiin: 45-47)

Allah berfirman mengabarkan tentang kegigihan orang-orang musyrik dalam penyimpangan dan kesesatan mereka, serta tidak merasa banyaknya dosa-dosa mereka yang lalu dan yang akan datang di hadapan mereka pada hari kiamat.  Wa idzaa qiilalaHumut taquu maa baina aidiikum wa maa khalfaHum (“dan apabila dikatakan kepada mereka: “Takutlah kamu akan siksa yang dihadapanmu dan siksa yang akan datang”) Mujahid berkata: “Dari berbagai dosa.” Ulama lain berkata sebaliknya. La’allakum turhamuun (“Supaya  kamu mendapat rahmat [niscaya mereka berpaling].”) yaitu agar Allah –dengan sebab ketakwaan kalian itu- akan merahmati kalian dan menyelamatkan kalian dari adzab-Nya.

Makna di balik itu adalah bahwa mereka tidak diperkenankan hal yang demikian, bahkan mereka berpaling darinya. Cukuplah hal itu dengan firman Allah Ta’ala: wa maa ta’tiiHim min aayatim min aayaati rabbiHim (“Dan sekali-sekali tidak datang kepada mereka suatu tanda dari tanda-tanda kekuasaan Rabb mereka.”) yaitu, atas kebenaran tauhid dan kebenaran para Rasul. Illaa kaanuu ‘anHaa mu’ridliin (“Melainkan mereka selalu berpaling darinya.”) yaitu, mereka tidak berharap dan tidak menerimanya serta tidak dapat mengambil manfaat darinya.

Dan firman Allah: wa idzaa qiila laHum anfiquu mimmaa razaqakumullaaHu (“Dan apabila dikatakan kepada mereka: ‘Nafkahkanlah sebagian dari rizki yang diberikan Allah kepadamu,”) yaitu mereka diperintahkan untuk menafkahkan rizki yang diberikan oleh Allah atas mereka kepada para fuqara dan kaum Muslimin yang membutuhkan, qaalalladziina kafaruu lilladziina aamanuu (“Maka orang-orang kafir itu berkata kepada orang-orang yang beriman,”) yaitu kepada orang-orang fakir yang beriman, kaum mukminin yang membutuhkan infak yang diperintahkan kepada mereka untuk menafkahkannya. Anuth’imu mallaw yasyaa-ullaaHu ath’amaH (“Apakah kami akan memberi makan kepada orang-orang yang jika Allah menghendaki tentulah Dia akan memberinya makan?”) yaitu orang-orang yang kalian perintahkan kepada kami  untuk menafkahkan harta kami kepada mereka adalah orang yang yang seandainya Allah kehendaki, niscaya Dia akan memperkaya mereka dan memberi makan  kepada mereka dari rizki-Nya. Dan kami menyesuaikan diri dengan kehendak kehendak Allah kepada mereka.In antum illaa fii dlalaalim mubiin (“Tidaklah kamu melainkan dalam kesesatan yang nyata.”)  yaitu pada perintah kalian kepada kami tentang hal itu.

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  48-50“48. dan mereka berkata: ‘Bilakah (terjadinya) janji ini (hari berbangkit) jika kamu adalah orang-orang yang benar?’ 49. mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja  yang akan membinasakan mereka ketika mereka sedang bertengkar. 50. lalu mereka tidak Kuasa membuat suatu wasiatpun dan tidak (pula) dapat kembali kepada keluarganya.” (Yaasiin: 48-50)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang anggapan orang-orang kafir yang menganggap mustahil terjadinya hari kiamat dalam perkataan mereka: mataa Haadzal wa’du (“Bilakah [terjadinya] janji ini?”) yasta’jilu biHalladziina laa yu’minuuna biHaa (“Orang-orang yang tidak beriman kepada hari kiamat meminta supaya hari itu segera didatangkan.”)(asy-Syuura: 18)

Maa yandzuruuna illaa shaihataw waahidatan ta’khudzuHum waHum yakhishshimuun (“Mereka tidak menunggu melainkan satu teriakan saja yang akan membinasakan  mereka ketika mereka sedang bertengkar.”) yaitu mereka tidak menunggu kecuali satu teriakan saja. Ini –wallaaHu a’lam- adalah tiupan faza’ [kekagetan]. Dia menutup shur dengan tiupan  yang mengagetkan, sedangkan manusia di pasar-pasar dan di tempat-tempat pencarian nafkah saling bertengkar dan ribut seperti kebiasaan mereka. Di saat mereka seperti itu, tiba-tiba Allah memerintahkan Israfil untuk meniup shur yang memanjang dan melebar. Sehingga tidak ada satu makhlukpun yang tersisa di muka bumi kecuali tertunduk dan menengadah, yaitu, permukaan-permukaan leher yang sedang mendengarkan suara dari arah langit. Kemudian, manusia-manusia yang ada saat itu digiring ke tempat berkumpul  pada hari kiamat, sedangkan api neraka mengelilingi mereka  dari berbagai sudut. Untuk itu Allah berfirman: wa laa yastathii’uuna taushiyatan (“Lalu mereka tidak kuasa membuat suatu wasiat pun”)  atas apa yang mereka miliki, karena urusan di saat itu lebih penting dari masalah tersebut.  Wa laa ilaa aHliHim yarji’uun (“Dan tidak [pula] dapat kembali kepada keluarganya.”) Setelah itu ada tiupan menggelegar yang mematikan semua makhluk  hidup selain  Rabb Yang Mahahidup lagi Mahaberdiri sendiri. Kemudian, setelah itu terjadilah tiupan kebangkitan.

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  51-54“51. dan ditiuplah sangkalala, Maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera dari kuburnya (menuju) kepada Tuhan mereka. 52. mereka berkata: ‘Aduhai celakalah kami! siapakah yang membangkitkan Kami dari tempat-tidur Kami (kubur)?’. Inilah yang dijanjikan (tuhan) yang Maha Pemurah dan benarlah Rasul- rasul(Nya). 53. tidak adalah teriakan itu selain sekali teriakan saja, Maka tiba- tiba mereka semua dikumpulkan kepada kami. 54. Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun dan kamu tidak dibalasi, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.” (Yaasiin: 51-54)

Inilah tiupan ketiga, yaitu sebuah tiupan kebangkitan dan perkumpulan, dimana manusia dibangkitkan dari kubur. Untuk itu Allah berfirman: fa idzaaHum minal ajdaatsi ilaa rabbiHim yansiluun (“Dan ditiuplah sangkakala, maka tiba-tiba mereka keluar dengan segera  dari kuburnya [menuju] kepada Rabb mereka.”) an-naslaan adalah berjalan cepat, sebagaimana Allah Ta’ala berfirman: yauma yakhrujuuna minal ajdaatsi siraa’ang ka-annaHum ilaa nushubiy yuufidzuun (“[yaitu] pada hari mereka keluar dari kubur dengan cepat seakan-akan mereka pergi dengan segera kepada berhala-berhala [sewaktu di dunia]”)(al-Ma’aarij: 43).

Qaaluu yaa wailanaa mam ba’atsanaa mim marqadinaa (“Mereka berkata: ‘Aduh celakalah kami! Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami [kubur]?”) ini tidak berarti menolak adanya siksaan di dalam kubur mereka, karena masalah itu dihubungkan dengan kedasyatan sesudahnya adalah seperti orang yang tidur.

Tafsir Al-Qur’an Surah Yaasiin (7)

18 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah; Surah ke 36: 83 ayat

 

Dia menjadikan matahari memiliki cahaya yang khusus baginya dan bulan memiki cahaya yang khusus pula baginya dan berbeda perjalanan  antara keduanya. Matahari terbit setiap hari  dan terbenam pada akhirnya dengan satu sinar,  akan tetapi ia berpindah-pindah  pada tempat terbit dan terbenam pada musim panas dan musim dingin. Dengan sebab itu, siang dapat lebih panjang dan malam dapat lebih pendek. Kemudian, malam dapat lebih panjang dan siang dapat lebih pendek serta menjadikan kekuasaannya  pada siang hari dan itulah bintang siang. Sedangkan bulan, telah ditetapkan baginya manzilah-manzilah yang terbit pada awal malam bulan dalam keadaan sabit, dengan cahaya kecil. Kemudian, sedikit demi sedikit bertambah pada malam yang kedua dan manzilahnya semakin naik. Kemudian, setiap kali manzilah itu meninggi, semakin terang sinarnya, sekalipun disadur dari cahaya matahari, sehingga semakin sempurna sinarnya pada malam ke empatbelas. Kemudian, dia mulai berkurang kembali sampai akhir bulan, sehingga seperti bentuk tandan tua.

Ibnu ‘Abbas berkata: “Itulah pokok [asal] tandan.” Dan Mujahid berkata: “Al-urjuun al-qadiim yaitu tandan yang kering [tua], Ibnu ‘Abbas mengartikannya sebagai pokok tandan kurma yang telah lama, kering dan melengkung.”  Setelah hal tersebut, Allah Ta’ala menampakkan bulan dalam bentuk baru di awal manzilah akhir.

Lasyamsu yambaghiilaHaa an tudrikal qamara (“Tidaklah mungkin bagi matahari mendapatkan bulan.”) Mujahid mengatakan: “Setiap matahari dan bulan mempunyai batasan yang tidak bisa dilampaui dan tidak bisa dikurangi oleh lainnya. Jika kemungkinan [mendapatkan yang lainnya] ini terjadi, maka akan timbul kemampuan untuk membatasi.” Ats-Tsauri mengatakan dari Abi Shalih: “Tidaklah cahaya matahari mendapatkan bulan dan tidak pula cahaya bulan mendapatkan matahari.”

Wa lallailu saabiqun naHaar (“Dan malampun tidak dapat mendahului siang”) Allah berfirman, tidak sepatutnya jika malam telah terjadi, malam selanjutnya akan terjadi sehingga malam sebelumnya  menjadi siang. Maka terbitnya matahari dengan adanya  siang dan terbitnya bulan  dengan adanya malam.

Adl-Dlahhak berkata: “Malam tidak akan berlalu hingga siang datang dari arah tersebut.” Dan ia memberikan isyarat pada arah timur. Mujahid mengatakan: “Wa lallailu saabiqun naHaar (“Dan malampun tidak dapat mendahului siang”) dua hal yang dituntut cepat, yang mana salah satunya akan mendahului yang lain.  Dan makna tafsiran tersebut yaitu, tidak ada selang waktu antara malam dan siang, akan tetapi setiap dari keduanya [terjadi] tanpa keterlambatan dan tidak ketinggalan [dari yang lainnya] karena keduanya bekerja tanpa pamrih lagi tekun yang dituntut dengan tuntutan yang cepat.

Wa kullun fii falakiy yasbahuun (“Dan masing-masing beredar pada garis edarnya.”) yakni malam, siang, matahari dan bulan semuanya beredar, yaitu berputar pada garis edar langit. Pendapat tersebut dikemukakan oleh Ibnu ‘Abbas, ‘Ikrimah, adl-Dlahhak, al-Hasan, Qatadah, ‘Atha’ al-Khurasani. Ibnu ‘Abbas dan selainnya dari kaum salaf –lebih dari satu orang berkata: “Garis edarnya seperti putaran alat pemintal benang.” Mujahid berkata: “Garis edarnya bagaikan besi putar atau bagaikan putaran alat pemintal benang, yang mana alat pemintal tidak akan berputar kecuali dengan putaran tersebut dan putaran itu  tidak akan berputar kecuali dengan alat pemintal tersebut.

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  41-44“41. dan suatu tanda (kebesaran Allah yang besar) bagi mereka adalah bahwa Kami angkut keturunan mereka dalam bahtera yang penuh muatan. 42. dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu. 43. dan jika Kami menghendaki niscaya Kami tenggelamkan mereka, Maka Tiadalah bagi mereka penolong dan tidak pula mereka diselamatkan. 44. tetapi (kami selamatkan mereka) karena rahmat yang besar dari Kami dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.” (Yaasiin: 41-44)

Allah Ta’ala berfirman dan menjadi tanda pula bagi mereka atas kekuasaan Allah, yaitu ditundukkannya lautan untuk membawa perahu-perahu. Di antara buktinya, bahkan bukti pertama adalah perahu Nabi Nuh a.s. yang diselamatkan Allah bersama orang-orang mukmin yang ikut serta bersamanya, dimana tidak ada lagi keturunan Adam a.s di muka bumi selain mereka. Untuk itu Allah berfirman: wa aayatul laHum annaa hamalnaa dzurriyyataHum (“Dan suatu tanda [kebesaran Allah yang besar] bagi mereka adalah Kami angkut keturunan mereka,”) yaitu nenek moyang mereka. Fil fulkil masyhuun (“dalam bahtera yang penuh muatan.”) yaitu perahu yang dipenuhi barang-barang dan hewan yang berpasang-pasangan yang diperintahkan Allah untuk dibawa di dalamnya. Ibnu ‘Abbas berkata: “Al-masyhuun adalah yang dipenuihi.” Demikian yang dikatakan oleh Sa’id bin Jubair, asy-Sya’bi, Qatadah, dan as-Suddi. Sedangkan adl-Dlahhak, Qatadah dan Ibnu Zaid berkata: “Yaitu perahu Nuh a.s.”

Wa khalaqnaa laHum mim mitsliHii maa yarkabuun (“Dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu,”) al-‘Aufi berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Yang dimaksud adalah unta. Karena unta itu adalah bahtera daratan yang digunakan untuk membawa sesuatu yang dikendarai.” Demikian yang dikatakan oleh ‘Ikrimah, Mujahid, al-Hasan, Qatadah dan satu riwayat pendapat ‘Abdullah bin Syaddad dan lain-lain. As-Suddi dalam satu riwayatnya mengatakan: “Yaitu binatang-binatang ternak.” Ibnu Jarir berkata dari Ibnu ‘Abbas: “Apakah kalian mengerti tentang firman Allah: Wa khalaqnaa laHum mim mitsliHii maa yarkabuun (“Dan Kami ciptakan untuk mereka yang akan mereka kendarai seperti bahtera itu,”) kami menjawab: “Tidak.” Dia berkata: “Itu adalah perahu-perahu sejenis yang dibuat setelah perahu Nuh a.s.” demikian yang dikatakan oleh Abu Malik, adl-Dlahhak, Qatadah, Abu Shalih dan as-Suddi.

Wa in nasya’ nughriqHum (“Dan jika Kami mengehendaki, niscaya Kami tenggelamkan mereka.”) yaitu orang-orang yang berada di dalam kapal tersebut. Fa laa shariikhu laHum (“Maka tiadalah bagi mereka penolong”)  tidak ada lagi penolong bagi mereka  yang dapat menyelamatkan mereka dari kondisi yang mereka alami. Wa laa Hum yungqadzuun (“Dan tidak pula mereka diselamatkan.”)  yaitu dari peristiwa yang menimpa mereka, illaa rahmatam minnaa (“Tetapi[Kami selamatkan mereka] karena rahmat yang besar dari Kami.”) ini adalah istitsna munqathi’ (pengecualian terputus). Makna yang terkandung adalah: “Akan tetapi dengan rahmat Kami, Kami jalankan kalian di daratan dan di lautan serta Kami selamatkan kalian hingga waktu yang ditentukan.” Untuk itu Allah berfirman: wa mataa’an ilaa hiin (“Dan untuk memberikan kesenangan hidup sampai kepada suatu ketika.”) yaitu, hingga waktu tertentu  yang diketahui di sisi Allah.