Aqidah Islam

18 Mar

Definisi Aqidah

  1. Secara etimologi (bahasa) aqidah berarti:

– simpul atau ikatan

– sumpah atau perjanjian

– kehendak yang kuat

  1. Secara terminologi (istilah):
    1. Aqidah adalah hal-hal yang diyakini kebenarannya oleh jiwa, mendatangkan ketenteraman hati, menjadi keyakinan yang kokoh yang tidak bercampur sedikitpun dengan keragu-raguan; atau
    2. Aqidah adalah sejumlah persoalan (kebenaran) yang dapat diterima secara umum (aksioma) oleh manusia berdasarkan akal, wahyu dan fitrah. Kebenaran itu dipatrikan di dalam hati serta diyakini kesahihan dan keberadaannya (secara pasti) dan ditolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu.

Catatan:

  1. Aksioma (badihiyah) adalah segala sesuatu yang kebenarannya perlu dalil pembuktian, tetapi karena sudah sangat umum dan mendarah daging maka kebenaran itu tidak lagi perlu pembuktian. Misalnya seperempat lebih sedikit dari setengah.
  2. Setiap manusia memiliki fitrah untuk mengakui kebenaran (bertuhan), indra untuk mencari kebenaran, akal untuk menguji kebenaran dan memerlukan wahyu untuk menjadi pedoman menentukan mana yang benar dan mana yang tidak.
  3. Aqidah merupakan keyakinan yang tidak tercampur sedikitpun dengan keraguan.

Firman Allah: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, Kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar.” (al Hujurat: 15)

  1. Aqidah mendatangkan ketenteraman jiwa. Allah berfirman: “(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka manjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, Hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’du: 28)
  2. Bila seseorang telah meyakini suatu kebenaran, dia harus menolak segala sesuatu yang bertentangan dengan kebenaran itu
  3. Tingkat keyakinan (aqidah) seseorang sangat tergantung kepada tingkat pemahaman terhadap dalil atau bukti yang dia peroleh.

Sumber Aqidah Islam

Sumber aqidah Islam adalah al-Qur’an dan as-Sunnah. Apa saja yang disampaikan oleh Allah swt. dalam al-Qur’an dan oleh Rasulullah saw. dalam sunnahnya wajib diimani (diyakini dan diamalkan). Dalam hadits disebutkan: “Aku tinggalkan untuk kalian dua perkara. Jika kalian berpegang teguh dengan keduanya kalian tidak akan sesat selamanya. Yaitu Kitabullah dan sunnah Rasul-Nya.”

Akal fikiran tidaklah menjadi sumber aqidah, tetapi hanya berfungsi memahami nash-nash yang terdapat dalam kedua sumber tersebut dan mencoba –kalau diperlukan- membuktikan secara ilmiah kebenaran yang disampaikan oleh al-Qur’an dan Sunnah, itupun harus didasari oleh kesadaran bahwa kemampuan akal sangat terbatas, sesuai dengan terbatasnya kemampuan semua makhluq Allah. Akal tidak akan mampu menjangkau masalah-masalah ghaib, bahkan tidak akan mampu menjangkau sesuatu yang tidak terikat dengan ruang dan waktu. Oleh sebab itu akal tidak boleh dipaksa memahami hal-hal ghaib tersebut dan menjawab pertanyaan segala sesuatu tentang hal-hal ghaib itu. Akal hanya perlu membuktikan jujurkah atau bisakah kejujuran si pembawa berita tentang hal-hal ghaib tersebut dibuktikan secara ilmiah oleh akal fikiran.

Catatan:

  1. Apa yang saya dapatkan dengan indera saya, saya yakini adanya. Kecuali jika akal saya mengatakan “tidak” berdasarkan pengalaman masa lalu.
  2. Keyakinan disamping diperoleh dengan menyaksikan langsung juga bisa melalui berita yang diyakini kejujuran si pembawa berita.
  3. Anda tidak berhak memungkiri wujudnya sesuatu hanya  karena anda tidak bisa menjangkaunya dengan indera mata.
  4. Seseorang hanya bisa menghayalkan sesuatu yang sudah pernah dijangkau oleh inderanya.
  5. Akal hanya bisa menjangkau hal-hal yang terikat dengan waktu dan ruang.

Urgensi Aqidah Islam

  1. Membebaskan manusia dari tunduk dan penghambaan kepada selain Allah.

Seseorang yang beraqidah Islam hanya menyembah dan tunduk kepada Allah Swt. dan menjauhi segala bentuk ketundukan dan penghambaan kepada selain Allah Swt. Karena yang berhak disembah dan diberi ketundukan mutlak hanyalah Allah Swt.

Seseorang yang beraqidah Islam meyakini bahwa Yang Mahakuasa hanyalah Allah Swt, Yang Berkuasa untuk mendatangkan kebaikan dan yang berkuasa untuk menghilangkan keburukan. Allah berfirman: “Dan jika Allah menimpakan sesuatu kemudharatan kepadamu, Maka tidak ada yang menghilangkannya melainkan dia sendiri. dan jika dia mendatangkan kebaikan kepadamu, Maka dia Maha Kuasa atas tiap-tiap sesuatu.” (al-An’am: 17)

Oleh karena itu Rasulullah saw. menyuruh kita untuk hanya memohon pertolongan kepada Allah Swt. saja sebagaimana sabda beliau: “…dan jika kamu minta pertolongan maka mintalah pertolongan kepada Allah Swt.” (HR Tirmidzi).

Dengan demikian maka seorang Muslim tidak tergantung dan berserah diri kepada siapapun kecuali kepada Allah Swt. sebagaimana firman Allah: “…jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: ‘Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang Muslim (yang berserah diri kepada Allah)’” (QS 3: 64).

  1. Membangkitkan jiwa berani dan cinta demi kebenaran.

Aqidah Islam akan melahirkan manusia-manusia pemberani dan cinta membela kebenaran. Karena Islam mengajarkan bahwa segala sesuatu yang terjadi di muka bumi ini sudah Allah tentukan dan sudah Allah takdirkan. Tidak ada kematian kecuali atas izin Allah  yang telah tertulis di lauhul mahfudz. Allah berfirman: “Sesuatu yang bernyata tidak akan mati melainkan dengan izin Allah, sebagai ketetapan yang telah ditentukan waktunya…”  (QS 3: 145).

Dalam ayat lain Allah berfirman: “Sesungguhnya ketetapan Allah apabila telah datang tidak dapat ditangguhkan, kalau kamu mengetahui.” (Nuh: 4)

“Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaatpun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (al-A’raaf: 34)

“Tiap-tiap yang bernyawa akan merasakan mati.” (Ali ‘Imraan: 185)

  1. Aqidah sumber ketentraman jiwa dan keamanan manusia.

Aqidah Islam akan melahirkan manusia-manusia yang memiliki ketentraman jiwa dan sekaligus mendatangkan rasa aman pada manusia baik di dunia maupun di akhirat. Allah berfirman: “Orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenteram.” (ar-Ra’du: 28)

“Orang-orang yang beriman dan tidak mencampur adukkan iman mereka dengan kedzaliman (syirik), mereka itulah yang mendapat keamanan dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk.” (al-An’am: 82)

“Dia-lah yang Telah menurunkan ketenangan ke dalam hati orang-orang mukmin supaya keimanan mereka bertambah di samping keimanan mereka (yang Telah ada). dan kepunyaan Allah-lah tentara langit dan bumi[1394] dan adalah Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana,” (al-Fath: 4)

  1. Aqidah membangun kepribadian yang seimbang

Pribadi yang seimbang diawali dengan keyakinan akan keesaan Tuhannya (Allah Swt.) berbeda dengan orang-orang yang meyakini tuhan mereka lebih dari satu maka orang itu akan mengalami keraguan dan kebimbangan. Dan inilah yang diungkapkan oleh Nabi Yusuf yang diabadikan dalam al-Qur’an: “Hai kedua penghuni penjara, manakah yang baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu  ataukah Allah Yang Maha Esa lagi Maha Perkasa?” (Yusuf: 39).

Seluruh ajaran Islam juga mengajak kita untuk hidup secara tawazun/ seimbang. Allah berfirman: “Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain) sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berbuat kerusakan.” (al-Qashash: 77)

  1. Aqidah sumber kehidupan yang baik untuk pribadi dan masyarakat di dunia dan di akhirat. Allah berfirman: “Barangsiapa yang mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam Keadaan beriman, Maka Sesungguhnya akan Kami berikan kepadanya kehidupan yang baik dan Sesungguhnya akan Kami beri Balasan kepada mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.” (an-Nahl: 97)

“Jikalau Sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, Maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (al-A’raaf: 96)

  1. Aqidah adalah dasar persaudaraan, persamaan dan keadilan. Aqidah Islam adalah asas persaudaraan, kesetaraan dan keadilan,  karena Islam memandang seluruh manusia adalah keturunan Adam a.s. Berarti seluruh manusia adalah saudara. Allah berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan laki-laki dan perempuan yang banyak. dan bertakwalah kepada Allah yang dengan (mempergunakan) nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain, dan (peliharalah) hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (an-Nisaa’: 1)

Islam memandang bahwa antara sesama Muslim adalah bersaudara. Bahkan ikatan aqidah jauh lebih kuat daripada ikatan nasab. Firman Allah: “..orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 10).

Khutbah Rasulullah saw.: “Wahai sekalian manusia, sesungguhnya Tuhan kalian adalah satu (esa) dan sesungguhnya bapakmu satu, kalian semua dari Adam dan Adam dari tanah. Sesungguhnya yang paling mulia dari kalian adalah yang paling bertaqwa.” ()

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: