Tafsir Al-Qur’an Surah Yaasiin (9)

18 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Yaasiin
Surah Makkiyyah; Surah ke 36: 83 ayat

 

Ubay bin Ka’ab, Mujahid, al-Hasan dan Qatadah berkata: “Mereka tidur seperti tidur sebelum kebangkitan.” Qatadah berkata: “Hal itu terjadi di antara dua tiupan. Untuk itu mereka berkata: ‘Siapakah yang membangkitkan kami dari tempat tidur kami?’” Di saat mereka menanyakan demikian, maka orang-orang yang beriman memberikan jawabannya. Itulah yang dikatakan oleh banyak ulama salaf: Haadzaa maa wa’adar  rahmaana wa shadaqal mursaluun (“Inilah yang dijanjikan [Rabb] Yang Mahapemurah dan benarlah Rasul-rasul[-Nya]”) hal itu seperti firman Allah: wa qaaluu yaa wailanaa Haadzaa yaumuddiin. Haadzaa yaumul fashlil ladzii kuntum biHii tukadzdzibuun (“Dan mereka berkata: ‘Aduhai celakalah kita!’ inilah hari pembalasan, inilah hari keputusan yang kamu selalu mendustakannya.”)(ash-Shaaffaat: 20-21)

Ing kaanat illaa shaihataw waahidatang fa-idzaaHum jami’ul ladainaa muhdlaruun (“Tidak ada teriakan itu selain sekali teriakan saja, maka tiba-tiba mereka semua dikumpulkan kepada Kami.”)  seperti firman Allah: fa innamaa Hiya zajratuw waahidaH. Fa idzaaHum bis-saaHirah (“Sesungguhnya pengembalian itu hanyalah dengan satu kali tiupan saja, maka dengan serta merta mereka hidup kembali di permukaan bumi.” (an-Naazi’aat: 13-14). Yaitu, Kami hanya memerintahkan mereka dengan satu perintah, maka dengan serta merta mereka hadir kembali. Fal yauma laa tudzlamu nafsung syai-aa (“Maka pada hari itu seseorang tidak akan dirugikan sedikitpun.”) yaitu amalnya. Wa laa tujzauna illaa maa kuntum ta’maluun (“Dan kamu tidak dibalas, kecuali dengan apa yang telah kamu kerjakan.”)

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  55-58“55. Sesungguhnya penghuni syurga pada hari itu bersenang-senang dalam kesibukan (mereka). 56. mereka dan isteri-isteri mereka berada dalam tempat yang teduh, bertelekan di atas dipan-dipan. 57. di syurga itu mereka memperoleh buah-buahan dan memperoleh apa yang mereka minta. 58. (kepada mereka dikatakan): “Salam”, sebagai Ucapan selamat dari Tuhan yang Maha Penyayang.” (Yaasiin: 55-58)

Allah Ta’ala mengabarkan tentang penghuni surga, dimana pada hari kiamat, ketika mereka telah berangkat dari perkumpulan, mereka turun di taman-taman surga dalam keadaan tidak peduli  dengan orang lain, karena mereka berada dalam kenikmatan yang langgeng dan keberuntungan yang agung.

Al-Hasan al-Bashri dan Ismail bin Abi Khalid berkata: “Yaitu tidak peduli dengan adzab yang dialami oleh penghuni neraka. Mujahid berkata: “Syughuling faakiHuun (“Bersenang-senang dalam kesibukan [mereka],”) yaitu, dalam kenikmatan yang mengherankan mereka.” Demikian yang dikatakan oleh Qatadah.

Dan firman Allah: Hum wa azwaajuHum (“Mereka dan istri-istri mereka”) Mujahid berkata: “Yaitu bidadari-bidadari mereka. Fii dzilaalin (“Berada dalam tempat teduh”) yaitu diteduhi pohon-pohon, ‘alal araa-iki muttaki-uun (“Bertelekan di atas dipan-dipan.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, ‘Ikrimah, Muhammad bin Ka’ab, al-Hasan, Qatadah, as-Suddi dan Khushaif berkata: al-araa-iki yaitu dipan-dipan yang berada di bawah tirai pengantin. [Aku berkata]  bandingannya di dalam dunia adalah singgasana yang berada di bawah. wallaaHu a’lam.”

Dan firman Allah:  laHum fiiHaa faakiHaH (“Di surge itu mereka memperoleh buah-buahan.”)  dengan seluruh jenisnya, wa laHum maa yadda’uun (“Dan memperoleh apa yang mereka minta.”) yaitu kapan saja mereka minta, niscaya mereka akan mendapat seluruh bentuk kelezatan.

Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Sulaiman bin Musa, bahwasannya Kuraib bercerita kepada kami, dia mendengar Usamah bin Zaid berkata: Rasulullah saw. bersabda: “Ketahuilah. Apakah ada orang yang bersegera menuju surga? Sesungguhnya surga itu tidak pernah terlintas. Demi Rabb pemilik Ka’bah, dia semuanya cahaya yang bersinar, wangi yang semerbak, istana yang megah, sungai yang gemericik, buah-buahan yang renyah, pasangan-pasangan yang baik, cantik dan para bidadari yang banyak, tempat kekal di daerah keselamatan, buah-buahan yang menghijau, baik dan nikmat serta tempat-tempat yang tinggi dan menyenangkan.” Mereka menjawab: “Ya Rasulallah, kami adalah orang-orang yang bersegera.” Rasulullah bersabda: “Katakanlah: ‘Insyaa AllaaH [jika Allah menghendaki]”). Lalu orang-orang mengucapkan: “insyaa AllaaH.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah di kitab az-Zuhud dalam sunannya.

Dan firman Allah: salaamung qaulam mir rabbiHim (“Salam, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Mahapenyayang.”) Ibnu Juraij berkata, Ibnu ‘Abbas berkata tentang firman Allah Ta’ala: salaamung qaulam mir rabbiHim (“Salam, sebagai ucapan selamat dari Rabb Yang Mahapenyayang.”) sesungguhnya Allah Ta’ala memberikan kesejahteraan kepada penghuni surga.” Apa yang dikatakan oleh Ibnu ‘Abbas ini seperti firman Allah Ta’ala: tahiyyatuHum yauma yalqaunaHuu salaamun (“Salam penghormatan kepada mereka [orang-orang Mukmin itu] pada hari mereka menemui-Nya ialah: ‘Salam’” (al-Ahzab: 44)

tulisan arab alquran surat yaasiin ayat  59-62“59. dan (Dikatakan kepada orang-orang kafir): “Berpisahlah kamu (dari orang-orang mukmin) pada hari ini, Hai orang-orang yang berbuat jahat. 60. Bukankah aku telah memerintahkan kepadamu Hai Bani Adam supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi kamu”, 61. dan hendaklah kamu menyembah-Ku. Inilah jalan yang lurus. 62. Sesungguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebahagian besar diantaramu, Maka Apakah kamu tidak memikirkan ?.” (Yaasiin: 59-62)

Allah Ta’ala berfirman mengabarkan tentang kondisi orang kafir yang kembali kepada-Nya pada hari kiamat dimana Dia memerintahkan mereka untuk memisahkan diri, tempat berdiri mereka  berbeda dengan orang-orang yang beriman. Seperti firman Allah: wa yauma taquumus saa’atu yauma-idziy yatafarraquun (“Dan pada hari terjadinya kiamat, di hari itu mereka [manusia] bergolong-golongan.”)(ar-Ruum: 14)

A lam a’Had ilaikum yaa banii aadama al-laa ta’budusy syaithaana innaHuu lakum ‘aduwwum mubiin (“Bukankah Aku telah memerintahkan kepadamu hai bani Adam, supaya kamu tidak menyembah syaitan? Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.”) ini merupakan ejekan dari Allah Ta’ala kepada orang-orang kafir dari golongan Bani Adam yang mentaati syaitan. Padahal syaitan itu adalah musuh yang nyata bagi mereka, serta bermaksiat kepada Allah Yang Mahapemurah. Padahal Dia-lah Yang menciptakan mereka dan memberikan rizki kepada mereka. Firman Allah: wa an a’buduunii Haadzaa shiraathum mustaqiim (“Dan hendaklah kamu beribadah kepada-Ku. Inilah jalan yang lurus.”) ini jalan yang lurus, akan tetapi kalian mengikuti jalan yang lain dan mengikuti apa yang diperintahkan oleh syaitan kepada kalian.

Untuk itu Allah Ta’ala berfirman: wa laqad adlal-la mingkum jibillang katsiiran (“Sesunguhnya syaitan itu telah menyesatkan sebagian besar di antaramu.”) dikatakan: jibillan, adalah dengan kasrah jim dan tasydid lam.” Ada pula yang mengatakan: “Jubulan adalah dengan mendlamahkan jim dan ba’ serta meringankan lam.” Di antara mereka ada pula yang mensukunkan ba, dan yang dimaksud adalah banyak makhluk. Itulah yang dikatakan oleh Mujahid, Qatadah, as-Suddi dan Sufyan bin ‘Uyainah.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: