Arsip | 14.48

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Insyirah/ Alam Nasyrah

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Insyirah (Kelapangan)
Surah Makkiyyah; Surah ke 94: 8 ayat

 

tulisan arab alquran surat al-insyirah ayat 1-8

“1. Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?, 2. dan Kami telah menghilangkan daripadamu bebanmu, 3. yang memberatkan punggungmu? 4. dan Kami tinggikan bagimu sebutan (nama)mu, 5. karena Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan, 6. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. 7. Maka apabila kamu telah selesai (dari sesuatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh (urusan) yang lain, 8. dan hanya kepada Tuhanmulah hendaknya kamu berharap.” (al-Insyirah: 1-8)

Firman Allah: a lam nasyrah laka shadraka (“Bukankah Kami telah melapangkan untukmu dadamu?”) maksudnya, Kami telah menerangi dadamu, yaitu dengan cahaya Kami. Dan Kami jadikan dadamu lapang, lebar, dan luas. Yang demikian itu seperti firman-Nya: famay yuridillaaHu ay yaHdiyaHu  yasyrah shadraHuu lil islaami (“Barangsiapa yang Allah berkehendak untuk memberi petunjuk kepadanya, maka Dia akan melapangkan dadanya  untuk Islam.” (al-An’am: 125) dan sebagaimana Allah telah melapangkan dada beliau, maka Diapun menjadikan syariat-Nya demikian lapang dan luas, penuh toleransi dan kemudahan, tidak mengandung kesulitan, benban dan kesempitan.

Firman Allah: wawadla’naa ‘angka wizraka (“Dan Kami telah menghilangkan darimu bebanmu.” Mempunyai pengertian: liyaghfiralakallaaHu maa taqaddama min dzambika wamaa ta-akhkhara (“Supaya Allah member ampunan  kepadamu akan dosa yang telah engkau perbuat dulu dan yang akan dating.”)(al-Fath: 2)

Alladzii angqadla dzaHraka (“yang memberatkan punggungmu.”)  kala “al-inqaadu” disini berarti suara. Dan lebih dari satu ulama salaf yang mengenai firman-Nya, Alladzii angqadla dzaHraka (“yang memberatkan punggungmu.”) mengatakan: “Yakni bebannya telah memberatkanmu.”

Firman Allah: wa rafa’naa laka dzikraka (“Dan Kami tinggikan bagimu sebutan [nama]mu.” Mujahid mengatakan, “Aku tidak disebut melainkan disebutkan bersamaku kesaksian bahwa tidak ada ilah  yang berhak diibadahi dengan benar selain Allah dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah Rasulullah.” Qatadah mengatakan: “Allah meninggikan sebutan beliau di dunia dan di akhirat. Tidak ada seorang khatib, orang yang mengucapkan syahadat, dan juga orang yang mengerjakan shalat, melainkan menyebutkan kesaksian:  asyHadu allaa ilaaHa illaallaaHu wa asyHadu anna muhammadar rasuulullaH (Aku bersaksi bahwa tidak ada ilah yang berhak untuk diibadahi  dengan benar selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah.”

Ibnu Katsir menyebutkan sejumlah baik syair Hasan bin Tsabit: “Dipancarkan pada penutup kenabian, dari Allah berupa cahaya yang kemilau lagi disaksikan  Ilah telah menggabungkan nama Nabi  pada Nama-Nya, Dimana pada kumandang kelima mu-adzin menyebutkan syaHadat. Dan diambil nama dari Nama-Nya untuk mengagungkannya. Demikian Pemilik Arsy sangat terpuji, dan inilah Muhammad.

Firman Allah Ta’ala: fa inna ma’al ‘usri yusran, inna ma’al ‘usri yusran (“Karena sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan. Sesungguhnya sesudah kesulitan itu ada kemudahan.”) Allah memberitahukan bahwa bersama kesulitan itu  terdapat kemudahan. Kemudian Dia mempertegas berita tersebut. Ibnu Jarir meriwayatkan dari al-Hasaan, dia berkata: “Nabi saw. Pernah  keluar rumah pada suatu hari dalam keadaan senang dan gembira, dan beliau juga dalam keadaan tertawa seraya bersabda: “Satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan, sesungguhnya bersama kesulitan itu terdapat kemudahan.”

Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa kesulitan itu dapat diketahui pada dua keadaan, dimana kalimatnya dalam bentuk mufrad (tunggal). Sedangkan kemudahan (al-yusr) dalam bentuk nakirah (tidak ada ketentuannya) sehingga bilangannya bertambah banyak. Oleh karena itu beliau bersabda: “Satu kesulitan itu tidak akan pernah mengalahkan dua kemudahan.”

Ibnu Duraid berkata: “Abu Hatim as-Sijistani mengumandangkan syair untukku: “Jika hati telah menguasai keputusasaan. Dan sudah menjadi sempit oleh dada yang lapang. Ia menginjak semua yang tidak disukai dan menjadi tenang,. Dan menancapkan kesulitan di beberapa tempat. Dan untuk menyingkap mudharat, ia tidak melihat jalan. Dia mendatangimu dalam keadaan putus asa dari meminta bantuan. Yang diberikan oleh Yang Mahalembut lagi Mahamengabulkan. Dan setiap kejadian itu jika berakhir, maka akan membawa kepada kebahagiaan yang dekat.”

Penyair lain mengungkapkan: “Tidak jarang musibah itu membuat sempit gerak pemuda, dan pada sisi Allah jalan keluar diperoleh. Lengkap sudah penderitaan. Dan ketika kepungannya mendominasi, maka terbukalah jalan, yang sebelumnya dia menduga musibah itu tiada akhir.”

Firman Allah: fa idzaa faraghta fangshab. Wa ilaa rabbika farghab (“Maka apabila kamu telah selesai [dari suatu urusan], kerjakanlah dengan sungguh-sungguh [urusan] yang lain. Dan hanya  kepada Rabb-mu lah  hendaknya kamu  berharap.”) maksudnya, jika engkau telah selesai mengurus berbagai kepentingan dunia dan semua kesibukannya serta telah  memutus semua jarigannya, maka bersungguh-sungguhlah untuk  menjalankan ibadah serta melangkahlah kepadanya dengan penuh semangat, dengan hati yang kosong lagi tulus, serta niat karena Allah. Dari pengertian ini terdapat sabda Rasulullah saw. Di dalam hadits yang diserpakati keshahihannya: “Tidak sempurna shalat seseorang ketika makanan telah dihidangkan dan tidak sempurna pula shalat dalam keadaan menahan buang air kecil dan besar.”

Dan dari Ibnu Mas’ud: “Jika engkau telah selesai menunaikan berbagai kewajiban, maka bersungguh-sungguhlah untuk melakukan Qiyamul lain. Dan dalam sebuah riwayat dari Ibnu Mas’ud: fangshab. Wa ilaa rabbika farghab (“dan kerjakanlah dengan sungguh-sungguh. Dan hanya kepada Rabb-mu lah hendaknya kamu berharap.”) setelah selesai dari shalat yang engkau kerjakan sedang engkau masih dalam keadaan duduk. ‘Ali bin Abi Thalhah meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata: “Jika engkau telah selesai, maka bersungguh-sunguhlah, yakni berdoa. wallaaHu a’lam.

Thaharah (Bersuci)

19 Mar

Kajian Fiqih menurut Empat Mazhab

 

Shalat tidak sah dikerjakan kecuali dengan bersuci terlebih dahulu. Demikian menurut ijma’. Para ulama sepakat tentang wajibnya bersuci dengan air jika air itu ada dan dapat digunakan, serta tidak ada keperluan lain –yang lebih mendesak, seperti untuk minum. Sementara itu, wajib tayamum  dengan tanah [debu] jika tidak ada air.

Para fuqaha di kota-kota besar –seperti Kufah dan Basrah- telah sepakat bahwa air laut, baik yang tawar maupun yang asin, adalah suci dan mensucikan, seperti air-air yang lain. Namun terdapat beberapa ulama yang  melarang berwudlu dengan air laut. Ada juga sekelompok ahli fiqih yang membolehkannya ketika dalam keadaan darurat saja. Sementara itu, ada ahli fiqih lain yang membolehkan tayamum walaupun ada air laut untuk berwudlu.

Para ulama sepakat bahwa bersuci tidak sah secuali dengan air. Diriwayatkan dari Ibnu Abi Laila dan al-‘Ashim tentang bolehnya bersuci dengan menggunakan cairan yang lain.

Maliki, Syafi-i, dan Hanbali: Najis tidak dapat dihilangkan kecuali dengan air. Hanafi: Najis dapat dihilangkan dengan segala cairan yang suci.

Pendapat paling shahih dari Syafi-i: air panas karena terkena sinar matahari hukumnya adalah makruh. Sementara itu, pendapat yang dipilih oleh para pengikutnya yang kemudian adalah pendapat yang mengatakan bahwa hal itu  tidak makruh. Demikian juga menurut tiga imam yang lain, yaitu Hanafi, Maliki dan Hanbali.

Air yang dimasak hukumnya tidak makruh, demikian menurut  kesepakatan para ulama. Diriwayatkan dari Mujahid bahwa ia memakruhkannya. Sementara itu, Hanbali memakruhkannya jika ia dipanaskan dengan api.

Air bekas bersuci (musta’mal) hukumnya  adalah suci, tetapi tidak menyucikan. Demikian pendapat yang masyur di kalangan madzab Hanafi, yang paling shahih dalam madzab Syafi-i, dan madzab Hanbali. Maliki: air musta’mal dapat mensucikan. Sementara itu, menurut sebagian riwayat dari Hanafi: air musta’mal adalah najis. Demikian juga menurut pendapat Abu Yusuf.

Air yang berubah karena bercampur dengan ja’faran atau benda-benda suci lain yang sejenis dan perubahannya sangat jelas, menurut Maliki, Syafi-i dan Hanbali: air tersebut tidak dapat digunakan untuk bersuci. Hanafi dan para pengikutnya: boleh bersuci dengan air tersebut. Mereka berpendapat bahwa perubahan air oleh sesuatu yang suci tidaklah menghilangkan sifat mensucikan selama  unsur-unsur airnya tidak hilang.

Air yang berubah karena terlalu  lama disimpan atau tidak digunakan, hukumnya adalah suci. Hal ini berdasarkan kesepakatan ulama. Diriwayatkan dari Ibnu Sirin, bahwa air tersebut tidak boleh digunakan untuk bersuci.

Mandi dan berwudlu  dengan air zamzam, menurut Hanbali: Hukumnya adalah makruh. Hal ini demi memelihara kemuliaannya.

Api dan matahari tidak dapat menghilangkan najis. Namun Hanafi berpendapat: api dan matahari dapat menghilangkan najis. Menurutnya jika ada kulit bangkai menjadi kering karena sinar matahari, maka hukumnya suci meskipun tidak disamak. Demikian pula jika di atas tanah terdapat najis, kemudian kering karena sinar matahari, maka tempat itu  menjadi suci dan dapat digunakan untuk shalat. Namun, tempat itu tidak dapat dipergunakan untuk tayamum. Hanafi: api dapat menghilangkan najis.

Hanafi, Syafi-i dan Hanbali dalam salah satu  riwayatnya:  apabila air tenang kurang dari dua qullah, ia akan menjadi najis jika terkena benda najis walaupun sifat-sifatnya tidak berubah. Maliki dan Hanbali  dalam riwayat yang lain: air tersebut suci selama sifat-sifatnya  tidak berubah. Adapun jika air itu lebih dari dua qullah, yaitu 500 rithl Bagdad atau 180 rithl Damaskus, atau dalam volume 4x4x4 hasta, tidaklah menjadi najis –terkena benda najis- kecuali  jika sifat-sifatnya berubah, demikian pendapat Syafi-i dan Hanbali.

Maliki: air yang berada di sebuah tempat dengan ukuran tersebut tidak najis jika terkena benda najis. Namun jika warna, rasa atau baunya berubah maka hukumnya adalah najis, baik air itu  sedikit maupun banyak.

Hanafi: campurannya harus diperhatikan. Jika air itu bercampur dengan benda najis maka hukumnya  adalah najis, kecuali jika air tersebut banyak.  Air tersebut dikatakan banyak (ma’katsir) apabila digerakkan salah satu tepinya maka tepi lain tidak bergerak. Dalam keadaan demikian, hukumnya  tidak najis –jika air tersebut terkena benda najis.

Hanafi, Hanbali, dan qaul jadid Syafi-i –yang menjadi pendapat paling kuat di dalam mahdzab Syafi-i: air yang mengalir hukumnya sama dengan air yang tenang. Maliki: air yang mengalir itu tidak menjadi najis –jika terkena benda najis- kecuali jika air tersebut berubah, baik ia air yang banyak maupun sedikit. Seperti itu pula qaul qadim Syafi-i yang dipilih oleh sekelompok shahabatnya, seperti al-Baghawi, Imam al-Haramain, dan al-Ghazali. Imam an-Nawawi, di dalam Syarh al Muhadzdzib, mengatakan bahwa inilah pendapat yang kuat.

Para ulama: penggunaan perkakas yang terbuat dari emas untuk makan, minum, dan berwudlu, baik oleh laki-laki maupun perempuan, adalah haram. Syafi-i berpendapat sebaliknya. Sementara itu Dawud berpendapat bahwa hal itu haram hanya jika digunakan untuk minum. Pendapat Hanafi, Maliki, dan Hanbali yang mengharamkannya lebih kuat  daripada pendapat Syafi-i.

Para ulama: menggunakan saluran air yang terbuat dari emas adalah haram. Adapun, menggunakan saluran air yang terbuat dari perak adalah haram menurut Maliki, Syafi-i, dan Hanbali jika alirannya besar dan untuk hiasan. Hanafi: menggunakan saluran air dari perak tidak haram.

Bersiwak adalah  sunnah menurut kesepakatan para ulama. Sedangkan Dawud berpendapat bahwa hukumnya wajib. Sementara itu Ishaq berpendapat bahwa apabila bersiwak itu ditinggalkan dengan sengaja maka shalatnya batal.

Apakah bersiwak bagi orang yang berpuasa hukumnya adalah  makruh? Hanafi dan Maliki: hal itu  tidak makruh. Syafi-i: hal itu  makruh. Dari Hanbali diriwayatkan dua riwayat yang mengatakan bahwa  hal itu tidak makruh.

Sumber: Fiqih Empat Madzab, Syaikh al-‘Allamah Muhammad bin ‘Abdurrahman ad-Dimasyqi

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (10)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 14-18“14. orang-orang Arab Badui itu berkata: “Kami telah beriman”. Katakanlah: “Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu; dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya, Dia tidak akan mengurangi sedikitpun pahala amalanmu; Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” 15. Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu hanyalah orang-orang yang percaya (beriman) kepada Allah dan Rasul-Nya, kemudian mereka tidak ragu-ragu dan mereka berjuang (berjihad) dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah. mereka Itulah orang-orang yang benar. 16. Katakanlah: “Apakah kamu akan memberitahukan kepada Allah tentang agamamu, Padahal Allah mengetahui apa yang di langit dan apa yang di bumi dan Allah Maha mengetahui segala sesuatu?” 17. mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: “Janganlah kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku dengan keislamanmu, sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.”  18. Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan bumi. dan Allah Maha melihat apa yang kamu kerjakan.” (al-Hujuraat: 14-18)

Allah berfirman seraya mengingkari orang-orang Arab Badui yang mengklaim bahwa keimanan telah bersemayam dalam diri mereka pada saat pertama kali mereka masuk Islam, padahal tidak ada keimanan sedikitpun yang tertanam dalam diri mereka.

Qaalatil a’raabu aamannaa qul lam tu’minuu walaaking quuluu aslamnaa walammaa yadkhulil iimaanu fii quluubikum (“orang-orang Arab Badui itu berkata: ‘Kami telah beriman’. Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu’) dari ayat tersebut dapat disimpulkan bahwa iman itu  lebih khusus  daripada Islam, sebagaimana hal itu menajadi pendapat ahlus sunnah wal jama’ah. Yang demikian itu ditunjukkan pula oleh hadits Jibril a.s. ketika ia bertanya tentang Islam, lalu  tentang iman, kemudian tentang ihsan. Dengan demikian, ia menyebutkannya secara bertingkat, dari yang umum kepada yang lebih khusus.

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Amir bin Sa’ad bin Abi Waqqash, dari ayahnya, ia bercerita: “Bahwa Rasulullah saw. pernah memberi kepada beberapa orang laki-laki, tetapi beliau tidak memberi sesuatupun kepada salah seorang dari mereka. Maka Sa’ad bertanya: ‘Ya Rasulallah, engkau berikan kepada si fulan dan si fulan, tetapi tidak memberi sesuatu pun kepada si fulan itu, padahal ia seorang mukmin.’ Nabipun bersabda: ‘Apakah ia muslim?’ Sehingga Sa’ad mengulanginya sampai tiga kali, dan Nabi tetap mengatakan: ‘Apakah ia muslim?’ setelah itu  Nabi saw. bersabda: ‘Sesungguhnya aku akan memberi beberapa orang dan meninggalkan orang yang paling aku sukai di antara mereka, sehingga aku tidak memberinya sesuatu pun karena khawatir mereka akan merangkak ke neraka di atas wajah mereka.’” Hadits ini diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim dalam kitab ash-Shahihain, dari  hadits az-Zuhri.

Dengan demikian Nabi membedakan antara orang mukmin dengan muslim, sehingga hal itu menunjukkan bahwa iman itu lebih khusus daripada Islam. Dan kami telah menetapkan hal tersebut dengan dalil-dalil yang terdapat di awal syarah kitab al-iimaan dalam kitab Shahih al-Bukhari. Segala puji dan sanjungan hanya bagi Allah.

Hal itu menunjukkan bahwa orang tersebut adalah muslim dan bukan munafik, karena beliau tidak memberikan sesuatu dan mengantarkannya pada keislaman. Dan hal ini menunjukkan bahwa orang-orang Badui yang disebutkan dalam ayat  tersebut bukan orang-orang munafik, tetapi mereka adalah orang-orang Islam yang dalam hati mereka belum tertanam keimanan. Lalu mereka mengklaim suatu kedudukan yang lebih tinggi dari apa yang telah mereka capai, sehingga diberikan pengarahan kepada mereka tentang hal tersebut. Dan itulah makna ucapan Ibnu ‘Abbas, Ibrahim an-Nakha’i, dan Qatadah, dan makna itu pula  yang dipilih oleh Ibnu Jarir.

Seandainya mereka itu orang-orang munafik, tentulah mereka akan dikasari dan dibuka aib mereka, sebagaimana yang disebutkan dalam surah bara’ah [at-taubah]. Dan hal itu dikatakan kepada mereka sebagai  bentuk pengarahan semata.

qul lam tu’minuu walaaking quuluu aslamnaa walammaa yadkhulil iimaanu fii quluubikum (“Katakanlah: ‘Kamu belum beriman, tapi Katakanlah ‘kami telah tunduk’, karena iman itu belum masuk ke dalam hatimu’) maksudnya, ketika kalian masuk Islam pertama kali, kalian belum sampai pada hakekat keimanan. Lalu Allah berfirman: wa in tuthii’ullaaHa wa rasuulaHu laa yalitkum min a’maalikum syai-an (“Dan jika kamu taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Dia tidak akan mengurangi sedikitpun amalanmu.”) maksudnya hal itu tidak akan mengurangi pahala kalian sedikitpun. Hal itu sama seperti firman Allah berikut ini: wa maa alatnaaHum min ‘amaliHim min syaii’ (“Dan Kami tidak mengurangi sedikitpun dari pahala amal mereka.”)(ath-Thuur: 21).

Dan firman Allah: innallaaHa ghafuurur rahiim (“Sesungguhnya Allah Mahapengampun lagi Mahapenyayang.”) yaitu terhadap orang-orang yang bertaubat dan kembali kepada-Nya.

Firman Allah: innamal mu’minuuna (“Sesungguhnya orang-orang yang beriman”) maksudnya orang-orang yang beriman secara sempurna: alladziina aamanuu billaaHi wa rasuuliHii tsumma lam yartaabuu (“adalah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya kemudian mereka tidak ragu-ragu.”) yakni, tidak bimbang dan tidak pula goyah, bahkan mereka semakin kokoh dalam satu keadaan, yaitu keimanan yang sebenarnya. Wa jaaHaduu bi amwaaliHim wa angfusiHim fii sabiilillaaH (“dan mereka berjihad dengan harta dan jiwa mereka pada jalan Allah.”) yakni mengerahkan seluruh jiwa dan harta benda mereka  untuk berbuat taat kepada Allah dan mencari keridlaan-Nya. Ulaa-ika Humush shaadiquun (“Mereka itulah orang-orang yang benar.”) yaitu benar dalam ucapan mereka jika mereka mengatakan bahwa mereka beriman, dan tidak seperti sebagian orang-orang Arab Badui yang mereka tidak beriman melainkan hanya perkataan lahiriah semata.

Firman Allah: qul atu’allimuunallaaHa bidiinikum (“Katakanlah [kepada mereka]: ‘Apakah kamu akan memberitahu kepada Allah tentang agamamu [keyakinanmu]?”) maksudnya, apakah kalian memberitahukan kepada-Nya tentang segala sesuatu yang tersimpan di dalam hati nurani kalian? wallaaHu ya’lamu maa fis samaawaati wa maa fil ardli (“Padahal Allah mengetahui apa yang  ada di langit dan apa yang ada di bumi.”) maksudnya, tidak ada sesuatupun sebesar biji atom di muka bumi dan juga di atas langit, atau bahkan yang lebih kecil atau lebih besar darinya yang tersembunyi dari-Nya. wallaaHu bikulli syai-in ‘aliim (“Dan Allah Mahamengetahui segala sesuatu.”)

Lalu firman Allah: yamunnuuna ‘alaika an aslamuu qullaa tamunnuu ‘alayya islaamakum (“Mereka merasa telah memberi nikmat kepadamu dengan keislaman mereka. Katakanlah: ‘Jangan kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku tentang keislamanmu.”) yakni, orang-orang Arab Badui yang telah merasa memberikan nikmat kepada Rasulullah saw. melalui keislaman, ketundukan, dan pertolongan mereka terhadap beliau. Maka Allah Ta’ala memberikan bantahan kepada mereka melalui firman-Nya: qullaa tamunnuu ‘alayya islaamakum (“Katakanlah: ‘Jangan kamu merasa telah memberi nikmat kepadaku tentang keislamanmu.”) sesungguhnya manfaat semua itu hanyalah kembali kepada kalian juga. Hanya  milik Allah saja kenikmatan yang dikaruniakan kepada kalian di dalam keislaman kalian itu. balillaaHu yamunnu ‘alaikum an Hadaakum lil iimaani ing kuntum shaadiqiin (“sebenarnya Allah, Dialah yang melimpahkan nikmat kepadamu dengan menunjuki kamu kepada keimanan jika kamu adalah orang-orang yang benar.”) maksudnya, dalam pengakuan kalian tentang hal itu, sebagaimana yang telah disabdakan Nabi saw. kepada kaum Anshar pada saat terjadi perang Hunain: “Wahai sekalian kaum Anshar, bukankah sebelum ini aku dapati kalian berada dalam kesesatan kemudian Allah memberikan petunjuk kepada kalian melalui diriku?  Bukankah kalian sebelum ini dalam keadaan bercerai-berai kemudian Allah menjadikan kalian bersatu melalui diriku juga? Dan bukankah kalian sebelum ini termasuk orang-orang miskin, kemudian Allah memberikan kecukupan kepada kalian melalui diriku?” setiap kali Nabi mengatakan sesuatu maka mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya yang lebih dapat memberikan nikmat.”

Al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar meriwayatkan, kemudian Allah swt. mengulang-ulangi berita melalui pengetahuan-Nya tentang segala sesuatu dan penglihatan-Nya terhadap semua perbuatan makhluk. Lalu Allah berfirman: innallaaHa ya’lamu ghaibas samaawaati wal ardli wallaaHu bashiirum bimaa ta’maluun (“Sesungguhnya Allah mengetahui apa yang ghaib di langit dan di bumi. Dan Allah Mahamelihat apa yang kamu kerjakan.”)

Sekian.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (9)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 13“13. Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia diantara kamu disisi Allah ialah orang yang paling taqwa diantara kamu. Sesungguhnya Allah Maha mengetahui lagi Maha Mengenal.” (al-Hujuraat: 13)

Allah berfirman seraya memberitahukan kepada umat manusia bahwa Dia telah menciptakan mereka dari satu jiwa, dan darinya Dia menciptakan pasangannya, yaitu Adam dan Hawwa, dan selanjutnya Dia menjadikan mereka berbangsa-bangsa. Kata “syu’uuban” [berbangsa-bangsa] lebih umum daripada kata “alqabaa-ilu” [bersuku-suku]. Dan setelah “alqabaa-ilu” ini berurutan tatanan lain. Ada juga yang menyatakan: “Yang dimaksud dengan “asy-syu’uubu” adalah penduduk negeri-negeri lain, sedangkan “alqabaa-ilu” adalah penduduk Arab, sebagaimana “al-asbaathu” dimaksudkan sebagai penduduk Bani Israil.” Dan mengenai hal ini telah saya ringkas dalam muqadimah tersendiri yang saya kumpulkan dari kitab al-Asybaah karya Abu ‘Umar bin ‘Abdil Barr, juga dari kitab al-Qashdu wal Umam fii Ma’rifati Ansabil Arab wal ‘Ajam. Dengan demikian, dalam hal kemuliaan, seluruh umat manusia dipandang  dari sisi ketanahannya dengan Adam dan Hawwa’ adalah sama. Hanya saja kemudian mereka itu bertingkat-tingkat jika dilihat dari sisi-sisi keagamaan, yaitu ketaatan kepada Allah swt. dan kepatuhan mereka kepada Rasul-Nya. Oleh karena itu, setelah melarang berbuat ghibah dan mencaci antar sesama, Allah mengingatkan bahwa mereka itu sama dalam sisi kemanusiaan, “Hai manusia, Sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa – bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal-mengenal.” Maksudnya agar saling mengenal sesama mereka, yang masing-masing kembali kepada kabilah mereka.

Mengenai firman Allah: lita’aarafuu (“Supaya kamu saling kenal mengenal.”) Mujahid berkata: “Sebagaimana dikatakan fulan bin fulan dari anu dan anu atau dari kabilah anu  dan kabilah anu.” Sufyan ats-Tsauri berkata: “Orang-orang Humair menasabkan diri kepada kampung halaman mereka. Sedangkan Arab Hijaz menasabkan diri kepada kabilah mereka.” Abu ‘Isa at-Tirmidzi meriwayatkan dari Abu Hurairah, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Pelajarilah silsilah kalian yang dengannya kalian akan menyambung tali kekeluargaan, karena menyambung tali kekeluargaan itu dapat menumbuhkan kecintaan di dalam keluarga, kekayaan dalam harta dan panjang umur.” Kemudian at-Tirmidzi mengemukakan: “Hadits tersebut adalah gharib yang kami tidak mengetahuinya kecuali dari sisi ini saja.”

Firman Allah: inna akramakum ‘indallaaHi atqaakum (“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu  di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”) maksudnya, yang membedakan derajat kalian di sisi Allah hanyalah ketakwaan, bukan keturunan. Ada beberapa hadits yang menjelaskan hal tersebut yang diriwayatkan langsung dari Nabi saw.. Imam al-Bukhari meriwayatkannya dari Abu Hurairah, ia meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. pernah ditanya: “Siapakah yang paling mulia?” maka beliau bersabda: “Yang paling mulia di antara mereka di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara mereka.” Para sahabat bertanya: “Bukankah masalah ini yang kami tanyakan kepadamu?” beliau menjawab: “Jadi, orang yang paling mulia adalah Nabi Allah Yusuf putera Nabi Allah, putera Nabi Allah, putra kekasih Allah.” “Bukan itu yang hendak kami tanyakan kepadamu.” Papar mereka. “Kalau begitu, apakah yang kalian tanyakan kepadaku itu tentang orang-orang Arab yang paling mulia?” tanya beliau. “Ya.” Jawab mereka. Beliau bersabda: “Yang terbaik dari mereka pada masa Jahiliyah adalah yang terbaik dari mereka di masa Islam, jika mereka benar-benar memahami.” Hadits tersebut diriwayatkan oleh al-Bukhari di tempat lain melalui jalan Abdah bin Sulaiman. Juga diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam kitab at-Tafsiir, dari hadits ‘Ubaidullah, dia adalah  Ibnu ‘Umar al-‘Umari.

Imam Muslim meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah saw. bersabda:  “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta benda kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal perbuatan kalian.” (Hadits ini juga diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Ahmad bin Sinan, dari Katsir bin Hisyam).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Dzarr, ia menceritakan bahwa Nabi saw. pernah bersabda kepadanya: “Lihatlah, sesungguhnya engkau tidaklah lebih baik dari [orang kulit] merah dan hitam kecuali jika engkau melebihkan diri dengan ketakwaan kepada Allah.” Hadits di atas diriwayatkan sendiri oleh Imam Ahmad.

Imam Ahmad juga meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amirah, suami Darrah binti Abi Lahab, dari Darrah binti Lahab, ia berkata: “Ada seorang laki-laki yang berdiri menemui Nabi saw. yang ketika itu beliau tengah berada di atas mimbar, lalu ia berkata: ‘Ya Rasulallah, siapakah orang yang paling baik itu?’ Rasulullah menjawab: ‘Sebaik-baik manusia adalah orang yang paling baik bacaan [alqur’an]nya, paling bertakwa kepada Allah, paling gigih menegakkan amar ma’ruf nahi munkar, dan paling giat menyambung tali silaturahim.’”

Firman Allah selanjutnya: innallaaHa ‘aliimun khabiir (“Sesungguhnya Allah Mahamengetahui lagi Mahamengenal.”) maksudnya, Mahamengetahui [tentang] kalian semua dan Mahamengenal semua urusan kalian, sehingga dengan demikian Dia akan memberikan petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki, menyesatkan siapa yang Dia kehendaki pula, menyayangi siapa yang Dia kehendaki, menimpakan siksaan kepada siapa yang Dia kehendaki, mengutamakan siapa yang Dia kehendaki, dan Dia juga Mahabijaksana, Mahamengetahui dan Mahamengenal tentang semuanya itu. Ayat mulia dan hadist syarif ini telah dijadikan dalil oleh beberapa ulama yang berpendapat bahwa kafa-ah [sederajat] di dalam masalah nikah itu tidak dijadikan syarat, dan tidak ada yang dipersyaratkan kecuali agama. Hal ini didasarkan pada firman Allah Ta’ala: inna akramakum ‘indallaaHi atqaakum (“Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu  di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu.”) sedangkan ulama lain mengambil dalil-dalil lain yang terdapat dalam buku-buku fiqih. Dan kami telah menyebutkannya sekilas mengenai hal itu dalam kitab al-Ahkam. Segala puji dan sanjungan hanya  bagi Allah semata.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (8)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

‘Utsman bin Abi Syaibah memberitahu kami, dari Abu Burdah al-Balawi, ia berkata: Rasulullah bersabda: “Wahai sekalian orang-orang yang beriman dengan lisannya dan yang imannya tidak masuk ke dalam hatinya, janganlah kalian berbuat ghibah terhadap orang-orang muslim dan jangan pula kalian mencari-cari aib mereka. Karena sesungguhnya barangsiapa mencari-cari aib mereka, maka Allah akan mencari-cari aibnya. Dan barangsiapa yang dicari-cari aibnya oleh Allah, maka Dia akan mempermalukannya di rumahnya.” Hadits tersebut hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud dari hadits al-Barra’ bin ‘Azib.

Pada suatu hari Ibnu ‘Umar pernah mengarahkan pandangannya ke Ka’bah, lalu ia berkata: “Sungguh besar engkau [Ka’bah] dan agung pula kehormatanmu, dan bagi orang mukmin mempunyai kehormatan di sisi Allah yang lebih agung darimu [Ka’bah].”

Abu  Dawud meriwayatkan dari Waqqash bin Rabi’ah, dari al-Miswar, dimana ia pernah memberitahukan kepadanya, bahwa Nabi saw. bersabda: “Barangsiapa memakan makanan [karena membuka aib] seorang muslim, maka sesungguhnya Allah akan memberinya makan seperti itu di Jahanam kelak. Dan barangsiapa memakaikan pakaian [karena membuka aib] seorang muslim, maka Allah akan memakaikan pakaian yang sama kepadanya di jahanam. Barangsiapa membuka aib  seorang muslim agar ia dilihat dan didengar orang lain, maka sesunggguhnya pada hari kiamat kelak Allah akan menempati posisinya dengan membuka aibnya.”

Hadits di atas hanya diriwayatkan oleh Abu Dawud. Ibnu Musthafa memberitahu kami, Bagiyah dan Abu Mughirah memberitahu kami, dari  Anas bin Malik, ia bercerita, Rasulullah saw. bersabda: “Ketika aku diangkat [mi’raj] ke langit, aku melewati kaum  yang berkuku tembaga yang mencakar wajah dan dada mereka. Aku bertanya: ‘Wahai Jibril,  siapakah  mereka itu?’ Jibril menjawab: ‘Mereka itu adalah  orang yang selalu memakan daging orang lain dan menodai kehormatan mereka.’” (HR Abu Dawud). Hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Ahmad, dari Abul Mughirah ‘Abdul Quddus bin al-Hajjaj asy-Syami dengan lafazhnya.

Diriwayatkan oleh al-Hafizh al-Baihaqi dari ‘Ubaid, maula Rasulullah saw. bahwasannya ada dua orang wanita yang berpuasa pada zaman Rasulullah saw.. Ada seseorang yang mendatangi beliau seraya berkata: “Yaa Rasulallah, sesungguhnya di sini terdapat dua orang wanita yang tengah  berpuasa, dan sesungguhnya keduanya hampir meninggal karena kehausan.” Aku lihat ia berucap, lalu beliau berpaling  darinya atau mendiamkannya. Kemudian ia berkata: “Wahai Nabi Allah, Demi Allah, sesungguhnya mereka berdua sudah meninggal atau hampir saja meninggal.” Maka beliau bersabda: “Panggillah keduanya.” Lalu kedua wanita itupun datang. Kemudian dibawakan gelas besar atau mangkuk besar, lalu beliau berkata kepada salah seorang dari keduanya: “Muntahkanlah.” Maka wanita itupun mengeluarkan muntah darah dan nanah sampai mengeluarkannya setengah gelas besar. Kemudian beliau berkata kepada salah seorang wanita satunya: “Muntahkanlah.” Maka wanita itupun mengeluarkan muntah darah, nanah, daging, dan darah segar, juga yang lainnya sehingga memenuhi gelas besar. Kemudian beliau bersabda: “Sesungguhnya wanita ini berpuasa dari apa yang dihalalkan oleh Allah Ta’ala kepada keduanya dan tidak berpuasa dari apa yang diharamkan oleh Allah bagi keduanya.” Lalu salah seorang dari keduanya mendatangi wanita lainnya, selanjutnya keduanya memakan daging orang-orang [mengumpat]. Demikianlah yang diriwayatkan oleh Ahmad.

Al-Hafizh Abu Ya’la meriwayatkan dari Ibnu ‘Umar, ia berkata kepada Abu  Hurairah, bahwa Ma’iz pernah datang kepada Rasulullah saw. seraya berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya aku telah berzina.” Maka beliau berpaling darinya, sehingga ia mengucapkannya empat kali. Dan pada ucapannya yang kelima, beliau bertanya: “Apakah engkau telah berzina?” “Ya” jawabnya. Lebih lanjut beliau bertanya: “Tahukah engkau apakah zina itu?” Ia menjawab: “Ya. Aku telah mencampurinya secara haram sebagaimana seorang suami mencampurinya secara halal.” Beliau bertanya: “Apakah  yang engkau kehendaki dari ucapan ini?” ia menjawab: “Aku ingin engkau mensucikan diriku.” Maka Rasulullah bersabda: “Apakah engkau memasukkan kemaluanmu ke dalam kemaluan wanita itu sebagaimana menghilangnya kuas celak ke dalam botol celak atau timba ke dalam sumur?” ia menjawab: “Benar. Ya Rasulallah.” Maka Rasulullah memerintahkan pemberlakuan rajam terhadapnya. Lalu Nabi mendengar dua orang yang salah seorang dari mereka berkata kepada temannya: “Tidakkah engkau melihat orang ini yang telah Allah tutupi kepadanya.” Kemudian ia tidak ditinggalkan oleh nyawanya [tidak mati] sehingga ia dirajam seperti merajam anjing. Selanjutnya Nabi saw. berjalan sampai akhirnya melewati bangaki seekor keledai, maka beliau bertanya: “Dimanakah si fulan dan si fulan? Berhenti dan makanlah bangkai keledai ini!” maka kedua orang itu berkata: “Semoga Allah memberikan ampunan kepadamu ya Rasulallah. Mana mungkin bangkai ini dimakan?” maka Rasulullah bersabda: “Kalau begitu, apa yang telah kalian peroleh dari saudara kalian adalah lebih menjijikkan dari bangkai tersebut. Demi Rabb yang jiwaku berada di tangan-Nya, sesungguhnya ia sekarang telah berada di sungai-sungai Surga dan menyelam ke dalamnya.”

Dan firman Allah Ta’ala: wattaqullaaH (“Dan bertakwalah kepada Allah”) yakni dalam segala perintah dan larangan-Nya yang diberikan kepada kalian. Jadikanlah ia sebagai pengawas kalian dalam hal ini dan takutlah kepada-Nya. innallaaHa tawwaabur rahiim (“Sesungguhnya Allah Mahapengampun  lagi Mahapenyayang.”) maksudnya, Mahapengampun bagi orang-orang yang bertaubat kepada-Nya  dan Mahapenyayang bagi  orang yang kembali dan bersandar kepada-Nya.

Jumhur ulama mengatakan: “Jalan taubat yang harus ditempuh orang yang berbuat dari ghibah adalah dengan melepaskan diri darinya dan berkemauan keras untuk tidak mengulanginya kembali.”

Apakah dalam taubat itu diisyaratkan adanya penyesalan atas segala yang telah berlalu dan meminta maaf kepada orang yang telah digunjingkannya itu? Mengenai hal ini terdapat perbedaan pendapat. Ada ulama yang mensyaratkan agar meminta maaf kepada orang yang digunjingkan. Ada yang berpendapat, tidak diisyaratkan baginya meminta maaf  kepadanya. Karena jika ia memberitahukan apa yang telah digunjingkannya itu kepadanya, barangkali ia akan merasa lebih sakit daripada jika ia tidak diberi tahu. Dengan demikian, cara yang harus ia tempuh adalah memberikan sanjungan kepada orang yang telah digunjingkannya itu di tempat-tempat dimana ia telah mencelanya. Selanjutnya, ia menghindari gunjingan orang lain atas orang itu sesuai dengan kemampuannya. Sehingga gunjingan itu dibayar dengan pujian. Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ahmad dari ‘Abdullah bin Sulaiman, bahwa Ismail bin Yahya al-Mu’afiri memberitahukan kepadanya bahwa Sahl bin Mu’adz bin Anas al-Juhani memberitahunya dari ayahnya, dari Nabi saw, beliau bersabda: “Barangsiapa yang melindungi orang mukmin dari orang munafik yang menggunjingnya, maka Allah Ta’ala mengutus malaikat yang akan melindungi dagingnya pada hari kiamat kelak dari api neraka jahanam. Sedangkan barangsiapa yang melemparkan suatu tuduhan yang dengannya ia bermaksud mencelanya, maka Allah Ta’ala akan menahannya di atas jembatan jahanam sampai dia meninggalkan apa yang dikatakannya itu.” Demikian yang diriwayatkan oleh Abu Dawud.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (7)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

Malik meriwayatkan dari Abu Hurairah, ia bercerita: Rasulullah bersabda: “Jauhilah prasangka karena prasangka itu adalah sedusta-dustanya perkataan. Janganlah kalian meneliti rahasia orang lain, mencuri dengar, bersaing yang tidak baik, saling dengki, saling membenci, dan saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.” Hadits di atas diriwayatkan pula oleh Imam al-Bukhari, dari ‘Abdullah bin Yusuf, dan Imam Muslim, dari  Yahya bin Yahya, juga Abu Dawud dari al-‘Atabi, dari Malik dengan lafazhnya.

Sufyan bin ‘Uyainah meriwayatkan dari az-Zuhri, dari Anas, ia bercerita: Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian saling memutuskan hubungan, jangan pula saling membelakangi, saling membenci dan saling dengki. Dan jadilah kalian hamba-hamba Allah yang bersaudara. Dan tidak dibolehkan seorang muslim mendiamkan saudaranya lebih dari tiga hari.” (hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dan at-Tirmidzi dan dishahihkannya dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah).

Imam Ahmad meriwayatkan dari Dajin, juru tulis  ‘Uqbah, ia bercerita: “Aku pernah mengatakan kepada ‘Uqbah: ‘Sesungguhnya kami mempunyai beberapa orang tetangga yang meminum khamr, dan aku memberi syarat kepada mereka dan mereka pun menerimanya.’ Maka ‘Uqbah berkata: ‘Jangan lakukan itu. Tetapi nasehati dan kecamlah mereka.’ Lalu iapun melakukan hal tersebut, namun mereka tidak juga menghentikan perbuatan tersebut. Kemudia Danjin mendatanginya dan berkata: ‘Sesungguhnya aku telah melarang mereka, tetapi mereka tidak juga menghentikannya, dan sesungguhnya aku telah memberikan persyaratan kepada mereka, lalu  mereka menerimanya.’ Maka ‘Uqbah berkata kepadanya: ‘Celaka engkau, jangan lakukan hal itu, karena sesungguhnya aku pernah mendengar Rasulullah bersabda: ‘Barangsiapa menutup aib seorang mukmin, maka seakan-akan ia telah menghidupkan seorang mayat anak kecil yang dibunuh dari dalam kuburnya.’” Hadits senada juga diriwayatkan oleh Abu  Dawud dan an-Nasa-i dari hadits al-Laits bin Sa’ad dengan lafzhnya.

Sufyan  ats-Tsauri meriwayatkan dari Mu’awiyah, ia bercerita: aku pernah mendengar Nabi saw. bersabda: “Sesungguhnya jika engkau mengintai aib orang lain, berarti kamu telah merusak mereka  atau hampir merusak mereka.” Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Dawud sendiri, dari hadits ats-Tsauri.

Firman-Nya: wa laa tajassasuu (“Dan janganlah kamu mencari-cari kesalahan orang lain.”) maksudnya atas kebaikan kalian. Kata tajassasuu lebih sering digunakan untuk suatu kejahatan.  Dan dari kata itu muncul kata “al-jaasuus” (“mata-mata”). Sedangkan kata “attajassasu” seringkali digunakan pada hal yang baik. Sebagaimana yang  difirmankan Allah, yang menceritakan tentang Ya’qub, dimana ia berkata: yaa baniyyadzHabuu fatahassasuu miy yuusufa wa akhiiHi wa laa tai-asu mirrauhillaaaH (“Wahai anakku, pergilah kamu, maka carilah berita tentang Yusuf dan saudaranya dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah.”) (Yusuf: 87).

Terkadang, kedua istilah tersebut digunakan untuk menunjukkan hal yang buruk, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits shahih, bahwasannya Rasulullah bersabda: “Janganlah kalian mencari-cari keburukan dan mengintai kesalahan orang lain, janganlah saling membenci, dan juga saling membelakangi. Jadilah kalian sebagai hamba-hamba Allah yang bersaudara.”

Al-‘Auza’I mengatakan: “Kata attajassasu berarti mencari-cari sesuatu, sedangkan attahassasu berarti mencuri dengar terhadap pembicaraan suatu kaum padahal mereka tidak menyukai hal tersebut, atau mendengarkan dari balik pintu-pintu mereka. Adapun “attadaabaru” berarti memutuskan hubungan.” Demikian yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi  Hatim.

Firman Allah Ta’ala: wa laa yaghtab ba’dlukum ba’dlan (“Dan janganlah sebagian kamu menggunjing sebagian yang lain.”)  pada potongan ayat tersebut terdapat larangan  berbuat ghibah. Rasulullah saw. Telah menafsirkannya  sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud dari  Abu Hurairah, ia bercerita: “Ditanyakan: ‘Ya Rasulallah, apakah ghibah itu?’ Beliau menjawab: ‘Engkau menceritakan perihal saudaramu yang tidak disukainya.’ Ditanyakan lagi: ‘Bagaimana jika keadaan saudaraku itu sesuai dengan yang aku  katakan?’ rasulullah menjawab: ‘Maka itulah ghibah terhadapnya. Dan jika padanya  tidak  terdapat apa yang engkau  katakan, maka engkau telah berbohong.’”

Hadits di atas juga diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dari Quaibah, dari ad-Darawurdi. At-Tirmidzi mengatakan: “Hadits tersebut hasan shahih.”  Demikianlah yang dikemukakan oleh  Ibnu ‘Umar, Masruq, Qatadah, Abu Ishaq, dan Mu’awiyah bin Qurrah. Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Aisyah, ia bercerita: “Pernah kukatakan kepada Nabi saw.: ‘Cukuplah bagimu Shafiyyah itu demikian.’” Yang dimaksud ‘Aisyah disini bahwa Shafiyyah itu seorang wanita yang pendek. Maka Nabi saw. bersabda: “Sungguh engkau telah mengatakan suatu  kalimat [yang buruk], seandainya dicampurkan dengan air laut, niscaya akan tercampur semuanya [menjadi busuk].” Lebih lanjut ‘Aisyah berkata: “Lalu kuceritakan tentang seseorang kepada beliau, maka beliaupun bersabda: ‘Aku tidak suka menceritakan seseorang, sedang aku sendiri begini dan begitu.’” Hadits tersebut diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dari hadits  Yahya al-Qaththan, ‘Abdurrahman  bin Mahdi, dan Waki’, yang ketiganya meriwayatkan dari ‘Aisyah. Dan at-Tirmidzi mengatakan bahwa hadits tersebut hasan shahih.

Menurut kesepakatan, ghibah merupakan perbuatan yang diharamkan, dan tidak ada pengecualian dalam hal itu kecuali jika terdapat kemashlahatan yang lebih kuat, seperti misalnya dalam hal jarh [menilai cacat dalam masalah hadits], ta’dil [menilai baik/peninjauan kembali dalam masalah hadits], dan nasehat. Hal itu sebagaimana sabda Rasulullah saw. ketika ada seorang jahat yang meminta izin kepada beliau: “Berikanlah oleh kalian izin kepadanya, ia adalah seburuk-buruk teman kabilah.” (HR. Al-Bukhari dan Abu Dawud).

Dan seperti sabda Rasulullah saw. kepada Fathimah binti Qais ketika ia dilamar oleh Mu’awiyah dan Abul Jahm: “Adapun Mu’awiyah adalah orang yang tidak mempunyai harta. Sedangkan Abu Jahm adalah  orang yang tidak pernah meletakkan tongkatnya dari pundaknya [ringan tangan].”

Demikianlah yang memang terjadi dan berlangsung. Kemudian selain dari hal di atas, maka hukumnya haram, yang karenanya pelakunya  diberi ancaman yang keras. Oleh karena itu, Allah menyerupakannya dengan memakan daging manusia yang telah mati. Sebagaimana yang difirmankan-Nya: a yuhibbu ahadukum ay ya’kula lahma akhiiHi fakariHtumuuH (“Sukakah salah seorang di antara kamu memakan daging saudaranya yang sudah  mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya.”) artinya, sebagaimana kalian membenci hal ini secara naluriah, maka kalianpun harus membencinya berdasarkan syariat. Karena hukumannya lebih keras dari hanya sekedar melakukannya [memakan daging]. Dan hal itu merupakan  upaya menjauhkan diri dari perbuatan tersebut dan bersikap waspada  terhadapnya. Sebagaimana yang disabdakan oleh Rasulullah saw. tentang orang-orang yang mengambil kembali apa yang telah diberikan: “Seperti anjing yang muntah, lalu ia memakan kembali muntahnya tersebut.” Dan beliau juga telah  bersabda: “Kita tidak boleh mempunyai teladan dalam hal keburukan.”

Dan dalam kitab Shahih, Hasan dan Musnad telah ditegaskan, bahwa  Rasulullah saw. telah bersabda dalam khutbahnya pada haji Wada’: “Sesungguhnya [pertumpahan] darah, harta benda, dan kehormatan kalian adalah haram bagi kalian seperti haramnya hari ini dan bulan kalian ini di negeri kalian ini.”

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (6)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 11“11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujuraat: 11)

Allah melarang dari  mengolok-olok  orang lain, yakni  mencela dan menghinakan mereka. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits shahih, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Kesombongan itu  adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dan meremehkan orang lain.”

Yang dimaksud dengan hal tersebut  adalah menghinakan dan merendahkan mereka. Hal itu sudah jelas haram. Karena terkadang orang yang dihina itu lebih terhormat di sisi Allah dan bahkan lebih dicintai-Nya daripada orang yang menghinakan. Oleh karena itu, Allah berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik.” Dengan demikian, ayat di atas memberikan larangan terhadap kaum laki-laki yang kemudian disusul dengan larangan terhadap kaum wanita.

Dan firman Allah Ta’ala: wa laa talmizuu angfusakum (“Dan janganlah kamu mencela dirimu  sendiri.”) artinya, dan janganlah kalian mencela orang lain. Orang yang mengolok dan mencela orang lain, baik laki-laki maupun perempuan, maka mereka itu sangat tercela dan terlaknat, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: wailul likulli Humazatil lumazah (“Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela.”)(al-Humazah: 1).

Kata al-hamz  berarti celaan dalam bentuk perbuatan, sedangkan kata  al-lamz berarti celaan dalam bentuk ucapan. Sebagaimana yang difirmankan Allah: Hammaazim masysyaa-im binamiim (“Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.”)(al-Qalam: 11). Artinya mencela orang-orang dan menghinakan mereka dengan sewenang-wenang dan berjalan kesana kemari  untuk namimah [mengadu domba], dan adu domba itu berarti celaan dalam bentuk ucapan. Oleh karena itu,  disini Allah  berfirman: wa laa talmizuu angfusakum (“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.”) sebagaimana firman Allah: wa laa taqtuluu angfusakum (“Dan janganlah  kamu  membunuh dirimu sendiri.”)(an-Nisaa’: 29) maksudnya janganlah sebagian kalian membunuh sebagian yang lainnya.

Firman Allah: wa laa talmizuu angfusakum (“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan Muqatil bin Hayyan mengemukakan: “Artinya, janganlah  sebagian kalian menikam sebagian yang lainnya.”

Firman Allah: wa laa tanaabazuu bil-alqaab (“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”) maksudnya janganlah kalian memanggil dengan menggunakan gelar-gelar buruk yang tidak enak didengar.

Imam Ahmad meriwayatkan dari asy-Sya’bi, ia bercerita bahwa Abu  Jubairah bin adl-Dlahhak memberitahunya, ia bercerita: “Ayat ini: wa laa tanaabazuu bil-alqaab (“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”) turun berkenaan dengan Bani Salamah.” Ia mengatakan: “Rasulullah saw. pernah tiba di Madinah dan kami tidak seorangpun melainkan mempunyai dua atau tiga nama.  Dan jika beliau memanggil salah seorang di antara mereka dengan nama-nama tersebut, maka mereka berkata: ‘Ya Rasulallah, sesungguhnya ia marah dengan panggilan nama tersebut.’ Maka turunlah ayat: wa laa tanaabazuu bil-alqaab (“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”). hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Musa bin Ismail, dari Wahb, dari Dawud.

Firman Allah: bi’salismul fusuuqu ba’dal iimaan (“Seburuk-buruk panggilan ialah [panggilan] yang buruk sesudah iman.”) maksudnya, seburuk-buruk sebutan dan nama panggilan adalah pemberian gelar dengan gelar-gelar yang buruk. Sebagaimana orang-orang jahiliyah dulu pernah bertengkar setelah kalian masuk Islam dan kalian memahami keburukan itu. Wa mallam yatub (“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat”) dari perbuatan tersebut. Fa ulaa-ika Humudz dzaalimuun (“Maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”).

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 12“12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujuraat: 12)

Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari banyak  prasangka, yaitu melakukan tuduhan dan  pengkhianatan terhadap keluarga dan kaum kerabat  serta umat manusia secara keseluruhan  yang tidak pada tempatnya, karena sebagian dari prasangka itu murni menjadi perbuatan dosa. Oleh karena itu, jauhilah banyak prasangka sebagai suatu kewaspadaan. Kami telah meriwayatkan dari ‘Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab, bahwasannya ia pernah berkata: “Janganlah kalian berprasangka terhadap ucapan yang keluar dari saudara Mukmin-mu kecuali dengan prasangka yang baik. Sedang engkau sendiri  mendapati adanya kemungkinan ucapan itu mengandung kebaikan.”

Abu ‘Abdillah bin Majah  meriwayatkan, Abul Qasim bin Abi Dhamrah Nadhr bin Muhammad bin Sulaiman al-Hamshi memberi tahu kami, ayahku memberitahu kami, ‘Abdullah  bin Abi Qais an-Nadhari memberitahu kami, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia bercerita: “Aku pernah melihat Rasulullah saw. melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah  seraya berucap: ‘Sungguh indah dirimu, sangat harum aromamu, dan sungguh agung dirimu dan agung pula kehormatanmu. Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya kemuliaan seorang Mukmin sangat agung di sisi Allah Ta’ala harta dan darahnya  dari dirimu [wahai Ka’bah]. Dan ia tidak  berprasangka melaikan prasangka baik.” Hadits ini diriwayatkan sendiri oleh Ibnu Majah dari sisi ini.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (5)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

Firman-Nya: fa im baghat ihdaaHumaa ‘alal ukhraa faqaatilul latii tabghii hattaa tafii-a ilaa amrillaaH (“tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah.”) maksudnya kembali kepada perintah Allah dan Rasul-Nya serta mendengar kebenaran dan mentaatinya, sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits shahih, dari  Anas, bahwa Rasulullah bersabda: “Tolonglah saudaramu yang berbuat dzalim maupun yang didzalimi.” Lalu kutanyakan: “Ya Rasulallah, menolong orang yang didzalimi itu aku dapat mengerti, lalu bagaimana aku menolong orang yang dzalim?” beliau menjawab: “Yaitu engkau mencegahnya dari berbuat dzalim, dan itulah pertolonganmu untuknya.”

Imam Ahmad meriwayatkan, ‘Arim memberitahu kami, Mu’tamir memberitahu kami, ia bercerita: “Aku pernah  mendengar ayahku memberitahukan bahwa Anas bercerita: ‘Pernah kutanyakan kepada Nabi saw.: ‘Seandainya engkau mendatangi ‘Abdullah bin Ubay.’ Maka beliaupun berangkat menemuinya dengan menaiki keledai, lalu kaum muslimin berjalan kaki di tanah yang bersemak. Setelah Nabi saw. datang menemuinya, Ubay berkata: ‘Menjauhlah engkau dariku.’ Kemudian ada seorang dari kaum Anshar yang berkata: ‘Demi Allah, keledai Rasulullah saw. itu lebih wangi daripada baumu.’ Hingga akhirnya banyak orang-orang dari kaum ‘Abdullah bin Ubay marah kepadanya, lalu setiap orang dari dua kelompok marah. Dan di antara mereka telah terjadi pemukulan dengan menggunakan pelepah daun kurma dan juga tangan serta terompah.’” Perawi hadits ini melanjutkan: “Telah sampai kepada kami berita bahwasannya telah turun ayat yang berkenaan dengan mereka, yaitu: wa in thaa-ifataini minal mu’miniinaqtataluu fashlihuu bainaHumaa (“Dan jika ada dua golongan  dari orang-orang mukmin berperang, maka damikanlah antara keduanya.”) diriwayatkan oleh al-Bukhari dalam kitab ash-Shulh [dalam shahihnya], dari Musaddad  dan Muslim dalam bab al-Mughazi [dalam shahihnya] dari Muhammad bin ‘Abdil A’la, keduanya dari Mu’tamir bin Sulaiman, dari  ayahnya.

Firman Allah selanjutnya: fa ing faa-at fa ashlihuu bainaHumaa bil ‘adli wa aqshithuu innallaaHa yuhibbul muqsithiin (“kalau Dia telah surut [kembali ke jalan Allah], maka damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil.”) maksudnya, bersikap adil dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di antara keduanya.

innallaaHa yuhibbul muqsithiin (“Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat adil.”) Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari ‘Abdullah bin ‘Amr ia bercerita, sesungguhnya Rasulullah telah bersabda: “Sesungguhnya orang-orang yang berbuat adil di dunia, kelak berada di mimbar yang terbuat dari  mutiara di hadapan ar-Rahmaan atas keadilan yang pernah ia lakukan di dunia.”

Dan diriwayatkan oleh an-Nasa-i, dari Muhammad bin al-Mutsana, dari ‘Abdul A’la dengan lafazhnya. Dan sanad hadits ini jayyid qawi, dan para rijalnya berdasarkan pada syarat shahih. Dan Muhammad bin ‘Abdullah bin Zaid memberitahu kami, dari ‘Abdullah bin ‘Amr, dari Nabi saw. beliau bersabda: “Orang-orang yang berbuat adil di sisi Allah pada hari kiamat kelak berada di atas mimbar-mimbar yang terbuat dari cahaya di sebelah kanan ‘Arsy, yakni mereka berbuat adil dalam hukum, keluarga, dan semua yang berada di bawah kekuasaan mereka.” Hadits ini juga diriwayatkan oleh Muslim dan an-Nasa-i dari hadits Sufyan bin ‘Uyainah.

Firman Allah: innamal mu’minuuna ikhwatun (“Sesungguhnya orang-orang mukmin adalah bersaudara.”) maksudnya, seluruh kaum muslimin merupakan satu saudara karena agama. Sebagaimana disabdakan Rasulullah saw.: “Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, tidak boleh mendzalimi dan membiarkannya [didzalimi].”) dan dalam hadits shahih disebutkan: “Allah akan terus menolong seorang hamba selama hamba itu senantiasa menolong saudaranya.”  Dan dalam hadits lain: “Jika seorang muslim mendoakan saudaranya dari kejauhan, maka Malaikata akan mengucapkan: ‘Amiin dan bagimu sepertinya.’” Dan dalam hadits lain lagi: “Perumpamaan orang-orang mukmin dalam cinta dan kasih sayang mereka adalah seperti satu tubuh. Jika salah satu bagian tubuh merasa sakit, maka seluruh anggota badan akan merasa demam dan susah tidur.” Dalam hadits lain: “Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya adalah seperti satu bangunan yang sebagian dengan sebagian lainnya saling menguatkan.” Dan pada saat itu Rasulullah saw. menjalinkan jari-jemari beliau.

Imam Ahmad meriwayatkan, Ahmad bin al-Hajjaj memberitahu kami, Abu Hazim memberitahuku, ia bercerita: “Aku pernah  mendengar Sahal bin Sa’ad as-Sa’idi menceritakan hadits dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Sesunggguhnya [hubungan] orang mukmin dengan orang-orang yang beriman adalah seperti [hubungan] kepala dengan seluruh badan. Seorang mukmin akan merasa sakit karena orang mukmin lainnya sebagaimana badan akan merasa sakit karena sakit pada kepala.” (Hadits ini diriwayatkan sendiri oleh Imam Ahmad).

Firman Allah: fa ashlihuu baina akhawaikum (“Karena itu,  damaikanlah antara kedua saudaramu.”) yaitu dua golongan yang saling bertikai. wattaqullaaHa (“Dan bertakwalah kepada Allah”) dalam seluruh urusan kalian. La’allakum turhamuun (“Supaya kamu mendapat rahmat”) hal tersebut merupakan penegasan dari Allah Ta’ala, dimana Dia akan memberikan rahmat kepada orang yang bertakwa kepada-Nya.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (4)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

Wa’lamuu anna fiikum rasuulallaaHi (“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah.”) maksudnya, ketahuilah di tengah-tengah kalian ada Rasul Allah. Karena itu hormatilah, muliakan, bersopan santunlah terhadapnya, dan ikutilah semua perintahnya, karena sesungguhnya beliau yang lebih tahu kemashlahatan kalian dan lebih sayang  kepada kalian daripada diri kalian sendiri, dan pendapatnya tentang urusan kalian lebih sempurna diibanding dengan pendapat kalian tentang urusan kalian sendiri. Sebagaimana yang difirmankan Allah swt.: an nabiyyu aulaa bil mu’miniina min angfusiHim (“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri.”)(al-Ahzaab: 6).

Kemudian Allah menjelaskan bahwa pendapat mereka tentang berbagai urusan mereka sangatlah dangkal. Maka Allah berfirman: lau yuthii’ukum fii katsiirim minal amri la’anittum (“Kalau ia menuruti [kemauan]mu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapatkan kesusahan.”) maksudnya, seandainya ia menuruti kalian untuk semua hal yang kalian inginkan, pastilah hal itu akan menyebabkan kesusahan bagi kalian sendiri.

Wa lakinnallaaHa habbaba ilaikumul iimaana wa zayyanaHuu fii quluubikum (“Tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan  dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.”) artinya, Dia tanamkan rasa cinta kepada keimanan dalam diri kalian  dan menjadikannya indah dalam hati kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, ia bercerita, bahwasannya Rasulullah pernah bersabda: “Islam itu  bersifat terang-terangan, sedangkan iman berada di dalam hati.” Kemudian –lanjut Anas- Rasulullah memberikan isyarat dengan tangannya ke dadanya tiga kali sambil mengatakan: “Taqwa itu  ada di sini. Taqwa itu ada di sini.”

Firman-Nya: wa karraHa ilaikumul kufra wal fusuuqa wal ‘ishyaan (“Serta menjadikanmu benci kepada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.”) maksudnya, Allah menanamkan kebencian dalam diri kalian  terhadap kekufuran dan kefasikan. Kefasikan berarti dosa-dosa besar, sedangkan kedurhakaan berarti segala macam kemaksiatan. Demikianlah tingkatan yang menggambarkan kesempurnaan nikmat. Firman-Nya lebih lanjut: ulaa-ika Humur raasyiduun (“Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”) yakni orang-orang yang mempunyai sifat seperti itulah yang mendapatkan petunjuk dari Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Rifa’ah az Zarqi, dari ayahnya, ia bercerita bahwa pada saat terjadi perang Uhud dan orang-orang musyrik dalam keadaan kocar-kacir, Rasulullah bersabda: “Luruskanlah dan samakanlah [barisan], sehingga aku memanjatkan pujian kepada Rabb-ku.” Maka para sahabatpun berdiri di belakang beliau dalam keadaan berbaris, Rasulullah berdoa:

“Ya Allah segala puji bagi-Mu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan apa yang telah Engkau lapangkan, dan tidak ada pula yang dapat melapangkan apa yang Engkau tahan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan orang yang telah Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau cegah dan tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan. Tidak ada yang dapat mendekatkan apa yang telah Engkau jauhkan, dan tidak ada yang dapat menjauhkan apa yang telah Engkau dekatkan. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan, rahmat, karunia, dan rizki-Mu kepada kami. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan abadi yang tidak akan berubah dan tidak pula lenyap. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan pada hari kesengsaraan dan rasa aman pada hari yang menakutkan. Ya Allah, sesungguhnya  aku  berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah Engkau berikan kepada kami dan keburukan apa yang Engkau  cegah dari kami. Ya Allah jadikanlah hati kami mencintai keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati kami. Dan tanamkanlah dalam hati kami terhadap kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan muslim dan juga hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, serta pertemukanlah kami dengan orang-orang shalih dalam keadaan tidak terhina dan tidak pula terfitnah. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang mendustakan Rasul-rasul-Mu dan menghalang-halangi jalan-Mu, dan timpakanlah kesengsaraan dan adzab-Mu kepada mereka. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang telah diberi al-Kitab, Ilah yang Mahabenar.” (Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam bab al-Yaum wa Lailah)

Dan dalam hadits marfu’ disebutkan: “Barangsiapa yang merasa senang dengan amal baiknya dan merasa sedih dengan amal buruknya, berarti ia seorang muslim.”

Lalu firman Allah: fadlam minallaaHi wa ni’maH (“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah.”) yakni pemberian yang telah diberikan kepada kalian itu merupakan karunia sekaligus nikmat dari sisi-Nya. wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”) maksudnya, Dia mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan petunjuk dan siapa pula yang berhak disesatkan, lagi Mahabijaksana dalam ucapan, tindakan, syariat dan ketetapan-Nya.

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 9-10“9. dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. 10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 9-10)

Allah berfirman seraya memerintahkan agar mendamaikan antara dua kelompok yang bertikai sesama mereka: wa in thaa-ifataini minal mu’miniinaqtataluu fashlihuu bainaHumaa (“Dan jika ada dua golongan  dari orang-orang mukmin berperang, maka damikanlah antara keduanya.”) Allah masih tetap menyebut mereka sebagai orang-orang mukmin meskipun mereka tengah berperang. Dan dengan itu pula, Imam al-Bukhari dan lainnya mengambil kesimpulan bahwa seseorang tidak keluar dari keimanannya hanya karena berbuat maksiat meskipun dalam wujud yang besar, tidak seperti apa yang dikemukakan oleh kau Khawarij dan yang sejalan dengan mereka dari kalangan Mu’tazilah dan yang semisalnya. Demikianlah yang ditetapkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dari hadits al-Hasan, dari Abu Bakrah, ia bercerita: “Sesungguhnya Rasulullah pernah berkhutbah pada suatu hari di atas mimbar, sedang bersama beliau terdapat al-Hasan bin ‘Ali, lalu sesekali beliau melihat kepadanya dan sesekali kepada orang-orang seraya bersabda: ‘Sesungguhnya puteraku ini adalah seorang sayyid. Mudah-mudahan Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin [yang tengah bertikai].’”

Dan kenyataan yang sama seperti apa yang beliau sabdakan, dimana Allah telah mendamaikan antara penduduk Syam dan penduduk Irak dengan perantaraan al-Hasan setelah mengalami masa peperangan yang panjang dan berbagai peristiwa yang mengerikan.

Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (3)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 6-8“6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. 7. dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, 8. sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Hujuraat: 6-8)

Allah memerintahkan agar benar-benar meneliti  berita yang dibawa oleh orang-orang fasik dalam rangka mewaspadainya, sehingga tidak ada  seorangpun yang memberikan keputusan berdasarkan  perkataan orang fasik tersebut, dimana pada saat itu orang fasik tersebut berpredikat sebagai seorang pendusta dan berbuat kekeliruan, sehingga orang yang memberikan keputusan berdasarkan ucapan orang fasik itu berarti ia telah mengikutinya dari belakang. Padahal Allah melarang untuk mengikuti jalan orang-orang yang berbuat kerusakan. Dari sini pula,  beberapa kelompok ulama melarang untuk menerima  riwayat  yang diperoleh dari orang yang tidak diketahui keadaannya karena adanya kemungkinan orang tersebut fasik. Sedangkan orang ini tidak terbukti sebagai seorang fasik karena tidak diketahui keadaannya. Dan kami telah menetapkan masalah ini dalam kitab al’Ilmu dalam kitab Syarh al-Bukhari. Segala puji bagi Allah Ta’ala.

Banyak ahli tafsir yang menyebutkan bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan al-Walid bin ‘Uqbah bin Abi Mu’ith  ketika ia diutus  oleh Rasulullah saw. untuk mengambil sedekah  [zakat] Bani Musthaliq.

Imam Ahmad meriwayatkan, Muhammad bin Sabiq memberitahu kami, ‘Isa bin Dinar memberitahu kami, ayahku memberitahuku, bahwasannya ia pernah mendengar al-Harits bin Abi Dhirar al-Khuza’i bercerita: “Aku  pernah datang menemui Rasulullah saw. maka beliau mengajakku masuk Islam. Maka akupun masuk Islam dann mengikrarkannya. Kemudian beliau mengajakku mengeluarkan zakat, maka akupun menunaikannya dan kukatakan: ‘Ya Rasulallah, aku akan pulang kepada rakyatku dan aku akan ajak mereka untuk masuk Islam dan menunaikan zakat. Siapa saja yang memperkenankan seruanku itu, maka aku akan mengumpulkan zakatnya, dan kirimkanlah seorang utusan  kepadaku ya Rasulallah, sekitar waktu begini dan begini guna membawa zakat  yang telah aku kumpulkan itu.’”

Setelah al-Harits mengumpulkan zakat dari orang-orang yang mematuhi seruannya dan telah sampai pada masa kedatangan utusan Rasulullah saw. ternyata utusan Rasulullah saw. tersebut tertahan di tengah jalan dan tidak datang menemuinya. Al-Harits pun mengira bahwasannya telah turun kemurkaan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya pada dirinya. Ia pun segera memanggil  para pembesar kaumnya dan mengatakan kepada mereka: “Sesungguhnya Rasulullah saw. telah menetapkan waktu kepadaku, dimana beliau akan mengirimkan utusannya kepadaku untuk mengambil zakat yang aku kumpulkan, dan bukan kebiasaan Rasulullah untuk menyalahi janji, dan aku tidak melihat tertahannya utusan beliau melainkan kemurkaan Allah. Oleh karena itu, marilah kita pergi bersama-sama menemui Rasulullah saw.

Kemudian Rasulullah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah untuk menemui al-Harits guna mengambil zakat yang telah dikumpulkannya. Ketika al-Walid berangkat dan sudah menempuh beberapa jarak, tiba-tiba ia merasa takut dan kembali pulang, lalu menemui Rasulullah saw. seraya berkata: “Ya Rasulallah, sesungguhnya al-Harits menolak memberikan zakat kepadaku, bahkan ia bermaksud membunuhku.” Maka Rasulullah pun marah dan mengirimkan utusan kepada al-Harits. Sementara al-Harits bersama sahabat-sahabatnya bersiap-siap berangkat. Ketika utusan meninggalkan Madinah, al-Harits bertemu dengan mereka. Maka mereka berkata: “Inilah al-Harits.” Dan pada saat al-Harits menghampiri mereka, ia berkata: “Kepada siapa kalian diutus?” “Kepadamu,” jawab mereka. “Lalu untuk apa kalian diutus kepadaku?” tanya al-Harits lebih lanjut. Mereka menjawab: “Sesungguhnya Rasulullah saw. telah mengutus al-Walid bin ‘Uqbah kepadamu, dan ia mengaku bahwa  engkau menolak memberikan zakat dan bahkan engkau akan membunuhnya.” Maka al-Harits berkata: “Tidak benar. Demi Rabb yang telah mengutus Muhammad saw. dengan kebenaran, aku sama sekali tidak pernah melihatnya dan tidak juga ia mendatangiku.”

Dan setelah al-Harits menghadap Rasulullah saw. maka beliau bertanya: “Apakah engkau menolak menyerahkan zakat dan bermaksud membunuh utusanku?” Ia menjawab: “Tidak. Demi Rabb yang telah mengutusmu  dengan kebenaran, aku sama sekali tidak melihatnya dan tidak pula ia mendatangiku. Dan aku tidak datang menemuimu  melainkan ketika utusan Rasulullah tertahan [tidak  kunjung datang] dan aku takut akan muncul kemarahan dari Allah Ta’ala dan Rasul-Nya.” Ia mengatakan: “Pada saat itu turunlah surah al-Hujuraat:

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 6-8“6. Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang Fasik membawa suatu berita, Maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. 7. dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah. kalau ia menuruti kemauanmu dalam beberapa urusan benar-benarlah kamu mendapat kesusahan, tetapi Allah menjadikan kamu ‘cinta’ kepada keimanan dan menjadikan keimanan itu indah di dalam hatimu serta menjadikan kamu benci kepada kekafiran, kefasikan, dan kedurhakaan. mereka Itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus, 8. sebagai karunia dan nikmat dari Allah. dan Allah Maha mengetahui lagi Maha Bijaksana.” (al-Hujuraat: 6-8)

Demikian hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim. Hal yang sama juga diriwayatkan oleh ath-Thabrani, namun ia tidak menyebutkan al-Harits bin Sirar, dan yang benar adalah Dhirar bin al-Harr, sebagaimana yang telah dikemukakan. wallaaHu a’lam.