Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (4)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

Wa’lamuu anna fiikum rasuulallaaHi (“Dan ketahuilah olehmu bahwa di kalanganmu ada Rasulullah.”) maksudnya, ketahuilah di tengah-tengah kalian ada Rasul Allah. Karena itu hormatilah, muliakan, bersopan santunlah terhadapnya, dan ikutilah semua perintahnya, karena sesungguhnya beliau yang lebih tahu kemashlahatan kalian dan lebih sayang  kepada kalian daripada diri kalian sendiri, dan pendapatnya tentang urusan kalian lebih sempurna diibanding dengan pendapat kalian tentang urusan kalian sendiri. Sebagaimana yang difirmankan Allah swt.: an nabiyyu aulaa bil mu’miniina min angfusiHim (“Nabi itu lebih utama bagi orang-orang Mukmin daripada diri mereka sendiri.”)(al-Ahzaab: 6).

Kemudian Allah menjelaskan bahwa pendapat mereka tentang berbagai urusan mereka sangatlah dangkal. Maka Allah berfirman: lau yuthii’ukum fii katsiirim minal amri la’anittum (“Kalau ia menuruti [kemauan]mu dalam beberapa urusan, benar-benarlah kamu akan mendapatkan kesusahan.”) maksudnya, seandainya ia menuruti kalian untuk semua hal yang kalian inginkan, pastilah hal itu akan menyebabkan kesusahan bagi kalian sendiri.

Wa lakinnallaaHa habbaba ilaikumul iimaana wa zayyanaHuu fii quluubikum (“Tetapi Allah menjadikanmu cinta kepada keimanan  dan menjadikan iman itu indah dalam hatimu.”) artinya, Dia tanamkan rasa cinta kepada keimanan dalam diri kalian  dan menjadikannya indah dalam hati kalian.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Anas, ia bercerita, bahwasannya Rasulullah pernah bersabda: “Islam itu  bersifat terang-terangan, sedangkan iman berada di dalam hati.” Kemudian –lanjut Anas- Rasulullah memberikan isyarat dengan tangannya ke dadanya tiga kali sambil mengatakan: “Taqwa itu  ada di sini. Taqwa itu ada di sini.”

Firman-Nya: wa karraHa ilaikumul kufra wal fusuuqa wal ‘ishyaan (“Serta menjadikanmu benci kepada kekufuran, kefasikan dan kedurhakaan.”) maksudnya, Allah menanamkan kebencian dalam diri kalian  terhadap kekufuran dan kefasikan. Kefasikan berarti dosa-dosa besar, sedangkan kedurhakaan berarti segala macam kemaksiatan. Demikianlah tingkatan yang menggambarkan kesempurnaan nikmat. Firman-Nya lebih lanjut: ulaa-ika Humur raasyiduun (“Mereka itulah orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus.”) yakni orang-orang yang mempunyai sifat seperti itulah yang mendapatkan petunjuk dari Allah.

Imam Ahmad meriwayatkan dari Abu Rifa’ah az Zarqi, dari ayahnya, ia bercerita bahwa pada saat terjadi perang Uhud dan orang-orang musyrik dalam keadaan kocar-kacir, Rasulullah bersabda: “Luruskanlah dan samakanlah [barisan], sehingga aku memanjatkan pujian kepada Rabb-ku.” Maka para sahabatpun berdiri di belakang beliau dalam keadaan berbaris, Rasulullah berdoa:

“Ya Allah segala puji bagi-Mu. Ya Allah, tidak ada yang dapat menahan apa yang telah Engkau lapangkan, dan tidak ada pula yang dapat melapangkan apa yang Engkau tahan. Tidak ada yang dapat memberi petunjuk kepada orang yang telah Engkau sesatkan, dan tidak ada yang dapat menyesatkan orang yang telah Engkau beri petunjuk. Tidak ada yang dapat memberikan apa yang Engkau cegah dan tidak ada yang dapat mencegah apa yang Engkau berikan. Tidak ada yang dapat mendekatkan apa yang telah Engkau jauhkan, dan tidak ada yang dapat menjauhkan apa yang telah Engkau dekatkan. Ya Allah, limpahkanlah keberkahan, rahmat, karunia, dan rizki-Mu kepada kami. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan abadi yang tidak akan berubah dan tidak pula lenyap. Ya Allah sesungguhnya aku memohon kepada-Mu kenikmatan pada hari kesengsaraan dan rasa aman pada hari yang menakutkan. Ya Allah, sesungguhnya  aku  berlindung kepada-Mu dari keburukan apa yang telah Engkau berikan kepada kami dan keburukan apa yang Engkau  cegah dari kami. Ya Allah jadikanlah hati kami mencintai keimanan dan jadikanlah ia hiasan dalam hati kami. Dan tanamkanlah dalam hati kami terhadap kekufuran, kefasikan, dan kedurhakaan. Dan jadikanlah kami termasuk orang-orang yang mengikuti jalan yang lurus. Ya Allah, matikanlah kami dalam keadaan muslim dan juga hidupkanlah kami dalam keadaan muslim, serta pertemukanlah kami dengan orang-orang shalih dalam keadaan tidak terhina dan tidak pula terfitnah. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang mendustakan Rasul-rasul-Mu dan menghalang-halangi jalan-Mu, dan timpakanlah kesengsaraan dan adzab-Mu kepada mereka. Ya Allah, perangilah orang-orang kafir yang telah diberi al-Kitab, Ilah yang Mahabenar.” (Diriwayatkan oleh an-Nasa-i dalam bab al-Yaum wa Lailah)

Dan dalam hadits marfu’ disebutkan: “Barangsiapa yang merasa senang dengan amal baiknya dan merasa sedih dengan amal buruknya, berarti ia seorang muslim.”

Lalu firman Allah: fadlam minallaaHi wa ni’maH (“Sebagai karunia dan nikmat dari Allah.”) yakni pemberian yang telah diberikan kepada kalian itu merupakan karunia sekaligus nikmat dari sisi-Nya. wallaaHu ‘aliimun hakiim (“Dan Allah Mahamengetahui lagi Mahabijaksana.”) maksudnya, Dia mengetahui siapa saja yang berhak mendapatkan petunjuk dan siapa pula yang berhak disesatkan, lagi Mahabijaksana dalam ucapan, tindakan, syariat dan ketetapan-Nya.

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 9-10“9. dan kalau ada dua golongan dari mereka yang beriman itu berperang hendaklah kamu damaikan antara keduanya! tapi kalau yang satu melanggar Perjanjian terhadap yang lain, hendaklah yang melanggar Perjanjian itu kamu perangi sampai surut kembali pada perintah Allah. kalau Dia telah surut, damaikanlah antara keduanya menurut keadilan, dan hendaklah kamu Berlaku adil; Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang Berlaku adil. 10. orang-orang beriman itu Sesungguhnya bersaudara. sebab itu damaikanlah (perbaikilah hubungan) antara kedua saudaramu itu dan takutlah terhadap Allah, supaya kamu mendapat rahmat.” (al-Hujuraat: 9-10)

Allah berfirman seraya memerintahkan agar mendamaikan antara dua kelompok yang bertikai sesama mereka: wa in thaa-ifataini minal mu’miniinaqtataluu fashlihuu bainaHumaa (“Dan jika ada dua golongan  dari orang-orang mukmin berperang, maka damikanlah antara keduanya.”) Allah masih tetap menyebut mereka sebagai orang-orang mukmin meskipun mereka tengah berperang. Dan dengan itu pula, Imam al-Bukhari dan lainnya mengambil kesimpulan bahwa seseorang tidak keluar dari keimanannya hanya karena berbuat maksiat meskipun dalam wujud yang besar, tidak seperti apa yang dikemukakan oleh kau Khawarij dan yang sejalan dengan mereka dari kalangan Mu’tazilah dan yang semisalnya. Demikianlah yang ditetapkan dalam kitab Shahih al-Bukhari dari hadits al-Hasan, dari Abu Bakrah, ia bercerita: “Sesungguhnya Rasulullah pernah berkhutbah pada suatu hari di atas mimbar, sedang bersama beliau terdapat al-Hasan bin ‘Ali, lalu sesekali beliau melihat kepadanya dan sesekali kepada orang-orang seraya bersabda: ‘Sesungguhnya puteraku ini adalah seorang sayyid. Mudah-mudahan Allah akan mendamaikan dua kelompok besar kaum muslimin [yang tengah bertikai].’”

Dan kenyataan yang sama seperti apa yang beliau sabdakan, dimana Allah telah mendamaikan antara penduduk Syam dan penduduk Irak dengan perantaraan al-Hasan setelah mengalami masa peperangan yang panjang dan berbagai peristiwa yang mengerikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: