Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (6)

19 Mar

Tafsir Ibnu Katsir Surah Al-Hujuraat (Kamar-Kamar)
Surat Madaniyyah; Surat ke 49: 18 ayat

 

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 11“11. Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik. dan janganlah suka mencela dirimu sendiri dan jangan memanggil dengan gelaran yang mengandung ejekan. seburuk-buruk panggilan adalah (panggilan) yang buruk sesudah iman dan Barangsiapa yang tidak bertobat, Maka mereka Itulah orang-orang yang zalim.” (al-Hujuraat: 11)

Allah melarang dari  mengolok-olok  orang lain, yakni  mencela dan menghinakan mereka. Sebagaimana yang ditegaskan dalam hadits shahih, dari Rasulullah saw. beliau bersabda: “Kesombongan itu  adalah menolak kebenaran dan merendahkan manusia.” Dalam riwayat lain disebutkan: “Dan meremehkan orang lain.”

Yang dimaksud dengan hal tersebut  adalah menghinakan dan merendahkan mereka. Hal itu sudah jelas haram. Karena terkadang orang yang dihina itu lebih terhormat di sisi Allah dan bahkan lebih dicintai-Nya daripada orang yang menghinakan. Oleh karena itu, Allah berfirman yang artinya: “Hai orang-orang yang beriman, janganlah sekumpulan orang laki-laki mengolok-olok kumpulan yang lain, boleh Jadi yang ditertawakan itu lebih baik dari mereka. dan jangan pula sekumpulan perempuan merendahkan kumpulan lainnya, boleh Jadi yang direndahkan itu lebih baik.” Dengan demikian, ayat di atas memberikan larangan terhadap kaum laki-laki yang kemudian disusul dengan larangan terhadap kaum wanita.

Dan firman Allah Ta’ala: wa laa talmizuu angfusakum (“Dan janganlah kamu mencela dirimu  sendiri.”) artinya, dan janganlah kalian mencela orang lain. Orang yang mengolok dan mencela orang lain, baik laki-laki maupun perempuan, maka mereka itu sangat tercela dan terlaknat, sebagaimana yang difirmankan oleh Allah Ta’ala: wailul likulli Humazatil lumazah (“Kecelakaan bagi setiap pengumpat lagi pencela.”)(al-Humazah: 1).

Kata al-hamz  berarti celaan dalam bentuk perbuatan, sedangkan kata  al-lamz berarti celaan dalam bentuk ucapan. Sebagaimana yang difirmankan Allah: Hammaazim masysyaa-im binamiim (“Yang banyak mencela, yang kian kemari menghambur fitnah.”)(al-Qalam: 11). Artinya mencela orang-orang dan menghinakan mereka dengan sewenang-wenang dan berjalan kesana kemari  untuk namimah [mengadu domba], dan adu domba itu berarti celaan dalam bentuk ucapan. Oleh karena itu,  disini Allah  berfirman: wa laa talmizuu angfusakum (“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.”) sebagaimana firman Allah: wa laa taqtuluu angfusakum (“Dan janganlah  kamu  membunuh dirimu sendiri.”)(an-Nisaa’: 29) maksudnya janganlah sebagian kalian membunuh sebagian yang lainnya.

Firman Allah: wa laa talmizuu angfusakum (“Dan janganlah kamu mencela dirimu sendiri.”) Ibnu ‘Abbas, Mujahid, Sa’id bin Jubair, Qatadah, dan Muqatil bin Hayyan mengemukakan: “Artinya, janganlah  sebagian kalian menikam sebagian yang lainnya.”

Firman Allah: wa laa tanaabazuu bil-alqaab (“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”) maksudnya janganlah kalian memanggil dengan menggunakan gelar-gelar buruk yang tidak enak didengar.

Imam Ahmad meriwayatkan dari asy-Sya’bi, ia bercerita bahwa Abu  Jubairah bin adl-Dlahhak memberitahunya, ia bercerita: “Ayat ini: wa laa tanaabazuu bil-alqaab (“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”) turun berkenaan dengan Bani Salamah.” Ia mengatakan: “Rasulullah saw. pernah tiba di Madinah dan kami tidak seorangpun melainkan mempunyai dua atau tiga nama.  Dan jika beliau memanggil salah seorang di antara mereka dengan nama-nama tersebut, maka mereka berkata: ‘Ya Rasulallah, sesungguhnya ia marah dengan panggilan nama tersebut.’ Maka turunlah ayat: wa laa tanaabazuu bil-alqaab (“Dan janganlah kamu panggil-memanggil dengan gelar-gelar yang buruk.”). hadits tersebut juga diriwayatkan oleh Abu Dawud dari Musa bin Ismail, dari Wahb, dari Dawud.

Firman Allah: bi’salismul fusuuqu ba’dal iimaan (“Seburuk-buruk panggilan ialah [panggilan] yang buruk sesudah iman.”) maksudnya, seburuk-buruk sebutan dan nama panggilan adalah pemberian gelar dengan gelar-gelar yang buruk. Sebagaimana orang-orang jahiliyah dulu pernah bertengkar setelah kalian masuk Islam dan kalian memahami keburukan itu. Wa mallam yatub (“Dan barangsiapa yang tidak bertaubat”) dari perbuatan tersebut. Fa ulaa-ika Humudz dzaalimuun (“Maka mereka itulah orang-orang yang dzalim”).

tulisan arab alquran surat al hujuraat ayat 12“12. Hai orang-orang yang beriman, jauhilah kebanyakan prasangka (kecurigaan), karena sebagian dari prasangka itu dosa dan janganlah mencari-cari keburukan orang dan janganlah menggunjingkan satu sama lain. Adakah seorang diantara kamu yang suka memakan daging saudaranya yang sudah mati? Maka tentulah kamu merasa jijik kepadanya. dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.” (al-Hujuraat: 12)

Allah Ta’ala melarang hamba-hamba-Nya yang beriman dari banyak  prasangka, yaitu melakukan tuduhan dan  pengkhianatan terhadap keluarga dan kaum kerabat  serta umat manusia secara keseluruhan  yang tidak pada tempatnya, karena sebagian dari prasangka itu murni menjadi perbuatan dosa. Oleh karena itu, jauhilah banyak prasangka sebagai suatu kewaspadaan. Kami telah meriwayatkan dari ‘Amirul Mukminin ‘Umar bin al-Khaththab, bahwasannya ia pernah berkata: “Janganlah kalian berprasangka terhadap ucapan yang keluar dari saudara Mukmin-mu kecuali dengan prasangka yang baik. Sedang engkau sendiri  mendapati adanya kemungkinan ucapan itu mengandung kebaikan.”

Abu ‘Abdillah bin Majah  meriwayatkan, Abul Qasim bin Abi Dhamrah Nadhr bin Muhammad bin Sulaiman al-Hamshi memberi tahu kami, ayahku memberitahu kami, ‘Abdullah  bin Abi Qais an-Nadhari memberitahu kami, dari ‘Abdullah bin ‘Umar, ia bercerita: “Aku pernah melihat Rasulullah saw. melakukan thawaf mengelilingi Ka’bah  seraya berucap: ‘Sungguh indah dirimu, sangat harum aromamu, dan sungguh agung dirimu dan agung pula kehormatanmu. Demi Rabb yang jiwa Muhammad berada di tangan-Nya, sesungguhnya kemuliaan seorang Mukmin sangat agung di sisi Allah Ta’ala harta dan darahnya  dari dirimu [wahai Ka’bah]. Dan ia tidak  berprasangka melaikan prasangka baik.” Hadits ini diriwayatkan sendiri oleh Ibnu Majah dari sisi ini.

2 Tanggapan ke “Tafsir Al-Qur’an Surah Al-Hujuraat (6)”

  1. Rahim Al Wasilah 6 Juli 2015 pada 22.52 #

    Sangat baik untuk saya, terima kasih!

    • untungsugiyarto 7 Juli 2015 pada 01.37 #

      Sama-sama, terimakasih juga atas kunjungan dan apresiasinya. Silakan boleh dicopas, direblog, dishare dan disebar luaskan untuk kebaikan.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: